[HimRa] How We Met

 

Author: @gildaaa_

Title: Ra-Chan – How We Met

Genre: Romance, Friendship, Family

Main Casts:

  • Choi Yura (can be imagine as YOU ^^)
  • Kim Himchan

Additional Casts:

  • B.A.P members
  • Lee Anhee (Yura’s bestfriend)
  • Choi Seunghyun/T.O.P (Yura’s brother)

Background Songs: Any sweet and mellow songs recommended ^^

Note: Salah satu dari sekian banyak FF fail bikinan saya haha… jadi ceritanya bikin ini tuh pas lagi nunggu ujan reda di McD, sekalian numpang WiFi kkkk~ terciptalah FF ini… kenapa cast nya pake Himchan? Soalnya waktu itu lagi suka banget sama dia, mukanya imut apalagi giginya! FF nya emang nyeritain kejadian dimana Himchan dan Yura ketemuan sampe jadian. Disini Himchan emang sebagai member B.A.P, begitu juga Choi Seunghyun a.k.a T.O.P dan member Super Junior. Oh ya, Yura itu fansnya Eunhyuk /kasih tau aja n_n. buruan dibaca aja yak semoga kalian semua suka! Kalo udah baca tolong tinggalin komen kritik atau saran apapun okeee /lempar Himchan CHECK THIS OUT YOOO~ (tambahan: yang tulisannya miring itu flashback yaaa ^^)

Seoul, 17 Februari 2012

Hujan sudah dari siang mengguyur deras Seoul. Aku yang duduk manis di salah satu kafe kecil di Apgeujong hanya bisa diam dan menikmati dinginnya cuaca sambil beberapa kali menyeruput coklat hangat. Kulirik jam tangan perak di tangan kiriku, jarum pendek menunjukkan angka satu ketika aku sampai di kafe ini namun sampai jarum pendek ke angka tiga pun batang hidungnya belum terlihat. Mungkin kendala hujan menyebabkan ia tidak berani untuk menerobos hujan. Kubuka unlock password dari handphone Samsung Galaxy U hitam milikku dan membaca pesan terakhirnya tadi.

From: My Pink Bunny ♥                                                                                                                

Aku masih latihan. Semoga hujan cepat reda jadi aku bisa menemuimu. Tunggu aku ya :*

Aku tersenyum sedikit. Membaca pesannya lagi membuat niatku untuk menunggunya muncul kembali.

KLINING! Lonceng yang ada di pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yang datang. Sepertinya sepasang kekasih, pikirku. Mereka memakai jaket couple dengan warna sama. Sang yeoja langsung duduk di salah satu kursi kosong sedangkan sang namja menaruh payung yang dipegangnya di dekat pintu lalu segera ke kasir untuk memesan minuman. Melihat mereka, aku teringat masa-masa bertemu dengannya. Waktu itu aku masih kelas 3 SMA.

*flashback ON*

21 Januari 2010..

“Akhirnya selesai!! Melelahkan sekali…” ujarku sambil bersender pada kursi kayu di meja paling belakang kelasku.

“Beginilah kehidupan kelas 3, Ra-ya. Tidak lepas dari yang namanya belajar!” keluh Anhee, sahabatku.

“O, kau benar. Ah ayo kita pulang! Mataku sudah ingin diistirahatkan!” Aku langsung berbenah barang-barangku. Kegendong tas ransel kulis berwarna coklat gelap pemberian Jinki oppa ketika ulang tahunku kemarin. 

“Kau mau bareng? Aku pulang sama Donghae oppa, hehe..” ujar Anhee lagi.

Aku menggeleng. “Tidak, aku naik bis saja. Aku tidak mau jadi obat nyamuk di mobil kalian.” 

“Jinjja? Padahal katanya Eunhyuk oppa ikut.. Ya sudah..” Anhee mengangkat bahunya. Aku diam. Eunhyuk oppa…

Tidak! Aku ingin tidur! “Salam saja untuk myeolchi-ku ya!! Aku duluan, annyeong!!” Aku berlari dari Anhee setelah mencubit pipinya dengan amat keras.

“CHOI YURA!!!” teriak Anhee.

