Be Mine, please {part 11}

Ri Jung’s POV

Chansung membungkukkan badannya dengan tangannya yang masih memegangi pergelangan tanganku. “Oemma, Ri Jung sedang mengandung cucumu.”

“mwo?!” aku segera menarik tanganku tak percaya akan tindakannya barusan. “Chansung-ah, apa maksudmu? Yang dikandung Ri Jung adalah anak Jinwoon..”

Chansung oppa mengangkat kepalanya dan menatap kami berdua. “apa yang Oemma ketahui adalah kebohongan. Akulah—“

“Chansung-ah, Oemmanim, dan.. Ri Jung-ssi? Aku perhatikan obrolan kalian sepertinya menarik, apa boleh aku bergabung?” tiba-tiba saja Se Na datang dan memotong ucapan Chansung. Aku sedikit lega karenanya.

“Se Na-ya, Chansung baru saja mengatakan hal yang aneh,” ucap Hyu Chan ahjumma.

Se Na yang terlihat tertarik dengan ucapan mertuanya itu mendekat, “bernarkah? Apa yang ia katakan?”

“dia bilang kalau Ri Jung sedang mengandung cucuku, haha..” jawab Hyu Chan ahjumma yang sepertinya ingin mencairkan suasana antara aku dan Chansung oppa.

Aku lihat Se Na sedang menatapku kesal. “maaf, aku juga tidak mengerti dengan apa yang ia katakan barusan. Sebaiknya masalah ini tak usah dipanjang-panjangkan, bukan?” ucapku berusaha setenang mungkin. ingin sekali rasanya menghilang dari tempat ini tanpa sepengetahuan siapapun.

Hyu Chan ahjumma menepuk bahu Se Na, “Ri Jung benar, masalah ini—“

“aniyo! Aku tidak sedang bercanda ataupun main-main, dan kau, Ri Jung tak seharusnya kau bersikap seperti ini!” sahut Chansung sambil menatapku. Terdengar jelas kalau ia benar-benar marah.

Aku memperhatikan keadaan sekitar, memastikan tidak ada orang yang menyadari keributan kecil disini.

“kau, apa belum puas menganggu hubunganku dengan Chansung?!” Se Na yang sepertinya juga terbawa emosi menjenggut rambutku.

“yaak! Apa-apaan kau?!” teriakku sambil berusaha melepaskan rambutku dari tangannya.

Ia tetap tak melepaskan rambutku malah semakin keras menariknya. “kau tidak seharusnya berada disini! Dasar wanita jalang!”

PLAAK!!

Chansung menampar pipi Se Na dan membuatnya melepaskan jenggutannya pada rambutku. “jangan pernah samakan Ri Jung dengan dirimu!” bentak Chansung pada Se Na.

“yaa.. yaa..! kalian sudahlah! Chansung, Se Na, ini hari pernikahan kalian, kenapa kalian malah bertengkar seperti ini?!” Hyu Chan ahjumma berusaha menenangkan mereka.

“apa usahaku kurang untuk membuatmu membenci Chansung?! Apa kau ingin aku terus melukai Jinwoon?!” tiba-tiba Se Na mendekatiku dan mendorongku sampai aku jatuh tersungkur di lantai.

Apa yang ia katakan barusan? Jadi semua kejadian yang menimpa Jinwoon adalah ulahnya? “aakh!” aku rasakan rasa sakit menjalar dari perutku. Aku lihat darah mengalir dari dalam dress yang kukenakan.

“aaaaaah!! Sakit! Sakit..!!” teriakku tak tahan menahan rasa sakit yang terus menyerang perutku.

Aku lihat Chansung oppa dan Hyu Chan ahjumma berlari menghampiriku, berbeda dengan Se Na yang hanya berdiri di tempatnya tak bergeming. Lama kelamaan pandanganku menjadi kabur dan hal terakhir yang aku rasakan adalah seseorang merengkuhku. Anehnya hal ini membuatku sedikit nyaman.

