Rainy Story (The next chapter of ‘because,its you’)

Warning: cerita ini tak sungguh-sungguh terjadi. Jika ada kesamaan cast, itu hanya kebetulan semata. Cerita ini lanjutan dari because, it’s you . Cerita ini dibuat untuk temanku yang tergila gila pada Minho ‘shinee’. Anyway, enjoy this.

(Choi Minho POV)

“Ya!” panggilku pada gadis didepanku.

Gadis yang tengah meregut hatiku. Lee Jihyun.

“Mwo?” ujarnya lembut seraya membalikan badannya.

“Dasar tak sopan. Jadi kau mengajakku hanya untuk ini?” tanyaku seraya mengangkat kantung belanjaan ditanganku.

“Ne.” jawabnya dengan sunggingan senyum diwajahnya.

“Mwo? Wihomhe! Kulaporkan pada polisi.” Ujarku seraya menyamakan langkahku denganya yang tertinggal.

Ia pun menatapku. Wajahnya berkerut menantangku. Aku hanya mendengus padanya dan tertawa.

“Jangan kaget bila kau mendengar berita di TV nanti malam. Seorang yeoja memaksa namjanya untuk membawakan kantung belanja sehingga tangan sang namja pegal-pegal.” Ujarku.

“Aigo oppa! Mana mungkin seperti itu. Lagipula kita sudah sampai.” Ujarnya seraya membuka pintu gerbang.

Aku pun memasuki pekarangan rumahnya. Ia pun mempersilahkan aku masuk kedalam rumah. Aku pun bergegas menuju dapur. Kutaruh belanjaannya diatas meja.

“Aya….” Seruku pelan seraya terduduk di kursi meja makan.

Jihyun pun menghampiriku dan memberiku segelas jus. Kuteguk jus yang ia berikan padaku.

“Gomawo.” Ujarku seraya meletakkan gelas diatas meja.

“Ya, chagiya! Kau akan pergi besok?” tanyanya seraya duduk disampingku.

“Ne. Wae?” tanyaku.

“Aniyo. Aku pasti kesepian.” Rajuknya.

“Mwo? Kan ada eomma.” Ujarku.

“Huft…. Aku tak punya eomma.” Ujarnya seraya meregut wajahnya.

“Ja! Jangan bicara begitu. Eommamu pasti sedih mendengarnya.” Ujarku seraya mengacak rambutnya.

“Aku tak punya eomma! Eomma tak pernah ada untukku.” Pekiknya.

“Jangan bicara begitu. Kau harus sopan pada eommamu.” Seruku.

“Hm.. ne! araso.” Ujarnya pelan.

“Chagi, apa kau akan merindukanku?” tanyaku.

Iseng. Setidaknya aku harus tahu. Apa ia akan sangat merindukanku atau tidak.

“Aniyo.” Ujarnya.

“Jinca?” godaku.

“Ne. Lagipula hanya sebulan kan? Aku masih mampu ditinggal jika hanya selama itu.” Jelasnya.

Hanya? Hahaha. Aegyo Jihyun -ah!

“Bila terjadi sesuatu padaku disana dan aku tak akan kembali dalam waktu sebulan, bagaimana?” godaku lagi.

“Bila itu terjadi padamu, aku tak akan memaafkanmu! YA..!!! jangan bicara seperti itu. Oppa membuatku takut.” Ujarnya seraya memukul lenganku.

“Ne! Mianhae, chagi. Aku pulang dulu ya! Sudah larut.” Pamitku.

Aku pun beranjak dari dudukku. Begitupun dengan Jihyun. Ia mengantarku hingga gerbang. Ia memelukku sebelum aku benar-benar berpamitan padanya.

“Aku ingin mengantar oppa hingga Hang.” Ujarnya seraya melepas pelukannya.

“Andwe. Kau pikir aku tak akan cemas bila kau pulang sendiri dari Hang? Sudah, jangan macam-macam.” Ujarku.

“Dasar keras kepala. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Oppa pikir aku ini anak tk?” ujarnya.

“Dasar bandel. Pokoknya kularang. Awas bila besok pagi aku melihatmu didepan pintu gerbangku.” Ancamku.

“Ne, araji. Mungkin saat oppa pergi aku masih dalam duniaku.” Ujarnya.

Aku pun mencubit pipinya. Sesungguhnya aku tak masalah bila ia mengantarku hingga Hang. Namun aku takan sanggup berpisah dengannya. Pasti aku akan sangat rindu dengannya. Aku tak mau kehilangannnya. Satu detik bersamanya sangat berarti. Terbayang olehku bila sebulan tanpa melihat senyumnya.

