Unwanted Wedding – Part 3

Unwanted Wedding [Part-3]

 

“Ani, aku adalah kekasih Junho,” jawab Hyo Rin dengan tegas.

Junho segera menghampiri Hyo Rin lalu menariknya untuk keluar.

“Ige mwoya?!” bentak appa tiba-tiba sebelum Junho berhasil membawa Hyo Rin keluar rumah.

Aku mengusap punggu appa mencoba menenangkannya, “Appa, ini bukan seperti apa yang appa pikirkan..”

“Aigo..” tiba-tiba appa menjatuhkan tongkatnya dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk sambil memegangi dadanya.

“Appa!” aku berusaha menopang tubuh appa. Air mataku mulai mengalir keluar dari pelupuk mataku.

Junho langsung berlari ke arah kami lalu menggendong appa untuk dibawa ke mobil.

“Ahjussi, kau harus tau kebohongan apa yang disimpan anakmu ini!” seru Hyo Rin saat kami melewatinya di depan pintu.

Aku berhenti di depannya. “Aku tidak tahu masalah apa yang telah ku perbuat hingga kau menjadi sangat membenciku, tapi tolong, jangan libatkan ayahku..” ucapku dengan tangisan yang masih belum berhenti.

“Hae Rim-ssi, masuklah ke mobil dan temani abeoji sampai rumah sakit. Aku akan menyusul,” perintah Junho yang telah kembali dari mobil appa. Aku mengangguk lalu langsung berjalan menuju mobil.

***

Junho’s POV

“Kau bukan Hyo Rin yang dulu,” ucapku tegas.

“Menurutmu, siapa yang telah merubahku menjadi seperti ini?” balas Hyo Rin terdengar kesal.

Aku menghela nafasku berat. “Dari awal kau sudah menyetujui perjodohanku ini, kan?”

“Iya, sampai wanita itu mulai menggodamu!” bentak Hyo Rin.

“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?!”

Hyo Rin merogoh saku mantelnya lalu mengeluarkan beberapa lembar foto. “Kau lihat ini!”

Aku benar-benar terkejut saat melihat foto-foto tersebut. Aku melihat gambar diriku dan Hae Rim yang baru saja keluar dari restoran sedang bergenggaman tangan.

“Darimana kau dapatkan foto ini?” tanyaku masih terkejut.

“Mantan kekasih Hae Rim, Lee Jinki. Kau mengenalnya kan?” jawab Hyo Rin dengan nada merendahkan.

Aku menatapnya bingung, “Jadi kau percaya dengan pria itu?”

Hyo Rin mengangguk, “Dia punya buktinya, apa salahnya kalau aku percaya?”

“Cih, kau bisa semudah itu percaya dengannya tanpa tahu kejadian sebenarnya,” aku benar-benar kecewa dengannya.

“Listen, aku akan lakukan apapun untuk mempertahankanmu, Junho. Neol jeongmal saranghae..” ujar Hyo Rin bersungguh-sungguh.

Lagi-lagi aku menghela nafas berat, “Tapi tidak seperti ini, Hyo Rin. Aku benar-benar kecewa padamu. Kau harusnya pastikan kebenaran berita itu dulu. Hae Rim adalah wanita yang baik..”

“Kau tau? Aku merasa kau berubah semenjak kau menikah dengannya..”

“Mwo?”

Hyo Rin mengangguk pelan, “Aku merasa kau jauh dariku dan sekarang, kau malah memihak wanita itu daripada aku. Hal inilah yang membuatku membenci wanita itu!”

“Hyo Rin-ah, aku rasa aku belum cukup memahamimu. Aku mencintai Hyo Rin yang dulu, Hyo Rin yang selalu menerimaku apa adanya, Hyo Rin yang tidak pernah membenci sesuatu karena hal sepele seperti ini.”

Ia tertunduk, bahunya mulai bergetar. Aku tahu ia menangis.

