Secret Story {Chapter 1}

Title : Secret Story – Chapter 1

Author : retnowulan

Length : Twoshot

Genre : Tragedy (?)

Cast : – Choi Yoo Young a.k.a. Choi Minho’s sister

–      Lee Jinshin a.k.a. Lee Jinki’s sister

–      Kim Shingo a.k.a. Kim Kibum’s brother

–      All Shinee member

–      A sligt of Go Hara

Disclaimer : I don’t own anybody. Shinee belong to SME. Go Hara belong to KARA. Choi Yoo Young, Lee Jinshin, and Kim Shingo just in imagination.

Enjoy… >//<

 

(Choi Yoo Young POV)

Sesungguhnya aku tak mau melakukan ini. Aku terdesak. Atas semua kenyataan dan atas semua yang telah terjadi. Aku dipaksa untuk tunduk kepadanya. Semua kulakukan karena aku melindungi Jinki. Ya….! Melindungi Jinki sunbaenim. Tapi, karena ia, aku harus menutup semua harapan. Aku tak mau mengambil langkah besar. Aku akan melakukannya dengan perlahan.

***********************************************

“Ya! Suara apa itu?” Tanya Shingo.

Aku dan Jinshin sontak langsung menatap Shingo. Ia pun menunjuk kearah lorong. Ya, memang terdengar suara bising. Semakin lama suara bising itu semakin dekat. Kami bertiga segera menuju ambang pintu. Menatap apa yang telah membuat kebisingan. Dari ujung lorong, tampak dengan jelas lima orang namja yang merupakan cassanova di sekolahku tengah melangkah dengan pelan menuju kelas kami. Diiringi teriakan histeris dari setiap yeoja yang melihatnya. Aku sudah tak heran dengan itu semua. Tentu saja! Geng yang sangat bersinar dan dileaderri oleh Lee Jinki, oppa Jinshin, merupakan kelompok oppaku. Ya, oppaku, Choi Minho, adalah salah satu dari lima pria cantik itu. Aku sudah terbiasa dengan itu semua. Namun aku tak yakin dengan Jinshin. Dia adalah satu dari sekian juta jenis Brother complex. Namun aku tak yakin, apakah ia adalah jenis yang wajar atau tidak. Menurutku, ia sering bertindak abnormal. Terlalu antagonis. Hanya Shingo, namja yang yang menerima konsekuensi bahwa hyungnya, kim Kibum, adalah pria yang cantik seperti yang selalu kupikirkan kepada oppaku. Kami bertiga terus menatap mereka berlima yang semakin dekat dengan kelas kami. Tiba-tiba, tanpa diduga-duga, seorang gadis menghampiri Jinki. Aku tahu gadis itu. Ia teman sebangkuku. Namanya Go Hara. Ia memberikannya kotak berwarna pink. Manis sekali. Jinki hanya tersenyum manis kepadanya. Senyum yang selalu kuharap aku dapatkan darinya. Seketika, aku dan Shingo segera teringat dengan Jinshin. Kami langsung melirik Jinshin. Wajahnya tampak datar. Namun, matanya menunjukan kebencian yang teramat sangat. Aku refleks menggenggam tangan Shingo saat melihat mata Jinshin. Kulirik Shingo yang jauh lebih tinggi dariku. Ia hanya tersenyum miris dan membelai pundak Jinshin dengan tangannya yang lain. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah memijakkan kakinya dihadapan kami. Raut wajah Jinshin pun berubah. Ia tersenyum manis dan segera menghampiri oppanya, walau matanya masih menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. Aku dan Shingo tak bergerak. Tetap berdiri di tempat asal kami, tentu saja aku masih menggenggam tangan Shingo.

“Oppa. Apa oppa mencariku?” Tanya Jinshin hangat.

“Ne. Oppa hanya ingin tahu, apa adik manis oppa akan pulang dengan oppa atau tidak?” Tanya Jinki lembut.

Manis? Aku tak yakin apa Jinki sunbae masih akan memanggil adiknya seperti itu bila ia sudah mengetahui sisi lain adiknya.

“Tentu saja oppa. Aku akan menunggu oppa dikelas.” Jawab Jinshin manja.

“Baiklah. Tunggu oppa kalau begitu. 20 menit.” Ujarnya seraya mengacak rambut Jinshin pelan.