Author POV

Setelah duduk di pojok belakang bis, Yura memasang headset dan menyalakan iPod shuffle miliknya. Beberapa menit kemudian Yura sudah bersama alam mimpinya. Yura merasa sangat lelah, otaknya sudah penuh dengan rumus- rumus matematika dan tentang pelajaran lainnya. Ia tertidur sangat pulas sampai tidak menyadari jika ia melewati halte yang ditujunya.

Yura POV

“Hoam….” Aku tiba-tiba terbangun. iPodku masih menyala namun segera kumatikan. Aku melihat sekeliling bis. Sepi. Kulihat keluar jendela, aku tidak mengenali daerah ini. 

“OMO! Haltenya terlewat ya?, aish…” Aku menghentakkan kakiku kesal.

“Kau tersasar, agashi?” Seorang namja menyapaku. Dia terlihat ikut bingung sama sepertiku.

“O, ani…keunde, halte yang aku tuju sudah terlewat… sepertinya sih.”

“Memang kau mau turun dimana?”

“Sanggok-dong.”

“Wah, ini sudah jauh sekali. Kau terlewat 5 halte dari Sanggok-dong.” ujarnya. Setelah itu dia tertawa sedikit.

“Jinjja? Aish… ottkhe?”

“Kau turun saja di halte berikutnya nanti naik bis nomor 305.””ujar namja tersebut. Aku berbalik memandangnya. Namjanya imut, rambutnya coklat gondrong dan berponi menutupi dahinya. Matanya bulat. Dan hitam. Kulitnya putih bersih tanpa ada noda. Aku terkesima beberapa detik. 

“Eh? Hmm.. 305? Oh, keure…”

Namja itu tersenyum, sangat manis. Mirip kelinci, pikirku. Aku tidak sadar ikut tersenyum juga. “Kam…kamsahamnida…” Entah kenapa aku gugup melihat senyumnya. Aku memang paling tidak tahan melihat senyuman manis. 

“Cheonmane, jangan tersesat lagi!” Godanya. Aku tertawa kecil.

“O, ne. Semoga saja aku tidak ketiduran lagi. Aku masih mengantuk…” keluhku.

“Sekolah melelahkan ya?” tanyanya. 

“Sangat melelahkan. Otakku sudah panas mengingat semua pelajaran.”

“Haha… Seberat itukah pelajarannya?”

“Aku sedang persiapan untuk Ujian Negara, bagaimana tidak lelah? Setiap hari pulang jam segini. Kalau tidak menggunakan transportasi umum sih enak. Belum lagi harus menunggu bis dan berjalan menuju halte. Setelah turun dari halte pun masih harus berjalan sampai rumah.”

Namja itu hanya tertawa. Aku memandangnya dan tak lama ikut tertawa. Sungguh bodoh. Padahal kami tidak saling kenal tapi aku sudah mengeluh tentang ini itu kepadanya. Kebiasaanku sih untuk selalu bercerita apa yang aku rasakan kepada semua orang. 

”Ujian Negara…aku merasakannnya dua tahun kemarin…” ujar namja tersebut.

“O? Kau sudah lulus? Ujian Negara seperti apa? Susah ya?”

Namja itu memandangku sebentar, kemudian tersenyum lagi. “Kalau kau belajar dengan giat pasti bisa, makanya semangat!”

Seketika aku mendapatkan sebuah dorongan untuk belajar. Aku tersenyum manis menatapnya dan mengangguk semangat. “O! Arraseo!”

“Himchan.” Dia mengulurkan tangannya ke arahku.

Aku membalas uluran tangannya dengan gugup. “Eum.. Yura.”

“Senang berkenalan denganmu, Yura-ssi.”

“Ne, senang berkenalan denganmu juga, Himchan-ssi.” Himchan. Nama yang lucu, seperti orangnya. 

“Eh, eum… Kau bisa turun disini. Nanti kau menyebrang dan naik bus nomor 305.” ujarnya. Terlihat rona kemerahan di wajahnya ketika aku tersenyum. 

“O, arraseo. Kamsahamnida, Himchan-ssi!” Aku memencet bel tanda akan turun. Aku berbalik lagi dan membungkuk kepada Himchan.

“Hati-hati, Yura-ssi!”

*flashback OFF*

Drrt.. Drrt.. 

