(Oneshot) Present – Next story of Love Waltz

(Hwang Yooshin POV)

Hari itu ia datang padaku. Ia pun mengatakan akan menjagaku sesuai pesan saudariku. Hwang Yoojin. Dan ia benar melakukannya. Kupikir hanya dimulut semata. Kim Yong hwa, mantan kekasih saudariku itu pun memperbaiki hubungannya denganku. Ia pun memutuskan hubungannya dengan Miseul setelah mengetahui kematian Yoojin. Aku girang sekali mendengarnya. Aku memang tak pernah menyukai Miseul. Sejak awal mengenalnya, aku tahu ia bukan yang terbaik bagi saudariku. Dan benar saja, ia merebut Yong hwa dari tangan Yoojin. Namun, aku heran mengapa Yoojin tak pernah membenci Miseul. Yoojin memang gadis yang begitu baik. Aku tak tahu siapa yang terbaik bagi Yoojin, Yong hwa atau Jonghyun. Artis yang kudengar sedang naik daun itu. Aku tahu semua sifat Yong hwa. Tentu saja, ia sudah menjalin hubungan dengan saudariku selama 2 tahun. Yong hwa memang baik. Sedangkan Jonghyun? Aku tak pernah tahu. Yoojin memang sering menceritakannya diselang waktu kami sedang bersama. Ia menceritakan Jonghyun dengan semangatnya. Menurutku Jonghyun itu seram. Masa ia selalu menguntit Yoojin? Namun herannya, saudariku itu nyaman saja dengannya. Terlebih lagi disaat ia sedih saat mengetahui Yong hwa berhubungan dengan Miseul. Dari sana aku bisa tahu kalau Jonghyun adalah pria yang baik. Hebat malah. Karena mampu membuat saudariku tersenyum dan tertawa disaat ia merasa sedih. Jujur, aku tidak bisa melakukan hal itu. Usahaku menghiburnya selalu gagal. Dan kebaikan Jonghyun sudah terbukti sekarang. Ia benar-benar menjagaku. Ia juga selalu menjengukku. Membantuku dalam segala hal. Kadang hatiku merasa tersentuh. Apa ia selalu melakukan ini pada Yoojin? Ia pasti bahagia sekali, karena Jonghyun selalu melakukannya dengan sempurna. Lalu, sebulan setelah saudariku meninggal, ia mempromosikanku pada managemen SM. Dan dalam kurun waktu 2 bulan, aku sudah melakukan debut. Bayangkan! 2 bulan melakukan trainee. Singkat sekali. Aku jamin, tak banyak artis yang melakukan trainee sesingkat aku. Selain itu, 1 bulan sebelum aku melakukan debut, aku telah resmi menjadi Yeojachingunya Jonghyun. Aku senang sekali karena pria sebaik Jonghyun bisa menjadi namjachinguku. Aku jamin akan ada berjuta gadis yang menginginkan posisiku. Namun, ada satu hal yang sangat kusayangkan. Terkadang, Jonghyun suka melakukan hal yang membuatku sedih. Ya… membuatku pedih.

“Jonghyun oppa, kau harus berjanji menyaksikanku perform hari ini kan?” Ujarku padanya saat kami berada di backstage dan aku mampir ke Ruang Shinee.

Tak ada respon.

“Jonghyun oppa..!!” panggilku lagi dengan nada yang lebih keras.

“Oh.. mwo? Minhae. Whaeyo?” tanyanya setelah berhasil kupanggil.

“Jonghyun oppa ini, sendari tadi aku memanggilmu.” Ujarku sedikit kesal.

“Ne, mianhae. Mengapa kau tak memanggilku Jonhyunie?” tanyanya heran.

“Oppa ini bicara apa sih? Oppa akan menonton performku hari kan?” tanyaku lagi.

“Mwo? Tentu saja. Tentu saja aku akan menontonmu Yoojin.” Ujarnya.

Yoojin? Apa maksudnya.

“Yoojin? Oppa, aku ini Yooshin.” Ujarku kesal.

Ia pun tampak kaget. Semua mata didalam ruangan itu pun memandang kami. Kupandang jonhyun oppa dengan sedih. Taemin pun menghampiriku dan mengelus pundakku. Ia pun mengajakku duduk di sofa yang tak jauh dari Jonghyun oppa. Kutundukkan kepalaku. Aku tahu, bayangan Yoojin dari dulu hingga sekarang tak akan pernah hilang dari hidup Jonghyun. Jonghyun oppa tak pernah berhenti mencintai Yoojin. Setiap waktu, setiap detik, ia selalu saja melamun. Dan aku tahu apa yang ia lamunkan. Selain itu di ponsel dan dompetnya, ia menyimpan begitu banyak foto Yoojin. Tak ada satupun fotoku. Padahal aku yeojachingunya.

“Mian, Yoojin. Eh… maksudku Yooshin.” Ujarnya.

“Kau ini! Diam sajalah.” Ujar Key marah.

Aku tetap menundukan kepalaku. Kulirik Taemin disampingku. Ia terus tersenyum dan menatapku. Pandangannya mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka. Manager unnie memanggilku karena ini sudah giliranku untuk perform.

“Berjuang Yooshin.” Seru Onew oppa seraya mengepalkan tangannya.

“Jangan lakukan kesalahan sedikitpun ya. Lakukan dengan sempurna.” Seru Key oppa.