+++

Aku membuka mataku yang berat dengan perlahan. Menghirup udara sebanyak yang kubisa lalu memandang sekitar, dimana ini?

Kucoba bangun tapi, “akh!” perutku terasa sakit. Akhirnya aku ingat, pernikahan itu, pengakuan Chansung oppa dan kecelakaan ini.

“Ri Jung-ah.. kau sudah sadar?” aku sedikit terkejut saat melihat Jinwoon di pinggir ranjang yang masih setengah sadar berbicara denganku.

“Jinwoon-ah, kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau berada di Mokpo?” tanyaku sambil kembali berbaring.

Ia menggeleng, “aku langsung naik kereta pertama hari ini saat Oemmanim menghubungiku dan mengatakan apa yang terjadi padamu”

“bayiku! Bagaimana keadaan bayiku? Apa aku kehilangannya?” seruku yang teringat dari mana asal sakit di perutku.

“tenanglah Ri Jung-ah, kau memang mengalami pendarahan kecil, tapi untungnya hal itu tidak terlalu membahayakan untukmu dan kandunganmu” jelasnya mencoba menenangkanku.

Aku menghela nafas lega mendengar berita baik itu. Tak terasa air mataku mengalir keluar membayangkan bagaimana jika aku kehilangan anakku. Di awal kehamilan aku memang sangat membenci anak ini, tapi semakin lama atas dukungan orang-orang sekitar yang menyayangiku dan anak ini, hatiku pun menjadi luluh karena bagaimanapun anak ini tetap darah dagingku.

“soal Se Na, aku sudah tahu dan aku harap kejadian ini adalah kecelakaan yang terakhir darinya..” sambung Jinwoon.

Aku pun berharap begitu. Aku sudah lelah dengan kehidupan yang seakan-akan dihantui olehnya.

“ah ya, bagaimana dengan Chansung oppa?” tanyaku saat menyadari ketidakadaannya di ruangan ini.

Jinwoon mengalihkan pandangannya dariku, “aku memang tak berhak untuk  menyembunyikan tentangnya darimu.”

+++

Jinwoon’s POV

Ri Jung menatapku heran, “wae? Apa ada sesuatu terjadi?”

“setelah membawamu kemari dan bertemu dengan kedua orangtuamu, ia menceritakan semua hal yang sesungguhnya terjadi selama ini,” jelasku lalu menatap kedua matanya yang seakan menunggu kelanjutan dari ceritaku.

“Oemmanim menyakan tentang pengakuan Chansung perihal kandunganmu padaku dan aku mengiyakannya. Hah.. kau tahu semarah apa Oemmanim saat itu? Ia menamparku. Yah, itu memang pantas aku dapatkan..”

Tiba-tiba Ri Jung meninju lenganku dengan tinjunya yang kecil. Aku menatapnya heran, tak tahu apa yang salah dari semua ucapanku barusan.

Air mata mulai mengalir dari ujung matanya. Aku mendekatinya, “yeobo, gwaenchana?”

“Jinwoon baboya!! Kenapa kau tidak berbohong saja lagi?! Apa kau mau Appa dan Oemma sampai membatalkan pernikahan kita dan memisahkan kita?!” ucapnya marah sambil terus menangis.

Aku menggeleng, “tentu saja tidak. Ri Jung-ah, gwaenchanayo?” aku sedikit khawatir melihat tangisnya yang semakin menjadi. “apa perlu aku panggilkan dokter?” tanyaku lagi. Aku benar-benar takut kalau ia kesakitan lagi.

Ia kembali memukul pelan lengan kananku.

“yeobo! Kau kenapa?” aku benar-benar heran dengan sikapnya. “sebenarnya apa salahku?”

“apa kau belum mengerti juga?” serunya lalu menundukkan kepalanya. “aku tidak ingin berpisah denganmu! Aku.. pokoknya aku tidak mau kau pergi…”

“aku memang tidak akan pergi, kau pikir aku akan kembali ke Mokpo?”

Aku dengar ia menggeram kesal, “bukan itu yang aku maksud!”

