Call You Mine [Part – 3]

Call You Mine – Part 3

Author: @tyasung

Cast: Kris (EXO M), Chanyeol (EXO K), Kai (EXO K), Han Seon Kyu, Kang Lee Hyo, Go Ji Young

Genre : Romance

Length : Chapter

Rating : General – PG 17

^^^^^

Seon Kyu’s POV

“Maafkan aku. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku tadi.”

Kris masih menahan pintu lift dengan tangannya. Aku yang akhirnya merasa tidak enak karena sudah marah padanya pun menarik dirinya untuk masuk ke dalam lift. Aku tahu apa yang ia lakukan tadi sebenarnya bertujuan baik, untuk melindungiku.

“Apa orang-orang itu masih mengejarmu?”

“Yah, aku rasa memang tidak mudah angkat tangan dari semua masalah ini..”

Aku memperhatikan Kris yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Ada apa?”

“Apa kau membenciku?”

Ting!

Pintu lift terbuka menandakan kalau kami sudah tiba di lantai 5. Aku berjalan keluar duluan sedangkan Kris mengikutiku dari belakang.

“Seon Kyu-ya,” panggil Kris sebelum aku membuka pintu apartemenku.

“Kau tidak mau masuk dulu?”

Tak lama berdiri di depan pintu, Kris akhirnya memutuskan untuk masuk  dan langsung duduk di ruang tengah. Entah kenapa ia terlihat sangat lelah.

“Apa kepalamu masih terasa berat?”

Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya. “Ani, semuanya hilang begitu saja saat aku melihatmu menodongkan pistolmu di kepala Jongin.”

“Apa aku begitu mengejutkanmu? Seon Kyu-ya, aku—“

“Sst,” aku mengecup bibirnya lembut lalu menatap matanya. “Aku hanya bercanda, Kris. Sekarang kepalaku masih sangat berat. Berhentilah meminta maaf. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu.”

Kris menyunggingkan senyumannya. Senyuman yang selalu berhasil membuat hatiku tenang.

Aku merebahkan tubuhku di sofa dan meletakkan kepalaku di pangkuannya, menikmati wajahnya yang sedang memandangiku. Memang tidak ada yang lebih baik daripada saat-saat seperti ini.

“Kris, apa yang membuatmu mau berteman denganku?”

“Kau berbeda. Selama ini belum ada wanita yang pernah menolakku, tapi entah sudah berapa kali aku kau tolak.”

Aku menepuk dadanya dengan punggung tanganku. “Apa benar begitu? Alam bawah sadarku saja sampai mencarimu.”

“Kalau begitu, apa kau mau menikah denganku?”

Tawaku meledak begitu mendengar pertanyaannya barusan. “Ya! Sudahlah, aku akan mandi lalu tidur.”

Kris menarik tanganku saat aku akan masuk ke kamar mandi. “Wae?”

Ia membuka blazernya lalu menggulung lengan kemeja hitamnya sampai ke siku. “Aku akan memandikanmu.”

“Ah, mwoya? Aku bisa mandi sendiri, Kris,” jawabku yang sedikit salah tingkah karena ucapannya itu.

“Sudahlah cepat masuk, aku harus membersihkanmu.”

Tiba-tiba aku teringat kejadian di restoran tadi. “Aku bisa membersihkan diriku sendiri,”

“Ani, ani. Kau harus benar-benar bersih dan hanya aku yang bisa melakukannya.”

Kris menarikku ke dalam kamar mandi dan langsung menurunkan retsleting belakang gaunku. Dengan cepat gaunku jatuh terlepas dari tubuhku. Aku benar-benar sudah tidak bisa melawannya saat Kris mulai mengecup lembut tengkukku.

Ciumannya terus turun sampai tulang belikatku. Tangannya yang melingkar di pinggangku sedikit demi sedikit menurunkan panty putihku. Ia membalikkan tubuhku untuk menghadapnya dan langsung melumat bibirku begitu saja.

