Call You Mine [Part – 5]

Call You Mine – Part 5

Author            : @tyasung

Cast    : Kris (EXO M), Chanyeol (EXO K), Kai (EXO K), Han Seon Kyu, Kang Lee Hyo

Genre : Romance

Length : Chapter

Rating            : General – PG 17

^^^^^^^^^^

 

Author’s POV

“Kau hamil, Seon Kyu-ya. Dokter bilang usia janinmu sudah berumur tiga minggu…”

“Kau pasti bercanda, Kris.”

“Tidak sama sekali. Apa kau tidak bisa lihat raut senang dari wajahku ini?”

Seon Kyu menoleh dan menatap Kris dengan tajam. “Kau senang? Bagaimana bisa—”

“Tentu saja! Kau mengandung anakku, Seon Kyu-ya. Anak kita!”

“Aku yakin dokter salah. Hasil tesku pasti tertukar, Kris.”

“Seon Kyu-ya, aku tahu kau tidak menginginkan hal ini. Aku berjanji aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu.”

“Ani, ani. Apa aku bermimpi?”

Buk! Buk!

Seon Kyu memukul-mukul perutnya dengan kesal sebelum Kris menghentikannya. “Seon Kyu-ya, kau hanya akan melukai dirimu… dan janinmu!”

Air mata turun begitu saja dari matanya. Hal yang paling ia hindari malah mendatanginya.

“Kau pikir aku peduli jika sesuatu yang buruk terjadi pada janin ini? Tidak! Aku tidak menginginkannya!”

Kris memeluk Seon Kyu mencoba menenangkannya. Ia tahu kalau Seon Kyu benar-benar akan membenci kehamilannya ini, tapi tentu saja Kris tidak akan membiarkan Seon Kyu menyakiti dirinya sendiri.

“Tenanglah, aku ada disini. Aku akan melindungi kalian berdua. Aku tidak akan meninggalkan kalian berdua.”

Senang. Itulah yang Seon Kyu rasakan saat mendengar ucapan Kris barusan. Ia memang membenci janin ini, tapi kalau janin ini bisa menahan Kris untuk tetap bersamanya itu tidak masalah.

Lee Hyo. Sedetik kemudian keegoisan Seon Kyu tiba-tiba lenyap begitu saja ketika mengingat nama sahabat terbaiknya itu. Seon Kyu tahu betapa Lee Hyo menyukai Kris. Sudah cukup rasanya memonopoli Kris.

“Hentikan, Kris. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Kau bicara apa Seon Kyu-ya?”

“Aku bilang aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu.”

I won’t leave you. Coba kau ingat lagi, kenapa kau bisa ada disini? Mengurus dirimu saja kau tidak bisa, bagaimana sekarang dengan janin yang ada di kandunganmu itu?”

I don’t care!

Buk!

Seon Kyu memukul perutnya lagi semakin kesal dengan keadaannya.

Lagi-lagi Kris menahan tangan Seon Kyu. “Kau hanya takut, Seon Kyu-ya. Maafkan aku. Aku rasa kau hanya takut akan bernasib seperti ibumu, tapi aku tidak akan membuatmu merasa seperti itu—”

“Bisakah kau berhenti memikirkanku? Kapan kau akan mulai memikirkan dirimu?”

“Apa maksudmu?”

I told you to go and find a girl who loves you. Just, stop caring about me. Apa kau tahu betapa sukanya Lee Hyo padamu? Bagaimana perasaan Lee Hyo jika mengetahui hubungan kita?”

Kris berdiri, menarik napasnya lalu membuangnya dengan kesal. “Apa kau tahu betapa aku menyukaimu? Menyayangimu? Apa pernah kau pikirkan perasaanku?”

Shreek.

Kris membuka tirai dengan kasar lalu pergi meninggalkan ruang UGD.

Seon Kyu terdiam menangisi penyesalan tentang apa yang telah ia perbuat tadi. Sekali lagi ia membuat Kris meninggalkannya. Sekali lagi ia merasa penyesalan memang selalu datang terlambat.

……….

Seon Kyu’s POV

Tok Tok

Pintu kamar terbuka dan Jongin masuk dengan sekantong buah-buahan di tangannya. Ini kali ketiganya ia mengunjungiku setelah selama empat hari aku dirawat inap di rumah sakit karena kondisiku dan janinku masih belum stabil.

“Annyeong~”

“Jongin-ah, mana Kris?”

