Un-ordinary School Days [Part 1-2]

Un-ordinary School Days

1st & 2nd Stories : ~Past for Future & Our Promises~

Author : Jeonghaneul

Genre : Horror, Romance *???*

Cast    : Jeong Haneul

Kim Yeonhee

U-know Yunho (TVXQ)

Kim Kangin (Super Junior)

*ps : I’ve post it in my facebook 2 years ago. And this is new edited version.

*Enjoy this story😉

Pagi ini seperti pagi yang biasanya, dingin… Sekarang aku sedang berjalan ke arah halte bus yang biasa, tapi mulai hari ini aku memakai seragam yang berbeda dan punya tempat tujuan tidak biasanya ! Karena mulai hari ini aku akan pergi ke SMA 8puluh *pake PULUH YA!* yang sudah lama aku incar!!😀 *yay!!* Aku pun terus berjalan di sisi kiri jalan yang penuh dengan pepohonan yang rindang dengan wajah yang berbinar~.
“Haneul-ah~!!” hmm…suara itu… pasti dia! Aku pun refleks menoleh ke arah suara yang memanggil namaku. Yap, tebakanku benar, itu suara Kim Kangin, temanku sejak kecil.
“Pagi, Kangiiiin!!” kataku sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar sambil menunggu Kangin menyusulku.😀 Setelah itu kami pun meneruskan perjalanan ke sekolah. Oia, umur kami sama-sama 15 tahun, tapi badannya sudah sebesar anak kuliahan, tinggi badannya 180 cm sedangkan aku hanya 165 cm. *euu….sama-sama bakal dikira anak kuliahan kayanya* hha

“Haneul-ah,, ga nyangka ya kita bisa nepatin janji buat keterima di SMA 8puluh..! Padahal otak kita pas-pasan gini.. hha!” kata Kangin sambil tertawa senang.
“Aku juga ga nyangka otak kita bisa nembus SMA cluster I yang tingkat passing gradenya ke-3 tertinggi! Ternyata beruntung itu lebih utama dari pintar ya! Hha!” balasku sambil tertawa juga.
Jelas kami senang bisa masuk SMA yang peminatnya berjibun, wilayahnya luas dan berfasilitas lengkap *kalo ini sih bneran 8puluh (80 dmanaaa pula)*, pokoknya bagus !

“Tapi konyol juga ya alasan kita mau masuk SMA ini..masih ingat kan?” tambahku.
“Hahahah..! inget lah! Malam itu kan………”

>>>>>>>>>>>>>>>3  tahun yang lalu

*BGM : Suara serangga musim panas*

Siang itu aku baru saja pulang sekolah. “Haneul!! Tadi Appa aku nyembuhin orang aneh lagi!” teriak Kangin dari luar rumahku. Sejak kecil kami memang tertarik pada hal-hal mistis walaupun mungkin tidak akan berani melihat yang aslinya. Aku pun langsung menyuruh Kangin ke kamarku. *masih kecil loh yaaa* Ia pun melanjutkan ceritanya, “Yang tadi dateng anak SMA. Kata Appa, orang itu murid SMA 80 *80= SMA 8puluh,,cape nulis puluh* ke-5 yang datang ke kuil Appa!” katanya penuh semangat. Appa Kangin adalah seorang pendeta yang sering membantu orang-orang yang bermasalah dengan hal-hal yang mistis, makanya Kangin tahu banyak tentang hal-hal itu.

“Waaah?? Berarti di sekolah itu banyak hantunya yah??! Padahal kan sekolah itu bangunannya bagus….” Tanyaku penasaran.

“Orang yang tadi di kakinya ada luka mirip bekas cengkraman tangan gitu, tapi bekasnya udah satu bulan ga ilang-ilang” aku masih memperhatikan dengan serius. “Katanya dia dapet luka itu waktu lagi latihan malem di kolam renang sekolah,, katanya waktu lagi latihan sendiri, dia denger suara serak, sedih bilang ‘tolong…..tolong….’ gitu” suara ‘tolong’ yang dibuat Kangin membuatku mulai merinding. “Terus waktu dia lagi diem, ada suara kcipak kcipuk kaya orang yang lagi berenang, padahal disitu cuma ada dia. Awalnya dia kira itu suara keran bocor, jadi dia berenang lagi. Waktu berenang…….dia ngerasa ada yang narik kakinya..dia kira kakinya kram, pas diliat…………………………………..” Kangin menunda ucapannya sambil mendekatkan badannya ke arahku yang sedang meringkuk kengerian.“ Dan……….. BWHAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” teriaknya di depan mukaku dan otomatis aku pun kaget dan ikut teriak..