You have your pill?” tanyanya di sela-sela ciuman panas kami.

Yeah, go on.

Aku tak ingin berbasa-basi lagi karena sepertinya Kris sudah benar-benar berhasil memancing nafsuku dengan rangsangan-rangsangan yang ia berikan pada tubuhku.

Lelaki bertubuh tegap ini sudah melucuti semua pakaian dalamku. Sekarang giiran tanganku yang beraksi pada pakaian lengkapnya yang masih ia kenakan. Tak lama, kulit kami sudah dapat bersentuhan tanpa penghalang lagi di antaranya.

Kris meninggalkan beberapa tanda kemerahan di kedua bahuku dengan bibirnya. Aku tahu kenapa Kris bersikap seperti ini. Ia melihat pria yang bernama Jongin tadi menyentuh bahuku.

You’re mine. No one could ever touch you, Seon Kyu-ya.”

…..

“Dimana kau bertemu Lee Hyo?”

Kris tak menjawab. Ia hanya diam sambil memelukku dari belakang menenggelamkan kepalanya di rambutku yang tergerai.

“Wu Yifan,” panggilku yang masih menunggu jawabannya.

“Hm?”

“Dimana kau bertemu Lee Hyo?”

“Pulau Jeju.”

“Lalu?”

“Lalu apa? Kau cemburu?”

“Aw!” serunya saat aku pukulkan sikut tangan kiriku di perutnya.

“Kenapa kau mengajaknya kencan buta?”

Lagi-lagi Kris diam, tak menjawabku. Aku menolehkan kepalaku ke belakang untuk melihatnya yang sekarang sedang menatap langit-langit kamarku.

Aku kembali berbalik dan berkata, “Apa kau menyukainya?”

She’s nice, I think. She also made me laugh a lot.

You should date her, then. She’s a good friend of mine, so take care of her well, will you?

Should I care about her more than about you?

Aku melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku dan menarik napas dalam-dalam.

Yeah… You know, I think we should end this…

Kris menghela napasnya berat. “Apa kau masih belum memaafkanku?”

“Ani, I’m just thinking that this kind of relationship won’t last so long.

Ia bangun dan menarikku menatapnya.

We’ve been doing this thing for almost four years, Han Seon Kyu, dan sekarang kau ingin kita berpisah begitu saja?”

We’re friends, aren’t we?

I don’t think so. I love you, Seon Kyu-ya. Kau tahu itu…”

That’s why we should end this. I don’t love you and that love thingy won’t happen to me.

You never tried.

I tried! I saw my mother, my friends, and your parents as well…

Aku memang tidak bermaksud bicara seperti ini. Sudah lama sekali aku memendam perasaan ini di hatiku. Aku pikir sudah waktunya aku menghentikan keegoisanku ini. Kris berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku—aku yang selama ini telah benar-benar memonopolinya hanya untuk memuaskan egoku semata.

“Seon Kyu-ya, orang seperti apakah aku? Answer me.

“Kau sempurna, Kris.”

So, what’s the matter?

“Karena itulah, aku tak akan pernah bisa membalas perasaanmu. I’m a terrible lover. You deserve a good one.

No, you’re not.

“Sudahlah Kris,” aku bangkit berjalan ke lemariku dan mengambil beberapa helai pakaian lalu memakainya. “Aku harus pergi, hari ini ada kuliah pengganti. Aku tidak tahu akan pulang kapan, jadi jangan tunggu aku pulang, arachi?”

Tanpa menunggu jawaban dari Kris, aku langsung meraih tas kuliahku dan keluar meninggalkan kamar.

……

“Seon Kyu! Seon Kyu-ya!”

Aku langsung mempercepat langkah kakiku saat mendengar suara Lee Hyo memanggilku. Langkahku terhenti saat melihat Ji Young berlari kecil menghampiriku dari arah berlawanan.

