Accidentally In Love [Part 1]

Accidentally In Love – Part 1

Cast    : Kris (EXO M), Baekhyun (EXO K), Shim Se Kyoung, Shim Hyo Lim

Genre : Romance

~~~~~

Shim Se Kyoung’s POV

DRRT DRRT DRRT

Aku raih ponselku dari saku celanaku. “Eomma..?” gumamku saat melihat nama pemanggil di layar ponsel.

“Yeoboseyo?”

“Kyoung-ah, odi?” tanya eomma.

Aku tersenyum pada pelayan yang baru saja mengantar makananku ke meja. “Aku sedang makan siang, eomma. Waeyo?”

Aigo, aigo.. Apa kau lupa hari ini hari apa?”

Aku melirik jam tanganku, “Hm.. Sabtu?”

Eomma mendesah, “Ya, apa kau lupa kalau keluarga Byun akan datang berkunjung hari ini?”

“Keluarga Byun..” gumamku pelan berusaha mengingat. “Aigo!” seruku sembari berdiri dari dudukku.

“Cepat pulang dan bersiap-siap. Kau tidak mau membuat mereka menunggumu, ‘kan?” jawab eomma mendengar seruanku.

Segera kulahap makan siangku dalam 4 suapan besar, dan lalu berjalan ke kasir untuk membayar. “Sial! Kenapa aku selalu lupa janji-janji penting seperti ini!” gerutuku sambil mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh.

“Sial!” rutukku lagi saat antrian panjang mobil menghalangi laju mobilku di depan.

“Eomma pasti akan membunuhku,” ucapku dengan putus asa.

..3 Jam Berlalu..

Sesampainya di rumah aku lihat satu mobil sedan dan satu mini van terparkir di depan rumahku. Dengan perlahan aku tutup pintu mobilku, lalu berjalan mengendap-endap ke dalam rumah melalui pintu belakang rumahku. Sebisa mungkin aku harus menghindari kemarahan eomma untuk saat ini.

Aku berjalan ke kamarku yang terletak di lantai dua dengan perlahan dan membuka pintu kamarku lalu masuk dan segera mengunci pintu kamarku rapat-rapat.

“AAAAAAAHH, SIAPA KAU?!!” teriakku saat melihat seorang pria half-naked yang sedang berdiri merapihkan rambutnya di depan cerminku.

“Ya! Kau yang siapa, tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Kau pikir kau sopan?” balas namja tinggi berambut pirang ini.

“Mworago? Aku tidak sopan? Siapa yang berada di kamar seorang yeoja tanpa izin pemilik kamar tersebut sekarang? Apa aku?” balasklu lagi tak terima.

Lelaki itu nampak bingung, “Ini.. Kamarmu?”

“100 untukmu, ahjussi,” jawabku sinis.

“Ya! Sopanlah sedikit! Aku memang lebih tua darimu, tapi ‘ahjussi’ itu terlalu tua..” balasnya sambil kembali bercermin.

Aku sudah benar-benar kesal dengan namja ini. “Kau pikir aku peduli? Soal memanggilmu ahjussi, itu terserah padaku! Yang penting kau pergi dari kamarku, cepaaaaat!” seruku lalu menarik tangan namja itu keluar dr kamarku.

“Mwo.. tunggu! Apa kau akan membiarkanku keluar dengan penampilan seperti ini?” ia menarik tangannya lalu menunjuk handuk yang melingkar di bawah perutnya.

“Aku tidak peduli!” ku tarik kembali tanganku, seketika handuk yang ia gunakan lepas dan jatuh begitu saja ke lantai.

“AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH, KAU PRIA MESUM CEPAT KELUAR DARI KAMARKU!!!” pekikku kesal sambil menutup mukaku dengan kedua tanganku.

“YA! YA! Paling tidak biarkan aku berpakaian dulu!”

Aku menghela napasku berat lalu berbalik, “Ppalli!”

Setelah beberapa saat terdengar ketukan di pintu kamarku. “Kris-ssi, apa kau baik-baik saja?”

‘Ah, itu suara eomma! Siapa yang eomma panggil ‘Kris-ssi’?’

Tiba-tiba pertanyaanku terjawab saat lelaki mesum ini menjawab, “Ne, ahjumma. Nan gwaenchana..”

