I Love You, Seonsaengnim! {Part 2 – End}

“Kyuhyun-ssi, mengingat ujian akhir negara sudah semakin dekat dan dengan kepergian kami ke Jepang untuk perjalanan bisnis sampai awal bulan depan, kami selaku orangtua dari Lee Min Young menitipkan anak perempuan kami selama kami pergi. Kami sudah membicarakan hal ini kepada orangtuamu dan mereka menyetujuinya. Terimakasih sebanyak-banyaknya dan selamat bersenang-senang ^^”

+++
“Kenapa…” gumamku pelan sembari memainkan makan malam yang ada diatas piringku dengan sendok.

“Mwo, kenapa apa?” Kyuhyun yang duduk di seberang meja makan menyaut.

Aku menatapnya lemas. “Kenapa orangtuaku begitu tega pergi meninggalkanku selama itu di tempat ini bersamamu..”

“Naddo molla. Cepat habiskan makan malammu dan segeralah tidur. Aku tidak mau terlambat besok pagi.”

“Ne? Aku ingin pulang dan tidur di rumahku.”

“Mau apa kau disana sendirian? Lagipula hari sudah malam. berbahaya kalau kau keluar malam-malam begini,” jawab Kyu sambil menatapku tajam. Entah apa maksud tatapannya itu.

Aku menarik nafasku lalu menghempaskannya perlahan. “Aigoo~”

“Wae?”

“Ani, dimana aku bisa tidur?”

Ia menunjuk sebuah pintu yang berdiri di dekat tangga, “Kau bisa gunakan kamar Ahra Eonni.”

Tanpa bicara lagi kutinggalkan meja makan dan berjalan kearah kamar tersebut. Aku sangat lelah, lelah fisik dan tentu saja mental.

+++
TRIIIIIIIING~ TRIIIIIIIING~

Kubuka mataku yang berat dan mematikan jam weker yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ini adalah salah satu hal yang sangat sulit aku lakukan, bangun pagi tanpa diteriaki Eomma.

Setelah mengumpulkan kesadaranku, aku segera mandi dan bersiap. Saat keluar kamar aku mencium bau masakan gosong. Aku segera lari ke dapur untuk mengecek keadaan.

“Yak! Apa yang sedang kau lakukan?!” teriakku saat memasuki dapur yang penuh dengan asap hitam.

Sepintas aku lihat Kyu mengibaskan tangannya, “Tentu saja memasak sarapan!”

“Aish..” segera kuambil penggorengan yang masih ada diatas kompor sekaligus yang menjadi sumber asap hitam ini lalu aku letakkan di tempat pencucian piring dan menyiramkan air dingin.

Tak lama asap hitam yang mengepul tadi sudah menghilang. Kulihat Kyu dengan santainya duduk di meja makan.

Aku mendengus kesal dan mencium bau yang tidak sedap dari bajuku. Bau asap tadi!

“Yaak! Cho Kyuhyun! Lihat apa yang telah kau perbuat terhadap seragamku!”

“Mwoya?! Kenapa kau menyalahkan aku?”

“Aish.. sudahlah, aku akan pulang dan mengambil seragam baruku,” ucapku kesal lalu mengambil tas sekolahku.

“Biar aku antar!”

Aku berbailk lalu menggeleng dan langsung meninggalkan rumahnya.

Sesampainya di rumahku, kukeluarkan kunci cadangan yang Eomma berikan padaku dulu. Benar saja, mereka semua termasuk oppa meninggalkan aku sendiri.

Kuambil beberapa baju dari lemari bajuku lalu memasukkannya ke dalam tas gendongku. Setelah itu kulangkahkan kakiku ke dapur untuk mencari bahan masakan. Beruntungnya aku! Di kulkas ternyata masih ada kimchi sisa kemarin malam. Segera kukemas semua barang bawaanku dan berangkat ke rumah Kyuhyun.

“Yak! Kemana saja kau? Kenapa lama sekali?!” seru Kyuhyun saat aku memasuki rumah.

Aku yang sibuk dengan barang bawaanku hanya diam tak memperdulikannya.

“Min Young-ssi, khajja!” sahutnya saat melihatku sudah siap dengan seragam baruku.

Aku menatapnya, “Berangkat sendiri-sendiri saja. Aku masih harus menyiapkan bahan untuk makan siang nanti. Kau tidak mau dapurmu penuh dengan asap lagi, kan? Lagipula bisa gawat kalau ada yang tahu kalau kita tinggal serumah.”

“Ck, begitu selesai cepatlah berangkat!” serunya dari pintu depan. Aku hanya menggumam mengiyakan.

“Haah.. haa..hah..” akhirnya aku sampai dengan selamat ke sekolah dalam waktu 15 menit. Untung saja gerbang masuk belum ditutup.

“Kemana saja kau?”

Aih~ suara ini. “Permisi, aku harus masuk kelas sekarang, Cho seonsaengnim,” ucapku lalu segera berjalan ke kelas. Sebisa mungkin aku tidak ingin berurusan dengannya selama di sekolah.

“Young-ah~,” sapa Hae Rim. Aku tersenyum lalu menghampirinya.

“Apa kau kenal dengan Cho seonsaengnim?” tanya Hae Rim yang sontak membuatku kaget. “Ah, wae?”

Hae Rim menunjuk pintu kelas yang langsung aku ikuti arahnya. “Sedang apa ia disana?” gumamku pelan. “Kau mengenalnya?”

“Ani, aku baru bertemu dengannya disini.”

“Ia berdiri disitu sudah lama. Apa hari ini hari Rabu? Kita tidak ada jadwal seni musik ‘kan hari ini?” aku menggeleng menanggapi pertanyaannya.

Lee seonsaengim memasuki kelas, saat itu juga aku lihat Kyuhyun meninggalkan tempatnya berdiri tadi.

+++

“Sial, aku lupa meminta kunci cadangan rumahnya,” gerutuku saat sampai di rumah Kyuhyun. Aku putuskan untuk menunggunya pulang di teras belakang rumahnya.

3 jam kemudian..

Hangat.. “Selimut?” aku sudah berada di kamar Ahra eonni. Siapa yang membawaku kemari? Seingatku aku tidak tidur berjalan.

“Young-ah, makan malam sudah siap,” tiba-tiba Kyu membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku hanya mengangguk ringan.

Aigo~ aku ingat. Aku pasti tertidur di teras belakang saat menunggunya pulang tadi. Jadi.. apa Kyu yang membawaku kemari? Ternyata laki-laki setan itu baik juga.

“Kyuhyun-ssi, gomawoyo..” ucapku saat keluar dari kamar.

Ia melirik kearahku sambil mengisi gelasnya dengan air, “Ne, sekarang cepatlah makan. Setelah itu kembali kerjakan soal-soal yang aku berikan kemarin.”

“Soal? Lagi?” keluhku kesal. Ia menatapku datar, “Aku belum berhenti menjadi guru privatmu, Min Young-ssi.”

Aku menghela nafas berat lalu mulai melahap makan malamku dengan malas.

Seselesainya makan malam, Kyuhyun mulai membereskan perlengkapan makan kami. Saat ia berdiri baru aku sadari kalau ia sedang memakai celemek berwarna pink soft dan bergambar teddy bear. “Hmph.. haha..” tawaku sulit untuk kutahan. Ia menoleh kearahku, “Wae?”

“Aku tidak tahu kalau selera laki-laki setan sepertimu menyukai teddy bear dan warna… pink?”

Kyuhyun membulatkan matanya lalu menunduk melihat celemek yang ia pakai. “Berhentilah tertawa! Benda ini milik Ahra eonni!” serunya sambil melepaskan celemek itu dengan buru-buru.

“Hahaha…” aku masih belum bisa menghentikan tawaku. Seharusnya aku foto saja tadi.

“Apa aku selucu itu? Kapan kau akan puas menertawaiku dan mulai mengerjakan soal matematika yang sudah menunggumu itu?”

Tawaku tiba-tiba terhenti mengingat soal-soal busuk itu.

