Unbelievable Day

Cast :

–      Lee Taemin (Shinee)

–      Choi Kae Rim

–      Jung Yoogeun

–      Junho  (2PM)

(Choi Kae Rim POV)

“Ya! Tebak siapa aku.” seru seseorang seraya menutup kedua mataku.

“Aya.., lepaskan Taemin oppa. Aku sedang membaca.” Seruku padanya.

“Hh..” dengusnya kesal.

Ia pun duduk disampingku. Kulirik wajahnya. Ditekuk. Artinya dia marah.

“Tak seru. Tidak bisakah kau akting tidak tahu?” ujarnya.

“Maksud oppa aku harus bilang ’ah..ah.. aigo.. siapa itu? Aku takut.’ Begitu? Yang benar saja oppa.” Ujarku sambil terus membaca bukuku.

“Ah, sudahlah. Malas aku berdebat.” Ujarnya seraya menyadarkan badannya.

“Ada apa oppa kesini. Hal ajaib oppa mau masuk kedalam perpustakaan daerah seperti ini.” Ujarku.

“Sebenarnya aku juga tak mau kesini. Aku kesini untuk menjemputmu. Ayo kita makan malam.” Ujaknya.

“Oppa, ini baru pukul 5 sore. Yang benar saja.” Tolakku.

“Ayolah…” rajuknya.

“Hentikan oppa. Ini didalam perpustakaan.” Ujarku seraya mengisyaratkan ia untuk diam.

“Uh… menyebalkan! Kau tahu Kae Rim? Kau mirip unnie-ku.” Ujarnya kesal.

“Baiklah oppa. Ayo kita makan.” Ujarku kesal seraya menutup bukuku.

Pria ini, manja sekali. Padahal ia jauh lebih tua dariku 2 tahun. Aku pun mengisyaratkan ia untuk keluar duluan. Ia pun mengangguk. Segera kukembalikan buku itu dan segera menyusul Taemin oppa keluar.

“Baiklah makan apa kita?” tanyaku.

Tanpa basa basi. Tanpa menjawab pertanyaanku. Dengan cepat ia mengecup pipiku.

“Oppa? Apaan sih?” tanyaku kaget.

“Hehehehe. Ayo makan seafood.” Ajaknya seraya berjalan pelan mendahuluiku.

“Ah… oppa! Tunggu! Apa maksud kecupan oppa tadi?” tanyaku seraya mengejarnya.

Ia pun membalikan badannya seraya mengacak rambutku dengan tangannya yang besar.

“Nanti kau akan tahu anak kecil.” Ujarnya seraya berbalik dan terus berjalan.

Aku pun menyesuaikan langkahku dengannya.

“Hei… oppa ingat kan aku sudah punya namja chingu?” tanyaku memastikan.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” tanyanya santai.

“Ah… dasar oppa gila.” Ujarku padanya.

Ia hanya tersenyum dan mempercepat langkahnya.

“Oppa tunggu.” Ujarku lagi seraya menyusulnya.

****************************************************************

(Lee Taemin POV)

Aku pun memasuki restoran seafood dengan Kae Rim disampingku. Kami pun duduk didekat jendela. Tempat kesukaannya. Aku tak tahu mengapa ia senang sekali duduk dan makan di sebelah sini. Katanya asyik sambil melihat lampu kota. Padahal apa asyiknya? Kadang aku merasa seperti hewan dikebun binatang. Yang makan dan terus diperhatikan orang seakan aku ini tontonan menarik.

“Ajushi, seafood soup 2.” Ujarnya.

“Ne.” balas Ajushi.

“Ya, tak bisa ya kita pindah ke sebelah sana?” tanyaku pada Kae Rim.

“Sudahlah oppa. Aku sudah nyaman.” Ujarnya.

Aku hanya mengangguk. Biarkan sajalah. Beberapa saat kemudian pesanan pun datang. Tanpa aba-aba, dengan lahap kami langsung memakan seafood soup didepan kami itu. Kuperhatikan Kae Rim yang melahapnya dengan lahap.

“Ya, kau bilang tidak lapar.” Ujarku.

“Aniyo. Siapa yang bilang tak lapar?” tanyanya polos.

“Kau. Tadi kau sendiri yang bilang.” Ujarku.

“Aku tak bilang begitu. Aku hanya bilang ini terlalu pagi untuk makan malam.” Ujarnya.

