Love is Ouch {SongFic}

Title : Love Is Ouch

Length : Oneshot

Cast : Kim Jonghyun

Shin Seon Young

Disclaimer : I Don’t own anybody. Jonghyun belongs to Shinee. Shinee belong to SME. Shin Seon Young just in my imagination. It’s not plagiarism from another fanfic. Its my first songfic. Please enjoy my fanfic.

Oh..u..oh…

Break it down now

Oh..u..oh…

Break it down now

Break it down now

This how it’s goin’ down

(Kim Jonghyun POV)

saranghamdamnyeonseo wae

nam jakku himdeulgae hae

dodaechae mwoega bulmaninde

yojeun duleo bujjeok neuleonan ganseop

chamgyeoninal jichigae hae

“Bosan?” ujar Jinki hyung tak percaya.

“Ne.” jawabku singkat.

“Tapi…., wae? Apa kau ingat betapa sulitnya untuk mendapatkan hatinya saat sekolah dulu?” tanyanya masih tidak percaya.

“Tentu saja aku ingat, hyung. Mana mungkin aku bisa lupa. Shin Seon Young. Yeoja terindah yang pernah kulihat. Bagaimana mungkin aku lupa.” Jawabku.

“Lantas? Kenapa kau bisa bosan terhadapnya?” tanyanya masih tak percaya.

“Aku juga bingung, hyung. Aku juga heran bisa merasa seperti ini.” Ujarku bingung.

“Kasihan sekali Seon Young. Ia pasti sedih sekali mendengarnya.” Ujarnya lagi.

Ya… aku tahu sekali. Ia pasti akan sedih. Apalagi kami telah menjalaninya selama 5 tahun. Dan ini adalah tahun keenam. Tapi…. Aku juga tak mengerti mengapa. Aku juga heran dengan diriku sendiri.

******************************************************

Flashback

Aku adalah Kim Jonghyun. Siswa terbaik yang selalu menempati peringkat ketiga setelah Lee Jinki dan Kim Kibum di Namsan High School. Hari ini adalah pelajaran olahraga. Aku paling benci ini. Lebih baik aku mengerjakan soal Fisika seharian daripada harus olahraga. Aku memang payah dibidang olahraga. Apalagi hari ini materi yang diberikan adalah lari jarak jauh. Aku tak bisa melakukan ini. Lariku lamban sekali. Tuhan…. Mengapa ini harus terjadi padaku. Hwang Songsaenim pun mulai memanggil 4 orang nama dari daftar absentnya secara berturut-turut untuk di tes. Saat giliranku tiba, kurasakan badanku melemas. Apalagi lawanku adalah Choi Minho yang memiliki catatan rekor berlari yang tak sanggup aku sebutkan. Matilah aku. Bisa tak lulus aku. Aku pun mulai mengambil ancang-ancang. Kulirik Minho yang tersenyum padaku. Ugh…. Menyebalkan sekali. Saat Hwang Songsaenim mengucapkan kata ‘GO’, aku pun segera berlari dengan sekuat tenaga yang kupunya. Minho sudah melesat jauh kedepan. Kulirik sebelahku. Lee Taemin. Pria dengan berat teringan dikelas. Aku tak boleh kalah darinya. Atau harga diriku bisa imbas dibuatnya. Mulai terjadi pertandingan sengit antara aku dan Taemin. Saat aku berhasil menyusulnya, aku merasa girang sekali. Tapi tampaknya tuhan berkata lain. Kaki kananku menginjak tali sepatu kiriku. Aku pun jatuh berguling-guling ditanah. Badanku kaku tak bisa bergerak. Beberapa detik kemudian Taemin menyusulku. Damn….!!! Padahal sedikit lagi finish. Mulai kudengar tawa Minho yang meledak. Huh… kenapa ini terjadi padaku?

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jinki hyung yang kebetulan sedang berada diluar kelas membantuku berdiri.

“Gwaencanayo, hyung.” ujarku seraya berusaha berdiri.

“Jinca?” tanyanya tak yakin.

“Nan jeongmal, hyung.” ujarku memastikan.