“Cepat selesaikan soal-soal itu. Paling tidak selesaikan 30 soal malam ini,” ucapnya sambil mengangkuti mangkuk-mangkuk ke dapur.

Tiga puluh soal? Apa ia gila? Kulangkahkan kakiku gontai ke kamar lalu menutup pintunya. Buku soal-soal itu seakan-akan memanggilku untuk bermalam bersama.

“Haah.. aku tidak boleh begini! Aku harus berusaha agar bisa segera lepas dari jeratan iblis itu!” kubuka lembaran pertama, dan deretan angka langsung menyambut mataku.

“Jika grafik fungsi f(x) = x + px + 5 meyinggung garis 2x + y = 1 dan… ah! Soal ini mirip dengan soal yang ia jelaskan waktu itu!” merasa mendapatkan sedikit pencerahan, segera kugoreskan pensilku di atas lembaran bukuku yang masih bersih tanpa coretan sedikitpun.

Satu soal, dua soal, dan.. 10 soal selesai aku kerjakan dalam waktu 1 jam. Ini kemajuan yang sangat bagus!

Aku lihat jam dinding kamarku menunjukkan pukul 10 malam. Kalau total soal yang aku kerjakan 30 soal dan tiap 10 soal menghabiskan waktu selama 1 jam, berarti aku akan selesai mengerjakan soal-soal ini tepat pukul 12 malam, bukan? Apa Kyuhyun masih terjaga pada saat itu?

Cklek.

“Sudah selesaikah?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba masuk.

Aku yang terkejut langsung berdiri dari dudukku. “Yaa! Ini kamar seorang yeoja, apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?”

“Ck, apa kau takut kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padamu? Tenanglah, aku sama sekali tak tertarik pada anak kecil,” ucapnya dingin. Ia berjalan kearah meja belajar dan melihat buku tulisku. “Baru 10 soal?”

Aku bergumam pelan mengiyakan tanpa menatapnya.

“Haah.. sudahlah, kau tidur saja. Besok jangan sampai terlambat lagi seperti tadi pagi,” ia mengambil buku tulisku lalu dibawanya keluar kamar.

Kuhempaskan tubuhku ke atas kasur dan merenung. Entah apa yang aku rasakan. Aku sedikit kecew saat mendengar ucapanya tadi. “Mwo? Apa yang aku pikirkan? Hahaha~ tidak mungkin aku menyukai iblis sepertinya, begitupun dia…”

+++

“Kau begitu cantik saat tertawa..”

Kubuka mataku lebar. Melihat sekeliling ruangan. Tidak ada siapapun disini. Aku sandarkan tubuhku ke dinding lalu mengatur nafas sejenak. Suaranya, terdengar sangat nyata. Apa tadi Kyuhyun kemari?

Aku lihat buku latihanku sudah kembali ada di meja. Aku ambil dan kubuka buku itu. Kulihat ia menuliskan sesuatu disana, “Perkembangan yang bagus! Aku percaya kau bisa, Young-ah~”

Entah kenapa tulisan itu membuatku tersenyum senang. Aku harap ini adalah awal yang baik.

Ternyata aku terbangun tepat sebelum jam bekerku berdering. Segera saja aku mandi lalu bersiap.

Keadaan rumah masih sangat sepi, mungkin Kyuhyun masih tidur. Tepat pukul 6 pagi aku berangkat ke sekolah. Sedikit heran memang karena Kyuhyun belum juga keluar dari kamarnya, tapi biarlah, ia sepertinya sangat kelelahan.

+++

Aneh, seharian ini di sekolah aku merasa Kyuhyun menghindariku lebih dari hari-hari biasa.

“Aku pulaang~” tak terdengar celotehannya dari dalam.

Kulangkahkan kakiku ke dapur untuk mengambil minum. Di meja makan aku lihat makan siang sudah tersedia dengan memo kecil.

“Aku akan pulang malam. Cepat makan, lalu lanjutkan lagi latihanmu!”

“Tumben sekali..” gumamku pelan. Kuletakkan kembali memo itu lalu mulai menyantap makan siang yang ia sediakan.

Sesuai perintahnya, aku langsung membuka kembali buku latihanku lalu mengerjakannya dengan berat hati.

5 jam berlalu~

DRRT DRRT DRRT

“Omo! Aku tertidur!” kulihat keluar jendela sudah sangat gelap dan benar saja, jam kamarku sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Kubuka flip ponselku dan membaca pesan masuk.

From: Unknown number

Young-ah! Bukakan aku pintu!! Cepat! Diluar dingin sekali!

“Nomor siapa ini?” gumamku heran. Langsung saja aku keluar kamar lalu mengintip jendela di samping pintu masuk. Aku llihat pria bermantel hitam berdiri di depan pintu.

Tok Tok Tok

“Aigo! Apa itu Kyuhyun? Kenapa ia tidak membawa kunci cadangan?” aku buka pintu dan aku lihat wajah Kyuhyun sudah pucat pasi karena kedinginan. Memang suhu udara malam ini diperkirakan akan mencapai -2 derajat celcius.

“Kenapa lama sekali, sih? Kau membuatku menunggu selama 1 jam lebih diluar sana,” gerutunya sambil berjalan memasuki rumah.

Aku hanya menunduk lemas, takut kalau ia memarahiku. Kuangkat kepalaku sedikit untuk melihat keadaannya, tapi ternyata Kyuhyun sudah pergi ke kamarnya. “Ia tidak marah?”

Tok Tok

Kuketuk pintu kamarnya, namun tak ada jawaban dari dalam. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya.

“Letakkan saja buku latihanmu di meja makan, lalu cepat pergi tidur,” serunya dari dalam kamar.

Ada apa dengannya? Penasaran, aku coba buka pintunya yang ternyata ia kunci dari dalam. “Ada yang tidak aku mengerti.”

“Tulis saja soalnya. Nanti aku akan tuliskan jawabannya,” jawabnya dari dalam.

Aku semakin heran dengan sikapnya. “Aku tidak akan mengerti kalau tidak dijelaskan secara langsung…”

Tak ada jawaban darinya. Beberapa detik kemudian pintu kamarnya terbuka. “Soal yang mana yang sulit?” tanyanya tanpa menatapku.

“Ah, bukunya ada di bawah..” jawabku canggung. Aku tak menyangka alasanku barusan bisa membuatnya keluar dari kamar.

Ia berjalan mendahuluiku ke lantai bawah, sedangkan aku hanya mengikutinya ragu di belakang.

“Soal ini yang sulit?” tanyanya saat aku menunjukkan soal yang kuanggap ‘sulit’.

Ia mendecak pelan. “Kemarin kau bisa mengerjakan soal yang sama persis dengan soal ini dengan mudah. Kenapa sekarang kau merasa kesulitan?”

Sebenarnya aku sudah menyelesaikan soal ini. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun belakangan ini.

“Ah, kau benar.. Mungkin aku yang kurang teliti membaca soalnya.”

“Lain kali baca yang benar!” ucapnya seraya bangkit dari duduknya. “Eh, kau mau kemana?” tanyaku.

“Selesaikan saja pekerjaanmu, jangan ganggu aku.”

Dengan cepat aku membalik lembaran-lembaran buku itu dan mencari soal yang benar-benar tidak aku mengerti untuk menahannya.

“Tunggu!” ia menoleh kearahku. “Kali ini aku sudah membaca soalnya dengan benar, dan aku benar-benar tak mengerti.”

Akhirnya ia kembali duduk dan membaca soal tersebut. Aku sedikit senang bisa menahannya disini.

Kyuhyun terus mengoceh dan mengoceh. Aku sama sekali tak bisa fokus dengan penjelasannya. Wajahnya yang tampan namun dingin terlalu menarik perhatianku.

“Bagaimana? Apa kau mengerti?” tanyanya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Aku menggeleng. “Aigoo~” keluhnya pelan.

Akhirnya ia kembali mengulang penjelasannya dari awal. Mataku terfokuskan pada tulisannya dibuku, tapi otakku tidak.