“Baiklah. Aku pamit ya.” Ujarku seraya membalikkan badanku.

“Oppa, jamkkaman!” ujarnya seraya menarik tanganku.

Aku pun membalikkan badanku.

Cup….

Sesuatu mengecup lembut bibirku. Dasar gadis badung. Aku pun membalas mengecupnya. Kubelai rambutnya yang lembut. Ah… kecupan yang akan sangat kurindukan. Seakan tak mau melihatku menyentuh Jihyun terlalu lama, hujan pun turun. Aku melepas kecupanku pada Jihyun. Kubelai pipinya pelan.

“Masuklah.” Perintahku.

Ia pun tersenyum. Aku pun segera melambaikan tanganku padanya dan beranjak meninggalkannya.

“Oppa!” panggilnya.

Aku pun berbalik saat aku belum jauh meninggalkannya. Kali ini ia tak mengecupku secara tiba-tiba lagi.

“Saranghaeyo!” ujarnya dengan wajah yang basah oleh air hujan.

“Solma?” candaku.

“Neomu saranghamnida.” Ulangnya lebil lembut.

Aku pun tersenyum padanya.

“Naddo saranghae.” Balasku hangat.

************************************************************

“Minho! Kita break 15 menit.” Ujar Jung ajushii padaku.

Akhirnya aku istirahat juga. Sudah 3 minggu aku dikota ini. Aku juga semakin rindu dengan malaikatku, Jihyun. Aku rindu tawa dan senyumnya. Telepon dan sms tak akan menjawab semua kerinduanku padanya. Inilah konsekuensinya menjadi seorang reporter. Ponselku pun berdering. Ada pesan dari malaikat kecilku.

From : My Jihyunie

Chagiya… Nan neomu bogosippoyo \^-^/

To : My Jihyunie

Naddo Bogosippoyo, chagiya! Sedang ada? J

From : My Jihyunie

Sedang memandangmu di televisi. Kau tampan dengan jas itu.

To : My Jihyunie

Begitukah? Gomawo, chagi! Aku tampil seperti itu hanya untukmu.

From : My Jihyunie

Kapan oppa pulang? Aku bosan.

To : My Jihyunie

Sabtu esok. Kenapa tidak keluar? Biasanya hari minggu seperti ini kau jalan-jalan diluar.

From : My Jihyunie

Diluar hujan. Aku dirumah saja. Bosan kalau kau tak ada.

To : My Jihyunie

Jadi begitu. Ternyata hanya aku yang mampu membuatmu rindu seperti itu. Sekarang aku tahu kalau kau begitu mencintaiku! J

From : My Jihyunie

Dasar oppa. Aku jadi malu deh! >//<

To : My Jihyunie

Aku rindu ekspresi kangenmu itu. L

From : My Jihyunie

Oh, ya oppa. Eomma masuk byeongwon. Ia dirawat di SEOUL National Hospital.

To : My Jihyunie

Jinca? Kapan?

From : My Jihyunie

Kemarin. Maaf baru kuberitahu sekarang.

To : My Jihyunie

Gwaenchana. Aku turut prihatin, chagi. Eomma sakit apa?

From : My Jihyunie

Molla. Aku tak mau menjenguknya…

Fuih… anak itu. Aku tahu ia sangat marah terhadap ibunya. Aku juga tahu bahwa sebenarnya ia sangat menyayangi ibunya. Ia melakukan ini karena ia masih tak terima akan perceraian orang tuanya.

To : My Jihyunie

Mwo? Whaeyo? Jangan begitu. Pokoknya aku tak mau tahu. Kau harus menjenguknya. Dikondisi seperti ini, eommamu pasti ingin ada disampingmu. Pokoknya kau harus jenguk!

From : My Jihyunie

Baiklah oppa. Jangan marah. Tapi aku hanya akan menjenguknya hanya jika oppa sudah kembali. Ara?

Setidaknya itu lebih baik.

To : My Jihyunie

Araji. Kalau begitu aku akan pulang secepat yang kubisa.

From : My Jihyunie

Baiklah. Josimae! Kembalilah dengan penuh cinta untukku ^3^

To : My Jihyunie

Gomapta Chagiya! Apa aku harus membawakan bulan untukmu?

From : My Jihyunie

Cukup berikan aku kecupan saat kau kembali. Aku tahu cintamu padaku sederhana namun melebihi dari apapun.

To : My Jihyunie

Akan kupeluk dan kucium setiba aku di stasiun❤

Yah… yang kuperlukan sekarang hanya seminggu lagi. Seminggu lagi aku akan menemui gadisku itu. Kuharap saat itu aku siap untuk melamarnya.

