Unwanted Wedding – Part 1

Seoul, South Korea

May 23, 2010 @ 8.00 KST

Seorang gadis berpostur tubuh tinggi, berambut panjang ikal yang digulung sedemikian rupa dengan beberapa hiasan rambut berbentuk bunga terpasang indah di rambutnya sedang berdiri menatap lurus ke arah cermin yang ada di depannya.

“Haah.. Apa aku harus senang hari ini?” keluh gadis itu sambil masih menatap pantulan dirinya yang sedang mengenakan satu stel gaun pengantin putih di cermin.

Gadis itu terus berdiri di sana sampai seorang wanita paruh baya datang memanggilnya untuk segera memasuki gereja. Ya, hari ini adalah hari pernikahannya.

“Ahjumma, aku.. tidak yakin dengan apa yang aku lakukan..” ucap gadis itu diperjalanan menuju gereja.

Wanita itu meraih tangan sang gadis, menenangkannya. “Hae Rim-ah, aku pun tidak bisa menilai benar atau salahnya, tapi aku yakin, kau bisa menjalaninya. Aku tahu kau adalah gadis yang kuat. Paling tidak, pernikahan ini bisa membahagiakan ayahmu.”

Perkataan bibinya barusan sedikit membuatnya tersadar. Tanggung jawabnya sebagai anak semata wayang untuk membahagiakan ayahnya yang beberapa minggu kemarin baru saja divonis menderita kanker paru-paru stadium 2 dan diperkirakan hanya akan hidup selama satu tahun lagi. Kim Hae Rim, gadis berumur 23 tahun ini mau tak mau harus menjalani pernikahan ini atas permintaan ayahnya.

***

Saat Hae Rim dan Kim Han Min, ayahnya, memasuki pintu gereja, para tamu yang hadir dengan serentak langsung menolehkan kepala mereka untuk melihat sang mempelai wanita.

Jantungnya terus berdetak dengan cepat, mengingat sebuah peristiwa paling penting dalam hidupnya akan ia lakukan dengan seseorang yang baru saja ia kenal selama kurang lebih 2 minggu. Dalam hati ia terus bergumam untuk menguatkan dirinya sambil menggenggam kuat sebuket bunga di tangannya.

Hae Rim menatap lurus kearah altar dan melihat sosok seorang pria yang memunggunginya disana seakan tak mau melihat kearahnya. Lee Junho, calon suaminya.

Ia sangat ingin lari dari tempat ini kalau bisa. Berharap kekasihnya datang untuk membawanya pergi dari sini. Ya, Hae Rim sudah mempunyai seorang kekasih yang bernama Lee Jinki. Memang bukan seorang pria yang sepantar dengan Junho, tapi Hae Rim sangat mencintai pria yang sudah bersamanya selama 9 bulan belakangan.

***

Hae Rim’s POV

Sesampainya di altar namja ini tetap sama sekali tak menggerakkan kepalanya untuk melihatku. Sedikit kesal memang, tapi untuk apa aku memikirkan hal itu, tugasku hanya menjalankan pernikahan ini.

Aku dan Junho sudah membuat perjanjian sebelum kami menikah. Kami yang sama-sama melakukan pernikahan ini dengan terpaksa, sama sekali tidak boleh mengurusi urusan pribadi pasangan, aku setuju. Dua hari sebelum membuat perjanjian ini aku dengar Junho juga sudah mempunyai yoejachingu, jadi kami seimbang.

Junho mengucapkan sumpah sehidup semati dengan lancar dan tegas. Sang pendeta mengangguk pelan lalu menatapku. Entah kenapa aku reflek menundukkan kepalaku seakan takut untuk mengucapkan sepatah katapun.

“Kim Hae Rim, apa kau bersedia menerima Lee Junho sebagai suamimu dan setia bersamanya dalam suka maupun duka sampai ajal memisahkan kalian?”

Aku meneguk pelan liurku, mencoba untuk tidak gugup sama sekali. Tiba-tiba aku rasakan Junho menyikut lenganku pelan lalu berbisik, “ppalliwa!”

Sedikit kaget memang dengan perlakuan Junho barusan, tapi ia benar, aku harus segera menyelesaikan pernikahan ini.