“Ya! Yoo Youngie! Apa yang kau lakukan?” Tanya Minho oppa tiba-tiba.

“Mwo?” tanyaku bingung.

Minho oppa yang berdiri dibelakang Jonghyun sunbae pun segera menghampiriku. Ia memandang sinis Shingo dan melepas genggamanku dengannya.

“Oppa! Waeyo?” tanyaku kaget.

“Ya, Shingo! Apa yang kau lakukan? Megapa kau menggenggam Yoo Youngku?” Tanya Minho oppa kesal pada Shingo.

“Mianhae hyung. Mianhandago.” Ujar Shingo.

“Ya, oppa! Ini bukan salah Shingo! Aku yang menggenggamnya. Aku yang mau melakukannya.” Belaku.

“Tapi kenapa kau menggenggamnya?” tanyanya masih dengan nada kesal.

“Karena aku ingin. Sudahlah oppa.” Ujarku tak kalah kesal.

“Ya, jangan kasar pada adikmu. Dan jangan menuduh adikku, Choi Minho” Celetuk Kibum membelaku.

“Baiklah. Terserah Yoo Youngie saja. Kau akan pulang dengan oppa atau tidak?” Tanya Minho oppa lagi.

“Aniyo oppa. Aku pulang dengan Shingo. Aku akan langsung ke bimbingan.” Jawabku.

“Araso. Shingo! Jaga adikku! Jika ia tergores sedikit saja, aku akan melakukan sesuatu padamu.” Ujarnya seraya menatap Shingo sinis.

“Ne, Hyung.” jawab Shingo santai.

“Ya! Kau pikir adikku ini apa? Dasar sister complex!” sahut Kibum ketus.

“Hhahaha. Hanya dia yang kumiliki dirumah.” Canda Minho oppa.

Ya, semenjak orang tuaku sering berkelahi, hanya aku yang dimiliki Minho oppa. Ia menjadi sedikit protektif terhadapku. Tapi tentu saja, berbeda dengan cara Jinshin melindungi oppanya.

“Apa kita jadi main basket?” Tanya Taemin sunbae memecahkan keheningan.

“Kau benar. Jinshin, oppa pergi dulu ya. Sampai jumpa 20 menit lagi.” Ujar Jinki mewakili semua.

“Ne. Aku tunggu oppa.” Jawab Jinshin manis.

“Yoo Youngie, hati-hati ya.” Ujar Minho oppa.

“Ne, oppa. Tenang saja. Ada Shingo yang akan menjagaku.” Jawabku.

“Kenapa sih? Kenapa tidak aku saja yang mengantarmu.” Tanya Minho oppa bersikeras.

“Tenanglah oppa. Ada Shingo. Oppa main basket saja. Bersenang-senanglah!” seruku.

“Sudahlah, pabbo! Sudah ada Shingo. Jangan seperti Yeoja!” ujar Jonghyun Sunbae seraya menarik Minho oppa pergi.

“Baiklah. Nanti sehabis bimbingan, langsung pulang, jangan keluyuran terlalu lama.” Ujar Minho oppa seraya berlalu pergi.

“Ne. Araso.” Jawabku.

Akhirnya mereka pun pergi. Shingo pun memegang kedua pundakku. Ia pun menghela nafas panjang.

“Oppamu itu! Protektif sekali.” Ujar Shingo.

“Ne. Mianhae Shingo. Oppaku telah kasar padamu.” Ujarku.

“Gwaenchanayo. Aku sudah terbiasa dengan ini.” Jawabnya.

“Huh… sudahlah. Ayo masuk ke kelas.” Ujar Jinshin yang sudah kembali dengan raut wajahnya semula.

Aku dan Shingo pun mengikuti Jinshin memasuki kelas yang sudah kosong itu. Aku pun kembali duduk di bangkuku dengan Jinshin disampingku dan Shingo didepanku. Ia pun memukul meja dengan kasar.

“Gadis itu! Go Hara. Tak jera juga rupanya.” Ujar Jinshin berapi-api.

Aku dan Shingo hanya diam mendengarkan. Tak ada yang berani bicara.

“Dengan semua peringatan itu, dia tak pernah jera. Dia pikir selama ini, sikapku dingin padanya berarti aku senang melihat tingkahnya? Tidak. Kali ini akan kubuat kapok.” Ujarnya dengan seringai yang tak kusuka.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Shingo.