“Sudahlah, Hyo Rin. Entah sudah dari kapan aku memintamu untuk meninggalkanku. Banyak namja lain yang bisa membuatmu lebih bahagia daripada aku yang selalu membuatmu menangis seperti ini,” ucapku merasa lelah.

Jujur saja, hal ini bukanlah kali pertama Hyo Rin ‘melabrak’ perempuan yang dekat denganku. Entah kenapa Hyo Rin menjadi overprotektif terhadapku –yang dia tahu kalau aku tak bisa jauh dari wanita.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Aku menghela nafasku lalu mengusap kepalanya pelan. “Kau masih bisa menghubungiku kapan saja dan bercerita apa saja. Aku akan sebisa mungkin mendengarkannya sebagai sahabat.”

Hyo Rin mengangkat kepalanya, lalu menatapku dengan tatapan sedih. “Jeongmal?”

“Ye,” ucapku seraya menganggukkan kepalaku. “Ah, aku harus ke rumah sakit. Kau pulanglah, hati-hati di jalan..” lanjutku lalu mengusap kepalanya lagi.

Setelah memastikan Hyo Rin pulang, aku langsung mengendarai mobilku ke rumah sakit.

***

“Junho-ssi..” panggil Hae Rim lirih. Matanya sembab dan suaranya serak karena menangis.

Aku segera berlari kecil menghampirinya, “Bagaimana keadaan abeoji?”

“Kondisinya sudah stabil, hanya saja.. appa meminta kita untuk bercerai,” jawabnya.

“B-bercerai?” ucapku tak bisa menyembunyikan rasa terkejutku.

Hae Rim mengangguk pelan, “Ne.. ah, bagaimana dengan Hyo Rin?”

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal lalu duduk di salah satu kursi kosong di ruang tunggu. “Kami sudah putus.”

“Aigo.. ba—“

“Ceritanya panjang,” potongku.

“Kim Hae Rim-ssi,” tiba-tiba seorang suster menghampiri kami. “Ayah anda ingin bertemu,” lanjutnya.

Hae Rim mengangguk lalu menatapku. “Kau mau ikut?”

Aku merasa sedikit ragu sejenak, tapi segera berdiri lalu menggenggam tangan ‘istriku’ ini.

***

Hae Rim’s POV

Jujur saja, lagi-lagi genggaman tangannya membuatku nyaman. Aku merasa lebih kuat untuk menghadapi appa.

Kami memasuki kamar appa. Junho langsung berlutut di samping tempat tidurnya. “Abeoji,” panggilnya.

“Jangan panggil aku abeoji lagi. Aku ingin kalian cepat berpisah. Aku kecewa padamu yang telah merusak kepercayaanku untuk menjaga Hae Rim,” balas appa tanpa menoleh ke arah Junho sedikitpun.

“Appa, ini semua bukan hanya salah Junho. Aku pun salah. Apa appa masih belum percaya dengan pengakuanku?” Ya, aku memang sudah menjelaskan semuanya kepada appa.

Junho menatapku sedikit terkejut. “Abeoji, aku—“

“Berhenti memanggilku abeoji! Cepat hubungi ayahmu, aku ingin kalian segera mengurus perceraian kalian!” bentak appa yang disudahi dengan batuk beberapa kali. Aku segera menghampiri appa, khawatir.

***

Sebulan kemudian akhirnya proses perceraian kami selesai. Kami tidak bisa melawan perintah appa. Walaupun ayah Junho sempat tak menerima keputusan sepihak ini, akhirnya ia menurutinya karena aku memohon demi kesehatan appa yang menurun sejak kejadian hari itu.

“Bagaimana kabarmu, Hae Rim-ah?” tanya seorang wanita paruh baya lalu memelukku. Wanita ini adalah ibu dari Junho atau mantan mertuaku. Ya, hubunganku dengan mantan mertuaku ini cukup baik. Hampir setiap minggu eomma –biasa aku memanggilnya—mengunjungiku ke rumahku selama proses perceraian aku dan Junho. Ia tak bosan untuk menyemangatiku agar tetap kuat dan sabar.

