I do Love You {oneshot}

Cho Hye Mi’s POV

Jam istirahat. Pukul 11.34 AM. July, 1 2008. Namsan High School.

“Kyu sunbae, aku menyukaimu..” akhirnya aku memberanikan diriku untuk menyatakan cintaku padanya.

“lalu?” tanyanya singkat dengan wajah datarnya.

“apa kau mau menjadi pacarku?”

Ia terdiam sejenak lalu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Aku yang takut akan di tolaknya hanya bisa menundukkan kepalaku.

“ya.” jawabnya.

Aku beranikan diriku untuk menatapnya, “ne?”

“ya.” Ulangnya.

“whoaa~ gomawo Kyuhyun oppa!” aku benar-benar senang ia mau menerimaku.

“apa aku sudah boleh pergi? Aku ada pelajaran tambahan setelah ini.”

“ah, ye..” jawabku.

Ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku. Apa ini yang dimaksud berpacaran?

Pukul 8.45 PM. June, 14 2010. Cheongdam-dong.

“Hye Mi-ya! Apa kabarmu?” sapa Tae Rin, teman SMA-ku dulu. Kami sedang mengadakan reuni angkatan malam ini.

“aku baik-baik saja, dimana yang lain?”

Ia menggandeng lenganku membawaku masuk  kesebuah cafe yang sudah di booking untuk reuni malam ini. “mereka semua didalam.”

Aku duduk bersama beberapa teman dekatku. Kami berbincang tentang apa yang kami lakukan setelah lulus SMA, pekerjaan dan juga kekasih kami masing-masing, inilah hal yang paling aku benci.

“Hye Mi-ah, apa kau  masih bersama Kyu sunbae?” tanya Hae Sa tiba-tiba.

Aku hanya tersenyum tipis untuk menjawabnya.

“mwo? Kau masih bersama pria dingin itu?!” tanyanya tak percaya.

Lagi-lagi aku tersenyum dan malas berkata-kata. Dulu, saat aku menceritakan tentang pengakuan cintaku pada seorang Cho Kyuhun semua orang sulit mempercayainya. Jenius, tampan, popular diantara murid-murid perempuan dan dingin itulah Cho Kyuhyun. Sikapnya yang dingin dan terkesan keren membuatnya dipuja banyak wanita termasuk aku. Anehnya, setahuku belum ada perempuan yang berani menyatakan cinta padanya sebelum aku. Oleh sebab itu dengan percaya diri penuh aku beranikan diriku untuk mencobanya dan betapa bahagianya aku saat itu karena ia menerimaku untuk menjadi kekasihnya.

Satu semester bersamanya tidak membuatku jera dengan sikap dinginnya dan frekuensi bertemu kami yang jarang. Aku pikir itu wajar, karena saat itu ia yang akan mengikuti tes masuk universitas favorit harus berkonsentrasi mengikuti beberapa kursus dan pelajaran tambahan disekolah.

Tahun berikutnya kami masing-masing sibuk. Ia sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk dan aku sibuk dengan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas. Hal itu lagi-lagi membuat kami jarang bertemu.

Setelah perjuangan kerasku, aku berhasil masuk ke universitas yang sama dengannya, tapi ternyata itu tidak merubah sikapnya padaku atau kepada semua orang. Ia tetap menjadi Cho Kyuhyun yang dingin.

“ah, maaf!” ucap seorang namja yang secara tidak sengaja menumpahkan minumannya dibajuku.

Aku berdiri dari dudukku, “gwaenchana, lagipula aku sudah akan pulang.” Ucapku sembari membersihkan noda minuman dibajuku.

Tiba-tiba ia menarik tanganku, “kau tidak bisa pulang dengan baju basah seperti itu. Ikut aku” ia membawaku ke rest room dan memberikan jaketnya untuk aku pakai.

“pakai saja ini, kau bisa mengembalikannya kapan saja” ujarnya lalu pergi meninggalkanku.

Akhirnya aku tidak jadi pulang dan kembali duduk bersama teman-temanku karena ternyata diluar hujan deras sedangkan aku lupa membawa payungku.