“Jeongmalyo? Aku rasa tadi aku dengar ada ribut-ribut, jadi aku kemari. Ah, baiklah, kami akan menunggumu di bawah,” seru eomma dari luar kamar.

“Ne..” jawab lelaki ini lagi lalu berjalan ke arah pintu sambil mengkancingkan kemeja putih polosnya.

Sebelum membuka pintu, ia berbalik, “Urusan kita belum selesai,” lalu ia keluar begitu saja dari kamarku.

\\\\\/////

Aku turun perlahan sambil memperhatikan keadaan sekitar, memastikan eomma tidak ada di sekitar. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh ponselku yang bergetar. “Eomma?” gumamku heran. Aku tekan tombol hijau untuk menjawab panggilan, “Ne?”

“Ya! Shim Se Kyoung— “

“Eomma, aku di sini..”  panggilku di belakangnya. Seketika wajah marah eomma hilang berubah menjadi lega.

Aku maju beberapa langkah lalu membungkukkan badanku di depan abeoji dan para tamu abeoji. “Jeongmal jwaeseonghamnida. Aku harus lembur dan diperjalanan pulang aku terjebak macet. Jwaeseonghamnida,” jelasku sambil terus membungkukkan badanku.

Tiba-tiba rekan kerja abeoji –yang seingatku bernama Byun Hee Jung berdiri, “Se Kyoung-ah, gwaenchanayo, aku senang bisa melihatmu yang ternyata sudah menjadi wanita.”

“Ah, kamsahamnida, ahjussi. Aku juga senang melihat ahjussi yang sehat,” jawabku yang disambut tawa ramah olehnya.

“Ah, bagaimana kalau kita makan malam sekarang?” ajak abeoji saat menyadari wajahku yang masih panik.

Kami semua akhirnya berpindah ke ruang makan. Sialnya, aku duduk bersebelahan dengan pria mesum tadi.

“Se Kyoung-ah, apa kau masih mengingat Baekhyun?” tanya Hee Jung ahjussi padaku.

Aku menoleh ke samping kananku dimana Baekhyun duduk lalu memperhatikan wajahnya sejenak, “Aigo, aku hampir lupa padamu, oppa! Kau semakin tampan saja!”

Semua orang di ruangan itu tertawa kecuali Kris. “Apanya yang lucu..” gerutrunya pelan namun terdengar olehku.

“Nah, kalau yang di samping kirimu itu adalah keponakanku, Kris,” sambung Hee Jung ahjussi.

Aku hanya mengangguk singkat tanpa melihat ke arahnya. Aku sama sekali tidak tertarik untuk berkomentar.

“Kyoung-ah, aku harap kau bisa berteman akrab dengannya. Kris adalah sepupu sekaligus sahabat terbaikku,” ucap Baekhyun yang membuatku mengerutkan dahiku tidak suka.

Selebihnya makan malam kami hanya diisi oleh pembicaraan bisnis yang sama sekali tak aku mengerti. Hee Jung ahjussi adalah salah satu dari puluhan rekan kerja abeoji. Keluarga Byun adalah salah satu rekan kerja abeoji yang sangat dekat dengan keluarga kami. Aku dan Baekhyun sudah saling kenal sejak aku berusia 12 tahun, sedangkan Baekhyun berusia 14 tahun. Jarak usia kami yang tidak terlalu jauh membuat ia risih jika aku memanggilnya dengan panggilan ‘oppa’, tapi menurutku panggilan itu memang cocok untuknya. Sejak kecil aku ingin memiliki kakak laki-laki, dan sosok Baekhyun lah yang aku pikir cocok untuk mengisi posisi itu.

“Se Kyuoung-ah, apa kau sudah memiliki namjachingu?” tanya Hee Jung ahjussi tiba-tiba.

Aku sempat terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu. “Ani, sama sekali belum, ahjussi,” jawabku seadanya.

Sebuah senyum merekah di wajah Hee Jung ahjussi. ‘Apa ini? Perjodohan lagi?’ batinku.

“Bagaimana dengan Baekhyun?” tanya abeoji kepada Baekhyun.

Baekhyun menggeleng, “Aku juga belum, ahjussi.”