“KANGIIIIIIIIIIIIIIIN!!! Jangan bikin kaget gitu!!!!!!!!” teriakku marah sambil melemparkan bantal dan guling ke arahnya. DX

BUK!!! BUK!!! BUK!!!!

“Iya iya maaf!!! Sakit sakiiit!! Mau diterusin ga ceritanyaa?????” teriak Kangin. Aku yang sudah puas memukulnya pun kembali duduk manis sambil mengangguk.

“Aissh,, sakit tauuu~!” eluh Kangin. “Mmmm.. sampe mana tadi….? Oia.. waktu dia ngeliat ke arah kakinya….” Suasana kembali mencekam. “Ada cewe.. kulitnya biru, rambut panjangnya kekibar-kibar di dalem air, matanya putih semua, lagi narik kakinya!!!” *DEG*. Aku merinding membayangkan sosok yang menyeramkan itu. ”Trus dia pingsan deh… hha…!! rame yah, Haneul?”

“Beneran kaya gitu???” tanyaku yang masih merinding.

“Beneraaann!!” tegas Kangin.

“Trus yang empat orang lagi gimana??” tanyaku lagi.

“Nah,, Appa belum ngasih tau,, tapi aku pernah denger katanya arwah-arwah di sekolah itu ada yang kebakar, dibunuh, bunuh diri, kecelakaan, yang gitu lah. Oia, katanya sekolah itu tadinya markas pasukan prajurit perang yang ketauan ama sekutu terus semuanya dibantai sampe ga ada yang tersisa.” Aku tambah merinding. Tapi aku penasaran!!

“Eh,,kesana yu?” ajakku.

“Aku sih mau aja, Neul. Tapi sekolah itu penjagaannya ketat banget. Ga ada yang bisa masuk sana selain warga sekolah itu…” katanya dengan raut muka sedih dan kecewa.

“Hmmm… Gimana kalo kita jadi warga sekolah itu!” usulku.

“Hah? Gimana caranya? Jualan siomay gitu??”

“Bukaaan!! Jualan seblak!! Ya jadi muridnya laah!!” bentakku.

“Hah? Jadi murid yang jualan siomay gitu??”

“Ko siomay lagi sih?!! *Sniff..sniff* Hah.. Pasti Yunho oppa lagi bikin siomay di dapur…” celotehku kesal. Oia, di rumah ini cuma ada aku dan oppa, orangtua kita kerja di luar negeri, karena aku masih kecil, oppa yang memasak buatku.

“Haneul-ah~” panggil Kangin.

“APA?!” bentakku sambil melihar ke arah mata Kangin. Pandangan matanya memelas. Ia terdiam, namun matanya berbicara ‘kasih aku makan~~~’

“Hemeh,,, iya iya,,! Hayu ke bawah! Kita makan!” aku pun mengalah, lagian laper juga sih..

***

Setelah makan siomay bersama Yunho oppa dan Kangin. Tidak terasa, hari pun mulai gelap. Kangin pun berpamitan.

Setelah selesai makan, ternyata oppa sudah menyiapkan air hangat untukku.

“Haneul, airnya udah di kamar mandi ya” kata oppa.

“Iya oppa!”

Setelah mandi dan berpakaian, aku menuju ruang TV. Disana sudah ada oppa yang sedang menonton drama ‘Ji Ran’ favoritnya.  Aku duduk di sebelahnya. Beberapa menit kemudian, telepon rumahku berdering.

“Angkat teleponnya, Neul. Lagi asik nih ceritanya! Hik,,” aku tercengang melihat oppa si gangster kampus menangis melihat adegan sinetron yang hampir membuatku tertawa karena muka artisnya yang naujubilah. Menor.

“Euh,, ia oppa” aku pun segera menghampiri gagang telepon.

”Annyeong?” sapaku.

“Haneul? Ini Kangin…..” suaranya terdengar sangat sedih dan terisak.

“Ada apa?” tanyaku cemas.

“Appa……” suaranya serak dan hampir tak terdengar.

“Appa kenapa?” aku tambah cemas. Oppa jadi ikut mendengarkan.

“……………..” tidak ada jawaban dari seberang, aku tambah cemas.

“Halo? Halo?”

“…………………………emmm…Yoboseo..? ini Haneul ya? Ini ajusshi-nya Kangin ” jawabnya

“Iya, ada apa?” tanyaku lagi.