Aku tersenyum memandang mereka. Sebelum keluar ruangan, kusempatkan diriku memandang Jonghyun oppa. Namun matanya tak lepas dari ponselnya. Yah… aku tak bisa melarangnya. Sudah menjadi takdir saudariku dicintai pria seperti Jonghyun.

**************************************************************

“Kau tak pulang bersamaku?” Tanya manager unnie.

“Aniyo unnie. Aku ingin naik bis.” Jawabku cepat.

“Menikmati masa-masamu sebelum benar-benar tenar? Baiklah, kalau begitu. Nikmati saja perjalananmu ini. Aku pulang duluan.” Ujarnya tersenyum padaku.

“Ne, unnie. Anneyong.” Ujarku seraya melambaikan tanganku.

Seketika suasana pun hening. Sudah sepi. Apa semua sudah pulang? Aku pun berjalan pelang dilorong SBS yang panjang itu. Namun aku menyempatkan ke mesin minum otomatis. Kumasukkan uangku dan menekan tombol jus jeruk. Kaleng yang dingin membuatku tak berfikir panjang untuk meminumnya. Segar sekali! Setelah letih melakukan perform, minum jus jeruk adalah jawaban dari segalanya.

“Aku menonton performmu. Bagus sekali.” Ujar Minho oppa yang tiba-tiba muncul disampingku.

“Oppa, anneyong.” Ujarku kaget.

“Tak perlu begitu. Santai saja. Kau belum pulang?” tanyanya.

“Aniyo, oppa.” Jawabku.

“Kenapa tidak bersama manager Noona?” tanyanya.

“Hm.. aku ingin naik bis saja.” Ujarku.

“Bis? Kenapa bis? Kenapa tidak dengan Jonghyun?” tanyanya.

“Tidak usah. Aku tahu Jonghyun oppa sangat sibuk. Aku tak mau membebaninya. Lagipula sudah lama aku tidak menaiki bis umum seperti dulu.” Jelasku.

“Oh, begitu. Oh, ya! Selamat ya atas lagumu yang menduduki peringkat pertama. Baru 3 hari debut kan?” ujarnya.

“Ne, oppa. Gasahamnida.” Ujarku.

“Kalau begitu aku pulang naik bis juga deh.” Ujarnya.

“Mwo? Untuk apa?” tanyaku.

“Aku juga ingin naik bis seperti orang biasa. Aku takut ada yang menggodamu dimalam selarut ini. Lagipula jam segini, bis tak akan sepenuh itu kan?” ujarnya.

“Baiklah kalau begitu.” Ujarku singkat.

Kami pun mulai bergegas meninggalkan mesin minuman otomatis. Kami bergegas menuju halte terdekat karena waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Saat bis tiba, kami pun segera menaikinya. Ia pun mempersilahkan aku duduk duluan, kemudian ia duduk disampingku.

“Oh, ya. Sebelumnya aku mau meminta maaf atas ulah hyung-ku tadi.” Ujarnya mengingatkanku dengan kenangan burukku itu.

“Tak apa oppa. Aku sudah terbiasa. Nanti juga ia akan bisa mengingat namaku dengan benar.” jelasku.

“Terbiasa? Apa ia sering melakukannya?” Tanya Minho oppa kaget.

“Aniyo. Jangan panik begitu oppa. Aku baik-baik saja kok.” Jelasku lagi.

“Jangan begitu. Hyung-ku itu memang keterlaluan. Aku akan berbicara dengannya nanti.” Belannya.

“Tak perlu. Hanya akan membuang waktumu saja.” Ujarku.

“Jangan seperti itu. Aku senang membantumu.” Ujarku.

“Bukan begitu, oppa. Aku sudah bisa menerimanya kok. Dari awal, aku sudah menyadari kalau cinta jonghyun oppa hanya pada Yoojin saja. Memang, celah untuk aku masuk ke hatinya hampir tak terlihat. Namun aku yakin, suatu saat ia akan bisa menerimaku. Aku percaya itu.” Ujarku optimis.

“Semangat yang bagus! Baiklah, aku akan mendukungmu.” Ujarnya.

“Gomawo oppa.” Ujarku.

Setelah itu, kami pun mulai berbicara banyak. Ia menceritakan banyak hal yang sering terjadi di SM. Minho oppa bilang, management SM sering salah dalam mengambil suatu langkah. Namun mereka bisa dengan mudahnya mengeluarkan artis-artis yang berkualitas. Ia juga menceritakan bagaimana sifat Jonghyun oppa padaku. Minho oppa bilang sifat Jonghyun oppa itu manis sekali. Sejak dulu sifatnya memang cuek, namun entah mengapa sifat cueknya semakin menjadi-jadi. Terutama saat kepergian Yoojin. Yah…. Aku bisa lihat itu.

“Oppa, aku sedang membuat coklat untuk Jonghyun oppa. Menurutmu, apa ia akan menyukainya?” tanyaku.

“Sungguh? Apa kau membuat untukku juga?” tanyanya.

“Tidak. Tapi aku janji akan menyisakannya untukmu.” Ujarku.

“Huh, sisa. Buatkan khusus untukku juga dong.” Ujarnya manja.

“Iya, nanti aku buatkan. Tapi kira-kira Jonghyun oppa suka tidak?” tanyaku lagi.

“Suka kok. Ia suka makanan manis.” Ujarnya.

“Baiklah. Aku akan memberinya besok.” Ujarku semangat.