“Seon Kyu-ya!” panggil mereka berdua bersamaan dari kedua arah. Aku yang sudah merasa terkepung ini akhirnya memasang senyuman teramah yang kupunya saat ini dan berbalik.

“Ji Young-ah, baru saja aku akan menghubungimu,” sapa Lee Hyo yang terlihat terengah-engah di sampingku.

“Kenapa kau tidak menjawab pesanku semalam, Seon Kyu-ya?” Lee Hyo langsung menginterogasiku.

Tiba-tiba aku teringat ponselku yang sampai sekarang memang tidak ada bersamaku. ‘Sial! Sepertinya ponselku terjatuh di mobil Kris semalam.’

Charger ponselku hilang, jadi sampai sekarang ponselku mati karena baterainya habis, aku meninggalkannya di rumah. Mianhaeyo…”

Ji Young menepuk pundakku. “Gwaenchanayo, Seon Kyu-ya. Semalam kami benar-benar mengkhawatirkanmu karena kau dibawa pergi begitu saja oleh Kris. Jujur saja, kami semua sangat terkejut dengan tindakan Kris semalam.”

“Ah, ya, soal itu,” Lee Hyo meraih lenganku dan menarikku sedikit menjauh dari Ji Young. “Kemarin Kris membawamu kemana?”

Sudah kuduga kalau Lee Hyo tidak akan melupakan hal ini dengan mudah.

Aku mengangkat kedua bahuku. “Pulang, tentu saja.”

“Geuraeyo?” tanya Ji Young dari belakang kami yang ternyata menguping pembicaraan rahasia Lee Hyo padaku barusan.

Lee Hyo mendecak sebal setelah mendengar celetukan Ji Young. Terlihat sekali kalau dia tak ingin membagi soal lelaki bernama Kris yang ia kenal di pulau Jeju ini sama sekali. Dan entah kenapa aku merasa kalau setiap tatapan dan pertanyaan Lee Hyo yang tertuju padaku hanya semata-mata bertujuan untuk mengenal Kris lebih jauh melaluiku.

“Jadi, Kris sudah tahu alamat rumahmu?”

Aku menganggukkan kepalaku tanpa berucap apapun takut-takut kalau sikapku mencurigakan di depannya.

“Aah, kau beruntung sekali, Seon Kyu-ya!”

Lagi-lagi Lee Hyo berdecak mendengar respon yang tidak diinginkan datang dari Ji Young. Apa maksudnya aku beruntung? Apa kedua gadis ini sudah benar-benar jatuh hati pada Kris?

“Ji Young-ah, kalau aku tidak salah, bukankah kau kemarin sudah sangat dekat dengan Park Chanyeol? Sepertinya dia menyukaimu,” ujarku mencoba sedikit menenangkan situasi yang terasa tegang antara Lee Hyo dan Ji Young.

Tiba-tiba wajah Ji Young memerah entah kenapa. Aku menatap Lee Hyo yang sepertinya tahu penyebab wajah merah sahabatnya itu.

“Dia memang baik hati, aku senang saat kami bertukar nomor ponsel, tapi setelah melihat sosok Kris yang melindungimu saat itu, aku merasa kalau Kris pasti adalah lelaki yang seratus kali lebih baik daripada Chanyeol.”

“Go Ji Young-ssi, apa aku tidak salah dengar? Kris adalah pasanganku semalam. Ah, bukannya kau ada janji dengan Chanyeol siang ini?”

Terlihat sekali kalau Lee Hyo sudah naik darah mendengar ‘pasangannya’ akan diincar Ji Young.

“Benar! Dia bilang akan menjemputku di halte kampus jam 2 siang ini!”

“Geuraeyo? Sekarang sudah hampir pukul 2 tepat, Ji Young-ah, sebaiknya kau bersiap-siap,” saranku pada Ji Young yang tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya.

Secara tidak langsung ucapanku barusan bermaksud untuk mengusir Ji Young secepatnya sebelum Lee Hyo meledak. Lee Hyo yang mengerti maksudku langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat sembari mendorong Ji Young menjauh dari kami.

