Call You Mine [Part – 2]

Call You Mine – Part 2

Author  : @tyasung

Cast    : Kris (EXO M), Han Seon Kyu

Genre : Romance

Length : Chapter

Rating  : General

^^^^^

 

“Tidak mencampuri urusan masing-masing, tidak ada komitmen mengikat. Bukankah itu perjanjian kita? Oh, dan satu lagi, pistol. Aku kira kau sudah membuangnya sejak lama.”

…..

Kris’s POV

“Kotak rokok itu bukan milikku. Kenapa seonsaengnim tidak percaya padaku, sih?”

Aku melihat perempuan ini sedang diceramahi saat aku masuk ke ruang guru untuk diceramahi juga karena hari ini sudah entah kesekian kali aku terlambat.

“Han Seon Kyu-ssi, ini sudah kesekian kalinya kami menemukan rokok di tasmu dan kau masih mengelak kalau benda ini milikmu?”

“Itu hanya kotaknya saja ‘kan? Aku memungutnya saat di perjalanan tadi, tapi belum aku buang karena aku tidak menemukan tempat sampah. Bukankah aku melakukan hal terpuji karena tidak membuang sampah sembarangan?”

Perempuan yang ternyata bernama Han Seon Kyu itu memang sepertinya sudah tidak asing lagi di mata para guru karena kasus rokok ini. Aku yang mendengar alasan-alasannya pun tidak akan mudah percaya begitu saja.

“Seonsaengnim, kenapa tidak panggil saja orangtuanya?” celetukku yang sedaritadi hanya memperhatikan mereka.

Seon Kyu langsung menatapku dengan tajam karena ucapan isengku barusan. Aku yang sama sekali tidak takut dengan  tatapannya hanya menjulurkan lidahku meledeknya.

“Ah, baiklah sepertinya kami akan memanggil orangtuamu jika hal ini terjadi sekali lagi.”

“Seonsaengnim tahu ‘kan kalau orangtuaku tidak ada di Korea? Aku ini hidup sendirian..”

“Sudahlah, jangan banyak alasan lagi. Sekarang kau dihukum untuk membersihkan gudang perlengkapan ruang kesenian sampai jam pelajaran kedua selesai. Kau juga, Wu Yifan-ssi, mau sampai kapan kau terus terlambat? Kau pikir sekolah ini milikmu? Cepat kau bantu Han Seon Kyu-ssi.”

Kami berdua akhirnya berjalan keluar ruang guru dan saling bertatapan. Terlihat jelas kalau perempuan ini kesal denganku.

“Apa sunbae ada masalah denganku?”

Aku berjalan duluan tak menghiraukan pertanyaannya barusan. Terdengar derap langkahnya yang cepat mengejarku.

“Mengenalku pun tidak, malah seenaknya bicara begitu.”

“Han Seon Kyu-ssi, apa benar rokok itu bukan milikmu?”

Ia melirikku dengan tatapan tak suka. “Kalau rokok itu memang milikku kenapa? Apa kau akan mengadukannya ke Park seonsaengnim?”

“Hahaha, tidak, tidak. Kau lumayan cerdik rupanya. Bagi aku rokokmu satu batang,” mintaku padanya yang langsung terlihat terkejut.

“Darimana sunbae tahu?” tanyanya sambil mengeluarkan sebatang rokok dari saku seragamnya.

Aku tidak menjawabnya dan langsung menyulut rokok itu begitu kami sampai di gudang perlengkapan.

“Ya, apa tidak apa kalau merokok disini?”

Adik kelasku ini langsung berlari ke jendela dan membukanya. Wajahnya terlihat sangat panik.

“Ruangan ini sirkulasi udaranya sangat bagus, jadi mau merokok berapa batangpun tidak akan ketahuan.”

Ia menatapku tak percaya.

“Kau tidak mau?” tawarku memberinya korek apiku.

“Nanti saja, sekarang aku akan mulai membersihkan ruangan ini dan aku harap sunbae juga membantuku.”

“Untuk apa terburu-buru? Jam pelajaran kedua masih lama berakhir, Seon Kyu-ssi.”

“Aku mengantuk. Seselesainya hukuman ini, aku ingin tidur saja di ruang UKS.”