“lalu?”

“aku mencintaimu..” bisiknya pelan sekali.

“ne? aku tidak bisa mendengarmu, katakan lebih keras.”

Ia menatapku kesal, “aku mencintaimu Jung Jinwoon!”

Aku tercengang mendengar pengakuannya barusan. Kupukul pelan pipi kiriku untuk memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi dan ini bukanlah mimpi.

“kau bercanda?” ucapku masih tak percaya akan sesuatu yang baru saja aku dengar. Ia menggeleng pelan, “aku serius..”

Entah apa yang sekarang aku rasakan, terkejut, senang dan terharu bercampur menjadi satu.

“Jinwoon-ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kalau orangtua kita sampai membatalkan perjodohan ini?”

“ah ye… Aku akan berusaha untuk mempertahankan semua yang telah aku dapatkan”

Ia menatapku heran, “memangnya apa saja yang telah kau dapatkan?”

“seorang Shin Ri Jung lengkap dengan cintanya dan juga hatinya,” jawabku percaya diri. Ia menunduk malu. Aku terkekeh pelan, “apa ini artinya kau menerima lamaranku?”

“aku belum bisa menjawabnya sampai aku keluar dari tempat ini dan bertemu dengan orangtua kita,” jawabnya masih menundukkan kepalanya.

“istirahatlah, aku akan tanyakan dokter kapan kau bisa pulang,” aku membaringkannya lalu mengecup keningnya pelan.

Aku keluar dari kamar berjalan menuju ruangan dokter. Tunggu, apa itu Chansung? Aku mennghampirinya yang sedang duduk di ruang tunggu. “sedang apa kau disini?”

“Jinwoon, izinkan aku bertemu dengan Ri Jung..” pintanya. Aku menatapnya kesal. “apa kau tahu kau telah membahayakan dirinya juga kandungannya?”

Ia berdiri meraih kerah bajuku dengan kasar, “jangan bicara seolah anak itu adalah anakmu!”

“apa salah kalau aku mengkhawatirkannya? Siapa yang selama ini selalu berada disampingnya? Kau bahkan tak tahu betapa menderitanya Ri Jung selama ini,” emosiku mulai naik tapi aku tahan karena ini rumah sakit.

Chansung melepas tangannya dari kerahku. “setidaknya izinkan aku meminta maaf padanya. Atau paling tidak, aku ingin melihatnya.”

Aku menghela nafas berat. “baiklah, aku izinkan kau bertemu dengannya, tapi jangan sampai kau menyakitinya lagi.”

+++

Ri Jung’s POV

“Ri Jung-ah, ada yang ingin bertemu denganmu” Jinwoon memasuki kamar. Aku menatapnya heran, “nugu?”

“kau akan tahu nanti. Jika ada sesuatu, cepat panggil aku. Araseo?” aku mengangguk menanggapi ucapannya. Ia berjalan kearah pintu lalu mempersilahkan seseorang masuk.

Aku langsung mengalihkan pandanganku saat aku tahu orang itu adalah Chansung oppa. Ia menutup pintu kamar lalu menghampiriku.

Kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. Aku langsung menarik tanganku kembali secara refleks. “Ri Jung-ah, jeongmal mianhaeyo..” ucapnya akhirnya.

Aku masih diam, tak tahu apa yang harus aku katakan. Ia berlutut di samping ranjangku. “aku tahu pasti kau sangat marah, aku kesini hanya ingin meminta maaf.”

“aku akan memaafkanmu, tapi aku mohon dengan sangat, jangan temui aku lagi. Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Jinwoon setelah anak ini lahir.”

“mwo? Apa kau serius? Tolong jangan lakukan itu, Ri Jung-ah,” ia memohon lalu kembali meraih tanganku.

“wae? Aku bilang kita sudah impas, bukan? Urus saja istrimu itu!”

“kau tahu, Se Na sedang mengandung 4 bulan dan anak itu bukanlah anakku,” aku tercengang dibuatnya. “apa kau serius?” ia mengangguk meyakinkanku.