DRRT DRRT DRRT DRRT

“Sebentar..” gumamnya lalu beranjak dari duduknya.

“Yeoboseyo?”

“…”

“Ah, ye, Min Ji-ah..”

“…”

“Sekarang? Ah, ye, arasseo..”

Min Ji? Apa yang ia maksud Park seonsaengnim? Kenapa ia tidak menggunakan bahasa formal seperti guru-guru lain? Dan.. apa maksud ekspresi wajahnya itu? Ia terlihat… sangat senang.

“Min Young-ssi, aku sudah buatkan kau catatan. Pelajari saja dari catatan itu. Aku ada urusan,” ucapnya sembari mengenakan mantel hitam tebalnya lalu pergi begitu saja.

Aku lihat keluar jendela, malam sudah sangat gelap dan udara pasti akan semakin dingin. Apa mereka akan pergi kencan?

“Aigo.. itu tidak mungkin. Lagipula untuk apa aku memikirkannya?” gumamku pada diriku sendiri.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Kyuhyun belum juga pulang. Aku memang terus meyakinkan diriku untuk tidak memikirkan Kyuhyun yang mungkin sedang bersenang-senang dengan yeoja itu, tapi kenyataannya sangat sulit untuk menghilangkannya dari pikiranku.

+++

“Min Young-ssi, kenapa kau tidur disini?” kubuka mataku perlahan dan mencoba mencerna ucapan yang baru saja membangunkanku.

Aku lihat jam yang tertera di layar ponselku, pukul 3:02 AM. Ternyata aku tertidur di sofa ruang tamu saat menunggu Kyuhyun pulang.

“Cepat pindah ke kamarmu, jangan sampai masuk angin,” serunya dari lantai atas. Aih~ apa dia baru saja pulang? Jam segini?

Paginya di sekolah aku melihat Park seonsaengnim yang selalu lengket dengan Kyuhyun. Apa ini berarti ada hubungan spesial diantara mereka?

“Young-ah~..” panggil Hae Rim membuyarkan lamunanku. “Wae?”

“Apa kau perhatikan ada yang berbeda antara Cho seonsaengnim dan Park seonsaengnim? Kau tahu, mereka terlihat akrab..”

Aku hanya menghela nafasku lalu berjalan mendahuluinya ke kelas. Sesampainya di kelas aku dengar Hyu Rin yang sedang berkumpul dengan anak-anak kelas.

“Apa kalian tahu? Ada gosip yang mengatakan kalau Park seonsaengnim dan Cho seongsaengnim dulu berpacaran. Pantas saja mereka terlihat sangat dekat sekarang..”

Lagi-lagi hanya helaan nafas yang keluar dari bibirku. Jadi begitu rupanya. Jadi ini alasan wajah senangnya tadi malam.

“Young-aaah~” tiba-tiba Hae Rim menghampiriku dengan wajah sedihnya. “Yaa, waeyo?”

“Kau dengar barusan?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan malas.

“Bagaimana kalau mereka kembali berpacaran? Aigoo~ pasti banyak sekali yang akan patah hati..”

“Ya, begitupun denganku..” gumamku pelan. “Ne? Apa kau mengatakan sesuatu barusan, Young-ah?”

“Ani, aku tidak bilang apa-apa..”

Bel sekolah berbunyi dan para murid mulai berjalan meninggalkan kelas masing-masing. Hanya aku dan beberapa murid yang masih tinggal karena mendapat tugas piket kelas.

“Young-ah, kau tidak pulang? Kalau begitu kami pulang dulu ya~” aku hanya tersenyum lalu mengangguk pada beberapa temanku.

Entah kenapa aku jadi malas untuk pulang. Aku tidak siap bertemu dengan Kyuhyun.

“Kenapa kau masih disini?” aku menoleh kearah sumber suara dan mendapati Kyuhyun sedang berdiri di depan pintu.

“Terserah aku saja,” ucapku lalu bangkit dari dudukku.

Tiba-tiba ia menahan tanganku. “Kau kenapa?” tanyanya sambil menatap wajahku.

Aku hanya diam tak mau menatapnya. “Yak, gwaenchana?” tanyanya lagi.

“Aku menyukaimu!” seruku tetap tak mau menatap wajahnya lalu aku tarik tanganku dan berjalan meninggalkannya.

Aku mengatakannya! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan saat di rumah nanti? Aigoo..

Tiba-tiba aku rasakan kepalaku pusing dan pandanganku kabur. Ada apa denganku? Kakiku lemas. Pandanganku gelap.

+++

“Kau sudah sadar? Cepat makan lalu minum obatmu,” aku bisa mendengar suaranya dengan jelas tapi tidak dengan pandanganku. Pandanganku masih saja buram.

Aku tahu dimana aku sekarang dan aku tahu kalau Kyuhyun lah yang berbicara barusan. Selimut tebal hangat kesayanganku menutupi tubuhku yang tak henti-hentinya mengeluarkan keringat dingin.

“Shireo, aku tidak mau makan,” jawabku lemas. Lidahku rasanya pahit sekali dan pusing di kepalaku belum juga hilang.

Kyuhyun menghela nafasnya lalu mengambil handuk basah dari dahiku. “Untung saja dokter di ruang UKS belum pulang. Apa kau tidak tahu kalau badanmu itu sangat berat?”

“Gomawoyo..”

“Kalau begitu cepat makan,” suruh Kyu lagi. Aku menggeleng.

“Cih, kalau begitu terus bagaimana bisa sembuh?”

Aku kembali menggeleng, “Lidahku pahit sekali, aku tidak mau makan.”

“Kalau begitu minum saja obatnya,” ucap Kyu sambil menyobek bungkus obat tersebut.

“Shireoo. Aku benci obat,” seruku lalu menutup mulutku dengan kedua tanganku.

Ia mendengus kesal lalu memasukkan pil obat itu ke dalam mulutnya dan mengisi mulutnya dengan air mineral. Aku sedikit heran dengan kelakuannya barusan.

Kyuhyun menarik tanganku dan mendekat. Wajahnya semakin mendekat dan bibirnya menyentuh bibirku. Aku rasakan air yang segar mulai membasahi kerongkonganku begitu pun dengan pil yang ada di dalam mulut Kyuhyun, mengalir masuk bersama air.

Bibirnya sangat hangat dan lembut.

“Sekarang istirahatlah,” ucap Kyuhyun sambil membereskan baskom dan juga handuk kecil bekas kompresku. Sedangkan aku masih diam tak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan. Ciuman pertamaku…

+++

Ting Tong~ Ting Tong~ Ting Tong~

Aku terbangun dengan suara bel yang tak henti-hentinya berbunyi. Kemana Kyuhyun?

Aku langkahkan kakiku lemas ke arah pintu depan dan mengintip siapa yang datang. “Omo.. Park seonsaengnim?! Ada apa ia datang kemari?”

Aku lihat Kyuhyun dengan santainya turun dari tangga dengan headset terpasang di kedua telinganya. Segera kutarik ia ke pintu dan menyuruhnya melihat siapa yang datang.

Aku yang panik langsung berlari masuk ke dalam kamar. Park seonsaengnim tidak boleh tahu kalau aku tinggal satu rumah dengan Kyuhyun. Hal ini bisa mengganggu praktek mengajarnya di sekolah.

Satu jam berlalu aku tak mendengar apa-apa dari luar kamar. Tak lama, Kyuhyun membuka pintu kamar dan masuk. “Min Young-ssi, makan malam sudah siap.”

Aku menatapnya heran, “Tapi.. Park seonsaengnim masih ada di luar, bukan?”

“Ye, cepat keluar dan makan,” ucapnya ringan sembari berjalan keluar kamar.

Aku lihat Park seonsaengnim sudah duduk di meja makan. Ia berbalik lalu melihatku, “Annyeong, Min Young-ah, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baikan?”

‘Mwo, dia tidak heran melihatku ada di rumah Kyuhyun?’

Kyuhyun menyikutku memberi tanda untuk membalas sapaannya barusan.

Aku tersenyum lalu membungkukkan badanku sedikit, “Ne, aku sudah merasa baik, seonsaengnim.”

