Painful Love [Part 1/2]

Park Ye Rin’s POV

“Ye Rin-ah, aku berjanji aku akan kembali dan kita akan bersama”

Kubuka mataku perlahan mencoba beradaptasi dengan cahaya mentari pagi yang masuk melalui jendela kamarku. Aku regangkan tubuhku sambil mengingat kembali mimpi yang baru saja mampir di tidurku. Kami berpisah saat SMP dulu. Janji yang ia ucapkan 10 tahun yang lalu sering sekali muncul dimimpiku. Mungkin baginya hal itu hanyalah sekedar janji biasa, tapi bagiku itu adalah janji yang sangat berharga.

Pagi ini seperti biasa setelah selesai sarapan, aku membaca halaman Job Vacancy di Koran. Terlalu lama menganggur sangatlah membosankan. Aku sudah pernah dua kali gagal dalam pekerjaanku sebelumnya dan sekarang aku akan benar-benar serius menjalaninya.

Mataku berhenti disebuah kolom yang bertuliskan, “DIBUTUHKAN SEORANG HOUSKEEPER.” Housekeeper? Sepertinya tidak terlalu buruk.

Aku segera mandi dan bergegas pergi ke alamat yang tertulis dikoran tadi.

“Park Ye Rin-ssi, kau sudah bisa mulai bekerja hari ini. Ini alamat rumah majikanmu” ucap seorang ahjumma yang bekerja dibagian penerimaan pekerja. Aku menerima sepucuk kertas yang bertuliskan alamat dimana aku mulai bekerja hari ini.

+++

Ting Tong~

Cklek.

“ah, annyeonghaseyo. Choneun Park Ye Rin imnida~!” sahutku saat pintu rumah terbuka.

“apa kau housekeeper baru? Masuklah, Hyuk Jae biasanya pulang malam” jawab seorang yeoja yang membukakan pintu untukku.

Aku terdiam dipintu. Aku memang tidak diberitahu oleh pihak penyalur tadi. Hyuk Jae? Apa yang ia maksud adalah Lee Hyuk Jae seorang selebritis tampan dan terkenal itu? Dan apa yang ia maksud adalah Lee Hyuk Jae sahabatku 10 tahun yang lalu?

“hey, masuklah..” panggil yeoja itu. Aku yang tersadar langsung berlari menghampirinya.

Ia mempersilahkan aku duduk dan membuatkan aku secangkir teh hangat. “ah ya, perkenalkan aku Lee Sora, kakak dari Lee Hyuk Jae”

Bingo! Ternyata tebakanku benar. Lee Hyuk Jae yang ini adalah sahabatku dulu. Tapi, “permisi, apa kau lupa padaku Sora onnie?”

Ia menatapku heran, “apa kita pernah bertemu?”

“aku Ye Rin. Teman Hyuk Jae dulu saat di Mokpo dulu” jawabku yakin.

“ah.. sepertinya aku ingat. Ya! Kau sangat berubah. Bagaimana kabarmu?”

Aku tersenyum lega ia mengingatku. “ya beginilah. Terlalu lama menganggur sangat membosankan, lagipula aku merasa sangat tidak enak kepada Oemma. Jadi, aku cari saja pekerjaan yang menurutku cocok untukku”

“ah ya, aku harus memberitahumu sesua—“

KRIIIIIIING~!! Ucapan Sora onnie terpotong oleh telepon yang berdering. Ia bangkit dari duduknya lalu menjawab telepon.

“Ye Rin-ah, mianhaeyo, aku tidak bisa lama-lama disini. Tadi manager Hyuk Jae memintaku untuk menunggumu disini, tapi aku harus pergi sekarang, ada urusan yang harus aku selesaikan dikantor. Kau baik-baiklah disini. Aku senang bertemu denganmu” jelas Sora onnie panjang lebar.

“aigo~ aku rasa aku akan bisa melaluinya” jawabku percaya diri.

Iya tersenyum lalu pergi dari rumah ini. Sora onnie masih tetap seperti yang dulu, baik dan ramah.

Sekarang aku hanya sendiri disini. Dirumah seorang Lee Hyuk Jae yang sangat aku rindukan. Orang yang memberiku janji itu. Orang yang memberiku sebuah cincin. Cincin terbuat dari kayu dan berukirkan namaku ini adalah pemberiannya yang terakhir sebelum ia pindah dari Mokpo. Yang membuat hadiah ini spesial adalah ukiran namaku pada cincin ini adalah ukirannya sendiri. Walaupun sudah tidak muat lagi di jariku, aku tetap memakainya sebagai liontin.