Dasar tukang ngeles. Bilang saja lapar, kenapa harus gengsi padaku. Padahal aku ini teman sejak smp-nya. Dasar anak ini. Kami pun kembali memakan makanan kami masing-masing. Sesekali kulirik Kae Rim. Aku suka sekali melihatnya makan. Entah mengapa segala sesuatu yang ia pegang selalu terasa lezat. Mungkin itu alasan mengapa aku selalu merebut atau langsung melahap makanan yang ada ditangannya. Habis, dia unik sih. Kami pun mulai berbincang. Kami membicarakan tentang kejadian disekolah. Kami sekolah di 1 SMA. Sejak SD kami sudah 1 sekolah. Tapi aku mulai dekat dengannya saat SMP, itu karena kita ikut eskul yang sama. Kadang aku tak percaya bisa 1 sekolah dengannya hingga SMA. Apa ini jodoh ya? Hehehe. Tapi tak mungkin. Ia sudah punya namja chingu. Hilangkan pikiran bodoh itu Lee Taemin.

“Oppa…” panggilnya.

Aku? Tapi kenapa matanya kearah lain? Aku pun menoleh. Hh.. Junho. Perusak suasana. Sebenarnya aku muak jika saat-saat aku bersama Kae Rim diganggu macan kebelet seperti dia. Tapi aku tak bisa menunjukan ekspresi itu didepan Kae Rim. Untuk kesekian ribu kalinya, aku tersenyum pada Si Junho itu. Ia pun balas tersenyum dan menghampiri kami.

“Sedang makan malam ya?” tanyanya ramah.

“Kelihatannya?” jawabku ketus.

Ups.. kelepasan. Aku pun melirik Kae Rim yang menatapku dengan tatapannya yang ‘jangan-macam-macam-oppa-atau-sendok-ini-berakhir-diwajah-oppa’. Aku hanya nyengir padanya. Gawat kalau Kae Rim marah.

“Oppa dari mana? Ayo kita makan besama.” Ujar Kae Rim manja.

Tunggu Kae Rim! Yang benar saja?  Aku tak mau makan malamku dihabiskan untuk melihat kau bermesraan dengan si Junho ini. Aku ingin makan berdua denganmu. Itu alasan aku rela menjemputmu ke perpustakaan tadi.

“Maaf. Aku harus ke studio. Ada jadwal latihan.” Ujarnya.

Jinca? Oh… thanks god!

“Ah… oppa. Sayang sekali. Jangan pulang terlalu malam ya.” Ujar Kae Rim.

Tak usah pulang saja sekalian. Biar Kae Rim bersamaku.

“Ok. Kalau begitu aku pergi dulu.” Ujarnya seraya mengecup kening Kae Rim.

Omo..!! seenaknya saja ia mencium Kae Rim! Atau aku yang seenaknya menciumnya tadi? Ah.. tak penting. Yang penting aku tak suka melihatnya mengecupnya. Kulirik Kae Rim yang tampak tersipu.

Oh.. jangan beri ekspresi itu padanya Kae Rim!” jeritku dalam hati.

“Titip Kae Rim ya Taemin.” Ujarnya padaku.

“Tenang saja. Kupastikan ia selamat hingga masuk kamar.” Ujarku.

Ia hanya tertawa.

“Baiklah… aku duluan.” Ujarnya seraya berlalu.

Kami pun melambaikan tangan kami padanya. Kulirik Kae Rim yang masih dengan tatapan terpesona.

“Tampan sekali ia.” Ujarnya.

Mulai lagi.

“Sudahlah. Kau sudah selesai? Ayo pulang. Kita harus mengejar kereta.” Ujarku.

Ia pun mengangguk. Aku pun beranjak ke meja kasir dan segera membayar makanan yang kita makan tadi. Setelah usai, aku pun segera menghampiri Kae Rim. Wajahnya masih tersipu seperti tadi. Oh.. tuhan! Kapan ekspresi itu untukku?

***********************************************

(Choi Kae Rim POV)

Aku pun berdiri disamping Taemin oppa. Kupandang oppa yang sejak tadi diam terus. Sesungguhnya ia namja yang tampan. Tapi…. Ah! Apa yang kau pikirkan? Kau kan sudah punya Junho oppa. Bagaimana perasaanya?