“Aku akan melakukan sesuatu padanya. Sesuatu yang lebih. Kalian bantu saja.” Jawabnya licik.

“Ya! Hara itu teman sebangkuku.” Ujarku.

“Lalu?” Tanya Jinshin tak peduli.

“Gwaenchana. Tapi, oppaku menyukainya. Apa kita harus?” tanyaku tak yakin.

“Apa kau rela bila oppamu terus menerus sakit hati? Apa kau rela membiarkan Hara melakukan hal itu pada oppamu? Lagipula aku jamin ia sudah tak memikirkan Hara lagi.” Ujarnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Tentu saja ia tak memikirkan yeoja brengsek itu lagi, Pabbo! Diotak oppamu itu hanya ada kamu. Dirimu.” Ujarnya lagi.

“Tapi, apa yang akan kau lakukan padanya?” tanyaku lagi.

“Tenang saja. Aku pasti akan bilang pada kalian. Tinggal tunggu saja pesan dariku. Namun, kali ini kalian harus tahu. Permainan yang akan kita mainkan nanti akan sedikit berbeda.” Ujarnya sinis, dalam, dan tak kusuka.

“Kuharap kau fikirkan dulu matang-matang.” Saranku.

“Apa kau mau aku mencobanya padamu?” tanyanya kesal.

Aku pun menggeleng cepat. Walau aku tak tahu apa yang akan ia lakukan, namun aku yakin sekali kalau itu adalah sesuatu yang sangat buruk.

“Ya, jangan berdebat. Yang penting kau beritahu saja semuanya. Aku akan membantumu sebisaku.” Ujar Shingo sedikit ragu.

“Bagus. Kalian akan sangat membantu.” Ujar Jinshin.

“Baiklah. Yoo Young, mau ke bimbingan sekarang atau tidak.” Tanya Shingo.

“Boleh saja. Jinshin, apa kau tak apa-apa sendirian?” tanyaku.

“Tentu saja. Sebaiknya kalian pergi sekarang, dan jangan terlambat bila sudah kupanggil untuk menjalankan rencanaku.” Ujarnya.

“Baiklah. Sampai jumpa.” Ujarku seraya berlalu dengan Shingo meninggalkannya dikelas sendiri.

Aku dan Shingo pun berjalan berdampingan. Aku hanya menunduk seraya menerka-nerka rencana Jinshin. Kutatap Shingo yang lebih tinggi dariku. Ia tengah asyik dengan i-podnya. Kucabut salah satu headset yang ia kenakan. Ia pun memandangku bingung.

“Shingo-ah. Apa kau benar akan membantunya?” tanyaku.

“Jinshin?” tanyanya balik.

“Ne.” ujarku.

“Kenapa tidak?” tanyanya lagi.

“Apa kau tidak berfikir kalau ini sudah keterlaluan?” tanyaku.

“Ya, memang. Tapi apa kau tak pernah berfikir dengan apa yang akan ia lakukan bila kita tidak membantunya?” tanyanya.

Ya, ia memang benar. Aku benar-benar tak sanggup membayangkan apa yang akan ia lakukan padaku.

“Tapi aku takut, Shingo….” Keluhku.

“Tenanglah. Jangan terlalu dipikirkan. Untuk saat ini, jalani saja.” Ujarnya seraya mendekapku disampingnya dan terus berjalan menuju lapangan.

“Kau yakin?” tanyaku ragu.

“Tentu saja. Biarkan aku yang jadi kekuatan bagimu.” Ujarnya mantap.

“Ya, sebaiknya kau ambil motormu sebelum oppaku melihat kau mendekapku seperti ini.” Ujarku.

“Aku tak takut pada oppamu.” Ujarnya seraya mencubit kecil hidungku dan berlalu pergi.