‘aigo~ sudah jam 6! Aku harus segera memasak makan malam’ batinku. Aku segera bergegas kedapur dan memasak dengan bahan seadanya.

Untuk kesekian kalinya aku menatap jam dinding yang sekarang telah menunjukkan pukul 12 malam. Kapan ia akan pulang? Makan malam ini sudah mulai dingin. Sebaiknya aku simpan saja untuk dipanaskan besok pagi.

“yak! Siapa kau?!” sahut seseorang dibelakangku. Aku berbalik dan melihat seorang yeoja berpakaian sangat minim dan sepertinya yeoja itu sedang mabuk.

Saat aku berniat menjelaskan, seorang namja yang adalah Hyuk Jae datang dari belakang yeoja itu. “sudahlah Jun Ah, dia hanyalah housekeeper baru dirumah ini jangan hiraukan dia. Sebaiknya kita lanjutkan saja kegiatan kita yang tertunda tadi~”

Dan.. omo! Mereka berciuman!

Namja yang sangat aku rindukan sekarang ada di depan mataku. Mataku yang tidak pernah lepas menatapnya dari layar televisi sekarang bisa menatapnya langsung, tapi apa yang kulihat sekarang sama sekali tidak membuatku bahagia.

+++

Jujur saja semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang Hyuk lakukan dengan yeoja yang sedang mabuk dikamarnya. Aih~ tentu saja mereka melakukan apa yang orang dewasa lakukan! Seandainya ia tahu hatiku sakit. Sangat sakit.

Setelah memanaskan makanan untuknya sarapan, aku berjalan kearah kamar Hyuk Jae yang terletak dilantai dua.

Cklek. Ah, pintunya tak terkunci. Aku langkahkan kakiku masuk kekamarnya dan aigoo~ wanita itu memang sudah tidak ada, tapi Hyuk tidur tanpa menggunakan apapun ditubuhnya. Aku bisa dengan jelas melihat absnya yang tersusun indah diperutnya. Mataku terus kebawah dan, oh! Aku melihat sesuatu yang seharusnya tak kulihat.

Aku bergegas keluar dari kamar itu, tapi, bugh! Aku tersandung sebuah syal yang tergeletak dilantai.

“euh, siapa itu?” raung Hyuk dari kasur. Aku segera berdiri, berniat meninggalkan ruangan itu secepat kilat, tapi ia keburu menahan tanganku.

Aku berbalik dan menundukkan kepalaku, “mianhae, aku tidak bermaksud lancang dengan masuk kekamarmu tanpa izin. Aku han—“

Ucapanku terhenti karena bibirku dibungkam olehnya dengan.. bibirnya. Reflek aku langsung mundur dan menamparnya. PLAAK!

“tolong, jangan samakan aku dengan teman wanitamu semalam Hyuk Jae-ssi” aku langsung berlari keluar kamarnya. Lagi-lagi hatiku sakit sekali dan air mataku pun mengalir keluar.

Tok Tok

Segera kuhapus air mataku dan membuka pintu kamarku. Kututup kembali saat tahu siapa yang da dibalik pintu tersebut. Hyuk Jae.

“ya! Aku hanya mau minta maaf, bisakah kau buka pintumu?” teriaknya dari luar.

Akhirnya kubuka pintu kamarku dan melihatnya yang sekarang sudah berpakaian lengkap.

“mianhae, aku masih setengah sadar tadi. aku pikir kau Jun Ah” ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Kebiasaan ini belum berubah sejak dulu.

Aku hanya mengangguk pelan dan menutup pintu kamarku lagi, tapi ia menahannya. “apa kau akan membiarkan majikanmu menyiapkan makanannya sendiri? Hm, sepertinya aku belum tahu namamu”

Aku tersentak mendengarnya. Nama? “aku, Park Ye…”

“Park Ye? Apa cuma itu?” tanyanya memotongku.

“ani, Park Ye Rin. Park Ye Rin imnida” jawabku membenarkan.

“ah, Park Ye Rin. Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya”

“ye, kita sudah bertemu tadi malam” jawabku segera lalu berjalan kedapur menyiapkan sarapan untuknya. Hyuk Jae sama sekali tidak mengenaliku.