“Aigo~ kau tidak perlu gugup seperti itu. Kyuhyun sudah menceritakan semuanya tentang hal ini,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. ‘Kyuhyun ia bilang? Tidak diragukan lagi, hubungan mereka pasti sudah sangat dekat.’

Makan malam terasa sangat hening. Tenggorokanku sama sekali sulit untuk menerima makan malamku yang berupa bubur, dan ditambah lagi bubur ini adalah masakan Park seonsaengnim.

“Young-ah, apa kau menyukai masakanku?” tanya Park seonsaengnim dengan wajah berseri-seri. Aku mengangguk pelan, “Ye, kamsahamnida, seonsaengnim.”

“Min Ji-ah, terimakasih telah datang dan memasakkan makan malam untuk kami,” ucap Kyuhyun dengan senyumnya. Cih, tumben sekali iblis ini tersenyum.

“Aniyo, anggap saja ini balasanku untuk malam itu. Kau sudah sangat meolongku,” jawabnya lalu mereka tertawa bersama. Hal ini sama sekali tak lucu bagiku. Apa yang telah mereka lakukan pada malam itu?

+++

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi kenapa Kyuhyun belum juga pulang?! Ia bilang akan segera kembali setelah mengantar Park seonsaengnim pulang, tapi sudah 2 jam aku duduk disini menunggunya yang tak kunjung pulang.

Tiba-tiba aku teringat pengakuanku tadi siang dan juga ciumannya tadi. Ani.. itu bukan ciuman, Young-ah. Ia hanya membantuku meminum obat, yah, hanya membantu..

Cklek.

“Kau, kenapa belum tidur?” tanya Kyuhyun saat memasuki rumah.

Aku yang tersadar dari lamunanku langsung memalingkan wajahku. “Aku belum mengantuk. Kau sendiri, kenapa lama sekali?”

Aku dengar ia menghela nafasnya, “Bukan urusanmu.”

“Apa hubunganmu dengan Park seonsaengnim sangat dekat?” tanyaku lagi. Ia menghentikan langkahnya lalu menatapku. “Dia.. wanita yang baik dan juga cerdas.”

Yah, ucapannya barusan memang benar. Bukan nol kemungkinan Kyuhyun ingin kembali ke wanita itu. “Ah, ya, tolong lupakan saja ucapanku siang tadi di sekolah.”

“Oh, ya, tentu saja. Perasaan seperti itu, hanya akan merepotkanku saja. Selamat malam,” Kyuhyun berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Jujur saja, aku sangat ingin menahannya.

+++

“Young-ah~!!” Hae Rim mengejar langkahku yang cepat. “Kau kenapa? Sedang sakit?”

Aku menggeleng singkat untuk menjawab pertanyannya barusan.

“Jangan berbohong. Wajahmu pucat, lingakaran hitam di bawah matamu dan.. apa kau habis menangis?”

“Aku baik-baik saja, Rim-ah,” jawabku sembari tersenyum meyakinkannya. Jawaban untuk semua pertanyaannya adalah ya. Panas tubuhku memang sudah tidak setinggi kemarin, tapi kepalaku masih berat dan ditambah lagi semalam aku bergadang demi ujian Matematika hari ini. Dan yang terakhir, ya, aku menangisinya. Menangisi seorang Cho Kyuhyun.

Ujian Matematika ada di jam pelajaran terakhir dan aku rasa hal itu akan membuat kondisi tubuhku semakin buruk. Aku lihat Jo seonsaengnim –guru Matematikaku masuk ke kelas dan membawa sebuah amplop besar coklat berisi soal-soal. Tadinya aku kira Jo seonsaengnim akan mengawas sendiri, tapi tidak, ia bersama Cho seonsaengnim.

“Baiklah, ujian akan segera dimulai,” ucap Jo seonsaengnim setelah selesai membagikan soal kepada setiap murid.

Aku mengerjakan 5 soal pertama dengan lancar. Entah hanya perasaanku saja atau Kyuhyun memang memperhatikanku dari tempatnya duduk.

Satu jam berlalu, sudah 15 soal terselesaikan. Tiba-tiba perutku terasa sangat mual, kepalaku pusing dan keringat dingin mulai becucuran dari tubuhku. Aku harus menyelesaikan ujian ini dengan sekuat tenagaku.

Tiba-tiba Hae Rim yang duduk di sampingku berdiri, “Seonsaengnim, aku rasa Min Young sedang sakit. Apa tidak sebaiknya kalau ia dibawa ke ruang UKS saja?”

Aku menoleh kearahnya, “Rim-ah, nan gwaenchana..”

“Kau tidak akan bisa konsentrasi dengan tubuhmu yang sedang panas ini. Jo seonsaengnim, saya permisi untuk membawa Min Young ke ruang UKS,” ucap Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah ada di samping mejaku.

Aku menggeleng sesaat sebelum Kyuhyun menggendongku keluar kelas. Semua mata tertuju pada kami. Aku benar-benar sangat malu. “Yak, turunkan aku. Aku masih kuat untuk berjalan ke ruang UKS sendirian.”

Kyuhyun tidak menggubris perkataanku dan teus berjalan ke ruang UKS. Setibanya di ruang UKS yang ternyata kosong, ia membaringkanku di ranjang kedua dari pintu.

“Kau bisa kembali ke kelas,” ucapku bohong. Aku ingin ia tetap ada disini menemaniku.

“Aku akan kembali ke kelas setelah dokter jaga datang,” jawabnya datar.

Kami sama-sama diam selama beberapa menit. Aku tak tahu harus bicara apa.

Sraak.

Tiba-tiba Kyuhyun menutup tirai tempat tidurku. Aku menatapnya heran. “Wae?”

“Sst, ada yang datang.”

“Bukankah bagus? Aku sudah merasa baikan dan ingin kembali ke kelas mengerjakan…”

“Ah.. Hyuk.. terus.. aaah…” ucapanku terhenti saat mendengar suara aneh dari ranjang sebelah.

Aku mengkerutkan keningku, “Apa yang mereka lakukan?!” bisikku pada Kyuhyun yang sekarang duduk di ranjang.

Kyuhyun hanya menggeleng sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.

“Kau seorang guru, kenapa tidak menghentikan mereka?!” protesku pelan. Ia menatapku, “Aku hanyalah seorang guru praktek disini.”

“Aaah.. ooh.. Hyuk-ah~” desahan si yeoja terdengar semakin keras. Aku lihat Kyu sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Jujur saja, jantungku berdegup lebih kencang daripada biasanya. Kenapa aku harus terjebak dalam situasi ini bersamanya?!

“Apa mereka sudah keluar?” tanyaku yang merasa keadaan diluar sudah sepi.

“Aku rasa sudah.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kelas,” ucapku berusaha mengembalikan suasana kembali nyaman.

“Dokter belum datang, jadi kau tidak boleh kembali ke kelas dulu.”

“Wae? Aku rasa aku sudah baikan.”

Ia membuka tirainya kembali dan berbalik menatapku, “Jangan memaksakan diri lagi. Kau bisa mengikuti ujian susulan minggu depan.”

Akhirnya aku menurutinya dan suasana kembali hening.

“Cho seonsaengnim,” panggilku. Ia bergumam menanggapi.

“Apa benar dulu kau dan Park seonsangnim pernah bepacaran?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku.

Kyuhyun menarik nafas lalu melepaskannya. “Aku heran kenapa berita itu bisa dengan cepat tersebar.”

“Jadi benar?” tanyaku semakin penasaran.

“Masa lalu tidak sebaiknya diingat kembali, bukan?”

Aku terdiam mendengar jawabannya barusan. Ternyata berita itu benar.

“Apa kau ingin kembali lagi bersamanya?”

Kyuhyun menggeleng pelan.

“Wae? Bukankah kau bilang dia wanita yang baik? Dan sepertinya kau masih menyukainya..”

“Haha.. aku memang bilang kalau dia wanita yang baik, tapi bukan berarti aku masih menyukainya, bukan?”