“Hae Sa-ya,  apa kau kenal laki-laki tadi?” tanyaku sembari duduk disebelah Hae Sa.

“kau tidak mengenalnya? Dia Lee Donghae, dia sunbae kita dulu. Dia kemari untuk mengantar adiknya yang seangkatan dengan kita. Dia memang tidak sepopuler pacarmu, tapi aku pernah dengar kalau Kyu sunbae pernah dikalahkan olehnya dalam olimpiade Bahasa Inggris.” Jelasnya.

Aku membulatkan mataku, “jinjja? Ia tak pernah menceritakan hal itu padaku”

“haha, mungkin ia malu mengatakannya” ledek Hae Sa. Aku mengangguk menyetujuinya, “ya, mungkin saja”

Hujan sudah reda dan aku berniat untuk pulang secepat mungkin. Aku sudah sangat lelah hari ini.

Setelah berpamitan dengan teman-temanku, aku segera keluar dari cafe tersebut dan menunggu taksi. Aku sama sekali tak berniat untuk meminta Kyu menjemputku, karena pasti saja ada alasan untuk menolaknya.

“Hye Mi-ya~!” aku menoleh dan melihat pria yang bernama Lee Donghae sedang berlari kecil menghampiriku.

“ne? Ada apa?” tanyaku heran.

“hah.. hah.. apa aku boleh mengantarmu pulang?” tawarnya dengan nafas yang terengah-engah.

Aku mengerutkan keningku. Aku baru mengenalnya malam ini dan ia mau mengantarku pulang? “ah, aku bisa naik taksi..” tolakku halus.

“tidak apa, ini sebagai permintaan maafku atas insiden tadi”

“Hye Mi-ah!” dari kejauhan seseorang kembali memanggilku dan ternyata itu Kyuhun. Aku melambaikan tanganku lalu tersenyum. Sedikit heran memang melihatnya bisa ada disini.

“Kyu, kenapa kau disini?”

Ia melirik Donghae dan menatapku, “tentu saja menjemputmu. Khajja!” Kyu menarik tanganku.

“aku akan menunggumu disini besok jam 4 sore untuk mengembalikan jaketmu!” seruku pada Donghae sambil terus berjalan. Ia mengangguk lalu tersenyum ramah. ‘ia namja yang baik’ batinku.

Tiba-tiba Kyu berhenti membuatku menabraknya. “kau memakai jaketnya?”

Aku mengangguk mengiyakan. “ne, tadi tidak sengaja ia menumpahkan minumannya dibajuku, jadi ia meminjamkan jaketnya padaku.”

Ia mendecak sebal lalu kembali jalan meninggalkanku dibelakangnya. Ia berniat menjemputku tapi kenapa sekarang malah meninggalkanku? Aku yang kesal akhirnya memutuskan untuk kembali menunggu taksi dan membiarkan orang itu berjalan sendirian.

Dimalam sedingin ini aku juga harus merasakan sikap dingin dari kekasihku sendiri. Nasibku benar-benar sial.

Saat aku melambaikan tanganku untuk memanggil taksi yang sedang mendekat, tiba-tiba seseorang menarik tanganku. “yak! Apa-apaan kau? Aku ingin pulang” ucapku kesal saat mengetahui orang itu adalah Kyuhyun.

“aku yang menjemputmu kesini, jadi aku yang akan mengantarmu pulang sampai kerumah” jawabnya dingin lalu kembali menarik tanganku dan memasukkannya kedalam saku mantelnya yang hangat ditambah lagi ia menggenggam tanganku erat didalamnya.

“apa yang kau bawa?” tanyanya saat melihat tangan kiriku yang membawa sebuah tas yang lumayan besar.

“ah ini, temanku baru saja pulang berlibur ke Thailand dan ia membawakanku beberapa oleh-oleh” jawabku sembari mengangkat tas tersebut.

“kemarikan, biar aku yang bawa” tiba-tiba ia meraih tas itu dan membawanya.

“biar aku saja, tas itu kan tidak berat” tarikku lagi.

Ia menggeleng dan melepaskan syalnya lalu mengalungkannya dileherku, “nah, sekarang kita impas, kan?”