“Appa Kangin…. meninggal….” DEGG… “Sekarang kita ada di rumah sakit iniitumeous, kalau tidak mengganggu, tolong temani Kangin disini…”

“Ne ajusshi, saya kesana sekarang!”

“Oppaaaaaaa!! Anterin aku ke rumah sakit iniitumeous ! cepetaaaaaaaaaaaan!!!“ teriakku sambil bergegas mencari jaket dan celana panjang dari atas mesin cuci. *bruaaggh! Cring! Brugh!* Saking buru-burunya cucian lain yang ada di atasnya ikut terlempar dan berhamburan dimana-mana. Setelah ketemu, aku langsung memakainya sampai tak sadar kalau jaketnya terbalik…. Aku benar-benar ingin ketemu Kangin sekarang juga!!

“Emangnya ada apa??” tanya oppa sambil menghapus air mata gara-gara sinetron itu.

“Appanya Kangin meninggal !! Cepeeeeetaaaaaaaaaaaaann!!!!” aku berteriak sambil menarik-narik baju oppa. Oppa terdiam sejenak dan langsung mematikan TV dan mengambil kunci mobil SX4 hitamnya yang ditaruh di atas meja makan. *emangnya 3 taun yg lalu udah ada SX4 ya?? Biarlah da ngidam, hha*

“Ayo cepet berangkat!” ajak oppa setengah teriak. Ia terlihat sangat terpukul dan gelagapan. Wajar saja, waktu oppa masih kecil, appa Kangin lah yang menjaganya di kuil selama orang tua kami sibuk bekerja. Beliau sudah kami anggap sebagai ayah sendiri.

Kami pun bergegas masuk ke mobil. Selama perjalanan kami terdiam, sesekali kulihat wajah oppa dari ujung mataku. Matanya sembab. Rambutnya acak-acakan. Sesekali ia menaruh tangan kanannya di pelipis sedangkan tangan kirinya tetap menggenggam kemudi. Perasaannya saat itu pasti benar-benar kacau. Karena terlalu hening, aku menyalakan radio tape di mobil. *cetrek..*

………………………………………………………………………………..

Don’t Say Goodbye don’t leave me now oh~
hamkke nanun yaksogi naegen jeonbuingeoryo

Don’t Say Goodbye
jichin nae haruneun hangsang geudael chatgettjyo
mareuji anhneun saemcheoreom geudael saranghalkkayo
You are my love, you are my soul

Don’t say good bye you are the only one for me

eopseottdeon ilcheoreom oneuri ddo jinamyeon
seoro mameul notji anhgo modu igyeonaegettjyo
Cause you are my everything to me

Ah…kenapa harus lagu DBSK yang ini?! Oppa bisa tambah sedih… Aku bergegas menggerakkan tanganku untuk memindahkan frekuensi radio.

“Jangan dipindahin.” Ucap oppa tegas. Aku terdiam sejenak.

“Tapi….” Ucapku. Oppa hanya terdiam, aku pun membiarkan radio itu tetap menyala. Samar-samar kudengar oppa menghela nafas panjang lalu terisak.

“Oppa……….?” Ucapku pelan. Oppa tidak menjawabku. Pandangannya terus tertuju pada jalan. Wajahnya terlihat sangat sedih. Sangat sedih.

Tak terasa kami sudah sampai di tempat parkir rumah sakit. Begitu masuk kedalam, kami langsung menemukan keluarga Kangin yang sedang berduka. Aku langsung berlari menghampiri Kangin yang sedang terduduk lesu di bangku panjang. Kulihat wajahnya yang tertunduk, wajahnya basah oleh keringat dan air mata.

”Kangin-ah…jangan nangis….” Ucapku sambil berlutut didepannya. Entah kenapa aku yang memintanya untuk berhenti menangis jadi ikut meneteskan air mata di depannya. “Kangin…jangan nangis….” Lanjutku sambil terisak. Aku memegang pipinya dengan kedua tanganku dan menghapus air matanya sambil tersenyum walaupun wajahku pun basah oleh air mata. “Jangan nangis lagi.. Nanti appa Kangin ikut sedih… Jangan nangis ya?”

Ia pun mengangguk pelan lalu menyeka wajahnya yang basah dengan lengan bajunya.

Aku tersenyum lagi sambil berdiri dan duduk di sebelahnya. Kangin sudah berhenti menangis, tapi wajahnya masih sangat muram. Aku berusaha menghiburnya lagi dengan mengusap kepalanya pelan-pelan.