“Mwo?” tanyanya saat sadar aku memperhatikannya.

“Oppa kenapa?” tanyaku.

“Aniyo.” Ujarnya singkat.

“Ayolah, aku tahu ada yang oppa pikirkan.” Ujarku lagi.

“Aniyo.” Ujarnya lagi.

Ah, sudahlah. Aku pun diam. Suasana menjadi hening antara kami. Tak ada yang berbicara. Uh… ayolah! Katakan sesuatu padaku.

“Kae Rim, aku mau bertanya sesuatu.” Ujarnya.

Akhirnya bicara juga.

“Ne, oppa.” Jawabku.

“Apa yang kau suka dari Junho?” tanyanya padaku.

Hm.. apa ya? Bingung.

“Apa ya? Aku suka semuanya.” Ujarku.

“Semua?” tanyanya lagi.

“Ne. Semuanya.” Jawabku lagi.

“Sebesar itu ya. Asyik sekali.” Ujarnya lirh.

“Mworago?” tanyaku memastikan.

“Aniyo.” Ujarnya.

Oppa ini. Selalu saja membuatku penasaran.

“Appa…. Umma….” Teriak suara kecil yang melengking.

Sontak kami pun kaget. Suara apa itu? Secara bersamaan kami pun menoleh menuju sumber suara. Seorang anak kecil. Tembem, lucu, imut, lugu, sedang memandang kami dengan tatapan polos. Anak siapa ini?

“Appa… umma… “ teriaknya seraya menghampiri kami.

Ya! Tunggu. Siapa anak ini?

“Appa…” ujarnya manja pada Taemin oppa.

Taemin oppa pun memandangku bingung. Kuisyaratkan kalau aku tak tahu apa-apa. Kami pun jongkok untuk menyamakan pandangan kami dengan anak kecil itu.

“Adik kecil siapa namamu?” Tanya Taemin  oppa lembut.

“Yoogeun imnida.” Jawabnya pelan.

Kyaaa… lucu sekali.

“Mana orang tuamu?” Tanya taemin lagi.

“Molla.” Ujarnya lagi.

Aigo… tampaknya ia terpisah.

“Bagaimana ini oppa?” tanyaku pada Taemin oppa.

“Sebaiknya kita bawa ke pusat informasi. Kau tak apa-apa kan pulang sedikit malam?” Tanya Taemin oppa padaku.

“Ne.” ujarku.

“Baiklah, nanti aku yang kan menjelaskan pada umma-mu.” Ujarnya seraya menggendong anak kecil yang bernama yoogeun itu.

Aku pun mengangguk. Kuikuti Taemin oppa yang berjalan didepanku. Kami pun berjalan ke pusat informasi. Disana ada seorang ajumna yang sedang mengawas. Ia menyambut kami dengan ramah. Tanpa basa-basi lagi, Taemin oppa langsung mengatakan semua yang terjadi. Ajumna pun langsung melihat catatannya.

“Mianhae.. hari ini belum ada informasi anak hilang.” Ujar ajumna di tempat informasi itu.

“Aigo… bagaimana ini oppa?” tanyaku bingung pada Taemin oppa.

“Bagaimana ya? Kemana anak ini akan dibawa bila belum ada informasi yang menyebutkan kalau ada keluarga yang kehilangan anak ini?” Tanya Taemin oppa pada ajumna.

“Ke tempat penampungan anak.” Ujarnya lagi.

“Ah… bagaimana ini oppa. Kasihan bila anak ini dibawa ke tempat penampungan.” Ujarku bingung.

Wajah Taemin oppa pun tampak bingung. Lebih bingung mungkin daripada aku.

“Apa anak ini bisa kami bawa pulang hingga ada informasi yang menyebutkan kehilangan anak di stasiun?” Tanya Taemin oppa pada ajumna.

Tunggu apa yang kau katakan oppa?

“Bisa. Kalau begitu silahkan tinggalkan nomormu disini. Kami akan mengabarkanmu nanti.” Ujar ajumna.

Taemin oppa pun memberikan yoogeun yang tampak mengantuk kepadaku. Kugendong badan Yoogeun yang mungil itu. Tunggu oppa! Kau yakin?

“Baiklah. Gamsahamnida.” Ujar Taemin oppa seraya membukukan badan.

