Secret Story {Chapter 2 – End}

Title : Secret Story – Chapter 2

Author : retnowulan (Freelance)

Length : Twoshot

Last Part : Secret Story – Chapter 1

Genre : Tragedy (?)

Cast : – Choi Yoo Young a.k.a. Choi Minho’s sister

–      Lee Jinshin a.k.a. Lee Jinki’s sister

–      Kim Shingo a.k.a. Kim Kibum’s brother

–      All Shinee member

–      A sligt of Go Hara

Disclaimer : I don’t own anybody. Shinee belong to SME. Go Hara belong to KARA. Choi Yoo Young, Lee Jinshin, and Kim Shingo just in imagination.

Enjoy… >//<

 

 

(Choi Yoo Young POV)

Aku tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Badanku seakan bergetar. Aku pun mulai menangis. Aku pun maju kedepan secara perlahan. Semua orang tahu kalau aku adalah teman terdekatnya, mereka pun memberikanku jalan. Shingo telah tewas. Tewas dengan cara yang menggenaskan. Kutatap tubuh Shingo yang berlumur darah. Banyak luka sayatan pada tubuhnya. Rambutnya tercecer kemana-mana. Wajah Shingo yang cerah dan manis sudah tak berbentuk lagi. Tak hanya Shingo. Diatasnya tergantung jasad Kibum sunbae yang tergantung diatas pohon.

“Yoo Youngie..” panggil seseorang.

Aku hafal suara itu. Itu adalah suara Minho oppa.

“Oh tuhan. Apa yang mereka lakukan.” Ujarnya kaget saat melihat jasad mereka.

“Oppa….” Tangisku pun pecah.

Minho oppa pun memelukku hangat. Aku menangis ditubuhnya. Beberapa saat kemudian, Jinki, Jonghyun dan Taemin sunbae pun datang. Mereka kaget melihat dua jasad dihadapan mereka.

“Kupikir mereka bercanda. Ternyata tidak.” Ujar Jonghyun histeris.

“Apa yang mereka lakukan pada Shingo. Kita bahkan tak mengenalinya. Begitupun dengan Kibum.” Ujar Jinki.

“Ini membuatku mual.” Ujar Taemin.

Aku terus menangis. Semakin kencang. Minho oppa pun membawaku menjauh dari tempat kejadian. Begitu pun dengan Jinki, Jonghyun, dan Taemin. Minho oppa pun membelaiku hangat. Tiba-tiba, dari jauh mataku menatap sesuatu. Sesuatu yang tengah tersenyum menang. Lee Jinshin. Tentu aku tahu itu. Aku tahu ia yang tengah melakukan hal ini pada Shingo. Kim Shingo, orang yang selalu memberiku kekuatan. Aku pun melepas pelukan Minho oppa dan segera berlari menuju Jinshin. Samar-samar kudengar Minho oppa memanggilku. Namun aku tak peduli dan segera menghampiri Jinshin.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” pekikku.

Ia tak menjawabku. Hanya tersenyum licik.

“Jawab aku. Aku tahu kau yang melakukan semua ini pada Shingo dan Kibum sunbae.” Ujarku padanya.

“Ya. Memang aku. Wae?” tanyanya.

“Ia salah apa? Kenapa kau tega melakukan ini?” tanyaku.

“Karena aku tak mau Shingo menjadi milikmu. Lebih baik ia mati ditanganku. Dengar! Ini masih pembukaan. Masih akan ada pesta yang sesungguhnya. Tenang, aku akan mengajak serta oppamu dan tentu saja Jinkiku.” Ujarnya parau.

“Apa maksudmu?” ujarku mulai histeris.

“Aku tahu kau menyukai Jinkiku. Dan aku tak akan membiarkan kau mengambilnya dariku seperti yang kau lakukan pada Shingo. Maka sebelum kau mengambilnya. Aku akan melakukan sesuatu dulu.” Ujarnya licik.

“Apa yang akan kau lakukan? Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku histeris.

“Sabar saja. Pokoknya aku akan segera memberikan undangan special padamu. Sampai jumpa di pesta.” Seraya meninggalkanku dan pergi menuju Jinki Sunbae.

“Awas bila kau berani menyentuh Minho oppa.” Jeritku padanya.

Ia pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.

“Ide bagus.” Ujarnya dan berlalu pergi.

Tuhan…. Kumohon lindungi aku dan oppaku.

