9

Be Mine, please {part 12}

Ri Jung’s POV

“Oppa, kenapa anak kita ada di dalam inkubator?” tanyaku saat melihat anakku di ruang bayi.

Chansung oppa tidak menjawabku. Aku lihat ia seperti sedang melamunkan sesuatu. Aku menyikut lengannya lalu ia menatapku.

“Ri Jung-ah, nama apa yang akan kau berikan kepada anak kita?”

“Ne? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, oppa.”

Chansung menghela nafasnya, “Hal itu biar Jinwoon saja yang menjelaskannya padamu.”

“Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?!” ucapku sedikit marah.

Ia menundukkan kepalanya lalu meraih tanganku dan digenggamnya erat. “Apapun yang menimpa anak kita adalah salahku. Maafkan aku..”

Aku benar-benar bingung sekarang. “Apa maksudmu?”

“Pendarahan itu.. pendarahan itu menyebabkan anak kita cacat, jantungnya tak bisa bekerja maksimal..” aku tercengang tak percaya. Ternyata selama ini hanya aku saja yang tidak tahu tentang masalah ini. Jinwoon pun menyembunyikan hal ini dariku.

Kulepaskan genggamannya dari tanganku lalu berjalan meninggalkannya. Sekarang aku ingin bertemu Jinwoon dan meminta penjelasan darinya.

Continue reading

Advertisements
4

Be Mine, Please.. {Part 6}

Chansung’s POV

Aku lihat mobil Appa sudah terparkir di garasi rumah. Ah ya, aku ingin membicarakan soal perjodohanku dengan Se Na.

Tok tok. Kubuka pintu ruang kerja Appa lalu masuk ke dalam. “ada apa lagi?” tanyanya dingin.

“aku mau bicara”

“soal apa?”

“perjodohanku dengan Se Na, aku tidak bisa menerimanya”

“waeyo? Bukankah kalian pernah pacaran? Lagipula kalau kau menolak perjodohan ini, akan berdampak buruk pada perusahaan kita”

Aku mendecak sebal, “perusahaan? Appa menjualku! Kau menjual anakmu sendiri!” bentakku.

BRAAK! Appa memukul meja kerjanya, “kau pikir selama ini kau hidup darimana?! Kau mau perusahaanku bangkrut dan kita jatuh miskin?!”

“lebih baik aku hidup miskin daripada hidup dengan berlimpah kekayaan tapi aku juga harus hidup dengan wanita itu” jawabku sinis lalu pergi meninggalkan ruangan Appa.

Seharusnya aku tau dari awal tujuan Appa menjodohkanku, pasti untuk perusahaannya. Appa memang akan mengorbankan semua hal termasuk aku dan Oemma untuk perusahaannya.

Aish, mungkin aku akan lebih bahagia kalau Oemma membawaku dulu. Kemana dia?

Aku putuskan untuk mandi dan pergi bersama Khun dan Taecyeon. Aku butuh hiburan.

Kami bertemu di sebuah cafe, tempat kami biasa bertemu. Saat aku datang, aku melihat Khun sudah duduk disebuah meja. Aku lalu menghampirinya.

“yaak, Hwang Chansung ada apa? Kau bilang ada yang mau kau ceritakan? Apa ini soal wanita?” sambut Nickhun sedikit menggodaku.

Aku tersenyum simpul lalu duduk di depannya, “yah begitulah, kau tau Shin Ri Jung kelas 2-A?”

Ia berpikir sejenak dan mengangguk, “ada apa dengannya?”

“haah.. dia hamil” jawabku singkat.

“lalu? Apa hubungannya denganmu?”

“apa hubungannya? Aku ayah dari anak yang dikandungnya!”

“mwo? Bukankah kau tidak menyukainya?” tanyanya lagi.

Tiba-tiba seseorang menepuk punggungku, “yak! Beraninya kalian memulai cerita tanpaku” ucap Taecyeon lalu duduk di sebelah Nickhun.