Kami pun meninggalkan pusat informasi. Kupandang Taemin oppa. Meminta penjelasan.

“Ayo pulang.” Ajaknya.

“Tunggu oppa. Apa oppa yakin akan membawanya pulang?” tanyaku.

“Bukan aku. Tapi kamu.” Ujarku padanya.

Mwo?

“Apa maksud oppa?’ tanyaku kesal.

“Ayolah… kau tahu aku hanya tinggal berdua dengan unnie-ku. Unnie-ku tak suka anak kecil.” Ujarnya.

“Lalu oppa langsung memberinya padaku? Tega sekali oppa mengambil keputusan seperti ini tanpa bertanya dahulu padaku.” Ujarku kesal.

“Ayolah. Kau kan tinggal dengan umma-mu. Ia pasti tahu bagaimana merawat yoogeun. Lagipula apa kau tega melihat anak ini dibawa ke penampungan?” Ujarnya meyakinkanku.

“Tapi apa yang akan aku katakan pada umma-ku? Lagipula umma jarang dirumah, oppa lupa umma-ku wartawan?” tanyaku kesal padanya.

“Tenang. Aku yang akan bicara dengan umma-mu. Untuk selebihnya kita bicarakan nanti.” Ujarnya santai.

“Oppa egois.” Ujarku padanya.

Kesal bukan main.

****************************************************************

“Ya..!! darimana saja kamu?” Tanya umma seraya membuka pintu rumah.

Kudekap erat Yoogeun yang ada digendonganku. Ia tertidur. Umma pun keluar. Wajahnya tampak kaget. Apalagi melihat balita dalam dekapanku. Seakan aku ini adalah anaknya yang telah sekian lama kawin lari.

“Ah.. mianhae ajumna. Aku mengajaknya makan malam.” Ujar Taemin oppa.

“Siapa anak ini?” Tanya umma seraya menunjuk Yoogeun yang ada dipelukku.

Mati aku.

“Begini, tadi dalam perjalanan pulang kami menemukannya di stasiun. Tampaknya ia tersesat dengan orang tuanya. Jadi kami memutuskan untuk membawanya pulang hingga ada informasi dari pusat informasi. Makanya ajumna, tak apa-apa kan kalau anak ini singgah disini?” tanya Taemin oppa.

Sudahlah oppa. Umma pasti akan marah. Sebaiknya pergi saja dari rumah ini. Menghindar dari umma yang akan menjelma menjadi nenek sihir bila amarahnya keluar. Air muka umma pun berubah. Ah, sudah saja aku mati. Umma pun mendekat. Matanya tampak tak menyenangkan.

“Aigo..!! Neomu Yeopo.” Ujar umma tiba-tiba.

Mwo?

“Dia namja ajumna.” Jawab taemin.

“Namja? Lucu sekali. Siapa namanya?” Tanya Umma.

“Yoogeun.” Jawab Taemin lagi.

Wajah umma tampak gemas. Seakan tak pernah melihat wajah anak kecil. Padahal, kukira umma akan marah karena aku membawa anak ini.

“Tampaknya semua sudah jelas. Sebaiknya aku pamit pulang. Permisi ajumna. Kae Rim! Aku pulang dulu.” Ujarnya seraya melambaikan tangannya.

Aku pun mengangguk. Umma pun menyuruhku masuk. Aku pun terduduk disofaku dengan yoogeun yang tetap dipelukanku. Lumayan berat juga anak ini.

“Ya! Anak itu tidur dikamarmu ya.” Ujar umma santai.

“Mwo? Lalu aku tidur dimana?” tanyaku kesal.

“Terserah.” Ujar umma santai lagi.

“Kejamnya. Kenapa harus dikamarku?” tanyaku kesal.

“Kau yang membawanya, berarti kau yang mengurusnya.” Jawab umma seraya masuk kedalam kamarnya.

Ya! Kejam sekali umma-ku itu. Dengan berat hati, kugendong Yoogeun yang tertidur pulas kedalam kamarku. Kubaringkan ia pada tempat tidurku. Sepertinya aku tidur dilantai. Yah… apa boleh buat. Sudah menjadi resikoku. Kuselimuti anak itu dengan selimut. Lucu juga. Menggemaskan. Baiklah… mungkin aku harus mulai terbiasa hidup dengan anak ini.

