I Love You, Seonsaengnim! {Part 1}

“Min Young-ssi, jika di kelas 3 ini tak ada kemajuan dari nilai-nilaimu, kau akan kesulitan untuk melanjutkan sekolahmu ke perguruan tinggi. Kau harus benar-benar serius di tahun ini.”

Min Young melangkahkan kakinya lemas keluar ruang guru. Ucapan Park songsaenim itu benar. Ia harus merubah cara belajarnya selama ini yang bisa dibilang serampangan.

***

Lee Min Young’s POV

“Young-ah! Berapa kali Eomma menyuruhmu belajar dan belajar! Kalau kau menuruti perintah Eomma, pasti nilaimu tidak akan sejelek ini! …bla…bla…bla…”

Aku segera berlari ke kamarku begitu mendengar Eomma mulai mengomel tentang nilai rapot kenaikan kelasku yang menurun terutama matematika.

Kubuka kembali lembar demi lembar halaman di rapotku. Yah, sepertinya aku memang tidak bakat dalam hal hitung menghitung. Dari tahun ketahun kuperhatikan sangat sedikit kemajuan nilai matematikaku. Tahun ini pun aku mendapatkan angka 58 untuk Matematika dan nilai tertinggi tetap pada Bahasa Inggris dengan angka 90. Seandainya matematika bisa aku kerjakan semudah aku mengerjakan bahasa Inggris.

Tok.. Tok..

Eomma maembuka pintu kamarku lalu berjalan menghampiriku. “Young-ah, Eomma sudah membicarakan hal ini dengan Appa..”

Aku diam menunggu Eomma melanjutkan kalimatnya.

“Lusa nanti kau akan mendapatkan guru privat, tepatnya guru privat matematika.”

Aku tercengang tak percaya, “tapi bukankah aku baru saja memasuki lubur kenaikan kelas? Kenapa aku harus belajar di hari libur?”

“Oleh karena itu, liburanmu harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat,” jawab Eomma tegas. “Ah ya, kau tidak perlu khawatir. Orang yang akan menjadi guru privatmu adalah orang yang sudah kau kenal.”

“Jeongmalyo? Nugu?”

“Yang pasti ia dari keluarga Cho. Kau ingat mereka, kan? Eomma mempercayakanmu padanya karena keluarga kita sudah kenal lama dengan keluarganya.”

Aku berpikir sejenak. Sudah 5 tahun lamanya aku tidak bertemu dengan keluarga Cho. Terakhir kali aku dengar beritanya tentang anak lelaki mereka yang baru saja masuk ke Universitas Kyunghee, kalu tidak salah jurusan musik modern. Ah! Pasti Ahra onnie yang akan menjadi guru privatku nanti.

“Eomma, apa Ahra onnie yang akan mengajariku nanti?”

Eomma menggeleng, “Eomma juga belum tahu. Appa yang mengurus semuanya.”

‘Ah, tidak mungkin seorang mahasiswa musik modern akan mengajariku pelajaran matematika. Ya, pasti Ahra eonni,’ batinku yakin dengan pemikiran singkatku.

***

Dua hari kemudian..

Ting tong..

Kutekan bel pintu kediaman keluarga Cho. Awalnya aku pikir kalau sang gurulah yang akan datang ke tempat murid, tapi ternyata akulah yang diharuskan datang ke tempat sang guru.

Pintu rumah terbuka dan seorang wanita muda muncul dari balik pintu. “Annyeong! Kau pasti Min Young!”

“Ne..,” jawabku lalu masuk bersamanya. Ia mempersilahkanku duduk dan membuatkanku secangkir teh.

“Apa kau Ahra eonni?” aku membuka pembicaraan.

Ia meletakan cangkir tehnya lalu menatapku, “ne, sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Aku mengangguk lalu meneguk tehku lagi. Entah kenapa suasana disini terasa sedikit canggung.

15 menit kemudian…

“Eonni, apa bisa kita mulai sekarang belajarnya?” tanyaku yang sudah mulai jengah berada di tempat ini tanpa melakukan apapun. Aku ingin segera pulang.

Ia melihat jam tangannya, “tunggu sebentar lagi, ya? Sebentar lagi ia pasti datang.”

