Accidentally In Love [Part 5 – End]

Accidentally In Love – Part 5

Author: @tyasung

Cast    : Kris (EXO M), Baekhyun (EXO K), Suho (EXO K),

Shim Se Kyoung, Shim Hyo Lim, Song Ye Rin

Genre : Romance

Length : Chapter

Rating            : General

Note: Yang kemarin sudah membaca Part 4, harap baca bagian akhirnya karena saya menambahkan  beberapa hal di sana. Part 4 yang lama sudah saya hapus dan sudah di post ulang.

~~~~~~~~~~~~~

Ah, aku tahu ini gila, tapi apa kau mau menemuiku di pintu bandara Incheon besok pukul 9 pagi?

Aku mencubit pipiku untuk memastikan kalau hal yang sekarang sedang terjadi bukanlah khayalanku belaka.

“Mwo? Besok? Di hari pernikahanku?”

“Listen, aku telah berpikir tentang sebuah keputusan gila yang mungkin akan merugikan banyak orang, dan aku tahu keputusan ini sangatlah egois. Apa kau mau pergi bersamaku?

Se Kyoung tidak bisa menutup mulutnya dan tidak berani mengedipkan kedua matanya takut kalau hal ini hanyalah sebuah mimpi atau khayalannya.

Se Kyoung, you there?

“Ah, ye. Kris, apa kau yakin  dengan idemu ini? Bagaimana dengan keluarga Byun?”

Tentu saja aku akan dianggap sebagai anak tidak tahu diri, tapi kali ini aku ingin benar-benar memperjuangkanmu..

“Arasseo, I’m in,” jawab Se Kyoung akhirnya dengan senyum mengembang di wajahnya.

\\\\\/////

Tok Tok

“Ne~” seru Se Kyoung dari kamar membukakan pintu.

“Neomu yepeodda..” Se Kyoung memeluk ibunya merasa bersalah atas apa yang akan ia lakukan hari ini pada keluarganya.

“Gomawoyo, eomma…”

“Cepat kemari, akan eomma rapihkan rambutmu..”

Tanpa sadar air mata mengalir dari kedua mata Se Kyoung. “Eomma, mianhae..”

“Wae Geurae?” ia menatap Se Kyoung melalui cermin di depannya.

“Ani, aku hanya ingin meminta maaf saja. Waktu benar-benar berlalu sangat cepat, ya…”

Rambut ikal Se Kyoung akhirnya selesai ditata dan sekarang ia sedang menatap pantulan dirinya di cermin. Berkali-kali ia tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri.

Se Kyoung mengenakan jaket jeansnya dan sebuah jam tangan, berlari ke jendela memberi isyarat pada Junmyeon yang menunggu di belakang rumahnya.

Ia menarik napas dalam. Siap untuk melaksanakan ide gila ini dan siap untuk menanggung semua resiko dari perbuatan nekatnya.

Setelah memeriksa keadaan di luar kamarnya, Se Kyoung perlahan menutup dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.

“Junmyeon oppa!” seru Se Kyoung memanggil Junmyeon yang sedari tadi sudah stand-by.

“Yah, ppalliwa!”

Tak lama Se Kyoung melempar keluar jendela helaian seprei dan tirai dari kamarnya yang sudah ia sambung dengan ikatan kuat. Ia turun pelan-pelan menggunakan tali buatannya itu yang sudah dipegangi dengan kuat oleh Junmyeon di bawah.

“Haruskah kau mengenakan gaunmu?” protes Junmyeon sambil berbisik.

“Sudah tak ada waktu lagi, yang penting sepatuku tidak akan menghalangi kita untuk berlari,” jawab Se Kyoung memperlihatkan sepatu ketsnya pada Junmyeon.

Junmyeon menyalakan mesin mobilnya dan langsung melaju dengan kecepatan penuh menuju bandara Incheon. Alasan satu-satunya ia membantu pelarian dua sejoli ini adalah karena Kris berjanji akan membantunya untuk berkencan kembali dengan mantan kekasihnya saat SMA dulu.

“Ya, odiya?” Junmyeon langsung menghubungi Kris setibanya mereka di bandara.

Aku ada di pintu masuk utama.

“Ah, itu dia,” gumam Junmyeon yang langsung memutuskan telponnya.

Kris menghampiri mereka dan meraih tas ransel Se Kyoung. “Penampilanmu…”

“Yah, kau pikir—“ Kris memotong ucapan Se Kyoung dengan pelukannya. “Neomu yeppeodda…”

“Aigo, bisakah kalian tunda kemesraan kalian? Ada undangan pernikahan yang harus aku hadiri,” eluh Junmyeon.

Mereka berdua lalu melepas pelukan mereka dan tertawa kecil.

“Junmyeon oppa jeongmal gomawoyo sudah sangat membantu kami selama ini,” ucap Se Kyoung yang lalu membungkukkan badannya.

“Ye, ye. Lebih baik sekarang kau ganti pakaianmu dulu. Kau sudah menjadi bahan tontonan daritadi.”