Aku mengangguk mengerti karena aku juga sebenarnya sedikit mengantuk. Aku mematikan rokokku dan langsung membantunya membersihkan gudang yang entah kapan terakhir kali dibersihkan karena sepertinya kami bisa saja menemukan kecoa disini.

…..

Seon Kyu’s POV

Setelah memeriksa kalau dokter jaga sedang tidak ada, aku langsung masuk ke ruang UKS dan berbaring di tempat tidur paling ujung. Selain jauh dari pintu, tempat tidur ini paling dekat dengan jendela yang bisa aku buka lebar-lebar. Udara yang masuk dari jendela ini sangat menyegarkan dan yang pasti membuat tidurku sangat nyenyak.

“Han Seon Kyu-ssi.”

Aku yang baru saja menutup mataku akhirnya kembali membukanya karena seseorang memanggilku dari bilik sebelah.

“Ne, sunbaenim?”

“Apa benar kau tinggal sendirian?”

“Ne? Memangnya ada apa sunbae?”

“Tidak apa, hanya saja aku merasa kalau kita itu mirip.”

Apa aku tidak salah dengar? Apa yang membuat kami berdua mirip?

“Ne? Apa yang sunbae maksud dengan mirip?”

Tak ada jawaban darinya untuk beberapa saat. Namun kemudian ia berdeham.

“Haha sudah, tidak perlu dipikirkan. Yang tadi hanya pendapatku saja.”

Aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang ia katakana barusan, tapi entah kenapa aku merasa kalau aku bisa mempercayai kakak kelas yang baru aku kenal hari ini.

“Aku tinggal berdua dengan Ibuku di daerah Cheongdam-dong. Kami menyewa sebuah rumah disana karena ibuku kerja di sebuah tempat hiburan didekat sana.”

“Lalu kenapa tadi kau tidak mengakui ibumu?”

“Aku membencinya.”

Shreek.

Yifan membuka tirai pemisah bilik kami dan duduk di sisi tempat tidurnya. Aku tidak mengerti dengan ekspresi yang ia tunjukkan sekarang. Sedih atau marah?

“Boleh aku tahu kenapa?” tanyanya hati-hati.

Aku menghela napasku mencoba meyakinkan hatiku kalau aku benar-benar mempercayai pria ini.

“Ibuku dulu adalah seorang wanita penghibur di salah satu klub malam di Gangnam.. Aku tahu kalau ia melakukannya untuk menghidupi keluarga kami, tapi bukankah masih ada banyak pekerjaan halal lainnya? Aku kesal pada ayahku karena tak bisa merubah ibuku sampai aku tahu kalau ternyata pria yang selama ini aku anggap adalah ayahku, bukanlah ayah kandungku..”

“Apa sejak itu kau merubah pandanganmu terhadap ayahmu?”

Aku mengangguk. “Ayah memutuskan untuk menikahi ibuku setelah ia bertemu ibu di sebuah klub malam. Di sana ibu sedang menangis, benar-benar menangis karena mengetahui kalau dirinya sedang mengandung tanpa tahu siapa ayah dari anak di kandungannya itu. Ayah yang melihat ibu seperti itu merasa simpati dan akhirnya menikahinya. Walaupun aku tahu mereka menikah bukan berlandaskan cinta, tapi aku merasa kasih sayang yang ayah berikan kepada kami berdua sangatlah tulus, berbeda dengan ibuku yang selalu memikirkan dirinya sendiri bahkan sampai ayahku meninggal dunia. Hah, begitu urusan surat warisan ayah selesai, ia jadi sering sekali membawa lelaki berbeda yang ia sebut-sebut adalah calon ayahku.”

Tak terasa air mataku yang sedari tadi aku tahan jatuh juga mengalir begitu saja. Aku sudah benar-benar melupakan masa-masa itu, tapi kenapa sekarang aku malah membukanya kembali hanya untuk menjawab pertanyaan pria ini?

“Ini,” Yifan memberikan sapu tangan abu-abunya padaku.

“Kamsahamnida, sunbaenim..” aku mengusap air mataku yang sepertinya keluar semakin deras dengan sapu tangannya.

“Panggil saja aku Kris. Apa mulai sekarang kau mau berteman denganku, Han Seon Kyu?”

