Be Mine, Please.. {Part 10}

Ri Jung’s POV

Malam ini malam terakhir kami di Seoul dan Jinwoon mengajakku makan disebuah restoran milik salah satu bibinya. “hm, bolehkah aku memesan menu terbaik disini?” pintaku pada Jinwoon yang masih membaca buku menu.

“tentu saja boleh. Karena besok kita akan kembali ke Daegu, kau boleh memanjakan dirimu semalam ini di Seoul.”

Aku mengangguk senang lalu mengacungkan tanganku mencoba memanggil pelayan, tapi tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang aku kenal. Lee Se Na, ia seperti sedang mempehatikan kami dari jauh. Ah, mungkin aku hanya salah lihat.

DRRT DRRT DRRT

Jinwoon membuka flip ponselnya lalu membaca isi pesan yang masuk. “Ri Jung-ah, aku ke toilet sebentar. Kau pesan saja dulu.”

Aku mengangguk singkat lalu kembali mencari wanita yang aku kira Se Na barusan, tapi tak aku temukan. Kemana wanita itu?

Tiba-tiba aku rasakan seseorang menepuk bahuku dari belakang. “kau sudah kemba—“ ucapanku terhenti karena ternyata yang menepuk bahuku bukanlah Jinwoon melainkan Se Na.

“Ri Jung? Kau Shin Ri Jung, bukan?” tanyanya sok akrab. Aku benar-benar membenci wanita ini.

Aku berdecak kesal lalu memalingkan wajahku. Bukannya pergi, ia malah duduk didepanku. Dikursi Jinwoon.

“maaf, tempat itu sudah terisi.” Ucapku sinis padanya yang dengan santai duduk disitu tanpa menghiraukan perkataanku.

“aku tahu, kau kemari bersama Jinwoon, bukan? Aku juga bersama Chansung, tapi ia sedang pergi ke toilet jadi apa salahnya aku datang kemari dan menyapa temanku yang satu ini?” dari nada bicaranya aku tahu ia sedang mencercaku.

“kau bersama Chansung oppa?” tanyaku Sebisa mungkin menyembunyikan rasa senangku.

Ia tersenyum tipis lalu berdiri. “tentu saja, apa aku salah membawa calon suamiku kesini? Tapi maaf, kalau kau memintaku untuk mempertemukannya denganmu, bermimpilah.”

Aku hanya bisa menatapnya kesal. Ia pergi melenggang begitu saja. Aku bisa saja menamparnya atau menyiramkan minuman kewajahnya tadi tapi aku tidak ingin membuat keributan disini.

Tak lama aku menggerutu sendiri karena kesal, Jinwoon datang. Aneh, ia terlihat sedikit berantakan.

“apa kau menunggu terlalu lama? Mianhae, toiletnya penuh.” Ucapnya beralasan. Apa semua pelanggan mengungsi ke toilet? Sejak tadi aku duduk disini, aku hanya melihat beberapa pelanggan. Restoran sederhana ini bahkan sama sekali tak terisi setengahnya.

Jinwoon terlihat sangat aneh sejak kembali dari toilet tadi. Ia tidak menghabiskan makan malamnya, tak banyak bicara, bahkan tak berkonsentrasi saat berbicara denganku.

Malamnya, aku sengaja pura-pura tidur sampai Jinwoon benar-benar tertidur. Setelah aku pastikan ia benar-benar tidur, aku mencari ponselnya dan membaca pesan singkat yang ia dapatkan saat direstoran tadi.

“temui aku dibelakang sekarang jika kau mau melindungi Ri Jung.”

Kembali aku baca nama pengirim pesan tersebut dan juga nomornya. Aku yakin aku tidak salah membaca namanya dan aku masih sangat ingat nomor telefon orang ini. Hwang Chansung.

Tiba-tiba Jinwoon bergerak dan itu membuatku sedikit kaget lalu dengan terburu-buru aku kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana yang ia gantung dikursi kerjanya. Tak sengaja aku menjatuhkan kemeja putih yang ia gunakan tadi dan aku lihat ada bercak darah di lengan kiri bajunya. “darah apa ini?” gumamku pelan.

Aku menghampirinya dan memperhatikan wajahnya. Apa mungkin luka pukulan yang kemarin terbuka lagi?