Jongin menarik kursi dan duduk di samping ranjangku. “Kris masih belum pulang ke rumah. Apa kalian bertengkar begitu hebat?”

Aku menggeleng. “Yah, begitulah…”

“Mwo? Menyuruhnya pergi di saat kau sedang sangat membutuhkannya… Hah, aku pikir kau sudah kehilangan akal sehatmu, Seon Kyu-ya.”

But he deserves a better one.

Lelaki berambut coklat gelap ini menatapku tak percaya. “Aku sudah mengira kalau hubungan tanpa status kalian ini memang tidak akan berujung baik, tapi… apa menurutmu ini adalah keputusan yang baik untukmu dan anakmu?”

“Mungkin,” jawabku yang masih ragu dengan keputusanku sendiri.

Kai yang tak sengaja mendengar perdebatan kami beberapa hari yang lalu akhrnya mengetahui apa yang seharusnya hanya boleh diketahui oleh aku dan Kris.

Tok Tok

Betapa kagetnya aku saat melihat siapa yang datang dari balik pintu.

“Seon Kyu-ya~!! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sakit?” ujar Lee Hyo yang langsung memelukku sesaat setelah ia masuk.

Aku menatap Jongin dan menanyakan kedatangan Lee Hyo kemari tanpa suara. Jongin membaca gerakkan bibirku dan mengangkat kedua bahunya lalu menggeleng tanda ia tidak tahu apa-apa soal ini.

“Ah, kau tahu dari mana kalau aku dirawat?” tanyaku setelah Lee Hyo melepaskan pelukannya.

“Aku khawatir sekali karena kau sudah tidak kuliah empat hari ini dan kau juga tidak menjawab teleponku. Akhirnya aku coba untuk menanyakanmu pada Kris dan di sinilah aku. Ah, kau Kim Jongin ‘kan?” jelas Lee Hyo yang tak lama menyadari kehadiran Jongin.

“Ye, senang bertemu denganmu lagi…” balas Jongin sembari membungkukkan tubuhnya sedikit.

“Ah, apa… aku mengganggu kalian?” tanya Lee Hyo memandangi kami berdua secara bergantian.

Jongin langsung menggelengkan kepalanya, begitupun aku. “Sama sekali tidak, Lee Hyo-ssi. Aku akan keluar sebentar, kalian mengobrolah.”

Setelah Jongin keluar dari kamar, Lee Hyo langsung menduduki kursi dimana Jongin duduk tadi. “Aku dengar maagmu kambuh? Kenapa kau tidak langsung menghubungiku, sih?”

“Mianhaeyo, Lee Hyo-ya. Aku tidak ingin merepotkanmu—”

“Ah, tunggu, tunggu. Bagaimana bisa Kris dan Jongin tahu tentang keadaanmu, tapi tidak denganku?”

Aku langsung memutar otak untuk mencari-cari alasan, tapi akhirnya aku putuskan untuk bercerita apa adanya pada Lee Hyo.

“Saat itu aku sedang bersama Jongin. Kami tak sengaja bertemu di mini market dekat apartemenku, dan…”

Tunggu, saat itu aku tidak tahu kenapa Kris bisa ada di sana. Yang aku ingat ia tiba-tiba menggendongku dan membawaku kemari.

“Dan?” tanya Lee Hyo menunggu kelanjutan ceritaku.

“Ah, ya. Aku belum mengisi perutku seharian saat itu dan tentu saja itulah penyebabku berada di sini, tidak ada hal lain… Lalu, karena Jongin adalah adiknya Kris, jadi mungkin itulah sebabnya Kris bisa tahu…”

“Jeongmalyo? Mereka adalah kakak-beradik?”

Aku mengangguk pelan, “Ye, aku pun tidak menyangkanya, hahaha…”

“Kalau dilihat-lihatpun mereka sama sekali tidak mirip. Apa kau berpikiran yang sama denganku, Seon Kyu-ya?”

“Ne? Ya, mereka memang tidak terlalu mirip, tapi aku rasa sifat mereka tak jauh berbeda…”

“Geuraeyo? Kau sepertinya sangat mengenal mereka berdua. Seandainya saja dulu aku sekolah di SMA mu, pasti aku juga mengenal Kris…”

‘Andwae.’

Ingin sekali aku teriakkan kata itu sekarang, tapi apa boleh buat aku tidak mungkin mengatakan hal itu untuk kebaikanku.