*************************************************

“Minho oppa..!!!” seru seseorang seraya memelukku dari belakang.

Akhirnya setelah sekian lama, bisa juga kurasakan tubuh mungil ini. Kubalikkan tubuhku dan kupeluk tubuhnya yang mungil.

“Bogosippoyo chagiya..!!” ujarku seraya memeluknya erat.

“Naddo bogosippoyo.” Balasnya.

Ia pun melepas pelukanku. Ia ulurkan tangannya padaku. Meminta sesuatu. Aku hanya meregut bingung menatapnya.

“Mana?” tanyanya.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Janji oppa waktu itu. Ingat? Kau janji akan memeberiku sesuatu saat kau kembali.” Tagihnya.

Ternyata itu. Nekat sekali.

“Disini?” tanyaku.

“Ne. Sudah bagus distasiun. Daripada aku minta di studio tempat oppa kerja.” Serunya.

“Baiklah.” Ujarku.

Kukecup bibirnya yang mungil. Ia tersenyum menerimanya. Aku tak mungkin mengecupnya terlalu lama. Tentu saja! Ini kan tempat umum.

“Nah, sudah siap?” tanyaku saat melepas kecupanku padanya.

“Mwo?” tanyanya.

“Kau lupa? Ingat! Kau juga ada janji padaku saat aku pulang.” Tagihku balik.

“Sekarang? Kupikir besok.” ujarnya tak percaya.

“Besok? Yang benar saja! Dia itu eommamu tahu!” ujarku.

Ia pun terdiam. Kepalanya tertunduk. Aku hanya menggeleng melihatnya.

“Kajja..!!” ujarku seraya merangkulnya pergi.

Kami pun mulai berjalan menuju SEOUL National Hospital. Untung jaraknya tak begitu jauh. Sepanjang jalan, Jihyun tak bicara banyak padaku. Kurasa ia gugup karena ia akan bertemu dengan eommanya. Kurasa itu hal yang wajar. Aku membelai pelan rambutnya. Ia pun memandangku. Kubalas dengan senyuman.

“Ya! Semua akan baik-baik saja.” Ujarku saat kami sudah memasuki byeongwon.

Ia hanya mengangguk ragu. Kugenggam erat tangannya. Saat kami tiba didepan pintu, kurasakan tangannya gemetar. Aku pun berbalik menatapnya.

“Jihyun -ah, kau percaya padaku?” tanyaku.

Ia mengangguk pelan.

“Apapun yang terjadi, kau harus yakin. Karena ia eommamu.” Ujarku lagi.

Sekali lagi ia mengangguk. Kubuka pelan pintu kamar itu. Sesosok wanita tua tengah berbaring lemas diatasnya. Saat mendengar pintu terbuka, ia pun membalikkan badannya menatap kami. Kutundukkan kepalaku dengan sopan. Ia pun tersenyum menatapku. Saat melihat sosok Jihyun dibelakangku, senyumnya yang ramah pudar. Ia pun menghela nafas panjang.

“Apa kau kemari untuk membawakanku masalah baru?” Tanya ajumna santai.

Jihyun pun meregut kesal. Ia pun menarik tanganku keluar.

“Sudah kubilang. Ayo kita pulang sekarang.” Ujar Jihyun kesal.

“Heh! Tak sopan. Kita kan baru tiba.” Tolakku.

“Kita kan sudah tahu kondisinya. Setidaknya ia baik-baik saja sekarang. Ayo pulang!” rajuknya lagi.

Aku pun menggeleng. Kutarik tubuhnya masuk kedalam dan menutup pintunya pelan. Aku menarik tubuh Jihyun untuk duduk disamping ajumna bersamaku. Jihyun pun membuang muka dari ajumna. Aku hanya menghela nafas.

“Ajumna, apa kabar?” tanyaku sopan.

“Gwaenchanayo. Bagaimana dengan kau sendiri? Geureyo?” tanyanya lemah.

“Ne, coahyo.” Jawabku.

Seketika suasana pun menjadi hening. Baik dari ajumna atau Jihyun, tak ada yang mau berbicara. Aku berfikir bahwa aku harus melakukan sesuatu.

“Sebaiknya aku pulang.” Ujarku sopan.

“Minho-ah..!! Tunggu aku. Aku juga pulang.” Ujar Jihyun seraya menarik tanganku.

“Shiroi. Kau tinggal disini. Araso?” ujarku seraya menatapnya tajam.

Sesungguhnya aku tak tega memandangnya tajam seperti itu. Tapi, kalau dibiarkan terus akan sampai kapan masalah mereka berlanjut. Saat ini hanya ini yang bisa kulakukan.

