Be Mine, please {part 12}

Ri Jung’s POV

“Oppa, kenapa anak kita ada di dalam inkubator?” tanyaku saat melihat anakku di ruang bayi.

Chansung oppa tidak menjawabku. Aku lihat ia seperti sedang melamunkan sesuatu. Aku menyikut lengannya lalu ia menatapku.

“Ri Jung-ah, nama apa yang akan kau berikan kepada anak kita?”

“Ne? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, oppa.”

Chansung menghela nafasnya, “Hal itu biar Jinwoon saja yang menjelaskannya padamu.”

“Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?!” ucapku sedikit marah.

Ia menundukkan kepalanya lalu meraih tanganku dan digenggamnya erat. “Apapun yang menimpa anak kita adalah salahku. Maafkan aku..”

Aku benar-benar bingung sekarang. “Apa maksudmu?”

“Pendarahan itu.. pendarahan itu menyebabkan anak kita cacat, jantungnya tak bisa bekerja maksimal..” aku tercengang tak percaya. Ternyata selama ini hanya aku saja yang tidak tahu tentang masalah ini. Jinwoon pun menyembunyikan hal ini dariku.

Kulepaskan genggamannya dari tanganku lalu berjalan meninggalkannya. Sekarang aku ingin bertemu Jinwoon dan meminta penjelasan darinya.

“Jinwoon-ah,” panggilku saat melihatnya keluar dari ruang inapku.

“Ri Jung-ah, kemana saja kau? Kau belum boleh banyak berjalan..”

Aku menatapnya. Menatap kedua matanya. Menunggu penjelasan darinya yang sejujur-jujurnya. “Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku?!”

“Hal apa?”

PLAK! Tanpa kusadari tangan kananku menamparnya. Menampar seorang yang sudah aku percaya dan bahkan aku sayangi.

“Anakku, kau sudah tahu masalah ini sejak aku masih hamil, bukan? Kenapa kau merahasiakannya?!” aku sudah tak sanggup menahan air mata yang sudah membanjiri pelupuk mataku.

Ia meraih lenganku dan membawaku masuk ke kamar inapku lalu mendudukkanku di kursi yang tersedia. Jinwoon berlutut di depanku sambil menggenggam erat kedua tanganku.

“Maafkan aku karena telah menyembunyikan hal ini padamu, tapi ini semua karena aku tidak mau membuat pikiranmu terbebani. Sudah cukup aku melihatmu menderita karena Chansung..”

Aku menundukkan kepalaku, menahan tangisku yang semakin menjadi.

“Aku berjanji akan menjaga anakmu seperti menjaga darah dagingku sendiri. Anakmu pasti akan menjadi anak laki-laki yang kuat.”

Aku menatap kedua matanya yang juga menatapku dengan tatapan yakin.

“Gomawo, Jinwoon-ah..” kudekatkan tubuhku dan memeluknya erat. Aku yang salah telah menyianyiakan seseorang yang sangat peduli bahkan menyanyangiku dengan tulus selama ini.

+++

Chansung’s POV

Kubuka pintu kamar Ri Jung. Aku lihat ia sedang memeluk Jinwoon dengan erat. Memang ini bukanlah sesuatu yang bagus untukku, tapi jika hal itu bisa membuatnya tenang aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Chansung oppa?” Ri Jung bangkit dari duduknya lalu menghampiriku yang masih berdiri di ambang pintu.

“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kalian..”

“Masuk dan bicaralah berdua. Aku tahu ada yang harus kalian bicarakan berdua, tanpa aku,” ucap Jinwoon sebelum keluar dari ruangan itu.

Ri Jung menarikku untuk duduk di tempatnya duduk tadi. “Oppa, mianhae..”

“Ani, kau sama sekali tak salah. Kau telah memberikan usaha terbaikmu untuk menjaga anak kita. Salahku jika memang ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.”

Aku tarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan, “Apa kau keberatan kalau aku meminta satu hal padamu?”

Ia menatapku lalu menggeleng, “Katakan saja.”

“Aku ingin.. anak kita memakai marga Hwang di depan namanya.”

Aku lihat ia menundukkan kepalanya.

“Ri Jung-ah, aku tidak akan memaksa. Paling tidak, aku ingin anak itu mengetahui siapa ayah kandungnya,” ucapku lagi.