“Oke, Hwaiting! Kau tahu dimana aku turun?” tanyanya tiba-tiba.

“Hah? Oppa tak tahu harus turun dimana?” tanyaku kaget.

“Jangan berekspresi seperti itu. Sudah berapa lama aku tidak naik bis umum tanpa diiringi kru?” Jelasnya.

“Hm… sekarang kita sudah melewati Blok G, berarti oppa turun di halte H. Halte didepan itu.” Jelasku.

“Begitu. Baiklah! Terima kasih Yooshin atas perjalanan yang menyenangkan ini.” Ujarnya.

“Ne, gasahamnida oppa. Aku juga senang. Semoga kita bisa berbincang lebih banyak lagi.” Ujarku.

“Ne. Sampai jumpa di SBS esok. Kuharap kau tak terlambat, sebab aku akan comeback dengan album baruku, Lucifer.” Ujarnya senang.

“Ne, oppa. Anneyong.” Ujarku.

Ia pun beranjak dari duduknya dan segera menuruni bis itu. Sebelum bis benar benar meninggalkan Halte H, ia melambaikan tangannya padaku. Kubalas juga melambainya. Dengan jahil, ia menjuntai tangannya keatas membentuk hati. Mulutnya mengucapkan kata Hwaiting. Aku pun tertawa kearahnya. Tak lupa mengucapkan Gasahamnida kepadanya. Dasar Minho oppa!

**********************************************

(Choi Minho POV)

“Hyung? malam sekali!” ujar Taemin seraya menyambutku diambang pintu.

“Mianhae. Mana yang lain?” Tanyaku.

“Sudah tidur. Meraka kelelahan sekali. Kami pikir kau tertinggal di SBS, maka dari itu manager hyung menyusulmu. Hyung harus me-sms-nya.” Jelasnya.

“Ne. araso.” Jawabku seraya mengeluarkan ponselku.

“Tapi bagaimana hyung bisa sampai disini? Naik apa?” tanyanya lagi.

“Aku naik bis.” Ujarku seraya terduduk disofa.

“Bis? Bis? Bis apa? Apa bis dalam arti sesungguhnya?” Tanya taemin konyol.

“Tentu saja. Kau ini konyol sekali.” Ujarku.

“Tapi dengan siapa? Mana bisa hyung naik bis.” Ujarnya.

“Enak saja. Aku kan pria, tentu aku bisa naik bis (apa hubungannya?). Aku pulang dengan Yooshin.” Ujarku.

“Yooshin? Maksudmu Yooshin yeojanya Jonghyun hyung?” tanyanya.

“Tentu saja. Siapa lagi?” tanyaku.

“Hyung ini. Senang sekali menyulut api. Kalau Jonghyun hyung marah bagaimana?” Tanyanya lagi panik.

“Aku tak begitu khawatir. Lihat saja sifatnya! Cuek sekali pada Yooshin.” Jelasku.

“Tetap saja hyung. Statusnya kan sudah menjadi milik Jonghyun hyung.” ujarnya.

“Aku tak peduli. Aku rasa ia lebih baik bersamaku.” Ujarku.

“Mwo? Hyung bicara apa sih? Apa ini artinya hyung menyukai Yooshin?’ tanyanya.

“Menurutmu? Kalau menurutku sih, kuharap begitu.” Ujarku asal.

“Hyung gila.” Ujar taemin singkat.

***************************************************

Aku tersandar lemas. Kupegang netbookku dengan tak bersemangat. Kupandang layar netbook yang memajang fotoku dan Minho oppa.

Artis muda, Hwang Yooshin, melakukan kencan buta dengan

Minho ‘Shinee’. Lantas bagaimana hubungannya dengan Jonghyun ‘Shinee’?

ARGH….!!!! Bagaimana ini bisa terjadi? Aku kan tak ada hubungan apapun dengan Minho oppa. Kami hanya seperti keluarga biasa saja. Jahat sekali mereka membuat informasi seperti itu. Kira-kira apa respon Minho oppa ya?

“Yooshin..!!” panggil seseorang hangat.

“Key oppa? Anneyong! Bagaimana comeback stage-nya? Sukses kan?” tanyaku hangat kepada Key oppa.

“Sukses. Lancar sekali. Kau sudah membaca berita itu?” tanyanya.

“Berita apa, oppa?” tanyaku bingung.

“Jangan berbohong padaku. Gosipmu dengan Minho?” ujarnya.

Ah… tentu saja!

“Belum. Aku kan baru datang. Memang gossip apa?” tanyaku berpura-pura.

Key oppa pun menatapku dengan curiga. Aku hanya tersenyum seadanya padanya. Ia pun meraih Netbook ditanganku. Aku mencoba menahannya, namun tenaganya lebih kuat daripada aku. ia pun menatap layat netboollu dan menggelengkan kepalanya.

“Ternyata kau sedang membacanya. Mengapa kau bohong padaku?” tanyanya.

“Mianhae oppa. Aku tak bermaksud seperti itu.” Jelasku.

“Lalu bagaimana menurutmu?” tanyanya.

“Menurutku? Entahlah oppa! Kepalaku hampir pecah. Aku takut bertemu Jonghyun oppa. Apa ia mengetahuinya?” tanyaku khawatir.

“Hm… entahlah. Ia sendari tadi diam saja. Memandang ponselnya.” Jelasnya.

“foto Yoojin?” tanyaku cukup cemburu.

