Be Mine, Please.. {Part 9}

Jinwoon’s POV

Kami berangkat ke Seoul karena Aboeji ulang tahun dan ia ingin agar kami ikut merayakannya bersama. Tak kusangka kami bertemu dengan Chansung saat dihotel tadi dan Ri Jung membuatku sangat terkejut dengan ucapannya malam itu.

“yeobo~” panggilku mencoba menggodanya karena selama perjalanan pulang tadi ia terus melamun.

“ne?” jawabnya dengan senyum tipis dibibirnya. Aku sangat terkejut karena ia menjawab panggilan ‘yeobo’ ku barusan.

“Ri Jung-ah, apa kau baik-baik saja?” tanyaku pelan.

Ia mengangguk, “nan gwaenchana”

“jeongmalyo?” tanyaku lagi masih tidak percaya.

“tentu saja, kau tidak melihat senyumanku?” ucapnya lalu menunjuk bibirnya yang sedang tersenyum lebar. Menurutku senyuman itu sangatlah dipaksakan.

Ketika dirumah ia terus menampakkan senyuman itu. Ia terlihat sangat berusaha menutupi masalahnya.

“gojitmal Ri Jung-ah, aku tahu kau masih memikirkan kejadian tadi” ucapku setelah meletakkan koper kami didekat lemari pakaian.

Selama seminggu kami bermalam dirumahku, dan kami juga tidur sekamar yaitu dikamarku dulu.

“yah, aku memang tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu darimu” aku tersenyum mendengar jawabannya.

Ia merebahkan tubuhnya diranjang lalu melihat kearahku yang sedang menyiapkan tempat tidur darurat disofa kamarku.

“Jinwoon-ah, kenapa kau tidak tidur disini bersamaku?” ucapnya tiba-tiba.

Aku tercengang mendengarnya, malam ini dia benar-benar aneh. Menjawab panggilanku dan sekarang menyuruhku untuk tidur bersamanya.

Aku menggeleng, “terimakasih, tapi aku tidak bisa diam saat tidur. Aku takut terjadi apa-apa dengan kandunganmu” tolakku. Sebenarnya itu hanya alasanku saja.

“baiklah, selamat malam oppa~” ucapnya lalu mematikan lampu tidur.

Tambah satu lagi keanehannya, barusan saja ia memanggilku ‘oppa.’

+++

Aku regangkan tubuhku lalu membuka mataku perlahan. Aku rasa aku kurang tidur. Semalaman Ri Jung mengigaukan nama Chansung terus menerus. Pagi ini aku melihat air mata diujung matanya. Ia pasti sangat menderita.

“Jinwoon-ya, kemana Oemanim dan Aboeji?” tanyanya saat memasuki dapur.

“hari ini kan masih hari kerja, tentu saja mereka pergi bekerja. Ini dia, sarapan untukmu” jawabku lalu meletakkan sepiring nasi goreng untuknya dimeja makan.

Ia mengangguk lalu duduk dikursinya dan begitupun denganku.

“bagaimana, apa perasaanmu membaik setelah menangis?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan.

Ia menatapku, “ne? Kapan aku menangis?”

“aku tahu kau menangisinya semalam, dalam mimpimu. Kau bahkan memanggil-manggil terus namanya”

“jinjja? Aigo~ apa itu mengganggu tidurmu? Mianhaeyo..” ucapnya menyesal.

Aku menggeleng, “ani, sama sekali tak mengganggu. Bahkan aku senang jika hal itu bisa membuatmu lega dan tersenyum lagi, Ri Jung-ah”

Ia tertunduk sambil memainkan sarapannya dengan sendok. “gomawoyo Jinwoon-ah. Terkadang aku tidak mengerti kenapa Se Na bisa mengkhianatimu. Kau pria yang sangat baik”

“haha.. kau berbeda dengan Se Na, Ri Jung-ah. Otomatis pandanganmu terhadapku juga pasti berbeda dengan pandangannya” jawabku terkekeh. Ia sangat polos.