“Tentu saja, mau bagaimanapun darah keluarga Hwang ada di dirinya. Jadi.. apa nama yang akan kita berikan?” jawabnya akhirnya sambil tersenyum tipis.

“Hm.. bagaimana dengan Chang Soo?” saranku.

Ia menatapku curiga, “Apa kau sengaja memilih nama itu karena menggunakan ‘Chang’ sama dengan namamu?”

“Ne? Ani, aku sama sekali tak berpikir begitu. Nama itu muncul begitu saja di kepalaku. Apa kau tidak suka? Baiklah, kita cari nama yang lain.”

“Aniyo.. aku suka nama itu..”

Tok Tok..

“Ri Jung-ssi, sudah waktunya untuk menyusui. Anak Anda akan dibawa kemari.”

“Ah, ye,” jawab Ri Jung sembari mengangguk pada suster yang baru saja datang.

“Aku akan pulang dulu, nanti malam aku usahakan datang lagi,” pamitku padanya yang sedang berjalan kearah ranjangnya.

“Ne. Oppa, bisakah kau panggilkan Jinwoon di luar? Tolong suruh dia masuk.”

Aku diam sejenak, mau apa Ri Jung memanggil Jinwoon masuk?

“Untuk apa kau memintanya masuk? Apa kau mau ia menontonmu yang sedang menyusui Chang Soo?” jujur, membayangkan hal itu saja sudah membuatku kesal.

Ia terkekeh pelan, “Kami belum menikah, oppa. Sampai sekarangpun Jinwoon belum pernah menyentuhku.. seluruhnya.”

“Apa maksudmu dengan belum menyentuhmu seluruhnya? Aish! Apa saja yang telah kalian lakukan?”

“Sudahlah oppa, ini rumah sakit dan apapun yang aku lakukan bersamanya tidak ada hubungannya denganmu.”

“Yaah.. kau benar, Ri Jung-ah,” ucapku lemas lalu meninggalkan ruangan mencari Jinwoon.

+++

Sepulangnya dari rumah sakit, langsung kulangkahkan kakiku ke kamar berniat untuk istirahat. Betapa terkejutnya aku mencium asap rokok di sekeliling kamar.

Aku lihat Se Na sedang duduk di sebuah kursi dekat tempat tidur dengan sebuah puntung rokok di jarinya.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” seruku sembari menghampirinya dan menghempaskan puntung rokok itu dari tangannya.

Aku benar-benar heran dengan sikap acuhnya terhadap kehamilannya. Tak jarang aku menemukan botol minuman keras tergeletak di kamar ini.

“Hah.. untuk apa kau peduli?” ucapnya sinis.

Terlihat jelas lingkaran hitam di bawah matanya. Badannya pun menjadi kurus. Sangat berbeda dengan Se Na yang dulu.

“Se Na-ya, apa kau tidak mengkhawatirkan kandunganmu?” aku mendekatinya lalu berlutut di samping tempat duduknya.

“Untuk apa? Bukannya kau senang kalau sesuatu yang buruk menimpa kandunganku? Lagipula dendammu padaku akan terlampiaskan, bukan?”

Aku menghela nafasku berat, “Apa kau tahu? Ri Jung menerima musibah ini dengan hati terbuka. Dia sama sekali tak ada niat untuk balas dendam, begitupun aku.”

“Cih, kau pikir aku peduli dengan perasaannya? Sudahlah, ayah dari anak ini saja tidak peduli, untuk apa kau peduli?”

“Sudah kubilang, kan, Taecyeon peduli denganmu dan juga anak yang sedang dalam kandunganmu itu. Sepulangnya dari Boston ia pasti akan segera bertanggung jawab,” jelasku meyakinkannya.

Setelah aku memintanya jujur tentang ayah dari kandungannya, akhirnya ia menjawab bahwa Taec lah ayah anak itu. Aku pun telah berbicara soal ini dengan Taec, tapi awal tahun lalu ia pindah ke Boston untuk melanjutkan sekolahnya.

“Kau selalu saja memihak temanmu itu. Aku sudah berkali-kali memintanya bertanggung jawab, tapi ia bahkan sama sekali tak mempercayai kenyataan kalau anak ini adalah anaknya!”