Abeoji dan Hee Jung ahjussi saling bertatapan dan tersenyum. ‘Aku rasa tebakanku benar.’ Kalau tebakanku benar, ini adalah perjodohan ke 3 yang abeoji atur untukku dengan rekan-rekan kerjanya. Perjodohan yang pertama dengan lelaki bernama Park Chanyeol. Pria yang selalu tersenyum, sama sekali bukan tipeku. Perjodohan yang ke 2 dengan pria benrama Kim Jongin. Pada pertemuan kedua kami ada 2 wanita yang melabrakku dalam satu hari dan memperingatkanku untuk menjauhi Jongin. Dari kejadian itu aku menyimpulkan bahwa aku tidak ingin menjadi kekasih atau istrinya yang kesekian.

Sekarang Baekhyun? Walaupun kami sangat dekat sejak kami kecil, tapi kami sudah tidak bertemu selama kurang lebih 10 tahun lamanya. Itu bukanlah waktu yang sebentar.

Tepat pukul 10 malam keluarga Byun pamit pulang. Sebelum pulang, Baekhyun sempat meminta nomor ponsel dan alamat e-mailku. Apa itu sebuah tanda bahwa ia menerima perjodohan ini? Baiklah kalau begitu, aku juga akan berusaha semampuku.

/////\\\\\

“Eomma, kenapa eomma membiarkan sepupu Baekhyun oppa menggunakan kamarku?” tanyaku kepada eomma yang sedang membereskan meja makan.

“Kris baru saja datang dari Kanada, jadi eomma persilahkan dia menggunakan kamar mandi yang ada di kamarmu untuk mandi. Kebetulan pemanas air di kamar mandimu baru saja kami ganti dengan yang baru,” jelas eomma.

“Tapi, tetap saja itu kamarku, eomma. Daerah privasiku. Lagipula kenapa tidak pakai kamar Hyo Lim saja?” balasku masih tidak terima.

Eomma menghela napas lelah, “Kau kan sudah beberapa bulan belakangan ini tidak menempati kamar itu, sedangkan Hyo Lim akan pulang minggu depan, jadi eomma pikir tidak masalah kalau kamarmu dijadikan kamar tamu,” jawab eomma santai lalu meninggalkan ruang makan.

Aku memang sudah memutuskan untuk tinggal terpisah dari eomma dan abeoji, tapi apa harus sampai menggunakan kamarku untuk orang lain? Di rumah ini kan tidak hanya kamarku yang kosong.

\\\\\/////

DRRT DRRT DRRT DRRT DRRT

Aku buka mataku perlahan lalu kukedipkan sebelum membaca nama penelepon di layar ponselku. “Baekhyun oppa? Sepagi ini?” gumamku.

“Yeoboseyo?”

“Se Kyoung-ssi, ini aku Kris,” jawab suara di seberang telepon.

Aku mengucek kedua mataku dan kembali membaca nama penelepon di layar ponselku.

“Bukankah ini nomor Baekhyun oppa?” tanyaku masih ragu.

“Ye, aku menghubungimu menggunakan ponselnya karena sepertinya ponselku tertinggal di kamarmu. Apa aku bisa mengambilnya sekarang?”

“Aku sedang tidak di rumah. Kau datang saja lalu minta pada eommaku,” jawabku dengan malas.

“Kau sedang dimana? Bagaimana kalau aku menjemputmu sekarang, lalu antar aku ke rumahmu?” tawarnya.

Aku mendecakkan lidah, “Untuk apa? Kemarin saja kau tidak perlu diantar bisa masuk kamarku seenaknya.”

“Ya! Jangan mulai lagi. Aku masuk kamarmu karena eomma mu yang menyuruhku kesana,” balasnya terdengar sedikit kesal.

“Jadi? Apa masalahnya sekarang? Kau tinggal datang ke rumahku dan berbicara dengan eommaku, dan voila! Kau bisa mendapatkan ponselmu kembali.”

“Ah, baiklah. Benar-benar, kenapa ada wanita sepertimu—TUUT TUUT TUUT”

Aku banting ponselku dengan kesal ke ujung kasur. “Kenapa masalah datang sepagi ini?” gerutuku lalu menarik selimut hangatku untuk kembali tidur.