“Seon Kyu-ya, apa dulu Kris sangat populer di kalangan anak-anak perempuan sekolahmu? Dengan paras seperti itu aku yakin kalau Kris memiliki banyak penggemar.”

“Hmm, aku tidak begitu memperhatikannya, jadi aku tidak tahu, hehehe,” jawabku asal karena yang aku tahu hanya akulah satu-satunya penggemar Kris.

Lee Hyo terlihat sedikit kecewa dengan jawabanku dan menghela napasnya berat.

Aku yang melihatnya akhirnya mencoba menghiburnya. “Bagaimana hubunganmu dengannya? Sepertinya berjalan baik-baik saja.”

“Ah, soal itu. Sudah beberapa hari ini dia tak membalas pesanku. Pesan terakhir yang dia balas adalah saat aku menanyakan keberadaanmu…”

Bibirku secara refleks langsung tersenyum tipis mendengar jawaban Lee Hyo barusan. Tentu saja ada rasa puas yang muncul dari dalam hatiku, tapi langsung aku buang jauh-jauh karena bukan ini yang aku cari dari situasi ini.

“Geuraeyo? Apa mungkin Kris sedang sibuk, ya…”

Tok Tok.

“Apa aku mengganggu?” ucap Jongin yang hanya menampakkan wajahnya setelah membuka pintu kamar inapku.

“Tentu saja tidak. Kenapa kau bersikap aneh begitu?” jawabku yang sedikit heran dengan sikapnya barusan. Biasanya dia masuk dengan santainya, berbeda dengan barusan.

Jongin masuk sambil menggaruk tengkuknya. “Aku hanya takut kalau kalian sedang membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia… You know, perempuan biasanya memiliki banyak rahasia…”

Aku dan Lee Hyo sontak langsung tertawa mendengar jawaban polos Jongin. “Santailah sedikit Jongin-ssi, lagipula kita teman ‘kan? Apa salahnya berbagi rahasia?”

Ia tersenyum dan berjalan masuk setelah mendengar ucapan Lee Hyo barusan.

“Ah, apa yang kau bawa di balik punggungmu itu, Jongin-ah?” tanyaku penasaran.

“Bunga? Dari siapa?” tanya Lee Hyo yang juga penasaran setelah Jongin memperlihatkan benda yang sedari tadi ia sembunyikan.

Jongin menaikkan kedua bahunya tanda kalau ia juga tidak tahu siapa pengirim bunga ini. “Seorang kurir datang dan memintaku untuk memberikan buket bunga ini pada Han Seon Kyu.”

“Ya, tapi apa hanya aku yang bernama Han Seon Kyu di rumah sakit ini? Bagaimana kalau bunga itu bukan untukku?”

“Aku sudah menanyakan pada resepsionis di sini dan kebetulan hanya ada 1 pasien bernama Han Seon Kyu hari ini. Sudahlah, aku akan meletakkannya di vas bunga ini,” jawab Jongin yang lalu mengambil vas bunga yang tersedia di ruang inapku dan mengisinya dengan air.

Lee Hyo melepas ikatan buket mawar putih itu lalu menatapku. “Apa kau punya penggemar rahasia, Seon Kyu-ya?”

“Mwo? Kau ini jangan bercanda.”

“Nah, selesai,” ucap Jongin setelah meletakkan kembali vas bunga tersebut pada tempat semula. “Lee Hyo-ssi, apa kau sudah makan siang?”

“Ne? Aku belum makan siang…”

“Jeongmalyo? Kalau begitu ayo kita makan di bawah, aku akan mentraktirmu sebagai ganti kencan buta yang gagal waktu itu…”

“Pergilah, sebentar lagi makan siangku juga akan datang.”

“Baiklah, dengan senang hati,” jawab Lee Hyo yang kemudian meraih tas tangannya.

Sesaat sebelum pergi Jongin melirik ke arahku mengisyaratkan sesuatu yang tidak aku mengerti. “Khajja,” ucapnya pada Lee Hyo.

Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan isyarat yang diberikan Jongin barusan, tapi tak lama setelah mereka keluar kamar, Jongin kembali masuk dengan sedikit terburur-buru.

“Ini.” Ia memberikan sebuah amplop kecil yang bertuliskan ‘To: Han Seon Kyu’.

“Apa ini? Surat cinta?” tanyaku sedikit bercanda.