“Ya, aku bersedia..” ucapku akhirnya.

Pendeta itu tersenyum, “aku sahkan kalian menjadi sepasang suami istri. Lee Junho-ssi, kau boleh mencium mempelai wanitamu..”

DEG

Kami sama sekali belum membicarakan soal ciuman ini.

Junho menatapku, aku balik menatapnya ragu. Aku tidak mungkin menerima ciumannya! Aku punya namja yang aku cintai di luar sana!

Lagi-lagi Junho membisikkan sesuatu ke telingaku, “pejamkan matamu kalau kau ingin semua ini cepat berakhir.”

Entah kenapa aku tidak bisa berkata apa-apa dan segera memejamkan kedua mataku. Tak lama terasa sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirku tapi hanya sekejap, rasa itu hilang. Ia menciumku.

Para tamu berdiri serempak lalu bertepuk tangan. Aku lihat appa tersenyum di kursi rodanya. Ada rasa senang melihat senyuman itu, paling tidak aku bisa mengabulkan permintaannya dan membuatnya senang.

***

Pesta berakhir pada tepat pukul jam 9 malam. Aku benar-benar sangat lelah. Pura-pura tersenyum bahagia selama pesta berlangsung bukanlah hal yang mudah.

Aku dan Junho langsung menuju salah satu hotel bintang lima yang salah satu kamar VIPnya sudah direservasi untuk bulan madu kami. Sepanjang perjalanan dalam mobil, kami sama-sama diam membisu.

Sesampainya di kamar, Junho langsung melepaskan blazernya lalu melemparnya ke sembarang tempat. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dekat televisi.

Segera kuambil baju ganti dan berlalu ke kamar mandi. Aku ingin segera tidur, karena kami memang tidak akan melakukan ‘hal’ yang biasanya dilakukan oleh sepasang suami istri baru di malam pertama.

Seselesainya aku mandi, Junho masih berbaring di sofa sambil memejamkan kedua matanya. Tak sengaja mataku melihat ke arah jam tangannya. Pukul 22.30! Aku baru ingat kalau drama favoritku diputar dari jam 10 tadi dan akan segera berakhir pada pukul 11 malam ini.

“Dimana remot Tvnya??” gumamku pelan sambil menyidik-nyidik sekitar TV. “Ah, itu dia!” seruku sambil mencoba meraih remot TV yang tertindih bantal sofa yang digunakan Junho untuk tidur.

Jarak wajah kami hanya berjarak 10cm. Aku berusaha secepat mungkin meraih remot TV itu dan jangan sampai usahaku ini membangunkannya.

Ruang TV ini lumayan sempit. Hal ini membuatku harus mengambil remot itu dari belakang sofa ini. “Aish!” seruku kesal karena tanganku tak juga sampai meraih remot itu.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh Junho yang membuka kedua matanya. Sontak aku langsung menegakkan tubuhku dan berbalik. Entah sudah semerah apa wajahku sekarang.

“Yak, apa kau mencoba menciumku barusan?” celetuk Junho yang terdengar sinis.

Aku berbalik kearahnya, “Yak! Kau pikir aku wanita seperti apa?! Cish, besar kepala sekali..”

“Hae Rim-ssi, di kamar ini hanya ada kita berdua.. jadi, kau bisa melakukan apapun tanpa diketahui oleh orang lain, atau mungkin.. kekasihmu?”

“Junho-ssi, bukankah pembicaraan ini sudah di luar dari kesepakatan kita?” kesabaranku sudah mulai berkurang rasanya.

Ia terkekeh pelan mendengar ucapanku barusan, “sebegitu cintanya kah kau dengan namja itu? Ia bahkan sama sekali tak datang dan mencegah pernikahan kita.”

“Bagaimana dengan kekasihmu sendiri, Junho-ssi? Apa ia datang? Apa ia mencegah pernikahan ini?”

Kekehannya barusan menjadi tawa yang lebar. Aku menatapnya heran sekaligus kesal.

Ia menutup bibirnya, menyudahi tawanya. “Aku rasa aku lupa memberitahumu tentang perceraian..” ucapnya. “Ya, aku akan menceraikanmu setelah appa-mu meninggal,” lanjutnya seaakan bisa membaca pikiranku.