Ia mengikutiku kedapur lalu duduk dimeja makan. Aku tahu ia sedang memperhatikanku dari tempat duduknya itu, tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya.

“apa kau tidak ada jadwal hari ini?” tanyaku padanya yang sedang menyuap nasi kemulutnya.

Ia menggeleng, “tapi aku ada janji hari ini. Mungkin aku akan pulang malam lagi”

Aku hanya mengangguk singkat dan berharap ia tidak akan membawa yeoja itu lagi seperti semalam.

+++

Pukul 2.47 AM..

Tok Tok.. Tok Tok Tok..

“aish berisik sekali, siapa yang datang malam-malam seperti ini?” gerutuku seraya bangkit dari tidurku.

Cklek. “lama sekali..” ucap Hyuk sinis padaku. Ya, ia baru pulang, dan harapanku terkabul. Ia tidak membawa yeoja yang kemarin, melainkan ia membawa yeoja lain yang menurutku satu tipe dengan Jun Ah kemarin.

Kututup kembali pintu rumahnya lalu aku kembali kekamarku. Apa aku akan bisa tidur?

“aah.. ohh.. Hyukkie.. ppalliwaaa.. aaah~” suara apa itu?

Karena penasaran aku buka pintu kamarku, dan.. Hyuk Jae sedang bersetubuh dengan yeoja itu dimeja dapur! Segera aku kembali kekamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Apa mereka tak tahu kalau dirumah ini tidak hanya ada mereka berdua?

Lagi-lagi aku menangisi pria itu. Pria yang sama sekali tidak mengingatku dan bahkan sedang bersenang-senang dengan yeoja lain. Hyuk Jae sudah sangat berubah. Mungkin ini adalah efek dari kesuksesannya menjadi artis terkenal.

Hyuk Jae dan aku dulu adalah teman dekat, sangat dekat. Hampir semua kegiatan kami lakukan bersama. Ia selalu menjagaku kemanapun aku pergi. Bahkan saat orangtuanya akan dipindah kerjakan di Seoul ia sempat melarikan diri kerumahku, menangis karena ia tidak mau pindah dari Mokpo. Orangtuanya datang dan membujuknya untuk pulang. Akhirnya ia menurut lalu munculah janji itu dan cincin ini. Apa ia benar-benar lupa padaku?

Pukul 4.32 AM..

Aku dengar sudah tidak ada suara-suara lagi dari luar. Aku beranikan diriku untuk keluar dan menemukan dapur yang sudah sangat berantakan. Aigo~ hari ini harus bekerja keras.

+++

Aku dengar derap langkah dari belakang, sepertinya Hyuk Jae sudah bangun. Aku tetap berkutat dengan pekerjaanku mengepel dapur yang berantakan karenanya. Saat aku mundur, aku merasa menabrak sesuatu.

“Ye Rin-ah, kenapa kau tidak membangunkanku!” suaranya yang sinis mengagetkanku.

Aku berbalik, “ya! Kenapa tidak bangun sendiri? Lagipula siapa suruh pulang pagi?!”

“tunggu, aku benar-benar merasa pernah bertemu denganmu..” ucapnya tiba-tiba lalu tangannya menyentuh wajahku.

Jantungku berdegup sangat kencang. Aku bisa saja memeluknya sekarang, tapi aku berusaha untuk menahan keinginan itu.

Aku tepis tangannya, “sudahlah, aku masih ada pekerjaan. Kau mandilah lalu berangkat kerja”

“ah ya, sarapanmu juga sudah aku siapkan. Setelah ini aku akan pergi belanja” lanjutku.

“jamkkanman!” serunya tiba-tiba.

Aku menatapnya heran, “mwo?”

“biarkan aku, mengantarmu belanja”

“mworago? Jinjjayo? Tapi, apa kau tidak ada jadwal?” tanyaku tak percaya.

Ia menggeleng, “ani, hari ini aku ingin istirahat”

Aku semakin heran, “kalau kau ingin istirahat, kenapa mau mengantarku belanja?”

“ah? Ani.. aniyo, aku hanya.. hanya ingin bersantai diluar rumah. Anggap saja ini permintaan maafku untuk kejadian itu” jawabnya sedikit aneh.

“ne? kejadian apa?” tanyaku bingung.

