Be Mine, Please.. {Part 8}

Jinwoon’s POV

“aku pulang..” sahutku saat memasuki rumah. Tak terdengar sambutan dari dalam. Aku langkahkan kakiku masuk dan mendapati Ri Jung yang sedang duduk menonton televisi.

Aku menghampirinya, “annyeong?” ia tak menjawab. Matanya memang menatap lurus pada tv, tapi aku sangat yakin perhatiannya tidak tertuju pada tv.

Aku raih remot yang ada dimeja lalu aku matikan televisinya.

“yaak! Apa-apaan kau? Aku sedang menonton!” protesnya tiba-tiba.

“gojitmal. Aku tau matamu menatap layar itu, tapi aku juga tau kau tidak sedang menontonnya. Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?”

Ia menggeleng sambil berjalan meninggalkan aku yang masih duduk, “bukan urusanmu”

Aku mengikutinya kedapur dan duduk dimeja makan memperhatikan tingkahnya yang seperti orang kebingungan.

“ah ya, kau seorang ibu yang sedang hamil muda dan biasanya saat hamil muda seorang wanita menginginkan banyak hal yang aneh. Kenapa itu tidak terjadi padamu, yeobo?” tanyaku mencoba menarik perhatiannya.

Ia berhenti dari kegiatannya dan menatapku, “benar juga..” katanya tiba-tiba.

Aku mengerutkan keningku, “apanya yang benar?”

“aku ingin kita ke Seoul. Aku ingin bertemu dengan Chansung oppa!” jawabnya antusias.

Aku terkejut mendengarnya, “shireo..”

“yaa! Waeyo? Bukankah tadi kau tanya apa yang aku mau?”

“yang kumaksud bukan itu. Aku tau dan akan selalu tau kalau keinginanmu untuk bertemu orang itu tidak akan hilang” jawabku ketus.

Tiba-tiba ia menghampiriku, “Jinwoon-ya, apa kau mengenal Ibu Chansung oppa?”

“mwo? Mollayo, kenapa kau menanyakan hal itu?” tanyaku penasaran.

“tadi siang aku bertemu dengannya” jawabnya sedikit berbisik.

Lagi-lagi aku terkejut dibuatnya, “odi?”

“tadi siang aku bertemu dengannya dirumah halmeoni” jawabnya.

Aku mengangguk mengerti, “setauku Chansung ditinggal Ibunya saat ia masih kecil, apa benar?”

“ne..”

~~~

*Flashback*

Ri Jung’s POV

“ne, dia anakku. Apa kau mengenalnya Ri Jung-ah?”

Aku mengangguk, “ye, dia.. sunbaeku disekolah dulu”

“ah, bagaimana rupanya sekarang?” tanyanya lagi.

“dia tampan, baik, dan populer disekolah” yah, semua itu yang menarik perhatianku padanya.

“jeongmal? Aku sangat ingin bertemu dengannya..”

Aku menatapnya sedih. Aku juga sangat ingin bertemu dengannya, tapi membayangkan seorang Ibu yang sudah tidak bertemu dengan anaknya selama lebih dari 10 tahun, terasa lebih menyakitkan dibanding perasaanku sekarang. Aku tidak ingin hal itu terjadi pada anakku nanti.

Tunggu, Hyu Chan ahjumma adalah sahabat Oemma. Kalau ia tau aku mengandung cucunya, apa itu akan merubah keputusan Appa untuk menikahkanku dengan Jinwoon?

“ah, kenapa kau tidak mengujunginya saja di Seoul?” tanya Haneul ahjumma.

Ia menggeleng, “aku belum siap sekarang, tapi aku berencana untuk pindah kembali kesini dalam waktu dekat”

“jinjja? Apa kau akan tinggal di Daegu?” sahut Haneul ahjumma yang tiba-tiba antusias.

“ye, dua hari lagi aku akan kembali ke Jepang untuk menyelesaikan pekerjaanku disana dan menyiapkan kepindahanku kembali kesini” jelasnya.

“akan aku beritahu kepada Rin Ye onnie kalau kau datang” ucap Haneul ahjumma lalu berdiri dari duduknya berjalan kearah telepon.

Aish, kalau Oemma datang pasti ia akan menanyakan keputusanku dengan Jinwoon. Tapi.. mungkin Oemma juga bisa berubah pikiran tentang hal itu!

~Flashback ends~

~~~

“Jinwoon-ya, Oemma akan datang besok” kataku padanya yang sedang bekerja didepan laptop miliknya.

Ia menatapku, “ada apa? Kenapa mendadak?”

“Oemma ingin bertemu dengan sahabatnya dulu” jawabku.