“apa orangtuanya tahu tentang kehamilannya itu?” tanyaku lagi.

Ia mengangguk, “oleh sebab itu orangtuanya mempercepat pernikahan kami. Aku baru tahu masalah ini sehari sebelum pernikahan.”

“apa kau tahu siapa ayah dari anak itu?” tanyaku semakin penasaran. Aku benar-benar tak menyangka hal ini.

Chansung menggeleng, “selama ini aku tidak tahu ia pergi kemana saja dan bersama siapa. Aku berencana akan menceraikannya sampai anaknya lahir.”

Aku diam, memikirkan kembali keputusanku untuk menikah dengan Jinwoon. Apa aku masih ada kesempatan untuk bersama dengan Chansung oppa?

“oleh sebab itu, aku ingin kau menungguku. Sesuai janjiku, aku akan bertanggung jawab atas anak ini.”

Jujur saja hal ini membuatku kembali bingung. Aku masih sangat menyayangi Chansung oppa, tapi perasaanku juga berat untuk meninggalkan Jinwoon.

“mianhaeyo oppa, aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu dan aku rasa yang hanya bisa memahami diriku hanyalah Jinwoon.”

Ia mendengus kesal, “sebenarnya apa yang kau sukai dari pria itu?”

“Jinwoon tak pernah sekalipun meninggalkan aku disaat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar. Ia selalu memberikan usahanya yang terbaik untukku,” jawabku sembari tersenyum tipis.

“apa kau tidak ingin memberikanku kesempatan lain? Aku bisa lakukan lebih dari apa yang ia lakukan.”

Aku tersenyum lalu menggeleng, “terimakasih, adanya Jinwoon di sampingku selama ini sudah lebih dari cukup. Aku hanya berharap dengan keputusanku ini, kita masih bisa berhubungan dengan baik.”

“benarkah? Kalau begitu… aku akan merasa senang kalau kau senang.”

“oppa, bagaimanapun aku masih sangat menyayangimu dan apapun yang terjadi atau dengan siapa aku menikah nanti kau tetap ayah kandung dari anak ini.”

Chansung oppa mendekatkan wajahnya padaku dan mengecup bibirku lembut. “kau benar-benar telah membuatku menyesal karena telah meninggalkanmu.”

Aku menatap kedua matanya, berharap bisa mendapatkan ciuman hangatnya sekali lagi.

Seakan bisa membaca pikiranku, ia kembali mendekatkan wajahnya dan kembali menciumku. Aku benar-benar sangat merindukan saat-saat seperti ini.

Ku pejamkan mataku, berusaha menikmati momen ini. Tak terasa air mataku mengalir dari pelupuk mataku. Ia langsung melepaskan ciumannya dan menatapku. “Ri Jung-ah, kenapa kau menangis?”

“ani, aku hanya terlalu senang karena bisa bertemu denganmu lagi.”

Ia tersenyum, senyuman yang sangat aku rindukan.

“sepertinya aku sudah harus pergi. Setelah insiden kemarin, Appa memintaku untuk tetap bersama Se Na, tapi aku sangat mengkhawatirkanmu jadi aku sempatkan untuk datang kemari.”

“ah ya, aku ingin kau datang saat aku melahirkan anak kita nanti. Apa kau bisa datang?”

Ia mengangguk, “tentu. Aku pasti akan berada di sampingmu.”

Setelah Chansung oppa keluar, Jinwoon masuk dan langsung menghampiriku.

“Ri Jung-ah, gwaenchana?”

“tentu saja, apa ada sesuatu yang menunjukkan kalau aku tidak baik?”

Ia menggeleng lalu duduk di tepi ranjangku.

“ah ye, apa kau sudah tanyakan pada dokter kapan aku bisa pulang?”

“ah soal itu… kau sudah bisa pulang lusa, tapi…”

Aku menatapnya heran, “tapi apa?”

“aniyo, dokter hanya menyuruhmu beristirahat untuk beberapa hari ini,” jawabnya terlihat sedikit aneh. Sepertinya ada yang ia sembunyikan dariku.