*********************************************************

Hampir dua minggu Yoogeun tinggal dirumahku dan hampir seminggu pula umma meninggalkanku karena pekerjaannya. Dulu aku tak pernah khawatir umma tinggal, tapi sekarang aku benar-benar membutuhkan sosok umma. Tidak seperti yang kuduga, merawat Yoogeun repotnya bukan main. Ia tak bisa diam. Susah makan, susah mandi, susah minum susu, tapi paling cepat kalau diajak main. Terlebih lagi Taemin oppa jadi sering menginap. Alasannya ingin menemani Yoogeun. Aduh…. Aku seperti merawat dua orang balita disini. Rumah menjadi cepat berantakan. Aku sudah muak. Tapi,… jujur nih. Aku sedikit senang Taemin oppa ada disampingku. Entah mengapa, aku seperti merasakan sesuatu dalam perutku. Sekarang, Taemin oppa sedang mengajak Yoogeun bermain ketaman. Sedangkan aku sedang berada di café bersama Junho oppa yang letaknya tak begitu jauh dari taman agar aku tetap bisa mengawasi dua bocah yang sedang bermain itu.

“Kau yakin tidak diam-diam mengadopsinya dibelakangku?” ujar Junho oppa.

“Mwo? Apa yang oppa katakan?” jawabku heran.

“Jangan jawab aku dengan pertanyaan! Kau tahu aku tak suka.” Balasnya.

“Ne, oppa. Mianhae. Tapi, kurasa pertanyaan oppa itu konyol.” Jawabku lagi.

“Whaeyo? Aku kan hanya ingin tahu. Kurasa, sekarang kau makin akrab dengan si Taemin itu.” Ujarnya.

“Loh? Kenapa? Bukankah itu hal yang wajar? Taemin oppa adalah sahabatku.” Belaku.

“Aku tahu. Hanya saja, aku tak suka melihatmu sedekat itu.” Ujarnya pelan.

“Whaeyo? Oppa cemburu?” tanyaku asal.

“Ne.” jawabnya singkat.

“Mwo? Oppa cemburu? Cemburu pada Taemin oppa? Cemburu pada sahabatku sendiri? Oppa konyol.” Ujarku kesal.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku ini namjamu, tapi kau lebih akrab dengan Taemin itu. Bahkan Yoogeun lebih menyukainya dibanding aku.” jawabnya.

“Oppa bodoh sampai oppa merasa seperti itu. Seakrab apapun aku dengan Taemin oppa, kau tetap yang terdekat dimataku. Jika tidak, untuk apa aku menerima oppa menjadi namjaku? Aku tak mungkin menyiakan oppa. Yoogeun lebih dekat dengan Taemin oppa adalah suatu hal yang wajar. Aku menemukan anak itu dengan Taemin disampingku.” Jelasku.

“Tapi apakah itu berarti Yoogeun dapat memanggil kau dan Taemin dengan sebutan Appa-umma? Entah mengapa itu pedih ditelingaku.” Ujarnya tanpa menatap mataku.

Aku langsung bergidik. Kata-kata Junho oppa sudah membuatku tak enak padanya. Memang benar, Yoogeun memanggilku dan Taemin Oppa dengan appa-umma. Dan bila aku menjadi Junho oppa, mungkin aku ingin rasanya meminum racun tikus. Aku menatap Junho oppa dengan takut-takut. Ia hanya tersenyum lalu mengusap pelan kepalaku.

“Sudahlah! Jangan difikirkan. Kau membuatku ingin memakanmu tahu.” Candanya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dasar oppa. Beberapa saat kemudian, Taemin pun menghampiri kami dengan Yoogeun dalam peluknya.

“Ya…. Aku haus. Belikan kami minum.” Ujar Taemin.

“Mwo? Beli saja sendiri.” Tolakku.

“Tapi kamu yang bermain dengan Yoogeun.” Ujarnya.

Mwo? Aku sudah terlalu letih merawatnya.

“Baiklah. Kami yang beli. Pergi lagi sana.” Usir Junho oppa.

Taemin pun melengos ketus. Junho oppa pun menarik tanganku. Kami pun bergegas menuju salah satu supermarket. Junho oppa mengambilkanku keranjang. Sebaiknya aku membeli kebutuhan yang lain juga. Kumasukkan beberapa barang kedalam keranjang.