“nugu?” tanyanya lagi.

“Park Hyu Chan ahjumma, Ibu dari Chansung oppa!” jawabku sambil tersenyum senang.

Jinwoon terdiam lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. “yaak! Apa tidak ada reaksi lebih bagus daripada itu?”

Ia menatapku lagi, “apa aku harus senang?! Kau pikir aku tidak tahu apa maksud dari ekspresimu barusan?! Kau pasti akan meminta Oemmanim untuk membatalkan perjodohanmu denganku lalu meminta izin untuk kembali bersama Chansung, ya kan?”

Jujur, aku belum pernah melihat Jinwoon seperti ini. Ia terlihat sangat marah.

“hey, apa kau marah?” tanyaku padanya.

Ia menundukkan kepalanya lalu menggeleng, “maafkan aku Ri Jung-ah, aku tidak bermaksud membentakmu, mianhae..”

Tanganku maju dengan sendirinya, mengusap rambutnya pelan. Aku memang sangat ingin kembali dengan Chansung oppa, tapi entah kenapa aku juga tidak ingin lepas dari Jinwoon yang selama 3 bulan ini selalu berada disampingku.

Keesokan harinya Oemma datang dan membawa Hyu Chan ahjumma kerumahku. Hyu Chan ahjumma dan Oemma benar-benar terlihat dekat. Mereka membicarakan banyak hal yang aku tidak mengerti.

“Rin Ye-ya, apa Ri Jung tinggal sendiri dirumah ini?” tanya Hyu Chan ahjumma tiba-tiba.

“ani, ia tinggal bersama Jinwoon. Calon suaminya”

Hyu Chan ahjumma terlihat terkejut, “calon suami? Bukankah Ri Jung masih berumur 17 tahun?”

“ye, Appanya menjodohkannya dengan anak rekan kerjanya dan sekarang Ri Jung sedang mengandung 3 bulan”

Sangat ingin aku bicara bahwa anak ini adalah anak dari Chansung oppa, tapi lagi-lagi aku teringat Jinwoon tadi malam. Sebenarnya ada apa dengan diriku?

~~~

Chansung’s POV

Sudah hampir 1 bulan lamanya aku sama sekali belum menghubungi Ri Jung.  Appa menyita semua alat komunikasiku dan juga kendaraanku. Aku diharuskan untuk hanya fokus kepada sekolahku nanti dan juga pernikahanku dengan Se Na.

Tok tok

“tuan, ayah anda mau bertemu anda dibawah” ucap seorang pelayan dari pintu kamarku. Aku mengangguk lalu turun menuju ruang kerjanya.

“ada apa?” tanyaku cuek.

Ia berdiri dari duduknya dan menghampiriku. “aku dengar ibumu sedang ada di Korea sekarang”

Aku terkejut mendengarnya, “jinjja? Dimana dia?”

“sampai sekarang aku belum tahu, kau sangat ingin bertemu dengannya, huh?”

“tentu saja” jawabku yakin. Hal ini sudah aku nantikan.

Appa berjalan kearah meja kerjanya dan menekan beberapa digit nomor diponselnya. “tambah satu undangan lagi untuk Park Hyu Chan, alamat menyusul”

Mwo? Undangan? “apa Appa berniat mengundang Oemma dihari pernikahanku nanti?”

“ye, ada yang salah? Kau ingin Ibumu datang, kan? Bukankah lebih baik ia juga menyaksikan pernikahan anaknya?”

Aku menghela nafasku, “terserah kau sajalah.” Aku berjalan kembali kekamarku. Aku benar-benar merasa terkurung dirumahku sendiri. Appa tidak mengijinkanku pergi selain dengan Se Na.

Aku sangat merindukan Ri Jung, bagaimana kabarnya dan kabar anakku? Aku sebarkan pandanganku kepenjuru kamar, mengingat kejadian yang pernah terjadi dikamar ini. Aku sangat menyesal telah melakukan hal itu padanya, sekarang ia menanggung beban yang seharusnya aku tanggung juga, sendirian.

Dua minggu kemudian Se Na datang kerumah dan Appa menyuruh kami untuk mengirimkan undangan melalui kantor pos karena tidak mungkin kami menyampaikan semua undangan kerumah masing-masing.

“Chansung-ah, apa kau tidak keberatan kalau aku mengundang mantan kekasihku kepernikahan kita nanti?” tanya Se Na saat diperjalanan.

“terserah saja, memang aku peduli” jawabku cuek tanpa mengalihkan perhatianku pada jalanan.

Aku tidak peduli dengan pernikahan ini, jadi untuk apa aku peduli siapa saja orang yang diundang? Tugasku hanya untuk menikahinya, tidak lebih.