“Haah.. aku mohon Se Na, anak ini juga darah dagingmu, dengan sikapmu yang seperti ini tidak akan menyelesaikan permasalahanmu ataupun membuat Taec bertanggung jawab.”

Ia menundukkan kepalanya. Isak tangis mulai terdengar darinya. “Aku tahu.. kau akan menceraikan aku setelah anak ini lahir, kan?”

“Aku memang tidak bisa menjanjikan hal yang sebaliknya, tapi kalau kau bisa merubah sikapmu ini, akan kutarik lagi rencanaku itu..”

Aku bangkit dari posisiku dan berjalan kearah pintu. “Aku hanya bisa lakukan itu,” ucapku sebelum menutup pintu kamar.

+++
Jinwoon’s POV

“Kau tidak keberatan, kan?” tanya Ri Jung tentang keputusannya menggunakan marga Hwang di nama anaknya.

Aku tersenyum tipis lalu mengangguk. Itu adalah haknya dan juga ayah dari anak itu.

“Ri Jung-ah, maaf kalau kau merasa aku terlalu terburu-buru, tapi..”

Tok Tok..

“Ri Jung-ssi..” dua orang suster menggiring masuk keranjang bayi yang diletakkan di samping tempat tidur Ri Jung.

“Ah, sepertinya aku harus keluar..” ucapku lalu berdiri dari dudukku.

Tiba-tiba Ri Jung menarik tanganku, “Kau bisa tinggal kalau kau mau. Aku hanya menyusui Chang Soo sebentar.”

“Ani, tidak sebaiknya aku melihat apa yang belum boleh aku lihat. Panggil aku kalau sudah selesai, arachi?”

“Ye.”

Selama di luar aku berusaha mengumpulkan keberanianku untuk bicara dengannya. Kali ini aku berharap ia tidak akan kembali menolakku dan segera memberiku kepastian.

Tak lama, seorang suster datang menghampiriku. “Jinwoon-ssi, silahkan masuk.”

Aku mengangguk lalu segera masuk.

“Bagaimana rasanya?”

Ri Jung menatapku heran, “Ne?”

“Bagaimana rasanya menjadi Ibu baru?”

“Hm, yang pasti sangat senang dan juga cemas. Cemas akan anakku nanti yang entah bagaimana masa depannya dengan penyakit yang ia punya.”

Aku mengusap kepalanya lembut, “Kau pasti bisa menghadapinya.”

“Apa hanya aku? Bagaimana denganmu?”

Jujur saja, ucapannya barusan sedikit membuatku terkejut. Aku tarik nafas dalam-dalam dan memberanikan diriku untuk melamarnya. Lagi.

“Tentu saja, aku akan selalu berada di sampingmu dan menjaga keluarga kecil kita dengan penuh kasih sayang. Would you marry me?”

Ia terdiam sejenak, mencerna kalimatku sedikit demi sedikit. Perlahan senyum mulai terlihat di wajahnya.

“Maafkan aku telah membuatmu menunggu cukup lama, bahkan sangat lama. Kali ini jawabanku adalah iya! Aku bersedia!” ia beranjak dari kasurnya lalu memelukku erat.

Dua minggu setelah Chang Soo keluar dari rumah sakit, kami mengadakan pesta kecil untuk pernikahan kami di Daegu. Kami hanya mengundang beberapa kerabat dekat dan teman-teman sekolah Ri Jung. Chansung dan Se Na? Ri Jung memintaku untuk mengundang mereka, tapi mereka tidak bisa dihubungi. Saat kami berkunjung ke rumahnya, pelayan yang bekerja di rumah itu bilang kalau mereka sekeluarga sedang pergi berlibur dan entah kapan kembali.

+++

Ri Jung’s POV

Sebulan kemudian, tiba-tiba badan Chang Soo panas, Jinwoon dan aku langsung membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter bilang ini hanya demam biasa, tidak ada kaitannya dengan penyakit jantungnya.

“Jinwoon-ah, kau pulang saja. Besok kau harus kerja, kan?” ucapku pada Jinwoon yang tidak mau melepaskan Chang Soo dari gendongannya. Chang Soo memang dianjurkan untuk menginap semalam saja di rumah sakit.