“kau datang terlambat, itu resikomu Taec..” ledek Nickhun.

Setelah aku memesan secangkir capuccino hangat, aku memulai kembali ceritaku. Mulai dari hubunganku dengan Ri Jung, perjodohanku dengan Se Na, “tunggu.. maksudmu Lee Se Na sunbae kita dulu? Mantan kekasihmu?” potong Taecyeon tiba-tiba.

Aku mengangguk dan menatapnya heran, “wae?”

“ehm, kemarin dia menelponku, dan memintaku untuk datang ke apartemennya..”

“lalu?” tanya Nickhun penasaran.

“ia memintaku untuk tidur bersamanya”

“aku yakin kau tidak menolaknya, bukan?” goda Nickhun.

Aku lihat Taecyeon mengangguk pelan. “aish, wanita itu benar-benar brengsek!”

“Chansung-ah nianhaeyo, aku tidak tau kau..”

“aniyo, aku tidak marah denganmu. Aku tidak peduli kau tidur dengannya”

“ah ya, lanjutkan lagi ceritamu” pinta Nickhun.

Aku menarik nafas panjang, “kalian ingat Jung Jinwoon?”. Mereka mengangguk serempak.

“orang tua Ri Jung menjodohkannya dengan Jinwoon. Haah.. Apa dunia ini benar-benar sempit?”

“jeongmalyo? Apa Ri Jung menerimanya?” ucap Taecyeon tak percaya.

Aku mengangguk lemas, “Appanya sangat keras, dan lagi Jinwoon mengaku kalau dia ayah dari anakku”

Continue reading

3

Be Mine, Please? {Part 1}

Ri Jung’s POV

Kyaaaaa… teriakku dan para siswi lainnya saat melihat bintang sekolah kami yaitu Hwang Chansung memasuki gerbang sekolah. Entah sejak kapan, berdiri bersama segerombolan siswi didepan gerbang sekolah setiap pagi menjadi kebiasaanku.

“Yak! Ri Jung ah~ apa kau tidak lelah selalu berdiri di tempat itu setiap pagi?” tanya Chan Ji saat kami berjalan menuju kelas.

“Mwo? Lelah? Tidak ada kata lelah untuk memuja seorang Hwang Chansung” jawabku dengan mata berbinar-binar.

Aku adalah siswi kelas 2 di Seoul American High School. Hwang Chansung adalah sunbaeku, dengan susah payah aku belajar dengan giat dan akhirnya aku berhasil masuk sekolah ini (T.T) selain untuk memenuhi permintaan orang tuaku, juga untuk mengejar Chansung oppa.

Bel istirahat berbunyi, aku dan teman-temanku langsung menuju kantin untuk mengisi perut kami yang sudah sangat kosong. Pelajaran fisika barusan sangat menguras tenaga ==’

“Ah!” seseorang menabrakku dan aku jatuh ke lantai.

“Agassi, gwaenchana?” tanya orang yang menabrakku sambil mengulurkan tangannya.

“Kalau jalan lihat-lihat dong!” jawabku marah tanpa melihat orang itu.

“Ah, mianhaeyo agassi..” aku mengangkat kepalaku dan menyadari siapa yang sedang berbicara padaku. Hwang Chansung.

Aku langsung berdiri dan refleks memeluknya.

“Hei, ada apa dengan gadis ini?” tanya seorang laki-laki yang sedari tadi berdiri disebelah Chansung, Taecyeon teman dekat Chansung.

“Molla..” jawab Chansung.

“Ri Jung ah~ sudahlah, ayo kita pergi ke kantin” ucap Seo Chan menarik tanganku.

“Oppa~ saranghaeyooo~~” kataku yang sudah melepaskan pelukanku.