Aku menundukkan kepalaku. Pasti wajahku sudah memerah sekarang. Terkadang aku menyesal telah memintanya untuk menjadi kekasihku, tapi aku akan lebih menyesal lagi kalau aku tidak bisa merasakan sikap manisnya ini.

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kami menaiki bis terakhir malam ini dan hanya ada kami berdua disini.

“Kyu, kau habis dari mana tadi?” tanyaku yang sedang menyandarkan kepalaku dipundaknya.

“aku.. aku baru pulang dari rumah teman untuk mengerjakan tugas” jawabnya sedikit salah tingkah.

“sampai semalam ini?”

Ia mengangguk, “tugas ini harus diserahkan besok”

Aku menegakkan tubuhku lalu memperhatikannya, “aku tidak melihatmu membawa benda yang kau sebut tugas itu sejak tadi”

“ah.. itu.. aku meninggalkannya dirumah temanku” jawabnya semakin aneh.

Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan dan berusaha untuk mempercayai apa yang ia katakan barusan.

Tak terasa kami sampai dipemberhentian. Kyu mengantarku sampai didepan rumah.

“terimakasih telah mengantarku, selamat malam” aku berbalik membuka pagar rumahku, tapi ia menahan tanganku.

Aku yang teringat sesuatu langsung berbalik lalu melepaskan syal miliknya. “ini, terimakasih banyak” ucapku sembari menyerahkan syal itu padanya.

“tunggu, bukan ini yang kumaksud” tahannya lagi saat aku beranjak pergi. Aku menoleh, “ne? Apa ada yang ketinggalan?” tanyaku heran. Setahuku tas dari temanku sudah ada ditanganku dan syalnya pun sudah aku kembalikan.

“ani..” jawabnya ragu lalu dengan perlahan ia mendekatkan tubuhnya juga wajahnya. Apa ini? Apa ia akan menciumku?

Aku memejamkan mataku dan bersiap untuk menerima ciuman pertamanya, tapi yang aku rasakan ia mengecup keningku lembut. Aku membuka kembali mataku dan melihat wajahnya yang sedikit memerah.

“selamat malam, Hye Mi-ah” ucapnya tanpa menatapku.

Aku hanya bisa tersenyum tipis. Antara senang dan kecewa. Sudah 2 tahun lamanya aku menunggunya untuk menciumku tapi tak pernah ia lakukan.

Ia menungguku sampai masuk kedalam rumah. Sebelum ia pergi aku lambaikan tanganku dari jendela begitupun dengannya.

Seharusnya aku tidak boleh berharap banyak darinya. Ia belum pernah sekalipun mengatakan ‘suka,’ ‘sayang’ ataupun ‘cinta’ padaku apalagi menciumku. Selama ini hanya akulah yang mengtakan hal-hal itu padanya.

Sebelum tidur, aku beranikan diriku untuk mengiriminya SMS.

 

To: Kyu Jagiya~

June, 14 2010          11.08 PM

Kyu, apa kau bisa mengantarku mengembalikan jaket Donghae sunbae yang aku pinjam?

 

Tak lama ia membalas SMS-ku.

 

From: Kyu Jagiya~

June, 14 2010          11.10 PM

Maaf, besok aku sibuk.

 

Haah.. seharusnya aku tidak perlu mengiriminya SMS dan seharusnya aku tahu jawaban apa yang akan aku dapatkan.

 

To: Kyu Jagiya~

June, 14 2010          11.14 PM

Ah, mianhaeyo aku tidak tahu. Baiklah, aku akan pergi sendiri. Selamat malam. saranghae ^^~

 

Stengah jam berlalu dan ia tak kunjung membalas pesanku. Akhirnya aku putuskan untuk segera tidur.

***

Hari ini aku tidak bertemu Kyu dikampus, mungkin ia sedang sibuk dengan kegiatan kuliahnya. Aku pulang tanpa menunggunya dan langsung menuju cafe tempat aku berjanji dengan Donghae semalam.

Aku lihat ia sudah berdiri didepan cafe, padahal ini belum jam 4. Aku pikir ia akan datang terlambat.