“Ne, araji.” Ujarnya pelan.

Aku pun segera mengecup ubun-ubun kekasihku dan segera menundukkan kepalaku pada ajumna. Ajumna pun tersenyum kecil padaku. Aku pun bergegas keluar. Jihyun -ah..!! aku tahu kau bisa. Berjuanglah.

*******************************************************

“Oppa..!! aku tak mau kembali ke byeongwon…” pekiknya saat aku menjemputnya untuk kembali ke byeongwon.

“Aigo…. Kasihan eommamu tak ada yang merawat.” Rajukku seraya menutup pintu rumahnya.

“Aniyo… aku tak mau. Oppa saja kesana sendiri.” Ujarnya seraya terduduk disofa.

“Yang benar saja. Ayolah…. Masa malaikat oppa tak mau melakukan perintah oppa.” Rayuku.

“Jangan rayu aku seperti itu. Oppa pikir aku masih SMA?” balasnya ketus.

Aku pun menggelengkan kepalaku. Dasar. Anak ini sungguh keras kepala. Padahal, awal aku mengenalnya. Ia tak sekeras kepala ini. Tiba-tiba pintu pun terketuk. Aku pun membukakan pintu. Aku pun terbelalak tak percaya dengan apa yang kulihat. Diambang pintu sedang berdiri donghae hyung, kakak kandung Jihyun. Seketika kenangan saat SMA dulu muncul. Muncul pula di benakku bayangan Haerin. Hi~~~ membayangkannya aku tak sanggup. Mengerikan.

“Hyung,…??!! Anne.. anneyong haseo.” Ujarku terbata.

“Anneyong, Minho-ah. Jihyun ada?” tanyanya datar.

“Ada. Seb…”

“Mau apa oppa kemari?” Tanya Jihyun kasar.

“Mwo? Jangan kasar pada oppamu.” Seruku pada yeojaku itu.

“Gwaencana, Minho-ah. Ada yang mau kusampaikan pada yeojamu.” Ujarnya.

Sesungguhnya, semenjak orang tua mereka bercerai. Persaudaraan antara Donghae hyung dan Jihyun menjauh. Menjauh hanya karena berbeda pendapat. Jihyun berpendapat bahwa orang tua mereka harus bisa bersatu kembali, sedangkan donghae hyung beranggapan kalau rumah tangga orang tuanya tak dapat bersatu lagi dan memilih menetap sendiri. Maka dari itu hubungan mereka menjauh.

“Apa yang mau oppa katakan. Palli..!!” ujarnya kasar.

“Jihyun-ah…”

“Aku hanya ingin mengantarkan ini.” Ujar Donghae hyung seraya menyodorkan sebuah buku.

“Mwo? Apa itu?” Tanya Jinhun.

“Diary eomma.” Ujar donghae hyung pelan seraya menyodorkannya pada Jihyun.

“Diary?” ulang jihyun.

“Ne.”

“Untuk apa? Aku tak butuh benda bekas seperti itu.” Ujar jihyun tak peduli seraya melempar buku itu ke meja.

Donghae hyung pun segera mencengkram tangan Jinhyun dan menariknya mendekat. Jihyun pun meringis.

“Jika kau mau menyelamatkan keluarga ini, setidaknya baca dahulu.” Pekiknya dan bergegas pergi.

Jihyun pun mengusap tangannya. Ia benar-benar kesal pada oppa nya. Aku pun membelai tangan Jihyun. Ia pun tersenyum pahit. Ia pun meraih buku sempat ia lempar tadi dan membukanya. Ia pun duduk dengan tenang dan mulai membaca. Aku pun mulai mengeluarkan laptopku dan mengerjakan tugasku untuk siaran nanti malam. Hampir 2 jam kami berkutat dalam kegiatan masing-masing. Saat aku melirik Jihyun, kulihat ia menangis.

“Jihyun-ah? Kau menangis? Mworago?” tanyaku sedikit panik.

“Op…pa..” ujarnya terisak.

“Ne, santai saja. Atur saja dulu nafasmu dengan benar.” ujarku.

“Antarkan aku oppa.” Pintanya.

“Kemana?” tanyaku.

“Aku ingin bertemu Eomma.” Pintanya lagi.

***************************************************************

Entah apa isi dari diary itu, tapi sikap Jihyun dan eommanya jadi merapat. Tak ada silih paham lagi. Tak ada saling berkilah diantara mereka. Aku menyukai situasi seperti ini. Karena memang seorang anak harus berbakti pada eommanya bukan? Hari ini aku akan menjemput Jihyun ditempatnya bekerja. Perpustakaan. Sejak dulu aku heran pada jihyun. Ia bukanlah tipe gadis penyuka buka buku. Namun kenapa ia bekerja di perpustakaan. Itulah salah satu sisi menarik dari dalam diri Jihyun.