“Ah, benar juga!” Se Kyoung langsung berlari ke kamar mandi terdekat.

Kris merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan selembar kertas, “Apa kau bawa pulpen atau alat tulis lain?”

Junmyeon menggeleng.

“Aish, berikan ponselmu,” perintahnya.

Ia memijit beberapa digit nomor lalu mengembalikan ponselnya kepada Junmyeon.

“Nomor siapa ini?”

“Itu nomor yang akan aku gunakan nanti di Guangzhou. Simpan dengan nama lain agar orang tak curiga,” jelas Kris.

Junmyeon mengangguk mengerti lalu menyimpan kontak baru tersebut di ponselnya, “Arasseo, bagaimana dengan nama ini?”

“Ju.. Julia?” Kris membaca sebuah nama di layar ponsel Junmyeon.

“Wae?” tanyanya singkat sambil menyeringai jahil.

Fine. Thanks for giving me such a beautiful name, pal!

\\\\\/////

“Guangzhou?” tanya Se Kyoung saat membaca negara tujuan pada tiket pesawat mereka.

“Ye. Sebelum orangtuaku meninggal, mereka meninggalkan sebuah rumah untukku di Guangzhou, tapi Byun ahjussi menjualnya tanpa sepengetahuanku kepada kerabat dekat ayahku. Oleh sebab itu, selama aku dirawat oleh Byun ahjussi, aku menggunakan waktuku dengan serius agar aku bisa mendapatkan rumah itu kembali.”

“Aku tidak menyangka Byun ahjussi seperti itu..”

Kris menghela napasnya, “Gwaenchana, aku tahu kalau uang hasil penjualan rumah itu juga ia gunakan untuk menyekolahkanku.”

“Ah, arasseo..” gumam Se Kyoung mengerti.

“Kau tidak keberatan ‘kan jika memulai kembali dari nol bersamaku? Kau meninggalkan segalanya untuk sampai ke sini.”

“Aku mengerti bahwa semua ini adalah keputusan yang sangat berat, tapi aku yakin lama kelamaan orangtua kita akan mengerti dengan keputusan yang kita ambil ini adalah yang terbaik untuk kita,” jawab Se Kyoung sambil menundukkan kepalanya.

Kris menusap kepala Se Kyoung lembut lalu mengecupnya, “Gomapseumnida… Saranghae,” bisik Kris.

“Ah, ye, naddo saranghae… Apa sekarang kita resmi menjadi sepasang kekasih?”

Kris menyeringai, “Tentu saja, tapi hal itu tidak akan berlangsung lama.”

“Mwo? Apa maksudmu?”

Just wait and see,” goda Kris yang tentu saja membuat Se Kyoung bingung dan penasaran.

/////\\\\\

“Yah, kapan aku boleh melepaskan penutup mata ini?” gerutu Se Kyoung saat turun dari taksi.

Kris meraih kedua tangan Se Kyoung dan menggendongnya di punggung.

“Ya, ya! Turunkan aku!”

Just stay still, if you don’t wanna fall, agassi,” Kris mengencangkan pegangannya pada kedua kaki Se Kyoung di pinggangnya.

Se Kyoung yang sepertinya memang takut jatuh menuruti perintah Kris untuk tidak banyak bergerak.

Tak lama Kris menurunkan Se Kyoung dari gendongannya perlahan dan medudukkannya di sebuah sofa.

“… Apa bisa aku buka sekarang?”

Kris membuka penutup mata Se Kyoung dan memutarkan badan Se Kyoung.

Mata Se Kyoung disilaukan oleh cahaya lilin yang bertebaran di atas lantai marmer. Ia menatap Kris dan tersenyum heran namun tak dapat menyembunyikan rasa senangnya.

“Kau lapar?” tanya Kris yang lalu menuntun Se Kyoung berjalan ke arah meja makan kecil tak jauh dari mereka.

Tak lama datang sepasang wanita dan pria paruh baya berpakaian pelayan datang membawakan mereka sajian makan malam yang sangat terlihat lezat.

Kris menatap kedua orang tersebut dan menghela napasnya, “Ah, sudah kubilang kalian tidak perlu menggunakan pakaian itu lagi.”

“Kami hanya senang bisa melayani tuan muda kembali,” jawab mereka berdua sambil tersenyum tipis.

“Dan tolong, jangan panggil aku tuan muda lagi, arasseo? Panggil saja aku Kris. Aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku.”

Mereka berdua langsung mengangguk pelan lalu kembali ke dapur.

They spoke Korean well,” ucap Se Kyoung pada Kris yang sudah siap menyantap makanannya.

“Ne? They are Korean. Mereka adalah pembantu keluargaku dulu saat orangtuaku masih hidup. Aku meminta bantuan mereka berdua untuk menyiapkan semua ini dua hari yang lalu karena merekalah yang paling aku percaya. They are Ma Jin Ri and Ma Kyung Hee,” jelas Kris.

“Ah, geuraeyo? Kalau dipikir-pikir masih banyak sekali hal yang belum aku ketahui tentangmu,” ucap Se Kyoung memandangi Kris di depannya.