Belum sempat aku menjawab, Kris melanjutkan ucapannya, “Kau juga tidak perlu menggunakan bahasa formal padaku, arasseo?”

Sebenarnya aku masih belum mengerti kenapa ia melakukan hal ini, tapi akhirnya aku hanya mengangguk saja.

“Kalau aku boleh tahu, bagaimana denganmu? Kau juga harus menceritakan tentang dirimu..”

Kris menghela napasnya berat lalu memandangku. “Kau benar-benar ingin tahu?”

“Ah, itu pun kalau kau tidak keberatan.”

“Baiklah.. Aku akan mulai dari hari ini. Aku terlambat karena semalam aku kabur dari rumah.”

“Waeyo?”

“Ayahku adalah salah satu pengusaha bertangan dingin di Cina. Ia sudah mengenalkanku pada dunianya itu sejak kecil. Aku diajarkan untuk menggunakan senjata api sejak aku berumur 7 tahun. Ayahku bilang dengan benda itu aku akan mendapatkan apa yang aku mau seperti dirinya mendapatkan wanita, uang, dan kekuasaan.”

Kris yang sepertinya menyadari perubahan ekspresiku tersenyum miris. “Kau tidak takut padaku?”

Aku menggeleng. “Aku rasa kau orang baik, untuk apa aku takut?”

“Haha, aku anggap itu sebagai pujian.”

“Lalu, kenapa kau kabur dari rumah?”

“Kemarin ayahku jatuh sakit dan ia memintaku untuk menjadi penerusnya.”

“Dan kau menolaknya?”

“Tentu saja. Tidak hanya sekali aku melihat ayahku menghabisi orang tak bersalah dengan senjata apinya dan aku tidak ingin menjadi manusia tak berhati seperti itu.”

“Ah, jeongmalyo? Hm, kau ‘kan bisa saja menerimanya dan merubah sistem kerja perusahaan itu. Mungkin ayahmu akan mengerti?”

“Ayahku tidak akan pernah mengerti. Apa yang ia mau harus ia dapatkan. Apapun akan dikorbankannya termasuk istrinya sendiri.”

“Ada apa dengan ibumu?”

“Lelaki itu membiarkan istrinya dibunuh begitu saja oleh saingannya..”

“Ah, maafkan aku..”

“Dia menukarku. Menukarku dengan istrinya.. Dia tahu kalau suatu saat aku akan menggantikannya..”

“Aku tidak tahu kalau ketamakan bisa merubah seseorang sampai seperti itu.”

“Semua yang mengelilingiku akan membuat orang-orang takut. Itulah penyebabnya tidak ada yang mau berteman denganku sampai saat ini. Kalaupun ada, yah, mereka hanya menginginkan uangku.”

Terdengar kesedihan dari ucapannya barusan. Aku tahu satu kemiripan kami berdua, kami sama-sama tidak bahagia dengan apa yang kami miliki.

…..

“Kau kerja sambilan disini?” tanya Kris saat mengantarku ke sebuah toko buku dimana aku bekerja sambilan setiap pulang sekolah.

Untungnya sekolah kami mengizinkan siswanya untuk bekerja sambilan, jadi aku tidak perlu meminta uang pada ibu untuk membiayai sekolahku.

“Begitulah, aku harus benar-benar menabung agar bisa menyewa apartemen sendiri.”

“Aku punya satu apartemen di daerah ini. Memang tidak terlalu besar, tapi sudah dilengkapi perabotan dan alat-alat elektronik. Kalau kau mau, kau bisa tinggal disana.”

Aku semakin bingung dibuatnya. Kami benar-benar baru mengenal satu sama lain hari ini, tapi ia memperlakukanku seperti aku adalah calon istrinya.

“Ah, tidak usah. Uang tabunganku sudah hampir cukup untuk menyewa apartemen sendiri.”

“Seon Kyu-ya, aku tahu mungkin kau berpikir kalau aku ini aneh, tapi aku akan berusaha selalu ada untukmu. Ah, ini nomor ponselku.”

Kris menuliskan nomor ponselnya di selembar kertas memo yang ada di mobilnya lalu memberikannya kepadaku.

“Gomawoyo,” aku tersenyum tipis lalu turun dari mobilnya.

