Call You Mine [Part – 1]

Call You Mine – Part 1

Author  : @tyasung

Cast    : Kris (EXO M), Chanyeol (EXO K), Kai (EXO K), Han Seon Kyu, Kang Lee Hyo, Go Ji Young

Genre : Romance

Length : Chapter

Rating  : General – PG 17

^^^^^

 

Seon Kyu’s POV

Aku merasakan hembusan napas hangat di wajahku. Entah mengapa hal ini membuatku merasa sangat nyaman dan ingin kembali tidur. Selama beberapa saat aku menikmati saat-saat ini dengan memejamkan mataku. Namun tak lama aku merasakan tangan hangat menyentuh pinggangku dan saat itu pulalah aku membuka mataku.

Sepasang tulang selangka yang indah menyambut mataku. Terlihat gerakannya yang turun naik secara teratur membuatku sadar siapa pemilik hembusan napas hangat tersebut. Aku naikkan pandanganku dan melihat sebuah wajah yang sudah tidak asing lagi di mataku. Pandanganku turun ke tempat dimana pria ini meletakkan tangannya—di pinggangku.

‘Kemana pakaianku?’

BUK!

“Ya! Kenapa kau menendangku!”

“Kenapa kau ada di sini?!”

Kris tak menjawab namun langsung menarik selimut dari atas tempat tidurku untuk menutupi bagian bawahnya yang tak tertutupi sehelai benangpun.

“Ya! Ini selimutku!” aku menarik kembali selimutku yang tidak terlalu lebar ini untuk menutupi tubuhku—yang juga tak tertutupi sehelai benangpun.

Lelaki bertubuh tinggi itu menghela napasnya berat. Bukannya menjawab pertanyaanku tadi, ia malah masuk kembali ke dalam selimut dan tidur membelakangiku.

“Wu Yifan! Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Aish. Kau terdengar seperti ibuku saja,” gerutunya masih tetap membelakangiku.

Aku yang sudah terlanjur kesal menarik tubuhnya untuk menghadapku.

“Apa kau benar-benar lupa, Han Seon Kyu?” tanyanya sambil menggaruk rambutnya kesal.

“Lupa apa?” tanyaku balik.

“Aish, benar-benar kau ini. Aku sudah menyuruhmu untuk berhenti minum semalam karena kau sudah benar-benar mabuk. Apa kau menurutiku? Tidak sama sekali dan malah menarikku kemari.”

Sejenak aku terdiam mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Hasilnya nihil. Aku hanya ingat kalau beberapa teman sekelasku di Universitas mengajakku untuk ke kedai minuman yang baru dibuka di daerah Hongdae. Karena salah satu dari mereka yang membayar jadi aku pikir tidak ada salahnya untuk ikut.

“Memangnya, kapan kau datang?” tanyaku lagi.

“Tepatnya saat kau sedang mabuk berat. Salah satu temanmu menghubungiku untuk memintaku menjemputmu.”

Otakku berpikir keras untuk mengingat kejadian semalam tapi masih juga tidak ada gunanya karena sepertinya apa yang dikatakan Kris kalau aku mabuk berat adalah fakta.

“Lalu, kenapa kau di sini?”

Kris kembali menggaruk kepalanya frustasi. “Kau muntah di pakaianku. Apa aku harus pulang dengan keadaan seperti itu?”

Aku menggeleng.

“Sebenarnya aku berencana untuk langsung pulang setelah mencuci pakaianku, tapi..”

Kris tidak melanjutkan ceritanya, dan saat itu juga aku mulai mengingat kelakuan memalukanku tadi malam.

 

-Flashback-

“Hoek.. Hoek..”

“Lagi?” gerutu Kris saat mendengar Seon Kyu mulai muntah lagi. Ia langsung beranjak dari bajunya yang sedang ia cuci dan menggotong Seon Kyu ke kamar mandi.

Kris memegangi rambut Seon Kyu yang sedang mengeluarkan isi perutnya ke toilet. Setelah itu ia langsung membasuh mulut Seon Kyu dengan air di wastafel.

“Minum ini.” Kris memberikan segelas teh hijau yang ia temukan di dalam kulkas Seon Kyu.

Seon Kyu meminumnya hanya beberapa teguk lalu kembali memuntahkannya.