~~~

Jinwoon’s POV

Semakin lama aku bersamanya, semakin besar rasa sayangku pada Ri Jung. Kadang hatiku sakit saat mendengar Ri Jung menyebut nama Chansung. Apa yang bisa membuatnya menerimaku?

Pagi ini aku menemukan sebuah undangan pernikahan dimeja kantorku. “Hwang Chansung – Lee Se Na?” gumamku pelan. Untuk apa mereka mengundangku?

Tok Tok

“Jinwoon-ssi, rapat akan segera dimulai” panggil asistenku dipintu. Aku mengangguk lalu memasukkan undangan itu kedalam tasku.

Aku pulang terlambat malam ini. Betapa terkejutnya aku menemukan Ri Jung yang sedang tertidur disofa dengan TV yang masih menyala. Apa ia menungguku?

Aku letakkan tas kerjaku dimeja tamu, lalu aku menggendong Ri Jung membawanya kekamarnya.

“jaljayo, Ri Jung-ah..” kukecup keningnya pelan dan keluar dari kamar itu. Karena terlalu lelah aku langsung saja beranjak kekamarku lalu mengganti pakaianku dan tidur.

Paginya aku terbangun karena mendengar Ri Jung sedang berbicara dengan seseorang diluar. Aku lihat jam masih menunjukkan pukul 6.35 AM. Apa ada yang datang?

Aku langkahkan kakiku keluar kamar dan betapa terkejutnya aku melihat keadaan rumah yang sudah seperti kapal pecah. Ada apa ini? Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan mencari Ri Jung.

Samar-samar akun mendengar isakan dari dapur. Terlihat Ri Jung sedang duduk meringkuk diujung ruangan menangis. Aku menghampirinya, “Ri Jung-ah, wae? Gwaenchanayo?”

Ia tidak menjawab dan terus menangis. Aku yang bingung menggendongnya dan mendudukkannya dimeja makan.

Setelah memberinya minum, aku mencoba bertanya lagi ada apa dengannya.

“boleh aku ikut?” aku sedikit heran mendengar ucapannya barusan.

“mworago? Ikut kemana?”

Ia menunjuk keranjang sampah. Aku lihat disana ada sobekan beberapa lembar kertas yang sepertinya aku kenal. Aku pungut lembaran tersebut dan ternyata lembaran kertas ini adalah undangan pernikahan Chansung – Se Na yang aku dapatkan kemarin.

“Ri Jung-ah, darimana kau mendapatkan benda ini?” tanyaku padanya yang masih sesenggukan.

“saat akan membereskan tasmu, aku melihatnya..” jawabnya yang mulai kembali menangis.

Aku membuang kembali undangan itu lalu memeluknya. “sudahlah, aku tau hal ini sangat menyakitimu, dan akupun tidak suka melihatmu sedih seperti ini. Aku tidak akan datang kepernikahan itu, begitupun denganmu”