Getaran handphoneku membuat lamunanku membuyar seketika. Aku beralih mengambil handphone yang ada di saku jaket hitamku.

From: My Pink Bunny ♥                                                                                                             

Sayang, hujannya tidak mau reda T.T kau masih disana kan? T.T 

To: My Pink Bunny ♥

Masih, ya tunggu sampai reda saja, sayang. Aku juga menunggu disini.

From: My Pink Bunny ♥                                                                                                             

Semoga bisa bertemu :*

Aku tersenyum lagi. Dia kadang bisa sangat romantis tapi bisa juga sangat jahil.

*flashback ON*

23 Maret 2010..

“Kita bertemu lagi, Yura-ssi.”

 Aku sedang duduk ditaman sambil menikmati ice chocolate-ku. Aku mendongkak. Dia! Dia yang di bis waktu itu. Ah… Aku lupa siapa namanya! ><

“O.. Eum.. Ne…” ujarku, berusaha mengingat siapa namanya.

“Jangan bilang kau lupa siapa aku?” Dia langsung duduk di sebelahku, memandangku intens. Darah langsung berdesir menuju bagian atas dari tubuhku. Jantungku langsung memompa darah sebanyak mungkin sehingga ia berdetak lebih kencang. Nafasku tercekat ketika mataku bertatapan dengan matanya. Wajahku langsung terasa panas. Otakku tidak bisa berpikir jernih. 

“Ya! Kau lupa denganku? Ya…!” Dia membuyarkan lamunanku dengan lambaian tangannya di wajahku. Wajahnya terlihat sedikit kesal namun tersirat kekecewaan juga. 

“Eum… Eum… Aku hanya lupa namamu… Mianhae…”

“Jinjja? Ya…! Kita berkenalan di bis, aku membantumu pulang, kau lupa?” 

“Aku ingat! Tapi aku lupa namamu!” ujarku membela diri. 

Namja itu mendengus kesal. Sepertinya ia tidak percaya aku melupakannya. Tapi aku hanya lupa namanya saja! Wajahnya aku ingat jelas, senyumnya apalagi. Seketika wajahku memanas lagi. Kutepuk kedua pipiku agar tidak terlalu terlihat.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“Ti..tidak apa-apa…” jawabku. 

Dia langsung menarik tanganku. Aku tidak bisa menolak karena ia mengenggamku dengan sangat erat. “Sebagai hukuman kau lupa namaku, kau harus menemaniku seharian ini!”

“Mwo? Ya!!” Aku mencoba memberontak namun tidak berhasil. Dia terus menyeretku entah kemana. Tapi jujur, aku senang. Cuma aku berusaha menahan senyumku agar tidak ketahuan olehnya.

“Kau tidak bisa menolak, Yura-ssi.” ucapnya tajam.

Kami berjalan-jalan di sekitar Myeongdong. Keluar masuk dari toko satu ke toko yang lain. Dia tidak berhenti membuatku tertawa. Mulai dari mengeluarkan obrolan-obrolan konyol, tingkah lakunya yang seperti anak kecil, cara tertawanya yang ikut mengundang tawaku. Kami bersenang-senang seharian itu. Dia membelikanku bando dengan telinga kelinci berwarna pink dan menyuruhku memakainya selama kami jalan-jalan. Seharian itu aku melupakan tentang semua kepenatan selama hari-hariku di sekolah. 

“Aku ingat kau siapa! Himchan kan?” Tiba-tiba saja aku ingat namanya. Dia langsung tersenyum senang dan mengacak-acak rambutku. Aku bergidik imut. 

“Baguslah. Ingat terus namaku, ara?” perintahnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Mau pulang? Sudah sore loh..”

“O. Eum, keure…” ujarku. Sebenarnya aku masih ingin bersamanya. Entahlah, dia membuatku nyaman dan senang. 

“Rumahmu di Sanggok-dong kan? Ayo kuantar supaya kau tidak tersesat lagi.” sindirnya. Aku memukul lengannya pelan.

Kami berjalan bersama menuju halte. Tidak ada percakapan selama itu. Baik aku atau dia hanya diam dan terus berjalan. Begitu juga ketika di bis. Aku asyik memandang keluar jendela sedang dia hanya diam. Sampai depan rumahku, aku membungkuk berterima kasih kepadanya. Dia sepertinya ingin berbicara sesuatu namun takut.