“Siapa yang sedang kita tunggu?”

“Tentu saja Kyuhyun. Biasanya ia sudah pulang jam segini.”

Kyuhyun? Sepertinya dia adalah adik eonni Ahra, tapi untuk apa kami menunggunya?

Cklek. “Aku pulang..,” sahut seseorang dari pintu depan. Ahra eonni berdiri lalu menghampiri orang tersebut.

“Young-ah, kau sudah bisa mulai belajar,” ucap Ahra eonni dengan seorang namja di sampingnya.

Aku mengerutkan keningku masih belum mengerti, “siapa dia?”

“Dia Cho Kyuhyun, guru privat matematikamu.”

“Bukankah eonni yang akan me–”

“Kau mau belajar tidak? Kalau tidak, pulang saja. Aku lelah,” potong namja yang bernama Kyuhyun itu tiba-tiba.

Aku diam sedikit kesal dengan sikapnya yang sombong itu. Kulihat Ahra eonni menyikut lengannya lalu tersenyum padaku, “mianhae, Young-ah.”

Aku hanya tersenyum kecut lalu meraih tas punggungku dan mengeluarkan sebuah buku Matematika. Kyuhyun hanya memperhatikanku lalu berbalik, “kita belajar di atas.”

Ahra onnie menghampiriku, “maafkan atas sikapnya yang tidak sopan barusan. Aku harap kau akan segera terbiasa.”

“Ne, gomawoyo onnie..,” jawabku lalu berjalan kearah tangga.

Sesampainya di lantai dua, aku tidak melihat Kyu. Aku hanya melihat beberapa ruangan yang pintunya tertutup. “dimana dia?”

Cklek. Kubuka pintu pertama. Ternyata hanya ruangan kosong yang gelap.

Cklek. Kubuka lagi pintu selanjutnya. Mataku terpukau dengan beberapa piala dan piagam yang terpajang di ruangan ini. Sepertinya ini adalah ruang penyimpanan semua prestasi-prestasi yang didapat oleh keluarga Cho.

Aku langkahkan kakiku masuk dan memperhatikan satu persatu piala dan piagam yang ada di ruangan tersebut. Tiba-tiba mataku terhenti di sebuah piagam yang bertuliskan nama Cho Kyuhyun disana. Setelah aku cerna kalimat demi kalimat, akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan dari piagam itu. Seorang Cho Kyuhyun pernah memenangkan sebuah olimpiade Matematika. Apa ia sejenius itu?

“Yak! Apa yang kau lakukan disini?” aku berbalik dan mendapati Kyuhyun dengan wajah kesalnya.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, “ani, aku hanya mencarimu.”

“Aku menunggumu daritadi di kamarku.”

“Mana kutahu yang mana kamarmu!” aku mulai kesal dengan sikapnya yang seenaknya. Kenapa Eomma menyuruhku belajar padanya?

***

Aku lihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku masih berkutat dengan deretan angka di lembaran soal yang ia berikan.

“Apa kau sudah selesai?” tanyanya lalu menghampiriku. Aku menggeleng singkat.

“Bagian mana yang tidak kau mengerti?” tiba-tiba ia duduk di sampingku dan meraih kertas soalnya. Jarak kami sangatlah dekat sehingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi.

Perhatianku tidak tertuju kepada soal yang sedang ia terangkan, melainkan wajahnya yang kini hanya berjarak 10 senti dari wajahku. Ia laki-laki yang sangat tampan.

“Min Young-ssi, apa kau mengerti?” aku yang sedikit terkejut langsung refleks mengangguk.

“Baiklah, kalau begitu kerjakan lagi soal nomor 9.”

Aku mengangguk lagi lalu membaca soal tersebut. “soal apa ini?” gumamku pelan saat melihat sebuah grafik yang membentuk segitiga dan beberapa angka disekelilingnya.

Aigoo.. seharusnya tadi aku memperhatikan penjelasannya. Harus aku apakan soal ini?

“Kyuhyun-ssi..”

“Panggil aku oppa” potongnya tanpa melihatku dan tetap memusatkan perhatiannya pada PSP yang ada di tangannya.

“Ne, oppa, sekarang sudah setengah delapan malam.”