Aku tersenyum lalu membalas pelukannya, “Kabarku baik, eomma..”

“Haah.. sampai sekarang aku masih belum bisa percaya kalau kau telah bercerai dengan Junho. Aku harap suatu saat nanti kalian bisa kembali rujuk..” ucap eomma sambil tertawa kecil. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.

“Eomma kemari bersama siapa?” tanyaku berharap Junho lah yang mengantarnya.

Eomma melirik ke luar jendela dan saat aku mengikuti pandangannya, tanpa sadar aku tersenyum. Ya, itu Junho. Jujur aku sangat merindukannya.

“Apa kau mau bertemu dengannya? Dia menolak untuk ikut masuk tadi,” tawar eomma padaku yang masih belum berhenti tersenyum.

Senyumku langsung hilang perlahan saat mendengar ‘Dia menolak untuk ikut masuk tadi.’ Dengan pelan aku menggelengkan kepalaku. Aku tak akan memaksanya untuk masuk, sebesar apapun rasa rinduku.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Eomma pamit padaku untuk pulang. Saat aku mengantarnya sampai pintu depan, aku dan Junho tak sengaja bertatap mata. Bibirku lagi-lagi menyunggingkan senyuman yang lalu dibalas olehnya. Aku tahu aku membutuhkannya lebih dari seorang ‘suami.’

***

Kriiing.. Kriing..

“Yeobosseyo?”

“Rim-ah, cepat kemari! Ayahmu.. Ayahmu pingsan!” Yoo Eun ahjumma terdengar sangat panik.

Segera kututup teleponnya dan bergegas berangkat ke rumah appa.

Yoo Eun ahjumma bercerita banyak hal tentang appa yang selama ini sulit makan dan selalu terlihat murung. Aku terkejut mendengarnya, karena selama ini appa tidak pernah mengeluhkan apapun padaku.

Dokter Byun –dokter pribadi appa- keluar dari kamar appa. Ia berdeham lalu berjalan menghampiri kami, “Tuan Kim sebaiknya dibawa ke rumah sakit, kondisi tubuhnya sangatlah lemah. Saya akan sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk mendatangkan ambulans kemari.”

Aku hanya bisa mengangguk singkat lalu berjalan ke kamar appa. Aku berlutut di samping tempat tidur appa, menggenggam tangannya yang terlihat pucat. “Appa wae? Apa yang menjadi beban pikiran appa? Kenapa tak pernah cerita padaku?”

“Hae Rim-ah, ambulans sudah datang..” ujar Yoo Eun ahjumma dari pintu kamar.

***

“Hae Rim-ssi!” seru seseorang saat aku keluar dari kamar rawat appa. Aku menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mendapatkan Junho yang sedang berlari kecil menghampiriku.

“Junho-ssi, sedang apa di rumah sakit?” tanyaku padanya yang masih sedikit mengatur nafasnya.

“Eomma.. eomma diberitahu oleh Yoo Eun ahjumma kalau abeoji kembali masuk rumah sakit..” jawabnya.

Aku mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun.

“Bagaimana keadaan abeoji?”

“Kondisinya sudah mulai stabil, tapi belum sadarkan diri..” jawabku tanpa melihatnya. Jujur saja, aku merasa sedikit salah tingkah di depannya.

“Oh..” balasnya sembari menggaruk pelan tengkuknya. “Apa kau sudah makan malam?” lanjutnya.

Aku menggeleng, memang sedari tadi siang aku sama sekali belum makan apapun.

“Hm, naddo. Kau mau makan apa?”

“Mwo? Ani, tidak usah. Aku sama sekali tidak lapar..” tolakku.

Ia menggeleng terlihat tidak yakin dengan jawabanku. “Sudahlah, aku tahu kau belum makan dari siang tadi. Biar aku yang traktir.”

Lagi-lagi aku menggeleng, “Gomawoyo Junho-ssi, tapi aku tidak mau meninggalkan appa..”