“Lalu.. untuk apa kau menemuinya pada malam itu? Padahal kau sudah pucat kedinginan.”

“Dia memintaku untuk membantunya menyelesaikan game yang baru saja ia beli bersama pacarnya. Dia bilang ingin mengalahkan pacarnya dalam game itu, jadi.. begitulah..”

Aku kembali terdiam. Ternyata Park seonsaengnim sudah mempunyai pacar. Pasti ini bukanlah hal yang mudah untuk Kyuhyun.

“Kau tahu siapa dia?” tanya Kyuhyun.

Aku menggeleng.

“Park Min Ji, dia adalah guru Matematikaku dulu disini. Karena cara mengajarnya yang baik dan sikapnya yang ramah, kami jadi dekat. Dan kau tahu? Dia juga seorang guru praktek dulu,” jelasnya sambil menatap keluar jendela.

“Lalu.. bagaimana kalau aku benar-benar menyukaimu seperti kau menyukai Park seonsaengnim dulu?” aku beranikan diriku menanyakan hal ini padanya.

Kyuhyun menatapku terkejut lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya dan berjalan mendekat. Ia meletakkan punggung tangannya di dahiku, “Panasmu belum juga turun, sebaiknya aku cari obat dulu.”

“Tolong, jawab aku, Kyuhyun-ssi.”

Ia menghentikan langkahnya dan berbalik. “Aku seorang guru dan kau adalah muridku, rasanya hal itu tidak akan mungkin terjadi.”

“Tapi bagaimana denganmu dan Park seonsaengnim dulu? Dia guru dan kau juga muridnya.”

“Justru karena itu, aku tidak mau hal itu terulang lagi antara kau dan aku.”

Mataku memanas, menahan air mata yang akan kembali keluar. “Begitukah? Kenapa kau tidak jujur saja kalau kau masih menyukainya?!”

Aku turun dari ranjang lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Untungnya jam pelajaran telah berakhir, kuambil tas sekolahku lalu pulang.

Sesampainya di rumah Kyuhyun, segera kukemasi barang-barangku dan meninggalkan rumah itu. Seharusnya aku lakukan hal ini sejak lama.

Aku putuskan untuk pulang ke rumahku dan tinggal disini sampai keluargaku kembali. Malam ini aku benar-benar sendiri di rumah. Tak ada yang mengingatkanku untuk makan malam, ataupun mengerjakan soal Matematika. Aku senang, tapi kesepian.

+++

Hari ini aku putuskan untuk tidak sekolah. Selain memang kondisi tubuhku yang masih lemah, aku juga masih belum siap untuk bertemu Kyuhyun.

Entah kenapa aku rasa demamku tak kunjung turun. Aku putuskan untuk segera minum obat lalu kembali beristirahat.

Ting Tong~ Ting Tong~

“Aigo!” tak sengaja aku jatuhkan pil yang akan aku minum karena terkejut. “Siapa yang datang pagi-pagi begini?”

“Nee~” seruku sambil membuka pintu.

“Kenapa kau pergi?”

Aku angkat wajahku dan melihat Kyuhyun sedang berdiri di depanku. Omo~ penampilanku! Aku masih menggunakan piyama dan jaket tebal yang menurutku bisa menghangatkan tubuhku. Rambutku? Entah model rambut apa ini.

Tiba-tiba Kyuhyun menarikku masuk lalu menutup pintu. “Kau sudah makan? Sudah minum obat?” tanyanya terlihat sedikit panik.

Aku menggeleng ringan sambil menatapnya heran. “Mau apa kau kemari?”

“Mau apa? Tentu saja menjemputmu!”

“Ne? Shireo, aku bisa mengurus diriku sendiri disini, jadi pulanglah.”

“Benarkah? Haah, baiklah aku pergi.. Asal kau tahu, aku mengkhawatirkanmu hanya karena orangtuamu menitipkanmu padaku. Tak lebih,” ucapnya sambil melangkah keluar.

Aku memang tidak seharusnya mengharapkan lebih dari ini.

+++

DRRT DRRT DRRT DRRT

Aku terbangun karena ada panggilan masuk ke ponselku. Aku lihat di layar tertera nama Hae Rim.

“Yeobosseyo..?” seruku masih setengah sadar.

“Young-ah! Aku akan ke rumahmu sekarang, ya? Nee.. annyeong~”

Tut tuut tut..

Apa-apaan dia? Seenaknya sendiri. Dengan terpaksa aku bangun, membasuh mukaku dan berganti pakaian.

Ting Tong~

“Mwo, secepat itukah?”

Cklek.

“Young-ah~!!” seru Hae Rim lalu memelukku erat.

“Kenapa cepat sekali?”

Hae Rim menunjuk seseorang di belakangnya. “Cho seonsaengnim?”

“Ye, dia bilang ingin mengantarku sekalian pulang,” jawabnya sebelum Kyuhyun menghilang darii balik pagar.

“Haah, baiklah silahkan masuk,” ucapku malas. Sekalian pulang katanya? Jelas sekali ia berbohong. Rumahku dan rumahnya berlawanan arah.

“Young-ah, bagaimana keadaanmu?” tanya Hae Rim mencoba membuka pembicaraan.

Aku menaikkan kedua bahuku, “Beginilah..”

“Kenapa kemarin kau memaksakan diri untuk sekolah?”

“Ujian Matematika,” jawabku singkat sambil menuangkan air ke gelasnya.

Hae Rim menggeleng tak percaya, “Kau masih bisa ikut ujian susulan, Young-ah. Lalu, aku heran kenapa Cho seonsaengnim bisa tahu kalau badanmu panas tanpa menyentuhmu sebelumnya.”

Aku terdiam kaget. Benar juga.. ah, Cho Kyuhyun babo!

“Hei, apa kemarin Cho seonsaengnim langsung mengantarmu pulang?”

Aku menggeleng, “Ani, ia membawaku ke ruang UKS. Wae?”

“Jinjjayo? Jo seonsaengnim bilang dokter jaga di ruang UKS sedang cuti karena anaknya sakit.. Jo seonsaengnim pun heran saat Cho seonsaengnim membawamu ke ruang UKS, seharusnya ia tahu kalau dokter jaga sedang tidak ada.”

Jadi kemarin ia membohongiku?

“Jadi, apa yang kalian lakukan saat di ruang UKS? Kalian hanya berdua, kan?” sidik Hae Rim. Tiba-tiba aku teringat kejadian yang tidak mengenakan hati kemarin.

“Omo! Apa sudah terjadi sesuatu?!” seru Hae Rim tiba-tiba.

“Ani! Sama sekali tidak terjadi apa-apa,” belaku. Ia menatapku curiga, “Lalu, kenapa wajahmu memerah, Young-ah?”

Aku letakkan kedua tanganku di pipi, “Molla, mungkin karena aku masih demam..”

“Ah, geurae..” ucap Hae Rim yang sepertinya percaya dengan alasanku.

Satu yang belum aku mengerti, untuk apa Kyuhyun membohongiku?

+++

Seminggu telah berlalu, demamku sembuh dan aku kembali masuk ke sekolah.

“Ne, arasseo, Eomma..” ucapku sebelum menutup telepon dari Eomma. Entah darimana Eomma tahu kalau aku sempat demam selama seminggu kemarin.

Senang rasanya bisa kembali ke sekolah dan bertemu teman-teman. Tapi, masih ada perasaan mengganjal saat aku bertemu Kyuhyun di sekolah. Rasanya sulit untuk bertatapan dengannya.

DRRT DRRT DRRT

From: Kyuhyun Cho

Bisa temui aku sepulang sekolah?

Aku tunggu di gerbang saat pulang nanti.

Kumasukkan ponselku kembali ke dalam tas tanpa membalas pesannya. Kalau ia memang ingin menolakku, kenapa ia tidak bersikap wajar seperti guru terhadap muridnya? Sikapnya yang seperti inilah yang membuatku sulit untuk berhenti menyukainya.