“Apa kau tidak apa sendiri disini?” tanyanya sambil terus menina bobokan Chang Soo yang sebenarnya sudah tertidur.

Aku mengangguk meyakinkannya lalu mengambil Chang Soo dari gendongannya. “Pulanglah dan istirahat.”

Akhirnya setelah berpikir sejenak, ia mengangguk setuju untuk pulang. Aku mengantarnya sampai lift.

TING!

Pintu lift pun terbuka. “Chansung oppa?”

“Ri Jung? Sedang apa kau di rumah sakit? Apa kau sakit?” tanya Chansung oppa yang masih berdiri di dalam lift sambil tangannya menahan pintu lift agar tak tertutup.

“Ani, Chang Soo sedang demam. Hanya demam biasa memang, tapi dokter menganjurkannya untuk menginap disini semalam.”

Aku lihat Chansung oppa memperhatikan tangan kiriku yang berada di genggaman Jinwoon sejak tadi.

Tiba-tiba Jinwoon melepaskan genggemannya lalu mengusap kepalaku lembut. “Aku pulang, ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku, arachi?”

“Nee~ hati-hati..” ucapku sebelum pintu lit tertutup.

“Ri Jung-ah, boleh aku melihat Chang Soo?” sahut Chansung oppa yang sudah ada di sampingku. Aku mengangguk dan membawanya ke ruang Chang Soo dirawat.

Ia langsung menghampiri Chang Soo sesampainya di kamar lalu menggendongnya. Bisa kulihat betapa senangnya ia bertemu dengan anak kandungnya.

“Ngomong-ngomong, sedang apa oppa disini malam-malam?” tanyaku memecah keheningan.

Ia menatapku lalu meletakkan Chang Soo kembali ke tempat tidurnya. “Se Na sudah melahirkan.”

“Jinjja?”

Chansung oppa mengangguk, “Ye, ia melahirkan 4 hari yang lalu. Bayinya sehat, tapi kondisi Se Na menurun setelah melahirkan.”

“Siapa nama anak itu?” aku sekedar ingin tahu marga apa yang dipasangkan olehnya.

Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Namanya, Hwang Eun Hee.”

“Ternyata perempuan, ya. Boleh aku tahu kenapa kau juga memasangkan marga Hwang pada anak itu?”

Ia menghela nafasnya lalu menarikku untuk duduk di sofa yang disediakan di kamar itu. “Se Na belum menyadarkan diri sejak melahirkan. Orangtuaku dan orangtuanya yang memasangkan marga itu, bukan aku. Awalnya aku memang ingin menolak, tapi melihat keadaan Se Na yang belum kunjung membaik membuatku sedikit khawatir atas nasib anak itu nanti.”

“Aku mengerti,” jawabku singkat.

“Kau ingat Ok Taecyeon teman sekelasku dulu?” aku mengangguk menanggapinya. “Dialah ayah dari anak itu.”

Jujur saja, aku cukup kaget mendengar ucapannya barusan. Aku tidak menyangka kalau Taec sunbae yang menghamili Se Na.

Tiba-tiba ia meraih pergelangan tangan kananku dan menatap cincin perak yang terpasang di jari manisku. “Kapan?” tanyanya dingin.

“Ne? Kapan apanya?”

Ia menunjuk cincin pernikahanku dengan Jinwoon. Aku langsung menarik tanganku darinya.

“Hampir sebulan yang lalu,” jawabku tak berani menatapnya.

Lagi-lagi ia menghela nafasnya.

“Mianhae, aku berusaha menghubungimu, tapi pelayan di rumahmu bilang kalau kalian sekeluarga sedang berlibur.”

“Sebenarnya yang pergi hanya aku dan Se Na. Appa memintaku untuk membawa Se Na berlibur karena beban pikirannya yang berat sehingga kebiasaan buruk Se Na yang suka minum minuman keras dan juga merokok kambuh…”

“… tapi usahaku itu sia-sia,” lanjutnya lemas.

Dengan ragu aku raih tangan Chansung oppa lalu menggenggamnya, “Ia sama denganku. Se Na butuh seseorang yang bisa menjaganya dan yang pasti orang yang bisa ia percaya. Jadilah orang itu, oppa.”

“Aku sudah berusaha sebisaku, Ri Jung-ah! Perasaanku padanya tidak akan pernah berubah, begitupun padamu. Aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu.”