“Makasih, Haneul….” Ucapnya pelan.

“Nee….” Jawabku. Aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Kami terus terdiam. Keluarganya pun terdiam sambil sesekali terisak.

Oppa datang menghampiriku. “Haneul, udah malem… Kita pulang ya?” ajaknya halus.

“Ga mau..! Haneul masih pengen bareng Kangin” tolakku sambil menggenggam tangan Kangin. Oppa terdiam, ia terlihat sedang berpikir keras.

“Emm.. Yunho..” panggil ajusshi Kangin yang sekarang sedang berdiri di belakang oppa. “Kalau tidak keberatan, tolong izinkan Kangin menginap di rumah kalian. Hanya untuk malam ini saja, kasihan dia tidak ada yang jaga. Kami akan sangat sibuk mengurus pemakaman appa-nya. Ibunya masih dalam perjalanan kesini dari luar negeri. Lagipula besok hari libur.” Pintanya.

“Ah, tidak masalah kalau Kangin mau. Dulu juga saya sering dibantu oleh appa Kangin dan keluarga…”

“Nah…Kangin mau kan nginep di rumah aku?” ajakku sambil tetap menggenggam tangannya.

“Mau…” ucapnya pelan. Tapi suaranya terdengar senang. Syukurlah…

“Kalau gitu, kita pulang sekarang ya?” ajak oppa. Kami hanya mengangguk lalu berpamitan dengan keluarga Kangin.

Lagi-lagi perjalanan pulang kami penuh keheningan.

Sesampainya di rumah, oppa langsung membereskan kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan kamarku, karena akan dipakai oleh Kangin. Sejak orang tua kami bekerja di luar negeri, oppa selalu tidur di kamar appa dan omma. Makanya kamarnya tidak terlalu berantakan. *malah kamar omma dan appa yang berantakan sekarang -_-“*

“Nah, Kangin tidur disini ya.. kalau ada apa-apa, oppa di bawah. Ok?” kata oppa.

“Ne hyung, gomawoyo” jawab Kangin. Sepertinya dia sudah tidak terlalu sedih. Aku jadi sedikit lega melihatnya. Oppa pun langsung ke bawah lagi. Aku masih menemani Kangin di kamar oppa. Kangin duduk di ujung tempat tidur. Aku pun mengikuti di sebelahnya. Karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan, aku pun terdiam.

………………………………………………

“Haneul” akhirnya muncul juga suara di tempat ini.

“Ya kangin?” ucapku sambil tersenyum.

“Sebelum appa meninggal………. appa bilang kalau aku harus meneruskan jejak appa sebagai penolong arwah-arwah yang penasaran…………. Terutama yang ada di SMA 80. Aku ga tau ada apa disana……tapi aku bener-bener pengen masuk kesana……” jelas Kangin terputus-putus. Aku masih mendengarkan. “Kamu mau kan nemenin aku kesana?” tanya Kangin padaku.

“Mau…! Tenang aja, Kangin. Kita pasti bisa masuk sma itu! Ya?” jawabku pede *yakin amaaat*

“Makasih ya… “ ucapnya.

“hoaaahm…”

“Eh? Kangin udah ngantuk?” tanyaku. Kangin hanya mengangguk. “aku ke kamar ya? Chaljaa Kangin~!”

“Nee, chalja…” balasnya sambil tersenyum.

Aku pun langsung menuju kamar setelah menutup pintu kamar Kangin. *blukkkk!!* kujatuhkan badanku ke atas tempat tidur. Setelah mengistirahatkan diri selama beberapa detik, aku berjalan ke arah lemari untuk mengganti bajuku dengan piyama putih bercorak beruang, lalu kembali tiduran sambil memeluk boneka beruang kesayanganku yang memakai piyama kotak-kotak biru kuning dan mengenakan topi tidur. Kucoba memejamkan mata, entah mengapa bayangan wanita biru bermata putih dengan rambut yang tergerai di dalam air muncul begitu saja tanpa diharapkan. Aku sontak membuka mataku lagi. Sekarang aku terlalu takut untuk memejamkan mata. Lalu aku ingat kata-kata oppa,

“Haneul sayang,, kalau ga bisa tidur, coba minum baygon”

eeeeeehhhhh??????? Bukan! Bukan! Enggg…

“Haneul sayang,, kalau ga bisa tidur, jedugin kepala aja ke tembok”

Bukan ah! bukan itu! Apa yaaa???

Baca buku fisika? Ngitung frekuensi pelayangan antara semut, cicak, dan pendengar? Minum kopi?? Aarrgghh!! Aku lupaaaaa…. Oppa ngomong apa yaaa???

