Call You Mine [Part – 6]

Call You Mine – Part 6

Author            : @tyasung

Cast    : Kris (EXO M), Kim Jongdae (EXO M), Han Seon Kyu

Genre : Romance

Length : Chapter

Rating            : PG – 17

^^^^^^^^^^

 

“Ya, sepertinya aku memang belum bisa melupakan cinta pertamaku, Lee Hyo-ya…”

 

……….

~Enam setengah tahun yang lalu~

 

Seon Kyu’s POV

“Ju Hyeok-ah, aku minta yang biasa, ya!”

Sudah berapa kali eomma membawaku ke tempat ini setelah menjemputku di sekolah. Asap rokok dan bau alkohol memenuhi tempat ini.

“Yaa, ini dia pesananmu,” seorang pria yang setahuku bernama Jung Ju Hyeok meletakkan dua botol minuman di meja lalu tersenyum padaku. “Kau semakin manis saja, Seon Kyu-ya!”

Aku mengangguk pelan dan balas tersenyum kepadanya.

“Aku heran kenapa sekolah zaman sekarang sering sekali mengadakan pertemuan orangtua,” ucap eomma yang lalu menyulut ujung rokoknya.

“Bukankah seharusnya kau bangga karena bisa orangtua-orangtua lain bisa melihat kepandaian anakmu ini?”

Paman Jung mengusap pelan kepalaku lalu pergi kembali ke meja kasir. Aku tersenyum, sedikit senang mendengar pujian paman Jung barusan.

“Seon Kyu-ya, kau jangan senang dulu hanya karena dipuji seperti itu. Mungkin Ju Hyeok menginginkanmu bekerja untuknya, makanya ia berbicara seperti itu.”

Jujur saja ucapan eomma barusan dengan mudahnya menghapus rasa senangku yang hanya sedikit itu. Aku mengangguk dan menundukkan kepalaku menahan rasa kecewaku.

“Jun Hee-ssi!” seru eomma sembari melambaikan tangannya.

Seorang laki-laki yang sepertinya kenalan eomma ini datang dan duduk di sebelahku. Bau alkohol sangat tercium dari pria ini dan lama-lama membuatku pusing. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu eomma di luar.

“Haah…” helaan napasku keluar begitu saja saat aku menapakkan kakiku di luar kedai ini. Hari sudah semakin gelap dan dingin, tapi aku merasa jauh lebih baik berada di luar daripada berada di tempat yang menyesakkan seperti tadi.

“Hey,” seorang laki-laki tiba-tiba menyapaku yang sedang diam bersandar di tembok.

Aku menolehkan kepalaku dan melihatnya. Lelaki ini terlihat lebih dewasa daripada aku, tapi bukannya takut dan menghidar, entah kenapa bibirku malah tersenyum menjawab sapaannya tadi.

“Kau pasti Han Seon Kyu. Kenapa diam di luar? Kau akan kedinginan.”

“Eh? Kenapa tahu namaku?” tanyaku heran.

Ia tersenyum dengan manisnya dan menarik tanganku. “Tentu saja aku tahu! Kau ‘kan anak dari pelanggan setia kami! Haha…”

Aku tidak tahu apa yang ia tertawakan tapi lagi-lagi bibirku tersenyum dengan sendirinya.

“Kau pasti tidak suka dengan keadaan di dalam kedai, ya? Kau bisa menunggu ibumu di sini,” ucapnya yang lalu mendudukkanku di sebuah kursi di dapur.

“Jongdae-ya—ah, kau di sini Seon Kyu-ya.”

“Aku pikir lebih baik dia menunggu ibunya di sini daripada di luar.”

“Aigo… kau pasti kesepian, ya. Tunggulah ibumu di sini, ya. Di luar sangat dingin, kau bisa masuk angin nanti,” ujar paman Jung yang lagi-lagi mengusap kepalaku lembut. “Ah, Jongdae-ya, bisa tolong kau belikan bawang daun sebentar di supermarket? Aku baru ingat kalau persediannya sudah habis.”

“Geuraeyo? Baiklah aku akan pergi.” Laki-laki yang bernama Jongdae ini melepaskan celemeknya lalu menatapku sambil mengulurkan tangannya, “Kau mau ikut?”

Dengan cepat aku menganggukkan kepalaku dan menyambut uluran tangannya. Hangat. Itulah yang aku rasakan dari genggaman tangannya.

………..

“Jo… Jongdae-ssi, bawang daunnya di sebelah sana…” akhirnya setelah diam beberapa saat aku memberanikan diriku untuk berbicara dan bahkan menyebut namanya.