“Entahlah. Sejak pagi ia galak sekali. Aku yang mau mengintip saja hampi dibentak.” Ujarnya.

“Uhm… aku takut oppa.” Ujarku takut.

“Tenang saja. Masukkan kembali netbookmu ketas-mu!” perintahnya.

Aku pun mengangguk dan mengambil netbookku dari tangannya dan memasukannya kedalam tasku. Aku menghela nafas panjang.

“Aku jamin semua akan baik-baik saja. Kau temui saja ia dulu.” Ujarnya.

“Baiklah oppa.” Ujarku lemas.

Selintas, aku melihat Jonghyun oppa melewati kami. Seketika aku teringat dengan coklat yang kubuat khusus untuknya.

“Maaf oppa. Aku pergi dulu.” Ujarku pamit.

Aku pun segera berlari kearah Jonghyun oppa. Kudengar suara Key oppa memanggilku dan langkah kakinya mengejarku. Namun aku tak mengubrisnya. Aku terus berlari kearah Jonghyun oppa dan menghentikan langkahnya.

“Oppa, tunggu.” Ujarku bersemangat.

“Yoojin?” tanyanya kaget.

Yoojin? Mulai lagi deh!

“Yoojin? Aku Yooshin, oppa!” ujarku sedikit kesal.

“Ah, maaf. Sedang apa kau disini? Bukankah jam tampilmu nanti sore?” tanyanya.

“Aku ingin memberi oppa ini.” Ujarku seraya mengeluarkan coklat dari dalam tasku.

Aku pun mengulurkan coklat itu padanya. Ia pun tak menerimanya. Hanya memandangnya saja.

“Aku tak suka makanan manis.” Ujarnya.

“Gojitmal. Aku tahu oppa, akan menyukainya.” ujarku.

“Aku serius. Kau beri saja pada yang lain.” Ujarnya seraya membalikan badannya.

“Tapi aku membuatnya khusus untuk oppa.” Ujarku sedih.

“Mianhae.” Ujarnya dan mulai berjalan.

Kenapa sih? Ini buka pertama kalinya ia bilang begitu. Saat aku membuatkan makan siang untuknya pun ia bilang tak suka. Pokoknya setiap aku memberinya sesuatu, ia pasti menolaknya. Tak jarang hasil masakanku untuknya dihabiskan Onew oppa atau Taemin pada akhirnya. Menyebalkan.

“Oppa marah soal gossip itu?” tanyaku sehingga menghentikan langkahnya.

“Gosip apa?” tanyanya seraya membalikkan badannya.

“Gosipku dengan Minho oppa” jelasku.

“Oh, gossip itu. Biasa saja.” Ujarnya santai.

“Gojitmalhaji maseyo. Oppa pasti marah padaku.” Ujarku lagi.

Setidaknya itu lebih baik. Dengan marah padaku, bukankah aritnya ia masih memikirkanku? Setidaknya aku ada dimatanya.

“Tidak.” Ujarnya singkat.

Tuhan… kuatkan hatiku.

“Untuk apa aku marah. Lagipula Yoojin hanya menyukaiku kan?” ujarnya lagi.

Yoojin?

“Oppa, aku Yooshin.” Ujarku berusaha menahan tangisku.

Ia pun memandangku. Ia pun menghampiriku dan membuka kotak coklatku. Ia pun mengambil satu lalu memakannya. Selanjutnya ia tersenyum padaku.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Sudah ya, aku mau ke autorium dulu.” Pamitnya dan bergegas pergi.

Hatiku sakit sekali. Sekarang pun ia meninggalkanku seperti ini. Walau ia memakan coklatku, namun wajahnya tak menunjukan rasa terima kasih. Hanya iba yang ada diwajahnya.

“Yooshin! Apa kau tadi melihat comeback stage-ku?” Tanya Minho oppa mengagetkanku.

Aku hanya tersenyum kecil padanya. Saat ini aku tak sanggup berbicara. Bila aku berbicara, tangisku akan tumpah.

“Kau sudah dengar gossip itu? Kurasa itu hebat, ada-ada saja.” Ujarnya.

Hebat? Keterlaluan. Aku susah sekarang dibuatnya.

“Mungkin kita bisa lebih menjadi dekat dari itu.” Ujarnya lagi.

“CUKUP. Cukup dan tinggalkan aku sendiri.” Bentakku.

“Hah? Kau kenapa?” tanyanya saat melihat air mataku yang mulai turun.

“Pergi!” usirku padanya.

Ia pun menurut dan meninggalkanku. Kurasa ia paham kondisiku. Kulempar coklat ditanganku dan terduduk dilantai. Aku menangis sejadinya. Semua jahat. Tuhan… mengapa kau lakukan ini padaku?

“Yooshin! Kau baik-baik saja.” Ujar Key seraya menghampiriku dan merangkulku.

Aku pun memeluknya. Tangisku semakin tumpah dalam peluknya. Ia pun membelaiku pelan.

“Sudah. Ada oppa disini. Semua akan baik-baik saja.” Ujarnya lembut.

“Ia membenciku oppa. Tak bisakah ia mengganti yoojin dengan diriku. Aku sakit hati setiap ia memanggilku Yoojin. Aku bukan Yoojin! Aku bosan menjadi bayang-bayang Yoojin dimata Jonghyun oppa. Tak bisakah ia belajar mencintaiku?” Ujarku tersedu-sedu.