Ia bangkit dari posisi tidurnya, “jeongmalyo? Khajja..”

Aku membereskan barang-barangku sambil menatapnya heran, “Khajja? Kemana?”

“Tentu saja mengantarmu pulang,” jawabnya sambil mengenakan jaketnya.

“Aku bisa pulang sendiri. Rumahku hanya berjarak 5 rumah dari sini.”

Ia menghela nafasnya, “kau pikir suatu kejahatan tak bisa terjadi dalam jarak sedekat itu?”

‘Orang ini kenapa?’ batinku heran dengan sikapnya yang jauh berbeda dengan sikapnya tadi siang.

Aku hanya bisa mengangguk dan mengikutinya berjalan kearah garasi. Ia mengeluarkan motornya, sedangkan aku menunggunya di luar.

“Cepat naik,” suruhnya dan aku langsung menurutinya.

Sesampainya di rumahku, tanpa bicara sepatah katapun ia langsung pergi begituu saja setelah aku turun. Benar-benar orang aneh.

“Aku pulaang~..” sahutku lemas. Aku benar-benar lelah. Belajar matematika selama 4 jam nonstop membuat otaku seperti akan pecah saja.

Eomma menghampiriku, “Young-ah, bagaimana les privatmu? Apa kau merasakan kemajuan?”

“Yah~”

“Apa maksudmu dengan ’yah~’?”

Aku tak menghiraukan pertanyaan Eomma dan berjalan lemas karah kamar. Aku butuh istirahat.

***
“Young-ah, bangun..!” aku kerjapkan mataku dan melihat jam dinding kamarku.

“Eomma, ini masih jam 7. Apa kau tidak bisa membiarkan aku beristirahat lebih lama?”

Bukannya meninggalkanku keluar, Eomma malah menarik selimut hangatku dan mengguncang tubuhku. “Cepat bangun!”

“Eomma, wae?” akhirnya dengan terpaksa aku bangun dan membuka mataku yang berat.

“Tadi Kyuhyun kesini dan mengantarkan ini..” jawab Eomma lalu menyerahkan sebuah buku tebal.

Aku menerimanya dan membaca sampulnya, “Kumpulan Soal Matematika?”

“Ye, ia bilang ia akan datang lagi jam 12 siang nanti dan kau sudah harus menyelesaikan 1 bab dari buku itu.”

Kali ini mataku benar-benar terbuka. Aku ingin menangis rasanya. Apa dia mau membunuhku dengan cara ini?!

Aku segera mandi dan sarapan, setelah itu kembali ke kamar dan mulai membuka halaman buku itu satu persatu.

Sekarang sudah pukul 9 tapi belum satu soalpun terselesaikan. Orang itu benar-benar ingin menyiksaku!

“Aigo! Kenapa aku tidak minta bantuan oppa saja?” aku segera bergegas ke kamar Hae oppa yang berada di sebelah kamarku.

“Oppa~!” teriakku dari luar kamarnya. Tak ada jawaban, aku ketuk pintunya. Masih tak ada jawaban.

Akhirnya aku coba buka pintunya yang ternyata tak ia kunci. Aish! Kamarnya kosong. Apa oppa sudah berangkat kuliah?

Aku kembali ke kamarku, kembali membuka lembaran pertama buku itu dan membaca soal nomor 1.

“Turunan dari f(x) = sin3x adalah f’(x)… aish! Soal macam apa ini?!”

Kubalik halaman selanjutnya dan mataku kembali dikejutkan oleh deretan soal yang bermacam-macam.

“Nilai p agar garis x + y = p menyinggung parabola x + 5x + …? Apa aku akan bertemu dengan soal-soal ini di kelas 3 nanti? Omona…”

Aku rebahkan tubuhku menatap langit-langit kamarku. “Aigoo~”

“Young-ah~!” aku dengar Eomma memanggil dari lantai bawah. Aku segera keluar kamar menghampirinya.

“Apa kau sudah selesai mengerjakan soal-soal dari Kyuhyun?” tanya Eomma dari dapur.

“Sama sekali belum. Lagipula kenapa Eomma tega sekali menitipkan aku pada orang seperti Kyuhyun?!”