“Chiken soup? Untuk?” Tanya junho oppa saat melihat aku memasukkan bumbu siap saji membuat chiken soup.

“Untuk Yoogeun. Dia suka itu.” Ujarku.

Aku pun kembali mencari dan memasukkan beberapa barang.

“Kenapa beli dua?” Tanya Junho oppa saat melihat aku membeli 2 botol susu.

“Coklat untuk yoogeun. Pisang tentu saja untuk Taemin.” Jawabku.

“Dan buku ini? Apa Yoogeun mulai belajar menulis?” tanyanya lagi.

“Ani…. Untuk Taemin.” Jawabku.

“Soju?” tanyanya.

“Tentu saja Taemin.” Jawabku.

Junho oppa pun mendengus.

“Es krim ini? Untuk Yoogeun kan?” tanyanya lagi.

“Taemin.” Jawabku.

“Chagi, kita putus ya.” Ujarnya.

Aku pun menoleh kaget padanya.

“Are you kidding me?” tanyaku memastikan.

“Ne.” jawabnya.

“Wae?” tanyaku mulai bingung.

“Hidup saja dengan Taemin. Seakan kau memandangku tak ada.” Keluh Junho oppa.

“Kenapa kau berkesimpulan seperti itu?” tanyaku mulai kesal.

“Kau mulai berubah. Semenjak kedatangan anak itu. Aku mulai tak paham dengan dirimu. Kenapa kau perlakukan aku seperti ini?” tanyanya.

“Apa maksudmu? Aku memperlakukanmu seperti apa adanya. Kau kekasihku.” Jelasku.

“Kau sebut aku kekasihmu? Setelah apa yang kau lakukan padaku. Tega sekali kau. Kau tahu aku mencintaimu dengan tulus. Namun kau hanya menerawangnya saja. Tak pernah melihat dari hatimu. Kau lebih peduli dengan taemin itu. Tak ada kata manis dalam mulutmu. Kau seperti..”

Plak….

“Hentikan oppa. Kau keterlaluan.” Pekikku setelah menamparnya.

“Ok. Kita sampai disini.” Jelasnya seraya meletakkan keranjangku dan meninggalkanku yang menangis didepan umum.

******************************************************

(Lee Taemin POV)

“Kau putus?” tanyaku kaget.

Entah mengapa berita ini membuatku sangat girang.

“Mengapa ekspresimu seperti itu?” Tanya Kae Rim seraya menatapku kesal.

“Ani. Ekspresikukan memang begini.” Jawabku.

“Tak lucu.” Protesnya.

“Mianhae.” Jawabku.

“Sudah ah. Bukannya membuatku tenang malah bikin rusuh. Sana main lagi dengan Yoogeun.” Ujarnya seraya mengusirnya keruang tamu.

“Araji, yeobo.” Candaku.

Ia pun melemparku dengan kotak tissue. Untung aku bergegas pergi. Akhirnya doaku selama ini terkabul. Kae rim putus juga sama Serigala encok itu. Kekekeke. Tiada yang lebih ingah dari ini. Tapi aku kasihan dengan Kae Rim. Wajahnya tampak sedih. Tapi aku tak peduli, akan kubuat senyuman baru diwajahnya dengan jalanku sendiri.

******************************************************

“Ke taman bermain yuk…” bujukku.

“Aniyo.” Ujarnya singkat.

“Ayolah…. Yoogeun kan butuh main.” Bujukku lebih keras.

“Ani… kalau kau mau ke taman bermain pergi saja. Jangan jadikan Yoogeun sebagai alasan.” Ocehnya.

“Aigo… apa artinya pergi sendiri.” Keluhku.

“Pokoknya tak mau. Kau tahu aku masih kesal karena Junho oppa memutuskanku 4 hari yang lalu.” Ujarnya jengkel.

“Kalau begitu kenapa masih dipikirkan? Ayolah! Lupakan itu semua.” pintaku.

“Tapi, taemin-ah….” Rengeknya.

“Pokoknya ayo.” Ujarku seraya menarik tangannya pergi.