“Benar juga.. baiklah, kita makan di kantin rumah sakit ini saja bagaimana?”

Aku diam untuk beberapa saat, menimbang-nimbang ajakannya sebelum akhirnya mengiyakannya.

“Khajja!”

***

Junho’s POV

Kami sama-sama terdiam. Jujur, aku tak tahu bagaimana membuka pembicaraan kami.

“Hm, Hae Rim-ssi, bagaimana kabarmu?” ucapku akhirnya.

Ia menatapku sejenak, “Kabarku baik. Bagaimana denganmu?”’

Aku mengangguk, “Akupun baik.”

Lagi-lagi keheningan menghampiri kami. Sampai tiba-tiba Hae Rim bertanya, “Bagaimana.. hubunganmu dengan Hyo Rin?”

“Ne? Ah, dia sekarang ada di Cina melanjutkan karir modelingnya.”

“Aniyo, aku bertanya tentang hubungan kalian, bukan ada di mana Hyo Rin sekarang..” ucap Hae Rim sambil tertawa kecil.

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Kami hanya berteman sekarang. Aku rasa kami memang lebih baik begitu.”

Hae Rim mengangguk mengerti lalu kembali makan.

“Kalau kau.. bagaimana dengan Jinki?” tanyaku yang penasaran.

“Hubungan kami baik-baik saja, bahkan lebih baik daripada dulu,” jawabnya tenang.

“Mwo.. apa kalian berpacaran kembali?” entah kenapa rasa penasaranku semakin besar.

Lagi-lagi ia tertawa, “Ani, sama sekali tidak. Aku menganggapnya sebagai kakak..”

“Ah, kenapa kau tidak kembali berpacaran dengannya lagi?” tanyaku lagi.

“Aniyo, wanita itu sedang mengandung anak Jinki.. Ia pasti sangat membutuhkan Jinki,” jelasnya.

Tiba-tiba aku tesedak, “Mw.. mwo? Beraninya dia.. Harusnya aku pukul ia lebih keras waktu itu.”

“Haha, sudahlah, Junho-ssi. Aku sudah tak ada urusan lagi dengannya. Sekarang yang ada dipikiranku hanya appa. Aku ingin ia segera sembuh..” ucap Hae Rim sembari menundukkan kepalanya.

Tanpa sadar tanganku  bergerak meraih tangannya. “Hae Rim-ah, jika aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan menyianyiakanmu.. Sarang—“

“Kim Hae Rim-ssi, Kim Hae Rim-ssi!” seru seorang suster yang berlari kecil menghampiri kami

Hae Rim dengan cepat langsung melepaskan genggaman tanganku dan berdiri dari duduknya.

“Ayah anda.. tiba-tiba keadaanya kritis,” ucap sang suster.

Bisa kulihat dengan jelas kesedihan di wajah Hae Rim. Ia menatapku sejenak lalu berlari keluar kantin dengan diikuti sang suster.

***

Hae Rim’s POV

Air mataku sama sekali tak bisa berhenti mengalir sejak mendengar ucapan dokter sebelum membawa appa ke ruang operasi, “Kemungkinan keberhasilan operasi ini hanya 20%, saya harap anda bisa menerima apapun keputusan akhir nanti.”

“Hae Rim-ah, coba tenangkan dirimu,” Yoo Eun ahjumma tak henti-hentinya mengusap bahuku sambil menenangkanku.

“Minum ini,” ucap Junho sembari menyodorkan sebotol air mineral.

Aku menghapus air mataku lalu menerima minumannya. “Gomawoyo..”

Sesudah menghilangkan rasa hausku, tiba-tiba aku teringat dengan kejadian di kantin rumah sakit tadi. Junho memangilku tidak dengan panggilan formal yang seperti biasa ia ucapkan, dan lagi, apa yang ingin ia katakan tadi?

Tiba-tiba ponsel Junho berdering. “Ah, sebentar,” ucap Junho mengeluarkan ponsel lalu menjawab panggilan dari ponselnya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan singkat.