Eomma mencuci tangannya lalu mendekatiku, “jangan keras-keras bicaranya, Kyuhyun ada di ruang tamu.”

Aku membulatkan mataku tak percaya, “mw.. mwo?”

“Dia baru saja datang, makanya Eomma memanggilmu.”

“Bukankah dia seharusnya datang jam 12 nanti?”

Eomma mengangkat kedua bahunya, “cepat temui dia dan kerjakan soalnya bersama Kyuhyun. Eomma akan membuatkan minum.”

Aku intip sedikit kearah ruang tamu dan benar! Kyuhyun sedang duduk santai disana dengan PSP di tangannya.

Dengan malas aku ambil buku soal yang diberikannya dari kamarku lalu menghampirinya di ruang tamu.

“Sudah selesai?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari PSPnya.

“Belum. Belum satupun.”

Ia menghela nafas berat lalu menyimpan PSPnya di tas. “Bagian mana yang tidak kau mengerti?”

“Semua.”

“Baiklah, cepat duduk dan kita kerjakan bersama,” ucapnya sembari menyiapkan peralatan menulis miliknya.

Aku mengangguk pasrah lalu duduk di sampingnya. Sisa hari ini pasti akan habis oleh soal-soal ini.

***
“Kyuhyun-ah, Min Young-ah, makan malam sudah siap,” seru Eomma dari dapur.

Benar saja, 9 jam aku habiskan waktuku bercumbu dengan buku tebal ini.

“Nee~” jawab kami serempak. Aku berdiri dari dudukku tapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Aku lihat ia menuliskan sesuatu di sebuah kertas kecil lalu melipatnya. “Ini..” ucapnya sembari menyerahkan kertas tersebut.

Aku menerimanya dengan bingung, “apa ini?”

“Itu nomor ponselku. Hubungi saja aku kalau ada yang tidak kau mengerti,” jawabnya lalu berdiri dan berjalan ke ruang makan.

Aku masukkan kertas itu ke dalam saku bajuku lalu mengikutinya berjalan ke ruang makan.

“Kyuhyun-ah, bagaimana perkembangan Min Young?” tanya Eomma membuka pembicaraan.

Ia menatapku dari tempatnya duduk, “menurutku dia cukup pintar.”

Mendengar jawabannya barusan, sontak aku langsung melihat kearahnya. Apa maksudnya? Jelas-jelas ia tahu tentang kemampuan berhitungku sangatlah buruk.

Dengan jawabannya tadi, Eomma pasti akan berharap lebih dariku. Tunggu, apa ia bicara begitu agar bebas dari tanggung jawabnya untuk mengajariku matematika?

“Jeongmalyo? Ah.. ini pasti karena kau yang mengajarkannya dengan baik,” ucap Eomma percaya dengan apa yang ia katakan.

Aku kembali menunduk dan dengan segera menghabiskan makan malamku.

Seselesainya makan malam, Kyuhyun langsung pamit pulang. Aku langsung menuju kamarku lalu membaringkan tubuhku diatas kasur. “Aigoo~ semoga besok ia tak datang lagi.”

+++
Dua minggu kemudian..

“Young-ah~! Sampai kapan kau mau tidur?! Cepat bangun! Kyuhyun sudah di bawah menunggumu!” kubuka mataku perlahan mencoba mencerna ucapan Eomma barusan.

Mataku langsung terbuka lebar saat ingat bahwa hari ini adalah hari pertama masuk sekolah lagi setelah libur kenaikan kelas kemarin, tapi… “Kyuhyun? Untuk apa ia kesini? Apa dia tidak tahu kalau aku sekolah hari ini?”

“Apa kau tidak tahu? Mulai hari ini Kyuhyun praktek mengajar di sekolahmu sebagai guru kesenian musik.”

Aku kembali membulatkan mataku, “ne?! Aigo~ habis sudah masa-masa bahagiaku..”

Dua minggu kemarin, aku sangat senang karena ia tidak datang mengajar. Keluarganya yang tiba-tiba ada urusan di Cina, harus menetap disana untuk sementara waktu, tapi apa secepat ini? Ya Tuhan, kenapa ia tidak pindah untuk selama-lamanya? Kenapa hanya dua minggu? Ini terlalu cepat!