Sepulangnya dari rumah sakit, aku tinggal bersama orangtuaku untuk sementara dan setelah meluruskan masalah tentang kandunganku, Chansung oppa dan juga kebohongan Jinwoon, orangtua kami akhirnya memutuskan untuk meneruskan perjodohan ini. Ini semua berkat kekerasan hati kami yang tetap ingin mempertahankan hubungan kami.

Seminggu kemudian aku dan Jinwoon kembali ke Daegu dan kami kembali menjalankan rutinitas seperti biasa.

“aku pulang..” seru Jinwoon dari pintu masuk. Aku segera datang menyambutnya.

“gwaenchana?” tanyanya tiba-tiba. Aku menatapnya bingung, “ne?”

Ia mengarahkan tangannya ke keningku. “kau terlihat pucat, apa perlu ke dokter?”

“nan gwaencahana, mungkin aku hanya terlalu lelah hari ini. Tidak perlu ke dokter segala,” jawabku meyakinkannya. Ia hanya mengangguk dan mengusap kepalaku lembut. Entah kenapa aku merasa kekhawatirannya kali ini beda dengan kekhawatirannya yang biasa.

+++

4 bulan kemuadian…

Hari ini minggu pertamaku memasuki bulan ke 9 kandunganku dan hal ini membuatku semakin takut dengan persalinan yang akan aku hadapi.

“Jinwoon-ah, seharusnya kau tidak perlu mengambil cuti. Aku bisa menjaga diriku sendiri selama di rumah,” ucapku sambil duduk bersandar di bahunya.

“kau pikir aku tak tahu kalau kondisi tubuhmu sering sekali menurun.”

“aku juga tidak tahu kenapa. Semenjak pendarahan waktu itu, aku sering merasa cepat lelah.”

Jinwoon hanya diam tak berkomentar. Aku bangkit dan memperhatikan ekspresi wajahnya yang seperti sedang memikirkan sesuatu yang buruk.

“yak~! Wae?”

“ne? Ani…”

Aku menatapnya curiga, “kau tahu, belakangan ini… ani, tidak hanya belakangan ini, tapi sudah lama kau bersikap aneh. Seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi, apa Se Na mengganggumu lagi?”

“tidak, aku tidak bersikap aneh,” jawabnya lalu berdri dan berjalan kearah kamarnya.

Aku hanya melihatnya dari tempatku duduk. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.

+++

Dokter menetapkan hari minggu besok adalah hari kelahiran anakku, oleh sebab itu aku diharuskan untuk tinggal di rumah sakit seminggu ini. Sebenarnya aku merasa masih kuat untuk tinggal di rumah, tapi orangtuaku dan juga Jinwoon tetap memaksaku untuk ke rumah sakit.

Bukan Jinwoon saja yang bersikap aneh atau bisa kusebut berlebih-lebihan. Oemma dan Appa pun begitu. Apa yang mereka sembunyikan dariku?

Aku pikir aku akan melahirkan tahun depan, rupanya dokter bilang kemungkinan besar aku akan melahirkan pada tahun ini.

December 31, 2010

“akh!” aku rasakan ada sesuatu yang mendang perutku dari dalam dan rasanya sangat sakit.

“Jinwoon.. Jinwoon-ah..!” panggilku berusaha sekeras mungkin.

“Ri Jung-ah, ada apa?” Jinwoon menghampiriku dengan wajahnya yang panik.

Aku terus memegangi perutku, menahan rasa sakit yang tak kunjung hilang. “perutku.. perutku sakit sekali! Aakh..!”

Ia langsung menekan tombol kecil di samping ranjang dan berlari keluar. Aku dengan ia berteriak berkali-kali memanggil dokter dan suster.

Apa begini rasanya? Rasanya benar-benar menyakitkan. “aakh.. haah.. hah..” nafasku semakin tersenggal senggal. Keringat bercucuran di sekujur tubuhku.