“Anak itu! Biar aku menghajarnya.” Ujar Key mulai gusar dan mulai beranjak.

“Jangan oppa. Kumohon.” Ujarku menahannya.

“Kenapa? Ia mulai keterlaluan!” ujarnya seraya duduk disampingku lagi.

“Aku tak bisa.” Ujarku.

“Whaeyo? Berhenti melindunginya Yooshin!” ujarnya kesal.

“Kumohon oppa. Demiku.” Pintaku.

“Arh….. kau terlalu baik bainya.” Ujarnya seraya memelukku.

Habis aku bisa apa? Aku tak sanggup.

****************************************************

Sudah tiga hari aku tak berjumpa dengannya. Jahat sekali! Bahkan menanyakan kabarku saja tidak. Ia memang tak pernah memikirkanku.

“Apa yang terjadi setelah itu?” Tanya Taemin polos untuk yang kedua kalinya.

“Sudahlah. Berhenti menanyaiku tentang hal itu.” Pintaku seraya menyeka keringatku.

“Aku kan ingin tahu. Jonghyun hyung memberitahuku dengan nada santai. Aku tak mengerti.” Jawabnya.

“Berarti kau tak perlu tahu Taemin-ah.” Ujarku.

“Lalu, mengenai gossip itu?” tanyanya lagi.

“Entahlah. Aku sudah malas. Aku tak mau memikirkannya.” Ujarku.

“Baiklah. Maafkan aku.” ujarnya.

“Begitu dong. Coba kau diam seperti ini dari tadi, Taemin-ah.” Ujarku seraya duduk dilantai ruang latihan yang dingin.

“Yooshin-ah. Mengapa kau memanggilku Taemin? Aku kan lebih tua.” Ujarnya seraya menggembungkan pipinya.

“Ah, hanya beda 6 bulan. Untuk apa?” ujarku santai.

“Tidak sopan! Sini bagi minummu.” Ujarnya seraya merebut minum dari tanganku.

Ia pun meneguk minumanku. Dasar anak kecil. Tapi, aku memang salah. Aku tak mau memanggilnya oppa. Pernah aku memanggilnya oppa, namun itu hanya membuat jantungku berdegup hebat. Juga tak berani memandang matanya langsung. Pernah aku melakukannya, namun itu hanya membuat tubuhku lemas. Mengingat saat itu, membuatku melamunkan Taemin.

“Yooshin, mengapa melamun?” tanyanya.

“Mwo? Maaf, ada apa?” tanyaku kaget.

“Aku Tanya, kau mau makan tidak?” tanyanya lagi.

“Oh, iya. Aku pesan apa ya?” ujarku seraya berfikir.

“Jangan sebut. Aku tahu! Shinseollo kan?” ujarnya.

“Bagaimana kau tahu? Seingatku aku tak pernah mengatakannya padamu.” Ujarku.

“Tentu saja. Aku kan suka pada Yooshin.” Ujarnya.

“Suka? Apa maksudmu?” tanyaku malu.

“Hm… suka. Ya suka pokoknya. Ah, sudahlah. Aku mau pesan dulu.” Ujarnya malu dan segera megambil ponselnya.

Apa maksud perkataannya? Apa ia hanya menggodaku saja. Dasar jahil. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali dan duduk disampingku.

“Yooshin, bagaimana hubunganmu dengan Minho hyung?” tanyanya.

“Hah? Mengapa kau tiba-tiba menanyakan itu?” tanyaku.

“Tidak. Hanya saja, tidak sedekat dulu.” Ujarku.

Yah, ia benar. Dulu kami memang dekat. Ia teman curhatku. Tapi semenjak saat itu, aku menjadi segan padanya.

“Entahlah. Aku jadi segan padanya sekarang. Gara-gara kejadian saat itu, aku jadi segan padanya. Aku tak enak sudah membentaknya. Maukah kau menyampaikan maafku padanya?” tanyaku.

“Tentu saja. Aku senang membantumu.” Ujarnya.

Ah… senyum itu! Aku tak tahan. Senyumnya yang hangat dan tulus sering membuatku tak tahan.

*************************************************************

(Kim Jonghyun POV)

“Hyung, Yooshin meminta maaf padamu atas sifatnya tempo hari.” Ujar Taemin pada Minho.

Aku yang sedang membaca buku pun menoleh pada mereka yang sedang menonton TV.

“Kapan kau bertemu dengannya?” Tanya Key.

“Saat latihan. Kami kan ada dijadwal yang sama.” Jelas taemin.

“Katakan juga aku minta maaf. Sampaikan juga aku rindu berbincang dengannya.” Jawab Minho.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dan kembali membaca bukuku. Namun sesuatu menggantung pelan di leherku. Aku pun menoleh dan menatap pria yang tengah menatapku.

“Mwo?” tanyaku.

“Ya, judes sekali. Kau cemburu ya?” goda Onew hyung.

“Apa yang kau katakan? Aneh!” ujarku.

Kulihat Minho tertawa kearahku. Dengan tawa yang tak kusuka.

“Bilang saja kau takut ia berpaling padaku.” Ujarnya.

“Tidak.” Ujarku santai.

“Kau ini. Minta maaflah pada Yooshin.” Ujar Key.

“Kau bicara apa sih?” tanyaku heran.

“Tindakanmu itu, kejam sekali untuk takaran seorang wanita.” Ujarnya lagi.

“Biasa saja. Tak perlu melebihkan.” Ujarku.