“Jadi, apa Kris langsung pulang begitu saja setelah mengantarmu pulang?”

Aku menghela napasku pelan karena ternyata aku masih belum bisa terbebas dari Lee Hyo. Aku akhirnya hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya barusan. Bicara bohong sepertinya tidak akan membantu banyak saat ini.

“Lalu.. Apa yang kalian bicarakan sepanjang perjalanan pulang?”

“Hm?”

Otakku terus berputar untuk menghindari pertanyaan-pertanyaannya atau paling tidak aku sedang berpikir keras apa yang bisa membelokkan topik pembicaraan ini.

“Karena kami sudah lama tidak berjumpa, dan saat itu pula aku sedang dalam keadaan mabuk, jadi kami hanya diam saja,” jawabku tanpa basa-basi. “Ah, aku lupa kalau hari ini aku harus piket!”

Kukatupkan kedua tanganku di depan wajahku meminta izin untuk segera pergi. Tapi Lee Hyo segera menarik tudung swaeterku. “Kau sedang terburu-buru ‘kan? Bagaimana kalau aku antar?”

“Eh? Kau tak perlu repot-repot, Lee Hyo-ya. Lagipula, bukankah kau tidak membawa mobilmu hari ini? Teman kerjaku akan menjemputku sebentar lagi. Kami sudah janjian untuk berangkat bersama..”

“Ah! Kau benar! Hm, baiklah, kalau begitu akupun akan pulang saja..”

Aku bisa bernapas lega karena alasanku barusan itu ternyata bisa membebaskanku dari introgasi Lee Hyo. Namun belum lama aku bernapas lega, napasku kembali tercekat ketika melihat Kris sedang berdiri bersandar di mobilnya yang terparkir di parkiran kampusku.

“Jadi itu teman yang akan menjemputmu?” tanya Lee Hyo saat melihat Kris yang sekarang sedang berjalan menghampiri kami.

Aku gelengkan kepalaku karena memang sama sekali tidak tahu tentang keberadaan Kris disini.

Kris tersenyum ke arah kami berdua. Tidak. Senyuman itu tidak tertuju pada kami berdua, tapi hanya tertuju pada Lee Hyo. Ia bahkan sama sekali tidak melirikku.

“Annyeong?” sapanya pada Lee Hyo.

“Ah, Kris-ssi? Ada urusan apa disini?” terdengar sekali kegugupan dari suara Lee Hyo barusan.

“Ehm, apa kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan siang…”

“Eh?” Lee Hyo menatapku tak percaya sedangkan aku hanya tersenyum canggung menanggapi tatapan Lee Hyo itu.

Apa Kris marah dengan ucapanku tadi pagi? Apa ia akan benar-benar meninggalkanku? Berhenti berhubungan denganku dan… menjalin hubungan serius… dengan wanita lain?

“Seon Kyu-ya! Apa kau mendengarku?”

Panggilan Lee Hyo barusan menyadarkanku dari lamunanku barusan. “Ye?”

“Apa temanmu itu jadi menjemputmu disini? Kalau tidak, ikut saja bersama kami.”

Sepintas aku mencoba untuk melirik Kris dari sudut mataku. Ia yang akhirnya menoleh ke arahku tersenyum tipis.

“Seon Kyu-ssi, bagaimana kabarmu? Semalam kau mabuk berat…”

“Ah, ye, aku baik-baik saja. Terimakasih sekali atas bantuanmu semalam. Temanku sepertinya sebentar lagi akan datang, kalian pergi saja.”

“Bagaimana kalau kami menunggu temanmu sampai datang?” tawar Lee Hyo lagi.

Aku menggeleng. Mau sampai tahun depan mereka menunggu temanku itu juga tidak akan datang kemari. “Ani, ani. Sebentar lagi dia pasti datang. Kalian pergilah.”