“Oppa…. aku disini.” Panggil Jihyun yang tengah menungguku ditengah hujan.

“Jihyun-ah…” seruku seraya menghampirinya yang berlindung dibawah payung biru.

“oppa! Kau basah.” Pekiknya.

“Gwaenchanayo.” Ujarku.

“Mau kemana kita?” tanyanya mengubah topik.

“Spagetti. Aku mau itu.” Jawabku cepat.

“Aish… aku mau bulgogi saja.” Rengeknya.

“Ani. Kita makan spagetti saja.” Pintaku lagi.

“Huh…. baiklah.” Ujarnya menyerah.

Aku pun mengambil payung dari tangannya. Kupayungkan ia dengan tangan kiriku. Tak perlu waktu lama untuk mencari restoran spagetti. Beberapa lama kemudian kita sudah sampai didalamnya. Kami pun segera mencari tempat dan memesan pesanan kami.

“Bagaimana keadaan eomma?” tanyaku.

“Baik. Ia terlihat sehat.” Jawabnya.

“Terlihat? Maksudnya?” tanyaku.

“Yah… terlihat lebih sehat pokoknya.” Ujarnya.

“Jadi,..? garis besarnya kau belum tahu penyakit eommamu?” tebakku.

“habis. Eomma tak mau memberitahuku penyakitnya.” Kilahnya.

“Kau sudah tanya baksanim?” taanyaku lagi.

“Ne. Tapi ia tetap tak mau memberitahuku.” Kilahnya lagi.

“Hm…. begitu ya. Sabar ya. Kau berdoa saja.” Ujarku.

“Tentu saja oppa. Entah sejak kapan, aku jadi sayang pada eomma.” Ujarnya.

“Good. Itu baru malaikatku.” Ujarku seraya membelai kepalanya lembut.

*************************************************

Ugh…. siapa sih yang meneleponku selarut ini?

“Nugundeyo?” tanyaku parau.

“Anneyong? Minho-ssi?” tanya suara berat diseberang sana.

“ne, jonen. Nugundeyo?” ulangku.

“aku ada didepan rumahmu. Keluar sekarang juga.” Serunya dan telepon terputus.

Aish…. siapa sih? Menyebalkan sekali. Tapi, aku sedikit penasaran. Siapa orang yang menelponku? Apa benar ia ada didepan rumahku? Ugh…. baiklah! Aku keluar. Aku pun bangkit dari ranjangku dan menyambar mantelku. Kulangkahkan kakiku dengan lemas menuju depan rumah. Mana? Tak ada siapapun?

“Minho-ssi….” panggil seseorang.

Aku pun membalikkan badanku. Seseorang tengah berdiri memandangku dari bawah lampu jalan. Siapa itu? Aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Aku pun menghampirinya dengan beribu pertanyaan dikepalaku. Siapa ia? Sepertinya aku mengenalnya.

“Terimakasih sudah mau menemuiku.” Ujarnya.

“Mwo? Ajushii? Jihyun appa? Anneyong.” Ujarku kaget karena ternyata ia adalah Jihyun appa.

“Ne. Anneyong. Mianhae mengganggu malammu.” Ujarnya.

“Gwaenchanayo. Mworago ajushii?” tanyaku.

“ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Aku sangat butuh bantuanmu.” Pintanya.

“Ne. Tapi apa?” ulangku.

“aku ingin kau memberitahu jihyun. Tentang….. penyakit eommanya.” Ujarnya terbata.

“Penyakit ajumna?” ulangku.

“Ne. Sesungguhnya eommanya mengidap kangker payudara dan AIDS. Itu alasan sesungguhnya kami bercerai. Ia merasa tak dapat membahayakannya. Ia bilang ini permintaan terakhir dalam hidupnya. Aku semakin tak ingin…. tak ingin jihyun tahu. Tapi,… cepat atau lambat ia harus tahu.” Jelasnya.

“Jeongmal?” ujarku tak percaya.

“Maka dari itu. Aku membutuhkan bantuanmu Minho-ah..” pintanya.

“Kenapa tidak ajushi yang mengatakannya?” tanyaku.

“Aku… aku… aku tak sanggup menatap wajah Jihyun nantinya.” Ujarnya.

Mwo? Appanya saja tak tega apalagi aku. Ottokhae?

“Hmmmm…. bagaimana ya?” ujarku bimbang.