“Kau tahu yang melebihkan.” Campur Onew hyung.

“Aku tak melakukan apa-apa.” Ujarku seraya menaruh bukuku disampingku.

“Kau cuek sekali padanya. Ia kan Yeoja-mu. Setidaknya perhatikan ia. Jangan bersifat begitu.” Ujar onew hyung.

“Aku tidak cuek padanya.” Belaku.

“Itu kan perasaanmu saja. Kau itu dingin sekali padanya.” Sambungnya.

“Tak mungkin aku cuek padanya. Masa aku tega pada Yoojin.” Ujarku.

Mereka pun memandangku. Aku menatap mereka bingung. Ada yang salah?

“Kau ini. Tak bisakah berhenti memikirkan Yoojin. Kau harus menerima Yooshin dalam dirimu. Kau harus menerima Yoojin telah tiada.” Ujar Key.

“Ya, aku tau. Aku hanya salah sebut.” Belaku.

“Sesering itu? Kejam sekali.” Ujar Key lagi.

“Yooshin itu baik sekali. Ia sangat sayang pada hyung.” ujar Taemin.

“Aku tahu. Yoojin memang hanya sayang padaku.” Ujarku.

“Tuh kan! Kau melakukannya lagi.” Ujar Onew hyung.

“Biarkan saja ia bersamaku.” Ujar Minho ketus.

“Kalian ini, berisik sekali. Berhenti mencampuri kehidupanku.” Ujarku dan bergegas pergi dari dorm.

Dengan kesal, aku pun melangkah menuju lift. Kupencet tombol LG. kesal sekali aku dengan orang-orang di Dorm. Apa hubungan mereka? Urusan sekali mereka mengurusiku. Saat tiba, segera aku keluar dari dalam lift dan bergegas keluar gedung apartemen ini. Namun, mataku menangkap sesuatu yang menyebalkan. Lebih menyebalkan dari orang-orang di Dorm. Kim Yong hwa. Aku pun memandangnya ketus dan melewatinya tanpa melihatnya. Menganggap ia tak ada.

“Mau bicara?” tanyanya padaku tiba-tiba.

Aku pun berbalik dan memandangnya.

“Untuk menghilangkan pikiran burukmu padaku. Aku tahu café yang bagus.” Ujarnya.

Yah…. Pikiranku memang penuh akan pikiran buruk tentangnya. Aku pun mengangguk. Ia pun tersenyum dan mengajakku untuk mengikutinya. Aku pun mengikutinya dengan diam. Tak butuh waktu lama. Sebentar pun kami sudah sampai. Tempatnya cukup nyaman. Aku tak tahu ada café seperti ini di sekitar rumahku. Terang saja. Mana ada aku waktu untuk jalan-jalan di daerah ini. Ia pun memesan 2 cappucino. Dengan cepat, pesanan kami pun datang.

“Apa yang mau kau bicarakan?” tanyaku ketus.

“Santai sajalah. Minum saja dulu cappucinomu.” Ujarnya pelan.

“Tidak. Katakan sekarang.” Tegasku.

“Hm…. Baiklah.” Ujarnya seraya meletakkan cangkirnya.

Aku punmenunggunya berbicara. Ia pun memandangku ramah. Namun panas hatiku tak meresponnya.

“Sebesar apa cintamu pada Yooshin?” tanyanya.

“Apa urusanmu?” tanyaku ketus.

“Karena dia Yooshin. Ia bagai adik kandung bagiku.” Ujarnya.

“Sudahlah. Jangan urusi urusanku dan Yoojin.” Ujarku.

“Yoojin?” ulangnya kaget.

“Mian, Yooshin maksudku.”ralatku.

“Kau masih memikirkan Yoojin?” tanyanya berlebihan.

“Tak perlu seperti itu. Santai saja.” Ujarku santai.

“Ia pasti merasa sakit hati sekali.” Ujarnya seraya meneguk cappucinonya.

“Apa maksudmu?” tanyaku mulai gusar.

“Kau memanggilnya Yoojin. Padahal sudah jelas Yoojin telah tiada dan ia adalah Yooshin. Kau adalah Namjachingunya. Siapa yang tidak terluka bila kekasihnya masih menyukai saudari kembarnya yang telah tiada? Sama saja saat kau cemburu padaku saat Yoojin menceritakan tentangku padamu.” Ujarnya.

“Tak perlu kau bawa masa lalu. Lagipula apa kau tak memikirkan Yoojin?” tanyaku heran bercampur kesal.

“Aku memikirkannya. Namun aku harus menerima bahwa ia telah tiada. Aku harus terus maju tanpa bayang Yoojin. Kau tahu, bila aku melewati hidup dengan memikirkan Yoojin, itu tak akan mudah. Sama saja sepertimu. Tak mudah kan melewati hari dengan bayang Yoojin?” tanyanya.

“Aku bisa! Karena aku mencintai Yoojin. Tak sepertimu. Mempermainkannya.” Ujarku.

“Kau tak tahu apa-apa, kau tak tahu bagaimana jalan cerita hidup kami. Walau ia menceritakannya, itu hanya seperlimanya saja. Kau tak tahu jalan hidup kami jauh sebelum kau mengenal Yoojin. Terkadang kau harus berfikir jernih dalam melakukan segalanya. Seperti saat kau menyatakan perasanmu pada Yooshin. Lagipula itu bukan cinta, kau hanya memaksa Yoojin ada.” Ujarnya.