“ani, aku ingin kesana.. aku ingin memberinya ‘selamat’ secara langsung”

~~~

Ri Jung’s POV

Jadi ini sebabnya ia tak pernah menghubungiku? Yah, harusnya aku tau seorang Hwang Chansung tidak akan pernah berubah. Sekarang, apa yang harus aku lakukan dengan anaknya?

Jinwoon terus memelukku, menenangkanku. “Jinwoon-ya, boleh aku bertanya sesuatu?”

Ia bergumam mengiyakan.

“kalau kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan dengan kandunganmu?”

Aku merasakan tangannya meraba perutku, “aku akan tetap menjaganya dan akan menyanyanginya dengan tulus”

Aku lepaskan pelukannya, “walaupun kau sudah dikhianati oleh orang yang paling kau percaya?”

“ne, mau bagaimanapun anak ini adalah resiko dari kesalahanku di masa lalu dan yang pasti, anak ini darah dagingku sendiri”

Aku tertegun mendengar jawabannya barusan. Jinwoon bukanlah ayah biologis dari anak yang kukandung, tapi selama ini ia selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada kami yang menurutku terlalu tulus untuk dirinya yang tidak ada hubungannya dengan kami.

“bagaimana? Apa jawabanku memuaskan?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

Aku menatapnya, “sayangnya aku.. aku merasa tidak akan sanggup menjalaankan apa yang kau ucapkan barusan”

“waeyo? Selama ini kau menjalani hidupmu tanpa ada pria itu disampingmu dan kau sehat-sehat saja, bukan? Kenapa sekarang kau merasa tidak yakin?” tanyanya meyakinkanku.

Aku berpikir sejenak. Jinwoon benar. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan tidak adanya Chansung bersamaku. “geurae, akan aku usahakan”

“lagipula, aku akan selalu ada disini, menjagamu dan anakmu. Jadi..”

“tunggu.” Aku membekap mulutnya dengan tanganku. “aku punya satu permintaan.”

“mwo?”

“kau harus membawaku kepernikahan Chansung oppa nanti.”

Ia mendengus kesal, “untuk apa Ri Jung-ah? Bukankah hal itu akan semakin menyakitimu?”

Aku menggeleng seraya berdiri dari dudukku. “tidak ada jawaban ‘tidak’. Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi, untuk yang terakhir kalinya.”

Ia hanya terdiam diposisinya lalu tersenyum senang.

“yaak! Sudah jam berapa ini? Kau akan terlambat kerja Jinwoon-ah!” pekikku terkejut saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 7.05 AM.

Ia menggeleng lalu memungut barang-barang yang aku jatuhkan tadi. “aku akan ambil cuti untuk 3 hari. Calon istriku tidak bisa ditinggalkan sendirian saat sedang patah hati.”

Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapannya barusan. Lagipula tidak mungkin aku membereskan rumah ini sendirian.

Sore ini Jinwoon mengajakku makan malam diluar. Sebuah restoran Itali yang termasuk dari 10 restoran terkenal di Daegu. Aku baru tahu kalau ternyata Jinwoon adalah seorang yang romantis. Entah kapan ia menyiapkan semua ini, membooking seluruh isi restoran, permainan piano yang dipadukan dengan permainan biola langsung dari panggungnya, dan 1 meja dengan wine dan lilin merah yang menyala.

“kapan kau menyiapkan semua ini?” tanyaku saat ia menarikkan kursi untukku duduk.

Ia berjalan lalu duduk dihadapanku, “apa kau suka?”

Aku menatapnya curiga, “apa ada maksud lain dibelakang semua ini?”

“ani, aku hanya ingin menghiburmu. Aku ingin kau segera melupakan Chansung.” Ia terlihat menyembunyikan sesuatu dipunggungnya tapi tak aku hiraukan.

Ah, jadi itu maksudnya menyiapkan semua ini. “entahlah, melupakan orang yang sangat aku cintai.. bukanlah hal yang mudah.”

“mianhae, aku tidak akan memaksamu untuk melupakannya.”

Aigo, aku tahu maksudnya baik, tapi memang sangat sulit untuk melupakannya, melupakan semua yang telah terjadi diantara kami, melupakan janji-janjinya. Aku masih mencintainya.

~~~

Jinwoon’s POV

“Jinwoon-ah, terimakasih untuk malam ini.” Ucap Ri Jung diperjalanan pulang kami.

Aku tersenyum menanggapinya. Aku senang ia menyukainya, walaupun aku yakin ini adalah permulaan yang sulit untukku.

“aigo, aku lupa.” Sahutku seraya menepuk keningku.

“mwo? Lupa apa?”

“sepertinya aku harus memperpanjang cutiku”

Ia semakin terlihat heran, “wae? Percayalah, aku akan baik-baik saja dirumah sendiri”

“ani, hari Kamis nanti hari pertama kau kontrol ke dokter, bukan?”

“haah.. berhentilah bersikap berlebihan Jinwoon-ya. Aku bisa pergi ke dokter sendirian”

“aniyo, selama ini selalu Chansung yang menemanimu ke dokter kandungan. Sekarang giliranku. Lagipula ini kali pertama kau kontrol di Daegu”

Ia menghela nafasnya menyerah. Aku menang!

Selama perjalan ia hanya diam, mungkin kelelahan. Sesampainya dirumah, aku mengantarnya untuk tidur.

“Jinwoon..” panggilnya seraya menahan tanganku.

“ne?”

“jangan pergi, temani aku disini” ucapnya lirih. Aku mengangguk lalu duduk disamping tempat tidurnya sambil menggenggam tangannya.