Untuk kesekian kalinya Kris menghela napasnya lelah dengan kelakuan temannya yang satu ini. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi malam ini. Seon Kyu sudah sangat sering merepotkan Kris setiap kali ia pergi minum-minum.

“Kris, kau.. heuk.. mau kemana..?” tanya Seon Kyu setengah sadar saat Kris menidurkannya di tempat tidur.

“Aku akan mandi lalu pulang. Kau istirahatlah.”

“Shireo-yo.”

Seon Kyu bangun dari tidurnya dan menarik lengan Kris untuk duduk.

I want you,” bisik Seon Kyu.

Kris menggeleng, “Bukankah kau bilang kalau pilmu sedang habis?”

“Ani… heuk…” bisiknya lagi ditengah cegukannya.

“Sudahlah, Seon Kyu-ya, kau mabuk dan tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan sekarang.”

Kris beranjak dari tempat tidur tapi Seon Kyu masih belum melapas lengannya, memandang teman baiknya itu dengan tatapan memelas. Wajahnya yang memerah karena pengaruh alkohol terlihat sangat manis di mata Kris.

Seon Kyu menarik Kris mendekat dan mengecup pipi Kris lembut. Bau alkohol masih samar-samar tercium dari napas wanita berusia 22 tahun ini. Kris menggenggam selimut dengan kerasnya mencoba menahan dirinya untuk tidak menuruti permintaan temannya yang sedang mabuk ini.

“Kita sudah berjanji untuk tidak melakukannya tanpa pengaman, ‘kan? And I don’t even have one, now.

I have my pill, today. Ah, come on Kris,” balas Seon Kyu yang tetap bersikeras.

Kris lagi-lagi menghela napasnya tak habis pikir dengan Seon Kyu yang sekarang sudah mulai melepaskan ikat pinggangnya. Ia menahan tangan Seon Kyu mencoba menghentikannya, “Seon Kyu-ya, hentikan.”

Ia seakan tuli tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Kris dan sekarang tangan kirinya sedang menggerayangi tubuh bagian atas Kris yang tidak tertutupi apapun karena kemeja yang ia pakai tadi masih belum kering.

“Kau mabuk. Tidurlah, atau kau nanti akan menyesalinya.” Kris memperingati Seon Kyu sekali lagi sambil menaikkan retsletingnya.

“Aku tidak akan pernah menyesali… heuk… apapun yang aku lakukan selama itu denganmu.”

Kris sangat mengetahui sifat keras kepala Seon Kyu dan tidak jarang Kris mengalah pada sifat buruknya itu. Tapi hal seperti ini baru pertama kali ia alami dan benar-benar tidak tahu harus menyikapinya seperti apa. Pria berusia 23 tahun ini memang sudah hampir tiga minggu ini tidak bertemu dengan Han Seon Kyu, “teman bermain”nya.

Tiba-tiba Kris dikejutkan oleh Seon Kyu yang mulai membuka kancing kemejanya.

“Ya, sedang apa kau?!” ujar Kris panik lalu kembali mengancingkan kemeja Seon Kyu.

Seon Kyu menepis tangan Kris dan melanjutkan membuka kancingnya. “Aku kepanasan.”

Ia selesai melepaskan kemejanya dan sekarang ia hanya mengenakan tank top putih tipis. Kris pikir ia akan berhenti melepaskan pakaiannya, tapi ternyata ia membuka selimutnya dan melepaskan celana jeans yang ia kenakan juga.

“Nah, sekarang apa kau sudah bisa tidur?” tanya Kris tak mau melihat ke arah Seon Kyu yang sekarang hanya mengenakan tank top dan celana dalamnya.

“Apa kau tidak merindukanku, Kris…?”

‘Sial!’

Kris yang sudah tidak tahan akan godaan yang ada di hadapannya akhirnya mencium bibir merah Seon Kyu tanpa basa basi. Seon Kyu yang merasa telah berhasil mendapatkan apa yang ia mau menyunggingkan senyuman tipisnya diantara ciuman mereka. Untuk beberapa saat mereka sama-sama menikmati permainan lidah yang mereka lakukan dengan hebatnya.

Deru napas merekapun semakin memanas terbawa nafsu masing-masing. Kris mengangkat ujung tank top dan langsung disambut oleh Seon Kyu yang mengangkat kedua tangannya untuk mempermudah Kris melepaskan tank top tipisnya itu.