Aku lihat beberapa suster memasuki kamar dan menggiring ranjangku keluar ruangan. Jinwoon berjalan menyamai langkah para suster sembari menggenggam tanganku erat.

“Jinwoon-ah.. aku ingin kau.. menghubungin Chan.. sung oppa…” aku berusaha berbicara sejelas mungkin sebelum memasuki ruang bersalin.

+++

Jinwoon’s POV

Aku mengangguk menanggapi ucapannya. Langsung ku keluarkan ponselku dan menghubungi Chansung dan orangtua kami. Permintaan Ri Jung kali ini lebih penting daripada perasaanku sekarang.

Setengah jam kemudian Chansung datang dengan nafas yang tersenggal senggal. Aku tahu ia pasti sangat berusaha untuk tidak melewatkan momen ini. Ya, momen kelahiran anak pertamanya dari rahim wanita yang sangat aku cintai.

“Jinwoon, kau juga harus masuk,” ucap Chansung sebelum memasuki ruang bersalin.

Aku menggeleng, “ia hanya memintamu–”

“aish! Lupakan permintaannya. Apa kau tidak tahu seberapa besar Ri Jung membutuhkanmu? Ppalli!”

“Jinwoon, ikutlah.. temani Ri Jung,” ucap Oemmanim pelan.

Aku mengangguk dan akhirnya aku ikut dengannya masuk diantar seorang suster. Ri Jung terlihat sangat lemah diatas ranjangnya. Seorang dokter dan beberapa suster disekelilingnya sedang memegang alat-alat operasi.

Kami berdiri di kedua sisi ranjang. Tangan kanan Ri Jung menggenggam erat tangan Chansung, sedangkan tangan kirinya menggenggam tanganku. Bisa kurasakan betapa takutnya ia sekarang.

“Chansung oppa.. Jinwoon.. gomawoyo..,” ucapnya lemah. Aku mengangguk lalu tersenyum berusaha menenangkannya.

“sudah pembukaan 6..,” ucap sang dokter.

Ri Jung meremas kuat tanganku dan mulai mendorong bayinya untuk keluar.

“eugh.. haah.. nggh..” seluruh wajahnya sudah bercucuran keringat. Ingin sekali rasanya aku meringankan bebannya.

+++

“Jinwoon-ssi, keadaan Ri Jung sangatlah lemah saat ini,” ujar dokter yang tadi membantu berjalannya persalinan Ri Jung.

Aku mengangguk pelan, “tapi, bagaimana dengan bayinya?”

“soal bayinya, sepertinya ada masalah dengan jantungnya.”

Hal itu sontak membuatku terkejut. “ada apa dengan jantungnya?”

“mungkin ini adalah efek dari pendarahan yang pernah di alami Ri Jung-ssi.  Salah satu saluran darahnya yang mengarah ke jantung mengalami penyempitan. Hal ini memang tidak akan berdampak serius, tapi penyempitan ini akan menyebabkan aliran darah yang terhambat dan tentu saja akan mempengaruhi berjalannya aktivitas sang anak nantinya.”

Aku keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Aku kira dampak dari pendarahan itu tidak akan sampai ke bayinya dan hanya menyebabkan Ri Jung cepat lelah. Ternyata.. hah.. bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada Ri Jung?

TBC (lagi)

 

Mianhaeeeee~~ lama banget yaa (>/\<) mumpung saya lagi libur semesteran, jadi bakal dikebut sampai tamat deh! Suerrr hehe~

Oh iya, maaf, bagian persalinan cuma bisa bikin segitu aja, soalnya saya kan belum pernah melahirkan hehe~

Kritik saran sangat dibutuhkan🙂

 

3 thoughts on “Be Mine, please {part 11}

  1. ding dong ding~ i’m coming onn~ hahahaha
    uwaaaa keponakanku lahir (>.<)
    namanya sapa onn ? huahahaha

    eh? anaknya gagal jantung gitu ya maksudnya ? ._. /bloon/

    ayo onn kutagih janjimu atas ffku dan kyu~ /plak/ xP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s