Tak lama setelah itu ia tertidur dengan air mata mengalir keluar dari ujung matanya. Aku tau hal ini pasti sangat menyakitinya. Oleh karena itu, aku tidak boleh menyianyiakan kesempatan ini untuk mendapatkannya.

~~~

Chansung’s POV

Tak terasa hari pernikahanku dan Se Na hanya tinggal menunggu 2 minggu lagi. Kandungan Ri Jung pun hampir memasuki bulan kelima. Empat bulan lagi. Apa aku bisa melihat anakku?

Aku akan mengunjunginya setelah pernikahanku nanti dan semoga aku mempunyai keberanian untuk jujur padanya mengenai hal ini.

“Chansung-ah~! Ppalliwa, aboenim menunggu kita dibawah” sahut Se Na yang tiba-tiba membuka pintu kamarku.

Aku mendecak sebal, “bisakah kau ketuk dulu pintu kamarku?”

“yaa~ untuk apa aku bersikap seperti itu? Sebentar lagi kita akan tidur sekamar, bukan?”

Aku hanya tak menghiraukannya lalu berjalan keluar kamar. Aku lihat Appa sudah rapi dengan setelan jas hitamnya menunggu kami berdua turun. Malam ini Appa mau aku bertemu dengan orangtua Se Na sebelum kami menikah.

Kami bertemu di sebuah hotel didaerah kota. Makan malam terasa sangat hening menurutku. Aku hanya menjawab apa yang mereka pertanyakan. Aku ingin segera pergi dari tempat ini.

“permisi, aku harus ke toilet” ucapku sesopan mungkin lalu bangkit dari dudukku dan meninggalkan ruangan itu.

Diperjalanan ke toilet aku melihat orangtua Ri Jung. Aku pelankan langkahku lalu bersembunyi dibalik dinding dan betapa terkejutnya aku melihat Ri Jung sedang tersenyum manis dengan lengan Jinwoon melingkar dipinggangnya.

Aku lihat keadaan sekitar memastikan kalau orangtuanya sudah pergi dan menghampiri mereka.

“Ri Jung-ah, apakah itu kau?” tanyaku ragu.

Ia menatapku, begitu juga dengan Jinwoon. “ayo kita pergi Ri Jung-ah” ucap Jinwoon seraya menarik lengan Ri Jung.

Aku menahannya, “tunggu, aku ingin bicara denganmu Ri Jung”

“ah ya, ada satu hal yang harus aku katakan padamu. Anak ini bukanlah anakmu melainkan anak Jinwoon. Maaf aku telah membohongimu dulu”

“mworago? Kau pasti bohong. Kau—“

“sudahlah Chansung, hubungan kita sudah berakhir. Kau akan menikah dengan Se Na dan aku juga akan berbahagia dengan Jinwoon dan anak kami nanti” potongnya. Aku tahu ada sesuatu yang aneh dengannya. Aku sangat yakin ia berbohong.

“tunggu, dari mana kau tahu tentang pernikahanku dan Se Na?” tanyaku heran.

“tanya saja pada calon istrimu itu. Dia yang mengundangku untuk datang” jawab Jinwoon dingin.

Aish, rupanya itu yang ia maksud ingin mengundang mantan kekasihnya.

Kuraih kedua bahu Ri Jung, membuatnya menatapku. “jagiya, aku bisa menjelaskan semua ini. Pernikahan ini dipaksakan, aku sama sekali tidak mencintainya seperti kau dengan Jinwoon, benar?”

Ia menepis tanganku. Aku lihat matanya yang jernih mulai mengeluarkan air mata. “ani, aku mencintai Jinwoon.. sangat mencintainya”

~TBC~

By: tyasung

Leave comment yaa~ maaf fanfic ini lama banget keluarnya. Soalnya banyak tugas dan UTS kemaren hehe. Jeongmal mianhae.. ^^ *bow*

6 thoughts on “Be Mine, Please.. {Part 8}

  1. huwaaaaaaa~~~
    ri jung kasian
    ah lama2 jd ikutan janur, ri jung sama jinwoon oppa aja
    tp tetep ga sudi chansungnya digituin
    aaargh complicated bgt sih😦
    tp seruuuu! daebak janur! ga ketebak alurnya!
    cepet2 post lanjutanya yaa. kalo bisa yg panjang. hehehehe

  2. qreeen….
    Dah rijung am jinwoon adj..
    akhirna kluar jga…
    W dah pnsaran bged ma kljutan na…
    D tnggu klnjutan na..
    Jgn lama2 yea…!!!??

  3. weits akhirnya ada lanjutan ff ini haha
    udah sama jinwoon aja , chansung mah tendang aja /plak
    eh tapi sama siapa aja juga oke kok onn , yang penting saya tetep sama minho hahaha *ketawa setan* *kabur ama minho*

  4. annyeong author..
    saya reader baru.. monik imnida..
    dan saya menamatkan part1 ampe part8 barusan saja..
    *tau pw nya part 3 dari temen* mianhae n.n

    lanjut ya thor. sukaaaa. haha

    ri jung ama jinwoon aja deh.. tp chansung jgn sama se na sama siapa kek *ngmng apa sh aku* bahaha

    lanjut yaaaaaa.
    ditunggu bgt n.n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s