Kini Seon Kyu hanya berbalut pakaian dalam berwarna senada favoritnya. Melihat Kris yang masih mengenakan celana panjangnya, ia langsung bergerak cepat untuk melepaskan celana panjang tersebut dari kaki panjang Kris. Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sama-sama tidak mengenakan apapun.

I miss you, bisik Kris di telinga Seon Kyu lembut.

Seon Kyu yang sekarang sudah duduk dipangkuan Kris memeluk leher pria berambut pirang ini dengan erat dan berbisik, “Prove it.

-End of Flashback-

 

Did you really have your pill?

Aku membuka laci kecil di samping tempat tidurku mencari pil KB ku yang ternyata hanya tersisa kotak kosongnya saja. Kris yang sepertinya penasaran mendekatiku dan melihat apa yang ada di tanganku. Saat itu juga Kris mengacak-acak rambutnya geram.

“Ah, sudahlah. Sekarang sedang bukan masa suburku. Kau tenanglah.”

Kris masih terduduk dengan kepala tertunduk. “Kenapa…”

“Kenapa apanya?”

Ia membanting kotak tersebut dan menatapku tajam. “Kenapa bisa habis begini, sih? Tidak biasanya, ‘kan?”

Aku menghela napasku berat. Sedikit kesal memang karena aku merasa sekarang ia sedang menyalahkanku. Seakan-akan semua yang terjadi adalah keseluruhannya salahku.

“Jadi kau menyalahkanku?”

“Aish. Bukan begitu. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi aku hanya berpikir tidak biasanya kau seperti ini.”

“Kau sendiri yang bilang kalau akan pulang seminggu lagi.”

“Yah, masalah kepulanganku memang salahku karena tidak memberitahumu terlebih dahulu…”

Kami terdiam untuk beberapa saat. Aku sedang menghitung jarak datang bulanku bulan lalu dan aku rasa minggu ini memang belum masa suburku.

“Sudahlah Kris, jangan dipikirkan. Kau tahu betul apa kebiasaanku selama ini. Apa menurutmu cara hidupku ini cukup sehat untuk bisa mengandung?”

Apa yang aku katakan barusan sebenarnya bisa dijadikan pertimbangan juga. Selama ini aku tidak pernah lepas dari alkohol dan juga rokok. Kris yang sudah mengenalku selama hampir empat tahun ini harusnya tidak bersikap berlebihan seperti sekarang.

“Berjanjilah padaku kalau hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”

Aku menyulut rokok yang ada di mulutku dan mengangguk mengiyakan ucapannya barusan. “Tentu saja, Kris.”

…..

Author’s POV

“Seon Kyu-ya!”

Lee Hyo berteriak jauh di belakang Seon Kyu untuk memanggilnya. Seon Kyu berbalik dan melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“Kemana saja kau?” tanya Seon Kyu pada sahabatnya yang tidak masuk kuliah selama dua minggu.

“Aku pergi ke Jeju. Bukankah aku sudah memberitahumu?”

“Ah, ye. Kalau begitu mana oleh-oleh untukku?”

Seon Kyu menengadahkan tangannya tapi Lee Hyo hanya memukulnya pelan.

“Kau ini, kenapa pelit sekali sih,” gerutu Seon Kyu yang kemudian berjalan meninggalkan sahabatnya itu.

Lee Hyo berlari kecil menyusul Seon Kyu dan merangkul pundaknya.

“Sebagai gantinya, bagaimana kalau kau ikut aku pergi malam ini? Saat di Jeju aku bertemu seorang pria tampan yang mengajakku pergi bersama teman-temannya. Dia juga memintaku untuk membawa beberapa temanku.”

“Mwo? Kau mengajakku ikut kencan buta? Aku tidak mau.”

“Waeyo?? Kau sudah menjomblo lama sekali, Seon Kyu-ya,” rayu Lee Hyo sambil menyamakan langkahnya dengan Seon Kyu yang berjalan lebih cepat darinya.

Seon Kyu bukannya benar-benar tidak mau menerima ajakan Lee Hyo, tapi ia adalah tipe orang yang malas beradaptasi dengan lingkungan ataupun orang-orang baru. Kalau ia ikut kencan buta itu, berarti akan banyak orang baru yang mengenalnya dan menurutnya hal itu akan sangat merepotkan.