Aku menatap kedua matanya lurus. “Kalau begitu, beri dia perhatian dan juga kasih sayang. Ia sangat membutuhkanmu sekarang.”

“Aku mengerti. Kalau memang itu maumu, akan aku usahakan.”

+++

18 tahun kemudian..

“Chang Soo-ya, cepat bangun. Hari ini waktunya kau periksa ke dokter,” kudengar Jinwoon membangunkan Chang Soo di kamarnya.

Aku tak pernah merasa menyesal sedikitpun telah menikah dengan pria seperti Jinwoon. Ia sangat menyayangi Chang Soo sedari kecil walaupun Chang Soo sendiri tahu kalau Jinwoon bukanlah ayah kandungnya melainkan Chansung.

Pada tahun ke 2 pernikahan kami, aku melahirkan anak keduaku dengan Jinwoon. Aku melahirkan anak perempuan yang cantik dan sehat, Jung Eun Mi. Ia terlihat lebih mirip Jinwoon daripada aku. Aku bersyukur karena Jinwoon tak pernah sekalipun membeda-bedakan antara Chang Soo dan Eun Mi.

“Yeobo~” panggil Jinwoon manja. Aku hanya bergumam pelan menanggapinya.

“Hari ini biar aku saja yang mengantar Eun Mi ke sekolah, ya? Gunakan hari liburmu sebaik-baiknya,” ucapku sambil menyiapkan kopi untuknya.

Aku sedikit kaget saat merasakan tangan Jinwoon melingkar di pinggangku. “Yaak~ aku jadi sulit bergerak.”

“Biarkan aku begini sebentar saja… aku merindukanmu, Ri Jung-ah~” akhirnya aku menurut dan untuk beberapa menit diam dalam posisi itu. Jinwoon memang baru saja tiba dari Jepang.

“Oemma, Appa!” kami berdua tersentak kaget saat mendengar sahutan Eun Mi. Aku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Segera aku lepaskan pelukan Jinwoon lalu bergegas bersiap.

“Oemma, pulang dari dokter nanti aku ingin memperkenalkanmu kepada seseorang,” ucap Chang Soo saat di mobil.

“Oppa, apa kau akan membawa seorang gadis cantik?” goda Eun Mi.

Aku mengencangkan sit beltku dan mengatur spion depan. “Siapa yang akan kau kenalkan, Chang Soo-ah?”

“Oemma, pasti oppa akan membawa wanita cantik! Percaya padaku.. haha..” Eun Mi masih saja menggoda kakaknya itu.

“Eun Mi-ya, yang pasti wanita itu lebih cantik darimu,” balas Chang Soo. Mereka terus berbalas ejekan sampai akhirnya kami tiba di sekolah Eun Mi.

Selama diperjalanan ke dokter Chang Soo hanya diam sambil menatap keluar jendela. “Chang Soo-ya, wae? Gwaenchanayo?”

“Gwaenchana.. Oemma, aku masih bisa hidup lebih lama, kan?”

CKIIIIT!!

Aku menginjak rem mobil hingga mobil kami berhenti di tengah jalan. Untung saja jalanan sedang sepi. Segera kupinggirkan mobilku dan menenangkan diri sejenak.

“Kenapa kau berbicara seperti itu? Selama ini hasil dari dokter selalu baik dan—“

“Ani, aku hanya berpikir, bagaimana kalau aku tidak diberi kesempatan hidup lebih lama dan tidak bisa membahagiakan orang-orang yang aku kasihi?” potongnya sambil terus menatap lurus ke depan.

“Sudahlah, dengan berpikiran buruk begitu secara tidak langsung kau memberi sugesti buruk terhadap tubuhmu,” jawabku lalu kembali melanjutkan perjalanan.

“Oemma, pulanglah, aku akan pulang sendiri dan membawakanmu seseorang yang akan aku kenalkan padamu,” ucapnya saat turun dari mobil.

Jujur saja, aku punya firasat aneh tentang orang yang akan ia kenalkan padaku. “Baiklah, berhati-hatilah di jalan.”

Sebelum pulang ke rumah aku putuskan untuk berbelanja dulu. Membeli beberapa bahan masak yang sudah mulai habis.