“Ayo ke tepi. Kuobati lukamu.” Ujarnya saat melihat darah mengalir di betisku.

Ia pun membantuku berjalan. Aku pun duduk pada salah satu bangku yang kosong. Jinki hyung pun mengenakan kacamatanya dan mulai mengobati lukaku.

“Aw… sakit hyung.” ringisku.

“Siapa suruh kau jatuh?” ujarnya ketus.

“Aigo… jangan begitu, hyung.” ujarku.

“Habis kau ini. Masa lari begitu saja jatuh?” ujarnya heran.

“Hentikan, hyung. Jangan katakan apa-apa lagi.” Ujarku sebal.

Tiba-tiba, seseorang terduduk disalah satu bangku yang tak tak jauh dari tempat duduk kami. Aku pun melirik padanya. Seketika sesuatu yang hangat menjalar di tubuhku. Aku tak bisa mengedipkan mataku. Seseorang itu, tepatnya Yeoja itu tengah terduduk mengusap keringat di dahinya. Sinar matahari membuat keringatnya terlihat seperti bulir-bulir permata. Eomona? Apa yang kurasakan ini? Mengapa jantungku berdegup kencang sekali. Yeoja itu pun melirik kearahku. Atau kami tepatnya. Ia pun tersenyum, manis sekali.

“Anneyong, oppa.” Ujarnya ramah.

Omo? Ia mengenalku?

“nngg.. ak..”

“Seon Young-ah! Anneyong! Sedang latihan?” ujar Jinki hyung ramah.

Pantesan. Kupikir yeoja ini menyapaku. Huh.. bikin Geer saja.

“Ne. Oppa sendiri?” tanyanya.

“Sedang membantu namja bodoh ini.” Ujarnya seraya menunjukku.

Aku pun menginjak kakinya cepat. Gadis itu pun tertawa.

“Baiklah kalau begitu. Kutinggal dulu.” Ujarnya seraya bangkit pergi.

Aku pun menatapnya pergi. Jinki hyung pun melambaikan tangannya padanya. Bagaimana namja ini bisa mengenalnya?

“Heh! Bengong lagi.” Ujar Hyung saat melihatku tengah melamun.

“Aish… hyung ini. Bagaimana hyung bisa mengenalnya?” tanyaku.

“Hahahaha. Tentu saja. Aku kan ganteng. Siapapun pasti terpikat.” Ujarnya girang.

“Ya…! Aku serius. Lagipula charismaku lebih kuat.” Kilahku.

“Tapi tetap tak bisa mengalahkan charisma Choi Minho itu kan?” Jawabnya.

“Hentikan. Dan cepat jawab pertanyaanku.” Ujarku mulai jengkel.

“Baiklah cerewet. Dia itu salah satu gadis berprestasi di bidang olahraga. Namanya Shin Seon Young. Penggemarnya di sekolah ini banyak loh. Salah satunya si Minho itu. Termasuk aku. Aku dulu pernah menyatakan perasaanku padanya, tapi sayang tuhan berkata lain.” Jelasnya.

“Ditolak?” tanyaku.

“Berisik.” Ujarnya kesal.

“Tapi, masa namja sepertimu, si peringkat kesatu dan ketua OSIS bisa ditolak?” ujarku tak percaya.

“Itu dia. Tak ada satupun namja yang mengerti jalan pikir yeoja itu. Kau tahu? Bahkan Minho itu pun ditolak. Minho sangat kesal waktu itu. Namun ia bertekad akan merubah strategi pendekatannya. Bila kulihat sistemnya sekarang, kurasa ia akan diterima.” Jelasnya lagi.

Begitu ya? Minho saja ditolak, apa lagi aku? Apalagi aku ini hanya peringkat ketiga. Tak bisa olahraga pula. Mungkin aku akan dilempar ke rel kereta. Apa lagi Minho merubah strateginya. Semakin jelas titik terangnya tak ada untukku. Aku pun menatap gadis yang telah meregut hatiku itu. Ia tengah berlari diiringi Minho yang berlari disampingnya. Keduanya tampak akrab. Aigo…. Kasihan sekali aku ini.