Setelah jam kuliah pertama selesai, Seon Kyu langsung melarikan dirinya ke kantin dan membeli segelas kopi. Ia berniat menghindari Lee Hyo sampai besok atau lusa, tepatnya menghindari ajakan kencan butanya.

Namun sepertinya hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak lama Seon Kyu duduk di meja paling pojok di kantin kampus, Lee Hyo datang menghampirinya dengan wajah senangnya.

“Seon Kyu-ya, aku sudah mengajak Ji Young dan dia bilang kalau dia akan mengajak satu temannya lagi. Ayolah, Ji Young juga ingin kau ikut.”

Seon Kyu menghela napasnya berat, malas menanggapi permintaan sahabatnya ini dan hanya menggelengkan kepalanya.

“Aigoya, apa kau tidak mau membantu sahabatmu ini memilih pasangan yang baik?”

“Kenapa harus lewat kencan buta?”

“Karena pria tampan itu yang mengajakku! Ayolah~ Kau harus menemaniku, Seon Kyu-ya~ aku akan mentraktirmu minum sebanyak lima kali asal kau mau datang bersamaku.”

Temannya yang satu ini memang paling tahu apa yang disukai oleh Seon Kyu sehingga menggunakannya sebagai bahan bujukan yang sepertinya memang ampuh.

“Hah, baiklah. Aku hanya akan datang, duduk, minum, dan pulang. Deal?

Lee Hyo memeluk Seon Kyu gemas dan berseru, “Deal! Seon Kyu jjang!”

…..

Seon Kyu’s POV

Aku berdiri di halte dimana Lee Hyo berjanji untuk menjemputku. Tidak sampai 10 menit aku menunggu, mobil sedan hitam Lee Hyo berhenti di depanku.

“Seon Kyu-ya, apa tidak ada pakaian lain yang bisa kau kenakan?” tanya Lee Hyo sesaat setelah aku menutup pintu mobil.

Malam ini aku memang hanya mengenakan celana jeans, kaos v-neck  berwarna hijau muda, dan jaket jeans. Mau dibilang seperti apapun aku memang begini. Aku tidak terlalu memperhatikan penampilanku yang sering dikomentari oleh orang-orang sekitarku.

Lee Hyo berdecak sambil menggelengkan kepalanya terlihat tak habis pikir denganku. “Aku akan membelikanmu pakaian yang pantas, Seon Kyu-ya.”

Setelah berpikir sejenak aku hanya bergumam mengiyakan ucapan Lee Hyo barusan. Selama bukan aku yang membayar, apa salahnya?

Satu jam kemudian.

Salah. Semua ini tidak benar. Salah karena aku telah membiarkan Lee Hyo membelikanku pakaian. Memang aku setuju untuk dibelikan pakaian olehnya, tapi tidak pakaian seperti ini. Gaun berwarna soft pink ini sama sekali bukan diriku. Terlebih lagi gaun ini tidak berlengan dan panjangnya hanya sampai sejengkal di atas lutut.

“Wah, aku sama sekali tidak tahu kalau sahabatku bisa secantik ini.”

Entah pujian atau sebuah ledekan, aku benar-benar merasa kalau pakaian ini terlalu aneh untukku.

“Lee Hyo-ya, gaun ini terlalu terbuka!” protesku sambil menarik-narik ujung gaun ini.

Lee Hyo menggeleng. “Sampai kapan kau akan menyembunyikan kakimu itu? Cih, kau berhasil membuatku iri Han Seon Kyu! Aku heran kenapa kau masih saja tidak mempunyai pacar.”

“Aku akan memakai celana jeans dan jaket jeansku lagi.”

Aku berjalan menuju ruang pas dimana aku menggantungkan pakaian-pakaian yang aku kenakan tadi.

“Eits, karena di luar cukup dingin, kau bisa menggunakan jaketmu, tapi tidak untuk celana jeansnya.”

Aku menghela napasku kesal karena sikap Lee Hyo yang semena-mena seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Lagipula kapan lagi aku akan berpenampilan seperti ini seumur hidupku?

…..

Ternyata kami sampai setengah jam lebih awal dari waktu janjian. Selama menunggu aku mengusap-usap kakiku yang pegal karena Lee Hyo memaksaku untuk memakai salah sepatu heels nya.

“Ah, itu Ji Young!” seru Lee Hyo melambaikan tangannya ke arah pintu masuk restoran.