“annyeong~ apa kau menunggu terlalu lama?” sapaku sambil berlari kecil menghampirinya.

Ia melihat kearahku lalu tersenyum ramah, “tidak, aku juga baru saja sampai”

“ah, ini dia. Terimakasih banyak Hae sunbae. Maaf aku telah merepotkanmu” ucapku sambil menyerahkan bungkusan berisi jaketnya yang ia pinjamkan tadi malam.

“kau tidak perlu seformal itu memanggilku. Cukup Donghae saja. Kita hanya berjarak 1 tahun, bukan?” ujarnya setelah menerima bungkusanku.

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya barusan.

“ah ye, apa kau sudah makan siang?” tanyanya.

Aku menggeleng, “belum sempat. Sepulang kuliah tadi aku langsung kemari”

“jeongmalyo? Bagaimana kalau kita makan siang dulu?” tawarnya ramah.

“ani, tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu lagi”

Ia tertawa kecil menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih, “aku sama sekali tak merasa repot. Ayolah, apa kau tega menolak ajakanku untuk kedua kalinya?”

Aku berpikir sejenak. Aku tidak ada tugas untuk besok dan aku rasa aku sudah cukup lama tidak makan masakan luar. “baiklah..” jawabku akhirnya.

Ia tersenyum lalu membawaku ketempat ia parkirkan mobilnya dan tak lupa ia juga membukakan pintu mobilnya untukku. Sepertinya dugaanku benar, ia laki-laki yang baik.

Kami berhenti disebuah kedai kecil dan memesan seporsi samgyupsal. Kami berbincang tenang banyak hal. Aku pikir, selain ramah dan baik, Donghae juga orang yang cerdas dan supel.

DRRT DRRT DRRT. Ponselku bergetar dan ternyata ada pesan masuk dari Kyuhyun. Aku menatap Donghae dan ia mempersilahkan aku untuk membaca pesan masuknya.

 

From: Kyu Jagiya~

June, 15 2010          4.35 PM

Odiya?

 

To: Kyu Jagiya~

June, 15 2010          4.36 PM

Aku sedang di Hongdae bersama Donghae. Ia mengajakku makan siang disini. Apa kau sudah makan?

 

Lama kutunggu balasannya rupanya tak ada. Ia pasti benar-benar sibuk.

“Hye Mi-ya, apa kau mau menemaniku pergi berbelanja sebentar? Aku janji tidak akan lama. Aku akan mengantarmu pulang nanti” pintanya.

Aku mengangguk menerima ajakannya. Aku memang sedang bosan berada dirumah dan lagi masih banyak hal yang ingin kami bicarakan.

Setelah berbelanja, kami mampir kesebuah toko es krim yang ada di foodcourt mall tersebut. Tiba-tiba mataku melihat Kyuhyun sedang duduk semeja dengan seorang yeoja yang entah siapa.

Ingin aku sapa dia tapi aku urungkan niatku saat ia melihat kearahku lalu memalingkan kembali wajahnya, seakan-akan tidak melihatku.

Aku rasakan dadaku sakit dan aku juga merasa telah dibohongi. Apa ini yang membuatnya sibuk sehingga tidak bisa mengantarku atau sekedar bertemu denganku dikampus, atau bahkan membalas pesanku?

Belakangan ini aku memang merasa kalau ia selalu menghindariku. Apa aku membuat kesalahan sehingga ia marah padaku? Atau ia sudah bosan berhubungan denganku?

“Donghae-ya, aku harus pergi sekarang, aku baru ingat kalau temanku akan datang kerumahku sebentar lagi” aku berbohong padanya. Aku hanya tidak mau berlama-lama ada disini dan berpura-pura tidak menyadari akan kehadiran kekasihku yang dengan sengaja mengacuhkanku.

“benarkah? Biar aku antar kau..” tawarnya.

“tidak perlu, aku bisa pakai bis” tolakku halus. Aku memang merasa tak enak karena selalu merepotkannya.

“aih~ bukankah aku sudah berjanji untuk mengantarmu pulang? Anggap saja ucapan terimakasih karena kau telah menemaniku berbelanja sore ini”

“baiklah..” aku menyerah.