“Yura-ssi, eum… Ini untukmu.” Dia mengeluarkan boneka kelinci kecil dari saku sweaternya. “Aku melihat kau memperhatikan boneka ini, kupikir kau menyukainya jadi kubelikan untukmu.” ujarnya.

Aku tersenyum senang. Boneka kelinci itu memang aku incar, bentuknya kecil dan lucu. Aku tidak tau kalau dia memperhatikanku. “Kam..kamsahamnida, Himchan-ssi.” Aku menerima boneka tersebut. 

Dia menggaruk bagian belakang kepalanya. “Err… Aku punya satu permintaan lagi, Yura-ssi.” 

“Apa? Katakan saja.” ujarku.

“Eum…boleh….aku minta…nomormu?” Kali ini dia memegang tengkuknya dan tersenyum malu-malu. Tak lama kemudian dia mengeluarkan handphonenya setelah aku mengangguk dan menyerahkannya kepadaku. Segera kuketik nomorku dan kukembalikan handphonenya. Dia terlihat menyimpan nomorku terlebih dahulu lalu mencoba menatapku. “Go..gomawo.”

Aku mengangguk. Dia menyuruhku masuk karena hawa malam tidak bagus untuk kulit, ujarnya. Aku menurut. Aku membungkuk sekali lagi dan melambaikan tangan kearahnya sambil masuk ke dalam pintu apartemenku. Setelah masuk, aku berbalik lagi dan kembali melambaikan tangan. Dia membalas lalu pelan-pelan ia berjalan menjauh dari apartemenku. Aku menunggunya sampai ia hilang dari penglihatan dan aku langsung menuju ke kamarku sendiri. 

Semenjak itu, kami jadi lebih sering berhubungan, baik melalui sms, telfon, atau terkadang bertemu langsung. Aku merasakan jika dia selalu memberiku perhatian. Tidak kupungkiri, aku menyukainya semenjak pertama kali jalan dengannya. Dia selalu membuatku tertawa, dia baik dan perhatian. Sangat amat mendekati tipe namja idealku. Beberapa hari ini kami menjadi lebih dekat, dia sering mengajakku pergi. Entah itu makan siang atau hanya jalan-jalan sore. Setiap aku sedang bersamanya, yang kurasakan adalah perasaan nyaman dan terlindungi. Perasaan itu yang tidak pernah kurasakan ketika bersama namja lain selain Himchan dan oppaku sendiri, Seunghyun. 

*flashback OFF*

CTAR!! Sebuah kilatan terlihat jelas di langit dan mengundang suara petir yang besar. Sebagian pengunjung kafe terlihat kaget termasuk aku. Aku memandang lagi keluar. Hujan tidak berhenti, malah semakin deras. Aku mulai bosan menunggu. Kulirik jam, sudah jam tiga lewat.

To: My Pink Bunny ♥

Hujan terus T.T

From: My Pink Bunny ♥                                                                                                             

Tunggu sebentar, aku sedang cari akal untuk kesana.

Kuputuskan untuk menunggu lagi. Kulipat tanganku di meja untuk memangku daguku. Sebuah kotak berukuran medium berwarna pink langsung menyita penglihatanku. Terbayang senyumnya ketika aku memandang kotak tersebut.

“Kapan kau datang, sih?” ujarku.

*flashback ON*

6 April 2010..

“Yura-ah, bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan.” tanyanya di telfon ketika aku baru keluar kelas.

“Jigeum? Dimana?”

“Kafe biasa, ya? Bisa kan?” tanyanya lagi.

“O, arraseo. Sekarang kah?”

“Ne, sekarang. Aku sudah di kafe.” ujarnya.

“Arraseo, aku kesana sekarang. Annyeong.”

“Annyeong.”

“Eiyy, mau bertemu siapa?” tanya Anhee.

“Teman, sekalian makan siang mungkin. Wae? Kau tidak boleh ikut!” pantangku.