…..

Entah sejak kapan kami menjadi sangat dekat. Hampir setiap hari kami menghabiskan waktu bersama, di sekolah, maupun di luar sekolah. Sudah jadi rutinitas Kris sehari-hari mengantar jemputku dari tempatku bekerja sambilan.

“Aigo-ya, apa dia ini pacarmu, Seon Kyu-ya?”

“Kris, terimakasih telah mengantarku. Sebaiknya kau langsung pergi saja, jangan hiraukan ibuku. Aku masuk duluan.”

Kris hanya mengangguk dan langsung menjalankan mobilnya.

“Seon Kyu-ya, kenapa kau tidak menyuruhnya untuk masuk dulu?” tanya eomma yang sepertinya sangat penasaran dengan Kris.

Aku menatapnya jengah. “Apa peduli eomma? Ah, tumben sekali jam segini sudah di rumah.”

“Aku berencana untuk menikah dan berhenti bekerja..”

“Ah, geuraeyo? Ini sudah calon yang keberapa, ya? Apa eomma berhenti karena sudah tidak laku lagi? Apa calon ayah baruku itu punya uang banyak?”

Plak!

Aku memegangi pipi kiriku yang terasa memanas.

“Beraninya kau bicara seperti itu! Aku tidak pernah membesarkanmu dengan mengajarimu bicara kasar seperti itu!”

Air mataku yang sudah di pelupuk mata berusaha aku tahan mati-matian.

“Membesarkanku? Eomma bahkan tak pernah memperhatikanku. Apa yang eomma ketahui tentang anakmu ini? Sebutkan!”

Terlihat sekali kalau wanita ini tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa itu yang eomma sebut membesarkanku?”

“Kau pikir buat siapa aku bekerja selama ini, hah?”

“Oh, memangnya untuk siapa? Aku pikir selama ini aku selalu membayar semua kebutuhanku dengan uang appa.”

“Rumah ini. Dimana kau selama ini tinggal? Siapa yang membayar cicilannya? Aku!”

Aku benar-benar tak habis pikir dengan wanita ini. Ia dengan seenaknya menggadaikan surat rumah ini untuk kesenangan dirinya sendiri, tentu saja memang seharusnya ia juga lah yang membayarnya.

“Baiklah, aku akan pergi dari rumahmu ini. Aku tidak akan merepotkanmu lagi untuk selamanya.”

Aku berlari ke kamarku dan memasukkan semua baju dan barang-barang pentingku ke dalam koper. Aku tidak menyangka kalau hari ini akan tiba juga. Aku raih ponselku dari dalam saku mantelku dan dengan segera menghubungi Kris.

…..

Kris’s POV

Aku merasa kalau Seon Kyu tidak akan baik-baik saja terlihat dari ekspresinya saat melihat ibunya, jadi aku memutuskan untuk menunggu kabar darinya di mini market dekat rumahnya.

DRRT DRRT DRRT

“Ye, Seon Kyu-ya?”

Bisa kita bertemu?

“Tentu saja. Aku akan menjemputmu.”

Ani, kita bertemu di mini market dekat rumahku saja, bagaimana?

“Ah, baiklah..”

Sepuluh menit kemudian aku melihat Seon Kyu datang dengan dua tas besar di kedua tangannya dan tas punggungnya yang sepertinya belum ia lepas sedari tadi.

“Kris? Kenapa cepat sekali kau datang?”

“Ani, aku baru saja datang. Ada apa dengan tas-tas ini?”

Seon Kyu menghela napasnya. Air matanya mengalir begitu saja dari matanya. Refleks aku langsung memeluknya. Aku benar-benar tidak suka melihatnya menangis.

“Jadi kau sudah siap untuk pindah?”

Seon Kyu menganggukkan kepalanya lemas. “Apa penawaranmu yang waktu itu masih berlaku? Aku akan cicil biaya sewanya..”

“Biaya sewa apa? Memangnya aku bilang akan menyewakannya padamu? Kau bisa tinggal disana selama yang kau mau, Seon Kyu-ya.”

Ia melepaskan pelukannya lalu menatapku. “Waeyo? Kau sudah terlalu baik padaku. Sekarang biarkanlah aku membayar uang sewanya.”