“Geuraeyo? Baiklah, kami pergi dulu, ya.”

“Ye, enjoy your time.”

Kris dan Lee Hyo lalu berjalan ke arah mobil Kris. Ia membukakan pintu mobilnya untuk Lee Hyo. Seperti apa yang dikatakan Ji Young, Kris memang sosok laki-laki yang seratus kali lebih baik dibandingkan lelaki manapun.

Aku melambaikan tanganku pada Lee Hyo yang melambaikan tangannya keluar jendela sampai mobil Kris hilang di balik gerbang kampus. Sekarang apa yang akan aku lakukan? Lebih baik pulang dan menyicil tugas akhirku.

……….

Entah sudah berapa batang rokok yang habis olehku sore ini. Tugas akhirku tidak akan cepat selesai kalau pikiranku tidak ada di sini bersamaku, melainkan berkeliaran tak tahu kemana memikirkan segala kemungkinan yang sedang dilakukan oleh Kris dan Lee Hyo.

‘Sebenarnya untuk apa aku memikirkannya? Aku yang memintanya untuk berkencan dengan Lee Hyo dan Kris menurutinya. Tapi apa harus secepat ini? Ia bilang kalau ia mencintaiku, tapi… Ah, aku yang memintanya untuk berhenti. Tapi, apa Kris akan melupakanku nanti? Aku rasa Kris bukanlah orang seperti itu. Tapi, ia pasti akan setia dengan pasangannya nanti seperti ia setia padaku selama ini…’

DRRT DRRT DRRT

Lamunanku langsung buyar saat sebuah pesan masuk ke ponselku yang entah sejak kapan sudah ada di sini. Kris sepertinya menyadari kalau ponselku jatuh di mobilnya.

Dengan malas aku raih ponselku dari meja belajarku dan membuka pesan yang ternyata pesan dari Lee Hyo.

<Seon Kyu-ya! Kris baru saja mengantarku pulang! Dan kau tahu, ia mengajakku untuk makan malam bersamanya besok!>

Mataku kembali membaca isi pesan Lee Hyo barusan dan mataku tidak salah membaca. Kris benar-benar melakukannya.

Aku menoleh ke arah laci meja dimana aku biasa meletakkan pil KBku. Aku buka laci tersebut dan mengeluarkan isi kotak pil tersebut.

“Hah, baru aku makan tiga. Memang sudah saatnya untuk berhenti, ya?” gumamku menatap kotak tersebut di tanganku. Tak terasa air mataku jatuh dari pelupuk mataku.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku memang menyesalinya, tapi aku harus bisa meyakinkan diriku, kalau keputusanku ini adalah keputusan terbaik untuk kami berdua. Apa salahnya berkorban untuk orang yang kita sayangi?

Akhirnya aku membuang sisa pil KBku, membuang semua kenangan yang pernah kami lakukan selama ini. Rasanya berat, berat sekali. Tapi lambat laun pasti aku akan terbiasa.

Aku raih ponselku dan membalas pesan Lee Hyo.

<Geuraeyo? Happy for you two!😀>

Message sent!

Saat aku scroll layar ponselku, ada dua pesan baru yang belum dibuka. Pesan pertama adalah pesan dari Lee Hyo semalam dan yang satu lagi pesan dari Kris yang sepertinya baru ia kirim siang tadi.

<I got it. We’re friends, tidak lebih. Kau masih bisa menghubungiku kalau butuh sesuatu. Aku akan membantumu, sebagai teman.>

Hatiku terasa sakit saat membaca pesannya barusan. Aku benar-benar telah melepasnya dan rasanya sudah tidak mungkin untuk mendapatkannya kembali.

……….

Aku membuka mataku pelan dan mengedip-kedipkannya. Mataku langsung melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8.45 malam. Aku tertidur di meja belajarku dan sekarang terbangun oleh perutku yang lapar.