“Siapa juga…. Aku mau ketemu Donghae oppa, weeek!” Anhee mehrong dengan muka sok imutnya kepadaku. Ingin rasanya aku menonjok hidungnya (¬,¬) 

“Bilang ke Hae oppa aku titip salam untuk myeolchi-ku ya!!!” Aku berlari lagi dan segera menuju kafe biasa aku dan Himchan bertemu.

Tak lebih dari 20 menit akhirnya aku sampai ke kafe tersebut. Begitu masuk, kulihat dirinya sudah duduk di tempat biasa kami suka duduk sambil memain-mainkan tangannya. Raut mukanya terlihat gugup. Beberapa kali ia menggigit bibir bawahnya.

“Annyeong.” sapaku. Dia mendongkak kaget. Apa dia sedang melamun?

“O! Annyeong! Du…duduk, Ra-ya.” Dia menunjuk kursi di hadapannya. Aku duduk dan memandangnya. 

“Ada apa?”

“O…eum….kau mau minum apa?” tawarnya.

“Aku sudah pesan minum, kau tidak melihatku datang?”

“Jinjja? O….keure…”

“Kau mau ngomong apa?”

Dia diam. Raut mukanya terlihat gugup menjadi semakin gugup. Dia berkali-kali gagal mencoba berbicara kepadaku. Aku tertawa geli melihatnya. “Kau kenapa, Channie?” Aku memanggilnya dengan sapaan dari teman-temannya.

“Nan choayo.” ujarnya. Pendek, singkat, dan jelas.

“Mw…mwo?”

“Ya! Masa aku harus mengulangnya?!” Dia menutup mukanya, sepertinya malu.

Kini giliran aku yang gugup. Aku tidak berani menatap wajahnya. Sepertinya ia sedang menatapku, sih. Kami sama-sama diam. Aku yang tidak tau harus berbicara apa dan Himchan yang (sepertinya) masih memperhatikanku. Ketika pelayan datang mengantarkan minumanku, aku langsung mengambilnya dan meminumnya sampai setengah gelas. 

“Y… Ya… Kau mau diam saja?” ujarnya. 

“Aku harus bilang apa?” tanyaku.

“Te…tentang perasaanmu…tentu saja…” Aku mendongkak sedikit, Himchan menggaruk bagian belakang rambutnya. 

“O…eum…” Apa yang harus kukatakan?! Haruskah aku membalas perasaannya? Atau menolaknya? Aku merasa nyaman dengannya, dia selalu bisa membuatku tersenyum. Selalu membuatku senang selama di dekatnya. Apa aku melihatnya sebagai oppaku? Tidak! Aku melihatnya sebagai seorang namja! Bahkan aku tidak memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’. Tapi terkadang ia bertindak sebagai seorang kakak dihadapanku. Aish… Ottokhe?!

“Ja…jadi?” tanyanya lagi.

“……..” Aku masih diam. Dia masih menunggu jawabanku. “Na…nado.”

Aku memberanikan menatap wajahnya dan berkata ‘nado’. Ya, aku menyukainya juga.

Kali ini dia yang terlihat kaget dan membuka mulutnya selebar mungkin. Matanya berkedip-kedip tidak percaya. Dia diam dalam pose seperti itu selama beberapa detik.

“YA! Jangan memperlihatkanku wajahmu yang seperti itu! Jelek!” Aku memukul bahunya pelan. Dia refleks memegang bahunya dan kemudian tersenyum.

“Neon… jeongmal nanreul choayo? Jinjja?” tanyanya lagi. (Kamu beneran suka sama aku? Bener?)

Aku memukulnya lagi di tempat yang sama. “Haruskah aku mengulanginya?!” bentakku.

Dia tiba-tiba tertawa lepas. Diacak-acaknya rambutku. Wajahnya tersirat kelegaan dan rasa bahagia. Dia terus memandangku sambil terus tersenyum, memperlihatkan gigi kelincinya.

“Berhenti menatapku, Himchan-ssi.” Aku mendorong pipinya agar berhenti menatapku.

“Ara, ara.” Dia masih mengelus-elus rambutku. “Gomawo.”

Aku mengangguk pelan sambil menghabiskan minumanku. Setelah itu dia mengajakku pergi dari kafe itu. Lagipula hari sudah hampir gelap. Selama jalan, kami masih diam. Sama-sama merasa canggung.