“aku serius. Bisa kapan saja ucapanku kemarin malam menjadi kenyataan” ucapnya sambil kembali menyuap makanan kedalam mulutnya.

“mwo? Ucapan yang mana?” tanyaku bingung.

Ia menatapku sebal lalu menggeleng, “ani, lupakan saja”

+++

Hari ini untuk kedua kalinya aku mengantar Ri Jung ke dokter kandungan. Ia terlihat bersemangat dibanding biasanya. Mungkin ini karena ia senang berada di Seoul.

Setelah selesai memeriksa, dokter meminta untuk bicara 4 mata saja denganku. Aku menyuruh Ri Jung untuk menungguku diluar ruangan.

“Jinwoon-ssi, sebenarnya ini bukanlah masalah yang terlalu serius, tapi apa Ri Jung anda sedang banyak pikiran?” tanya dokter membuka pembicaraan.

“ah ye, belakangan ini aku sering melihatnya melamunkan sesuatu. Ada apa?”

“begini, kondisi mental ibu yang sedang mengandung berpengaruh dengan bayi yang dikandungnya, jadi saya menyarankan untuk Ri Jung-ssi jangan terlalu membebankan pikirannya dengan masalah yang berat demi keadaan bayinya” jelasnya.

Aku mengangguk mengerti lalu keluar dari ruangan bernuansa putih itu. Aku lihat Ri Jung sedang duduk sambil memainkan pita yang ada dibajunya.

Aku menghampirinya, “Ri Jung-ah, ppalli, kau harus makan”

Ia tersenyum lalu menggandeng tanganku. Aku sedikit terkejut dengan sikapnya ini, tapi selama ia merasa senang, itu tidak masalah.

Kami makan disebuah rumah makan di daerah Hongdae. Setelah itu aku mengajaknya untuk mengunjungi Namsan Tower. Aku ingin membuatnya sedikit melupakan masalahnya.

“Jinwoon-ah, kenapa kau membawaku kemari?” tanyanya saat kami memasuki gerbang masuk Namsan Tower.

“wae? Apa kau tidak suka?”

Ia menggeleng, “ani, aku pasti akan sangat menyukai ini kalau aku tidak takut ketinggian”

“aigo~ mianhaeyo, kenapa kau tidak memberitahukanku?”

“gwaenchana, kita sudah disini, sayang sekali kalau kita tidak naik dan menikmati sunset” jawabnya sembari tersenyum.

Aku menatapnya ragu, “apa kau serius? Aku tidak akan memaksamu untuk naik”

Ia tidak menjawab dan menarik tanganku memasuki Tower. Benar saja, sampai dipuncak tower aku lihat wajahnya mulai pucat.

“gwaenchana?” tanyaku yang mulai khawatir.

Ia mengangguk lalu tersenyum, “lihat!” ia menunjuk kearah barat. Aku mengikuti arah pandangannya. Sunset. Sangat indah.

Kami dan beberapa pasangan yang bearda disitu sama-sama terhanyut dalam pemandangan yang sangat indah ini.

Tiba-tiba keheningan ini pecah karena ada seorang wanita yang berteriak histeris. Kami berdua segera berlari dan menghampiri kerumunan orang yang sedang mengelilingi sesuatu.

Ternyata yang barusan berteriak adalah seorang ibu yang sedang hamil tua dan sepertinya ia akan melahirkan.

Wanita itu terlihat sangat kesakitan. Ia terus memegangi perutnya dan terlihat dikakinya sudah mengalir air ketuban. Tak lama laki-laki yang mungkin suaminya menghampirinya bersama beberapa petugas ambulans dan membawanya masuk kedalam lift.

Aku rasakan Ri Jung meremas lenganku erat. Aku lihat wajahnya yang tadi sudah membaik sekarang kembali pucat. Keringat pun mengucur dari dahinya.

“gwaenchana?” tanyaku pada Ri Jung yang masih terlihat tegang atas kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya.

Ia menatapku, “apa aku nanti akan begitu?” tanyanya lrih.