Bel sekolah berbunyi, aku sengaja menunggu sekolah sepi lalu pergi menemui Kyuhyun yang sudah berdiri di samping gerbang sekolah.

“Ada apa?” tanyaku singkat. Kyuhyun menarik tanganku kearah motornya. “Yak, mau kemana?!” pekikku tapi tak ia perdulikan.

Motor Kyuhyun melaju sangat cepat dan itu membuatku melingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya.

Kyuhyun memarkirkan motornya di garasi rumahnya. Lagi-lagi aku dibawa paksa kemari.

“Sudah aku bilang, lebih baik kau tinggal saja disini,” ucapnya sembari melepas helm yang ia kenakan.

Aku melipat kedua tanganku di dada, kesal. “Wae? Aku lebih nyaman tinggal di rumahku sendiri!”

“Ck, apa kau tahu berapa nilai ujian Matematikamu, Min Young-ssi?”

Kali ini aku memperhatikannya, “Ne? Apa nilainya sudah keluar?”

Kyuhyun mengangguk mengiyakan. “Berapa nilaiku??”

“Aku yakin kau sama sekali tidak menyentuh buku soal-soal itu selama di rumah, bukan?”

Aku menggeleng, “Ani! Aku belajar mati-matian semalam sebelum ujian..”

“Dengan tubuhmu yang sedang sakit? Cepat masuk,” perintahnya.

+++

“53?!” itulah reaksiku saat membaca dua angka yang tertulis dengan tinta merah di pojok kanan atas lembar ujian Matematikaku. “Aigoo..”

“Aku tidak menyangka nilaimu akan sejelek itu. 15 soal yang kau kerjakan sebelumnya, hampir semua benar dan aku pikir ujian ini tidak sulit bagimu,” sahut Kyuhyun yang duduk di sampingku.

Aku menundukkan kepalaku dan memukulnya pelan, “Aigoo.. aigoo..”

“Sudahlah, lebih baik kau kembali tinggal disini, dalam pengawasanku, Min Young-ssi,” kata Kyuhyun sembari menahan tanganku yang masih saja memukuli kepalaku.

Aku membelalakkan mataku, “Mwo? Kembali kemari? Shireo..”

“Haah.. aku hanya tidak ingin melihat nilai-nilai jelekmu lagi dan tentu saja aku tidak mau mengecewakan orangtuamu. Apa kau tidak pernah berpikir jauh kesana?”

Pertanyaannya barusan jelas membuatku kalah telak. Aku menganggukkan kepalaku, “Ye, tapi tolong, jangan buat aku semakin berharap..” jawabku lalu berjalan kearah kamar.

Satu jam kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu kamar.

“Kau belum makan siang, kan?” tanya Kyuhyun.

Aku menggeleng, “Aku tak lapar,” jawabku tak mau menatapnya, lagi.

“Young-ah~ aku datang membawa makanan..” sahut seorang yeoja dari ruang tengah. Ternyata Park seonsaengnim.

Aku menatap Kyuhyun, “Aku tidak lapar.”

Blam! Kututup pintu kamar tanpa menunggu jawaban darinya.

“Keluarlah..” ucap Kyuhyun dari balik pintu. Aku masih tidak mengerti dengannya. Seharusnya ia senang bisa berdua saja dengan mantan kekasihnya itu, bukan?

Aku kunci pintu kamar lalu berbaring di tempat tidur. Aku benar-benar lelah.

+++

Keesokan harinya sebelum berangkat ke sekolah, aku berencana untuk pulang ke rumah dan mengambil beberapa barang yang aku butuhkan.

“Min Young-ah?”

Aku berbalik kearah suara tersebut. “Hyu Rin-ssi?” antara terkejut dan panik melihatnya ada disini.

“Jadi, perkiraanku benar. Kau tinggal disini. Bersama Cho seonsaengnim?”

Aku lihat Kyu baru saja keluar dari rumahnya dan melihat ke arah kami berdua.

“Ani, aniyo… aku hanya kebetulan saja lewat sini,” jawabku panik.

Tak lama Kyuhyun datang menghampiri kami, “Sedang apa kalian disini? Cepatlah berangkat kalau tidak ingin terlambat!”

“Cho seonsaengnim, kau tinggal disini bersama Min Young?” tanya Hyu Rin dengan rasa keingintahuan.

“Tidak mungkin seorang guru tinggal bersama muridnya, bukan? Sudahlah, cepat berangkat.”

Hyu Rin akhirnya pergi. Aku rasa ia tidak akan dengan mudah percaya dengan jawaban Kyuhyun barusan. Aku tak yakin akan selamat di sekolah nanti.

+++

Sesampainya di sekolah, beberapa segerombolan murid menusukkan pandangannya padaku. Aneh memang, masalah ini bisa tersebar dalam waktu kurang dari satu jam, tapi saat aku ingat siapa Hyu Rin, hal ini tidaklah aneh.

“Young-ah, apa kau sudah tahu —“

“Sst, tenanglah, aku yakin berita itu akan segera hilang,” sedikit senang memang karena Hae Rim mungkin adalah satu-satunya siswi yang tidak mempercayai berita itu.

Hae Rim mendekat lalu berbisik padaku, “Aku dengar Hyu Rin melihat Cho seonsaengnim membawamu ke rumahnya kemarin sepulang sekolah, lalu tadi pagi ia melihatmu keluar dari rumah Cho seonsaengnim. Apa itu benar?”

“Ne? ani, itu hanya kebetulan saja. Aku—“

“Perhatian, untuk Lee Min Young kelas 3-2 ditunggu di ruang Kepala Sekolah sekarang,” sebuah panggilan dari speaker kelas menghentikan ucapanku.

Aku mendecak pelan lalu berdiri dari dudukku dan meninggalkan kelas.

Tok Tok

Kubuka perlahan pintu ruang Kepala Sekolah, tapi terhenti saat sebuah tangan menghentikannya.

“Jangan masuk sendirian,” sahut orang tersebut yang ternyata Kyuhyun.

Aku berbalik menatapnya lalu tersenyum tipis. Pintu terbuka dan aku lihat seorang pria paruh baya duduk di kursinya. Ia tersenyum kepada kami berdua lalu mempersilahkan kami duduk.

“Bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya memulai pembicaraan.

“Kami..” “Aku..” ucap kami bersamaan.

Laki-laki itu bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat, “Begini, aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik dan usahakan jangan sampai masalah yang dulu terluang lagi.”

‘Masalah yang dulu?’ aku tatap wajah Kyuhyun yang terlihat sedikit terkejut.

Aku menyikut lengan Kyuhyun pelan saat Kim sajangnim berbalik, “Ya, ada apa sebenarnya?”

Kyu tidak menjawab melainkan hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku pikir Eomma sudah memberitahukan masalah ini padamu,” ucap Kyu akhirnya. Jujur, aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Sudah berapa kali aku katakan, jangan mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaanmu sekarang, bukan?” balasnya.

“Min Young-ssi, tolong maafkan kebodohan cucuku ini karena telah membuatmu repot,” ucap Kim sajangnim ramah padaku. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum tipis.

Tunggu, ‘cucuku’ ia bilang? “Ah, Kim sajangnim..”

“Ye?”

“Ani, aku juga ingin meminta maaf karena keteledoranku. Aku akan lebih berhati-hati dan sebisa mungkin menjaga jarak kami.”

Kim sajangnim tersenyum menanggapi ucapanku. Aku lihat Kyu menatapku dengan tatapan tak percaya. “Wae?” tanyaku padanya tanpa mengeluarkan suara. Ia hanya kembali menggeleng lalu menundukkan kepalanya.

“Aku akan urus masalah ini. Kalian boleh keluar..” ucap Kim sajangnim.

+++

“Sudah kubilang, aku bisa hidup mandiri di rumahku sendiri,” kataku sambil mengemasi kembali barang-barangku.

Aku dengar Kyu hanya menghela nafasnya berat.

“Ah, ye, kenapa kau tidak bilang kalau Kepala Sekolah kita itu adalah kakekmu?”

“Untuk apa? Apa itu akan membuatmu tetap tinggal disini?” jawabnya terdengar kesal.