*flashback OFF*

KLINING! Untuk kesekian kalinya lonceng kafe membuyarkan lamunanku. Itu dia, namja yang aku tunggu-tunggu. Dia mengeluarkan kedua tangannya dari saku jaket dan membetulkan letak poninya. Dasar namja centil, batinku. Lalu dia melihat sekitar kafe mungkin untuk mencariku. Dia langsung melambaikan tangannya ketika melihatku dan langsung menghampiri mejaku.

“Aku menerobos hujan karena takut kau marah menungguku terlalu lama.” ujarnya. Aku tersenyum manis dan menepuk-nepuk sofa sebelahku.

“Gwenchanha.” Aku memandangnya, intens. Dia balik menatapku. Dia kekasihku yang bisa merangkap sebagai kakakku dan juga temanku. Dia Kim Himchan. He’s my Pink Bunny. ♥

*epilog*

“Hangat?” Dia hanya mengangguk, dinaikkannya lagi syal merah itu menutup mulut dan hidungnya. Terlihat matanya menyipit karena senyuman yang dibuatnya untukku. Dirangkul lagi bahuku agar aku merapat ke tubuhnya. Rambut pirangnya tertutupi oleh beanie berwarna senada dengan syal yang dipakainya. Selama jalan, kami bergandengan tangan. Seakan dia tidak mau melepaskannya.

“Jadi semua ini kau yang merajutnya?” tanyanya.

“Keurom. Aku…sampai tidak tidur 3 hari kemarin untuk menyelesaikan beanie-nya.”

“Jinjja? Aigoo… Tapi pacarku tidak sakit karena ini semua kan?” Dia mendekatkan wajahnya sehingga dahi kami bertemu.

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Tidak, aku kan kuat.” Ujarku sambil mehrong kearahnya.

Dia mengecup bibirku sekilas. Aku balas mengecupnya singkat juga. Dia mengecup bibirku lagi. Aku mendorongnya pelan, malu. Dia mencubit pipiku yang aku yakin terdapat rona kemerahan disitu. Untung jalanan hari ini tidak begitu ramai. Dia menggandeng tanganku dan kembali mengecup bibirku, lebih lama dari kecupan sebelumnya.

“Ya! Kami masih dibawah umur! Hyung!!” kami berdua refleks berbalik ke sumber suara. Terlihat semua member B.A.P berdiri di belakang kami. Semuanya menutup matanya kecuali Yongguk oppa.

“Ya!! Kalian membuntutiku?!” tanya Himchan. Tak urung dia menghampiri mereka dan menjitak pelan kepala para dongsaengnya.

Zelo mengelus kepalanya yang terkena jitakan pelan Himchan. “Hyung, sakit! Siapa juga yang membuntutimu, kami kan ingin bertemu Yura noona!” ujarnya seperti anak kecil.

Mereka semua serentak membungkuk kepadaku, aku langsung balas membungkuk dan menghampiri mereka. “Annyeong!”

“Noona! Bogoshippo!” ujar Jongup dan segera berlari kearahku.

Aku hanya tertawa kecil. Himchan yang melihat Jongup hanya tertawa kecil dan mengacak-acak rambut dongsaengnya itu. Tak urung kami lalu pergi bersama-sama dengan para member.

-kkeut-

HOW? Jelek? Bagus? Biasa aja? Gak dapet feelnya ya? Huhu… masih belajar nulis ff untuk kesekian kalinya, dan kali ini Himchan sedikit sial jadi tokoh percobaan ff fail saya wkwk~ kenapa ya mood bikin ff itu hilang-timbul -__- apa emang saya yang labil gonta ganti tokohnya m0l0 hahaha… eniwei, kalo sudah baca tolong ditulis kritik dan sarannya biar saya juga bisa mengkoreksi tulisan saya sendiri… thanks for all of you who have read this fail-fan-fiction! Hehe… /lempar bias/ padahal gak yakin ada yang baca… udah deh, RCL are ♥ THANKYU!! :*

5 thoughts on “[HimRa] How We Met

  1. hai gil (^ω^)/ aku udah baca FFnya
    gantian ya sekarang si Yura yang nungguin Himchan hihi
    FFnya bagus kook. lanjutkan membuat FF!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s