/////\\\\\

TING TONG.. TING TONG.. TING TONG..

Kupaksa mataku untuk terbuka saat mendengar bunyi bel apartemenku yang tak henti-hentinya berbunyi.

“Nuguseyo..?” tanyaku masih setengah sadar sambil membukakan pintu.

Pria tinggi berkaos putih dan menggunakan blazer biru menyambut mataku. “Selamat pagi?” tegurnya.

Aku dongakan kepalaku dan sesegera mungkin aku menyesalinya. “Ada apa lagi? Aku bilang aku sedang tidak di rumah, jadi jangan minta ponselmu padaku.”

“Kau pasti masih belum sadar sepenuhnya. Aku kemari karena eommamu bilang kalau kamarmu kau kunci dan kau bawa kuncinya,” jelas Kris yang masih belum berpindah tempat dari depan pintu.

Mataku terbuka sepenuhnya setelah mendengar penjelasan Kris.

“Geurae, kau tunggu saja di luar, nanti aku berikan kuncinya,” ucapku sembari mendorongnya agar keluar dari apartemenku.

“Ya, Ya! Aku sudah jauh-jauh pergi kesana kemari tapi malah diperlakukan seperti ini,” protes Kris membalikkan badannya menghadapku.

Aku mengerutkan dahiku dan berhenti mendorongya lalu segera masuk mencari kunci kamarku.

“Ini. Ingat, kau hanya mengambil ponselmu, tidak ada pengecualian,” aku memperingatkannya setelah memberikan kunci kamarku.

Ia mengangguk lalu berbalik berjalan sembari melambaikan tangannya tanpa melihatku.

“Aish, awas kalau berani menggangguku lagi,” gerutuku kesal lalu membanting pintu apartemenku.

\\\\\/////

Author’s POV

Pagi ini Se Kyoung sudah merasa sial dengan gangguan yang datang dari Kris. Siang ini Baekhyun mengajaknya bertemu untuk makan siang, Se Kyoung sangat berharap hal ini bisa memperbaiki suasana hatinya.

“Oppa!” seru Se Kyoung saat keluar dari taksi yang mengantarkannya ke sebuah restoran sederhana di daerah Hongdae.

Baekhyun melihatnya lalu melambaikan tangannya.

“Sudah lama menunggu? Jeongmal mianhaeyo, aku harus mengurusi beberapa hal di kantor,” sesal Se Kyoung.

“Gwaenchana Kyoung-ah, aku juga baru saja datang. Maafkan aku karena aku mengajakmu keluar saat kau sedang sibuk seperti ini,” jawab Baekhyun yang lalu membukakan pintu restoran untuk Se Kyoung.

Se Kyoung menggeleng, “Aniyo, oppa. Aku sama sekali tidak merasa terganggu, justru sangat senang sekali.”

Setelah memesan makanan mereka mulai memulai pembicaraan kembali.

“Oppa, apa kau sudah merasa nyaman di Korea?” tanya Se Kyoung.

Baekhyun tertawa kecil, “Kenapa bertanya seperti itu?”

“Ani, aku hanya berpikir, oppa sudah lama sekali di Kanada, jadi.. mungkin oppa butuh beradaptasi lagi di Korea?” ucap Se Kyoung polos.

Baekhyun mengusap kepala Se Kyoung lembut. Seketika wajah Se Kyoung memerah.

“Aku memang sudah sangat lama meninggalkan Korea, tapi aku tidak akan mudah melupakan tanah kelahiranku secepat itu, Kyoung-ah~”

“Ah, ye, oppa..” jawab Se Kyoung singkat. Wajahnya masih panas karena perlakuan Baekhyun barusan, jadi ia tak bisa merespon lebih dari itu.

Tak lama pesanan merekapun datang. Sambil menyantap makan siang mereka melanjutkan perbincangan mereka tadi.

“Aku dengar dari abeoji kalau oppa akan mulai memimpin perusahaan Hee Jung ahjussi besok? Chukhahaeyo!”

“Ye, aku harus memanfaatkan ilmu yang kudapat jauh-jauh dari negerin orang dengan sangat baik. Jujur saja, aku ingin seperti Kris.”

DHEG. “Waeyo? Kenapa oppa ingin menjadi seperti orang itu?”