***************************************************

Aku masih memikirkan semua yang dikatakan Jinshin tadi siang. Hal itu membuatku semakin takut padanya. Ia bisa saja membunuhku sewaktu-waktu. Begitupun pada Minho oppa. Semoga hal itu tak terjadi. Berita tewasnya Shingo sudah sampai ke tempat bimbingan. Aku menjadi semakin sedih. Biasanya aku pergi dan pulang bersama Shingo. Sekarang aku berjalan sendiri dalam kelamnya malam. Huh..! Kemana lagi Minho oppa? Biasanya ia akan mengirimiku pesan apakah aku mau dijemput atau tidak walau ia tahu aku akan pulang dengan Shingo. Ini aneh.

Bak…

Sebuah benda yang besar menghantam kepalaku. Aku pun terhempas ketanah. Pandanganku menjadi buram. Apa yang terjadi padaku?

**********************************************

Kenapa kepalaku pening sekali? Dimana ini? Bau sekali. Sedikit sekali cahaya disini. Yang ada hanya satu lampu berwarna kuning yang berayun kian kemari. Aku pun mencoba berdiri namun, kepalaku menyentuh sesuatu. Apa ini? Besi? Apa? Jeruji besi? Bagaimana aku bisa ada didalam sini? Aku pun mengguncang-guncangkan jeruji itu namun terlalu kokoh untuk kuhancurkan. Aku pun menoleh untuk mencari jalan lain. Tapi,… tunggu! Apa itu Jinki sunbae? Ia tengah tertidur, pingsan, atau apalah, aku tak tahu dan ia ada didalam jeruji yang berbeda denganku.

“Sunbaenim…! Jinki sunbae!” panggilku.

Tak ada respon.

“Jinki sunbae! Bangunlah.” Ujarku berusaha mengulurkan tanganku keluar jeruji dan menyentuh Jinki sunbae.

“Yoo Youngie..!” panggil suara yang kukenal.

“Minho oppa…!!” ujarku kaget.

Aku terkejut mendapati sosok Minho oppa. Begitupun dengan Jonghyun dan Taemin sunbaenim. Mereka berada dalam sebuah tabung transparan besar. Tangan dan kakinya diikat ke setiap sudut.

“Minho oppa..!!” ujarku lagi mulai menangis.

“Jangan menangis Yoo youngie. Apa kau baik-baik saja?” tanyanya cemas.

“Ne. Bersabarlah oppa. Aku akan mengeluarkanmu dari sana.” Ujarku seraya mengusap air mataku.

Aku mencoba membuka pintu jeruji itu. Sial! Tampaknya terkunci otomatis. Setiap yang kulakukan menjadi sia-sia.

“Ratu pesta kita rupanya sudah bangun.” Ujar seseorang yang muncul dari kegelapan.

“Jinshin..!! ternyata kau! Harusnya aku tahu.” Pekikku histeris.

“Yap.. benar sekali. Kejutan kecil yang indah kan? Selamat datang di pestaku!” ujarnya seraya terkekeh.

“Lepaskan oppaku.” Jeritku.

“Diamlah! Kau tak tahu etika ya?” tanyanya kesal.

“Kubilang lepaskan oppaku!!” jeritku lebih keras.

“Kubilang diam.” Ujarnya galak.

“Lepaskan!!” ujarku lagi.

Slash…..

Jinshin pun menyiramku dengan air panas disampingnya. Aku menjerit panik. Minho oppa pun memberontak melihatnya. Kupegang tanganku yang memerah. Pedih sekali.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” jerit Minho oppa histeris.

“Diam namja tolol. Dasar tak berguna.” Ujarnya.

“Kau jahat sekali! Tak kukira kau sekejam ini.” Pekik Minho lagi.

“Diam. Atau kubunuh adikmu seperti yang kulakukan pada Shingo.” Ujarnya galak.

“Ja..jadi kau yang membunuh Shingo dan Kibum seperti itu?” Tanya Taemin panik.

“Ne. Wae? Ingin menyusul?” Tanyanya santai.

“Oemona! Kita tengah berada bersama seorang pembunuh.” Ujar Taemin lebih panik.

“Kalau begitu lepaskan kami. Kita tak ada hubungannya dengan kau. Kita tak pernah berulah.” Ujar Jonghyun histeris.