Aku segera merangkul pundaknya. “tenanglah.” Hanya itu yang bisa kuucapkan sekarang.

+++

Ri Jung’s POV

Sehabis melihat wanita itu yang terlihat sangat kesakitan, aku tidak bisa tenang membayangkan bagaimana rasa sakit yang akan aku terima 4 bulan lagi.

“Ri Jung-ah, gwaenchana?” entah sudah keberapa kalinya Jinwoon menanyakan hal itu kepadaku dan aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum sebisaku.

Sesampainya dirumah aku segera mandi dan mengganti pakaianku dengan piyama lalu berbaring diranjang Jinwoon. Aku sama sekali tak bernafsu makan.

Cklek. Jinwoon memasuki kamar lalu duduk dipinggir ranjang.

“maafkan aku karena telah membawamu ketempat itu. Pertama, aku tidak tahu kalau kau takut ketinggian. Kedua, kau melihat kejadian yang pasti sangat mengerikan untukmu. Jeongmal mianhaeyo Ri Jung-ah” ucapnya menyesal.

“nan gwaenchana. Jujur saja aku bosan mendengar hal itu. Selama perjalanan pulang tadi kau terus saja menanyakan keadaanku”

Ia meraih tanganku dan meletakkannya didada kirinya. “kau tidak tahu betapa paniknya aku saat merasakan kau meremas lenganku, melihat wajahmu yang memucat dan keringat yang terus menerus mengalir dari dahimu”

Aku sedikit terkekeh ketika melihat ekspresinya yang seperti mengatakan ‘kau-harus-mempercayaiku.’ “geurae. Sekarang aku baik-baik saja dan kau sama sekali tak usah mengkhawatirkanku lagi”

“Ri Jung-ah, apa yang bisa membuatmu melupakan Chansung?”

“mw.. mwo? Kenapa tiba-tiba?” tanyaku sedikit kaget.

Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat denganku. “dokter bilang kau tidak boleh memikirkan hal yang berat. Hal itu sangat berpengaruh dengan keadaan bayimu dan aku tahu kau pasti memikirkannya.”

Aku mengangguk pelan menanggapi ucapannya barusan.

“tapi, apa kau sering mengigau seperti malam itu?”

Aku mengangkat kedua bahuku, “molla..”

Ia menghela nafasnya berat. Ia terlihat sangat mengkhawatirkanku.

“Jinwoon-ah, apa yang bisa membuatmu berhenti mengkhawatirkanku? Kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Aku lihat badanmu mengurus setelah kita pindah ke Daegu” kataku sambil memainkan jari-jarinya ditanganku.

Aku dengar ia tertawa kecil. “aku sedang diet, yeobo~”

“hahaha.. gojitmal~” jawabku lalu menghempaskan tangannya.

Ia ikut tertawa, “akhirnya aku bisa melihatmu tertawa lagi.”

“jangan berlebihan.” Ucapku menunduk malu.

Tiba-tiba ia meraih wajahku dan membuatku menatapnya. “kau tahu, aku merasa sangat berterimakasih karena bisa mengenalmu.”

‘ya, begitu juga denganku.’ batinku.

Kami diam saling menatap mata masing-masing dan dengan keberanian penuh aku majukan sedikit wajahku lalu mengecup bibirnya dengan cepat. “selamat tidur.” ucapku lalu berbalik dan menutupi tubuhku dengan selimut.

Tak lama aku rasakan ia mengecup lembut kepalaku, “ne, selamat malam.”

Aku tak tahu kenapa aku menciumnya barusan dan aku juga tak tahu harus bersikap seperti apa besok.

+++

Saat aku bangun, aku sudah tidak melihat Jinwoon ditempatnya tidur. “kemana dia?”

Dibawah aku bertemu Aboeji, “selamat pagi Aboeji, apa kau tahu dimana Jinwoon?”

“nan molla, aku lihat pagi-pagi sekali ia pergi dengan mobilnya. Apa ia tidak memberitahumu?” jawab Aboeji sambil membalik lembar koran yang ia baca.