Akhirnya ia mengantarku sampai rumah. “tunggu..” serunya saat aku akan memasuki rumah.

“ne?”

“aku minta kau mau mendengarkanku”

Aku berjalan kearahnya, “mendengarkan apa?”

“begini, sebenarnya aku sudah memperhatikanmu sejak dulu kita masih sekolah dan aku menyukaimu. Tadinya aku mau menyatakan perasaanku padamu, tapi aku dengar kau berpacaran dengan Cho Kyuhyun dan aku langsung mengurungkan niatku itu. Maaf karena aku bicara soal ini tiba-tiba. Dulu aku pikir dengan mengalahkannya dalam olimpiade membuatku puas, tapi ternyata tidak. Saat bertemu denganmu kemarin aku merasa sangat senang dan membuatku sedikit berharap akan perasaanmu padaku” jelasnya panjang lebar.

Aku sama sekali tak menyangka dengan pernyataannya barusan. “maaf Donghae-ssi, tapi kau tahu, aku masih dengannya sampai sekarang dan aku tidak mungkin mengkhianatinya. Kau adalah teman yang baik untukku, dan aku harap hubungan kita tidak pernah berubah”

“baiklah jika itu maumu. Aku hanya merasa lega karena aku sudah bisa menyatakan perasaanku pada orang yang aku sukai. Terimakasih” ucapnya lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi dari rumahku.

Aku segera mandi menyegarkan tubuhku dan kepalaku. Aku benar-benar lelah hari ini.

Setelah mandi, aku mengirimi Kyuhyun sebuah pesan dan mencoba untuk melupakan kejadian saat di foodcourt tadi sore.

 

To: Kyu Jagiya~

June, 15 2010          6.43 PM

Kyu, apa kau masih sibuk? Jika tidak menganggu, aku ingin menceritakan sesuatu padamu.

 

Aku pikir sebaiknya aku menceritakan tentang pernyataan Donghae hari ini. Aku juga ingin tahu reaksi darinya.

DRRT DRRT DRRT DRRT. Tiba-tiba ia meneleponku.

“yeoboseyo?”

“ne, apa yang mau kau ceritakan?”

“ah.. tadi sore Donghae menyatakan cintanya padaku..”

“…”

“Kyu?”

“ah, ya terserah kau saja. Aku tidak bisa memaksamu, kan? Maaf, aku sibuk”

Tut tut tut. Ia memutuskan teleponnya.

Apa hanya itu yang bisa ia ucapkan? ‘terserah’? aku tahu ia tak salah bilang begitu, tapi aku jadi merasa sedih. Harus aku apakan perasaan ini?

 

To: Kyu Jagiya~

June, 15 2010          7.03 PM

Kyu, maaf aku mengganggumu dengan ceritaku yang tidak penting. Apa kau sibuk besok? Ada yang mau aku bicarakan denganmu. Apa kita bisa bertemu?

 

Tak lama ia membalasnya.

 

From: Kyu Jagiya~

June, 15 2010          7.05 PM

Akan kuusahakan.

 

Aku pikir masalah ini harus segera diselesaikan. Aku tidak mau ia terus menhindariku tanpa alasan. Jika aku memang salah, aku akan minta maaf. Tapi kalau ia memang sudah bosan denganku, aku sebisa mungkin harus menerimanya.

***
Cho Kyuhyun’s POV

Aku menunggunya di sungai Han, tempat kami berjanji untuk bertemu. Tak lama, ia datang dengan wajahnya yang kelelahan.

“maaf, aku terlambat. Entah kenapa jalanan macet sekali tadi” dengan nafas tersenggal-senggal ia menjelaskannya padaku.

“apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku sambil melihat jam tanganku. Aku tidak punya banyak waktu.

Setelah selesai mengatur nafasnya ia duduk disampingku. “Kyu, apa aku pernah membuat kesalahan atau membuatmu kesal belakangan ini?”

Aku sedikit heran dengan pertanyaannya. “ani, wae?”

“aku hanya merasa kau sering sekali menghindariku belakangan ini. Atau..”

“atau apa?” tanyaku tak sabar. Aku benar-benar kehabisan waktu.