“Kumohon Minho-ah. Hanya kau yang bisa kupercaya. Oppanya saja tak sanggup melakukannya.” Rayunya.

“Hm… baiklah ajushi. Aku akan mengusahakannya.” Ujarku pasrah.

Uhm…. bagaimana aku mengatakannya?

*************************************************

Hari ini aku kembali ke byeongwon. Sesungguhnya aku tak mau. Karena itu tandanya aku harus memberitahukan semua pada jihyun. Tapi, aku harus mengatakannya. Kulangkahkan kakiku dengan lemas menuju bangsal 4. Tunggu dulu! Kenapa pintunya terbuka? Aku pun berjalan pelan memasuki bangsal tempat ajumna dirawat. Aku pun berdiri terpaku diambang pintu. Jihyun tengah menangis terduduk dilantai. Ia tengah menyaksikan eommanya yang tengah step. Badannya terguncang hebat diatas ranjang. Sejumlah ganosanim mulai kerepotan membersihkan cairan yang keluar dari mulut eommanya. Hidung eommanya mulai mengeluarkan darah. Rambutnya juga rontok dengan hebat. Kim baksanim, baksanim yang merawat ajumna pun melirikku. Tatapannya menunjukan untuk mengajak Jihyun pergi. Aku pun memegang pundak Jihyun. Ia pun membalikkan wajahnya padaku. Wajahnya basah dan merah. Aku tak tega melihatnya. Aku mengisyaratkannya agar keluar mengikutiku. Namun ia hanya menggeleng dan berlalu pergi. Aku pun menghela nafas panjang dan segera menyusulnya. Tak lupa kututup pintu bangsal tempat ajumna dirawat. Kutelusuri setiap sudut di byeongwon. Kemana perginya anak itu? Aku pun berjalan pelan keluar byeongwon. Ah… hujan deras sekali. Apa ini maksudnya mereka mengejek kekasihku yang tengah terpukul? Fiuh….. apa yang harus kulakukan tuhan?

“Eomma…. eomma…. eomma….eomma…. huhuhu…” tangis seseorang.

Aku pun menoleh pada sumber suara. Ternyata itu Jihyun. Ia tengah menangis tersedu-sedu didepan byeongwon. Jalan raya yang tak padat membuat suara tangisnya terdengar jelas. Air matanya samar dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Aku pun menghampirinya dan berdiri disebelahnya. Ia masih menangis tersedu-sedu seraya meneriakkan nama eommanya. Kasihan sekali. Aku pun menggenggam tangan kanannya dengan tangan kiriku.

“Ya.. uljima.” Ujarku pelan.

Ia pun menoleh kearahku. Aku pun balas menatapnya dan tersenyum padanya. Kutarik ia dalam pelukku. Tangisnya semakin tumpah dalam pelukku. Kubelai rambutnya yang basah. Semua pandangan semakin tertuju pada kami. Namun aku tak peduli. Aku hanya ingin yeojaku tenang saja.

“Eomma…. oppa! Eomma!” tangisnya.

“Ne, araso. Uljima!” ujarku lagi.

“Aku ini jahat. Aku telah melakukan sesuatu yang buruk pada eomma ditengah penyakitnya. Aku pantas dihukum.” Tangisnya lagi.

“Ya! Hentikan. Jangan ucapkan apapun lagi. Eomma pasti akan sedih mendengar kau bicara seperti ini. Kau ingin eommamu sedih?” tanyaku.

“Aniyo. Tapi….”

“Gwaenchanayo. Everything is allright. Araso?” tanyaku.

“Ne, araji.” Jawabnya.

“Nah, sekarang kuantar kau pulang. Kau harus ganti bajumu yang basah ini. Nanti kau mau menemani eomma?” tanyaku lembut.

“Tentu saja. Aku ingin selalu disamping eomma.” Jawabnya.

“Baiklah. Ayo!” ajakku seraya menggandeng tangannya hangat.

****************************************

Kubelai wajahnya pelan. Nyenyak sekali. Ia pasti lelah setelah semalaman menjaga eommanya. Dengan hati-hati kulepas pegangan tangan Jihyun pada eommanya. Kugendong ia ke sofa dan kutidurkan ia. Kuselimuti ia dengan selimut yang sempat ia bawa semalam. Kupegang keningnya. Hangat. Ia pasti demam karena kehujanan semalam. Kukecup keningnya dan kubelai pipinya. Istirahatlah malaikatku. Aku pun beranjak dan mengambil ranselku diatas meja. Kubuka pintu bangasal dengan pelan.

“Minho oppa.” Panggil Jihyun pelan.