Aku memang sama sekali tidak tahu tentang perceraian ini, tapi ia benar. Setelah appa meninggal, pernikahan palsu ini juga sudah tidak ada gunanya lagi.

“Tentu saja setelah bercerai denganmu, aku bebas ingin menikah dengan siapapun, bukan?” ucapnya lagi.

Aku mengangguk pelan menyetujui ucapannya barusan. “Dan, kita akan kembali ke kehidupan kita masing-masing?” tanyaku memastikan.

“Yup, 100 untukmu, agasshi,” jawabnya cepat.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam dan mataku masih saja belum bisa dipejamkan. Kasur berukuran king size yang empuk ini pun sama sekali tak membantuku untuk beristirahat.

Pembicaraan kami tadi yang membuatku tidak bisa tidur seperti ini. Jujur, aku sangat ingin segera berpisah darinya, tapi tentu saja aku sangat tidak ingin appa meninggalkanku. Appa adalah satu-satunya keluarga dekatku yang tersisa setelah eomma meninggalkan kami setahun yang lalu.

Aku putuskan untuk bangun dan beranjak ke dapur untuk meminum segelas air dingin. Aku perlu mendinginkan pikiranku.

Terlihat ada sedikit cahaya di ruang TV, cahaya itu berasal dari laptop yang ternyata milik Junho. Namja itu ternyata sudah kembali tertidur di atas sofa. Kesempatan ini aku gunakan untuk melirik laptop miliknya. Ternyata ia sedang bekerja. “Benar-benar pekerja keras,” ujarku pelan.

Junho terlihat sangat lelah. Mengetahui pekerjaannya sebagai pewaris tunggal perusahaan ayahnya, ia pasti seorang yang sangat sibuk, bahkan di hari pernikahannya ia masih harus bekerja.

***

DRRT DRRT DRRT

Aku terbangun merasakan ponselku bergetar digenggamanku. “Ngh..”

“Jinki..?” gumamku masih belum sadar sepenuhnya.

“Ah!” sadarku. “Yeoboseyo?” ucapku segera setelah menekan tombol hijau di ponselku.

“Rim-ah, bogoshipeoyo~” seketika tubuhku lemas mendengar suara kekasihku yang sudah tak kutemui selama seminggu ini.

“Naddo.. bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja..” jawabnya. “Ah, kapan kau akan pulang? Apa.. dia ada disana, bersamamu?”

Aku tahu yang ia maksud pasti Junho. “Ani, aku baru saja bangun dan tidak tahu dia ada dimana. Aku akan pulang sore ini, jagi..”

“Jinki-ya! Rapat akan segera dimulai!” terdengar seseorang memanggilnya di sana.

Ia berdeham, “Rim-ah, mianhae, aku harus pergi. Aku akan menyambutmu saat kau pulang nanti. Saranghae, Hae Rim-ah~”

“Naddo saranghae, oppa~” jawabku sebelum kumatikan teleponnya.

“Kyaa~” jeritku senang.

“Ya! Ada apa denganmu?” seru Junho dari pintu kamar.

Aku menatapnya malu sambil menutup mulutku dengan tangan kananku. Aku sangat senang pagi ini.

“Apa reaksimu selalu seperti itu setiap menerima telepon darinya?” tanya Junho yang masih terlihat terganggu dengan jeritanku tadi.

“Bukan urusanmu, Junho-ssi..” jawabku cuek.

Aku heran dengannya yang selalu saja bertanya tentang hal-hal pribadiku. Padahal ia sendiri yang membuat peraturan untuk tidak mencampuri urusan masing-masing.

***

Seharian ini kami hanya diam di kamar melakukan kesibukan masing-masing sembari menunggu supir yang akan menjemput kami untuk pulang ke rumah. Junho sibuk dengan laptopnya, sedangkan aku sibuk membaca novel-novelku yang sengaja aku bawa kemari.

Tok Tok

Seorang bellboy mengetuk pintu kamar kami untuk memberitahukan kalau jemputan kami sudah datang. Dengan segera kubawa seluruh bawaanku dan pergi meninggalkan kamar.