“tidak sama sekali.” Aku kembali kekamar dan mencoba menghubungi ponselnya.

Tidak ada jawaban. Entah kenapa hal ini membuatku cemas. Aku bergegas mandi dan segera berangkat kerumah Oemma, mungkin Jinwoon sedang disana.

Selama diperjalanan aku tak henti-hentinya mencoba menghubungi ponselnya, tapi tiba-tiba mataku melihat seseorang yang sangat aku kenal sedang terkapar dipinggir jalan dan orang itu adalah Jinwoon.

Aku segera turun dari taksi lalu berlari menghampirinya. Ia terlihat sangat parah. Terdapat banyak lebam diwajahnya.

“Jinwoon-ah.. bangun.. kau kenapa?” ucapku lirih tak sanggup menahan air mataku lagi menlihatnya dalam kondisi seperti ini.

Segera kuhubungi orangtuanya lalu membawanya kerumah sakit terdekat.

“permisi, benda ini kami temukan dipakaiannya.” Ucap seorang perawat lalu menyerahkan sepucuk kertas padaku.

“ini adalah balasan untukmu karena telah merebut Ri Jung dariku”

Itulah yang tertulis dikertas itu. Ulah siapa ini? Apa semua ini ulah Chansung oppa? Ani, dia tidak akan senekat ini.

Tak lama Oemmanim, Aboeji beserta orangtuaku datang.

“Ri Jung-ah, bagaimana keadaan Jinwoon? Apa yang terjadi padanya?” tanya Oemmanim panik.

Aku menggeleng lemas, “nan molla.. aku menemukannya babak belur dipinggir jalan..”

Kami semua menunggu dengan cemas diluar ruangan. Sedangkan aku masih penasaran dengan si pelaku.

“keluarga Jung Jinwoon..” panggil seorang suster dari dalam. Oemmanim berdiri dari duduknya lalu memintaku ikut dengannya.

Bau khas rumah sakit langsung menyengat hidungku saat memasuki ruang UGD. Suster yang memanggil kami menuntun kami ke tempat Jinwoon dibaringkan.

Aku menghela nafas lega saat melihatnya sudah sadar. “Jinwoon-ah, gwaenchana?” tanyaku menghampirinya.

Ia mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Luka kecil diujung bibirnya membuatnya sedikit sulit berbicara.

“Jinwoon-ssi sudah bisa pulang hari ini, dia hanya butuh istirahat dan meminum beberapa obat.” Ucap dokter yang memeriksanya.

Oemmanim mengurus administrasi dan obat, sedangkan aku tetap disini bersama Jinwoon.

“kau tahu siapa pelakunya?” tanyaku pelan. Ia menggeleng.

“hmm, memang tadi pagi kau pergi kemana?”

Lagi-lagi ia menggeleng. Aku rasa ada yang ia sembunyikan.

Setelah semua urusan rumah sakit beres, kami semua pulang kerumah Jinwoon kecuali Appa dan Oemma yang masih ada urusan pekerjaan.

Aku menemaninya beristirahat dikamar. Kudekati dirinya yang sedang duduk bersandar ditempat tidur dan duduk disampingnya.

“Jinwoon-ah, aku minta kau jujur.” Ucapku padanya.

Ia melihatku bingung, “jujur apa?” jawabnya pelan.

“kau pergi kemana tadi pagi?” tanyaku lagi dan menatapnya serius.

Ia menghela nafasnya, “tadi pagi seseorang menghubungiku dan ia bilang kalau Hwang Chansung ingin bertemu denganku. Ketika aku sampai disana, tiba-tiba aku diserang oleh dua laki-laki yang aku tidak tahu siapa. Mianhae, aku tidak mengatakannya padamu. Aku hanya tidak mau membuatmu khawatir dan membebani pkiranmu.”

“ah ye, apa kau tahu kertas ini?” Aku berikan kertas yang tadi ditemukan oleh perawat kepadanya.

Ia membaca isi surat itu lalu meremasnya dan menghempaskannya kelantai. “apa menurutmu Chansung yang melakukannya?”