“Naddo, haha..” balas Kris yang juga baru menyadarinya, “Entah apa yang membuatku sangat tertarik padamu..”

Se Kyoung terdiam selama beberapa saat, lalu menyeletuk, “Hwang Sun Ah?”

“Mwo? Ah, jeongmal..” gerutu Kris menghentikan kegiatan makan malamnya.

“Waeyo?” Se Kyoung menatap Kris heran.

“Tidak baik mengungkit-ungkit orang yang sudah tiada, Se Kyoung-ah, dan.. ah, sepertinya aku belum memberitahumu soal ini. Kunjungan terakhirku di makam Sun Ah adalah untuk berbicara padanya, berbicara padanya untuk yang terakhir kali.”

Se Kyoung tak mengucapkan sepatah katapun dan memfokuskan perhatiannya kepada Kris.

“Sebelum dia meninggal, dia memintaku untuk meninggalkannya dan bahagia, tapi aku tidak bisa, sampai aku bertemu denganmu. Lagipula dia akan marah di sana jika aku tidak menuruti permintaannya itu, haha,” jelas Kris sambil tertawa pelan.

Helaan napas keluar dari bibir Se Kyoung. Ia meraih tangan Kris yang sedari tadi mengepal dan menggenggamnya, “Mianhae.”

“Gwaenchana. Adalah hal yang wajar jika kau bersikap seperti ini.”

Mereka berdua sama-sama terdiam beberapa saat, sibuk menyelesaikan makan malam mereka.

Setelah selesai makan malam Kris mengantar Se Kyoung ke kamarnya.

“Istirahatlah, besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Kris lalu mengecup kening Se Kyoung lembut.

“Arasseo, oppa~!” jawab Se Kyoung menggoda Kris.

\\\\\/////

Se Kyoung’s POV

Entah kemana Kris akan membawaku hari ini. Ia membangunkanku pagi-pagi sekali untuk segera bersiap. Selama di perjalanan pun ia tak banyak bicara. Aku sama sekali tidak punya clue untuk perjalanan kali ini karena di mana-mana hanya papan bertuliskan bahasa mandarin saja yang aku temui.

“Kita hampir sampai,” ucap Kris akhirnya setelah hampir setengah jam tidak berbicara.

Aku memperhatikan sekelilingku, mobil yang berlalu lalang tidak sebanyak tadi sebelum Kris membelokkan mobilnya. Tak lama rasa penasaranku hilang saat kami masuk ke sebuah komplek yang ternyata adalah komplek pemakaman.

Here we are,” Kris memarkirkan mobilnya dan melepaskan seat beltnya.

Kris menggenggam tanganku, “Jangan lupa bawa bunga lilinya, ibuku sangat menyukainya.”

Ia tersenyum sambil memandangku lekat saat mengatakan hal itu. Jadi ini tujuannya ia rela mengantri untuk sebuket bunga lili.

“Kajja,” ajak Kris sambil melepaskan seat beltku. Aku mengangguk lalu keluar dari mobil.

Sudah 5 menit kami berjalan dan akhirnya berhenti di depan dua buah batu nisan yang terlihat sangat terawat. Kris yang masih menggenggam tanganku sedari tadi, menariknya untuk dikecupnya.

“Eomma, appa, aku kemari menjenguk kalian, tapi kali ini aku tidak datang sendiri. Aku tahu mungkin apa yang telah aku lakukan ini membuat kalian sedih, tapi aku melakukan hal ini atas kehendak hatiku. Aku menepati janjiku untuk membawanya kemari dan mempertemukan kalian… Yah, walaupun bukan dalam arti sesungguhnya,” Kris menggaruk tengkuknya dengan tangannya yang bebas.

Ia melihatku dan tersenyum, “Eomma, appa, kenalkan, Shim Se Kyoung, calon istriku.”

Jujur aku dibuat tidak percaya dengan apa yang ia lakukan sekarang ini. Kris berlutut di depanku—dan juga kedua orangtuanya. Dengan tangan kanannya yang masih menggenggam tanganku, tangan kirinya merogoh saku blazer hitamnya dan mengeluarkan sebuah kotak mungil berwarna putih.

“Shim Se Kyoung, would you be my wife?” Kris membuka kotak putih tersebut yang berisikan sebuah cincin silver dengan berhiaskan tiga berlian di permukaannya.

Hatiku berteriak mengatakan “Ya” tapi bibirku masih kaku tak bisa bergerak. Akhirnya aku menganggukkan kepalaku.

Tak terasa air mata mengalir jatuh dari pelupuk mataku saat Kris memasangkan cincin perak tersebut di jari manisku. Aku tak pernah menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi. Ya, aku sangat mengharapkan hal ini, tapi untuk menjadi kenyataan seperti ini, sampai sekarang pun masih terasa bagaikan mimpi bagiku.

“Kenapa kau menangis?” tanya Kris menyeka air mataku.