Selama perjalanan kami berdua masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku masih membaca novelku dengan sepasang headset di telingaku. Junho sibuk dengan iPadnya.

Setelah satu jam berlalu akhirnya kami sampai di rumahku. Orang tua kami sepakat menjadikan kediaman pribadiku ini sebagai tempat tinggal kami karena apartemen milik Junho hanya bisa ditempati oleh satu orang saja.

Untung saja rumahku lumayan besar dengan tiga kamar tidur dengan kamar mandi di masing-masing kamar, aku jadi tidak perlu sering keluar kamar dan bertemu dengannya.

“Appa?” gumamku heran saat melihat appa yang berdiri dengan tongkatnya di depan pintu rumah. Aku menghampirinya dan segera memeluknya.

Appa menghela nafasnya sembari menepuk-nepuk punggungku. “Kau sudah bukan putri kecilku lagi, Hae Rim-ah..”

Aku melepas pelukanku lalu menatapnya sedih, “jujur saja, aku benci dengan perkataan appa barusan. Aku masih sama dengan Hae Rim yang dulu.”

Tatapan appa berpindah dariku ke seorang namja yang sekarang telah berstatus sebagai suamiku. “Junho-ya, aku harap kau bisa menjaga anak perempuanku ini dengan baik..”

Junho mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibirnya, “tentu saja, appa. Aku akan menjaga Hae Rim dengan baik.”

Ia langsung masuk ke rumah setelah menjawab. “Cih, ia mengatakan hal itu seakan-akan ia akan benar-benar menjagaku,” omelku pelan.

Appa pulang setelah makan malam bersama. Ia bertanya banyak hal tentang bulan madu kami dan Junho, seperti biasa, pandai berakting dan juga mengarang cerita sehingga appa percaya.

“Kau tidurlah duluan. Malam ini aku ada janji dengan rekan kerjaku, jadi aku mungkin tidak akan pulang,” ucapnya saat aku sedang membersihkan ruang makan.

Aku hanya bergumam mengiyakan tanpa melihat ke arahnya.

***

Aku terbangun karena mendengar seseorang terbatuk-batuk di luar kamar. Kulihat jam digitalku sudah menunjukkan pukul 6 pagi.

Dengan malas aku bangun lalu berjalan keluar kamar. Betapa terkejutnya aku begitu melihat keadaan ruang tamu yang berantakan. Aku lihat Junho keluar dari kamarnya dengan lemas.

“Ya! Junho-ssi, apa yang kau lakukan semalam di rumahku?!” tanyaku sedikit emosi.

Ia menghentikan langkahnya lalu melrikku, “bukan urusanmu, agassi.”

“Aish! Kau pikir kau bisa seenaknya di rumahku?!” gerutuku kesal.

“Hae Rim-ssi, aku telah menjadi suamimu sejak beberapa hari yang lalu. Bukankah itu berarti bahwa apa yang menjadi milikmu adalah milikku juga?” jawabnya lagi.

Aku menghela nafas kesal akan sikapnya yang seenaknya. “Kenapa kau tidak berpesta di apartemenmu saja?! Kau bahkan bebas melakukan apapun sesukamu disana!”

“Ah, aku lupa memberitahumu. Apartemenku sedang direnovasi dan entah kapan akan selesai..” jawabnya santai sambil kembali melanjutkan langkahnya ke dapur.

Aku hanya bisa tercengang mendengar penjelasannya barusan. Apa aku salah? Aku hanya ingin bisa tenang di rumahku sendiri. Ini bukanlah pernikahan yang aku dambakan sejak dulu. Sama sekali bukan.

***

Hari ini genap satu bulan usia pernikahanku dengan Lee Junho. Kenapa aku ingat? Ya, appa datang dengan besannya untuk merayakan hari yang menurutku –dan juga Junho- tidak berarti.

“Selamat untuk kalian berdua,” ucap ayah mertuaku sambil mengangkat segelas wine untuk bersulang.

Kami bertiga menyambutnya lalu bersulang. Lagi, aku harus terus berpura-pura tersenyum bahagia.