“Heh? Lagi trend yang ngelamun?” Tanya Jinki hyung seraya menjitakku.

“Aish…” ujarku kesal seraya meninggalkannya.

_________________________________

Ah… sekarang aku jadi malas melihat si Minho itu. Jadi malas juga masuk kelas. Kalau sedang begini aku harus kemana? Aku paling sebal tanpa tujuan seperti ini. Samar-samar kudengar suara alunan piano. Aku pun segera mengikuti suara piano itu. Dari ruang kesenian, suara piano itu semakin terdengar jelas. Aku pun membuka pintunya pelan. Seorang yeoja tengah duduk tenang memainkan piano itu. Yeoja itu! Shin Seon Young! Ia memainkan piano itu dengan sangat piawai. Elegan sekali. Jarinya lincah sekali memainkan tuts piano. Dengan sempurna ia memainkan lagu Love Is Ouch milik 2NE1 dengan versinya sendiri. Tak kusangka, gadis yang berprestasi ini juga bisa membawakan permainan piano sebagus ini. Tanpa diduga ia pun ikut bernyanyi mengikuti permainannya.

Deo nopeun nal kkoya jeo meolli

Dalkomhan yuhokae na sokjineun ana

Saero-oon sijak eejaen eebyulae shigan

Himchgae dashi naganeun geoya

Geureoni neo yeokshi naegaesseo yeongwhoni

Jayuroweo jigil barae jigaen eesoongan

Sarabgeun eonjena a-eeya-eeya apeumdo itneun geoya

Eejae neolitneun geoya

Tak kusangka juga suaranya seindah wajahnya. Mendengar nyanyiannya membuatku merinding. Tuhan…. Aku ingin menyentuhnya. Hatiku sudah gemetar dibuatnya. Tanpa sadar aku pun ikut menyanyi bersamanya. Ia pun tampak kaget saat mengetahui aku memperhatikannya sendari tadi. Permainannya terhenti. Namun aku terus menyanyi dan menghampirinya. Aku pun terduduk disampingnya dan kulanjutkan permainan pianonya yang sempat terhenti tadi sambil terus bernyanyi. Ia pun masih duduk terpaku disampingku. Sesekali aku tersenyum padanya. Bisa kulihat jelas semu wajahnya dibawah sinar matahari. Kuharap ia merasakan apa yang kurasakan saat ini padanya. Aku pun menyudahi permainanku dan tersenyum padanya. Ia pun segera menatap arah berlawanan. Menghindari tatapanku.

“Kau Shin Seon Young kan?” tanyaku.

Ia pun mengangguk pelan dibalik tirai rambutnya yang panjang.

“Aku Kim Jonghyun.” Ujarku.

Ia pun masih diam. Aku jamin seratus persen wajahnya memerah. Aku meraih tangan kirinya. Tangannya menegang saat kusentuh. Kukecup punggung tangannya. Wajahnya semakin memerah. Neomu kyopta! Jika aku tak bisa membuatnya menerimaku. Akan kubuat ia menyatakan perasaannya padaku.

“Bagiku kau akan tampak selalu cantik dibawah sorot cahaya. Kau akan tetap bersinar dimataku.” Ujarku seraya menepuk tangannya.

Aku pun bergegas pergi. Aku tahu, saat ini ia tengah tercengang. Tapi tunggu saja. Aku tahu ia akan melakukannya.

Satu…

Dua…

Ti…

“Kim Jonghyun si peringkat ketiga.” Panggilnya.

“Wae?” ujarku lembut seraya membalikkan badanku.

“Kau mau menjadi namja chingu-ku?” tanyanya ragu.

Aku pun tersenyum padanya. Kuhampiri ia dan kembali berdiri dihadapannya.

“Ne, Chagiya.” Ujarku lembut.

Pipinya merona. Ia pun menyentuh dadaku dengan gemetar. Aku pun membelai kepalanya. Ia pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum padaku. Mission Success…

___________________________________________

“Sedang dengar apa?” tanyaku seraya membelai kepala yeojaku saat kami pulang bersama dengan bis kota.