“Sepertinya begitu. Kris yang mengantarkan bunga itu tadi. Saat mengetahui kalau Lee Hyo ada di sini, ia memintaku untuk merahasiakan kedatangannya dan juga surat ini.”

“Apa dia tidak tahu  teknologi SMS?”

Jongin menghela napasnya. “Kakakku hanya ingin bersikap romantis sedikit. Ah, aku harus kembali, Lee Hyo menungguku.”

Aku tidak menghiraukan perginya Jongin dan mulai membuka amplop berwarna putih ini.

 

Seon Kyu-ya, bagaimana dengan Christa untuk perempuan dan Ji Hyuk untuk laki-laki? Kau pasti sekarang sedang kesal karena pertanyaanku barusan. Maafkan aku, tapi aku masih ingin kau untuk melahirkan anak itu. Aku berjanji akan segera datang menemuimu…

 

“Chirsta? Ji Hyuk? Maksudnya nama untuk anak ini? Kenapa ia masih saja berpikir kalau aku peduli dengan anak ini,” gerutuku pada surat ini.

Aku meraih ponselku dan membuka menu pesan.

 

To: Kris Wu

Maafkan aku. Aku tidak akan bisa menerima anak ini. Bagaimanapun, anak inilah yang membuatmu jauh dariku sekarang…

 

Jariku berhenti pada tombol Send. Apa aku benar-benar akan mengirim pesan ini padanya? Apa pesan ini akan merubah keadaan ini?

Cancel. Aku memutuskan untuk mengetik ulang pesanku.

 

To: Kris Wu

Ya, mau sampai kapan kau menghilang? Kapan kau akan menjengukku? Hahaha. Terimakasih atas bunganya, aku menyukainya.

 

Send.

Aku sama sekali tidak mengharapkan balasan dari pesanku barusan. Aku yakin kalau aku akan segera keluar dari rumah sakit ini, kembali ke rumah dan menjalani hidupku dengan baik seperti biasa.

……….

Pintu ruang inapku terbuka. Seperti biasa, dokter datang setiap paginya untuk memeriksa keadaanku. Ani, keadaan kami berdua. Hari ini tepat seminggu aku dirawat. Kris sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Sedangkan Kai, selalu datang setiap harinya untuk memastikanku tidak melakukan hal-hal aneh yang dapat membahayakan calon keponakannya ini.

“Han Seon Kyu-ssi, keadaanmu semakin hari semakin membaik. Siang ini kau sudah boleh meninggalkan rumah sakit dengan syarat kau harus meninggalkan gaya hidupmu yang buruk. Terutama untuk rokok dan alkohol,” jelas dokter sambil menulis resep obat yang harus aku tebus nantinya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tak peduli dengan apa yang dokter baru ucapkan Karena yang aku pikirkan sekarang hanyalah kembali ke rumah dan merebahkan diriku di atas kasur kesayanganku.

“Ta-da~!” Jongin masuk dengan sebuket bunga lili putih di tangannya. Aku hanya menoleh sebentar dan kembali memasukkan pakaianku ke dalam tas.

“Aku dengar kau sudah boleh pulang hari ini. Sepertinya benar…”

“Yah, akhirnya aku bisa bebas dari penjara ini,” jawabku tanpa melihat ke arahnya.

Jongin meraih tas pakaianku setelah retsletingnya aku tutup. Aku menatapnya heran, “Mau kau kemanakan tasku?”

“Tentu saja pulang. Aku akan mengantarmu sampai rumah dengan selamat.”

“Ani, ani. Aku sudah cukup merepotkanmu selama ini, Jongin-ah. Aku bisa memanggil taksi dari sini.”

“Aku memaksa.”

Akhirnya aku menghela napasku menyerah dengan sifat keras kepalanya itu.

……….

“Kau benar-benar tahu dimana rumahku, ‘kan?” tanyaku sedikit ragu saat Jongin membelokkan mobilnya ke arah berlawanan dari arah rumahku.

“Tentu saja,” jawabnya singkat tanpa memberi penjelasan lebih tentang jalan yang ia ambil.

Semakin lama aku semakin yakin kalau jalan ini bukanlah jalan pulang ke rumahku. Tidak mungkin seminggu di rumah sakit membuatku lupa jalan pulang.

Stop the car.

Setelah memastikan jalan sepi, Jongin menghentikan mobilnya di sisi jalan. “Apa ada yang tertinggal?”

Aku menggeleng sambil melepaskan seat beltku. “Aku turun di sini.”