Kami pun segera memasuki mobil, terutama sang bintang, Yoogeun. Kami pun memulai perjalanan kami ke taman bermain. Sepanjang perjalanan, Kae Rim sama sekali tak berbicara. Anak ini…… keras kepala sekali! Beberapa saat kemudian, setelah menempuh waktu satu jam, kami pun tiba. Setelah membeli tiket, kami pun masuk. Hampir semua wahana kami coba, tapi senyum Kae rim hanya muncul sesekali saja. Sebegitu pentingnyakah  Junho dimatanya? Asyik sekali si Junho itu. Makin tak kuasa aku ingin menghajarnya. Setelah lelah bermain, kami pun memutuskan untuk beristirahat disuatu café. Yoogeun pun kutitipkan pada salah satu penitipan yang disediakan khusus disana. Aku sengaja ingin bicara dengan Kae Rim.

“Ya…. Senyum dong.” Ujarku.

“Diamlah. Aku sedang malas.” Ujarnya.

“Lupakan saja si Junho itu.” Kataku.

“Kenapa sih? Kenapa kau selalu mendesakku untuk melepas Junho oppa? Dari awal sudah kuduga kalau kau senang dengan berakhirnya hubunganku dengan Junho oppa.” Pekiknya kesal.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Kenapa kau tak pernah suka melihatku disamping Junho oppa?” amarahnya.

“Siapa bilang? Aku biasa saja.” Kilahku.

“Gotjimal..!!” bentaknya.

“Aniyo.” Kilahku lagi.

“Aku benci padamu..!!!” jeritnya.

“Aku suka padamu…!!!” pekikku.

Kae Rim yang tadi mengoceh pun terdiam.

“Hah?” ujarnya bingung.

“Bagaiman perasaanmu bila melihat orang yang kau sayangi bermesraan dengan orang lain? Bagaimana rasanya orang kau sukai dikecup keningnya oleh orang lain? Bagaimana rasanya bila saat makan dengan orang yang kau sukai diganggu orang lain? Bagaimana rasanya? Bukankah itu hal yang sangat menyakitkan? Bagaimana pendapatmu?” ujarku mulai kesal.

“Entahlah. Aku tak tahu.” Ujarnya lirih.

“Kenapa kau tak tahu? Sekian lama kita saling mengenal. Tapi kau selalu salah menangkap perasaanku. Kau malah memilih Junho si namja yang tak jelas itu. Mengapa kau tak pernah memandangku sekali saja? Ini membuatku kesal. Mengapa kau lakukan ini padaku?” ujarku.

Ia hanya diam. Hanya berfikir.

“Jawab aku…” perintahku.

**********************************************************

(Choi Kae Rim POV)

“Entahlah. Aku tak tahu.” Ujarku lirih.

“Kenapa kau tak tahu? Sekian lama kita saling mengenal. Tapi kau selalu salah menangkap perasaanku. Kau malah memilih Junho si namja yang tak jelas itu. Mengapa kau tak pernah memandangku sekali saja? Ini membuatku kesal. mengapa kau lakukan ini padaku?” ujarnya kesal.

Eomona? Ini persis seperti yang dikatakan Junho oppa padaku. Apa aku akan kehilangan sosok Taemin juga? Kumohon dengan sangat, Tuhan….. jangan lakukan itu!

“Jawab aku.” bentaknya.

“Mianhae…” ujarku lirih.

“Mianhae? Kau pikir kau bisa dengan begitu mudahnya mengatakan itu? Kau tau? Begitu sulit memunculkan senyum diwajahmu itu tau. Hanya gara-gara namja yang paling kubenci didunia ini, Junho. Kau tahu juga? Kau sudah membuatku gila! Kau pikir aku senang menghabiskan waktuku seluruhnya dengan Yoogeun. Aku memang suka dengan anak kecil, tapi bukan berarti kau bermesraan dengan si Junho itu. Kupikir kau akan bermain dengan kami, tapi….. kau hanya terus mengeluh.” Bentaknya lagi.

Jujur. Seumur hidupku, ini pertama kalinya Taemin marah padaku. Ia tak pernah membentakku sebelumnya. Kejadian ini benar-benar membuat otakku berfikir keras. Ia pasti marah sekali. Mianhae Taemin-ah….. aku tak bermaksud begitu padamu.

“Sekarang apa yang akan terjadi?” Ujarnya pelan.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Setelah ini apa? Aku tahu. Kau pasti membenciku karena aku telah membentakmu. Sekarang aku terima. Kalau kau tak mau mengenalku lagi pun tak apa-apa. Aku siap. Tapi asal kau tahu. Perasaanku padamu tak akan berubah.” Ujarnya seraya beranjak dari duduknya.