Ji Young berlari kecil menghampiri meja kami. Tak hanya Lee Hyo, ia pun terkejut dengan penampilanku malam ini.

“Yaa, aku hampir saja tidak mengenalimu, Seon Kyu-ya!”

“Haha, begitupun aku, Ji Young-ah. Ah, Lee Hyo bilang kau akan membawa temanmu. Dimana dia?”

Gadis berambut pendek itu melihatku bingung. “Teman?”

Aku sontak melirik Lee Hyo yang tertangkap basah sedang memberi isyarat kepada Ji Young yang sepertinya sama sekali tidak tahu tentang masalah ini.

“Mianhae, Seon Kyu-ya.. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa agar kau ikut..”

“Haah, Lee Hyo kenapa kau begitu ingin aku ikut?”

“Kau harus mengenal Kris, Seon Kyu-ya!”

‘Kris? Apa itu nama pria yang ia kenal di Jeju?’ Aku sempat sibuk dengan pikiranku sendiri saat mendengar nama itu, tapi nama Kris tidak hanya satu di dunia ini.

Entah karena rasa penasaran akan pria yang bernama Kris itu, atau memang sudah merasa terlambat untuk pulang, akhirnya aku memutuskan untuk tetap duduk manis di samping Lee Hyo.

Tak lama Lee Hyo berdiri dan menatap lurus ke arah pintu masuk. “Kris-ssi!”

Aku secara refleks langsung menundukkan kepalaku, tak tahu kenapa hal ini tiba-tiba membuatku salah tingkah. Tak lama terdengar langkah beberapa orang mendekat dan aku masih belum mengangkat kepalaku.

“Seon Kyu-ya, mereka sudah datang. Ayo beri salam,” bisik Lee Hyo.

Akhirnya aku berdiri dan memberanikan diriku untuk melihat siapa saja para pria ini.

“Han Seon Kyu?”

“Kris?”

Begitulah. Ternyata Kris yang dimaksud oleh Lee Hyo memang Kris yang aku kenal.

“Kalian saling kenal?” tanya Lee Hyo secara bergantian memandangi kami.

“Ah, tidak. Kris adalah seniorku di SMA dulu,” jelasku yang lalu kembali duduk.

Aku yang merasa kalau Lee Hyo masih menatapku akhirnya menoleh ke arahnya. “Wae?”

“Sepertinya kau kenal baik dengan Kris-ssi, Seon Kyu-ya.”

Mata Lee Hyo seakan-akan menuntutku untuk penjelasan lebih tentang hubungan kami. Aku tak mengerti kenapa ia bersikap seperti ini sampai Kris berkata, “Junior macam apa yang menggunakan bahasa informal kepada seniornya…”

“Ah, ne… Jwaesonghamnida, Kris sunbaenim…” balasku sambil menundukkan kepalaku, memberi hormat pada pria di depanku yang sudah aku kenal selama empat tahun ini.

Setelah itu Lee Hyo tidak terlihat penasaran seperti tadi seakan puas dengan apa yang ia dengar barusan. Sedangkan sekarang Kris menatapku lekat-lekat menunggu ucapan terimakasih dariku yang pastinya tidak akan aku ucapkan sekarang.

…..

“Hahaha, kau benar-benar menarik, Lee Hyo-ssi. Aku tak percaya kalau kau pernah melakukan hal memalukan seperti itu.”

Aku melihat Kris yang entah sejak kapan sudah merangkul Lee Hyo dengan akrabnya. Ji Young pun aku lihat sepertinya cocok dengan namja bernama Park Chanyeol ini. Mereka bahkan sudah bertukar nomor ponsel.

Bagaimana dengan Han Seon Kyu? Ia sedari tadi hanya duduk manis di kursinya menikmati siaran berita tengah malam di televisi yang ada dekat meja kami sambil sesekali meminum soju dari gelasnya.

Tak tahu sudah berapa gelas yang aku minum, yang pasti sekarang kepalaku sudah terasa berat sehingga aku menopang kepalaku dengan tangan agar tidak jatuh terantuk meja.

Sepasang tangan terasa memegang bahuku dan mengusap-usapnya pelan. Risih memang, tapi tenagaku rasanya sudah habis sehingga tak bisa melakukan perlawanan apapun.

“Han Seon Kyu-ssi, bagaimana kalau kau ikut ke tempatku malam ini?”