Aku langkahkan kakiku malas ke kamar mandi, menyelesaikan sarapanku dan segera melangkah keluar rumah, tapi aku lupa satu hal. “Sedang apa kau disini?!”

“Aish.. apa wanita tak bisa bersiap lebih cepat? Eomma, eonni, dan sekarang kau,” tiba-tiba ia menggerutu sendiri. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah sebuah motor yang terparkir di depan pagar rumahku.

Aku berbalik dan membuka pintu rumahku, “Eomma~! Kenapa aku harus berangkat dengan orang ini? Kemana Hae oppa?”

Tak lama Eomma menghampiriku, “Hae oppa sudah berangkat sejak tadi. Jadi Eomma meminta Kyu untuk mampir kemari menjemputmu, berterimakasihlah padanya.”

Ia menatapku seakan sedang menunggu ucapan terimakasih dariku. Aku mendengus kesal lalu berjalan menghampirinya. “Kam-sa-ham-ni-da,” ucapku akhirnya.

+++
“Tunggu aku disini saat pulang nanti.”

‘Cih, apa dia akan memberiku buku soal matematika tebal lagi?’ gerutuku dalam hati. Aku tidak menjawabnya dan langsung berjalan kearah gerbang sekolah.

Hari ini dilaksanakan upacara penerimaan murid baru. Beberapa murid berprestasi di panggil untuk maju ke atas panggung. Aku terkejut saat melihat Kyuhyun berada di deretan murid berprestasi.

“Apa yang ia lakukan disana?” gumamku pelan.

“Young-ah, apa kau tidak tahu? Orang itu adalah senior kita! Dia termasuk murid berprestasi 3 tahun berturut-turut selama ia bersekolah disini,” jelas Hae Rim—teman sekelasku—tiba-tiba.

Aku mengerutkan keningku, “jeongmalyo?”

Ia mengangguk yakin.

“Tapi aku belum pernah melihatnya selama aku disini..”

“Tentu saja! Ia lulus saat kita masuk ke sekolah ini,” jawab Hae Rim lagi. Aku mengangguk mengerti.

Seusai upacara, semua murid masuk ke dalam kelas masing-masing dan memulai pelajaran seperti biasa. Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan kulihat kepala sekolah memasuki kelas.

“Saya kemari ingin mengenalkan seseorang, Kyuhyun-ssi, silahkan masuk..”

Tak lama seorang namja yang berparas tampan, berkulit putih dan berpostur tubuh tinggi masuk dan tersenyum ramah. “Annyeonghaseyo, choneun Cho Kyuhyun imnida. Saya sedang praktek mengajar disini sebagai guru kesenian musik, jadi mohon bantuannya.”

“Young-ah~ bukankah ia tampan?” tanya Hae Rim yang sepetinya jatuh cinta seketika pada pria kejam itu. Aku hanya mengangguk ringan, “ye, dia tampan..”

Bel istirahat berbunyi, aku dan Hae Rim langsung bergegas ke kantin untuk mengisi perut kami yang kelaparan.

“Rim-ah~ aku ingin membeli roti melon di sana.”

“Ne~ arasseo. Aku akan menunggumu di kelas,” jawab Hae Rim lalu pergi meninggalkan kantin.

Aku berjalan kearah antrian tempat membeli roti melon. Tiba-tiba ada yang mendorongku dari belakang.

“Yaak! Apa kau tak bisa..” ucapanku terhenti saat melihat segerombolan siswi di belakangku seperti sedang terhipnotis sesuatu yang ada di depanku.

Omona~! Ternyata laki-laki ini yang membuat para siswi menggila.

“Cho sonsaengnim.. bolehkah aku memanggilmu ‘oppa’? hihi..” celetuk salah satu dari mereka.

Aku lihat ia tak merespon ucapan siswi-siswi tadi, begitupun aku yang kembali ke antrianku.

Tak lama mereka berdesak-desakan lagi hingga aku terdorong ke depan. Tiba-tiba seseorang menangkapku, “apa kalian tidak bisa tenang?”