“kau sudah bosan denganku?” lanjutnya dengan suara bergetar.

Aku menatap wajahnya, “Hye Mi-ya, apa kau menangis?”

Ia menggeleng, “tolong, jawab saja pertanyaanku”

“apa kau benar-benar menganggapku seperti itu? Aku punya alasan yang tak bisa aku katakan sekarang”

DRRT DRRT DRRT DRRT

“yeoboseyo?”

“…”

“ah, ne. Aku akan segera kesana” ujarku sebelum menutup flip ponselku.

“sesibuk itukah kau?” tanyanya lagi. Kali ini sangat terdengar jelas isak tangisnya.

Aku mengusap kepalanya, “mianhae, tapi aku benar-benar harus pergi sekarang. Aku berjanji, aku akan menghubungimu secepatnya”

“tidak perlu. Kau tidak perlu menghubungiku lagi. Aku tidak mau membebanimu lagi. Aku hanya seperti orang bodoh yang menunggumu membalas perasaanku selama ini. Terimakasih untuk dua tahun yang telah kau berikan untukku. Selamat tinggal Kyu..” ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Aku sangat ingin menahannya tapi aku tidak bisa. Aku merasa gagal membahagiakannya. Aku melukainya, aku membuatnya menangis dan sekarang aku kehilangannya.

***

Sudah seminggu lamanya aku tidak bertemu dengannya. Aku hanya bisa berharap ia baik-baik saja. Jujur saja, aku merindukannya. Merindukan suaranya, senyumannya dan semua perhatiannya padaku.

Pada jam istirahat aku sengaja pergi mencari Hye Mi ke kelasnya hanya untuk memastikan kalau ia baik-baik saja dan aku melihatnya sedang melamun dibangkunya. Aku benar-benar merasa bersalah telah membuatnya sedih. Selama ini aku tidak pernah berpkir akan kehilangannya, tapi sekarang aku merasakannya. Aku harus berusaha untuk mendapatkannya kembali.

***

Hye Mi’s POV

Aku mencintainya, sangat mencintainya. Perasaan ini sungguh sulit untuk dihilangkan.

Saat melihat layar ponselku dan melihat tanggal yang tercantum disitu, aku teringat kalau seminggu lagi adalah hari jadi kami yang ke 3 tahun. Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa sangat tidak enak padanya.

Sebaiknya aku minta maaf padanya. Aku meninggalkannya begitu saja saat itu tanpa mendengarkan penjelasannya.

 

To: Kyu Jagiya~

June, 25 2010          2.12 PM

Kyu, apa kau sibuk? Apa kita bisa bertemu?

 

From: Kyu Jagiya~

June, 25 2010          2.15 PM

Maaf Hye Mi-ah, untuk seminggu jadwalku padat.

 

Aku pikir sudah tidak ada harapan lagi untukku. Ia pasti sudah melupakan tentang hal ini dan juga melupakanku. Baiklah, aku akan berusaha menjalani hidupku tanpanya sebaik mungkin.

~3 hari kemudian~

Aku sedang berbelanja untuk makan malam lalu seorang yeoja menghampiriku.

“annyeonghaseyo..” sapanya.

Aku tersenyum heran, “ne, ada apa?”

“apa kau Cho Hye Mi?” tanyanya. Aku sepertinya pernah melihat yeoja ini.

Aku mengangguk, “ye, kau siapa?”

“ah, perkenalkan aku Im Yu Ri. Aku teman Cho Kyuhyun, kekasihmu, bukan?” keherananku bertambah saat mendengar ucapannya.

“ne, kau tahu darimana?”

“aku pernah bertemu.. ah, ani, aku hanya melihatmu dari kejauhan di foodcourt mall ini beberapa minggu yang lalu. Aku sedang makan disini bersama Kyu” jelasnya.

Aku berusaha mengingatnya. Ah, apa saat aku sedang bersama Donghae?

“aku rasa kau sangat beruntung mempunyai kekasih seperti Kyuhyun” sambungnya lagi.

Aku menatapnya heran, “wae? Kenapa kau bisa bicara begitu?”