Aku memang sudah mabuk, tapi aku tahu siapa pemilik suara ini, Kim Jongin. Wajah pria ini memang cukup imut untuk pria seusianya tapi dia tetap bukan tipeku.

“Apa yang kau bicara.. heuk.. kan, Kim Jongin-ssi..?”

“Ayolah, kita akan bersenang-senang.”

Tangan kirinya yang tadi aku rasakan ada di bahuku entah sejak melingkar di pinggangku. Sedangkan tangan kanannya ada di ujung gaunku. Aku menolehkan kepalaku sedikit ke arahnya untuk memastikan seberapa dekat ia denganku karena napasnya terasa sekali di leherku.

Aku gerakkan tanganku untuk mendorongnya dengan sisa kesadaranku. Tapi apa daya kepalaku sudah sangat berat. Bukannya mendorongnya menjauh, kami malah semakin dekat karena ia menarik tanganku. Saat itu juga aku merasakan Jongin mengecup bahuku.

Crek.

Pandanganku yang sudah kabur dikejutkan oleh Kris yang sedang menempelkan bibir pistolnya di pelipis Jongin. “Don’t you dare to touch her more than this, Kai. I warn you.

Jongin langsung melepaskan tangannya dariku. “Whoa, slow down, Kris. I thought she wasn’t your girl.

She is, now.

Kris menarikku dengan kasar berjalan keluar restoran.

“Kris, lepaskan!”

Aku mencoba menarik tanganku yang digenggamnya dengan keras, tapi usahaku sia-sia karena jelas sekali tenaganya lebih besar dariku. Kris membuka pintu mobilnya dan mendudukanku di kursi depan. Ia menyalakan mesin mobilnya dan langsung melaju kencang ke apartemenku tanpa berkata apapun selama perjalanan.

Sesampainya di basement apartemenku, ia memberikanku sebotol air mineral. “Minumlah.”

Aku yang sedari tadi tak berani menatapnya akhirnya menatapnya dan menuruti perintahnya untuk meminum air mineral tersebut.

“Kenapa tadi kau diam saja?”

“Hm?”

“Tadi, saat Kai menyentuhmu, kenapa kau diam saja, hah?”

Kris mengulangi pertanyaannya dengan sangat jelas agar mudah dimengerti olehku yang masih dibawah pengaruh alkohol ini.

“Molla..”

Terdengar helaan napas Kris yang berat. Ia langsung melepaskan blazer biru tuanya dan dipakaikannya di bahuku.

“Dan lagi, ada apa dengan pakaianmu ini? Ini pertama kalinya aku melihatmu mengenakan baju seperti ini. Apalagi kau datang ke acara seperti itu dengan pakaian ini.”

“Lee Hyo membelikannya untukku. Wae? Kau tidak suka? Padahal Lee Hyo bilang kalau aku cantik mengenakan gaun ini…”

BUK!

Ia memukul setir dengan kesalnya. Aku melihatnya dengan bingung. “Kenapa kau sangat peduli, huh?”

“Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku? Kalau tadi aku tidak menarikmu, kau akan jadi santapan Jongin malam ini.”

Lagi-lagi aku merasa kalau ia menyalahkanku. “Baiklah, terimakasih, Kris. Aku tidak butuh bantuanmu lagi.”

Saking kesalnya aku langsung melepaskan blazernya dan berjalan keluar dari mobil Kris dengan kaki telanjang. Sepatu heels yang dari tadi membuatku menderita aku lepas dan membawanya dengan tanganku.

“Han Seon Kyu!”

Terdengar Kris meneriakkan namaku dari belakang tapi tak aku hiraukan dan terus berjalan ke arah lift. Saat pintu lift hampir tertutup, tangan Kris menahannya. “Seon Kyu-ya, maafkan aku.”

“Tidak mencampuri urusan masing-masing, tidak ada komitmen mengikat. Bukankah itu perjanjian kita? Oh, dan satu lagi, pistol. Aku kira kau sudah membuangnya sejak lama.”

-TBC-

Halo *bow* saya muncul lagi dengan ff ber-cast Kris😀 semoga ff ini lebih baik dari ff-ff saya sebelumnya dan semoga ga pada bosen bacanya :3

Part 2 akan segera menyusul. Harap kritik dan sarannya yaa~😀 Makasih juga yang udah baca dan komen *bow*

4 thoughts on “Call You Mine [Part – 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s