“Berhenti bicara seperti itu.” Ujarku mulai gusar.

“Mengapa kau bilang begitu? Terlihat jelas bahwa kau tak memiliki rasa lebih pada Yooshin. Kau hanya mempermainkannya.” Ujarnya mulai gusar juga.

“Mengapa kau malah marah padaku? Seharusnya aku yang marah padamu.” Ujarku.

“Karena kau hanya mempermainkan Yooshin. Kumohon, jangan beri ia harapan kosong.” Ujarnya.

“Aku tak mempermainkannya.” Belaku kasar.

Bugh…….

“Argh… apa yang kau lakukan hah?” tanyaku berang saat mendapati diriku dilantai.

“Berhenti membohongi dirimu sendiri. Yoojin tak ada. Ia hanya masa lalu. Jangan permainkan Yooshin maupun dirimu sendiri.” Pintanya.

“Cukup. Aku tak mau dengar.” Ujarku kesal.

“Setidaknya, jangan kau menyatakan cintamu pada Yooshin hanya karena semata-mata ia persis dengan Yoojin. Jaga perasaannya. Kau hanya membuat Yoojin sedih dialam sana.” Ujarnya seraya pergi meninggalkanku.

Kuseka darah yang mengalir melalui ujung bibirku. Dengan berat, aku harus mengakui bahwa ia benar kali ini. Aku memang jahat. Namun aku juga tak bisa melupakan Yoojin. Kepergiannya yang cepat membuatku tak bisa menerima hal ini dengan baik. Aku masih terlalu mencintainya. Yooshin memang mirip dengan Yoojin. Perish malah. Namaun, walau rupa dan sifat yang sama, mereka tetap berbeda.Yooshin tetap Yooshin. Dan Yoojin tetap Yoojin. Gadis manisku. Aku tak dapat memungkiri itu. Aku memang harus bicara dengan Yooshin. Menjelaskan semuanya.

*************************************************

(Hwang Yooshin POV)

Aku bingung sekali. Mengapa Jonghyun oppa mengajakku bertemu selarut ini? Apa ada sesuatu yang buruk? Kuharap tidak. Aku tak mau hal buruk terjadi padanya. Kupercepat langkahku menuju persimpangan dekat apartemen oppa. Kucari sosoknya disekitar taman. Ketemu! Ia sedang duduk dan menundukkan kepalanya. Ada apa?

“Oppa, ada apa mencariku semalam ini?” tanyaku seraya menghampirinya.

Ia pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum padaku. Tunggu? Apa yang ada disudut bibirnya? Apa itu luka?

“Oppa, apa yang terjadi dengan wajahmu?” tanyaku seraya memegang dagunya panik.

“Tadi aku bertemu dengan Yong hwa.” Ujarnya pelan.

“Apa Yong hwa oppa yang melakukannya? Biar aku bicara dengannya.” Ujarku kesal seraya membalikkan badanku.

“Tunggu.” Ujar Jonghtyun oppa menarik tanganku.

“Whaeyo? Ini sudah keterlaluan, oppa.” Ujarku.

“Sudahlah. Duduklah disampingku.” Ujarnya.

Aku pun mengangguk pelan dan duduk disampingnya. Ia pun menghela nafas. Aku terus menunggunya berbicara.

“Maafkan kelakuanku yang tempo hari ya.” Ujarnya pelan.

“Gwaenchanayo, oppa. Aku sudah memaafkannya oppa.” Jawabku.

“Maafkan juga atas kelakuanku yang dulu-dulu.” Ujarku.

“Sungguh?” tanyanya lagi.

“Ne, oppa. Nan jeongmal.” Jawaku lagi.

Ia pun menghela nafasnya. Aku terus menatapnya. Bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Mengapa oppa berubah?

“Sebenarnya oppa memanggilku kemari ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan?” tanyaku pelan.

“Ya. Ada sesuatu yang harus aku katakan.” Ujarnya lembut.

Ini pertama kalinya Jonghyun oppa berkata selembut ini. Ada apa ini? Oppa aneh sekali.

“ Oppa, sebenarnya ada apa? Kau membuatku takut.” Ujarku.

“Hahahaha. Kau ini, konyol sekali.” Ujarnya seraya mengacak rambutku pelan.

“Oppa, kumohon hentikan. Aku benar-benar takut.” Ujarku serius seraya menurunkan tangannya dari kepalaku.

“Ada yang mau kuktakan padamu.” Ujarnya pelan.

Aku pun terdiam dan menunggunya berbicara. Ia hanya tersenyum padaku. Senyum yang tak pernah kudapat sebelumnya.

“Sebaiknya kita sudahi saja.” Ujarnya.

“Sudahi apa oppa?” tanyaku polos.

“Hubungan kita.” Tegasnya.

“Mengapa oppa berubah pikiran?” tanyaku.

“Entahlah Yooshin. Kau tahu aku begitu menyukai Yoojin. Aku selalu mencoba menerimamu dalam hidupku. Namun, yang kulihat darimu hanya sosok Yoojin. Sosok Yoojin yang lebih lepas. Itu membuatku semakin sering memikirkannya. Aku tahu ini salah. Aku harus bisa menerima kematiaannya. Namun, ternyata aku tak bisa. Ada banyak alasan yang tak mungkin aku katakan. Namun, kau harus tahu satu hal. Aku tak mau menyakitimu. Aku menyayangimu. Namun hanya sebagai saudara Yoojin dimataku. Mianhaeyo.” Ujarnya.