Ya… Yeojaku. Tentu saja Shin Seon Young. Gadis terindah yang pernah kulihat. Gadis yang benar-benar membuatku jatuh cinta. Sudah hampir setahun kami jadian. Sebulan setelah hari jadi kami, satu sekolah sangat kaget dengan berita itu. Kudengar si Minho itu mengalami gejala depresi 3 hari setelah mendengarnya. Aku senang sekali. Aku merasa menjadi namja paling beruntung didunia. Kutatap sosok gadis disampingku. Ia memasangkan salah satu headsetnya di telinga kiriku. Ternyata lagu ini. Lagu Love Is Ouch yang telah diaransemen ulang dengan suaraku dan suara Seon Young yang diiringi suara acoustic gitar yang kumainkan. Sudah lima kali ia mendengarkannya hari ini selama 2 bulan berturut-turut. Ternyata ia sangat mencintai lagu ini.

“Tak bosan ya.” Ujarku seraya mencubit pipinya pelan.

“Jika aku sudah menyukai sesuatu, akan sulit bagiku untuk melepasnya.” Ujarnya.

“Apa kau juga akan sulit melepasku?” tanyaku iseng.

“Tentu saja.” Ujarnya senang.

“Apa kau sudah memutuskan akan masuk universitas apa?” tanyaku.

“Aku akan masuk satu universitas denganmu. Di Hongik university.” Jelasnya.

“Jinca?” tanyaku girang.

“Tentu saja, chagi.” Jawabnya.

Aku pun membelainya pelan. Sebulan yang lalu adalah upacara kelulusan kami. Aku ingin memberikan sesuatu untuknya. Sekaligus hadiah setahun jadinya kami. Tapi aku sudah tahu apa yang akan kuberikan nanti. Lihat saja tanggal mainnya.

“Chagiya. Aku ingin tidur di pundakmu. Gwaencana?” tanyaku.

Ia pun tersenyum padaku. Aku pun segera menyandarkan kepalaku pada dipundaknya. Nyaman sekali. Aroma tubuhnya membuatku tenang. Ia memang mampu membuat siapa saja seperti merasa di surga. Aku pun memejamkan mataku. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku.

“Tuan, bisa kau bangunkan temanmu?” Tanya seseorang dengan seragam biru muda.

“Ng… mwo? Dimana ini?” tanyaku seraya meregangkan tubuhku.

“Ini sudah di pemberhentian terakhir tuan. Bisa kau bangunkan temanmu?” ulangnya.

“Mwo? Oh, ne. Tentu saja.” Jawabku terbata.

“Kamsahamnida.” Ujarnya.

“Ne.” jawabku.

Ia pun meninggalkan kami. Aku pun segera membangunkan Seon Yong. Kuguncang tubuhnya pelan. Ia pun membuka matanya perlahan. Ia tampak bingung. Aku pun memberitahukan kalau ini sudah pemberhentian terakhir dan mengisyaratkannya untuk turun terlebih dahulu. Aku pun menggenggamnya dan berjalan disampingnya.

“Bagaimana kau bisa tertidur?” tanyaku sedikit kesal.

“Aku bosan. Aku tak punya teman berbincang.” Jawabnya menyesal.

“Tapi kau bisa membangunkanku terlebih dahulu kan?” ujarku lagi ketus.

“Mianhae. Tapi, kulihat kau lelap sekali tidurnya. Jadi kupikir…..” ujarnya tak selesai.

Aku pun berbalik menatapnya. Ia menunduk. Ia pasti sedih karena kumarahi. Aku pun memeluknya erat.

“Mianhae. Tak seharusnya aku berkata seperti itu.” Ujarku seraya membelai rambutnya.

“Gwaencanayo.” Jawabnya.