Selama beberapa menit makan malam kami berjalan dengan hening. Kami sama-sama sibuk dengan santap malam kami sampai appa tiba-tiba berkata, “aku sudah sangat tidak sabar untuk menimang cucu pertamaku.”

Ucapan appa barusan sontak membuatku terkejut.

“Ah, kau benar Han Min-ssi, aku pun begitu. Mengingat usia kita yang semakin berkurang..” sahut Soo Joon, ayah mertuaku.

Mendengar hal itu membuatku teringat tentang usia appa yang divonis hanya sampai akhir tahun ini. Aku menundukkan kepalaku. Mataku mulai berair dan tak lama air mata mulai berjatuhan dari kelopak mataku.

“Hae Rim-ah, waeyo?” tanya Junho yang duduk di sebelahku sembari menepuk bahuku.

Aku hanya menggeleng, berusaha menyembunyikan isakkanku. “Jweseonghamnida, aku hanya sedikit tidak enak badan..” ucapku masih sambil menunduk.

“Jinjjayo? Kalau begitu istirahatlah, Hae Rim-ah,” saran appa yang aku tanggapi dengan anggukkan.

“Junho-ya, antar Hae Rim ke kamar,” perintah ayah mertuaku.

Aku dengar Junho bergumam lalu menggandeng lenganku untuk membantuku berdiri. Sesampainya di kamar Junho menutup pintu kamar lalu menghampiriku yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.

“Gwaenchanayo?”

Aku masih terisak tidak menjawab.

“Yak, kau kenapa?” tanya Junho yang terdengar mulai sedikit kesal.

“Appa.. mendengar ucapan ayahmu barusan mengingatkanku akan usia appa yang tak akan lama lagi..” jawabku akhirnya.

Junho menghela nafasnya berat, “lalu kau mau bagaimana? Memang begitu keadaannya.”

“Aku tahu! Hanya saja aku merasa belum bisa membahagiakannya dengan hanya pernikahan ini..”

“Mereka menginginkan anak. Hal yang tidak mungkin kita berikan,” sambungku.

“Bagaimana kalau kau pura-pura hamil, lalu kita pindah ke luar negeri dan kembali setelah tepat 10 bulan? Soal anak, kita bisa mengadopsi satu dari panti asuhan,” jawab Junho dengan santainya.

Aku tercengang dengan idenya yang bisa dibilang ide gila itu. “Mwo..? Kau pikir pindah selama 10 bulan itu hal yang sepele? Bagaimana dengan pekerjaanku disini? Dan soal mengadopsi anak, apa kau pikir mengadopsi anak bisa semudah itu? Micheoso..”

Junho menggaruk kepalanya yang tidak gatal terlihat sedikit frustasi. “Baiklah, masalah ini kita pikirkan  perlahan. Mungkin ayahmu lama kelamaan juga akan mengerti kalau kita masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.”

“Aku harap begitu..” jawabku.

“Kau ingin keluar lagi atau tetap disini?” tanya Junho sembari berjalan kearah pintu.

Aku menggeleng ringan, “kau duluan saja, nanti aku menyusul.”

***

“Jinki-ya..”

“Ne?” jawabnya sambil memainkan rambut ikalku dipangkuannya.

“Aku merasa sangat beruntung mendapatkan pria sepertimu..”

Ia bergerak menegakkan posisi duduknya. “Wae?”

“Yah, kau masih tetap setia bersamaku walaupun ada perjodohan bodoh ini..”

“Hae Rim-ah, aku sudah  mengatakannya padamu, bukan? Selama aku tahu kau hanya mencintaiku dan kau tahu aku hanya mencintaimu, kita pasti akan selalu bersama.”

Jinki menundukkan badannya lalu mengecup keningku yang lalu turun ke bibirku.

“Yak, apa kalian tak bisa melakukannya di tempat lain saja?” sahut Junho yang baru memasuki ruang tengah.

Aku langsung bangkit dari rebahanku lalu membenahi rambutku. “Ini rumahku, Junho-ssi. Aku akan sangat berterimakasih padamu kalau kau tidak mengganggu urusan pribadiku.”