Dasar Shingo. Ia selalu saja membuatku tegar walau aku tahu kalau ia lebih takut dan khawatir daripada aku. Hanya saja ia memiliki perhitungan yang mampu membuatnya menjadi tenang. Aku pun berdiri dibawah pohon menunggu Shingo yang tengah mengambil motor. Dari jauh bisa kulihat dengan jelas, Jinki sunbae tengah bermain basket dengan oppaku dan lainnya. Sesungguhnya aku sangat menyukai Jinki Sunbaenim. Namun aku takut dengan Jinshin, bukan takut dengan apa yang akan ia lakukan padaku. Aku hanya takut dengan apa yang akan ia lakukan pada oppaku. Itulah salah satu alasan terbesar bagiku untuk tetap mengikuti apa yang Jinshin mau. Selain itu, hanya ini salah satu cara paling aman agar aku dapat tetap memandang wajah lembut milik Jinki sunbae. Kuharap Jinshin tidak menyadari perasaanku pada oppanya.

*********************************************

Apa yang terjadi? Mengapa Jinshin memanggilku selarut ini? Sesungguhnya bukan masalah bagiku untuk memenuhi panggilannya. Masalahnya hanya pada Minho oppa. Perlu waktu setengah jam untuk izin dengannya. Itupun aku tak bilang akan menemui Jinshin dan Shingo. Aku hanya bilang akan pergi membeli pulpen. Ah… memang sulit memiliki oppa protektif. Tapi aku masih bersyukur bahwa Minho oppa tak seprotektif Jinshin. Aku pun segera mempercepat langkahku. Beberapa saat kemudian, aku pun sampai di tempat dimana Shingo sudah datang lebih dulu.

“Dasar lamban.” Ujar Jinshin.

“Mianhae. Oppaku tidak mengizinkanku pergi.” Ujarku seraya mengatur nafasku yang terengah-engah.

“Dasar Minho sialan.” Ujarnya tajam.

“Jangan bicara seperti itu pada oppaku.” Bantahku lemah.

“Apa?” tanyanya galak.

“Ya! Sudahlah. Lagipula sekarang kita semua sudah berkumpul. Cepat beritahu rencanamu.” Ujar Shingo seraya merangkulku.

“Lindungi saja ia terus. Tak pernah kau melindungiku.” Ujarnya kesal.

“Apa maksudmu?” Tanya Shingo bingung.

“Sudahlah. Tak penting. 15 menit lagi, gadis brengsek itu pulang dari tempat bimbingannya.” Ujar Jinshin.

“Go Hara maksudmu?” tanyaku memastikan.

“Jika kau menyelaku lagi, akan kutendang. Mendekatlah! Kalian mau rencanaku ini berantakan?” ujarnya.

Aku dan Shingo pun segera mendekat. Ia pun membisikan sesuatu pada kami. Sesuatu yang jahat. Aku tak sanggup membayangkan yang akan terjadi dengan Hara nanti. Kutatap wajah Shingo. Ia ikut bergidik, sama sepertiku saat mendengarnya. Kugenggam erat tangannya, ia pun balas menggenggam tanganku.

“Ya! Apa ini tak terlalu berbahaya?” Ujar Shingo.

“Berbahaya? Tenang. Kita tak akan membunuhnya. Tergantung.” Ujarnya datar.

“Tergantung? Apa maksudmu?” tanyaku kaget.

“Tergantung suasana hatiku nanti.” Ujarnya dengan seringai.

“Jinshin, kurasa ini terlalu berlebihan.” Ujarku.

“Berisik. Sekarang segera menuju tempat kalian. Ingat, kalau rencanaku gagal, kalian akan tahu akibatnya.” Ujarnya tajam.

Aku pun menelan ludah pelan. Aku dan Shingo segera menuju pos kami. Aku terus menunduk. Takut bukan main dengan rencana Jinshin. Namun, seperti malaikat, Shingo kembali mendekapku kesampingnya. Kutatap sosoknya yang lebih tinggi dariku.

“Kau takut?” tanyanya.

“Menurutmu?” ujarku pelan.

Ia hanya tersenyum dan mengacak rambutku pelan.

“Tenang saja, cantik. Aku akan menjadi pelindungmu. Bukankah sudah kukatakan itu?” tanyanya.

“Tapi ini berbeda. Oh, Shingo? Bagaimana jika kita melawannya?” tanyaku.

“Melawannya?” tanyanya kaget dengan pernyataanku.

“Iya. Kita kan berdua dan ia hanya sendiri. Mengapa tidak kita lawan?” tanyaku seraya duduk dikursi taman saat kami sudah sampai di pos kami.