“Akan kuberitahu kalian semua. pertama, Yoo Young disini untuk merasakan dendamku karena ia sudah meregut Shingo dariku dan akan merebut Jinki dariku. Kedua, Minho disini sebagai alatku saja. Ketiga, jinki oppa disini hanya untuk menjadi saksi kalau aku betapa mencintainya. Kempat, Jonghyun dan Taemin hanya akan kujadikan pemuas pribadi saja.” Ujarnya.

“Yeoja sinting. Gila!” pekik Minho oppa.

“Ya… aku gila. Memang gila. Ini semua gara-gara aku begitu menyayangi Jinkiku. Dan kalau bukan karena yeoja tolol itu tidak mengambil Shingoku, mungkin aku tidak akan mengadakan pesta ini. Berterima kasihlah padanya.” Ujarnya parau.

“kumohon lepaskan kami. Kami tak tahu apa-apa.” Tangis jonghyun.

“Terlambat. Bagaimana kalau kita mulai darimu Taemin.” Ujar Jinshin.

“Aku?” Tanya Taemin kaget.

“Ya.” Ujar jinshin seraya memencet sebuah tombol hijau.

Langit-langit tabung itu pun terbuka. Taemin mulai menjerit histeris. Dari atas mulai berjatuhan tikus-tikus tanah yang entah Jinshin dapat dari mana. Aku mulai histeris juga melihatnya. Kami semua kecuali Jinki sunbaenim yang belum sadar, menjerit memohon pada Jinshin. Namun, seakan dirasuki sesuatu. Jinshin tampak sangat menikmati pertunjukannya.

“AAaaa……” jerit Taemin.

“Bersenang-senanglah Taem. Temanku sangat menyukai orang lemah sepertimu.” Ujar Jinshin tampak senang.

“Jinshin..!!! kumohon! Lepaskan ia. Ia tak tahu apa-apa.” Tangisku padanya.

“Terlambat. Kau sudah memperparah semuanya. Sekarang kalian harus menikmati ini.” Ujarnya.

“Tapi kita tak ada hubungannya dengan masalahmu?” Tangis Jonghyun.

“Karena kalian tidak bisa melindungi Jinkiku dari yeoja-yeoja tolol itu.” Seringai Jinshin.

“Mwo? Konyol. Ini semua konyol.” Jerit Minho oppa.

“Konyol? Ya! Memang konyol. Sekarang nikmati saja pertunjukan ini.” Seru Jinshin.

Semakin lama, tikus-tikus itu semakin banyak. Beberapa mulai menggigiti tubuh Taemin. Taemin hanya bisa memberontak sebisanya. Aku pun menangis semakin kencang dan memohon pada Jinshin untuk melepas Taemin Sunbae. Tapi Jinshin seperti batu. Ia tak mau mendengar kata-kataku. Dari tubuh taemin sunbae mulai mengeluarkan darah. Beberapa diantaranya mulai menampakkan tulangnya. Taemin berteriak semakin histeris. Aku tahu betapa perihnya saat air matanya mengenai kulitnya yang terkelupas. Pergelangan tangan dan kakinya yang terikat mulai mengeluarkan darah. Aku pun kembali menatap Jinshin. Kumohon padanya dengan teramat sangat untuk melepaskan Taemin sunbae. Jinshin pun memencet tombol lain. Sebuah lubang muncul pada dasar-dasar tabung Taemin sunbae. Tikus-tikus itu pun mulai berjatuhan. Jinshin pun kembali memencet tombol dan pintu pun terbuka secara otomatis. Aku bisa melihat dengan jelas setiap luka yang melekat pada tubuh Taemin Sunbae. Darah segar mengalir dengan deras dari setiap luka ditubuhnya. Nafasnya terengah engah. Aku pun menangis. Akhirnya Jinshin mau melepas Taemin, walau awalnya kupikir itu semua sia-sia.

“Gomawo….” Ujarku lirih pada Jinshin.

Jrak….

Jinshin pun menikam Taemin sunbae tepat di ubun-ubun kepalanya. Tubuh Taemin sunbae pun seketika berhenti bergerak. Aku menjerit dan menangis histeris.

“Tutup matamu Yoo Youngie!!” perintah minho oppa.