Tak lama ia mendekat lalu duduk di sampingku. “Hae Rim-ah, barusan eomma memberitahuku kalau ada tamu yang mencariku. Besok aku akan datang lagi. Kau jangan menangis terus, arachi?”

“Arasseo,” jawabku singkat sembari mengucek mataku yang sudah mulai terasa berat.

***

Junho’s POV

DRRT DRRT DRRT DRRT DRRT

Aku membuka mataku lalu meraih ponselku dari meja kecil di samping kasurku. Melihat nama Hae Rim di layar ponselku, aku langsung bangkit dari tidurku dan menjawab telponnya.

Hal pertama yang aku dengar adalah isak tangisnya. “Yeoboseyo, Rim-ah, gwaenchanayo?”

“Ani.. appa.. andwae, andwae..” jawabnya masih terisak.

Aku semakin bingung dibuatnya. “Hae Rim-ah, tunggu aku di rumah sakit. Aku akan segera ke sana,” ucapku lalu memutuskan teleponnya.

Selama di jalan pikiranku tak tenang. Aku terus saja memikirkan semua kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada Hae Rim appa.

Sesampainya di rumah sakit, aku lihat orang-orang bergerombolan berdiri di depan kamar Hae Rim appa dengan menggunakan pakaian hitam. Segera kupecepat langkahku memasuki kamar rawatnya. Benar dugaanku, Hae Rim sedang menangis berlutut di samping jasad ayahnya yang sudah terbujur kaku di atas ranjang.

Aku menghampirinya, “Hae Rim-ah..” panggilku.

“Junho-ssi, appa.. appa sudah meninggalkanku! Apa salahku, Junho-ssi?! Kenapa appa tega meninggalkanku sendirian?!” ucapnya dalam tangisannya yang semakin menjadi-jadi.

Aku benci melihatnya sedih seperti ini. Segera aku tarik tubuhnya lalu ku peluk erat sembari menenangkannya. “Aniyo, kau tidak sendirian, Rim-ah.. kau masih punya Yoo Eun ahjumma yang selalu menjagamu, dan.. aku. Aku akan terus berada di sampingmu, aku tidak akan meninggalkanmu, Rim-ah..”

Isak tangis Hae Rim mulai mereda lalu menatapku dengan mata bengkaknya. “Jinjja?

Aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan pasti. Kali ini aku benar-benar serius untuk menjaganya, bukan sekedar janji yang aku katakan sembarangan seperti dulu.

***

Sudah beberapa minggu belakangan ini aku terus menemani Hae Rim ke makam ayahnya. Aku rasa ia sudah mulai terbiasa dengan kepergian ayahnya.

“Kau senang?” tanyaku saat kami beristirahat di sebuah kedai minum di daerah Lotte World. Aku sengaja mengajaknya kemari setelah berkunjung ke makam. Hari ini tepat sebulan ayahnya meninggal, jadi hari ini aku benar-benar ingin menghiburnya.

“Jeongmal gomawoyo. Aku benar-benar senang hari ini.. ani, tidak hanya hari ini, tapi hari-hari sebelumnya juga..” jawabnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Aku mengusap kepalanya lembut. “Janji adalah janji, agassi. Tidak hanya padamu, aku juga telah berjanji kepada appa mu. Aku akan menjaga putri satu-satunya.”

Ia menatapku heran, “Mwo? Ah, kau pasti bercanda, iya ‘kan?”

“Aniyo, sama sekali tidak,” jawabku sembari tersenyum lebar mencoba meyakinkannya.

Hae Rim tidak membalas perkataanku barusan dan hanya meneguk shojunya sampai habis.

“Kau tahu, barusan aku sedang melamarmu,” ucapku dengan jelas berharap ia menjawabnya kali ini.

Lagi-lagi ia menatapku, “Ne? Tapi, kenapa?”

“Saranghaeyo, Hae Rim-ah. Jeongmal, jeongmal saranghaeyo,” aku bangkit dari duduku lalu berlutut di depannya.