“Dan melihat jasad hyungku dan oppamu esok pagi? Jangan gila!” ujarnya seraya duduk disampingku dan merangkulku.

“Aku tak tahu. Aku takut….!!! Aku tak mau melakukannya.” Erangku seraya menutup wajahku dengan kedua tanganku.

“Ya! Tatap aku!” perintahnya.

Aku pun melepas kedua tanganku dan menoleh padanya. Tanpa aba-aba, dengan pelan ia mencium bibirku. Begitu hangat dan lembut. Tapi aku tak bisa mengartikannya. Karena bagiku ciuman ini terasa datar. Walau kutahu ini adalah ciuman pertamaku. Awalnya aku harap ciuman pertamaku kulakukan dengan Jinki Sunbae, namun kurasa mustahil bila melihat Shingo yang tengah mengecupku saat ini. Tangannya masih terus merangkulku, melindungiku dari angin malam. Jemarinya mengusap punggungku pelan. Membuatku begitu nyaman. Entah sudah berapa lama, namun kurasa Shingo tak segera melepas kecupannya dari bibirku. Ia masih terus mengecupku. Terus menerus namun aku tak pernah membalas kecupannya. Aku mulai sesak dengan ini, walau aku sedikit merasa nyaman ia melakukannya padaku.

“Shingo-ah.. aku tak bisa bernafas.” Ujarku sedikit sulit.

“Mi…Mianhae.” ujarnya seraya melepas kecupannya dan rangkulannya.

Aku hanya tertunduk. Hangatnya masih bisa kurasa di bibirku. Kulirik ia yang ikut tertunduk juga.

“Mianhae YooYoung-ah. Aku tak bermaksud lancang. Kumohon maafkan aku!” ujarnya.

“Gwaenchanayo. Lagipula aku tak mengartikannya lebih meskipun itu tadi ciuman pertamaku.” Jawabku.

“Apa kau tidak membenciku? Apa kau tetap menganggapku teman?” tanyanya cemas.

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya hangat.

“Lebih dari itu. Kau akan tetap jadi sahabatku nomor satu didunia!” ujarku.

“Kamsahamnida! Aku jamin, Minho hyung akan membunuhku bila menyaksikan hal tadi.” jawabnya seraya kembali merangkulku.

Aku pun tertawa mendengarnya dan membalas merangkulnya. Beberapa saat kemudian, dari tempat bimbingan keluarlah sosok Hara.

“Dia keluar.” Ujarku.

Kami pun menunggu ia melewati kami. Saat ia melewati kami, kami pun segera mencegahnya. Tentu dengan cara yang ramah.

“Hara-ssi! Anneyong.” Sapaku seceria mungkin.

“Yoo Young-ah? Apa yang kau lakukan disini? Apa oppamu tak marah?” tanyanya.

“Aniyo. Kan ada Shingo.” Ujarku.

“Ah, anneyong Shingo-ah. Sedang jalan-jalan?” tanyanya pada kami.

“Ne. Apa kau mau bergabung?” Tanya Shingo.

“Semalam ini? Apa boleh? Apa aku tak mengganggu?” tanyanya ragu.

“Aniyo. Tentu saja tidak.” Ujarku.

“Lagipula kejadian penting sudah terjadi tadi.” Ujar Shingo asal yang segera kususul dengan menyikut pinggangnya.

“Begitu ya? Boleh juga. Baiklah! Aku ikut. Mau kemana kita?” tanyanya riang.

Tuhan.. aku tak sanggup melihat ekspresinya. Mengingat apa yang akan menimpanya nanti.

“Ikut saja. Nanti juga tahu.” Ujar Shingo mewakiliku.

Kami pun akhirnya berjalan beriringan ditrotoar menuju tempat dimana Jinshin menunggu kami. Aku bicara banyak dengan Hara. Maksudnya agar ia tidak curiga.

“Ehm.. mian. Aku mau bertemu seseorang disuatu tempat. Apa kalian tidak keberatan ikut denganku.” Ujar Shingo memulai aksinya.

Aku pun mengangguk diikuti dengan Hara. Tentu saja aku mengangguk karena mengetahui maksudnya. Kami pun berjalan menuju salah satu gudang textil. Suasana yang gelap membuat aku dan Hara takut. Hara pun mendekap erat lenganku.

“Shingo, mengapa kita ke tempat ini?” Tanya Hara takut.