Aku menggeleng, masih tak bisa berkata apa-apa. Otaku tak henti-hentinya berteriak kegirangan. Namun ada sedikit perasaan kecewa di dalam hatiku. Kecewa karena kami tidak benar-benar ada di hadapan kedua orangtua Kris. Kecewa karena orangtuaku juga tidak ada di sini dan bahkan sekarang mungkin sedang terbebani pikirannya karenaku. Kecewa karena aku mengecewakan banyak orang yang aku tinggalkan.

Kris kembali menggenggam tanganku setelah aku meletakkan buket bunga lili yang sedari tadi aku pegang di depan batu nisan ibu Kris.

“Gomawoyo.”

Kris mengecup pelipis kananku lembut dan aku melingkarkan kedua tanganku di pinggang Kris. Aku benar-benar menyayanginya.

/////\\\\\

Sepulang dari makam orangtua Kris, ia tak langsung membawaku pulang melainkan ke sebuah butik kecil namun terlihat berkelas di kota.

“Untuk apa kita kemari?”

Aku menatap Kris bingung setelah turun dari mobilnya.

“Tentu saja membelikanmu pakaian untuk kau pakai besok.”

“Besok?”

“Kau tidak ingin memiliki buku nikah yang sah?”

Pipiku langsung memerah mendengar pertanyaan Kris barusan. Saking senangnya aku sampai lupa kalau kurang dari 2 jam yang lalu aku baru saja menerima lamarannya.

“Aku ingin menjadikan kau milikku secara sah secepatnya.”

Kali ini aku merasa pipiku akan segera meledak karena memanas akan ucapannya barusan.

“Kenapa tidak hari ini saja?”  mulutku berbicara seenaknya seakan aku menantangnya.

Ia menatapku sedikit terkejut, tapi tak lama kemudian tersenyum nakal. “Baiklah kalau itu maumu, Nona.”

Tiba-tiba senyumannya barusan membuatku nyaliku sedikit menciut. Pikiranku sudah melayang sampai hal-hal yang akan sepasang suami-istri lakukan pada malam pertama mereka sesudah menikah secara sah.

“Ah, bukankah paling tidak kita harus memiliki 2 saksi?” aku berusaha menarik pelan-pelan tantanganku tadi.

Kris tidak merubah senyumannya dan berkata padaku, “Jin Ri ahjumma dan Kyung Hee ahjussi akan dengan senang hati menjadi saksi pernikahan kita.”

Aku kalah begitu saja. Akhirnya sesudah memilihkanku baju, Kris pulang untuk menjemput Jin Ri ahjumma dan Kyung Hee ahjussi dan langsung berangkat ke catatan sipil terdekat.

Seorang petugas nyaris saja menutup pintu kantor catatan sipil tersebut saat kami datang, tapi entah apa yang Kris katakana padanya dan mengizinkan kami untuk melaksanakan pernikahan ini.

Sebenarnya bukan pernikahan seperti inilah yang aku—dan tentu saja Kris inginkan, tapi karena keadaan kami yang sepertinya tidak memungkinkan untuk melakukan resepsi pernikahan, kami setuju untuk menikah sekarang juga dan sesederhana mungkin.

“Aku berjanji, suatu saat nanti akan kita akan melaksanakan upacara pernikahan yang indah,” bisik Kris.

Aku mengangguk menanggapinya dan kami pun memulai pernikahan sederhana kami.

\\\\\/////

Aku mencoba menahan Jin Ri ahjumma dan Kyung Hee ahjussi untuk menginap di rumah Kris karena hari juga sudah malam. Seakan mengerti bagaimana keadaan pengantin baru, mereka bersikeras menolak tawaran menginapku dengan sopan. Akhirnya Kris mengantar mereka pulang ke rumah mereka yang berjarak lumayan jauh dari rumah Kris.

Selama menunggu Kris mengantar Jin Ri ahjumma dan Kyung Hee ahjussi, aku mencoba untuk menjauhkan rasa takutku akan malam pertamaku sebagai Nyonya Wu. ‘Apa yang harus aku lakukan saat dia pulang nanti,’ ‘Dimana dan bersama siapa aku akan tidur malam ini,’ sampai ‘Apa yang harus aku kenakan untuk tidur malam ini.’ Semua hal itu terus berputar di kepalaku tanpa henti.

Akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan mengenakan setelan piyama biasa yang aku pilih setelah hampir setengah jam bingung dengan piyama yang akan aku pakai.

Tak lama setelah aku merapihkan kembali isi koperku yang sempat berantakan tadi, aku mendengar suara pintu rumah yang dibuka. Lagi-lagi perasaan bimbang menghampiriku. Haruskah aku menghampiri Kris yang baru datang, atau pura-pura tidur seakan tidak mengetahui kedatangannya.

“Se Kyoung-ah.”

Aku akhirnya memutuskan untuk keluar kamar saat mendengarnya memanggil namaku.

“Ye?”

“Aku kira kau sudah tidur. Aku membeli ini di perjalanan pulang tadi.”