“pada hari itu ia menceritakan semua tentang dirimu padaku. Dari cara bicaranya aku rasa ia benar-benar menyayangimu”

“tapi ia pura-pura tidak melihatku..” gumamku pelan.

Ia terlihat berpikir sejenak, “ah ya! Apa kau tidak tahu kalau selama ini Kyu mengambil banyak kerja part time? Ia bilang kerja kerasnya ini untuk tanggal 1 Juli. Saat kutanyakan ada apa dengan tanggal 1 Juli, ia bilang untuk merayakan sesuatu yang sangat penting”

Aku terkejut mendengarnya, jadi selama ini ia selalu sibuk karena bekerja paruh waktu untuk hal itu. Aku semakin merasa bersalah padanya.

“Yu Ri-ssi, apa kau tahu dimana Kyu bekerja hari ini?” tanyaku penasaran.

“setahuku ia sudah berhenti bekerja dari hari minggu kemarin. Apa ia tidak mengatakannya padamu?”

Aku menggeleng, “ani, ia sama sekali tak bilang apa-apa soal itu”

“Yu Ri-ssi, terimakasih..” lanjutku lalu pergi meninggalkannya dan langsung menuju rumah Kyuhyun.

Sesampainya dirumah Kyu, aku tidak menemukan seorangpun. Sampai ada seorang ahjumma memanggilku, “agasshi, apa kau mencari keluarga Cho?”

Aku mengangguk cemas. Aku rasa sesuatu telah terjadi pada Kyu.

“anak bungsu keluarga Cho sedang dirawat dirumah sakit, jadi untuk sementara ini rumah mereka kosong” jawab ahjumma tersebut.

“apa ahjumma tahu ia sedang sakit apa?”

Ia menggeleng, “aku baru datang dari Daegu, jadi hanya itu yang aku tahu”

“ah, terimakasih kalau begitu” ucapku sembari membungkukkan badanku lalu segera memanggil taksi menuju rumah sakit.

Setelah mencari dimana kamar Kyu dirawat, aku segera masuk dan melihat Kyu yang sedang terbaring lemas dengan jarum infus ditangan kirinya.

Aku segera menghampirinya dan berlutut disamping tempat tidurnya. “Kyu.. mianhae, jeongmal mianhae..” air mataku mulai mengalir keluar dan membasahi pipiku.

“Hye Mi-ya.. kenapa kau ada disini?” tanyanya lemah. Aku langsung mengangkat kepalaku melihat wajahnya yang pucat. “apa yang terjadi padamu?”

“hah.. penyakit biasa, maag-ku kambuh dan disinilah aku” Kyu memang mempunyai maag yang cukup parah.

Cklek. Pintu kamar terbuka dan aku lihat ada Oemmanim dan Ahra onnie masuk.

“annyeonghaseyo~” sapaku seraya membungkukkan tubuhku.

“Hye Mi-ah, kebetulan sekali kau datang. Aku ingin menitipkan Kyu, karena kami ada urusan pekerjaan dan diharuskan berangkat ke Jepang sore ini” pinta Oemmanim padaku.

Aku yang memang merasa bersalah pada Kyu akhirnya mengangguk menerima tanggung jawab yang diserahkan Ibunya padaku. Aku mengantar Oemmanim dan Ahra onnie sampai di lobby rumah sakit, lalu kembali ke kamar Kyu.

“Kyu, kenapa kau berbohong padaku?”

Ia menatapku tak terima, “aku tidak membohongimu”

“ya, tapi kenapa kau bekerja part time tanpa memberitahukan aku? Aku yakin maag-mu kambuh karena kau terlalu sibuk bekerja, makan tak teratur dan kurang istirahat”

“mianhae, tapi sebentar lagi hari jadi kita yang ke 3. Aku hanya ingin memberimu kejutan, karena hanya itu yang bisa aku berikan padamu” jawabnya sambil menundukkan kepalanya.

Aku menggeleng, “aku rasa aku tidak akan menyukai pemberianmu kalau hal itu membuatmu terbaring lemas di tempat ini”

“haha.. sudahlah, aku sudah boleh pulang besok. Sebagai janjimu, kau harus menjagaku sampai orangtuaku kembali, arachi?”