Ia memang baik sekali. Sekasar apapun aku padanya. Ia pasti akan tabah menerimanya. Tiba-tiba hujan pun turun. Aku segera menariknya untuk berlindung. Kutarik ia memasuki box telefon. Tempat itu tak begitu memberikan tempat yang leluasa bagi kami berdua. Jarakku dengannya dekat sekali. Aku merasa pipiku merona merah. Begitu pun dengannya. Ini pertama kalinya kami sedekat ini. Seperti ada sesuatu yang tak kumengerti. Aku pun mendekatkan wajahku padanya. Ia pun memandangku dengan matanya yang hitam pekat. Aku pun semakin mendekatkan wajahku padanya. Ia pun memejamkan matanya. Lampu hijau. Aku pun menyentuh bibirnya pelan. Terasa hangat sekali. Dinginnya hujan tak terasa lagi. Aku pun menyentuh wajahnya yang mungil. Tanganku yang lain menyentuh pinggangnya. Tangan kanannya pun menyentuh pinggangku dan tangan kirinya menyentuh pundakku. Kubelai pipinya tanpa berniat melepasnya. Ia benar-benar membuat malamku hangat. Membuat aku merasa memilikinya seutuhnya. Seperti aku memiliki bibirnya seutuhnya saat ini.

____________________________________________

Akhirnya aku menemukannya setelah seharian mencarinya. Ia tengah terlelap ditengah tumpukan tugas-tugas yang diberikan dosennya. Payah! Padahal ini hari setahunan kita. Ia mendengarkan apa sih hingga bisa terlelap seperti ini? Aku pun melepas headsetnya dan mendengarnya. Seharusnya aku bisa menebaknya. Ini adalah lagu Love Is Ouch yang kami aransemen ulang. Dasar! Dari dulu lagu ini tetap jadi kesukaannya. Kita lihat, apa hadiahku dapat menggantikannya? Aku pun segera mengeluarkan kabel data. Kuhubungkan i-podnya dengan i-podku. Kukirim satu lagu padanya. Segera ku set lagunya agar saat ia play, langsung terputar lagu itu. Segera kuletakkan i-podnya didepannya agar ia tak curiga. Seraya menunggunya, aku pun membuka bukuku untuk mengerjakan tugas dari dosenku sendiri. Beberapa saat kemudian ia pun terbangun.

“Sweet dream, sleeping beauty?” godaku.

“Jonghyun? Sudah lama?” tanyanya seraya meregangkan tubuhnya.

“Not yet.” Jawabku.

“Oh, baiklah.” Ujarnya seraya mengambil pensilnya dan kembali menulis.

“Ya!” Panggilku pelan.

Ia pun menoleh.

“Jangan terlalu sibuk. Aku tak mau kau jatuh sakit.” Ujarku.

Ia pun tersenyum padaku. Kubalas senyumnya. Aku pun kembali menulis. Sesekali kulirik ia dan berusaha menahan senyumku. Ia pun meraih i-podnya dan memakainya. Ia pun segera menekan tombol play. Here we go…!

Kulihat wajahnya menegang. Aku senang melihatnya. Ia pun menatapku. Aku pun segera menatap bukuku. Takut salting. Kulirik ia sesekali dan pura-pura heran. Satu… dua… Ti… Yup! Ia pun memelukku hangat. Aku pun tertawa kecil dan membelai kepalanya pelan.

“Naddo Saranghae, chagiya!” serunya lembut.

“Kamsahamnida.” Jawabku lembut.

____________________________________________

(Shin Seon Young POV)

Aku pun mengerjapkan mataku. Ugh… badanku pegal sekali.

“Sweet dream, sleeping beauty?” Tanya seseorang mengagetkanku.

“Jonghyun? Sudah lama?” tanyaku kaget seraya meregangkan tubuhku.

“Not yet.” Jawabnya santai.

“Oh, baiklah.” Ujarku seraya mengambil pensilku dan kembali menulis.

“Ya!” Panggilnya pelan.

Aku pun menoleh. Kutatap pandangannya yang lembut.

“Jangan terlalu sibuk. Aku tak mau kau jatuh sakit.” Ujarnya hangat.

Aku pun tersenyum padanya. Ia memang tak berubah. Walau ia keras padaku, ia tetap hangat dan perhatian padaku. Aku benar-benar menyukainya. Ia pun tersenyum padaku dan kembali pada bukunya. Aku pun menatap i-podku. Kuraih i-podku dan memasang headsetku. Aku pun melirik Jonghyun. Ia pun melirikku dan tersenyum kecil. Kenapa lagi namja ini? Aneh. Aku pun segera menekan tombol play. Tapi bukan hal biasa yang kudengar. Melainkan suara yang membuatku bergidik.