Hmm…?

Hmm??

………….

…………………………….

…………………………………………………….zzz……………groooookkk……… *ketiduran gara-gara mikirin nasehat oppa*

****

tes,,,,tes,,,tes,,, terdengar suara tetesan air dari arah belakang. Aku pun menoleh ke belakang dengan perasaan ngeri. “A…..a….apa itu……??”

kulihat seorang perempuan berambut sebahu yang mengenakan seragam sma sedang berdiri sambil memegangi sesuatu. Sedikit demi sedikit dia mengangkat benda itu. Dari benda itu menetes sesuatu. Suara tetesan tadi pun berasal darinya.

Aku memicingkan mata agar benda tersebut terlihat lebih jelas. Perempuan itu perlahan mendekati sambil mengangkat tangannya seakan ingin memperlihatkan benda yang ada di tangannya.

“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” aku terbelalak melihat benda yang digenggamnya. Ia sedang menggenggam potongan kaki yang digantungkan terbalik sehingga daranya menetes-netes di lantai.

“K….kkk….KAKI?!!!!!!” aku berusaha melarikan diri! Tapi ada sesuatu yang menahan kakiku untuk melangkah. Spontan kulihat ke arah kakiku. “AAAAAAAAAAAAAAAAAKKKHH!!!! LEPASIIIIIIIIIIIIN!! LEPASIIIIIIIN!!!“ berontakku sambil berusaha menendang dan menyingkirkan tangan putih tembus pandang yang muncul dari bawah lantai. perempuan itu terus mendekatiku. Kulihat tangan yang satunya mengeluarkan arit dari belakang tubuhnya.

“KAKI………….AKU MAU KAKI……………” teriaknya sambil terus mendekatiku dengan mata melotot dan mulut menganga. PLUK. Ia menjatuhkan kaki yang bersimbah darah di depanku sambil menatap kakiku dengan pandangan seramnya.

“AKH!!! DIA MAU MEMOTONG KAKIKU!!!” pikirku. Aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Tenggorokanku seperti tersumpal sesuatu. Perempuan itu mengangkat aritnya, bersiap untuk menebas,, dan…………………

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!!!!!!!!” Aku menjerit.

“hahh……hahh…..” aku membuka mataku dengan nafas yang terengah-engah dan badan yang basah oleh keringat. Kulihat sekitarku. Ah, aku ada di kamar. Syukurlah itu hanya mimpi. Setelah tenang, aku memutuskan untuk mengambil air di lantai bawah karena tenggorokanku terasa kering. Baru saja aku menapakkan kedua kakiku ke lantai, handphone-ku berdering. Jam menunjukkan sekarang sudah pukul satu malam. “siapa sih jam segini? Pake nomer pribadi lagi..” pikirku. Langsung saja kutekan tombol YES.

“Halo..?!” sapaku sedikit kesal karena masih capek dan mengantuk.

“Halo,,,de,,,boleh minta tolong?” jawab perempuan di seberang. Suaranya kecil dan lemas.

“Hah? Ada apa?” tanyaku.

“TOLONG JANGAN INJAK RAMBUT SAYA”

“Apa?” tanyaku lagi

“TOLONG JANGAN INJAK RAMBUT SAYA!!!!!!”

*brak….* kujatuhkan handphone-ku. Teriakannya membuatku sangat merinding dan ketakutan sampai tidak bisa bergerak. Perlahan kuarahkan bola mataku ke arah lantai. Aku menginjak sesuatu yang berwarna hitam… Rambut!!! Lengkap dengan kepalanya!!! Kepala perempuan itu tergeletak di lantai sambil menatapku dengan pandangan yang seram.

“JANGAN INJAK RAMBUT SAYAAAAAAAAA!!!!!!” teriaknya sambil membuka matanya lebar-lebar.

“OPPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!” aku langsung berteriak memanggil oppa sambil memejamkan mataku.

Saat aku membuka mata, aku masih tertidur di kasur dengan nafas tersengal dan tubuh yang bermandikan keringat. “hahh….? Mimpi lagi??” kucubit tanganku. *nyuuuut* “adududuh!! Sakit! Berarti bukan mimpi!” tanpa melihat ke lantai, aku langsung melompat dari tempat tidur terbirit-birit menuju kamar Kangin.

*BRUAAAKK!!!!* aku langsung menggebrak pintu kamar Kangin dengan kasar.