“aigo~ ternyata seorang Cho Kyuhyun yang dingin bisa menjadi seseorang yang manja” ledekku.

“maafkan aku karena tidak bisa mengungkapkan perasaanku dan malah membuatmu khawatir atau marah” ucapnya sembari menegakkan tubuhnya untuk duduk.

Aku menatapnya sebentar lalu memeluknya. Aku menyayanginya melebihi apapun.

***

July 1, 2010

Malam ini ia mengajakku makan malam. Saat menjemputku ia menutup mataku dengan sehelai kain hitam. Aku tidak tahu akan ia bawa kemana.

Setelah turun dari mobil, terasa angin malam yang sejuk menyentuh kulitku yang tak tertutup gaun. Satu yang aku tahu, kami sedang berada diluar ruangan.

“kau siap?” tanyanya. Aku mengangguk yakin menanggapinya.

Ia membuka kain penutup mataku dengan perlahan dan pemandangan sungai Han dimalam hari yang sangat indah menyambut mataku. “apa kau menyukainya?” tanyanya lagi kali ini sambil menuntunku kesebuah meja yang sudah tersusun rapi dengan 2 batang lilin merah yang menyala.

“tentu saja aku menyukainya. Apa kau menyiapkan semua ini sendirian?”

“ne, semua ini untuk menebus dosaku padamu selama ini” aku terkesiap tak percaya. Aku tak pernah menyangka Kyuhyun akan melakukan hal semacam ini untukku.

“gomawoyo, Kyuhyun-ah..” ucapku yang masih terkesima dengan pemandangan malam kota Seoul yang terpampang indah.

Ia mengenggam tanganku, “apa kau tahu kenapa aku memilih tempat ini?”

Aku menggeleng tak tahu. “karena ditempat ini kau memutuskan hubungan kita. Oleh karena itu, aku–”

Lagi-lagi air mata mengalir dari kedua kelopak mataku. “kau kenapa?” tanya Kyu sedikit cemas.

Aku menggeleng, “gwaenchana, aku hanya terlalu senang karena mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang selama ini aku inginkan”

Tiba-tiba ia berdiri dari duduknya lalu berlutut didepanku, “Cho Hye Mi, kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu bersama Donghae, pergi bersamanya atau makan bersamanya. Bagaimana perasaanku saat kau memutuskan aku saat itu. Aku menyukaimu, menyayangimu, bahkan aku mencintaimu. Maukah kau menjadikan aku sebagai kekasihmu lagi?”

“tentu saja, Kyu sunbae! Naddo saranghae, gomawoyo Kyuhyun oppa~!” jawabku yakin. Perlahan ia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibirku lembut. Malam ini aku merasa jadi wanita paling bahagia didunia.

~END~

By: tyasung

Maaf *bow* ff ini sempet macet-macetan di ending T.T jadi maaf *bow lagi* di post nya ngaret. Untuk Be Mine, Please diharapkan sabar menunggu, lagi dikerjain kok hehe -.-v

Jangan lupa kasih komen yaa~! xD thanks for reading, chingudeul~! *hugs kisses*

15 thoughts on “I do Love You {oneshot}

  1. hay~ saya first lho~ hahaha
    eh itu seriusan abang saya si dongek juara olimpiade bahasa inggris ? HUAHAHAHAHA bahasa inggris amburadul gitu padahal /ditendang dongek/

    uwouwooo~ kyuhyun-ah~~~
    noce story onn😉

  2. Pingback: Tweets that mention I do Love You {oneshot} « Hi! i'm Shin Ri Jung -- Topsy.com

  3. ayo unni…
    Hwaitiiing!!!
    Bkal q tnggu koq be mine please na..
    Dsr kyu…ckckckckckck
    s’gitu sulitkah kmu mengungkapkan perasaan kamu??

    • huaaaaaaaaa onni romantis, suka banget ff nya hehehhe gomawo onni udah dibuatin🙂
      jadi pengen ada disitu jadi hyemi, punya pacar kaya cho kyuhyun hahahhah #mupeng
      aku sukaa ff nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s