Aku dongakan kepalaku dan melihat Kyuhyun dengan wajah kesalnya menatap para siswi itu, sedangkan tangan kirinya sedang melingkar di pinggangku. Dengan cepat aku lepaskan tangannya dan menjauh. Karena antrian sedang kacau, kugunakan saat-saat ini untuk menyela dan segera membeli roti melonku.

“Ah, tinggal satu!” seruku pelan. Segera kubayar roti itu lalu meninggalkan kantin tanpa menghiraukan keributan kecil yang terjadi disana.

+++
Sepulang sekolah sesuai perintahnya aku menunggunya di depan gerbang masuk sekolah. Tak lama ia datang dengan sepeda motornya dan memberikanku helm.

“Cepat naik, ada hal yang harus aku bicarakan denganmu.”

Aku perhatikan jalan yang ia lalui bukanlah jalan menuju rumahku melainkan rumahnya! Omo~! Apa yang akan ia bicarakan denganku? Apa ia akan membicarakan setumpuk rumus Trigonometri atau Logaritma atau Geometri atau…

“Min Young-ssi, apa kau mau duduk disini seharian? Kenapa kau tidak segera turun?” ucapnya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Benar saja ia membawaku ke rumahnya yang sedang kosong. Pasti ia akan senang menyiksaku dengan rumus-rumus itu tanpa sepengetahuan orang lain!

Dengan perlahan aku berjalan mundur kearah pagar rumahnya yang belum tertutup. Saat aku berbalik, GREP! Kurasakan ia meraih lenganku lalu menariku masuk ke rumahnya. Rencanaku untuk kabur: gagal.

“Haah~…” aku menghela nafasku pasrah.

Ia menatapku, “wae?”

Aku menggeleng singkat, “aniyo..”

“Tunggu sebentar disini,” ucapnya lalu meninggalkanku ke dapur.

Tak lama ia membawa dua cangkir coklat hangat di tangannya. Aku sedikit heran dengan sikapnya ini. Sebenarnya apa yang mau ia bicarakan?

Ia meletakkan satu cangkir di atas meja. Mataku tak henti-hentinya memperhatikannya sampai ia menyadarinya, “wae?”

“Sebenarnya apa yang mau kau bicarakan?”

Ia duduk di sampingku lalu mengeluarkan ponselnya. “Baca ini..”

Aku terima ponselnya dan membaca sebuah SMS yang terpampang di layar. “Mw.. mwo?”

Aku menatapnya lemas, meminta kepastian dari SMS yang baru saja aku baca.

Ia menganggukkan kepalanya, “mohon bantuannya untuk sebulan ke depan, Min Young-ssi.”

TBC

By: tyasung

 

Kekeke~ sebuah kegagalan untuk saya yang gabisa bikin FF Oneshot. Awalnya FF ini mau Oneshot, tapi keterusan ngetik dan ide pun semakin panjang, jadilah FF yang entah kapan beresnya (semoga ga bernasib seperti Be Mine, please)

Happy reading~! Comments needed ;D

14 thoughts on “I Love You, Seonsaengnim! {Part 1}

  1. yaaah sequel deh ffnya
    rame rame rame😄
    apaan sih isi smsnya? o.O
    jangan2 min young disuruh ngurusin kyu lg gara2 ortunya ke cina?

  2. Pingback: Tweets that mention I Love You, Songsaenim! {Part 1} « Hi! i'm Shin Ri Jung -- Topsy.com

  3. onnie~ aku dataaaannng~~ *wave*
    ahihihihi kyuhyunnie~❤ *digeplak minho*

    eaaa chapter lagi onn ? hhh
    hobi amat bikin ff chapter u.u

    itu matematikanya aku belum sampe bab itu lho .__.
    eh? roti melon ada ya onn emang ? #gapenting

    ahahaha gomawo ri jung onnie~ *smooch* *lempar semua bias onn kecuali minho xD*

  4. sebelumya, gomawo untuk linknya~ aku juga udah share linknya ke temenku yang sparkyu, ehehe C:

    Keren! Aku suka awal mereka ketemu, kupikir bakal beneran Ahra eonni yang ngajar diawalnya, trus digantiin sama Kyu. Ternyata udah dari awal~

    Hmm smsnya isinya apa ya? Penasaraaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s