“Ya, ya. Kau mau kemana? Kita belum sampai,” tahan Jongin menarik pergelangan tanganku yang akan membuka pintu mobil.

“Sebenarnya kau mau membawaku kemana?”

Kai menggaruk tengkuknya terlihat ragu. “Maafkan aku, tapi Kris yang akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Bisa kau pasang lagi seat beltmu?”

Mendengar namanya langsung membuatku diam. Kai langsung kembali menjalankan mobilnya setelah aku memasang seat beltku.

Selang setengah jam Jongin akhirnya menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana yang terlihat cantik. Jongin keluar mobil terlebih dahulu lalu berlari kecil membukakan pintu mobil untukku.

Belum sempat Jongin menekan bel, pintu rumah itu sudah terbuka. “Ah, you’re here, Seon Kyu-ya.”

“Ah, aku akan langsung pulang saja,” ucap Kai setelah Kris menampakkan dirinya dari balik pintu.

Tanganku secara refleks langsung menarik mantel yang dikenakan Jongin. “Gomawoyo, Jongin-ah…”

Anytime, Seon Kyu-ya. Cepat selesaikan masalah kalian…” ucap Jongin yang lalu berjalan ke arah mobilnya meninggalkanku bersama Kris.

……….

“Mworago?!” itulah yang keluar dari bibirku setelah Kris menjelaskan kenapa rumah ini sekarang menjadi rumahku.

Saat Kris datang ke apartemenku untuk mengambil beberapa pakaian, ia memukan apartemenku berantakan seperti kapal pecah.

“Aku tak tahu apa yang mereka cari sehingga mereka menggeledah tempatmu, tapi akuu sudah memberi mereka pelajaran yang pantas mereka dapatkan.”

“Aku bahkan belum melunasi biaya sewa apartemen itu…”

Kris menghampiriku dengan segelas teh hangat di tangannya. “Kau tidak perlu memikirkan masalah itu. Kau hanya tinggal menjalani hidupmu dengan tenang.”

“Ya, dengan adanya kejadian di apartemenku, bagaimana aku bisa hidup tenang?!” Jujur saja aku tidak bisa menyembunyikan rasa panikku.

“Ah, aku belum memberitahumu, ya. Kau tidak akan tinggal di rumah ini sendirian. Kau akan tinggal di rumah ini bersamaku.”

“Mwoya… You know you can’t do that, Kris.”

“Kenapa? Aku tidak mau kita memperdebatkan hal-hal sepele seperti di rumah sakit lagi. Kau sudah cukup memikirkan aku, sekarang giliranku untuk memikirkanmu. Memikirkan keselamatan kalian berdua.”

Kris meletakkan gelas berisi teh hangatnya di atas meja dan duduk di sampingku. Membelai rambutku lalu berbisik, “Aku ingin kau percaya padaku. Aku akan benar-benar menjagamu, itulah janjiku pada diriku sendiri.”

“Tapi bagaimana jika Lee Hyo mengetahui kalau kau tinggal bersamaku?”

“Soal itu aku sudah memikirkannya, kau tidak perlu khawatir.”

Aku mengangguk mengerti karena sudah tidak tahu harus berkata apa untuk menolaknya.

“Ah, bagaimana? Apa kau menyukai nama-nama yang aku berikan?”

Aku meneguk teh hangat yang ia sediakan sambil berpikir. Apa aku akan benar-benar menerima anak ini? Lalu aku teringat dengan Kris yang sekarang berada di sampingku. Mungkin tidak ada salahnya mencoba.

“Aku suka Christa.”

Kris menegakkan tubuhnya terlihat sedikit tak percaya dengan jawabanku. “Kau, ah, I’m sure you will be a good mom.”

Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Kemana saja senyummu selama ini?”

“Kau tidak tahu betapa senangnya aku sekarang, Seon Kyu-ya.”

……….

“Seon Kyu-ya, ayo temani aku ikut kencan buta lagi…”

“Mwoya, kenapa kau hobi sekali ikut kencan buta seperti itu, sih? Lagipula bagaimana dengan Kris? Kau sudah menyerah?”

Lee Hyo menggeleng. “Kris kemarin akhirnya menghubungiku. Dia meminta maaf karena sempat tak membalas pesan-pesanku selama beberapa hari kemarin karena ia sedang sibuk mengerjakan tugas akhirnya. Jadi aku pikir aku tidak mau mengganggunya dulu…”

Aku mengangguk mengerti karena belakangan ini Kris memang sering begadang atau bahkan sama sekali tak tidur. “Ya, tapi apa karena hal itu kau mau ikut kencan buta lagi?”