Aku pun menutup mataku dengan kedua tanganku. Jonghyun sunbae pun mulai menangis histeris sepertiku. Jinshin pun mulai bersenandung. Aku tak tahu apa yang ia lakukan. Namun aku tahu ia sedang melakukan sesuatu yang tak baik. Tiba-tiba Jinshin pun melempariku dengan sesuatu. Aku pun membuka mataku. Lengan Taemin sunbae. Aku pun menjerit dan mundur beberapa langkah dari dudukku. Lengan itu masih mengeluarkan darah sedikit demi sedikit. Warnanya masih cerah tidak pucat.

“Apa yang terjadi? Dimana ini?” ujar Jinki sunbae saat tersadar dari pingsannya.

“Oppa, kau sudah bangun?” ujar jinshin ramah.

“Jinshin? Ada apa ini? Mengapa aku ada didalam jeruji ini?” Tanya Jinki sunbae lemas.

“Aku sedang mengadakan persta oppa. Kau suka?” Tanya jinshin.

“TAEMIN..??? apa yang terjadi?” ujar Jinki sunbae saad melihat jasad Taemin sunbae.

“Sstt… diam oppa. Dia tengah tertidur.” Ujar Jinshin pelan.

“Apa yang terjadi? Lepaskan aku! Jinshin, keluarkan aku dari sini!” perintah Jinki sunbae.

“Mianhae oppa. Aku tak bisa membiarkanmu menghancurkan pestaku.” Ujarnya.

“Mwo? Siapa kau sebenarnya?” ujar Jinki sunbae mulai takut.

“Aku jinshin oppa. Lee Jinshin. Adik seorang Lee Jinki.” Jawabnya sedih.

“Tidak..!! kau bukan adikku. Adikku manis. Tidak sepertimu.” Jerit jinki sunbae.

“Apa maksudmu oppa? Aku ini adikmu.” Ujarnya mulai kesal.

“Aniyo..!! aku tak pernah punya adik sepertimu. Adikku adalah seorang yang manis yang selalu ingin kugenggam. Menggenggammu saja aku tak sudi.” Pekik Jinki sunbae.

Mata Jinshin pun mulai berkaca-kaca. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menggenggam lengan jinki sunbae.

“JANGAN SENTUH AKU..!!” Jerit Jinki sunbae seraya menangkis tangan Jinshin kasar.

Jinshin pun mulai kesal. ia berbalik dan segera memencet salah satu tombol. Awalnya tak ada hal yang terjadi. Kupikir semua ini telah usai.

“Bau gas apa ini?” Tanya Jonghyun sunbae ragu.

“Apa yang kau bicarakan?” Tanya Minho oppa bingung.

“Hei… ini bau gas. Aku menciumnya.” Jerit Jonhyun sunbae histeris.

“Kali ini apa yang kau lakukan?” jerit Minho oppa pada Jinshin.

Tapi Jinshin tak mengubrisnya. Ini pertama kalinya aku melihat ia menangis. Ia pun menyalakan beberapa lilin disampingnya sementara tubuh Jobghyun sunbae mulai menggeliat kehabisan udara. Kali ini tak hanya aku yang memohon Jinshin untuk melepaskan Jonghyun sunbae. Jinki sunbae pun pun mulai memohon dan berteriak histeris.

“Lepaskan Jonghyun..!!!” jerit Jinki sunbae.

“Panggil aku seperti selayaknya kau memanggilku setiap hari.” Pinta Jinshin pelan.

“Aniyo..! Lepaskan Jonghyun!!” jerit Jinki sunbae.

“Kumohon oppa. Sebut aku.” pinta Jinshin lagi.

“LEPASKAN….!!” Jerit Jinki sunbae histeris.

Jinshin pun segera menekan salah satu tombol. Perlahan-lahan, Jonghyun sunbae pun berhenti memberontak. Ia tampak mengatur nafas panjang begitupun aku dan yang lainnya. Tiba-tiba Jinshin meraih salah satu tangga. Ia pun segera memanjat kea tap tabung milik Jonghyun sunbae. Jonghyun sunbae pun mulai panik. Ia mulai takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Jinshin. Ia membuka tabung yang berlapis 2 itu, kaca dan teralis dengan sisi rapat satu sama lain (ngerti nggak maksudku?). ia pun membuka lapisan kaca saja, sehingga menyisakan lapisan teralis saja. Satu demi satu, Jinshin pun meletakkan lilin-lilin itu secara tertidur. Ia menaruh kurang lebih 6 lilin. Jonghyun sunbae pun mulai menjerit saat panas lilin mengenai kulitnya.