“Dengan senang hati, agassi..” jawabnya sembari pergi meninggalkan ruang tengah.

“Haah.. kadang aku tak mengerti dengannya. Ia yang membuat perjanjian untuk tidak mengganggu urusan pribadi masing-masing, tapi apa sekarang? Setiap kau datang kemari ia selalu datang mengganggu. Tidak bisakah aku menikmati akhir mingguku dengan tenang bersama orang yang aku sayang?” gerutuku kesal.

Jinki tertawa kecil. Aku menatapnya heran, “waeyo?”

“Ani, hanya saja, kalian terlihat sangat akrab. Yah.. memang tidak aneh jika dua orang yang tinggal bersama dalam satu rumah terlihat sangat akrab.”

Aku menghela nafasku sedikit kesal dengan apa yang baru ia ucapkan, “sudah berapa kali aku minta untuk tidak membicarakan hal ini, yeobo?”

Lagi-lagi ia terkekeh. “Maafkan aku, yeobo..”

***

Tiga bulan sudah usia pernikahanku dengan Junho, dan sudah selama sebulan ini sikap Jinki berubah padaku. Ia tidak lagi mengunjungiku setiap akhir minggu, bahkan untuk sekedar minum kopi dengannya pada jam istirahat kantorpun sangat sulit.

Selama sebulan ini kami hanya berhubungan melalui telepon. Ia hanya berbicara seperlunya dan berbagai alasan muncul setiap kali aku tanya ada apa dengannya.

Minggu depan adalah anniversarry kami yang pertama dan aku sama sekali tidak mengerti akan sikapnya yang tiba-tiba berubah.

“Apa kau akan terus diam di sana, agasshi?” celetukkan itu sontak menyadarkanku dari lamunanku barusan.

Aku yang entah dari beberapa jam yang lalu duduk termenung di ayunan halaman belakang rumahku ini langsung beranjak begitu menyadari awan mendung sudah siap menjatuhkan pasukan airnya.

“Untuk apa payung itu? Kau mau kemana?” tanyaku saat melihat sebuah payung di tangan Junho.

Ia berbalik lalu meletakkan payung itu kembali ke keranjangnya, “hanya untuk berjaga-jaga..”

Aku tak menanggapi jawabannya lalu berjalan ke kamarku.

“Yah, agasshi, kau tak mau makan malam?” sahut Junho dari luar kamar.

“Ani, kau duluan saja..” jawabku sedikit mengeraskan suaraku karena jarak dapur dan kamarku tak dekat. Beberapa saat kemudian aku mendengar Junho menggerutu tak jelas di luar.

Pikiranku kembali kepada lamunanku tadi. Apa yang terjadi pada Jinki sehingga sikapnya padaku berubah?

Kuputuskan untuk menghubunginya dan menanyakannya langsung padanya.

“Yeoboseo?” Selama beberapa saat tak terdengar jawaban apapun kecuali suara wanita yang berkata, “nuguya?

Rim-ah, ada apa? Maaf, aku sedang sibuk. Bisa kau hubungi aku lagi besok? Annyeong..

Tuut.. Tuut.. Tuut..

Aku menatap kosong layar ponselku. Ia tak pernah memutuskan teleponku begitu saja sebelumnya. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Siapa wanita itu? Sedang sibuk apa dia dengan wanita itu?

~TBC~

By: tyasung

TT^TT ini draft ff yang udah dari jaman kapan dan baru bisa dilanjutin sekaran setelah lama hiatus (kedua). Kali ini coba-coba cast baru yang bukan bias saya, jadi maafkan kalau kurang menarik ceritanya. Thanks for reading, leave comments please🙂

5 thoughts on “Unwanted Wedding – Part 1

  1. Omo~ Junho semakin jauh fic ini kubaca semakin keliatan aura cakepnya X] (?)

    Tapi di sini mereka saling benci yah? kapan saling sukanya nih ^^

    Gregetan bacanya. dilanjut yah🙂

  2. Hem … Lagi2 pernikahan akibat perjodohan … Menarik …. Eh kok pacar jun ho lom di keluarin?
    Wah … Jin ki dah dpt pacar baru tuh … Gmn ya reaksi hae rim ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s