Saranghae… Saranghaeyo…

Saranghandago. Nan jeongmal saranghae.

Saranghamnida. Saenggakkaji marayo.

Chagiya… yeongwhoni saranghae.

Haengbokhae…

Yeongwhoni…

Yeongwhoni..

Yeongwhoni hamke handago.

Happy first anniversary.

Love you anytime, anywhere, and anything.

Suara ini. Suara lembut ini. Ini milik Jonghyun. Ia merekam suaranya di tempat berbeda. Suaranya lembut. Aku tak pernah mendengarnya berbicara seperti ini sebelumnya. Aku… aku… aku tak tahu harus melakukan apa. Aku pun menatapnya. Ia pun segera menatap bukunya. Wajahnya memerah. Ia pun berpura-pura heran. Payah! Aktingnya jelek sekali. Aku pun segera memeluknya. Kudekap ia dengan kedua tanganku. Ia pun tertawa kecil dan membelai rambutku lembut.

“Naddo Saranghae.” Ujarku lembut.

“Kamsahamnida.” Jawabnya tak kalah lembut.

End Of Flashback

******************************************************************

(Shin Seon Young POV)

“Hari ini kamu 6 tahunan kan?” Tanya Taeyon Unnie seraya menyodorkanku jus jeruk.

“Ne.” jawabku girang.

“Mau kasih apa pada Jonghyun?” tanyanya lagi.

“Molla. Aku bingung.” Jawabku.

“Terakhir kali ia memberimu apa?” tanyanya.

“Aniyo. Ia tak memberiku apa-apa.” Jawabku.

“Mwo? Jinca?” ujarnya kaget.

“Ne. Nan jeongmal.” Jawabku.

“Sudah berapa lama?” tanyanya lagi.

“2 tahun ini. Kenapa sih unnie? kenapa kau seperti mengintrogasiku?” tanyaku mulai kesal.

“Sesange! Apa kalian berkelahi?” tanyanya.

“Aniyo. Kami baik-baik saja.” Jawabku.

“Jinca?” tanyanya tak yakin.

“Ne. Nan jeongmal.” Ujarku lagi.

“Awas loh. Ada tanda-tanda orang ketiga.” Ujarnya.

Mwo? Yang benar saja. Pernyataan unnie membuat sekujur tubuhku lemas.

“Aigo unnie. Tak mungkin begitu. Itu mustahil.” Ujarku kesal.

“Ja, jangan marah. Aku kan hanya menebak.” Ujarnya.

“Tapi… unnie membuatku takut.” Ujarku.

“Tapi tidak kan? Santai saja. Selagi belum terjadi.” Ujarnya.

Aish… dasar unnie jahat. Tapi aku percaya pada Jonghyun. Ia tak mungkin melakukan itu. Aku tahu itu. Karena aku percaya padanya.

**********************************************************

(Kim Jonghyun POV)

Aku pun memainkan tabung reaksi ditanganku. Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Satu jam lagi aku kan menemui Seon Young. Ugh… apa aku harus? Maksudku, aku tidak begitu mengharapkan pertemuan ini. Karena ini artinya aku harus memutuskannya. SHIT…!! Kenapa jadi sesulit ini sih? Tapi Jinki hyung bilang padaku untuk memutuskannya hari ini. Agar ia tak merasa sakit nantinya jika tahu aku menjalani hubungan dengannya tanpa rasa. Tapi… apa harus di hari jadi kami yang ke enam? Aish… F**K **…!!! Ini sungguh menyebalkan. Kurasakan ponselku berdering. Aku pun mengangkatnya.

“Yeoboseyo…” ujarku.

“Jonghyun? Ini aku. Seon Young.” Ujar suara disana.

“Seon Young? Wae?” tanyaku.

Apa ada sesuatu? Bukankah kita akan bertemu satu jam lagi?

“Apa tak bisa kita undur pertemuan ini?” tanyanya.