Ia meletakkan telunjuknya dibibirnya lalu menunjuk bibirku, “aku lihat kau menangis saat itu, aku jadi merasa tidak enak”

Aku membulatkan mataku karena teringat kejadian apa yang ia maksud. “geurae. Akan aku selesaikan dulu pekerjaanku”

“aku akan menunggu” jawabnya dengan senyuman manisnya. Aigo~

+++

Lee Hyuk Jae’s POV

Sebenarnya hari ini aku ada janji dengan Leeteuk hyung untuk menemaninya makan siang, tapi aku rasa hal ini lebih penting.

“hey, apa penyamaranku buruk? Aku rasa semua mata menatapku” bisikku pada Ye Rin yang sedang memilih sayuran.

“aigo~ sayuran disini tidak terlalu segar” gerutunya sendiri.

“ya! Ye Rin-ssi, jawab aku!” bisikku lagi kali ini lebih keras. Ia tetap tak mengiraukanku dan tetap menggerutu tak jelas pada sayur-sayur itu.

Aku putuskan untuk berjalan-jalan sendiri kebagian gadget.

Setelah kurang lebih 15 menit aku berencana mencari Ye Rin yang sekarang entah ada dimana.

“Hyuk Jae~!!! Kyaaaaa~~!!” terdengar seseorang meneriakkan namaku. Otomatis aku langsung berlari dari tempat itu dan mencari Ye Rin ke setiap sudut supermarket.

“ah, itu dia!” seruku saat melihatnya di bagian daging.

Aku langsung berlari menghampirinya. “Ye Rin-ah, kau sudah selesai belanjanya? Khajja!”

Ia menggeleng tanpa menatapku yang sudah sangat kelelahan dan panik.

“sudahlah! Yang penting sekarang kita pergi dulu dari tempat ini!” aku raih tangannya lalu menariknya lari keluar gedung supermarket dengan cepat. Terdengar dari belakang tidak hanya seorang yang sekarang mengejar kami melainkan segerombolan orang berlari sambil meneriakkan namaku.

Ye Rin yang sepertinya sudah mengerti situasi terasa menggenggam tanganku erat dan mengimbangi kecepatan larinya denganku. Entah kenapa bersentuhan dengannya seperti ini sangat membuatku nyaman.

Aku lihat didepan ada celah yang mungkin bisa menjadi tempat kami bersembunyi. Kupercepat lariku dan menariknya kedalam celah tersebut.

Didalam celah yang sempit ini terdengar jelas helaan nafas Ye Rin yang memburu karena pelarian singkat kami barusan.

Aku menatap wajahnya yang penuh peluh, sedangkan ia terlihat sibuk mengintip keadaan diluar.

“Hyuk Jae-ssi, sepertinya rombongan tadi sudah pergi. Ayo kita keluar” ucapnya pelan.

Aku hanya diam tak menjawabnya, menempelkan kedua tanganku ketembok disampingnya. Menguncinya diantara lenganku.

“ya! Kau mau apa?!” tanyanya mulai panik saat aku mendekatkan wajahku padanya.

Aku tersenyum, “walaupun aku tidak tahu dimana atau kapan, aku sangat yakin kalau aku pernah bertemu denganmu dulu, dan aku merasa sangat senang bisa bertemu denganmu lagi sekarang”

Ia menatapku, menatap kedua mataku seakan apa yang kuucapkan barusan memang banar adanya.

“bolehkah aku menciummu, Park Ye Rin? Kali ini dengan kesadaran penuh” tanyaku yang juga menatap kedua matanya dalam.

Ia diam, sama sekali tak menjawabku. Tiba-tiba air mata mengalir dari matanya. “wa.. waeyo?” aku yang heran sekaligus panik melihatnya menangis langsung membungkukkan tubuhku sedikit dan menatapnya lurus sambil menghapus air matanya.

“khajja..” ia menepis tanganku lalu berjalan keluar dari celah itu.

Selama dimobil ia hanya menatap keluar jendela tanpa sedikitpun memandang kearahku. Sebenarnya ada apa dengannya? Saat aku menciumnya kemarin ia juga menangis. Apa ada yang salah dengan ciumanku?

“Ye Rin-ah~ kau selalu mengejutkanku dengan tiba-tiba menangis, waeyo?” tanyaku mencoba mengajaknya bicara.

Ia hanya menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya. Aku menghela nafasku menyerah dengannya, yang jelas sekarang perutku lapar dan aku ingin makan, tapi dengan keadaan Ye Rin yang seperti ini aku tidak mungkin memintanya kembali berbelanja dan memasakkan aku makanan.