Ia mengangkat tangan kanannya yang membawa sebuah kotak yang berisi cake—tepatnya wedding-cake. Aku tertawa kecil saat melihatnya membuka kotak cake tersebut dengan wajah menggemaskan bagaikan anak kecil yang tak sabar untuk membuka kado ulangtahunnya.

‘Happy Wedding’ itulah yang tertulis di permukaan cake berdiameter 20cm ini.

“Apa kue ini tidak terlalu besar untuk kita berdua, Kris?”

Ia menggeleng, “Tentu saja tidak. Karena sepertinya kita belum bisa mengandalkan masakanmu untuk besok dan hari-hari selanjutnya, kue ini akan bisa menjadi sarapan, makan siang, dan mungkin juga makan malam kita untuk beberapa hari kedepan.”

Jawabannya barusan sedikit membuatku kesal, tapi apa yang ia ucapkan tadi memang ada benarnya juga. Meskipun aku sudah tinggal berpisah dengan orangtuaku, kemampuan masakku sama sekali belum berkembang.

“Yah! Kenapa kau bicara seperti itu? Akan aku buktikan kemampuan masakku dengan membuatkan sarapan untuk besok pagi!”

Lagi-lagi mulutku bicara sembarangan dan aku segera menyesalinya dalam hati.

“Geuraeyo?” Kris menatapku tak percaya. “Baiklah, akan kutunggu sarapan buatanmu besok.”

Kris menjulurkan jari kelingkingnya untuk aku kaitkan dengan jari kelingkingku. Dengan tak yakin aku sambut jari kelingkingnya dan hanya bisa pasrah untuk apa yang akan terjadi besok.

/////\\\\\

“Se Kyoung-ah,” panggil Kris saat aku sedang mencuci piring kue kami.

“Ne?”

Tak ada jawaban darinya. Aku langsung menghampirinya seselainya aku mencuci piring.

Melihatku datang, ia langsung menarik tanganku untuk duduk di sampingnya.

“Waeyo?”

“Apa begini sikapmu pada suamimu ini…”

Aku benar-benar berusaha menghindari tatapan memelasnya saat ini.

“Memangnya sikapku bagaimana?”

“Aniya, hanya saja…”

Kris tidak melanjutkan perkataannya tapi langsung memeluku dengan erat. Aku yakin kalau Kris bisa dengan jelas mendengar detak jantungku yang cepat.

“Entah mengapa aku masih saja dibuat tidak percaya dengan status kita sekarang ini.”

Aku membalas pelukannya dan menenggelamkan mukaku di bahunya. “Bodoh. Kau pikir hanya kau saja yang merasa seperti itu.”

Kami terdiam untuk beberapa saat. Aku benar-benar bisa merasakan detak jantungnya yang cepat menyamai detak jantungku.

Perlahan ia melepaskan pelukannya dan mencium keningku lalu turun ke mata, hidung, dan akhirnya bibirku. Sekujur tubuhku merinding merasakan ciuman lembutnya itu.

“Hey, tenanglah. Ini bukan ciuman pertamamu denganku, ‘kan?” ledek Kris yang merasakan keteganganku. Padahal aku tahu kalau dia juga merasa tegang seperti yang aku rasakan.

Tiba-tiba aku teringat ciuman pertama kami yang menurutku sangat tidak berkesan itu dan dengan cepat aku mukul pinggangnya.

“Yah, waeyo?” tanyanya tak terima.

“Ani, aku hanya sedikit kesal akan ciuman yang tidak dipertanggungjawabkan itu.”

Aku dengar Kris tertawa pelan mendengar ucapanku barusan. “Bukankah aku sudah mempertanggungjawabkannya sekarang, Nyonya Wu?”

Panggilannya barusan membuatku semakin menenggelamkan wajahku di bahunya. “Aku mengantuk,” gumamku pelan untuk mengalihkan pembicaraan.

“Jangan berbohong, Nyonya Wu.”

Aku akhirnya mengangkat kepalaku dan seketika itulah rambutku menutupi sebagian wajahku yang memerah. “Aku serius, suamiku.”

Tiba-tiba tawa Kris pecah memenuhi ruang tamu rumahnya. Ia menatapku gemas lalu menciumku. Aku tidak menolaknya, tapi juga tidak membalasnya. Aku biarkan lidahnya bermain-main di dalam mulutku sampai tak lama pertahananku hancur.

Kris yang merasakan kalau lidahnya disambut oleh lidahku menjadi lebih semangat untuk menjelajahi mulutku lebih lama lagi seakan tidak akan kehabisan napas. Ia menarik pinggangku untuk menghilangkan jarak diantara kami dan memeluknya erat. Aku yang entah sejak kapan terbawa suasana juga sudah mengalungkan kedua tanganku di leher Kris.

“Kris… se… sepertinya aku… kehabisan napas…” ucapku terengah-engah di jeda singkat ciuman kami.

Akhirnya Kris perlahan melepaskan pelukannya di pinggangku, tapi tak lama menariknya kembali dan berbisik, “Bagaimana kalau kita lanjutkan di kamar?”