Mataku menangkap sebuah goresan kecil diujung bibirnya. Awalnya aku kira itu adalah luka lamanya, tapi tidak, luka yang lama ada diujung kiri bibirnya dan luka yang ini ada disebelah kanan. Ya, aku ingat sekali.

Aku sangat terkejut saat tiba-tiba ia membuka matanya lalu tersenyum. “apa aku bermimpi? Aku sedang disurga lalu aku melihat wajah seorang malaikat yang sangat cantik.” Katanya sambil terkekeh pelan.

Aku yang tertangkap basah sedang memperhatikannya langsung salah tingkah dan menjauh darinya. “tidurlah lagi, maaf kalau aku membangunkanmu. Selamat malam.” ucapku padanya lalu kembali ketempat tidur.

+++

Malam ini kami akan kembali ke Daegu, sangat sedih memang, tapi Jinwoon punya banyak pekerjaan disana dan tak bisa ia tinggal lama-lama.

Sebelum berangkat, pagi-pagi sekali aku pergi kerumahku untuk mengambil beberapa benda kesayanganku yang tertinggal. Setelah berpamitan dengan Oemma dan Appa, aku menunggu Jinwoon menjemput sambil berjalan kesebuah mini market langgananku untuk membeli sebotol air mineral.

“Ri Jung..” aku dengar seseorang memanggilku dan aku berbalik. Entah apa yang aku rasakan sekarang, senang, terkejut, marah atau sedih.

“oppa? Sedang apa kau disini?” tanyaku pada orang itu yang ternyata Chansung oppa.

Ia berjalan mendekat tapi entah kenapa aku melangkahkan kakiku mundur menjauhinya. “tunggu, aku hanya mau berbicara baik-baik denganmu, Ri Jung-ah.”

Aku mengangguk lalu kami berbicara didekat mini market tersebut setelah aku mengirimi SMS pada Jinwoon untuk tidak menjemputku sekarang.

“ah ya, bagaimana kabarmu?” tanyanya mencoba membuka pembicaraan.

“aku baik. Sebaiknya langsung saja katakan apa yang mau kau bicarakan.”

Ia berdeham sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam. “pertama, aku ingin menjelaskan pernikahanku dengan Se Na. Appa menjodohkanku dengannya karena urusan pekerjaan.”

“jinjja? Kalau begitu kita impas.” Jawabku ketus.

Lagi-lagi ia menarik nafasnya. “Appa berjanji akan mempertemukan aku dengan Oemma saat pernikahan nanti. Aku sangat menantikan hal ini. Aku sama sekali tak punya bayangan bagaimana sosok seorang Ibu.”

Kali ini aku diam karena aku memang sudah mengerti masalah ini.

“kedua, aku tidak bisa menghubungimu ataupun mengunjungimu saat kau di Daegu karena Appa menyita semua alat komunikasi dan transportku.” Sambungnya lagi.

Aku menatapnya heran, “lalu, kenapa kau bisa bertemu denganku sekarang?”

Ia menunjuk sebuah mobil sedan putih yang terparkir tidak jauh dari tempat kami duduk. “Se Na mengantarku kesini, ia bilang kau akan kembali ke Daegu hari ini dan aku diizinkannya untuk berbicara denganmu. Hah.. pasti kau berpikir kalau aku ini seperti budak dari seorang Lee Se Na, bukan?”

Aku mengangguk setuju. “tunggu.. darimana ia tahu kalau aku akan kembali ke Daegu hari ini?”

“bukankah kau yang memberitahunya kemarin malam saat bertemu direstoran? Se Na menceritakannya padaku” jawabnya sedikit heran.

“aniyo, sama sekali tidak. Ah ya, apa kau kemarin juga ikut datang bersama Se Na?”

Ia menggeleng, “semalam aku dirumah menemani Appa menjamu rekan kerjanya yang berkunjung kerumah”

Hal ini semakin aneh. Se Na bilang kalau ia bersama Chansung tadi malam, dan SMS itu juga berasal dari Chansung.

Aku merogoh saku tasku, “apa kau tahu tentang kertas ini?” aku menunjukkan kertas ancaman yang ditemukan di baju Jinwoon.

Ia mengambilnya lalu membacanya. “apa ini ancaman? Untuk siapa?”