“Karena aku janji disini.” Jawab Shingo singkat.

Aku hanya diam, dan menunggu rencana berikutnya. Yang aku tahu, disini Jinshin akan muncul, lalu kami mengikat tangan Hara dan membiarkan Jinshin memarahinya hingga ia ketakuatan dan jera. Tak lebih. Tapi, dimana ia? Kenapa ia belum muncul?

Bugh….

Tubuh Hara pun terhempas ke tanah. Aku menjerit sekeras-kerasnya. Dari kepala Hara mengalir darah segar. Shingo segera menghampiriku dan memelukku erat.

“Diam tolol. Kau merusak rencanaku!” ujar Jinshin kasar padaku.

“Apa yang kau lakukan Jinshin?” Tanya Shingo histeris.

“Perubahan rencana. Bukankah lebih asyik seperti ini.” Seraya melempar balok kayu yang ia gunakan untuk memukul Hara tadi.

Aku hanya diam kaku melihatnya. Jinshin pun segera mengikat tubuh Hara yang pingsan akibat pukulan tadi pada pohon. Jinshin pun segera mengeluarkan air mineral dan menyiram wajah Hara dengan kasar. Hara pun terbatuk-batuk dibuatnya. Ia pun perlahan sadar. Dan histeris saat menatap sosok Jinshin.

“Gya…. Lepaskan aku.” jerit Hara.

“Lepas? Lepas kau bilang. Katakan itu pada nenekmu.” Ujarnya kasar seraya menampar Hara.

“Aku tak pernah melakukan apapun padamu. Lepaskan aku.” jerit hara lagi.

“Tak pernah? Setelah kau memberikan hadiah pada oppaku? Bukankah aku pernah bilang bahwa Jinki itu milikku?” tanyanya seraya mencengkram wajah Hara.

“Tapi ia oppa kandungmu. Kau tak mungkin menikahinya.” Ujar Hara.

“Aku bisa menikahinya jika aku mau. Aku hanya memberikan oppaku ruang.” Ujarnya.

“Dasar Yaeoja Gila. Sinting.” Jerit Hara.

Jinshin pun meludah di wajah mungil hara. Wajah hara mulai berlinang.

“Jika kau pindah kota, aku akan melepasmu.” Ujar Jinshin tajam.

“Lepaskan aku.” jerit hara.

“Katakan yang kusuruh.” Ujarnya.

“Lepaskan aku yeoja sinting.” Jerit Hara lagi.

Wajah hara mulai berlinang. Aku tak sanggup melihatnya. Shingo terus memelukku. Aku hanya berlindung pada tubuh besar Shingo.

“Lepaskan….” Jerit Hara lagi.

“Diam!” pekik Jinshin.

“Yeoja Sinting..!!” pekik Hara.

Bugh…..

Aku pun menjerit histeris. Jinshin memukul Hara dengan batu yang ternyata sudah dari tadi ia pegang. Darah segar semakin deras mengalir dari kepala Hara. Saat Hara menggerakkan kepalanya, Jinshin kembali memukul wajahnya dengan keras menggunakan batu yang ia genggam. Begitu seterusnya setiap Hara menggerakkan kepalanya. Saat Hara meludah dihadapanya, Jinshin mulai gusar. Aku menjerit dan menangis sekencangnya melihatnya. Shingo semakin erat memelukku dan menutupi pandanganku. Jinshin pun memukuli wajah Hara dengan batu. Berkali-kali tanpa ampun hingga wajah Hara yang manis tak menunjukkan bentuknya lagi. Darah segar mulai tercecer kemana-mana. Saat Hara sudah tak bergerak lagi, Jinshin menjatuhkan tubuhnya ditanah. Tubuhnya terselimut oleh darah segar. Ia tertidur dan menatap langit. Ia pun tertawa nyaring. Seakan telah memenangkan hadiah yang special.

“Hahahaha. Membunuh itu menyenangkan! Nikmat sekali.” Ujar Jinshin dengan suara yang menggelegar.

“Kau membunuhnya.” Pekikku histeris.

“Kenapa?” ujarnya masih dengan seringai diwajahnya.

“Kau bilang hanya akan memberinya peringatan.” Ujar Shingo.

“Ya, kurasa kau harus mulai terbiasa dengan perubahan rencana, sahabatku.” Ujarnya.