“Wae? Kenapa tiba-tiba.” Ujarku heran.

“Aku merasa tak enak. Bisakah kita undur?” tanyanya.

Mwo? Aku bisa saja mengundurkannya. Tapi, aku harus mengatakan hal itu padanya. Pokoknya pertemuan ini harus jadi.

“Tapi… ini hari jadi kita ke 6. Lagipula ada yang ingin kukatakan.” Rajukku.

“Jinca? Apa itu?” tanyanya.

“Its still secret. Pokoknya kutunggu nanti di café biasa.” Ujarku.

“Hm… baiklah.” Jawabnya.

“Ok. See you later.” Ujarku.

“Jonghyunnie, jamkkaman.” Ujarnya.

“Mwo?” tanyaku.

“Saranghae.” Ujanya pelan.

Mwo? Ia masih mencintaiku?

“Yeongwhoni saranghae.” Ulangnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Apa aku yakin dengan niatku? Jujur, aku tak yakin. Hatiku yang dalam masih mencintainya. Aish… sulit sekali. Mengapa ini menimpaku?

“Naddo.” Jawabku.

Aku pun mematikan ponselku. Aku… tak tahu harus melakukan apa. Aku jadi sangat rindu padanya.

***********************************************************

Lama sekali. Dimana ia? Aku sudah menunggunya hampir 2 jam. Apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian ia pun datang. Wajahnya tampak menggigil. Apa yang terjadi padanya? Apa ia sakit?

“Kau kenapa? Kenapa kau lama?” tanyaku.

“Aniyo. Gwaencanayo.” Jawabnya.

“Jinca? Jika tahu begini, aku saja yang kerumahmu.” ujarku memastikan.

“Ne. Tadinya aku benar-benar tak ingin datang. Tapi…” ujarnya terputus.

“Waeyo?” tanyaku.

“Aku rindu sekali dan ingin bertemu.” Jelasnya.

Aku pun tersenyum padanya.

“Kau pucat sekali. Anything alright?” tanyaku.

“Ne. Gwaencanayo, chagiya.” Ujarnya.

Omo? Apa ia memanggilku chagiya tadi? Ia masih memanggilku chagiya?

“Apa yang ingin kau katakan?” tanyanya.

Uh… aku sesungguhnya tak mau melakukan ini.

“Tapi, aku ingin ke toilet dulu sebelum kau berbicara.” Ijinnya.

Aku pun mengangguk. Ia pun beranjak ke toilet. Fiuh… untunglah. Lagipula aku membutuhkan kekuatan untuk mengatakannya. Beberapa saat kemudian, ponselku berdering. Dari Jinki hyung. kebetulan sekali. Aku butuh bantuan.

“Yeoboseyo? Hyung? kebetulan sekali. Aku butuh bantuanmu.” Ujarku.

“Nanti saja. Kau ada dimana sekarang?” tanyanya panik.

“Di Café XXXXX. Wae? Kenapa panik begitu?” tanyaku.

“Seon Young. Ia mengalami kecelakaan saat hendak menemuimu. Kini ia koma dirumah sakit.” Ujarnya.

“Shin Seon Young?” ujarku memastikan.

“Ne.” jawabnya.

Aku pun tertawa. Garing sekali hyungku ini.

“Kenapa kau tertawa pabbo?” ujarnya kesal.

“Gojitmalhaji maseyo, hyung.” ujarku.

“Mwo? Aniyo. Yeojamu benar-benar koma pabbo.” Ujarnya.

“Gojitmal. Ia sedang bersamaku tahu.” Ujarku.

“Jinca?” tanyanya.

“Ne. Ia baru saja ke toilet.” Ujarku.

“Ha? Kau ngelindur ya? pokoknya kau kesini sekarang juga.” Ujarnya kesal dan mematikan teleponnya.

Mwo? Ini semua bohong kan? Kalau begitu siapa yang menemuiku tadi. Aku pun segera menyusul ke toilet wanita. Aku tahu kalau aku tak seharusnya melakukan ini. Tapi… aku harus memastikan. Tapi, toilet wanita itu kosong. Aku pun segera menuju mobilku dan bergegas menancap gas menuju rumah sakit. Kuharap Jinki hyung hanya mengerjaiku.