Dengan malas aku langkahkan kakiku ke kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Hasilnya nihil. Yang aku temukan malah botol-botol soju yang kosong. Aku sendiri heran kenapa menyimpan botol-botol kosong ini di kulkas dan bukannya menyimpan makanan. Akhirnya aku putuskan untuk mengeluarkan semua sampah yang ada di dalam kulkasku dan membuangnya di luar.

Cuaca malam ini cukup dingin untuk membuat perutku yang kosong ini berbunyi semakin keras. Jam di ponselku masih menunjukkan pukul 9.08 dan kuputuskan untuk berjalan ke mini market terdekat untuk membeli beberapa ramyun instan.

Setelah tiba di mini market aku memutuskan untuk membeli beberapa cup ramyun, menyeduhnya, dan makan di tempat itu juga. Perjalan singkat dari apartemen sampai ke mini market ini ternyata cukup melelahkan untukku yang sedang berperut kosong.

“Wah, apa kau sedang kelaparan, Han Seon Kyu-ssi?”

Aku menoleh ke arah dimana suara itu berasal dan pemilik suara tersebut adalah Kim Jongin yang langsung menarik kursi untuk duduk di sebelahku. Karena sekarang aku dalam kesadaran penuh dan tidak mabuk, jadi aku biarkan ia duduk di dekatku.

“Kau tidak bersama Kris?”

“Seperti yang kau lihat, aku di sini hanya sendiri bersama ramyun-ramyunku. Dan, ya, aku kelaparan. Kau sendiri sedang apa di sini?”

Jongin menyulut rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara melalui mulutnya. “Aku baru saja pulang dari sana,” ia menunjuk sebuah bangunan bertingkat dua yang merupakan sebuah bar.

Aku mengangguk mengerti lalu meneguk kuah ramyunku dari cupnya.

“Ah, aku ingin meminta maaf padamu atas kejadian pada malam itu. Aku beruntung saat itu Kris tidak benar-benar menembakkan pistolnya di kepalaku hahaha…”

“Hm,” gumamku yang sudah sibuk melahap cup kedua ramyunku. Aku baru ingat kalau perutku belum terisi dari pagi.

“Perutmu kosong? Kenapa makan ramyun kimchi?” tanya Jongin yang sedang memperhatikan cup ramyun kosongku.

“Hm? Di dalam hanya ada ini,” jawabku singkat setelah menyelesaikan tegukan terakhir dari cup keduaku.

You don’t cook, do you?

“Ani, wae?”

Nope. By the way, ada hubungan apa antara kau dan Kris?”

Aku menatapnya heran saat mendengar pertanyaannya barusan. “Kau sendiri?”

I’m his brother. No, no. I’m his step-brother.

“Mwo? Aku tidak pernah tahu kalau Kris mempunyai sodara. Yang aku tahu kalau ia adalah anak tunggal.”

Jongin melipat kedua tangannya di atas meja dan mendekatkan wajahnya padaku. “You sure know him well, don’t you? Apa kau pacarnya?”

No, I’m not. We’re just friends.

“Ah, begitu rupanya… Apa kau mau mendengar ceritaku?”

Aku menganggukkan kepalaku sambil mengaduk ramyunku yang ketiga.

“Jadi… kau pasti tahu kalau Kris menolak habis-habisan perintah ayahnya untuk menggantikannya, ‘kan?”

Lagi-lagi aku mengangguk tanpa melepaskan perhatianku pada ramyunku.

“Ayahnya tahu soal itu, makanya ia mengadopsiku dari salah satu keluarga ibunya di Seoul… Tepatnya, sesaat setelah ibu Kris meninggal.”

Mendengar bagian itu, rasanya aku ingin menghentikan kegiatan makanku dan fokus pada cerita Jongin. Aku tahu hal ini tidak akan berguna untuk sisa hidupku, tapi rasa penasaranku kali ini sangat besar daripada rasa laparku.

“Cukup sulit untuk mendekati Kris pada saat itu. Aku yang mengerti kesedihannya itu akhirnya lama kelamaan berhasil mendekatinya. Semenjak itulah, apa yang Kris dapatkan, selalu aku dapatkan juga.”