Aku pun berbalik. Kulihat Jihyun kini terduduk memandangku. Aku pun menutup kembali pintu bangsal. Aku tersenyum padanya dan duduk disampingnya.

“Kau terbangun?” tanyaku seraya merangkulnya dan membelai kepalanya pelan.

“Kapan oppa kesini.” Tanyanya.

“Hmm… beberapa menit yang lalu.” Jawabku.

“Oppa tidak siaran?” tanyanya.

“Masih setengah jam lagi. Mworago?” tanyaku.

“Temani aku oppa. Aku tak mau sendiri.” Rajuknya.

“Baiklah. Aku akan menemanimu.” Ujarku.

“Kamsahamnida oppa.” Ujarnya pelan.

“Kau tak ke perpustakaan?” tanyaku.

“dua jam lagi. Masa cutiku sudah habis.” Jelasnya.

“Jangan dipaksakan. Kalau kau merasa tak enak sebaiknya bolos saja.” Ujarku.

“Aniyo oppa. Gwaenchanayo. Oppa mau makan siang denganku nanti?” tanyanya.

“Boleh saja. Apa kau boleh?” tanyaku.

“Tenang saja oppa. Aku bisa mengurusnya nanti.” Jelasnya.

“baiklah. Dicafe XXXX ya. Kebetulan ada yang ingin kukatakan padamu.” Ujarku.

“Jeongmal? Mwo?” tanyanya penasaran.

“Andwe. It’s still secret. Ya! Aku sebaiknya pergi sekarang. Anneyong! Sampai ketemu di cafe XXXX.” Ujarku.

“Jamkaman oppa. Sebaiknya kita bertemu di halte J saja.” Sarannya.

“Baiklah. Apapun maumu putri.” Ujarku seraya mengecup keningnya dan berlalu pergi.

***************************************************

Kemana Jihyun. Aku sudah menunggunya selama 20 menit. Apa ia lupa? Tapi tak mungkin, tadi kami SMS-an dan ia akan segera kemari. Ugh…. langit mulai mendung lagi. Apa sesuatu terjadi padanya? Kuharap ia baik-baik saja. Aku pun terus menunggunya. Waktu kini sudah berlalu selama 10 menit. Kemana sih dia? Rintik hujan pun mulai turun. Sial! Aku tak bawa payung lagi.

“Oppa…!” panggil seseorang terngah-engah.

“Aish! Kau lama sekali.” Ujarku.

“Mianhae oppa. Tadi pengunjungnya banyak sekali.” Ujarnya seraya menyerahkanku payung yang ia kenakan.

“kan aku sudah bilang. Jangan kau paksakan.” Ujarku.

“Ne, oppa mianhae.” Ujarnya dan hendak pergi lagi.

Aku pun menarik tangannya dengan tangan lainku yang masih kosong.

“Kau mau kemana lagi.” Tanyaku.

“Aku mau mengambil sesuatu yang tertinggal.” Ujarnya tergesa.

“Tapi kita kan baru ketemu. Nanti saja kau ambil.” Ujarku mencegahnya.

“Aniyo oppa. Ini penting sekali. Aku ingin sekali menyampaikan benda ini, maka dari itu harus kuambil sekarang.” Ujarnya dan segera pergi.

“Jihyun-ah…. payungnya.” Ujarku setengah berteriak karena ia hampir jauh.

“Aku hanya sebentar. Oppa bawa saja.” Pekiknya dan bayangannya benar-benar hilang dari pandanganku.

Dasar anak ceroboh. Selalu saja ketinggalan barang. Akhirnya kuputuskan pergi duluan. Segera kucari tempat kosong. Kupesan secangkir kopi untuk menunggunya. Waktu pun terus berjalan. Entah sudah berapa lama aku menunggunya. Tapi, kenapa ia tak kunjung kembali? Waktu istirahatku hampir habis. Ini sih bukan makan siang namanya. Tapi membuang waktu makan siang. Kulirik jam. Ia sudah pergi selama satu setengah jam lebih. Huh…!! cukup. Aku akan menyusulnya. Segera kubayar pesananku. Namun tiba-tiba ponselku berdering. Siapa ini? Mungkin Jihyun. Kuharap.

“Yeoboseyo.” Ujarku.

“Ya, Minho-ah! Ada berita yang harus segera kau siarkan sekarang juga. Siaran langsung.” Ujar Jung ajushii.

Hm… kukira Jihyun.

“Kenapa mendadak?” tanyaku.

“karena ini berita penting. Aku tak mau tahu, kau harus kembali dalam waktu 10 menit.” Ujar Jung ajushii dan telefon pun terputus.