Aku tak bisa berkata apapun. Entah mengapa, aku tak sedih mendengarnya. Justru aku merasa lega. Setidaknya aku tak akan bertepuk sebelah tangan. Lagipula, mengingat ia tak salah menyebut namaku sudah membuatku senang.

“Kau marah?” tanyanya.

“Aniyo.” Jawabku singkat.

“Jinca?” tanyanya lagi.

“Justru aku merasa lega. Aku yakin oppa pasti heran. Namun setidaknya ini membuat semua jelas. Aku tak merasa digantung lagi oleh hubungan ini. Kurasa lebih baik begini. Aku yakin oppa juga berfikir begitu. Aku juga percaya oppa sangat mencintai saudariku dan tak mudah menggantikannya. Kurasa oppa hanya butuh waktu dan mendapatkan lagi orang yang lebih baik daripada aku.” jelasku.

“Begitu. Baiklah. Tapi kita tetap keluarga kan?” tanyanya.

“Tentu saja oppa. Siapa lagi yang kumiliki selain oppa dan orang-orang di dorm oppa?” Ujarku.

Ia pun tersenyum. Begitu pun aku.

“Mau mampir?” ajaknya.

“Hah? Mampir ke dorm?” tanyaku lagi.

“Ya. Tentu saja.” Tegasnya.

“Bagaimana bila terjadi scandal baru lagi?” tanyaku polos.

“Tenanglah. Yang mereka tahu kau masih menjadi yeoja-ku. Apa yang kau takutkan?” tanyanya.

Akhirnya aku mengagguk. Ia pun mengulurkan tangannya padaku dan aku menerimanya. Kami pun berjalan menuju dorm. Tak butuh waktu lama, sesaat kami pun sampai. Mereka yang ada didalam dorm pun menyambutku hangat. Kulihat Key oppa memeluk Jonghyun oppa. Kurasa sebelumnya mereka bertengkar. Setidaknya sekarang mereka sudah baikan. Onew oppa pun mengajak kami keruang makan. Ia memasak banyak sekali. Dengan lahap, kami pun makan. Kulirik Minho oppa yang duduk didepanku.

“Mwo?” Tanyanya.

“Aniyo.” Jawabku.

“Lalu mengapa memandangku seperti itu?” tanyanya lagi.

“Oppa masih marah?” tanyaku.

“Aniyo. Bagaimana bisa aku marah padamu?” ujarnya santai.

“Kalian putus?” Tanya Onew hyung.

“Ne.” jawab Jonghyun oppa santai.

“Mwo? Jinca?” Tanya key oppa tak percaya.

“Ne.” ujarku juga riang.

“Gotjimal.” Ujar key lagi.

“Whaeyo? Kami serius.” Ujar Jonghyun oppa.

“Wajah kalian tak menampakkan habis putus.” Ujar key.

“Memang wajah kami harus bagaimana?” Tanya Jonghyun oppa lagi.

“Apa karena aku?” Tanya Minho oppa padaku.

“Mwo?” ujarku kaget.

“Apa karena kau memikirkanku?” tanyanya penuh percaya diri.

“Aigo oppa! Dimataku, kau itu sama seperti Onew oppa dan Key oppa. Tak lebih.” Ujarku polos.

Muncul sedikit kekecewaan dalam raut wajah Minho oppa. Namun aku tak mengubrisnya. Memang benar kan? Aku tak ada perasaan lebih. Aku pun melirik Taemin. Ia makan dengan tenang. Wajahnya memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, kami pun selesai makan. Aku pun membantu Taemin mencuci piring. Sedangkan yang lainnya kembali ke ruang TV dan mengobrol.

“Yooshin, mau kau tunggu sebentar?” tanyanya.

Aku pun mengangguk. Ia pun bergegas pergi dan terus melanjutkan mencuci. Beberapa saat kemudian kudengar langkah Taemin yang tergesa-gesa.

“Yooshin! Berbaliklah.” Pintanya.

Aku pun berbalik. Mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang kulihat. Taemin sedang berdiri di depanku seraya memegang 2 sheet Styrofoam yang penuh dengan fotoku. Fotoku saat tertawa, senyum, , marah, sedih, semua bersatu.

“Apa ini Taemin-ah?” tanyaku.

“Mianhae. Selama ini aku diam-diam mengambil fotomu.” Ujarnya malu-malu.

“Maksudmu kau stalkerku?” tanyaku.

Ia tersenyum dan aku tertawa mendengarnya.

“Mworago?” tanyanya.

“Aneh saja. Masa artis menjadi stalker untuk artis. Kau konyol Taemin-ah.” Ujarku.

“Itu karena aku menyukaimu Yooshin. Aku janji tidak akan seperti Jonghyun hyung.” ujarnya.

“Aku tahu Taemin-ah. Maka dari itu aku menyukaimu juga.” Ujarku senang seraya memeluknya.

Ia pun membalas memelukku. Kurasa aku sudah menemukan stalkerku sendiri.

“Tapi aku ada satu permintaan lagi padamu.” Ujarnya pelan.

“Mwo?” tanyaku.

“Bisakah kau memanggiku oppa? Buatlah aku tersanjung sedikit dengan kata itu padaku.” Pintanya.

Ah.. dasar! Tentu saja aku akan memanggilmu stalker mulai sekarang.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s