“Maksudmu?”

This,” Jongin mengeluarkan pistol hitam yang sama persis seperti milik Kris dari saku dalam blazernya. “I bet you’ve seen Kris’

“Lalu, kenapa ayahnya tidak membuatmu menggantikan Kris sebagai penerusnya?” tanyaku yang semakin penasaran.

I’m not as good as him. His father knew that.

You really want the position, don’t you?

Not that much. Being a criminal is not easy, is it?

Yeah. Dikejar-kejar, terluka, tak akan bisa hidup tenang.”

Jongin tiba-tiba menatapku lekat-lekat. “Aku yakin kalau kau dan kakakku itu lebih dari berteman.”

“Hahaha, kenapa kau ini? Kami saling mengenal sejak SMA. Apa aku salah kalau aku tahu banyak tentang kakakmu itu?”

Akhirnya Jongin menegakkan kembali posisi duduknya dan mengangguk mengerti. “Kalau dia tahu kau ikut dalam kencan buta kemarin, pasti Kris tidak akan mengizinkanku ikut.”

“Memangnya kenapa?”

“Entah kenapa, tipe wanita kesukaan kami berdua selalu sama hahaha…”

Ucapan Jongin barusan membuat jantungku berdebar lebih cepat. Mengetahui faktanya kalau Kris benar-benar menyukaiku walau bukan dari bibirnya sendiri begini saja berhasil membuatku senang tak terkira.

“Jeongmalyo? Hahaha… mungkin itu hanya kebetu—huk!”

Tiba-tiba perutku terasa sakit sekali. Rasanya perih seperti ditusuk-tusuk.

“Seon Kyu-ssi! Gwaenchana?” suara Kai terdengar samar-samar di telingaku.

Rasa sakit ini sedikit demi sedikit mulai menghilangkan kesadaran dan pandanganku yang sekarang sedang meringkuk tak bisa bergerak sedikitpun.

“Seon Kyu-ya! Seon Kyu-ya! Bertahanlah!”

‘Kris?’

Aku merasakan lengan tegap Kris merengkuh tubuhku dan mendekapku di dadanya.

“Kai! Cepat bawa kami ke rumah sakit!”

Pandanganku sudah sangat kabur tapi aku merasa senang di dalam rasa sakitku, aku tahu kalau Kris sedang bersamaku, mengkhawatirkanku.

……….

“Kalau kondisinya begini terus, akan sulit untuk mempertahankan keduanya.”

“Ah, baiklah, aku mengerti.”

Kris membuka tirai dan melihatku. Aku tidak mengerti maksud dari tatapannya itu.

“Seon Kyu-ya, apa yang pernah aku bilang soal kebiasaanmu menunda-nunda makan?”

Aku tak menjawabnya namun hanya memperhatikan ekspresi wajahnya yang aku pikir terlalu khawatir berlebihan.

“Mianhae…”

“Sudahlah Kris. Aku yang salah karena menunda-nunda makan. Aku juga salah karena langsung memakan 3 cup ramyun instan begitu saja saat perutku kosong. Ah, omong-omong, dimana Jongin?”

Kris tak menjawabku. Ia mengusap rambutku dengan lembut sambil terus menatapku.

“Wu Yifan, kau kenapa? Aku hanya sakit maag ‘kan? Bukankah itu sudah biasa?”

“Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.”

“Ya! Kau kenapa?” aku semakin bingung dibuatnya. Kekhawatirannya kali ini benar-benar berlebihan.

“Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”

“Menyembunyikan apa?”

Your pregnancy.

“Mworago?!”

-TBC-

Annyeong chingudeul~ Terimakasih ya yang udah mau baca sampai part 3 ini >.< seperti biasaa~ saya tunggu kritik dan sarannya ya! *bow*😀

8 thoughts on “Call You Mine [Part – 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s