“Hm, baiklah. Kau bisa membayar uang sewanya kapanpun kau bisa. Aku tidak mau kalau kau memaksakan dirimu.”

“Arasseo-yo, Mr. Wu!”

…..

Author’s POV

Satu tahun kemudian.

“Seon Kyu-ya, aku sudah benar-benar menolak permintaan ayahku untuk menggantikannya.”

Jeongmalyo? Apa ayahmu tidak marah?

“Tentu saja dia marah, hahaha. Aku kabur dari rumah.”

“Again? Kau dimana sekarang?

“Di depan apartemenmu.”

Ting Tong.

Kris memencet bel apartemen Seon Kyu lalu tertawa iseng.

Kau selalu saja begitu!

Seon Kyu memutuskan teleponnya dan tak lama pintunya pun terbuka. Ia menyambut Kris dengan wajah cemberutnya.

“Hahaha, mianhae-yo, Seon Kyu-ya~”

“Arasseo-yo. Tapi kenapa kau tidak pernah menggunakan kuncimu saja, sih?”

“Ah, bagaimana kalau saat aku masuk, kau sedang tidak berbusana? Atau mungkin sedang melakukan hobi-hobi anehmu?”

Saat itu juga Seon Kyu memukul Kris dengan bantal yang ia pegang, lalu berkata, “Hobi-hobi aneh apa yang kau maksud, hah? Dasar kau pria mesum..”

Lagi-lagi Kris hanya tertawa melihat reaksinya seperti itu.

“Kau sudah makan?” tanyanya sambil berjalan ke dapur.

Kris menggeleng singkat lalu berjalan ke ruang tengah setelah melihat beberapa kaleng minuman berserakan di sana.

“Aku hanya punya nasi dan sisa kimchi yang aku beli semalam, kau mau?”

Seon Kyu tak mendengar jawaban dari Kris lalu mencarinya ke ruang tengah. Ia melihat Kris sedang memunguti kaleng-kaleng minumannya dan memasukkannya ke kantong plastik.

“Biar nanti aku yang membereskannya, kau makan saja dulu, Kris.”

“Kebiasaanmu ini harus dihilangkan, Seon Kyu-ya.. Kau pikir sehat hidup seperti ini?”

Bukannya mendengarkan Kris, Seon Kyu malah langsung berjalan kembali ke dapur saat tahu kalau Kris akan menceramahinya lagi. Kris yang tahu Seon Kyu menghindarinya, menyusulnya ke dapur.

“Seon Kyu-ya..”

“Arasseo-yo, Kris. Semalam aku hanya sedang ingin minum saja, tidak akan aku ulangi lagi..”

“Minuman sebanyak itu kau habiskan dalam semalam? Aku tidak menyangka kalau keputusanmu untuk hidup sendiri akan menjadi seperti ini. Kalau saja aku tahu, aku ti—“

“Apa kau mau aku kembali pada ibuku?”

“Aniya, aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu, Seon Kyu-ya.”

“Hah, ibu kandungku saja tidak mengkhawatirkanku sama sekali.. Untuk apa juga aku hidup?”

Kris meraih kedua bahu Seon Kyu dan membuatnya menatap Kris.

“Aku. Kalau memang menurutmu ibumu sudah tidak memperdulikanmu lagi, ada aku disini. Aku akan selalu ada untukmu, Seon Kyu-ya. Aku mohon, jangan menyiksa dirimu sendiri. Hiduplah… untukku, bersamaku…”

Air mata jatuh dari pelupuk mata Seon Kyu dan langsung ia seka dengan jarinya. Ingin sekali ia menyambut ucapan Kris barusan dengan pelukan hangat yang berarti ‘ya,’ tapi ia tahu kalau hal itu akan berujung ke sebuah komitmen yang sangat dibencinya.

“Hah, berhentilah bercanda, Kris. Kau tahu sekali kalau aku benci komitmen.”

“Apa tidak ada pengecualian untukku?”

Seon Kyu melepaskan bahunya dari tangan Kris lalu berbalik, tak mau Kris melihatnya menangis.

“Kau adalah satu-satunya orang yang aku miliki sekarang, Kris. You’re the one that I trust, dan aku sama sekali tidak ingin merusak keadaan ini.. Aku takut, takut kalau sebuah komitmen malah membuat kita tidak bahagia..”