“Naddo saranghaeyo agassi..” jawabnya berlalu pergi.

~~~

“Kalian dengar barusan? Chansung oppa membalas perasaanku!” ucapku antusias saat berada di kantin.

Teman-temanku hanya diam memperhatikanku.

“Kau tau, ia selalu berkata seperti itu ke setiap perempuan” jawab Min Young yang membuyarkan kesenanganku.

“Yak! Min Young, kau tidak bisa melihatku senang sedikit?” protesku. Tapi apa yang dikatakan Min Young benar, Chansung oppa memang terkenal playboy disekolah ini.

“Yak! Cepat habiskan makanan kalian! Nanti keburu bel” perintah Ri Ra yang sudah muak dengan perdebatan kami.

“Aku akan bertekad untuk membuat Chansung oppa menyukaiku! Mulai besok aku akan membuatkannya bekal” ucapku bersemangat.

Keesokkan harinya..

“Kau mau kemana Ri Jung?” tanya Chan Ji saat melihatku terburu-buru keluar kelas saat bel istirahat.

Aku mengangkat kotak bekal yang ada di tanganku. “Tentu saja memberikan ini”

Jantungku berdebar sangat kencang, aku tau kalau perbuatanku ini sangatlah nekat. Terlihat banyak tatapan yang memandangku tidak suka saat aku memasuki kelas Chansung oppa, tepatnya tatapan membunuh.

“Oppa..” aku memberanikan diri untuk memanggilnya yang sedang berkumpul dengan Taecyeon dan Nickhun oppa.

“Ah, ada apa agassi?” jawabnya dengan santai.

“A..aku hanya ingin memberikan ini..” ucapku terbata-bata karena pasti wajahku sudah sangat memerah (*//////*)

“Untukku? Gomawoyo agassi~” ucapnya. Aku hanya mengangguk dan berbalik lalu pergi.

~~~

Aku senang sekali karena Chansung oppa mau menerima bekal pemberianku. Aku bangun pagi sekali untuk membuat bekal lagi.

Entah karena terlalu bersemangat atau apa aku sampai di sekolah sangat pagi, sekolahpun masih sangat sepi.

Sesampainya dikelas aku sangat terkejut melihat meja dan kursiku yang sudah berantakan. Ada apa ini?

Aku membalikkan mejaku, aku kembali dikejutkan oleh tulisan yang ada di mejaku.

JAUHI HWANG CHANSUNG ATAU KAMI AKAN BERTINDAK!!

Haah, ini pasti ulah siswi-siswi yang melihatku ke kelas Chansung oppa kemarin. Aku merapihkan posisi meja dan bangkuku dan bergegas ke ruang perlengkapan untuk mengambil lap dan membersihkan mejaku.

“Haah, akhirnya bersih juga..” ucapku puas melihat mejaku yang sudah kembali kinclong.

“Jangan harap dengan ulah mereka ini aku akan mengurungkan niatku untuk mendapatkan Chansung oppa!” gumamku dalam hati.

Tidak terasa bel masukpun berbunyi dan murid-mrid mulai berhamburan memasuki kelas masing-masing. Sebenarnya aku sangat tidak sabar menunggu bel istirahat.

Continue reading

0

Additional Part ~Park Chan Ji~

*Park Chan Ji’s POV

“Ah, mianhae” ucap lirih seorang gadis berambut pendek saat kami tidak sengaja bertabrakkan di toko CD langgananku. Apa dia menangis?

“Ani, gwaenchanha, aku yang salah” jawabku sambil memperhatikan matanya yang sedikit membengkak karena menangis.

“Gwaenchanhayo? Kalau boleh aku tahu, mengapa kau menangis agassi?” tanyaku khawatir melihatnya.

“Aku tidak apa. Maaf, aku belum mengenalmu” jawabnya sambil menghapus air matanya.

“Baiklah, kalau begitu kita kenalan dulu. Park Chan Ji imnida. Sekarang giliranmu agassi?” ucapku memperkenalkan diriku.

“Choi Soo Young imnida, tolong jangan panggil aku agassi lagi, panggil saja aku Soo Young” jawabnya seraya tersenyum simpul.

“Soo Young-ssi, apa kau bersedia menceritakan masalahmu padaku?” tanyaku ramah.