“AAARGHH…….!!!!” Pekik Jonhjyun sunbae.

Perlahan lahan lilin itu semakin cepat menetes. Rambutnya mulai tertutup oleh lilin. Jonghyun sunbae pun mulai menggeliat hebat. Tak terbayang olehku betapa panasnya itu. Kulitnya mulai memerah. Aku menangis sejadinya. Begitu pun dengan Jinki sunbae.

“Apa yang kau lakukan?” jerit oppaku.

“Diam, brengsek!” ujar Jinshin berang.

“Ia tak ada hubungannya denganmu.” Ujar oppaku lagi.

“Mengapa kau menyakitinya. Tak puaskah kau dengan apa yang kau lakukan pada Taemin sunbae?” tanyaku berang.

“Dasar iblis..!! iblis pun tak ada yang sekejam kau.” Pekik minho oppa lagi.

“DIAM… DIAM KALIAN SEMUA. KALIAN HANYA MEMPERKERUH HATIKU. PUAS KAU YOO YOUNG? SETELAH KAU MEREGUT SHINGO, KAU MELAKUKAN INI PADAKU! KAU MEMBUAT JINKIKU MEMBENCIKU..!!” jerit Jinshin padaku.

“Bukan salahku! Kau yang membuatnya membencimu. Aku tak melakukan apapun. Jika kau ingin membuat ini selesai. Kau bisa mulai dengan melepaskan Jonghyun sunbae.” Jelasku.

“ANIYO…!! Sudah terlambat. Oppaku sudah membenciku. Kau membuatku kehilangan oppaku. Kini kau harus merasakan juga rasa kehilanganku.” Jerit Jinshin lagi seraya memencet salah satu tombol.

“Jangan… ini tak adil. Itu bukan salahku!” pekikku.

Tiba-tiba air mengalir menuju tabung Minho oppa. Aku menjerit. Kini aku mulai menangis sejadinya. Ini bukan salahku. Aku tak melakukan apapun padanya. Mengapa begini? Tiba-tiba pintu jerujiku terbuka. Begitupun dengan jeruji Jinki sunbae. Tanpa pikir panjang aku pun segera berlari keluar, namun tidak dengan Jinki sunbae. Aku segera berlari menuju tabung Minho oppa. Kulihat sekeliling. Jinshin menghilang.

“Oppaaa….!!” Tangisku.

“Berhenti Yoo youngie. Sekarang kau selamatkan Jonghyun..!” perintah Minho oppa.

“Aniyo oppa. Jebal… aku ingin disampingmu.” Tangisku.

Entah setelah sekian lama, baru kurasakan kalau aku begitu mencintai oppaku. Walau ia sering membuatku berkata ‘Aku-Membencimu-Oppa’.

“Ya.. jangan begitu. Sekarang selamatkan Jonghyun. Baru nanti pikirkan bagaimana mengeluarkanku dari tabung ini.” Ujarnya.

Aku menggeleng cepat. Minho oppa pun memandangku dalam, ia memandang dengan tatapan bahwa ‘semua-baik-baik-saja’. Dengan terpaksa, aku pun bergegas menuju tabung Jonghyun sunbae. Segera kupanjat tabung itu. Kulempar semua lilin yang menetes diatas Jonghyun sunbae. Kini lilin itu sudah menutupi seperempat wajahnya. Beberapa sisinya mengeluarkan darah.

“Jonghyun sunbae..” panggilku.

Tak ada jawaban. Aku hanya bisa merasakan getar di badannya melalui tabung.

Jrack….

Sesuatu yang dingin menenbus betisku. Kurasakan dinginnya menggesek tulangku. Aku pun segera terjatuh ke tanah. Jinshin? Oh, seharusnya aku tahu. Ia menikam betisku. Darah segar mulai keluar. Minho oppa pun mulai menggertak, namun usahanya sia-sia. Tangannya diikat dan air mulai memenuhi setengah tangkinya. Jinshin pun mulai mengarahkan pisaunya padaku. Tuhan…. Apakah ini akhir dari hidupku? Tapi…., tunggu! Mati konyol seperti ini? Tidak! Setidaknya aku mau kematianku diatas ranjang dan bukan ditangan iblis ini. Kutendang ia dengan kakiku yang lain. Ia pun terhempas ke tembok. Aku pun bangkit dengan seluruh tenagaku. Kini saatnya aku melawan. Kuraih pisau yang terlepas dari tangannya. Saat ia menerjangku, kutendang kembali ia ke tembok. Kutikam tangannya hingga menembus ke tembok. Jinshin pun menjerit keras. Aku pun segera menuju oppaku. Airnya kini hampir menutupi wajahnya.