“Mian, aku tidak melakukan persiapan apapun untuk melamarmu hari ini. Cincinpun belum aku siapkan, tapi aku yakin kalau kali ini hatiku siap untuk menjadi suamimu kembali, tentu saja tanpa kontrak apapun. Aku tulus,” jelasku panjang lebar sembari menggenggam tangannya.

Hae Rim menggigit bibir bawahnya menahan senyumannya. Ia membalas genggamanku lalu mulai membuka mulutnya untuk berbicara, “Kurasa aku tidak membutuhkan cincin darimu..” jawabnya membuatku heran.

“..aku masih menyimpan cincin pernikahan kita dulu,” sambungnya sembari mengeluarkan kalung yang berliontin cincin pernikahan kami dari tas tangannya.

Senyuman langsung merekah di wajahku. Aku tak menyangka kalau ia akan menyimpan cincin itu sama sepertiku.

***

Seminggu kemudian, Pemakaman Keluarga Kim, Seoul..

“Appa, kami kemari ingin meminta restu darimu. Aku harap appa bisa merestui pernikahan kami. Kami janji tidak akan ada kepura-puraan kali ini,” ucap Hae Rim di depan makam ayahnya. Aku di sampingnya merangkul bahunya.

Hae Rim meletakkan sebuket bunga di atas batu nisan yang bertuliskan Kim Han Min sebelum aku melangkahkan kakiku maju lalu membungkukkan tubuhku hormat. “Izinkan aku menikahi putrimu untuk yang kedua dan yang terakhir kalinya, aboeji. Aku akan menjaga putrimu lebih dari apapun. Aku mohon, restuilah kami.”

Hae Rim’s POV

“Bagaimana?” tanyaku pada Junho saat sedang fitting gaun pengantinku.

“Noemu yeppeo.. Ani, kau memang selalu cantik di mataku,” jawab Junho dengan senyum manisnya.

Aku menghampirinya lalu memukul pelan bahunya. “Jeongmalyo?”

Ia menganggukkan kepalanya yakin. “Kau tidak hanya akan menjadi ratu sehari saja besok, tapi kau akan selalu menjadi ratu di hatiku.”

***

“Kim Hae Rim, apa kau bersedia menerima Lee Junho sebagai suamimu dan setia bersamanya dalam suka maupun duka sampai ajal memisahkan kalian?” untuk kedua kalinya aku mendengar kalimat ini.

Aku menarik nafas dalam, “Ya, aku bersedia,” jawabku dengan mantap.

Pendeta itu tersenyum, “aku sahkan kalian menjadi sepasang suami istri. Lee Junho-ssi, kau boleh mencium mempelai wanitamu..”

Jujur saja, hal ini bagaikan de ja vu bagiku. Perbedaannya adalah perasaan kami yang sekarang sudah benar-benar bersatu dalam janji sakral pernikahan.

Junho mendekatan wajahnya ke wajahku dan menciumku dengan lembut. Aku membalas ciumannya sembari melingkarkan kedua lenganku di lehernya. Sorak sorai dan tepuk tangan dari para tamu mulai terdengar.

“You’ll be mine, forever, Lee Hae Rim,” bisik Junho saat kami keluar gereja.

Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya lalu mengecup pipinya singkat. Aku sama sekali tidak menyesali pertemuan kami ataupun pernikahan kami sebelumnya, tapi aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya dan menikah dengannya.

*END*

By: tyasung

 

Mian~~ aduuuh malu nih sebagai author paling ngaret sedunia T^T *sujud*

Saya cuma berharap ff ini direspon dengan baik, secara ini ff perdana yang gapake bias saya >///< jadi maaf klo penggambarannya kurang jelas ato sama sekali blur (?)

I love you all my readers, but no silent leader ya! =] thank you for reading and PLEASE, leave your kritik and saran :> *tebar cium*

2 thoughts on “Unwanted Wedding – Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s