Aku menggeleng, “jujur saja aku tidak tahu. Menurutku Chansung oppa tidak akan berbuat sampai senekat ini.”

“kau pasti akan sangat mengkhawatirkannya jika hal ini terjadi pada Chansung.” Ucapnya sedikit kecewa.

Kami berdua terdiam, sama-sama sibuk dengan pikiran kami sendiri. Tak lama Jinwoon bangkit dari duduknya tapi aku menahannya.

“apa kau tahu? Kau sudah berhasil membuatku panik saat aku tak bisa menghubungimu dan saat aku menemukanmu disana..” ucapku lirih. Aku serius, aku benar-benar mengkhawatirkannya.

Jinwoon kembali duduk dan meraih wajahku dengan tangan kirinya lalu mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Ia menatap kedua mataku dalam. “terimakasih..”

Ia mendekatkan wajahnya lalu menciumku lembut. Rasanya hangat dan menenangkan.

“ah.. ssh..” aku segera melepaskan ciumannya sangat mendengar Jinwoon meringis.

“mianhae, apa itu sakit?” tanyaku sembari mengusap luka kecil yang ada di ujung bibirnya.

Ia menggeleng dan wajahnya terlihat panik, “ani, gwaenchana. Apa bibirmu menyentuh  lukaku? Aku baru saja mengoleskan obat pada luka ini!”

Aku mengecap lidahku sejenak, “sepertinya tidak..”

“haah.. syukurlah..” ujarnya lega lalu kembali bersandar.

Aku senang keadaan yang tadi sempat mendingin kini sudah kembali tenang. Tiba-tiba aku teringat kejadian semalam tepat sebelum aku tidur. Aku bersyukur ia sama sekali tidak menanyakan soal itu.

“Ri Jung-ah~” panggilnya sambil memandang langit-langit kamarnya.

“ne?”

“kau menggodaku, ya?”

Aku menatapnya heran, “mworago? Apa maksudmu?”

“soal kemarin.. kau menciumku, lalu barusan kau sama sekali tidak menolak ciumanku..” ucapnya lalu mengarahkan pandangannya padaku.

Aish! Ternyata dia ingat. Aku berpikir sejenak memutar otak mencari alasan untuk diucapkan. “ani.. apa aku tidak boleh mencium calon suamiku sendiri?”

“hmm.. alasan yang masuk akal, tapi sejak kapan kau menganggapku sebagai calon suamimu?” tanyanya lagi. Kali ini terdengar nada jahil dari ucapannya.

Blush! Aku rasakan wajahku memanas dan aku pastikan wajahku sudah seperti kepiting rebus.

“err.. itu.. aku hanya mengikuti perintah orangtua kita..” jawabku gugup sambil menundukkan kepalaku tak berani menatapnya.

Tiba-tiba ia tertawa, “haha.. sudahlah lupakan saja. Kau sangat lucu saat kebingungan. Apalagi dengan wajahmu yang merah seperti itu!”

Aku menggembungkan pipiku sebal. “geurae, aku akan pulang kerumah. Kau pasti bisa merawat dirimu sendiri dengan baik, kan?” godaku pura-pura marah.

“aih~ mianhae jagi.. aku tidak bermaksud membuatmu marah.. apa kau tega meninggalkan aku yang sedang sakit ini?” ia menatapku dengan wajah memelasnya. Sedangkan aku langsung membalikkan tubuhku tak sanggup menahan tawa.

+++

Jinwoon’s POV

Hari ini adalah hari kelima kami di Seoul. Ri Jung memintaku untuk menemaninya bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu dirumah seorang temannya.

“Ri Jung-ah, perutmu.. apa tidak perlu ditutupi?” tanyaku sedikit takut jika nanti teman-temannya melihat Ri Jung yang sedang mengandung.

Ia menggeleng, “tidak apa, aku sudah menceritakannya kepada teman-teman dan mereka bilang tidak masalah dengan keadaanku sekarang. Lagipula, bagaiman caranya menutupi perut buncit seperti ini?”