“Geuraeyo? Ah, sepertinya mereka merubah susunan raknya lagi…” ucapnya yang lalu berjalan ke arah yang aku tunjukkan.

Setelah membayar di kasir, Jongdae menarikku ke sebuah stand tteokbokki di depan supermarket.

“Kau suka pedas?” tanyanya sembari merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas.

Aku mengangguk lalu menerima sepiring tteokbokki hangat dari tangannya.

“Ah, ya. Aku belum mengenalkan diriku. Aku Kim Jongdae, 19 tahun dan bekerja sambilan di kedai minum milik paman Jung. Bagaimana denganmu?”

“Namaku—”

“Han Seon Kyu.”

Aku menatapnya sejenak yang sedari tadi tersenyum lalu melanjutkan perkenalan diriku. “Usiaku 16 tahun, seorang pelajar.”

“Hm, baiklah. Aku rasa kau tidak perlu terlalu formal padaku. Kau bisa memanggilku dengan panggilan Jongdae oppa. Itupun kalau kau tidak keberatan~”

Apa aku tidak salah dengar? Kami baru bertemu tapi kenapa orang ini bersikap sangat baik padaku.

“Bagaimana?”

“Ye, Jongdae oppa…”

“Aah, benar sekali apa yang selalu diceritakan paman Jung tentangmu.”

“Ne?”

“Kau memang manis.”

Panas. Rasa panas ini muncul bukan dari tteokbokkiku, tapi dari wajahku yang sekarang mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus. ‘Aku menyukaimu, Jongdae oppa.’

……….

“Seon Kyu-ya, kau masih 16 tahun. Maaf, tapi aku tak bisa menerimamu bekerja di sini…”

“Ahjussi, jebal, izinkan aku bekerja di sini. Aku berjanji kalau tidak akan ada yang tahu soal usiaku!”

“Bagaimana dengan ibumu? Apa ia tidak akan marah?”

Dengan cepat aku menggeleng, “Ani. Eomma mungkin malah senang karena aku bisa menghasilkan uang sendiri.”

“Aish, Kim Dae Hee!” Paman Jung akhirnya menyerah dan menghela napas, “Baiklah, kau boleh kerja di sini, tapi dengan syarat kalau pekerjaan ini tidak boleh mengganggu sekolahmu!”

Senyumku mengembang dengan cepatnya. “Kamsahamnida, ahjussi!” ucapku yang lalu membungkukkan tubuh beberapa kali.

“Ye, ye. Kau bisa mulai kerja kapan saja dan jangan lupa gunakan celemek ini. Jangan sampai bajumu kotor.”

“Algaesumnida, ahjussi!”

Setiap hari, sepulang sekolah aku langsung bergegas ke kedai Paman Jung untuk bekerja. Memang niatku bekerja di sini tidak murni untuk mengumpulkan uang, tapi tentu saja untuk bertemu dengan Jongdae oppa.

“Kau betah bekerja di sini?” tanya Jongdae oppa yang lalu mengoperkan piring cuciannya padaku untuk kukeringkan dengan kain serbet.

“Tentu saja,” jawabku tanpa basa-basi. “Oppa sendiri sejak kapan kerja di sini?”

“Hmm, aku sudah bekerja di sini selama kurang lebih satu tahun. Aku tidak ingin membebani orang tuaku terus menerus untuk membiayai kuliahku, jadi, yah, disinilah aku…”

Mendengar jawaban Jongdae oppa barusan, aku baru menyadarinya kalau ia adalah seorang mahasiswa. “Ah, kalau boleh tahu, jurusan apa yang oppa ambil?”

Jongdae oppa terdiam sejenak lalu tersenyum padaku. “Kau harus berjanji untuk tidak menertawaiku.”

Aku anggukkan kepalaku mengiyakan ucapannya barusan.

“Sebenarnya ini adalah salah satu tindakan nekat yang aku lakukan dalam hidupku. Ayahku memintaku untuk tidak usah kuliah dan bekerja untuk membantu keuangan keluarga, tapi cita-citaku yang ingin menjadi dokter membuatku berada di sini sekarang dan beberapa tempat kerja sambilanku yang lain sebentar lagi…”

“Jadi oppa seorang mahasiswa kedokteran? Wah, sekolah kedokteran ‘kan membutuhkan banyak biaya…”

“Tentu saja hal itulah yang membuatku tidak boleh terus bergantung pada orang tuaku. Ayahku sempat benar-benar menentangku saat aku bilang kalau aku akan ikut ujian penerimaan di Universitas, tapi aku tidak berhenti menunjukkan keseriusanku dan usahaku yang akhirnya berujung dukungan dari keluargaku. Aku senang karena mereka akhirnya memahamiku dan mendukungku dengan tulus.”