“Ri Jung-ah!” aku berbalik mencari arah suara yang memanggilku. Kulihat Chansung oppa berlari kecil menghampiriku.

Aku tersenyum padanya, begitupun dengannya. “Sedang berbelanja?”

“Begitulah. Kemana Jinwoon? Ia tidak mengantarmu?”

Aku menggeleng sambil kembali berjalan memilih sayuran segar, “Ia baru saja pulang dari Jepang. Aku menyuruhnya untuk beristirahat.”

“Ia benar-benar beruntung.”

Aku menghentikan langkahku lalu menatapnya, “Sudah berapa kali aku memintamu untuk tidak iri padanya? Kau tetap menjadi pria terbaikku, oppa.”

“Ah ya, Se Na sempat menanyakan tentang Chang Soo padaku.”

“Mwo? Apa yang ia tanyakan? Mau apa dia?”

“Tenanglah, bukankah kau yang memintaku untuk berbaik hati padanya, kenapa sekarang sepertinya kau kembali membencinya?”

“Cih, aku memang memintamu untuk baik padanya, bukan berarti aku juga harus, kan?” jawabku sedikit kesal.

“Se Na hanya menanyakan kabar Chang Soo. Ia memang belum pernah meminta maaf, tapi aku pikir muncul perasaan bersalah di dirinya.”

~Nareul bogo utneunde (10jeom) malhaneun moksoriga (10jeom)
Mannamyeon manna bol surok eojjeom
Binteumi eobseo Yes sir, Yes sir
~

Chansung membuka flip ponselnya, “Yeoboseyo?”

“Ah, Eun Hee-ya?”

“Ne.. hati-hati,” ucapnya sebelum memutuskan telepon.

“Apa Eun Hee sudah tahu siapa ayah kandungnya?”

Ia menggeleng, “Benar apa kata Se Na dulu, Taec memang tidak pernah berniat untuk bertanggung jawab.”

Aku hanya diam memikirkan ucapannya barusan. Dulu aku pernah berpikiran kalau Chang Soo akan bertemu dengan Eun Hee dan bisa saja mereka saling menyukai, kan? Selama ini aku perhatikan sikap Chang Soo sangat mirip dengan Chansung oppa. Ia memang lebih pendiam daripada ayahnya, tapi ketertarikan mereka kepada wanita-wanita cantik benar-benar sama persis.

Kalau pun Chang Soo dan Eun Hee bertemu, dengan mengetahui status mereka yang sama-sama anak dari Chansung oppa, pasti kemungkinan saling menyukai akan kecil sekali.

“Ri Jung-ah?” aku tersadar dari lamunanku. “Ne?”

Ia melihat jam tangannya, “Sepertinya aku harus pergi sekarang. Apa aku perlu mengantarmu?”

“Tidak usah, aku bawa mobil. Hati-hati..”

Setelah mendapat semua yang aku butuhkan, aku segera mengantre ke kasir dan pulang.

Sesampainya di rumah aku lihat mobil Jinwoon tidak ada di garasi, apa dia pergi?

“Selamat datang, yeobo~” sambut Jinwoon saat aku memasuki ruang tamu.

Jinwoon ada di rumah, lalu kemana mobilnya? “Jinwoon-ah, kemana mobilmu?”

“Apa Chang Soo tidak bilang padamu? Sepulangnya dari dokter tadi ia meminjam mobilku untuk menjemput seseorang. Mungkin ia akan datang sebentar lagi.”

Menjemput seseorang? Kenapa perasaanku mendadak tidak enak?

“Yeoboo~”

Aku menoleh, “Ne?”

Jinwoon berjalan mendekat lalu memperpendek jarak diantara tubuh kami. “Bagaimana kalau..” ucapannya dilanjutkannya dengan kecupan lembut di bibirku. Aku tahu apa yang ia maksud.

Aku letakkan kedua tanganku di dadanya yang bidang lalu mendorongnya pelan. “Sebentar lagi Chang Soo datang, oppa..”

“Aish, berhenti memanggilku ‘oppa’ atau aku akan benar-benar menyerangmu sekarang,” gerutunya kesal lalu naik ke lantai atas.

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.

Ting Tong~

“Biar aku saja!” seru Jinwoon tiba-tiba dari lantai atas. Aku menurut dan berjalan ke dapur menyiapkan makan siang.