Aku berbalik dan menatapnya yang sedang bersandar di pintu kamar. “Ne?”

“Ani.. cepat selesaikan pekerjaanmu, aku akan mengantarmu pulang,” jawabnya lalu berjalan keluar.

+++

“Terimakasih, Kyu..” ucapku saat turun dari motornya.

Ia mengangguk pelan. Entah kenapa aku merasa sedikit sedih kembali ke rumah, padahal ini yang aku inginkan sejak dulu.

“Kyu,” panggilku. Ia menoleh menatapku. “Kau masih menjadi guru privatku, jadi, aku harap kau masih mau datang kemari..”

“Tentu,” jawabnya singkat. Aku masih bisa dengan jelas melihatnya tersenyum dibalik helm full face yang ia gunakan.

Tak lama ia menyalakan kembali mesin motornya lalu pergi dari hadapanku. Aku pun berbalik lalu berjalan memasukki rumahku. Yah, rumahku sendiri.

+++

Hari-hari kembali aku jalani seperti sebelum orangtuaku pergi. Yang berbeda hanyalah aku tidak lagi pergi ke rumah Kyu untuk privat, melainkan sebaliknya.

Buku latihan soal yang ia berikan hampir setengahnya selesai. Hubunganku dengan Kyu? Aku rasa semakin dekat.

Ting Tong~

“Yaa~ aku bilang ‘kan tidak usah datang. Cepat masuk dan keringkan tubuhmu,” seruku saat mendapati Kyuhyun basah kuyup di depan pintu rumahku.

Hari ini hujan turun tak kenal waktu. Pagi, siang, sampai menjelang malam hujan masih saja mengguyur kota Seoul. Aku sudah meminta Kyu untuk tidak datang, tapi ia malah kemari.

“Ini..” ucapku sambil memberikannya secangkir coklat hangat.

Ia menerimanya sambil tangan kanannya mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Syukurlah, aku takut kalau baju Hae oppa tidak muat. Hei, ternyata kau kurus sekali..” candaku kemudian berjalan kearah dapur untuk menyiapkan makan malam.

“Apa kau sudah kembali mengerjakan soal-soal itu?” tanya Kyu yang ternyata sedang duduk di kursi makan. Aku menggeleng tanpa melihat kearahnya. “Wae?”

“Aku harus mempersiapkan materi untuk presentasi Biologi, Senin besok. Mungkin akan aku kerjakan nanti malam sebelum tidur,” jawabku sambil masih berkonsentrasi dengan masakanku.

Beberapa saat ruangan itu menjadi hening. Ah~ aku benci suasana ini.

Tak lama aku berbalik dan melihat Kyuhyun yang sedang membaringkan kepalanya di atas kedua lengannya di meja. “Aigo~ pantas saja ia diam,” gumamku pelan.

Setelah makan malam siap, aku berniat membangunkan Kyu untuk makan, tapi terhenti saat melihat wajah tampannya yang terlihat damai saat tertidur. “Ya~ Cho Kyuhyun, kenapa kau terus bertingkah seolah memberiku harapan?” bisikku lembut di telinganya.

+++

Pukul 8.23 PM aku dan Kyuhyun masih berkutat dengan soal-soal Matematika ini.

“Aigo~” keluhku.

“Wae? Baru 10 soal sudah mengeluh, ayo kerjakan lagi!” perintah Kyuhyun yang seakan-akan tidak tahu seberapa berat pensderitaanku.

Kembali kukumpulkan konsentrasiku. “Diketahui matriks A=…, matriks B=… dan C=… Jika A+B+C=…, maka nilai x+2xy+y adalah…?”

“Kenapa diam?” celetuk Kyu dari belakangku. Aku menggeleng lalu menjatuhkan kepalaku ke meja, “Bagaimana kalau istirahat sebentar?”

“Haah.. baiklah. Kemarikan bukumu, biar aku periksa.”

Setengah jam berlalu, aku rebahkan tubuhku di sofa sambil memainkan PSP milik Kyuhyun.

“Lumayan, kau banyak kemajuan. Aku tidak mau lagi melihat angka 53 lagi di lembar ujianmu nanti.”

Ah, aku teringat sesuatu. “Kyu,” panggilku sembari bangun dari rebahanku.

“Ada apa?” jawab Kyu lalu duduk di sampingku.

Aku menoleh dan menatapnya. “Kenapa kau berbohong?”

“Bohong apa?” tanyanya heran.

“Kau tahu ‘kan kalau dokter jaga di ruang UKS waktu itu sedang cuti?”

Kyuhyun terdiam. Akupun diam menunggu jawabannya.

Tak lama aku dengar ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. “Begini, sebenarnya aku ingin sekali menjelaskan semuanya padamu saat itu.”

“Menjelaskan apa?” tanyaku.

“Haah.. aku sudah lelah menahan diri. Ingin sekali aku mengatakan bahwa aku juga menyukaimu, Min Young-ssi.”

Aku diam sejenak, mencerna apa yang ia ucapkan barusan. “Mwo..? kau bercanda ‘kan?”

“Ani, sama sekali tidak,” jawabnya tegas. Ia melanjutkan, “Aku hanya takut jika kejadian masa laluku terulang, hal itu akan membuatmu repot dan tentunya aku takut kalau kau akan tersakiti..”

“Memangnya, ada apa dengan masa lalumu itu? Apa ini ada hubungannya dengan Park seonsaengnim?”

Kyu mengangguk pelan, “Kakekku sangat marah saat mengetahui hubunganku dengan seorang guru di sekolah. Aku terancam dikeluarkan dari sekolah atau Min Ji yang akan diberhentikan dari praktek mengajarnya.”

Aku masih menatapnya fokus dengan ceritanya. Ia tersenyum lirih sambill menatap langit-langit ruang tengah.

“Saat itulah Min Ji memutuskan hubungan kami dengan alasan untuk kebaikanku. Aku memang tidak dikeluarkan dari sekolah, tapi Min Ji mengundurkan diri dari sekolah. Aku baru bertemu lagi dengannya saat aku mendapat izin praktek mengajar di sekolahmu yang dulu juga adalah sekolahku.”

Kali ini aku tidak menatapnya dan hanya menundukkann kepalaku. “Jadi, apa kesimpulanmu?” tanyaku.

“Aku tidak mau kau dikeluarkan dari sekolah, Young-ah.”

“Dan akupun tidak mau kau berhenti dari praktek mengajarmu,” ucapku tak mau kalah.

Lagi-lagi kami terdiam. Aku sangat senang karena ia juga menyukaiku, tapi dengan adanya masalah ini, apa aku masih bisa senang?

“Aku akan bicarakan tentang hal ini pada kakek,” ujarnya lalu berdiri dari duduknya.

“Sekarang? Malam ini?” tanyaku sedikit terkejut.

Kyuhyun mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya dan memijit beberapa digit nomor.

“Yobosseyo?”

“Haraboji, ada yang ingin aku bicarakan..”

+++

Besok paginya aku sama sekali tak melihat Kyuhyun di sekolah. Jujur aku khawatir dengan niatnya yang terbilang cukup nekat itu.

DRRT DRRT DRRT

From: Kyuhyun Cho

Sepulang sekolah tunggu aku di gerbang sekolah!

‘Cho Kyuhyun, apa kau pikir pesan sesingkat ini bisa membuatku tenang?’ batinku kesal.

Aku bergegas ke gerbang sekolah saat sekolah sudah kosong. Aku lihat ia sedang berdiri di bawah pohon dekat gerbang. Ia melambaikan tangannya padaku.

“Kenapa kau tidak mengajar hari ini?” tanyaku sedikit terengah-engah.

Ia tidak menjawab, tapi sebuah senyuman mengembang di wajahnya.

“Yak, waeyo?” tanyaku lagi.

“Sebaiknya kita cepat pulang, sebentar lagi hujan.”

+++

“Kyu, bukankah ini mobil orangtuamu?” tanyaku saat turun dari motornya.