“Dia selalu bisa memanfaatkan segala kesempatan yang ada. Walaupun kedua orangtuanya sudah tiada, dia sama sekali tidak mau merepotkan orangtuaku. Dari kecil dia memang sudah mandiri.”

Se Kyoung sempat terhenyak mendengar cerita Baekhyun tentang Kris, tapi ia teringat kejadian kemarin dan tadi pagi. “Cish, di mataku oppa jauh lebih baik dari namja itu, jadi, jadilah diri sendiri dan bersyukur oppa masih memiliki orangtua yang menyayangimu, dan aku..”

“Gomawoyo, Kyoung-ah~ aku akan berusaha,” ucap Baekhyun sambil kembali mengusap kepala Se Kyoung.

Selama beberapa saat keheningan menghampiri mereka. Se Kyoung sibuk mengaduk-aduk minumannya, begitupun dengan Baekhyun.

DRRT DRRT DRRT DRRT

Mereka berdua dikejutkan dengan ponsel Se Kyoung yang bergetar di atas meja.

“Ah, mianhae,” ucap Se Kyoung lalu menjawab panggilan di ponselnya.

“Aish, ada apa? Aku ‘kan sudah bilang jangan hubungi aku siang ini,” bisik Se Kyoug yang terlihat kesal.

“…”

“Sudahlah, nanti dari sini aku langsung kesana. Jangan ganggu aku lagi, aku sedang sibuk, arasseo?” Se Kyoung mematikan ponselnya lalu menatap Baekhyun tak enak.

“Oppa mianhaeyo..”

Baekhyun menggeleng sambil tertawa kecil, “Gwaenchanayo, Kyoung-ah~ kau sudah menjadi wanita dewasa ya. Kau bukan Se Kyoung yang dulu selalu merengek setiap orangtuamu pergi bekerja, sekarang kau bahkan sudah bisa tinggal terpisah dengan mereka.”

“Ye, dan oppa selalu menemaniku bermain sampai mereka pulang,” lanjut Se Kyoung sambil tersenyum malu mengingat tingkahnya sewaktu kecil.

Ia senang karena Bakhyun oppa masih mengingat hal memalukan itu. Dari dulu Baekhyun memang tidak pernah mengecewakan Se Kyoung, selalu ada di saat Se Kyoung membutuhkannya.

“Kau sangat mencintai pekerjaanmu, ya?” tanya Baekhyun.

Se Kyoung mengangguk. “Bagiku menciptakan sesuatu karya yang baru sangatlah menyenangkan. Terlebih lagi kalau karyaku bisa diterima dan membuat orang-orang yang menggunakannya senang.”

Se Kyoung sudah bekerja sebagai desainer pakaian selama 2 tahun belakangan. Sekarang ia sudah memiliki butik sendiri dan beberapa cabang yang tersebar di Korea Selatan. Ia memang belum lama bekerja di bidang ini, tapi dengan kecintaannya ia bisa terus memperluas pekerjaannya.

“Jam berapa kau harus ke kantormu lagi? Biar aku antar,” tawar Baekhyun.

“Tidak usah repot-repot, oppa. Aku bisa menggunakan bus dari sini. Oppa pasti masih ada urusan ‘kan setelah ini?” tolak Se Kyoung karena ia lihat sedari tadi Baekhyun beberapa kali melirik jam tangannya. Ia tak enak kalau sampai membuat Baekhyun terlambat.

“Ah, geuraeyo? Baiklah, akan kutunggu sampai busmu datang.”

Tak lama setelah meninggalkan restoran, bus yang akan digunakan Se Kyoung sampai di halte yang terletak tidak terlalu jauh dari restoran.

“Oppa, gomawoyo. Lain kali aku yang traktir, ya!” ucap Se Kyoung sambil membungkukkan badannya sebelum ia masuk ke bus.

Baekhyun melambaikan tangannya pada Se Kyoung yang sudah masuk ke dalam bus lalu berjalan ke mobilnya setelah bus itu pergi.

Di tengah-tengah perjalanan Se Kyoung terkena macet, macet yang sama sekali tidak bergerak. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi asistennya.

“Ye Rin-ah, kau masih di kantor? Ada apa tadi menghubungiku?”