Bohong jika aku bilang aku tidak tahu apa maksudnya. Keraguan kembali menghampiriku untuk yang kesekian kalinya, tapi aku melawannya dengan kenyataan bahwa sekarang aku adalah istri sahnya dan sudah menjadi kewajibanku untuk menyerahkan harta paling berhargaku padanya.

Kris masih dengan setia menunggu jawabanku atas permintaannya tadi. Aku tidak menjawabnya melainkan mengecup bibirnya singkat. Ia dengan cepat menangkap maksud kecupanku barusan terlihat dari senyuman yang terbentuk di wajahnya yang tampan tanpa celah ini.

Aku dikejutkan dengannya yang langsung menggendongku dan menarik kedua kakiku untuk melingkar di pinggangnya.  Lagi-lagi aku membenamkan wajahku di bahunya saat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah pinggangnya. Ia membawaku ke kamarnya dan kami melewatkan malam pertama kami dengan begitu indah.

\\\\\/////

Dua tahun kemudian.

“Eonni!” suara yang tidak asing itu terdengar di telingaku saat aku sedang berjalan masuk ke pekarangan rumah.

Aku berbalik dan seketika itu juga aku menjatuhkan kantong belanjaanku. Perempuan itu berlari kecil dengan sangat hati-hati karena perutnya yang besar. Ia memeluku begitu yakin kalau yang ia panggil “Eonni” barusan adalah orang yang benar-benar ia cari.

“Hyo… Hyo Lim-ah, kenapa kau bisa ada di sini?”

Suaraku hampir tidak bisa keluar begitu saja saking terkejutnya. Tak lama perntanyaanku terjawab. Aku melihat Kim Junmyeon berjalan menghampiri kami.

/////\\\\\

“Eonni jangan salahkan Junmyeon oppa. Ia sama sekali tidak dengan sengaja mengantarkanku kemari. Aku yang tidak sengaja mendengarnya berbincang dengan Kris oppa memaksanya untuk memberitahu keberadaan eonni.”

Aku menuangkan teh lemon hangat ke dua cangkir di meja tamu lalu duduk dan mencerna baik-baik perkataan Hyo Lim barusan. Namun ternyata pertanyaanku sebenarnya belum terjawab.

“Jadi kau menikah dengan Junmyeon oppa?”

Hyo Lim menunduk dan menggelengkan kepalanya, sedangkan Junmyeon tak menjawab apapun melainkan hanya berkeliling ruang tamu sambil melihat-lihat semua foto yang ada di ruangan ini.

“Jadi siapa ayah dari kandunganmu itu?”

Aku dengan sedikit tidak sabar menunggu jawaban dari Hyo Lim yang bahkan belum mengangkat kepalanya. Junmyeon yang menyadarinya langsung berkata, “Sudahlah, kau tahu kakakmu tidak akan marah.”

Perkataan Junmyeon barusan malah membuatku semakin bingung. “Jadi? Apa Junmyeon oppa menghamilimu tapi belum juga menikahimu?”

Hyo Lim akhirnya mengangkat kepalanya dan menatapku. “Baekhyun oppa. Beberapa bulan setelah eonni menghilang, aku menikah dengan Baekhyun oppa.”

“Mwo? Apa appa membuatmu untuk menggantikan posisiku?!”

“Aniya… Memang appa sangat marah saat mengetahui eonni menghilang begitu saja dan mempermalukannya dan Byun ahjussi di hadapan ratusan undangan yang datang, tapi tak lama appa mengerti dan akhirnya bicara pada keluarga Byun secara baik-baik.”

“Lalu?”

Adik perempuanku satu-satunya ini meneguk teh lemon hangatnya sebelum melanjutkan ceritanya. “Tak disangka-sangka mereka pun mengerti dengan mudah tanpa adanya pertengkaran dan memutuskan untuk menunggu kedatangan eonni saja.”

Aku merenung sejenak mengingat perlakuan tidak sopanku dua tahun yang lalu.

“Setelah permintaan maaf itu, entah sejak kapan aku dan Baekhyun oppa menjadi sangat dekat dan akhirnya kami berpacaran dengan sepengetahuan keluarga dan tentunya restu mereka. Dua bulan kemudian Baekhyun oppa melamarku dan kami menikah.”

Tiba-tiba Junmyeon menjulurkan ponselnya di hadapanku memperlihatkan sebuah foto yang ternyata adalah foto pernikahan Hyo Lim dan Baekhyun. Tak lama, aku menyadari sesuatu.

“Gaun itu…”

“Ah, aku tidak menyangka kalau akan mengenakan gaun itu secepat ini. Aku pikir eonni belum menyelesaikannya, tapi Ye Rin eonni langsung membawaku ke kantor eonni saat tahu aku akan menikah dan menyerahkan gaun itu padaku. Aku sangat menyayangkannya karena eonni tidak bisa melihatku menikah mengenakan gaun seindah itu…”

“Aku melihatnya barusan,” jawabku sedikit menghiburnya.

“Apa Baekhyun oppa tahu kalau kau kemari?”

Ia menggeleng dengan cepat. “Aku meminta Junmyeon oppa mengantarku kemari diam-diam karena aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Baekhyun oppa saat bertemu Kris oppa.”