Hah… menyebalkan. Terpaksa dialihkan pada makan malam. Padahal aku ingin memberi Jihyun kejutan. Sesungguhnya aku ingin melamarnya. Dengan cicin perak berbatu berlian merah muda disaku jasku ini. Pasti cantik sekali dijari manisnya. Aku sudah terlalu lama mengulur waktu untuk melamarnya. Huh! Sayang sekali. Dengan lemas  aku pun berlari menuju stasiun televisi tempatku bekerja. Kuhiraukan hujan yang mengguyurku lebat. Saat tiba, segera aku menuju ruang ganti untuk menggantinya dengan baju yang kering. Aku segera di make up dan 5 menit kemudian kami sudah siaran. Ternyata berita yang kubawakan adalah berita kebakaran.

“Telah terjadi kebakaran besar di daerah hongdae. Api yang muncul tepat pukul 13.23.  angin yang kencang membuat api berkobar semakin besar. Walau hujan turun deras, namun api yang terlalu besar sulit dipadamkan. Para pemadam kebakaran sulit untuk memadamkan api karena jalur yang amat padat…”

Jihyun kan sedang berada didaerah sana. Apa ia baik-baik saja. Semoga iya. Semoga ia bukan salah satu korban.

“Api yang meledak, membuat bagunan sayap kiri ambruk. 20 selamat dan 10 tewas. Beberapa pemadam kebakaran dan  sejumlah warga sipil telah menjadi korban. Berikut adalah daftar korbannya. Petugas pemadam kebakaran adalah, Jung Yoo Ra; Seo Gim Ra; Kim Jonghyun; Jang Hae Ha. Warga sipil adalah, Lee Hye Ri; Jung Min Ji; Jang Min Eun; Kim Seo Seok; Lee Jinki; Lee Jihyun…”

Mulutku serasa terkunci. Jung ajushii menyuruhku untuk terus membaca. Namun, aku merasa tak dapat membuka mulutku. Aku merasa tubuhku lemas. Wajahku pucat. Siaran pun segera dihentikan. Aku tertunduk lemas. Lee Jihyun. Apa benar ia salah satu korban dari kebakaran itu. Itu alasan ia tak kunjung datang. Ini mustahil. Aku tak mau percaya ini. Tuhan…. aku ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini.

*************************************************

Petugas otopsi sudah memeriksanya. Hasil otopsi menyatakan positif kalau itu benar Jihyun. Malaikat kecilku. Aku pun menangis sejadinya. Apa yang sebenarnya terjadi. Padahal aku baru saja ingin melamarnya. Petugas otopsi pun memberiku sebuah kotak biru muda dan sepucuk surat yang keduanya sudah lusuh. Kubuka kotak itu. Ada dua buah gantungan kunci didalamnya yang dibuat dari kain flanel.warnanya yang kuyakin tadi cerah menjadi kecoklattan dan lusuh. Ada sepucuk surat juga dibawah kedua gantungan seukuran telapak tangan itu. Untukku.

Dear Minho oppa…

Oppa, selamat ya! Kudengar kau mendapat promosi dari atasanmu. Kau hebat chagiya. Aku ingin memberimu sesuatu, tapi aku bingung apa. Kau kan seleranya tinggi sekali. Akhirnya kuputuskan membuat gantungan ini. Satu yeoja, itu aku. Dan satu namja, itu kamu. Bagaimana? Bagus tidak? Aku ingin kau menyimpan yang yeoja agar kau ingat selalu padaku. Jadi walau kita terpisah ditempat yang jauh, kita akan selalu mengingat. Yang namja akan kusimpan. Dirawat baik-baik ya! aku susah payah loh. Aku juga membuat surat untuk eomma. Aku tak berani memberi surat itu untuk eomma. Sebenarnya surat pendek saja sih, tapi…. itu menggambarkan isi hatiku pada eomma. Jadi oppa yang berikan ya! Aku malu. Saranghae oppa. You are something special in the world.❤

Aku pun melirik surat yang ada ditanganku yang lain. Kubuka surat itu secara perlahan.

Eomma, saranghae. Nan jeongmal. You are the biggest present in my life. I just have you. No other. Love you anywhere, anytime, anything.

Aku pun kembali menangis membacanya. Bagaimana reaksi Jihyun saat melihat eommanya melihat ini. Aku yakin eommanya sangat terpukul. Aku jadi tak tega memberinya. Tapi, malaikatku ingin aku menyampaikannya. Tuhan,… tolong aku. Semoga aku punya kekuatan untuk memberitahu keluarganya terutama eommanya. Semoga malaikatku selalu disampingmu dialam sana.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s