“menurutmu? Seseorang menghubungi Jinwoon untuk bertemu dengan ‘Hwang Chansung’ dan saat ia kesana ia diserang oleh dua laki-laki yang tak dikenal. Kertas ini ditemukan oleh perawat yang memeriksanya di rumah sakit” jelasku.

Ia menatapku tidak percaya, “percayalah, aku tidak pernah melakukan hal ini”

“dan semalam ia menerima pesan masuk di ponselnya lalu meminta izin untuk ke kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi Jinwoon terlihat aneh. Saat ia tidur aku lihat isi pesan masuk yang memintanya untuk bertemu denganmu di kamar mandi. Aku membaca pesan masuk dari ‘Hwang Chansung’ di ponsel Jinwoon. Bagaimana menurutmu, oppa?” ucapku panjang lebar.

Ia menggeleng pelan lalu meraih tanganku. “aku benar-benar tidak mengetahuinya, Ri Jung-ah. Apa kau tidak percaya padaku?”

“maaf, Jinwoon sudah menjemputku” ujarku lalu segera pergi dari tempat itu dan menghampiri Jinwoon yang memang sudah berdiri di depan mobilnya menungguku.

Aku benar-benar terkejut karena Chansung mengejarku dan menghentikan langkahku. “ada apa lagi?” tanyaku.

“aku belum selesai berbicara. Aku sangat senang saat bertemu denganmu di hotel saat itu tapi kau mengatakan dua hal yang sangat sulit untuk dipercaya bagiku. Apa benar anak itu bukanlah anakku?”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Jinwoon hanya diam di tempatnya memperhatikan kami berdua.

“Ri Jung-ah, jawab aku, dengan jujur” pintanya seraya menggenggam tanganku.

“kita berdua sama-sama tidak bisa menentang kedua orangtua kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengikuti perintah mereka dan menjalankannya meski kita sangat membenci hal itu, bukan? Jadi aku pikir sebaiknya kita lupakan saja apa yang pernah terjadi diantara kita dulu dan anggap saja anak ini bukanlah anakmu” jawabku berusaha setegas mungkin.

Ia meraih wajahku membuatku menatapnya, “jadi anak ini benar anakku?”

“sudahlah, lupakan saja” ucapku, tapi ia tetap tak mau melepaskanku.

Tiba-tiba Jinwoon menghampiri kami dan menarik tangan Chansung dari wajahku. “jangan kau sakiti dia lebih dari ini” katanya lalu menghempaskan tangan Chansung.

“dan satu lagi, apa benar kau mencintai pria ini?” tanyanya Chansung oppa yang mulai terlihat kesal.

“Aku pikir hal itu bisa terjadi kapan saja” jawabku sambil berjalan kearah mobil Jinwoon. Aku sudah tak sanggup untuk menatapnya.

“semudah itukah? Semudah itukah kau mencintainya dan melupakan aku?” aku memberhentikan langkahku.

“tidak ada yang lebih mudah selain mencintai seorang Hwang Chansung” aku pergi dari tempat itu tanpa melihat kearahnya. Aku tidak mau ia melihatku berurai air mata seperti sekarang. Seandainya ia tahu bagaimana perasaanku sekarang.

+++

Jinwoon’s POV

Ri Jung tak henti-hentinya menangis selama di mobil. “apa yang bisa membuatmu merasa baikan?”

Ia menggeleng. Aku tahu memang sangat sulit membuatnya kembali tertawa kalau masalahnya berhubungan dengan Chansung dan aku tahu ia masih sangat mencintai laki-laki itu.

Sesampainya di rumah ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. “panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu” seruku dari balik pintu kamarnya. Pasti ia sangat lelah dengan perjalanan Seoul-Daegu.

Tak ada jawaban darinya, mungkin ia sudah tertidur. Aku yang juga lelah langsung berjalan menuju kamarku dan beristirahat.

+++

TEEEEEET~ TEEEEEEET~

Alarm mejaku berhasil membuat mataku terbuka sedikit demi sedikit tapi aku merasakan kehangatan di tubuhku dan itu membuatku semakin malas untuk bangun. Apa itu? Seingatku aku tidak menggunakan selimut tadi malam karena cuaca sangat panas.

Aku rasakan benda ini bergerak naik turun seperti sedang bernafas. Mataku yang sipit dan belum tersadar sepenuhnya tidak bisa melihat dengan jelas benda apa itu.

Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tidak asing untuk mataku. Sebuah boneka anjing berwarna coklat muda ada di sampingku.

“Ri Jung?!” aku benar-benar terkejut saat menyadari Ri Jung sedang tertidur lelap diatas tubuhku. Kenapa ia bisa ada disini?

Aku menggeser tubuhnya pelan dan membaringkannya di samping boneka anjing kesayangannya. Perlahan aku berjalan keluar kamar dan segera bersiap untuk bekerja.

Sambil mengolesi roti dengan selai aku masih memikirkan kenapa Ri Jung bisa ada di kamarku. Setahuku ia tak tidur berjalan.

“Jinwoon-ah~” panggilnya dari ruang tengah. “ne.. aku di dapur” jawabku.

Tak lama ia menghampiriku sambil merapikan rambutnya. “aku kira kau sudah berangkat” ucapnya.

“ani, melihat kondisimu semalam aku pikir kau tidak akan makan pagi ini. Yah, kau memang tidak akan makan kalau tidak aku paksa, bukan?” godaku.

Ia tak menjawab lalu duduk di depanku. “ini dia, cepat makan agar aku bisa segera berangkat kerja” aku memberikan roti selai miliknya.

“ah ya, soal semalam…” ucap kami bersamaan. Aku lihat ia langsung menundukkan kepalanya.

“silahkan kau dulu..” ujarnya mempersilahkan.

“hm, aku hanya ingin bertanya kenapa kau bisa tidur di kamarku?”

Ia mengangkat kepalanya dan wajahnya tiba-tiba memerah. “mianhae, tadi malam aku tidak bisa tidur. Aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi tak ada jawaban. Saat aku melihatmu tertidur sangat nyenyak aku jadi tak tega membangunkanmu..”

“jadi?” tanyaku menunggu lanjutannya.

“aku tertidur ditempatmu. Jeongmal mianhae, apa aku mengganggu tidurmu?”

Aku menggeleng sambil berusaha menahan tawaku. “haha.. sama sekali tidak. Mungkin aku tidur terlalu lelap sehingga tidak menyadari kalau wanitaku sedang tidak bisa tidur dan bahkan ia tertidur diatas tubuhku.. haha..”

“sudahlah, jangan kau jadikan hal itu sebagai leluconmu. Aku serius, aku benar-benar tidak bisa tidur tadi malam” ucapnya sebal.

Aku menghentikan tawaku dan melihat jam tanganku, “aigoo, Sudah jam 6.47! aku harus segera berangkat. Cepat habiskan sarapanmu dan jangan membuat kericuhan lagi saat aku tak ada, arachi?”

Ia mengangguk pelan lalu mengantarku sampai ke depan. Aku masuk kedalam mobilku lalu segera berangkat menuju kantor dan berharap tidak akan ada yang terjadi pada Ri Jung.

+++

Ri Jung’s POV

Setelah selesai membersihkan rumah yang cukup kotor setelah ditinggal selama satu minggu, aku putuskan untuk mengunjungi halmeoni di rumahnya.

“Ri Jung-ah, bagaimana kabar orangtuamu disana?” tanya Haneul ahjumma padaku.

Aku tersenyum ramah, “mereka baik-baik saja, bagaimana keadaan halmeoni?”

“halmeoni sehat, tapi ia sedang pergi bersama Hyu Chan onnie” jawabnya.

“Hyu Chan ahjumma? Pergi kemana?” tiba-tiba aku teringat dengan perjanjian Chansung oppa dengan ayahnya.

“Hyu Chan onnie bilang, anaknya akan menikah minggu depan dan ia berencana mengajak halmeoni juga ke pernikahan itu”

Aku tertunduk mengingat pernikahan Chansung oppa dengan Se Na akan dilangsungkan minggu depan. Apa yang harus aku lakukan? Sangat sulit untuk melepaskannya.

“Ri Jung-ah?” panggil Haneul ahjumma menyadarkanku. “ne?”

“aku rasa kau sebaiknya ikut pergi mengantar halmeoni. Hyu Chan mungkin akan tinggal di Seoul untuk sementara, jadi paling tidak kau bisa menemani halmeoni disana. Ah ye, kau juga bisa membawa Jinwoon bersamamu”

Aku mengerutkan keningku heran, “kenapa bukan ahjumma saja yang pergi bersama halmeoni? Kenapa harus aku dan Jinwoon?”