“Ah, benar juga…”

“Yeobo, ada ta—“

Kris tak melanjutkan ucapannya saat mellihat Junmyeon dan Hyo Lim di ruang tamu rumahnya.

Setelah menjelaskan semuanya kepada Kris, ia mengangguk mengerti. Aku rasa memang sudah saatnya kami berdua datang meminta maaf dan juga restu atas pernikahan diam-diam kami ini.

“Eonni, sepertinya aku sudah harus pulang. Malam ini Baekhyun oppa akan pulang dari kunjungan bisnisnya di Jepang.”

“Arasseo, jaga baik-baik kandunganmu itu! Jangan terlalu sering menggunakan sepatu berheels seperti itu!” omelku pada Hyo Lim yang memang datang menggunakan boots berheels 7 cm.

“Ne. Aku akan melahirkan sekitar 2 bulan lagi. Aku harap kalian ada di Korea saat itu.”

Aku mengangguk, “Pasti. Aku juga berencana untuk melahirkan di Korea saja.”

Hyo Lim dan Junmyeon langsung melihatku tidak percaya.

“Kau sedang hamil?”

Pertanyaan Junmyeon sepertinya mewakili rasa tidak percaya Hyo Lim juga.

“Tentu saja! Anak kami juga akan lahir 2 bulan lagi,” jawab Kris sambil mengusap perutku pelan.

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka ini. Perutku memang tidak terlalu besar sehingga orang-orang tidak menyangka kalau aku sedang mengandung.

“Aigo, apa keponakanku kekurangan gizi di dalam sana? Kris oppa, tolong jaga eonniku satu-satunya ini dengan baik,” ucap Hyo Lim yang lalu membungkukkan badannya dan pamit pulang bersama Junmyeon.

\\\\\/////

Kris dan aku akhirnya sampai di bandara internasional Incheon. Setelah kedatangan Hyo Lim dan Junmyeon satu setengah bulan yang lalu, kami memang berencana untuk kembali ke Seoul untuk bertemu orangtuaku dan keluarga Byun.

“Eonni!”

Hyo Lim berteriak memanggilku dari area parkir. Kami segera menghampirinya.

“Ah, selamat pagi Junmyeon oppa,” sapaku pada Junmyeon yang ternyata ada di bangku pengendara. Ia hanya tersenyum lalu menguap begitu saja. Kami memang sengaja mengambil penerbangan paling pagi dari Hongkong.

Junmyeon langsung membawa kami ke rumahku untuk bertemu orangtuaku. Walaupun Hyo Lim sudah meyakinkanku bahwa appa dan eomma tidak akan marah, tapi tetap saja perasaan takut itu ada.

Aku menarik napas panjang sebelum melangkahkan kakiku masuk ke pekarangan rumah dimana aku tumbuh besar ini. Pintu rumah terbuka dan aku melihat eomma yang langsung berlari menghampiriku dan memelukku.

“Eomma, mianhae…” ucapku membalas pelukannya.

“Permintaan maaf terakhir yang kau ucapkan adalah sebelum kau pergi. Apa kau berjanji kalau kau tidak akan pergi lagi sekarang, Se Kyoung-ah?” balas eomma manatapku. Aku mengangguk berjanji tidak akan pergi lagi.

Tak lama appa menghampiri kami dan saat itu juga Kris berlutut di depan kedua kaki appa, meminta maaf.

“Maafkan kelancanganku karena telah membawa Se Kyoung pergi.”

Aku yang melihat Kris bersikap begitu pun mengikutinya berlutut di hadapan appa.

“Maafkan kami juga sebagai orangtua yang tidak bisa memberikan kebahagian kepada kalian. Berdirilah.”

Kami berdua pun berdiri dan Kris dengan mantap menarik tanganku untuk digenggamnya.

“Appa tidak akan marah pada kalian, bahkan sekarang appa merasa senang dengan kedatangan kalian berdua.”

“Sebenarnya kami datang bertiga, appa,” ucapku sambil mengusap perutku.

Appa menatap kami bingung dan langsung melihat perutku yang sudah membesar.

“Ah, benarkah? Apa aku akan mendapatkan sekaligus 2 cucu bulan depan?”

/////\\\\\

Baekhyun’s POV

“Baekhyun oppa.”

“Ne, yeobo?”

Hyo Lim memeluk leherku dari belakang.

“Ada apa?”

“Bisakah kau tinggalkan dulu pekerjaanmu itu?”

Aku menurutinya dan berbalik menatapnya.

“Coba lihat siapa yang datang,” Hyo Lim melepaskan pelukannya dan menariku ke pintu ruang kerjaku.

“Kris?”

\\\\\/////

“Kemana saja kau dua tahun ini?”

Kris menghela napasnya dan menatapku. “Guangzhou.”

“Tentu saja. Kenapa tidak terpikirkan olehku, ya…”

“Begini. Aku datang kemari untuk meminta maaf padamu. Aku telah—“

“Tidak, Kris. Kau tidak perlu minta maaf. Justru akulah yang harus berterimakasih padamu. Aku sekarang tahu apa yang benar-benar aku inginkan.”