***********************************************************

Aku pun memandang tubuh mungil didepanku. Ia benar-benar koma. Ia tertabrak sedan saat baru keluar dari dalam taxi. Tuhan… kenapa ini terjadi padanya? Dihari jadi ke 6 ini. Kugenggam tangan kanannya erat. Andai ada sesuatu yang bisa kulakukan untuknya agar ia pulih. Jung Baksanim bilang kalau ini hanya menunggu waktu. Hajima…!! Aku pun mengusap punggung tangannya. Aku ingat aku pernah mengecup tangan ini. Kukecup keningnya.

“Saranghae.” Ujarku membisikkannya.

Sesuatu yang hangat pun mengalir dari matanya. Beberapa detik kemudian….

TIT…..TIT…..TIT….TIT………………………………………………

Seon Young pun menghembuskan nafas terakhirnya. Aku pun menangis disampingnya dengan tanganku yang terus menggenggam tangannya. Kini aku tahu kalau aku begitu menyayanginya. Mencintainya. Dan aku tak mau kehilangannya. Andai aku tak memaksanya untuk bertemu. Aigo….. mengapa penyesalan selalu datang diakhir? Aku benci mengakui ini! Tapi…. Aish! Kau namja bodoh, Kim Jonghyun. Jinki hyung pun menepuk pundakku. Ia mengisyaratkanku untuk keluar. Aku pun berjalan mengikutinya. Kututup pintu kamar Seon Young. Jinki hyung pun membalikkan badannya. Dan menyodorkanku sebuah kotak yang cukup besar.

“Kuharap kini kau bisa berfikir jernih.” Ujarnya seraya pergi meninggalkanku.

Aku pun terduduk disalah satu kursi. Kubuka kotak itu. Ada sebuah handycam dan sepucuk surat. Aku pun membuka surat itu.

Whatever you say. I will still love you.

Saranghae. Happy anniversary.

Aku pun menangis membaca empat deret kalimat itu. Kunyalakan handycam itu. Ada sebuah video di dalamnya. Aku pun segera memutarnya. Dalam video itu, terdapat Seon Yong. Ia terlihat cantik sekali. Walau ia hanya mengenakan kaos gombrang dan celana hot pants.

“Ya… Chagiya.” Mulainya.

“Aku tahu. Meski kau tak pernah mengatakannya padaku, aku tahu. Kita memang ada masalah. Tapi aku tak akan menuntut itu padamu. Kau tahu aku tak mungkin melakukan itu padamu. Kau ingat lagu ini?” tanyanya seraya memutar lagu Love Is Ouch yang dulu kami aransemen ulang.

Aku ingat lagu ini. Liriknya masih kuhafal dengan jelas.

“Aku tahu kau ingat. Kau juga ingat ini?” tanyanya seraya memutar rekaman yang kuhadiahkan padanya saat hari jadi kami yang pertama.

Aku ingat betapa sulitnya aku untuk mengatakan kata itu.

“Aku senang kau memberinya. Walau kau tak pernah mengucapkan kata itu padaku secara langsung, tapi aku tahu kalau kau memang mencintaiku. Saranghae Jonghyun-ah. Saranghaeyo. Saranghamnida. Saranghandago. Yeongwhoni saranghae. You are the biggest present in my life.” Ujarnya dan video pun selesai.

Tuhan… aku menyesal. Aku menyesal telah bersikap buruk padanya. Aku menyesal telah menyiakannya. Semoga ia tenang sekarang. Semoga senyumnya yang indah akan selalu menungguku hingga aku ke surga suatu saat nanti. Saranghae Chagiya.

Geureoni neo yeokshi naegaesseo yeongwhoni

Jayuroweo jigil barae jigaen eesoongan

Sarabgeun eonjena a-eeya-eeya apeumdo itneun geoya

Eejae neolitneun geoya

Break it down now

It’s almost over now

Nan itji ana day and night.

Eonjaena neowa hamkkaehan chu-eok

Neowa hamke chu-eok

THE END

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s