“ya! Mau kemana lagi kita?” ucapnya saat menyadari bahwa jalan yang kuambil bukanlah jalan pulang kerumah.

Aku sedikit lega mendengarnya bicara. “aku lapar, kau juga pasti lapar, bukan?”

“ani, turunkan aku disini” jawabnya singkat.

“mwo? Kau mau kemana?”

“ppalli. Aku bisa memasak ramyun dirumah”

“aish, ikutlah makan bersamaku”

“shireo. Aku tidak mau kejadian barusan terulang lagi. Cepat turunkan aku”

Akhirnya aku menyerah lalu memutar balik arah mobilku. “kalau begitu, buatkan aku ramyun juga, ya?”

“buat saja sendiri” jawabnya ketus.

“ya! Apa kau berani menentang majikanmu?” rasanya aku ingin menggodanya.

Ia menatapku kesal, “arasseo, aku melakukan ini karena aku dibayar”

Aku terkekeh pelan lalu kembali berkonsentrasi menyetir.

+++

Ye Rin’s POV

Aku bisa saja mengatakan ‘iya’ pada saat ia mau menciumku. Aku hanya tidak mau semakin terlarut dengan perasaanku sendiri. Hyuk Jae bukanlah laki-laki yang baik. Itulah pemikiranku sekarang tentang dirinya.

Hari ini tepat 2 minggu aku bekerja dirumah Hyuk Jae, semakin hari aku semakin tahu sifat-sifat buruknya dan semakin jauh aku mengetahuinya, semakin sakit hatiku dibuatnya.

“Ye Rin-ah, apa makanan kesukaanmu?” tanyanya tiba-tiba saat melihatku sedang memasak.

“aku akan memakan apa saja yang menurutku enak” jawabku seadanya.

“hmm, lalu apa warna kesukaanmu?” tanyanya lagi.

“aku suka semua warna yang menurutku enak untuk dipandang”

“… apa hobimu?”

“aku akan lakukan apapun yang aku suka kalau aku sedang menginginkannya”

“kau orang yang sulit ditebak..” ucapnya menyerah lalu pergi meninggalkan dapur.

Aku hanya tersenyum kecil karena tingkahnya yang aneh barusan.

“ini makananmu, aku akan mencuci baju dibelakang” kataku setelah selesai menyiapkan makan siang untuknya dimeja.

“haah.. lagi-lagi ada noda lipstick dibajunya..” keluhku pelan saat melihat 2 cap bibir di kemejanya.

Pekerjaan mencuci, memasak ataupun membersihkan rumah memang bukan pekerjaan yang sulit untukku, tapi jika majikanku yang ternyata adalah sahabat sekaligus orang yang aku cintai mempunyai kebiasaan yang buruk seperti mabuk-mabukan dan bercinta dengan banyak wanita, tentu saja akan menyulitkan pekerjaanku disini.

“Ye Rin-ah~!” aku dengar ia memanggilku dari dalam. “neee?” sahutku.

Ia terlihat sudah menggunakan pakaiannya dengan rapih, pasti ia akan pergi. “aku akan pergi, mungkin akan pulang malam lagi. Kau tidurlah duluan, tak usah menungguku”

‘cih, siapa yang mau menunggumu?’ cibirku dalam hati.

“kau tahu maksudku? Lakukanlah perintahku sebaliknya. Arrasseo?” ujarnya lagi lalu pergi begitu saja meninggalkanku yang kebingungan atas perkataannya barusan.

Jadi maksudnya aku harus menunggunya? Tapi, untuk apa?

~TBC~

By: tyasung

Ayo-ayo leave comment~! Ini ff request nya temen aku, semoga pada sukaa~! *bow*

9 thoughts on “Painful Love [Part 1/2]

  1. ye rin-nya polos banget dah ampe kepleset >.<
    wahahahahaha
    yaaaaah ye rin-ah,sabar ya kau naaaak T.T
    sediiih ri jung-ssi
    bner2 dah si hyuk jae!! tiap malem bawa yeoja beda2.
    part 2! part 2!😄

  2. Aigoo… Ternyata cast namja nya … eunhyuk si yadong ……..seru nihhhhhh …. Kik kik ye rin …. Teman masa kecil eunhyuk ? Pasti sakit hati abis tuh liat kelakuan eunhyuk yg yadong …. Pdhl ye rin berharap bgt tuh Pengen ketemu …. Eh td eunhyuk noona mau ngomong apa tuh ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s