Aku memandang foto pernikahanku dengan Hyo Lim di meja kerjaku. Hyo Lim datang di saat aku bisa dibilang dalam masa terpurukku. Hari-hariku aku gunakan untuk mencari Se Kyoung tapi Hyo Lim lah yang selalu ada di sampingku. Entah sejak kapan aku mulai menyerah mencari Se Kyoung dan berterimakasih atas kehadiran Hyo Lim.

“Perasaan ingin memiliki Se Kyoung telah tergantikan dengan perasaan ingin mencintai dan menyayangi Hyo Lim. Sejak saat itu aku tahu apa arti dari kepuasan untuk memiliki dan kepuasan untuk saling menyayangi.”

Kris masih diam terlihat menungguku melanjutkan pembicaraan.

“Kris, kau sangat tahu ‘kan sifatku yang harus memiliki apa yang aku inginkan?”

Kris mengangguk.

“Aku sudah membuang sifat buruk itu jauh-jauh dan belajar untuk menikmati apa yang sudah aku punya sekarang. Ah, bagaimana kabar Se Kyoung?”

“Se Kyoung sekarang ada di rumahnya. Kami tiba di Seoul pagi ini. Tadinya ia ingin ikut denganku untuk bertemu denganmu, tapi sepertinya ia merasa kurang sehat, jadi aku berjanji untuk menyampaikan permintaan maafnya untukmu.”

Aku mengangguk mengerti. Masa laluku dan Se Kyoung adalah pelajaran yang berharga bagiku. Dengan memaksakan sesuatu kehendak, keadaan tidak akan menjadi lebih baik, melainkan akan menjadi lebih buruk.

“Terimakasih, Kris. Kau telah menjaga Se Kyoung dengan baik. Aku senang karena kita bisa menjalani hidup kita masing-masing dengan baik.”

/////\\\\\

Se Kyoung’s POV

“Kris.”

Aku membangunkannya yang tertidur di samping tempat tidurku. Jahitan bekas melahirkan masih terasa perih saat aku bergerak, tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi kebahagianku yang sekarang telah menjadi seorang istri dan juga seorang ibu dari anak laki-laki yang baru aku lahirkan semalam.

“Kau ingin minum?” tawar Kris yang sudah terbangun.

Aku mengangguk.

“Istirahatlah lagi, waktu menyusui masih satu jam lagi.”

“Bagaimana dengan Hyo Lim?”

Hyo Lim masuk rumah sakit terlebih dahulu daripada aku, tapi berita terakhir yang aku dengar kalau ia kemungkinan tidak bisa melahirkan secara normal karena letak rahimnya yang sedikit bergeser. Rasanya aku ingin memukul kepala anak itu karena tidak menuruti nasihatku untuk tidak mengenakan sepatu berheels selama hamil.

“Dia sudah sadarkan diri saat kau masuk ruang melahirkan semalam. Adikmu melahirkan seorang anak perempuan.”

“Ah, geuraeyo…”

“Se Kyoung-ah.” Kris mengusap keningku lalu mengecupnya lembut.

“Terimakasih. Terimakasih telah menjadi istriku dan juga menjadi ibu dari anakku. I will always love you.

“Naddo. Apa sudah terpikirkan nama apa yang akan kita beri pada anak kita?”

Kris terlihat berpikir sejenak. “How about Kevin Wu?

 

~END~

Tada~! Akhirnya selesai juga ya ini FF sejuta abad =.= maaf kalau endingnya tidak sesuai harapan, karena ini udah bener-bener hasil perasan otak. Diharapkan para pembaca tidak kecewa dan tidak kapok untuk mampir ke shinrijung.

Last but not least, tolong tinggalkan komentar kritik atau sarannya yaa~! *bow*

8 thoughts on “Accidentally In Love [Part 5 – End]

  1. Annyeong, aku new reader, temennya Prawed hehehe. Keren nih ff rekomendasi prawed, aku suka sama karakter Kris-nya (´⌣`ʃƪ) untung disitu Junmyeon-nya belum nikah hihihihihi.
    Gaya bahasanya simple, tapi manis…. Jjang!

  2. Annyeonghaseyo chingu ‘-‘)/ *bow
    Choneun Gitaa imnidaa, 96lines ^^
    Akuu harus panggil chingu apa ? ._.

    By the way, fanfictnya bagus😀
    Aku kiraa yg d jodohin ituu Kris sm Sekyoung, tauunya Baekhyun sm Sekyung ._.

    But, finally They’re happilly ever after😀
    Bikin sequelnya dong ??😀

    Mianhae engga komen dari awal, tauu AIL inii udh tamat akuu pkir komen d part terakhir ajaa dehh ._.v
    Jeongmal mianhae😦

  3. Huaaa terharu happy end .suka banget sifatnya dia disini jadi pria sejati dan rela brjuang apa yg dia mau.btw salam kenal thor ku reader baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s