“Ah, aku pikir oppa adalah orang yang hebat. Cita-cita menjadi dokter adalah sesuatu yang mulia dan memang pantas diperjuangkan… Fighting~!”

Jongdae oppa tersenyum padaku lalu membilas piring terakhir di tangannya. “Gomapsumnida, Seon Kyu-ya…”

Tak terasa cucian piring yang tadi menumpuk sekarang sudah habis. Jujur saja setelah mendengarkan cerita Jongdae oppa barusan aku menjadi semakin mengaguminya dan… menyukainya.

……….

“Kim Dae Hee! Apa kau datang untuk melihat anakmu?”

“Ani. Ju Hyeok-ya, aku pesan yang biasa, ya. Tolong bawakan ke meja nomor dua di sana.”

“Siapa pria itu?”

“Sst, aku akan panen besar malam ini…”

“Ya, kapan wanita itu akan berhenti seperti ini…” gerutu paman Jung saat memasuki dapur.

Aku yang tadi secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan eomma dan paman Jung hanya bisa diam, pura-pura tidak mendengarkan apa-apa.

“Gwaenchanayo?” tanya Jongdae oppa yang sepertinya menyadari keadaan barusan.

Aku mengangguk, “Tentu saja. Aku baik-baik saja. Aku sudah biasa karena memang beginilah keluargaku…”

“Apa kau akan pulang bersama ibumu malam ini?”

“Ani. Aku hanya akan membuatnya repot nanti…”

Jongdae oppa melihat jam tangannya lalu melepas celemeknya. “Ayo, aku antar pulang.”

“Ne?”

“Ayo pulang!”

“Tapi bukankah oppa ada kerja sambilan setelah ini?”

“Hmm, entah kenapa hari ini aku ingin bolos saja.”

Aku menatapnya sedikit terkejut. “Ah, wae geureayo?”

“Aku bosan. Khajja!”

Aku akhirnya melepas celemekku dan keluar kedai setelah berpamitan pada paman Jung.

“Sebelum pulang, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”

“Hmm,” aku berpikir sejenak sebelum akhirnya sebuah tempat muncul di otakku. “Game center!

Lagi-lagi Jongdae oppa melihat jam tangannya. “Sekarang sudah pukul sepuluh malam dan kau masih mengenakan seragam sekolahmu. Aku rasa penjaga game center tidak akan membiarkan kita masuk.”

“Ah, benar juga…”

Jongdae oppa terlihat berpikir sejenak, seperti sedang memperhitungkan sesuatu. “Apa kau kosong hari minggu tanggal 23 nanti?”

Tanpa berpikir panjang aku langsung menganggukkan kepalaku.

“Bagaimana kalau kita ke game center pada tanggal 23 itu? Kebetulan aku dapat shift malam.”

Aku tersenyum dan mengacungkan jempolku. “Deal!

……….

Pip pip pip pip pip pip

Aku mematikan alarm jamku lalu meregangkan tubuhku yang entah kenapa terasa sangat lelah belakangan ini. Aku mengusap mataku pelan karena silau akan cahaya matahari yang masuk dari celah jendelaku.

“Ah!” seruku saat menyadari hari apa sekarang. Sekarang bukan saatnya santai menikmati hari liburku di tempat tidur!

Dengan cepat aku langkahkan kakiku ke kamar mandi dan membasuh tubuhku sampai bersih. Hari ini adalah hari yang bisa dibilang spesial untukku karena hari ini tepat tiga bulan aku mengenal Jongdae oppa dan ya, hari ini aku akan pergi dengannya!

“Aw!” jeritku pelan karena untuk kesekian kalinya jepit rambut yang aku coba menyangkut di rambutku. “Haah, kenapa aku merasa semua aksesoris rambut tidak tercipta untukku.”

Akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan rambutku polos tanpa jepit rambut apapun. Aku meraih tas tanganku lalu bergegas turun dan sebisa mungkin tanpa sepengetahuan eomma.

“Seon Kyu-ya.”

“Ne..?” langkah kakiku terhenti saat mendengar panggilan eomma yang sedang duduk di depan televisi.

“Saengil chukahae.”