“KANGIIIIIIIIIIIIIIN!! BANGUUUUUUUN!!!” teriakku sambil mengguncang-guncangkan badan besar Kangin.

“Hnggh???” Kangin hanya membalikkan badannya. (gatau udah buka mata atau belum da matanya emang segaris)

“BANGUUUUN!!!” paksaku lagi.

“Iya………….bangun niiiiiiiiiih……. Ada apaan?” tanyanya sedikit kesal.

“aku mimpi sereeeeemm bangeeeeeeett!!! Aku ga berani tidur sendiri!!! Aku tidur sama kamu ya sekarang?” tanpa menunggu jawabannya, aku langsung naik ke tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi badanku. Tempat tidur itu tidak terlalu sempit untuk kita WAKTU ITU.

“EH?? Yaudahlah…” ucap Kangin.

>>>>>>>>>>>>KEMBALI KE MASA SEKARANG<<<<<<<<<<<<

“Malam itu kan………” ucap kangin sambil menerawang masa lalu.

Astaga! Itu kan malam dimana appa-nya meninggal!! Akh!!

“Malam itu kan ………………………………… PERTAMA KALINYA KITA TIDUR BARENG!! WAHAHAHAHA!!!!” teriak Kangin sambil tertawa terbahak-bahak.

“HEEEEEH???!! JANGAN INGET-INGET YANG ITU DONG!!!” bentakku sambil memukul punggung lebar Kangin.

“WAHAHAHAHAHA!!! Iya iyaaaaaaaa sakit ah!! Udahan ah mukulnya! Tuh busnya udah dateng!” Keluhnya sambil menunjuk bus berwarna atas hijau muda dengan warna bawah hijau tua. *apa cobaaa??* Kami langsung menaiki bus. Karena baru jam 5.45, bus masih sepi penumpang. Hanya ada tiga perempuan berseragam sma dan satu orang ibu-ibu didalamnya. Kami pun leluasa memilih tempat duduk. Kangin langsung menempati bangku baris ketiga di belakang supir di dekat jendela. Aku duduk di sebelahnya.

“Kangin, kira-kira kaya apa ya murid-murid sma kita?? Jangan-jangan kutu buku semua?” tanyaku basa-basi.

“Mungkin orang-orangnya freak belajar kecuali kita….! Hahaha!” Timbal Kangin.

Selama pejalanan, kami pun terus mengobrol dan bercanda. 20 menit kemudian kita sudah sampai di jalan DUETtongan no.300, ya, kami sudah sampai di SMA 80. Karena baru jam 6 kurang hanya segelintir orang yang sudah sampai di sekolah. Sesampainya di gerbang sudah ada dua orang satpam yang berjaga. Karena kami sudah memakai badge sma 80, satpam langsung mempersilahkan kami masuk.

“engh…. Haneul…. Tiba-tiba aku sakit perut….” Keluh Kangin sambil memegangi perutnya dengan ekspresi muka kesusahan.

“Eh?? Bentar,, aku tanya wc-nya ke satpam dulu ya.. tunggu disini”  perintahku sambil mendekati satpam lalu menanyakan letak toilet terdekat. “Oh, makasih, Pak!”

aku langsung menghampiri Kangin lagi.

“Katanya dari aula lurus aja, terus tar ada bangunan yang ada kolam ikannya gitu, disitu wc-nya” jelasku sambil menarik tangan Kangin.

“APPPHHHHWWWAAAHHH???!!! OGAH!!!” teriak Kangin *syok..*

“Kenapa??! Katanya mules??!” bentakku.

“Aku gamau kalo wc-nya di kolam ikan!!”

“Hahh???! Bukan gituuuu dodollll!!!!! Udah ah ikut aja!” kataku sambil menyeretnya.

“Gamau!! Ga ada wc yang lain apa?!! Adudududduuuhh… tp ga tahan… biar deh di bilik juga….hikk” akhirnya Kangin terpaksa mengikutiku.

Terlihatlah si kolam ikan.

Ya bukan Wcnya sih. Hanya dekorasi di depan bangunan wc biar keliatan indah aja…

“Tuh wc-nya! Yang ada tulisan gentlemen…yang kanan! Yang kiri wc cewe..” tunjukku

“hah,,,,syukurlah bukan di kolam ikan… semoga dalemnya bukan bilik,,, tungguin yaa” kata Kangin sambil bergegas memasuki wc.

“Iya! Cepetan!” balasku.