“Ani…” lagi-lagi Lee Hyo menggeleng. “Seon Kyu-ya, apa sebaiknya aku menyerah saja? Dia memang tampan dan baik pada perempuan, tapi aku rasa sikapnya padaku terasa setengah-setengah. Kadang ia baik, kadang ia juga cuek padaku.”

“Kau ‘kan tahu kalau Kris sedang sibuk, lalu kenapa kau meragukannya?”

“Aku hanya takut salah mengartikan sikap baiknya itu. Aku rasa dia—”

DRRT DRRT DRRT

Lee Hyo meraih ponselnya dari atas meja dan membaca pesan yang masuk. Aku yang penasaran akhirnya mencoba mengintip untuk membaca pesannya.

“Ya, ya. Sejak kapan?” tanyaku sedikit meledeknya setelah aku lihat siapa pengirim pesan tersebut.

“Ah, kami bertukar nomor saat makan siang di rumah sakit. Apa kau marah?”

Aku menoleh ke arahnya. “Marah? Waeyo?”

“Ani, hanya saja… Jongin adalah pasangan kencanmu waktu itu.”

“Jongin memang baik… Kau boleh memilikinya…”

“Ah, mwoya. Kau ini seperti bandar lelaki saja. Kau sepertinya tak tertarik dengannya. Waeyo?”

Aku melipat kedua tanganku di atas meja lalu merebahkan kepalaku di atasnya. “Jongin bukan tipeku. Lagipula aku suka laki-laki yang lebih tua dariku.”

“Aaah, apa kau masih belum bisa melupakan cinta pertamamu itu? Siapa? Kim Jongdae?”

DEG.

Entah kenapa jantungku masih saja berdegup kencang jika mendengar atau mengingat apapun yang berhubungan dengan lelaki itu. Mendengar namanya saja membuatku tak berkutik.

“Kau pasti bercanda,” ucap Lee Hyo tidak percaya sembari menggoyang-goyangkan bahuku.

“Ya, Kang Lee Hyo, aku pulang duluan, ya. Ada yang harus aku kerjakan,” ujarku lalu bangkit dari dudukku dan berjalan meninggalkan Lee Hyo.

“Kau ini sampai kapan mau mengingat laki-laki itu, hah?!” seru Lee Hyo di belakangku yang tidak aku hiraukan.

……….

“Seon Kyu-ya, bangun. Barusan Kai menghubungiku, kau harus kontrol ke dokter ‘kan hari ini?”

Kubuka mataku sedikit untuk melihat jam dinding. Baru pukul 7.30 pagi. Aku menggulung tubuhku kembali dengan selimut tak menghiraukan Kris.

“Kalau tidak salah usia kandunganmu memang sudah hampir dua bulan…”

Aku masih tak bergerak di dalam selimutku, berpikir bahwa Kris akan menyerah membangunkanku dan pergi.

“Kau mau tidur sampai kapan Seon Kyu-ya?” ucap Kris yang terdengar dekat dengan telingaku.

“Masih terlalu pagi, Kris,” jawabku dari dalam selimut.

“Cepat bangun. Aku sudah meminta Kai untuk mengantarmu ke rumah sakit.”

“Mwo?” aku membuka selimutku dan terkejut dengan keberadaan Kris yang berbaring di sampingku. “Ya, apa yang kau lakukan di sini?!”

“Membangunkanmu, tentu saja,” jawabnya dengan santai. Tangan kirinya yang entah sejak kapan masuk ke dalam selimut meraba perutku dengan lembut. Hal tersebut membuatku kaget dan reflek bergerak menjauhinya.

Kris tertawa kecil melihat tingkah lakuku lalu mengangkat tangan kirinya. “Aku hanya ingin merasakan anakku. Kenapa kau bereaksi berlebihan seperti itu?”

“Arasseo, arasseo, aku akan bangun,” ujarku akhirnya menyerah juga.

Tak lama setelah aku selesai mandi Kai datang untuk menjemputku. Tadinya aku sempat menolak dan berangkat sendiri ke rumah sakit, tapi Kris dengan kekhawatirannya yang berlebihan itu memaksaku untuk pergi dengan Kai.