“Ne—ah, kamsahamnida, eomma… aku pergi dulu.”

Tanpa menunggu balasan eomma aku segera keluar rumah sambil memukul-mukul kepalaku pelan. “Han Seon Kyu babo-ya! Bagaimana kau bisa lupa dengan ulangtahunmu sendiri!”

Sedetik kemudian aku kembali tersadar kalau hari ini adalah ulangtahunku yang ke 17. Harapanku pada rencana hari ini semakin besar.

……….

“Oppa! Apa oppa sudah lama menunggu?”

“Aniyo, khajja!”

Seperti biasa, Jongdae oppa mengulurkan tangannya untuk aku raih. Tentu saja hal ini selalu membuat jantungku berdegup dengan kencang.

“Seon Kyu-ya, kau semangat sekali!”

Aku tersenyum menatapnya lalu berkata, “Aku sudah lama sekali tidak ke game center! Ah, oppa, kau harus mengalahkanku di permainan ini!”

“Hahaha, kau pasti menyesal karena telah menantangku, Seon Kyu-ya!”

Setelah bermain di beberapa mesin permainan, kami akhirnya merasa kalau tenaga kami telah terkuras habis. Jam tanganku pun telah menunjukkan pukul tiga sore.

“Aku rasa kita harus makan sesuatu. Kau lapar?”

“Ye. Apa yang ingin oppa makan sekarang?”

Jongdae oppa terlihat berpikir sejenak sebelum bertanya, “Bagaimana kalau makan pasta? Kau suka pasta? Ada restaurant pasta yang enak di dekat sini.”

“Tentu saja. Khajja!”

……….

“Kau suka?” tanya Jongdae oppa setelah suapan pertamaku.

Aku mengangguk lalu tersenyum. Aroma masakan yang menyambut kami saat masuk ke dalam restoran ini memang langsung membuatku tak sabar menyantap hidanganku yang datang tak lama setelah kami memesan.

“Seon Kyu-ya!”

Aku menolehkan kepalaku ke arah suara tersebut lalu melambaikan tanganku pada Mi Rae dan Young Do, teman sekelasku di sekolah.

“Saengil chukahae~!! Ah, aku berencana untuk ke rumahmu hari ini, dan…–oh, annyeonghaseyo, apa aku mengganggu kalian?”

Mi Rae membungkuk lalu tersenyum pada Jongdae oppa yang baru ia sadari keberadaannya.

“Ah, Mi Rae-ya, Young Do-ya, perkenalkan, Jongdae oppa.”

Jongdae oppa berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Mi Rae dan Young Do. Mi Rae menatapku seakan-akan menunggu penjelasan lebih akan keberadaan kami berdua di sini.

“Oh ya, kami membawakanmu ini,” Young Do mengangkat sebuah kotak yang berisi sebuah cake ulang tahun bertuliskan Happy Birthday Han Seon Kyu.

“Ah, gomawoyo!” seruku terlalu senang.

“Aniya, anggap saja ini balas budi kami setelah menerima bantuanmu kemarin. Aku tidak akan bisa mengerjakan soal ujian bahasa Inggris kemarin kalau kau tidak membantuku, Seon Kyu-ya!”

“Kalau kalian tidak keberatan, silahkan duduk bergabung bersama kami,” tawar Jongdae oppa dengan ramah.

“Ah, bolehkah?”

“Tentu saja. Teman Seon Kyu berarti temanku juga,” jawab Jongdae oppa. Aku menatap Jongdae oppa beberapa saat, kagum. Aku memang tidak salah karena telah menyukainya.

……….

“Seon Kyu-ya, mian.”

“Eh? Wae geuraeyo, oppa?”

“Aku tidak tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu. Aku sama sekali tidak menyiapkan apapun.”

Aku memberhentikan langkahku dan menoleh ke arahnya yang berjalan di sampingku. “Aku sudah cukup senang—Ani, sangat senang hari ini. Rasanya hari ini adalah hari ulang tahun terbaikku.”

Jongdae oppa tidak menjawab, melainkan hanya diam sambil menatapku.

“Oppa, apa ada yang salah?”

“Ani. Hanya saja…”

“Hanya saja?”

Pria bermata coklat ini menundukkan kepalanya lalu menggaruk tengkuknya gusar.

“Aku rasa aku menyukaimu,” ucap Jongdae oppa yang akhirny mengangkat kepalanya menatapku.