“aku sudah ada janji dengan seseorang..” jawabnya ringan lalu berjalan meninggalkanku begitu saja.

Apa aku harus benar-benar pergi? Aku rasa aku tidak akan sanggup.

+++

“Ri Jung-ah~” aku segera menghampiri sumber suara yang ternyata Jinwoon.

Aku meraih tas kerjanya dan membawanya kedalam kamarnya. Sekembalinya aku dari kamarnya ia menatapku heran, “kau kenapa lagi?”

Aku menghela nafasku berat. “ani, hanya saja..”

“hanya saja apa?” tanya Jinwoon yang semakin heran.

“tadi siang aku bertemu dengan Haneul ahjumma dan ia menyuruhku untuk menemani halmeoni datang ke pernikahan Chansung oppa nanti” jelasku.

Ia menghampiriku dengan wajah penasarannya. “ne? Bagaimana bisa halmoeni tahu tentang pernikahan itu?”

“kau ingat dengan Hyu Chan ahjumma? Ibu dari Chansung oppa.” Ia mengangguk.

“ia meminta halmeoni untuk datang bersamanya. Haneul ahjumma menyuruh aku dan kau untuk menemani halmeoni pulang nanti karena Hyu Chan ahjumma akan menetap di Seoul untuk sementara waktu” jelasku lagi.

Jinwoon menjatuhkan dirinya di sofa dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “aigoo.. kau sedang tidak bercanda, kan?”

“tentu saja tidak!” seruku lalu duduk di sampingnya. Ia menurunkan kedua tangannya lalu menatapku, “Ri Jung-ah, bagaimana kalau aku tidak bisa mengantarmu? Tapi aku janji aku akan menjemputmu!”

Aku memanyunkan bibirku, “wae?”

“mianhae, tapi minggu depan aku ditugaskan ke Mokpo untuk tiga hari..” jawabnya lemas.

“aih~ ternyata hanya tiga hari. Gwaenchanayo, aku akan menunggumu disana” aku berusaha setenang mungkin. Sebenarnya aku merasa sangat kecewa karena ia tak bisa ikut denganku, tapi aku tidak ingin keegoisanku sampai mengganggu urusan pekerjaannya.

Ia meneggakkan tubuhnya, “jinjjayo? Aku berjanji akan segera menyusulmu sepulangnya dari Mokpo”

Aku mengangguk meyakinkannya. Aku hanya menemani halmeoni datang ke sebuah pernikahan, yah.. hanya pernikahan biasa, aku yakin bisa melewati hal ini dengan baik.

+++

Satu minggu kemudian…

“Ri Jung-ah, sesampainya disana kau harus segera menghubungiku. Jika terjadi sesuatu kau juga harus segera memberitahuku. Kau harus makan dengan teratur, jangan terlalu lelah dan jangan memaksakan dirimu. Aku akan segera menjemputmu” ucap Jinwoon panjang lebar ditelfon.

Aku menghela nafasku mulai bosan dengan sikap berlebihannya itu, “ne, araseoyo~ kau juga berhati-hatilah disana..”

“jaga dirimu baik-baik. Aku tidak mau apa yang menimpaku dulu menimpamu juga”

Aku terdiam, mengingat  kejadian-kejadian aneh yang menimpa Jinwoon beberapa waktu lalu yang entah siapa pelakunya. Ah, mungkin saja aku bisa mengetahui siapa orang itu saat disana.

“yeobo~” panggil Jinwoon. “ah, ne?”

“aku sudah harus masuk ke ruang rapat” sambungnya.

“ne, fighting~!” ucapku menyemangatinya lalu menutup flip ponselku.

Hyu Chan ahjumma sangat menyesalkan ketidakhadiran Jinwoon. Ia berharap bisa mempertemukanku dan Jinwoon kepada anaknya. Aku yang tahu akan hal itu sedikit lega karena kemungkinan besar akan terjadi pertengkaran antara mereka atau hal buruk lain yang akan terjadi pada Jinwoon.

Sesampainya di Seoul, aku dan halmeoni menginap di rumah Hyu Chan ahjumma. Ia bilang ia masih merasa tidak enak dengan masalah suaminya dan ayahku jadi ia menolak saat aku tawarkan untuk menginap di rumahku.