Taemin pun mulai pergi. Semakin lama, bayangannya semakin mengecil. Tunggu..!! aku tak mau ini terjadi. Cukup Junho oppa yang meninggalkanku. Jangan Taemin. Aku belum siap kehilangannya. Setelah apa yang kita lalui. Aku tak mau ini.

“Hajima….!!!” Jeritku padanya.

Langkahnya pun terhenti. Ia pun menoleh padaku. Aku pun segera berlari kearahnya. Kupeluk sosoknya yang lebih tinggi dariku. Aku pun menangis sejadinya.

“Hajima Taemin-ah…. Andwae!!  Jangan tinggalkan aku. Mianhandago. Aku tahu kau marah padaku. Aku akan terima itu. Tapi kau juga tak akan pernah tahu bagaimana rasanya aku bila kau tinggalkan aku sekarang! Kumohon Taemin, jangan tinggalkan aku. Aku membutuhkanmu sekarang.” Tangisku.

“Apa itu artinya kau membutuhkanku hanya disaat duka? Itu maksudmu?” Tanyanya kesal seraya mencoba melepas pelukku.

“Aniyo Taemin-ah. Jangan salah paham. Semenjak Yoogeun hadir dalam hidup kita. Aku rasa kita semakin dekat. Dan aku menyukai itu. Hanya saja aku tak mau mengakui itu. Aku masih memikirkan perasaan Junho oppa. Aku tak peduli sekarang kau akan menerima perasaanku atau tidak. Aku hanya ingin kau tahu. Perasaanku padamu akan sama seperti saat pertama aku bertemu denganmu. Akan terus berdebar dan berbunga-bunga.” Jelasku.

Wah..! nekat sekali aku. Ini pertama kalinya aku berbicara seperti ini pada namja. Malu sekali dibuatnya. Tapi, sekiranya ini membuat hatiku tenang. Kurasakan tangan lembut Taemin membelai punggungku pelan. Tangannya yang lain membelai rambutku lembut.

“Ya.. uljima!” serunya pelan.

Aku pun mendongakkan kepalaku menatapnya. Wajahnya memerah.

“Ini yang tak bisa membohongi diriku sendiri. Walau kau tak secantik Emma Watson, tapi hanya kau yang mampu membuatku bersemu seperti ini.” Ujarnya malu-malu seraya mencubit pipiku.

“Kamsahamnida oppa. Sar..”

“Ya! Jangan katakan itu. Biar aku yang bilang.” Ujarnya.

Aku pun tersenyum padanya. Membiarkan ia yang memulai.

“Saranghaeyo…” ujarnya pelan seraya mengecup keningku.

“Mwo? Aku tak bisa dengar.” Godaku.

“Saranghae Kae Rim-ah…” ulangnya lagi.

“Mworago?” ulangku.

“Saranghandago, Chagiya.” Teriaknya sehingga membuat perhatian semakin terpusat pada kami.

*****************************************************************

“Apa? Pusat informasi menelfon kemari? Ada apa?” kataku tak percaya.

“Ne. sekarang keluarganya menunggu disana. Kita harus segera mengantarnya.” Jelas Taemin oppa.

“Aigo…. Sayang sekali.” Ujarku.

“Wae? A…! aku tahu! Pasti sedih karena kehilangan masa-masa dimana kau menjadi umma dan aku jadi appanya? Ya kan chagi?” ujarnya iseng.

Aku pun mencubit pinggulnya. Ia merisngis.

“Enak saja.” Kilahku.

“Hahaha. Tapi benar kan Chagi? Bisa kulihat itu diwajahmu.” Ujarnya seraya menyentuh daguku.

Wa…. Malu aku dibuatnya. Kutepis tangannya pelan. Kusembunyikan pipiku yang merah dibalik tanganku.

“Ya…. Hentikan.” Pekikku.

“Ne, araso. Ayo kita antar si kecil ini pada kelurganya.” Ujar Taemin seraya menggendong tubuh kecil Yoogeun.

“Ya… dan menanti hadirnya malaikat kecil diantara kita.” Ujarku iseng.

“Mhicyo yeoja.” Ujarnya pelan seraya mengacak rambutku.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s