Kris yang menyadari bahwa ketakutan Seon Kyu akan sebuah komitmen masih belum menghilang akhirnya mengangguk dan mengusap kepala Seon Kyu lembut.

“Aku menyayangimu.”

“Tunggulah di ruang makan, aku akan menyiapkan makan siang untukmu.”

Seon Kyu mengalihkan topik pembicaraan mereka dan langsung menyibukkan diri dengan menyiapkan makanan untuk Kris.

Makan siang mereka terasa sangat sunyi. Kris memakan makanannya dalam diam, begitupun dengan Seon Kyu.

Tak lama Kris meletakkan sumpitnya di meja, tanda ia telah menyelesaikan makan siangnya. “Aku pergi dulu, mungkin malam ini aku akan kembali kesini. Aku akan menggunakan kunciku, jadi kau tidurlah duluan.”

Seon Kyu hanya mengangguk dan tak berani menatap Kris sampai sosok pria itu menghilang di balik pintu apartemennya.

…..

Seon Kyu terbangun oleh suara bising televisi dari ruang tengah. Ia langsung mematikan televisi yang sudah tak ditonton lagi oleh Kris yang entah sejak kapan tertidur di sofa.

Sebuah noda darah menarik perhatian Seon Kyu saat ia akan menyelimuti Kris. Tak jauh dari sofa dimana ia tertidur, Seon Kyu melihat pistol hitam yang selalu Kris bawa kemanapun ia pergi.

“Ah, apa kau terbangun?”

Kris mengusap matanya dan bangun dari tidurnya. Saat ini Seon Kyu bisa melihat jelas sumber noda darah tadi.

“Kau tadi kemana?” tanya Seon Kyu memfokuskan pandangannya pada lilitan perban di lengan kiri Kris.

“Ah, itu.. Di perjalanan pulang tadi ada yang mengejarku, aku tidak tahu mereka itu siapa, tapi yang pasti mereka mengejarku karena ayahku.”

“Kau terluka, Kris.”

Kris melirik lengan kirinya. “Aku sudah mengobatinya tadi. Ini hanya goresan kecil saja. Daripada ini, aku senang akhirnya aku bisa benar-benar menggunakan senjataku.”

Mata Seon Kyu langsung terbelalak saat mendengar ucapan Kris barusan. “Kau membunuh mereka?”

“Hahaha, aku hanya melumpuhkan mereka. Aku tidak akan menggunakan benda itu kalau tidak benar-benar terdesak. Bagaimana aku bisa tenang kalau ada lebih dari 3 orang bersenjata mengincarku.”

“Ini sudah kesekian kalinya, Kris. Tidak bisakah kau menjelaskan kepada mereka secara baik-baik kalau kau tidak ada hubungannya dengan urusan ayahmu?”

Kris lagi-lagi tertawa lalu mengusap kepala Seon Kyu gemas. “Kau pikir mereka peduli? Yang mereka tahu ‘kan kalau aku adalah anak dari musuh majikan mereka.”

Seon Kyu menghela napas berat mendengar jawaban Kris barusan. Terlihat sangat mencemaskannya.

“Ada apa dengan ekspresimu itu? Baiklah, aku akan berusaha hidup dengan aman mulai sekarang, tanpa pistol itu. Aku tidak mau kalau sampai membunuh orang dan masuk penjara, hahaha.”

“Kenapa kau masih bisa tertawa seperti itu, sih? Kau bisa saja terbunuh.”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Seon Kyu-ya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari apartemen baru yang aman untukmu.”

Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar kosong di samping kamar Seon Kyu untuk melanjutkan tidurnya.

‘Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku tidak ingin kau pergi.’

Itulah dua kalimat yang sangat sulit Seon Kyu ucapkan dari sejak pertama ia mengenal Kris.

-TBC-

Terimakasih untuk membaca dan member komentar *bow*😀

8 thoughts on “Call You Mine [Part – 2]

  1. akhirnya bisa baca lanjutannya disini. \(^o^)/ini cerita pas pertama kali mrk bisa kenal dan pd akhirnya jd deket ya chingu? keren.. keren.. ijin baca lanjutannya ya.. (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s