Kali ini aku yang menundukkan kepalaku. Aku dibuat tak percaya dengan ucapannya barusan. Jongdae oppa menyukaiku? Apa aku tidak bermimpi? Bisa pergi bersamanya hari ini saja sudah terasa seperti mimpi indah untukku.

Aku memberanikan diriku untuk balas menatapnya yang masih menatapku dengan wajah merahnya.

“Ah, waeyo?! Kau pasti sekarang membenciku karena tiba-tiba mengatakan hal aneh seperti barusan. Mianhae, Seon Kyu-ya, mianhae.”

Bibirku yang masih terkatup membentuk sebuah senyuman.

“Ah, sekarang kau pasti akan menertawaiku?”

“Oppa, apa yang oppa katakan barusan sungguhan?”

Jongdae oppa menatapku dengan bingung. “Maksudmu? Ah, jujur saja aku merasa nyaman jika bersamamu. Aku bahkan sering kali memikirkanmu—ani, ani, kau pasti menganggapku orang aneh.”

“Oppa, aku juga… menyukaimu.”

“Ne? Kau tidak perlu menghiburku, Seon Kyu-ya.”

Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. “Aku serius. Mungkin sekarang malah oppa yang akan menganggapku sebagai orang aneh.”

“Mwo—Aniyo, kenapa harus aku—ah, apa kau benar-benar serius, Seon Kyu-ya?”

Kali ini aku menganggukkan kepalaku menunjukkan kesungguhanku. “Love at the first sight. Itu yang aku rasakan pada oppa.”

Mukaku panas. Akhirnya aku mengatakannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Lari dari tempat ini secepat mungkin atau diam di tempat sambil mengatur degup jantungku yang sudah tidak karuan sejak tadi ini?

“Hah. Kau tahu apa yang aku rasakan sekarang?” tanya Jongdae padaku yang langsung aku jawab dengan gelengan. Dalam hati aku tak berhenti menebak-nebak apa yang dipikirkan Jongdae oppa terhadapku setelah pengakuanku barusan. Membenciku? Menganggapku orang aneh? Aku seperti merasakan apa yang Jongdae oppa katakan tadi.

“Aku senang. Sangat senang. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu denganmu.”

……….

Kim Jongdae’s POV

Kira-kira sudah hampir satu tahun berlalu sejak saat dimana kami sama-sama mengungkapkan perasaan kami. Sebentar lagi Seon Kyu akan mengkuti ujian kenaikan kelas tiga dan selama seminggu inilah aku membantunya belajar.

“Besok hubungi saja aku kalau ada yang kau tidak mengerti. Aku akan menjemputmu. Aku masih memiliki beberapa hari cutiku,” ucapku setelah melepaskan genggaman tanganku padanya.

Seon Kyu mengangguk lalu membungkukkan tubuhnya. “Gomawoyo, oppa. Aku masuk dulu.”

“Ne. Jaljayo, Seon Kyu-ya.”

Setelah memastikan Seon Kyu masuk ke rumahnya, aku berbalik dan berjalan pulang sambil terus tersenyum. Tersenyum mengingat kalau dua hari lagi adalah tepat satu tahun Seon Kyu menjadi kekasihku.

……….

“Yaa, kau terlihat lesu sekali, Jongdae-ya. Apa kau begitu merindukan Seon Kyu?” paman Jung terdengar sedang meledekku.

Aku yang baru menerima pesanan tidak menghiraukan paman Jung dan berjalan lurus ke arah di mana lemari es berada. Aku memang sedikit merindukan Seon Kyu, tapi aku harus fokus bekerja dan dengan sabar menunggu sampai ujian kenaikan kelasnya selesai.

Setelah mengantarkan pesanan, seorang wanita yang baru masuk ke kedai melambaikan tangannya padaku memberi isyarat agar aku menghampirinya.

“Ah, annyeonghaseyo, Seon Kyu eomma…”

“Ju Hyeok-ya, aku pinjam pegawaimu sebentar!” seru wanita yang tak lain adalah ibu dari kekasihku kepada paman Jung.

Entah kenapa aku merasa sesuatu yang tidak enak akan terjadi.

“Duduklah,” ujar ibu Seon Kyu mempersilahkanku duduk di kursi kosong di hadapannya.

Aku duduk  sambil mencoba menenangkan kepanikan yang ada di pikiranku.

“Maafkan aku karena aku memanggilmu di tengah waktu bekerjamu. Apa aku mengganggumu?”

“Ah, animnida…”

“Hmm, aku lihat Seon Kyu tidak ada di sini malam ini. Apa kau tahu kenapa?”