Aku merinding mendengarnya. Begitu pun shingo. Tuhan… akankah aku bisa selamat untuk kedepannya. Kumohon lindungi aku dan Shingo.

****************************************************

Aku melangkahkan kakiku dengan lemas menuju kelas. Kejadian kemarin benar-benar membuatku tak bisa bicara. Pertemuanku dengan Hara kemarin benar-benar pertemuan terakhir kami. Berita Hara meninggal sudah tersebar dimana-mana. Pada berita, diduga ia dibunuh. Namun mereka belum menemukan pelakunya. Tentu saja, karena Jinshin begitu pintar menutupi semua itu.

“Yoo young-ah! Apa kau baik-baik saja?” Tanya Shingo cemas seraya menghampiriku dari belakang.

Aku hanya menatapnya lemas.

“Jangan seperti itu. Dimana senyum indah yang biasa kulihat diwajahmu, cantik?” tanyanya lembut.

“Setelah hal yang terjadi kemarin? Mana mungin.” Ujarku lemas.

Aku pun menghentikan langkahku. Shingo pun menghela nafas panjang dan membelai kepalaku pelan.

“Ya. Hentikan pemikiran itu. Aku tahu hal yang terjadi kemarin membuatmu sangat terguncang.” Ujarnya seraya memegang kedua pundakku.

Aku hanya diam mendengarnya. Kutundukan kepalaku.

“Mianhaeyo.” Ujarnya.

“Untuk apa?” tanyaku seraya mendongakkan kepalaku.

“Atas semuanya. Maaf tak bisa jadi kekuatan bagimu.” Ujarnya.

“Aniyo. Kau sudah melindungiku terlalu banyak. Kamsahamnida.” Jawabku.

“Nah, kalau begitu tersenyumlah cantik!” ujarnya seraya mencubit kecil hidungku.

“SHINGO..!!!” bentak seseorang seraya mendorong tubuhnya.

Tubuh Shingo pun terhempas ke lantai. Tanganku tertarik keras ke belakang.

“Minho oppa? Apa yang kau lakukan?” tanyaku histeris.

“Jauhi adikku! Berani kau menyentuhnya lagi, aku akan menghajarmu.” Bentaknya pada Shingo.

“Oppa hentikan. Jangan buat aku membenci oppa.” Pekikku seraya membantu Shingo berdiri.

“Mengapa kau selalu membelanya?” tanyanya kesal.

“Oppa terlalu takut. Tenang saja. Aku tak akan meninggalkan oppa.” Ujarku seraya menarik Shingo.

Aku pun membalikkan badanku dari Minho oppa.

“Ayo Shingo. Aku ingin pulang.” Ujarku.

“Kau mau kemana? Biar aku antar.” Ujar Minho oppa.

“Shiroi. Sudah ada Shingo.” Kilahku seraya pergi meninggalkan Minho oppa.

“Jangan pulang terlalu malam.” Ujarnya.

Aku tak peduli. Aku sudah terlalu marah pada oppaku. Aku pun terus menarik Shingo dan mengajaknya memasuki kelas yang kosong. Jinshin yang tengah sibuk dengan bukunya memandang kami dengan heran.

“Mworago?” Tanya Jinshin.

“Minho hyung.” ujar Shingo.

“Dasar Minho tolol.” ujarJinshin.

“Jangan hina oppanya.” Ujar Shingo.

Suasana pun menjadi hening. Jinshin kembali mengeluarkan ekspresi bencinya. Aku pun terduduk dibangkuku.

“Shingo-ah. Maafkan tingkah oppaku tadi.” Ujarku menyesal.

“Gwaenchana. Aku sudah terbiasa.” Jawab Shingo.

“Kenapa kau selalu membelanya?” Tanya Jinshin seraya menatap Shingo.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Kenapa kau selalu membelanya?” ujar Jinshin kesal.

“Lantas kenapa?” tanyanya.

“Berhenti membelanya.” Perintah Jinshin.

“Kenapa? Apa aku salah?” tanyanya.

Brak….

Jinshin pun memukul meja dengan kerasnya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Shingo.

“Berhenti memikirkankannya. Kau harus mulai memikirkanku.” Ujarnya.

“Whaeyo? Kau bicara apa?” Tanya Shingo.