Ting Tong~

“Nee~ tunggu sebentar..” seru Jinwoon lagi.

Aku dengar pintu sudah terbuka, tapi kenapa tak terdengar suara sama sekali? Akhirnya aku putuskan untuk menyusulnya ke ruang tamu. Tak ada orang.

“Jinwoon-ah?” panggilku.

“Ne, yeobo?” jawab Jinwoon dari balik pintu.

Aku menatapnya heran, “Sedang apa kau disana? Mana tamunya?”

Tiba-tiba ia masuk dan menutup pintunya dengan cepat. “Ah, yang tadi hanya salah rumah,” ia terlihat gugup menjawab pertanyaanku.

“Aih~ apa kau menyembunyikan kekasih barumu dari Jepang ? Dia pasti datang karena ingin meminta pertanggung jawabanmu karena kau telah menghamilinya, bukan?” candaku.

Ia menatapku lemas, “Aigo~ kau tega sekali, yeobo. Aku tidak mungkin berselingkuh darimu.”

“Jadi siapa yang datang? Jangan menyembunyikan sesuatu dariku lagi, oppa..” aku tahu ia selalu luluh setiap aku memanggilnya ‘oppa’.

“Sebaiknya kau tidak usah bertemu dengannya,” jawabnya serius.

Aku semakn bingung dibuatnya, sebenarnya siapa orang itu?

Tanpa memperdulikan perkataan Jinwoon, kubuka pintu dan kulihat Chang Soo sedang berbicara dengan seorang gadis sambil menggenggam tangannya. Sepertinya aku kenal gadis itu.

“Chang Soo-ah?” ia berbalik, begitupun dengan gadis itu.

“Oemma, kenapa Appa melarangku untuk bertemu denganmu?” tanya Chang Soo.

Mataku tak henti-hentinya menatap gadis itu, “Karena kau membawanya. Hwang Eun Hee.”

~END~

By: tyasung

Finally!!!!! *\(>o<)/*

Maaf sebelumnya, karena saya mengingkari janji. Ff ini beres jauh dari waktu yang udah saya janjiin. Miaaaaan *bow*

Pada ngerti ga endingnya? Maksud saya jadi si Ri Jung ini kyk ngulangin masa-masa dia dulu waktu dilarang pacaran sama Channie. Mungkin (atau pasti) ada yang mikir kalo endingnya anehlah, ato bingungin, ato ga nyambung, tapi ini yang ada di otak saya. Daripada dipanjang-panjangin lagi kan maleeees~ hehe.

Makasih aja deh yang udah mau baca dan setia sampai part ini, tapi maaf jika tak sesuai harapan *bow*. Kasih komen ya, tulis aja semua kekurangan ff ini, saya terima kok😀

9 thoughts on “Be Mine, please {part 12}

  1. finally \m/
    hoo taec toh ternyata😮
    yaaah udahan deh bmpnya T.T
    tetep kurang panjang.hahahaha *peace ^^v
    but still, sooooo nice thor ^^b
    ayo ayo yg laen yg laen. hahahaha aku ga akan bosen baca ff2 mu dear ri jung~

  2. Halaah , udahan nih ceritanya ? Bagus . . Bagus . . Tapi kenapa harus taecyeon ? Tega ih . Okelah , itu yang ” i love you , songsaenim ” lanjutin yaa . .

  3. Weh2… Aku bru bc nih. Mian bru kmen d akhr… Keren crtanya. Konfliknya rada ruwet sih, tp oke. Endingx hem, jjur rada bngung. Hehe. Tp ngerti kok kalo d lnjtn ya crtnya bs kya crt ortu mrk dlu y?? Hehe. Nice chingu… Aku mw bc yg lain ya… *komengajepanjangamat hehe

  4. ahhh~~ selesai juga baca be mine,please
    tp knp part3’y gak ada??

    apa changsoo gak tau klo eun hee anak dr ayahnya juga *walo bkn ank kandung* ???

    After story..after story!!!! hehehe~

  5. Chan sung mendapat karma nya ( istri nya hamil dgn tmn nya ) … Aq suka bgt ri jung milih jinwoo hehe
    OMG … Jgn blg masa lalu terulang lagi ke anak mereka ? Andwe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s