“Kau pulang saja. Aku bisa pulang sendiri. Akan aku beritahu kakakmu nanti,” ucapku pada Kai setelah turun dari mobilnya.

“Ah, baiklah. Hubungi aku kalau kau berubah pikiran,” jawab Kai yang lalu menjalankan mobilnya.

Aku dengan ragu masuk ke rumah sakit. Berjalan ke bagian kandungan dan mendaftarkan diri.

“Nomor 54,” gumamku melihat kartu nomor antrianku. Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 10.15 lalu menghela napas.

Setengah jam menunggu akhirnya nomorku di panggil. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, akhirnya dokter menyatakan kalau kandunganku baik-baik saja. Cukup lega memang mendengar pernyataan dokter barusan karena aku jadi tidak perlu sering-sering datang kemari untuk memeriksakan kandunganku.

Rencanaku untuk langsung pulang ke rumah ternyata harus tertunda karena hujan turun dengan derasnya. Salahku memang. Kris sempat mengingatkanku untuk membawa payung tapi  aku tak menghiraukannya. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan secangkir teh hangat di kantin rumah sakit sambil menunggu hujan reda.

“Apa kau sudah bertemu dengan dokter Kim yang akan menggantikan dokter Park mulai minggu depan? Kim… ah, aku lupa nama panjangnya!”

Dua orang perawat datang lalu duduk di meja sebelahku. Entah karena terlalu bosan atau penasaran, aku menikmati teh hangatku sambil diam-diam mendengarkan pembicaraan antara dua perawat tersebut.

“Aku pikir di rumah sakit ini memang membutuhkan dokter-dokter muda seperti dokter Kim. Ah, aku penasaran apa dia sudah punya kekasih.”

Aku sempat menoleh ke arah mereka dan menggeleng pelan. “Apa ini yang dilakukan para perawat setiap waktu istirahat?”

“Dae Hee-ya! Lihat! Apa dia yang namanya dokter Kim?”

Salah satu dari mereka menepuk lengan teman mereka dan memberi isyarat untuk melihat ke arah pintu masuk kantin. Aku yang penasaran akhirnya melihat ke arah tersebut.

DEG.

“Aaah, apa kau masih belum bisa melupakan cinta pertamamu itu? Siapa? Kim Jongdae?”

Ucapan Lee Hyo melintas begitu saja di otakku saat aku melihatnya berjalan masuk ke dalam kantin rumah sakit. Ya, aku melihat Kim Jongdae mengenakan jas putih dan sebuah stetoskop di saku jasnya.

“Kim Jongdae! Ya, aku yakin sekali nama panjang dokter Kim itu Kim Jongdae!” seru perawat yang bernama Dae Hee itu dengan pelan pada temannya.

“Ya, sepertinya aku memang belum bisa melupakan cinta pertamaku, Lee Hyo-ya…”

 

-TBC-

 

Maaf karena part lima ini keluarnya lama banget >.< author lagi sibuk banget sama kuliah kemarin. Selamat membaca dan seperti biasa, harap tinggalkan kritik dan sarannya yaaa~ *bow*

12 thoughts on “Call You Mine [Part – 5]

  1. ditunggu part 6 nya thor jadi makin geregetan ini hehe,, kris fighting!! apa kabar kris kalo jongdaenya dateng lagi di kehidupan seonkyu huaaa poor kris,, ini salah satu ff yang paling aku tunggu2 kelanjutannya lhoo hehe

  2. entah knpa, kris disini kasihan bgt.
    belum juga dpt hatinya sepenuhnya, eh jongdae dtg lg.
    dipikir pikir apa yg kurang dr kris? dia perhatian dan sayang bgt gt,
    sedih lhtnya.
    T.T
    ditgu lanjutannya ya thor, jgn lama2 ya.
    ^^
    berharap kris bersabar.

  3. yaoloh thorr keren bangettttt suerr ><
    tapi ini si jongdae kok masih muter2 aja di kehidupan seon kyu -_- hufftt
    lanjut segera ya thor :3

  4. tidaaaaaaaaaaaaaaaak, kenapa jongdae? waeeeee? he was mine too *cry*
    cerita kaka baguuuus baguuuuuuuuuuuuuuuuuuuus banget demi apapun bagus
    walaupun aku agak bingung karena alurnya maju mundur tapi kereeeeeen asli semua katakatanya bikin kebayang muka kris~ aku~kai~ aaaw❤ /stres
    keep writing ne~ author nim fightiiiing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s