“Khajja!” ucapnya singkat tanpa menjawab pertanyaanku.

Saat di dalam aku lihat ada beberapa pasang sepatu di rak dan aku mengenal beberapa dari sepatu ini. Aku semakin heran, sebenarnya ada apa ini?

Kyuhyun membawaku ke ruang keluarga, dan.. “CHUKKAEE~~!!”

Orangtuaku dan orangtua Kyuhyun berdiri berdampingan. Aku lihat Hae oppa datang dari lantai atas dengan kamera SLR miliknya. Jepret! Ia mengambil foto kami berdua.

Aku masih terdiam heran. Kedatangan orangtuaku dan juga Hae oppa pun tidak membuatku bergerak sesentipun. Apa ini hari ulangtahunku? Apa hari ini ulangtahun Kyuhyun? Tidak, sama sekali bukan. Lalu ada apa?

Tiba-tiba Kyuhyun menunduk dan berbisik di telingaku, “Kau akan menjadi tunanganku, Young-ah..”

“Ne?” tanyaku masih heran sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja Kyuhyun ucapkan.

Eomma menghampiriku, “Eomma pikir kalian tidak akan bisa akur. Tapi syukurlah, sekarang kami tidak perlu repot menjodohkan kalian.”

Lagi-lagi aku dibuat tidak percaya, “Menjodohkan? Tapi, walaupun kami dijodohkan, apa sekolahku akan mengizinkannya?”

“Tenanglah, jagiya, kepala sekolah kita mengizinkan adanya hubungan antara guru dan murid dengan adanya ikatan pertunangan diantara mereka.”

Aku sempat merinding saat mendengar kata ‘jagiya’ dari bibir Kyu. “Tapi, aku tidak pernah tahu kalau ada peraturan seperti itu di sekolah..”

“Naddo. Yang penting kita sudah direstui ‘kan?” tanya Kyu dengan senyuman termanis yang pernah aku lihat di wajahnya.

Akhirnya malam itu kami berpesta kecil-kecilan untuk merayakan kepulangan orangtuaku dan orangtua Kyu, dan tentunya perayaan untuk pertunangan kami yang entah kapan akan diresmikan.

Di tengah kesenangan keluarga kami, Kyuhyun menarikku ke teras belakang rumah.

“Apa kau senang?” tanyanya tanpa melepaskan genggaman tangannya di tanganku. Aku mengangguk pelan.

Ia mengajakku duduk di salah satu anak tangga teras belakang lalu menarik tangan kananku.

“Sebaiknya kau jaga benda ini baik-baik,” ucapnya sambil memasangkan sebuah cincin perak bermata satu di jari manisku. “Kali ini aku minta dengan serius, panggil aku oppa.”

“Ne? aih~ shireo, shireo..”

“Yak! Waeyo? Aku lebih tua 4 tahun darimu! Jadi panggil aku oppa!”

Aku menoleh kearahnya, “Aku akan memanggilmu oppa, tapi dengan satu syarat! Jangan siksa aku dengan soal-soal lagi, aku berjanji akan belajar lebih tekun!”

“Ah~ apa kau bisa memegang janjimu itu?” aku anggukkan kepalaku dengan cepat. “Baiklah.. dengan begitu aku tidak akan mendengarmu meneriakkan namaku tanpa ‘oppa’ di belakangnya, arachi, jagiya?”

Blush!

Wajahku sontak memanas dan pasti sudah memerah. Aku alihkan pandanganku darinya mencoba menenangkan diriku.

“Yaa~ jawab aku..” protesnya lalu meraih wajahku untuk menatapnya.

Kuanggukkan kepalaku menyetujuinya. Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya, terus dan terus sampai hanya terdapat jarak yang kurang dari 5 cm diantara kami.

“Apa kau gugup?” bisiknya lembut. Aku tidak menjawab. Seharusnya ia tahu dari wajahku! “Apa ini adalah yang pertama bagimu?” bisiknya lagi.

Kali ini aku mengangguk. Cup~ Kyu mengecup singkat bibirku. “Gojitmal, Lee Min Young. Aku tahu ini bukanlah yang pertama untukmu.”

“Ne?” lagi-lagi aku dibuat bingung olehnya.

“Kau anggap apa ciumanku saat kau sakit dulu, hah?”

“Mwo? Aku bahkan tak tahu kalau saat itu kau menciumku! Yang aku tahu kau hanya membantuku meminum obat!” protesku kesal.

“Sudahlah, yang pasti aku yang mendapatkan ciuman pertamamu itu..”

“Bagaimana dengan Park seonsaengnim? Kau pasti sudah menciumnya ‘kan? Haah.. lalu, kenapa dulu kepala sekolah tidak memintanya untuk bertunangan denganmu?” gerutuku.

Kyuhyun menatapku sembari kembali menggenggam tanganku yang sudah mulai dingin. “Ya, aku pernah mencoba untuk menciumnya, tapi ia menolakku. Soal pertunangan itu aku baru mengetahuinya kemarin dan aku bersyukur karena kaulah yang menjadi tunanganku, bukan Park seonsaengnim.”

“Wae? Bukankah seharusnya senang kalau dulu kau bisa bertunangan dengannya?”

“Kalau aku bertunangan dengannya dulu, aku akan menyesal karena aku pasti tidak akan bertemu denganmu, melihat tawamu dan yang pasti, aku tidak akan pernah berada disini sebagai tunanganmu,” jelasnya panjang lebar.

“Dan oh, ya, satu lagi. Aku tidak akan pernah mendengar panggilan ‘oppa’ darimu, jagiya~”

Lagi dan lagi, Cho Kyuhyun berhasil membuat wajahku merah! I love you, seonsaengnim~!

By: tyasung

MAAF *bow* saya sempet hiatus kemaren beberapa minggu (atau bulan?) karena tugas kuliah yang ga habis-habis *bow*. Besok juga ada UTS, bukannya belajar, saya malah nge-ff xD

Ini ff terpanjang saya, 27 lembar dan 6.972 huruf. Tadinya mau dipisah karena takut bosen dan ngantuk, tapi temen saya bilang satuin aja, jadilah ini~

Maaf juga kalau ceritanya aneh, endingnya aneh, bahasanya aneh dan authornya aneh -_-v *bow lagi*

Pokoknya terimakasih sebanyak-banyaknya buat yang udah baca dan yang ninggalin komen~! I really appreciate it! *bow*

15 thoughts on “I Love You, Seonsaengnim! {Part 2 – End}

  1. yeay~ min young akhirnya sm kyu😀
    sumpah itu si kyu beruntung bgt ternyata calon tunangannya org yg dy suka juga..
    kyuhyun-ah putuskan minyoung,jadian sm aku aja *digetok min young* huehehehe~

    impian tiap siswi di SMA dpt guru praktek yg ganteng apalagi klo si kyu beneran yg ngajar..dijamin angka telat sm absensi lgsg turun drastis,bhuahaha~

  2. hai onn ahahahahahaha
    thankyouuuu *bows*

    aseek minyoung sama kyuhyun nyahahaha , tumben rijung sama yesung gak nyempil haha

    sekali lagi kamsa onn kamsa *lempar yekyu + chansung*

  3. wah lanjutannya lama ya keluarnya , tapi gapapa , ga mengecewakan . bikin ff baru lagi , tapi jangan panjang panjang partnya , kaya yg ini aja 2part

  4. wew kyu haha
    part favorite pas minum obat itulah astaga, ntar praktek aaaah *tarikunyuk *wadezig
    panjang ternyata eon haha tp gpp lah drpada nunggu tanpa kepastian kapan lanjutannya hoho
    seru nh ff nya. soft tp ngena hehe n.n

  5. kereeen~
    suka karakternya min young😄
    berani amat ya dia nyatain dluan, kyunya disini juga baik,ga jd bad boy haha
    ayo bikin lg ri jung bikin lg😄

  6. Keren! Aaaaaa ternyata akhirnya mereka dijodohkan dan……happpy ending. Happily ever after. UYEAH!

    Daebak! Gomawo udah dishare, langsung ke twitterku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s