Aku mengangguk lalu segera membantunya dengan tas bawaannya.

Sesampainya dirumah Seo Chan, mereka langsung melepas rindu satu sama lain. Aku mengerti betapa rindunya mereka setelah berpisah sekian lama.

“annyeong~ kau siapa?” sapa salah satu teman Ri Jung padaku sembari membungkukkan badannya.

Aku tersenyum ramah, “aku Jung Jinwoon. Hm, aku hanya..”

“dia calon suamiku.” Potong Ri Jung tiba-tiba. Aku dan teman-temannya sangat dibuat terkejut olehnya.

“jinjja?!” seru salah satu temannya yang bernama Seo Chan.

Ri Jung mengangguk singkat. “kami dijodohkan oleh orangtua kami 5 bulan yang lalu.”

“aigo~ bagaimana dengan Chansung? Bukankah kau berpacaran dengannya?” tanya Seo Chan lagi. Aku menatapnya seolah-olah memberinya semangat untuk menjawab pertanyaan itu.

Ia menghela nafasnya berat. “kami sudah berpisah semenjak 3 bulan yang lalu, tepat saat aku pindah ke Daegu.”

“whoa.. lagipula, aku rasa namja ini lebih tepat untukmu Ri Jung-ah.” Bisik Seo Chan, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas dan terkekeh pelan karena ucapannya.

“ah ya, perkenalkan ini teman-temanku. Ini Shim Seoe Chan.” Ri Jung memperkenalkan teman-temannya mulai dari Seo Chan.

“ini Kim Ri Ra, dan ini Min Young. Sebenarnya ada seorang lagi, tapi ia pindah ke Jepang saat kenaikan kelas kemarin.” Jelas Ri Jung lagi. Aku mengangguk lalu tersenyum ramah kepada semua temannya.

Teman-temannya sangatlah ramah. Aku senang karena Ri Jung mempunyai teman yang sangat baik seperti mereka.

Tak terasa hari sudah sore dan kami berdua pulang. Diperjalanan pulang, Ri Jung tak henti-hentinya tersenyum dan menceritakan betapa senangnya ia bertemu dengan teman-teman lamanya.

“aku harap senyumanmu ini akan bertahan lama.” Ucapku padanya yang terus mengoceh.

Ia menatapku, “ya tentu saja. Selama kau tetap bersamaku.”

“mw.. mwo?! Apa yang kau ucapkan barusan?” aku hampir saja kehilangan konsentrasi menyetirku karena ucapannya barusan.

“haha.. sayang sekali tidak akan ada siaran ulang untukmu.” Jawabnya meledekku.

Ucapannya barusan, apakah sebuah kemajuan untukku?

~TBC~

By: tyasung

I wish I could finish this sequel as soon as possible. Thanks for the support~! ^^

8 thoughts on “Be Mine, Please.. {Part 9}

  1. oeeee akhirnya part ini keluar juga~ *throw confetti*
    onn gaisa mbayangin jinwoon seromantis itu , dia kan lawak orangnya ._.

    weits disini ga ada chansung sama sekali ya haha~

    eh ada minyoung disitu :”>
    boleh dong disempilin minyoung sama minho onn :p /slapped
    hahaha

    ayo next chap cepetan~ \(‘o’)/

  2. yes,the sun sets in the west. hahahaha
    waaaa~ so sweeeet😄
    siapa yg mukulin jinwoon? kebayang ya muka jinwoon lg ngegenitin rijung. hahahahaha

  3. hua….
    Akhrna kluar jga..
    Qren crtana, gga kbyng mka na rijung pas d godain am jinwoon..
    Hahahahahaha…
    Lnjut yo…

  4. aigoo~
    Jinwoon lucu bgd dehh! *nyubitin pipi jinwoon*
    Romantis bgd aihh beruntung bgd deh si RiJung. Klo aku jd RiJung sih aku jls lbi milih jinwoon daripada chansung ~
    Hha
    Oia author lanjtin dong! Bgs sich critanya!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s