Aku pun tertarik untuk melihat kedalam toilet perempuan. Begitu masuk, aku sudah disambut dengan kaca ukuran sedang yang tergantung di dinding berwarna peach. Di bawahnya ada wastafel. Di kanan ada empat pintu wc berwarna coklat dengan corak kayu. Aku jadi tertarik melihat dalamnya, kayanya bersih. Kucoba membuka pintu-pintunya satu per satu, tapi sepertinya belum dibuka oleh penjaga sekolah. Eh, tapi pintu yang paling ujung belum dicoba.

“Krieeeett……” terdengar suara pintu yang terbuka.

“hah?!” aku kaget karena pintu terakhir di sebelah kananku tiba-tiba terbuka sebelum aku menyentuh gagang pintunya. Aku memberanikan diri memiringkan kepalaku untuk melihat ke dalam wc.

Disana terlihat seorang perempuan yang wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya… matanya besar dan wajahnya pucat. Dia mendongakkan wajahnya keatas dan menatap mataku sambil berkata dengan suara serak dan lemah………………

“mau pake wc-nya…….?”

“akkkk…………..” aku hampir saja teriak. aku masih syok,,lalu aku mencoba menyentuh bahunya dengan hati-hati. *tepp..tepp* Wah,, ga tembus.. Ternyata manusia….fiuh….

ah,, tapi badannya panas! “Kamu gapapa? Demam??” tanyaku khawatir.

“Gapapa.. Cuma masuk angin aja kayanya.. payah ya hari pertama sekolah malah sakit.. hha” terangnya sambil keluar dari wc.

“eh? Kelas sepuluh juga??” tanyaku kaget.

“Iya! Wah! Chingu !! Aku Kim Yeonhee” jawabnya masih sedikit lemas.

“Aku Jeong Haneul, salam kenal ya!” kataku sambil berjabat tangan.

“Jagiyaaaa!!” tiba-tiba terdengar suara dari arah luar.

“Ah,, itu suara namching aku” katanya sambil berjalan keluar toilet.

“Jagiyaaa! Ini obat masuk anginnya! Ini kayu putihnya! Ini air minumnya!” kata laki-laki yang mengenakan tas gendong berwarna pink sambil mengubek-ubek tasnya lalu menyerahkan barang-barang yang sepertinya dipesan oleh Yeonhee. “Ehh…kompresannya mana ya?? *grusak grusuk grosok grosok ubek ubek… bruakkk!!!* AAHHH!!!!” tasnya terjatuh saat mencari barang. Sebagian isi tasnya ikut terjatuh. Buku tulis, tempat pensil, handphone, kaca, sisir, paku, obeng, palu, loh? *3 item terakhir ngga lah!!* SEMUANYA BERWARNA PINK!!! Ohmaigadd… silau…

Kami pun membantu membereskan barang-barangnya.

“Makasih.. oh iya, jagiya, ini Jeong Haneul, seangkatan sama aku. Haneul, ini Lee Sungmin, cowo aku. Dia setahun diatas kita.” Jelas Yeonhee.

“Salam kenal ya..” ucapku. Sungmin hanya mengangguk dan tersenyum.

“Eh!! Ayo ke UKS ,,Yeonhee,, kamu masih sakit kan??” ajak Sungmin lagi.

“Aku ke uks dulu ya.. nanti ngobrol lagi yaaa!! dadaaah!!” kata Yeonhee.

“Iya,, cepet sembuh yaa!! Dadaah!!” balasku.

Waw,, dapet teman pertama di sma!! Yeyy!!

Teman?? Oia!! Kangin!!

“KANGIINNN!!! Udah belum??” tanyaku dari pintu luar toilet laki-laki.

“Udah, udaahh!! Bentar!!” jawabnya tergesa-gesa.

Lamaaaa…….

Akhirnya Kangin selesai. Kami pun kembali ke arah aula karena disana sudah mulai terlihat ramai. Para murid baru dikumpulkan di aula untuk menghadiri acara penyambutan murid baru. Kami langsung menempati bangku yang tersedia. Masih banyak bangku yang kosong. Tak lama kemudian bangku-bangku itu sudah terisi oleh sejumlah murid baru lainnya. Guru-guru pun sudah banyak terlihat. Akhirnya acara dimulai dengan alakadarnya *penyambutan dkk lah*.

“Agenda untuk hari ini kalian hanya akan menyaksikan 25 demo ekskul. Dan kalian bebas menentukan pilihan, mau berapapun terserah, asal tidak mengganggu pelajaran utama.” Kata kepala sekolah.