“Jangan katakan lagi!” jerit Jinshin.

“Jinshin-ah….” Ujarku pelan.

“Diam kau.” Pekiknya kasar padaku.

“Jangan kasar padanya.” Seru Shingo.

“Wae? Kau melakukannya lagi! Apa kau menyukainya?” tanyanya.

Aku menatap Shingo. Ia hanya diam.

“Saranghaeyo?” Tanya Jinshin lagi.

Namun Shingo tetap diam.

“Saranghaeyo?” Tanya Jinshin lebih keras.

“Ne? Wae?” jawab Shingo.

Aku kaget mendengarnya. Aku mundur beberapa langkah. Aku tak menyangka ini semua. Jadi semua belaian itu, kecupan itu, dan pelukan itu, itu karena Shingo mencintaiku? Aku menatap Jinshin. Wajahnya menunjukan kebencian yang teramat.

“Tapi aku mencintaimu juga. Naddo saranghae.” Pekik Jinshin.

Oh tuhan. Aku telah melakukan kesalahan besar.

“Tapi aku tidak. Yang kupikirkan hanya Yoo Young!” ujar Shingo.

“Kau tak tahu sakitnya aku. Kau tak tahu sabarnya aku melihat kelakuanmu pada Yoo Young. Sekarang kau melakukan ini padaku?” pekik Jinshin.

“Mana kutahu. Yang kutahu kau hanya memikirkan oppamu. Melindungi oppamu. Jangan salahkan siapapun saat ini. Ini hanya mengenai perasaan.” Ujar Shingo.

“Mianhae Jinshin-ah. Aku tak tahu.” Ujarku seraya menyentuh pundaknya.

“Jauhi aku, dasar tolol.” Ujarnyanya tajam.

“Ya! Ayo kita pergi.” Ujar Shingo seraya mengambil tas kami dan menarik lenganku.

Aku dan Shingo pun meninggalkan ruang kelas termasuk Jinshin yang tengah mengumpat didalamnya. Kami pun berjalan menyusuri lorong. Kucoba membuka genggaman Shingo yang kuat. Namun usahaku sia-sia.

“Shingo-ah! Ada apa denganmu?” ujarku mulai menangis.

“Kumohon jangan menangis Yoo young-ah.” Ujarnya seraya menghapus air mataku.

“Mengapa kau lakukan itu pada Jinshin?” tanyaku.

“Mengapa kau bicara seperti itu?” tanyanya.

“Kau kasar tadi padanya.” Ujarku.

“Apa kau tak sadar kalau ia sering melakukan kita dengan kasar?” tanyanya.

“Tapi itu bukan Shingo. Shingo yang kukenal tak pernah kasar pada siapapun. Tak terkecuali orang yang telah menyakitinya.” Ujarku.

“Apa kau tak sadar apa yang akan ia lakukan pada kita nanti? Ia mungkin akan membunuhku jika melihat kita di taman kemarin.” Ujarnya.

“Lantas mengapa kau menciumku kemarin?” tanyaku parau.

“Karena aku mencintaimu. Apa kata-kataku kurang jelas tadi? Apa harus aku menciummu lagi saat ini?” tanyanya mulai kesal.

“Tapi.. tapi.. apa kau tak takut kalau aku tidak membalas perasaanmu?” tanyaku lagi.

“Karena aku mencintaimu, maka aku menciummu kemarin. Aku tak peduli kau akan membalas cintaku atau tidak, yang pasti aku sudah bisa menyampaikan perasaanku padamu.” Ujar Shingo.

“Tapi kelakuanmu hanya membuatnya semakin marah .” tangisku pun semakin pecah.

“Baiklah. Maafkan aku. Maafkan kelakuanku tadi. Sekarang hentikan tangismu. Kau akan terlihat buruk nanti.” Ujarnya seraya memelukku.

“Pabboya Shingo.” Ujarku  seraya memeluknya kembali.

To Be Continued

 

Ga jelas yah? Mianhae. Ini fanfic tragedy pertamaku. Aku bakal coba buat chapter berikutnya tidak seperti ini. Akan kucoba untuk buat yang lebih dari ini. And you know? I HATE SILENT READERS..!!

By: Retno Wulandhari

7 thoughts on “Secret Story {Chapter 1}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s