“Eonni, aku hanya ingin memberitahumu kalau Kim Han Se pemilik bangunan bekas yang akan kau beli di Gangnam datang..”

“Mwo?!” seru Se Kyoung terkejut yang sontak langsung berdiri dari duduknya. Seketika para penumpang lain langsung memperhatikannya. Ia yang malu segera menundukkan kepalanya berlkali-kali meminta maaf karena telah membuat keributan.

“Ye, Tuan Kim sepertinya mau dengan harga yang kita ajukan waktu itu,” balas Ye Rin dari seberang telepon.

“Jinjjayo? Lalu, apa dia masih di sana?”

Selama beberapa detik Ye Rin terdiam, “Masih, tapi sepertinya ia sudah mulai bosan dan sudah bersiap-siap untuk pergi.”

“Tahan dia Ye Rin! Tahan dia!” lagi-lagi Se Kyoung berseru-seru sampai para penumpang kembali memperhatikannya.

“Ye, eonni, akan aku usahakan,” balas Ye Rin.

Se Kyoung memutuskan teleponnya lalu berdoa agar bus ini akan segera maju dengan kecepatan penuh.

Setelah 15 menit menunggu, bus yang Se Kyoung tumpangi tak kunjung maju. Ia memutuskan turun dan berjalan ke kantornya yang masih berjarak beberapa kilometer itu.

Akhirnya ia tahu apa penyebab macet ini. Kecelakaan kendaraan. Se Kyoung melihat beberapa polisi mengerumuni sebuah mobil yang hampir seluruh bagian depannya hancur.

Se Kyoung yang sedikit penasaran mendekat ke TKP dan melihat mobil sedan meran marun tersebut. Ia merasa bahwa mobil tersebut tidak asing di matanya.

“Sepertinya aku pernah melihat mobil itu, tapi dimana?” gumam Se Kyoung pelan.

Ia melanjutkan langkahnya karena ia pikir kalau mobil seperti itu tidak hanya ada satu di dunia, jadi ia bisa saja melihat mobil itu di jalanan.

Kaki Se Kyoung terus melangkah, namun matanya tak bisa berhenti untuk melihat ke tempat kejadian. Langkahnya melambat saat melihat seorang pria yang sepertinya sang pemilik mobil di gotong ke dalam ambulans.

Se Kyoung benar-benar berhenti sekarang. Ia tahu siapa pemilik mobil itu. Ia tahu dimana ia pernah melihat mobil itu.

Tanpa menghiraukan peringatan orang-orang dan polisi, Se Kyoung lari menembus kerumunan menghampiri mobil ambulans itu.

“Ahgassi, kau tidak seharusnya ada di sini,” tegur salah seorang petugas kepada Se Kyoung.

“Tapi.. aku mengenal lelaki itu!” balas Se Kyoung terdengar sedih.

Petugas tadi memanggil temannya lalu membisikkan sesuatu yang ditanggapi anggukan. “Kau keluarganya?”

Se Kyoung bingung. Ia bukan keluarganya, tapi itu tidak penting. “Ye, aku keluarga dekatnya. Tolong izinkan aku ikut..”

“Baiklah, kau bisa duduk di depan,” ujar petugas itu mengizinkan.

“Apa aku boleh duduk di belakang saja bersamanya?”

Petugas itu menggelengkan kepalanya, “Jwaeseonghamnida, ahgassi, beberapa tenaga medis kami sedang mengurus korban, jadi kami harap Anda bisa menunggu sampai di rumah sakit.”

Se Kyoung mengangguk mengerti lalu masuk ke mobil ambulans tersebut. Selama di perjalanan ia tak henti-hentinya berdoa.

~TBC~

By: tyasung

Hello fellas! Long time no see ;D ini ff perdana saya yang pake cast EXO. Mohon disambut dengan suka cita (?) ya :’) terrimakasih yang udah mau main ke wp yang udah bapuk ini dan baca-baca ff saya *bow* Saya mencoba memperbaiki cara menulis saya. Jika masih ada yang kurang berkenan tolong beri kritik & saran ya ;D Oh iya, ini ff belum ada apa-apanya (?) jadi saya harap para readers mau menunggu dengan setia part 2 dari ff ini~! ;D

5 thoughts on “Accidentally In Love [Part 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s