“Oppa, bertahanlah.” Ujarku seraya mencari cara menyelamatkan oppaku.

“Shiroi. Kau pergi saja. Selamatkan Jonghun dan Jinki. Aku akan baik-baik saja.” Ujarnya.

“Aniyo oppa. Aku tak mau kehilanganmu.” Tangisku.

“Dengarkan aku. kau adikku satu-satunya. Tak akan kubiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku ingin kau selamat. Aku tak mau kau mati sia-sia. Sekarang pergilah..!!” serunya.

“Aniyo oppa..” tangisku.

JRACK…..

Sesuatu yang dingin itu kembali menyengat nadiku. Darah mulai keluar dari lenganku. Jinshin..!! setan itu!! Aku pun mulai hilang kesabaran. Ini sudah terlalu lama aku tunduk padanya. Kini aku meminta bayaran padanya, sekaligus untuk Shingo. Aku pun menamparnya. Ia pun terhempas ketanah. Kurebut pisau itu dari tangannya. Tanpa basa-basi, kutikam ia di jantungnya. Kutikam ia berkali-kali. Kutikam ia hingga aku puas. Walau aku tak puas, walau ini semua tak bisa membayar semua. Aku terus menikamnya berkali-kali. Kurasa ia benar, balas dendam dengan cara seperti ini memang asyik. Membunuh memang memiliki kenikmatan yang berbeda.

“Yoo Youngie! Hentikan.” Ujar Minho oppa.

Yah…. Minho oppa! Aku pun segera menghentikannya dan segera menuju Minho oppa. Air itu kini menutupi seperempat wajahnya. Aku pun berusaha mencari sesuatu untuk memecahkan tabung itu. Segera kuraih tang yang tak jauh disebelahku.  Kupukul tabung itu walau sulit. Tenagaku yang kecil, membuatnya tak ada perubahan. Kini air sudah menutupi seluruh tabung. Oppaku pun mulaimenggeliat. Aku pun semakin gusar memukulinya. Kupukul tabung itu sekuat tenaga hingga tanganku merah dan mulai mengeluarkan darah.

Tuhan…. Kumohon keajaibanmu…!!!

Seperti mukzijat, tabung pun pecah. Air pun mulai membanjiri seluruh lantai. Aku pun terbatuk-batuk karena airnya masuk kedalam hidungku. Segera aku menuju oppaku untuk melepas ikatanya. Tubuhnya begitu lemas. Ia pun terjatuh menimpaku saat aku berhasil melepas ikatannya. Minho oppa pun mencoba bangkit. Ia menuju tabung Jonghyun sunbae. Sayang, Jonghyun sunbae telah meninggal. Aku pun mulai menangis. Mengapa ini semua menimpaku?

“Kau menagis Yoo Youngie?” Tanya Minho oppa saat melihatku berlinang air mata.

“Aku telah membunuh oppa. Aku pembunuh..” tangisku.

“Tenang. Sekarang sudah berakhir.” Ujar Minho oppa seraya memelukku.

“Sayang, ini semua belum berakhir.” Ujar seseorang dari kegelapan.

“Jinki?” Tanya Minho oppa.

“Kalian telah membunuh adikku dan kalian tak tahu betapa sedihnya aku. kuharap kalian membayarnya.” Ujar Jinki sunbae seraya tersenyum kecut sambil menggenggam palu ditangan kirinya.

FIN

 

 

Gimana…. gimana? Aneh yah? Norak yah? Ga jelas yah? Ngegantung yah? Ga dimengerti yah? *ditabok se-blog gara-gara banyak omong*.

Mian ya… otaknya lagi mumet. Ga bisa mikir. Jeongmal Mianhae! And, you know?  I REALLY HATE SILENT READERS..!!!

By: Retno Wulandhari

5 thoughts on “Secret Story {Chapter 2 – End}

  1. hehehehe
    pis ah! Damai! Tapi bias aku juga die pan? My sarang sarang key key.
    Tapi, aku ga pede bikin ff tragedy. Jarang yg baca, jadi jarang dapet masukan. *curhat colongan. #ditendangadmin
    T-T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s