Seharian ini aku habiskan waktuku untuk beristirahat dan mempersiapkan segala keperluan hari esok. Lebih tepatnya menyiapkan batinku untuk besok.

Keesokan harinya…

Aku langkahkan kakiku masuk kedalam sebuah hotel bintang lima yang sudah terhias dengan berbagai rangkaian bunga-bunga indah.  Aku berjalan terus sampai memasuki hall room. Beberapa tamu dan kerabat dekat keluarga sudah siap dengan acara inti, tidak seperti aku yang sama sekali tidak siap.

Tak lama aku lihat Chansung datang dan berdiri di depan altar. Ia mengenakan tuxedo putih dan betapa terkejutnya aku saat melihat syal yang pernah aku berikan padanya dihari ulang tahunnya ia jadikan dasi di lehernya.

Aku segera mengalihkan pandanganku saat aku tahu ia menatapku. Sepertinya ia berniat menghampiriku tapi pintu hall sudah terbuka menandakan sang pengantin wanita akan memasuki ruangan.

Se Na masuk dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, menatap lurus kearah calon suaminya yang kini tidak lagi menatapku melainkan menatap dirinya.

Saatnya mereka mengucap janji setia mereka, dan aku yang merasa tidak akan sanggup berada di tempat ini segera pergi dengan alasan terlalu lelah berdiri. Halmeoni yang sepertinya menerima alasan bohongku mengijinkannya.

Aku pergi ke sebuah restroom, menangisi kegagalanku. Aku tahu tidak seharusnya aku menangisi hal ini karena aku sendiri yang telah memutuskannya. Tidak mungkin juga kalau aku menghentikan pernikahan ini ditengah jalan.

Setelah merasa baikan, aku kembali ke tempat pesta berlangsung. Aku lihat Hyu Chan ahjumma sedang memeluk erat anaknya itu begitupun dengan Chansung. Aku senang karena akhirnya mereka bisa bertemu dan aku harap masalah antara keluargaku dan keluarganya segera selesai.

Aku dan halmeoni hanya duduk, mengistirahatkan tubuh di dalam pesta yang sangat ramai ini. Mataku kembali memperhatikan Chansung dan Ibunya dari kejauhan. Tiba-tiba ia melihatku lalu berjalan kearahku.

“Ri Jung-ah, aku senang kau datang” ucapnya menyapaku.

“aku disini hanya untuk mengantar Ibumu, tidak lebih” jawabku tak berani menatapnya.

Tiba-tiba ia meraih tanganku, “ikut aku, aku ingin kau bertemu dengan Ibuku”

“mwo? Apa kau tidak dengar? Aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengantar Ibumu, jadi untuk apa kau mempertemukan kami lagi?”

Ia tak memperdulikan ucapanku dan tetap membawaku ke tempat Oemmanya.

“Oemma, perkenalkan ini Shin Ri Jung” aku bisa lihat senyuman bangga terukir di wajahnya.

Hyu Chan ahjumma menatapnya heran, “aku tahu, aku kemari bersamanya dan neneknya”

Aku menarik tanganku berniat pergi tapi ia kembali menahanku. “ya! Kau ingin menyakitiku?!” aku sedikit membentaknya karena genggaman tangannya yang erat membuatku sedikit kesakitan.

Aku lihat raut wajahnya berubah serius. Aku benar-benar heran dengan sikapnya. Sebenarnya apa yang ingin ia katakan?

“maafkan aku Ri Jung-ah, aku hanya ingin mengaku” ucapnya lagi dan membuatku semakin bingung.

“hey, sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Apa yang mau kau akui Chansung-ah?” Hyu Chan ahjumma juga melihatnya dengan tatapan penasaran.

Chansung membungkukkan badannya dengan tangannya yang masih memegangi pergelangan tanganku. “Oemma, Ri Jung sedang mengandung cucumu”

~TBC~

By: tyasung

Ff ini emang ga bakal tamat disini, tapi saya janji ff ini bakal saya tamatin secepat mungkin hehe~ *terus aja janji* :p

Makasih yang udah baca dan udah ngasih komen, I really really appreciate it ^^~

8 thoughts on “Be Mine, Please.. {Part 10}

  1. hoaaa 1st lagi hahaha~
    hmm bagus onn ceritanya (‘.’)b
    emang jago bikin cerita complicated ya ckckck -__-

    ayo ff yang lain onn~ \(‘.’)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s