“Apa kau tidak keberatan?” ia balik bertanya padaku.

“Tentu saja tidak, bagaimana kalau kita pergi ke kedai kopi langgananku?” tawarku.

Setibanya di kedai, aku memesan hot chocolate, begitupun dengannya.

“Hm, kau bisa mulai bercerita sekarang” ucapku membuka percakapan.

“Hari ini adalah hari jadiku bersama pacarku, aku memintanya untuk bertemu di restoran Babtols siang tadi, setelah 2 jam menunggu, akhirnya dia datang, tapi dia tidak sendiri, dia menggenggam tangan seorang gadis. Aku tidak mengenal siapa wanita itu. Tapi tiba-tiba dia memperkenalkan wanita itu sebagai kekasihnya yang baru tanpa memperdulikan persaanku dia memutuskanku dan meninggalkanku begitu saja. Aku tidak mengerti kenapa ia bisa begitu tega padaku, padahal kami sudah berpacaran selama 3 tahun” jelasnya lalu ia kembali menangis.

“Hei, kenapa kau menangis lagi? Air matamu terlalu berharga untuk menangisi pria brengsek itu” ucapku mencoba menenangkannya.

“Sebrengsek apapun dia, aku masih mencintainya, walaupun sekarang aku sangat ingin menghilangkan perasaan ini” jawabnya masih terisak.

“Kau harus yakin bahwa kau bisa melupakannya. Aku akan membantumu untuk melupakannya” ujarku mantap.

Dia terlihat bingung dengan apa yang aku katakan barusan, “Maksudmu?” tanyanya.

“Ya, aku akan membantumu untuk melupakannya, agar kau tak menangis lagi. Mungkin kita bisa berteman?” jawabku.

Soo Young hanya mengangguk dan tersenyum lembut. Cantik..

“Gomawo Chan Ji” ucapnya.

“Choenmaneyo Soo Young ah~” akhirnya kami bertukar no telepon dan e-mail.

***

Bel sekolah berbunyi, semua murid memasuki kelasnya masing-masing termasuk aku.

“Hei Chan Ji ah~ bantu aku untuk mengerjakan kimia ya! Aku benar-benar muak dengan pelajaran itu” panggil teman dibelakangku, Ri Jung.

“Haha, baiklah Ri Jung ah~ tapi kau temani aku bertemu dengan teman wanitaku besok ya?“ jawabku, sekalian memintanya menemaniku bertemu dengan Soo Young besok sepulang sekolah.

Hwang seonsaengnim memasuki kelas dengan seseorang dibelakangnya, mungkin murid baru pindahan dari luar.

“Selamat pagi, kita kedatangan murid baru, dia baru pindahan dari Daegu. Silahkan perkenalkan dirimu, dan kau boleh duduk disebelah Shin Ri Jung” ujar seonsaengnim.

“Annyeonghaseyo, choneun Cho Kyuhyun imnida” ia memperkenalkan dirinya.

“Ah, ternyata anak ini yang bernama Cho Kyuhyun” gumamku dalam hati sambil melihatnya berjalan kearah kursi kosong disebelah Ri Jung. Aku pernah membaca namanya di sebuah koran bahwa dia memenangkan olimpiade matematika.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi.

“Hey Ri Jung ah~ kau mau ikut kami makan es krim di kedai es krim yang baru dibuka itu tidak?” tawar Ri Ra pada Ri Jung yang terlihat gelisah sedari tadi.

Dia hanya menggeleng dan berjalan meninggalkan kami.

“Baiklah, ayo kita pergi sekarang, ppalli!” ucap Min Young bersemangat.

Sepulangnya dari kedai es krim, aku langsung bergegas pulang. Aku ingin menghubungi Soo Young. Karena aku takut mengganggu akhirnya aku mengiriminya sms.

To: Soo Young agassi~

Tuesday, July 6, 2010 4:33 PM

Bagaimana kabarmu Soo Young ah?

Continue reading