“Ye. Seon Kyu sedang menghadapi ujian kenaikan kelasnya, jadi seminggu ini dia tidak masuk kerja.”

“Apa kau benar-benar menyukai anakku?”

DEG.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan kepanikan dalam diriku yang semakin menjadi setelah mendengar pertanyaan barusan.

“Tentu, tentu. Aku sangat menyukai Seon Kyu.”

“Baiklah, aku rasa aku akan langsung saja menyampaikan maksudku menemuimu malam ini…” wanita berlipstik merah ini menyulut rokoknya dan menghisapnya. “Aku ingin kau berpisah dengan Seon Kyu.”

Firasatku ternyata benar.

“Ne? Apa, apa aku membuat suatu kesalahan?”

Ia menghembuskan asap rokoknya ke udara dan menggeleng. “Ani, sama sekali tidak. Aku tahu kau anak yang baik dan aku tidak melarang kalian berpacaran… tapi, kau tahu, Seon Kyu akan menjadi murid kelas 3 SMA, dan aku tidak ingin sesuatu sampai menghalanginya untuk belajar.”

Aku terdiam dan tanpa sadar menghela napasku dengan lesu.

“Jongdae-ssi, aku tahu ini adalah keputusan yang berat untukmu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku. Kau tahu Seon Kyu tidak akan mendengarkan omonganku ‘kan? Aku menyerahkan segala keputusan padamu. Apa yang menurutmu baik untuk kalian, dan juga masa depan kalian berdua.”

Wanita yang kutahu bernama Kim Dae Hee ini mematikan rokoknya dan beranjak dari duduknya. “Terima kasih atas waktumu, Jong Dae-ssi.”

Sejenak aku hanya terdiam sambil mencerna pembicaraan singkat kami barusan. Tolong, seseorang, bangunkan aku.

……….

“Jongdae-ya, apa ini?”

“Ahjussi jeongmal mianhae. Tolong berikan surat itu pada Seon Kyu.”

“Apa kalian bertengkar?”

Aku menggeleng sambil melipat celemekku. “Kami baik-baik saja, dan aku yakin, kami akan selalu baik-baik saja.”

“Haah, aku memang sudah terlalu tua untuk masalah seperti ini…”

“Ah, ye. Mungkin mulai besok aku tidak akan bekerja di sini lagi, ahjussi.”

“Wae, wae?”

“Aku rasa aku harus mulai fokus pada kuliahku.”

Ya, aku memutuskan untuk berpisah dengan Seon Kyu—seperti yang disarankan oleh ibu Seon Kyu padaku dua hari yang lalu. Aku rasa tidak akan ada gunanya kalau aku masih bekerja di sini dan masih harus bertemu dengan  Seon Kyu di tempat ini. Jadi aku putuskan untuk berhenti bekerja. Aku yakin kalau pilihanku ini akan berujung baik.

Wajah kecewa paman Jung mulai memudar setelah mendengar ucapanku barusan. Aku membungkukkan badanku sebagai permintaan maaf dan juga penyesalanku. “Maafkan ketidakprofesionalanku ini, ahjussi. Aku tidak akan melupakanmu dan juga tempat ini. Aku berjanji kalau suatu saat aku akan kemari dengan gelar dokterku.”

“Baiklah, baiklah. Kau tidak boleh membuatku kecewa!”

Aku menegakkan tubuhku dan tersenyum. “Tentu!”

 

~FLASHBACK ENDS~

Maaaaaaaf >.< part ini keluarnya ngaret bangeeet😦 lagi, dan lagi, author lagi sibuk banget belakangan ini. Part ini author tulis sambil curi-curi waktu dari tugas kuliah T^T maaf ya kalau part ini mengecewakan… author akan berusaha update sebisa mungkin! Jadi mohon kesabarannya yaa~ makasih juga yang masih setia nungguin ini ff :’3 daaaaan~ seperti biasa jangan lupa kasih kritik dan saran ya! *bow*

6 thoughts on “Call You Mine [Part – 6]

  1. setelah tiap hari buka wp ini dan g ada hasilnya, akhirnya sekarang bs bca.
    part ini nyeritain masa lalu doang ya?
    tp g apa lah, aku suka kok.
    smpai lupa crta sblmnya gmn.
    hehe

    ibunya jahat bgt, chen percaya dan lgsg mutusin secara spihak. sebel sih, chen kn udh mahasiswa, harusnya kn mta pndapat seonkyu juga. >,<
    ditgu next part nya, berharap lbh cpt dan lbh pjg. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s