“25? HANYA??!” kataku dan Kangin bersamaan. Beberapa orang di dekat kami menengok bersamaan dengan tatapan ‘berisik woi!’.

“Maaf..maaf..” kataku pelan.

Acara demo ekskul pun dimulai dengan penampilan ekskul yang paling tidak terkenal dan tidak banyak diminati. *diomonginnya mah yang paling cocok jadi pembuka*

“SENI KARAWITAN DAN TARI TRADISIONAL – catrik dan tari merak.”

lalu,,

>>>ekskul-ekskul lainnya yang juga kurang diminati<<< disensor ah!

“TAEKWONDO – live performance”

“woaaahh~ kereeenn!!” kata Kangin. Dia memang tertarik dengan olahraga beladiri ini sejak smp. Ayo taruhan, pasti dia mau masuk ekskul ini. Hha. “Kayanya aku mau ikut tedo lagi deh, Neul…!” kata Kangin ceria. Tuh kaann! Bayar, lima ribu!!!😄 /plak

“Baguslah… Aku sih belum tau mau masuk ekskul apa….” Kataku.

Blablablabla………….. sudah banyak ekskul-ekskul yang berpromosi dari penjelasan, pamer prestasi, lempar permen, lempar snack, lempar kaleng, lempar batu, lempar botol, sambil teriak-teriak,  lempar handycraft dan meneriakkan yel-yel ekskulnya.

Ah.. lamanya~~ ga ada yg menarik lagi apa ya?

Jrengjreng! Terdengar intro lagu.

Everyone are pretty~

Everybody pretty~

 

“Ekskul apa tuh??” aku langsung bangun dan bersemangat lagi.

“Katanya sih klub renang,, tapi ko ga pake baju renang ya??” jelas Kangin.

“Heh! Maunyaaa!!”

Penjelasan dan pemutaran video penampilan mereka lumayan menarik.

“Eh! Haneul, haneul!! Itu! Pelatihnya!!” bisik Kangin tiba-tiba.

“Apa? Apa? Kenapa??”

“Dia yang waktu itu dateng ke kuil!! Yang kakinya ditarik cewe biru!!”

“HAH?! Beneran?!”

“Beneraann..!! eh…! Kamu ikut klub renang ya!!” suruh Kangin.

“Aaah!!! Kamu ajaa!! Aku takut!!” tolakku.

“Kan aku di tedo…. Ayo dong.. katanya dulu mau bantu neliti keanehan disini??? yayaya??” rayu Kangin

“euuhh….”

“Aku jagain ko…” rayunya lagi

“Heee… yaudah deh,,, iya iyaa” aku pun mengiyakan.

Acara puncak adalah penampilan dari klub teater. Penampilannya bagus, tapi entah kenapa kami berdua tidak tertarik. Hhe.

Akhirnya hasil pembagian kelas diumumkan. Aku harap aku dan Kangin sekelas…! “…………….Sepuluh tiga, ……………. Kim Kangin, …………….., Jeong Haneul,………………”

“Heeh??! Kita sekelas lagi??!” tanyaku tidak percaya. Entah kenapa sejak sd kami selalu sekelas. Tapi aku tidak pernah merasa bosan. Malah aku merasa aman di dekatnya. *ialaah,,,badannya gede gituh siapa yang berani?? Hhaha*

“Syukurlaah!! Jadi ada temen bodo lagiii…….! Hhahahaha!!” ejeknya

“HEEH! Jangan-jangan aku bodo gara-gara kamu!!! Akh!!” balasku.

Setelah acara selesai, semua murid baru dibawa ke kelas masing-masing oleh wali kelasnya. Kelas kami, X-3 terletak di gedung paling belakang di tengah-tengah ruangan X-2 dan X-4. Gelap… sedikit menyeramkan. Apalagi cuaca sedang mendung sejak tadi pagi.

Aku dan Kangin masih mengobrol sejak keluar dari aula. Kami duduk bersebelahan di bangku kedua dari belakang. Kangin duduk di barisan sebelah kiriku. Tiba-tiba pandanganku terpaku pada seorang laki-laki yang duduk di bangku ketiga dari belakang di barisan paling ujung dekat jendela.

Tatapannya tajam, kulitnya putih, rambut hitamnya tersibak angin. Entah kenapa suara bising di kelas tiba-tiba lenyap dan semua terlihat bergerak secara slow-motion. Entah kenapa dalam hatiku ada rasa penasaran yang sangat amat besar tentang dia…..

Nugu ya….?

>>>>To Be Continued………………………..

Twitter: @amELIamew

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s