Impulsive (drabble)

Title : Impulsive

Author : Retnowulan

Length : Drabble

Cast : –  Kwon Ji Yong (Big Bang’s member)

–      Choi Seung Hyun (Big Bang’s member)

–      Park Yoo Ri

–      Park Yoo Na

Disclaimer : I Don’t own anybody. Kwon Ji Yong and Choi Seung Hyun belong to Big Bang. Big Bang belong to YGE. Park Yoo Ri and Park Yoo Na just from my imagination. It’s a Mistakes Fanfic.  -,-

 

( Park Yoo Ri’s POV)

“Oppa..!!” ujarku seraya berlari menghampiri Seung Hyun oppa yang berdiri membelakangiku.

Aku tahu suaraku tak mungkin terdengar, namun aku tak sabar sekali untuk bertemu dengannya. Aku tak sabar untuk memberikan kabar baik ini padanya. Aku ingin dia orang pertama yang melihat hasil kelulusanku. Dari jauh bisa kulihat wajahnya yang tersenyum ringan menatap sungai hangang.  Aku pun bergegas mendekatinya. Namun saat aku semakin dekatnya. Tiba-tiba seorang wanita menghampirinya. Aku mengenalnya. Dia Park Yoo Na. Kakakku.  Bisa kulihat ia dengan jelas memberi Seung Hyun secangkir latte. Entah mengapa aku merasa kakiku berat. Aku pun melangkahkan kakiku kearah mereka dengan perlahan. Tapi, tiba-tiba, bisa kulihat tangan Seung Hyun oppa membelai lembut pipi unnie. Terlihat bahagia. Entah mengapa semua itu terasa perih sekali. Walau aku senang melihat oppa yang begitu bahagia, tapi…….

Tak bisa..!!” ujarku dalam hati seraya meremas kertas kelulusanku dan melemparnya ke tong sampah.

***************************************

“Dia bersama unnie.” Ujarku seraya meniup tehku yang masih panas.

“Yoo Na noona maksudmu?” Tanya Ji Yong padaku.

“Ne.” Ujarku pelan.

Aku pun menghela nafas panjang. Aku bangkit dari dudukku dan menatap ke luar jendela.

“Whaeyo?” Tanya Ji Yong padaku yang ikut bangkit.

“Apa aku salah?” tanyaku padanya.

“Salah apa?” tanyanya padaku.

Aku pun terdiam.

“Ah, sudahlah. Kalau memang itu membuatmu terluka, mengapa tidak kau bicarakan saja hal ini dengan unnie-mu itu?” ujar Ji Yong seraya berdiri di sebelahku.

“Andweyo….” Ujarku padanya.

“Kenapa lagi?” tanyanya.

“Jelas tidak bisa. Sebab, aku tak pernah melihat wajah oppa sebahagia itu.” Ujarku.

“Kalau begitu harusnya kau senang. Kenapa kau sedih?” Ujar Ji Yong seraya merangkulku.

Entah mengapa, mendengarnya membuatku ingin menangis. Namun kutahan semua itu dan kutatap Ji Yong yang ada disampingku. Aku pun menghela nafas dan kembali duduk.

“Senyuman itu bukan untukku Ji Yong. Senyuman itu untuk unnie. Aku senang melihatnya tersenyum, tapi bukan untuk unnie. Aku ingin senyum itu untukku.” Ujarku.

Ji Yong menatapku. Dia pun menghampiriku.

“Sudah. Minum saja tehmu.” Ujarnya.

Aku pun tersenyum padanya. Aku menjadi sedikit tersadar oleh kata – kata Ji Yong tadi. Aku harus mencoba senang untuk Seung Hyun oppa maupun unnie-ku itu. Aku tidak boleh egois. Namun beberapa saat kemudian pintu rumahku terbuka. Dari luar muncul unnie dengan senyum bahagianya.

“Anneyong..!! Yoo Ri..!! aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Ujarnya seraya menarik tangan seseorang dari luar.

Dari luar pintu, bisa kulihat dengan jelas, Seung Hyun oppa. Aku kaget bukan main. Tak kusangka unnie akan membawanya kemari. Karena saat ini ku tak mau melihatnya. Aku takut aku menangis dibuatnya. Kutatap wajah Seung Hyun yang tampak kaget juga. Kurasa ia tak menyangka hal ini. Kurasakan tangan Ji Yong menggenggamku. Aku menatapnya. Kulihat ia memandangku. Tatapannya mengatakan bahwa aku harus kuat.

“Kenalkan! Dia Seung Hyun. Pacarku.” Ujar unnie tampak bahagia.

Kurasakan jantungku seakan teremas. Aku merasakan tubuhku mulai lemas. Tapi dapat kurasakan tangan Ji Yong yang menggenggamku dengan erat.

“Anneyong. Yoo Ri imnida.” Ujarku seraya menunduk lemas.

“Seung Hyun imnida.” Ujarnya padaku.

Aku merasa tak sanggup berdiri lagi. Sekujur tubuhku semakin lemas. Jika ada lubang disitu, ingin rasanya ku masuk ke dalamnya.

“Aku senang kalian saling mengenal. Nah, sekarang oppa sudah boleh pulang. Hati-hati dijalan oppa.” Ujar unnieku itu seraya mengecup pipinya.

Aku hanya bisa memandang mereka. Menahan tangis. Seketika, Seung Hyun pun menghilang dibalik pintu. Unnie pun menghampiriku dengan senyuman yang kurasa harusnya menjadi milikku.

“Maafkan aku ya Yoo Ri. Aku baru mengenalkannya padamu sekarang. Kau tahu tidak? Sebenarnya sudah 2 bulan yang lalu aku jadian dengannya.” Ujarnya senang.

“Wah.. aku tak menyangka itu.” Ujarku seraya tersenyum padanya.

“Yoo Ri? Kau menangis?” Tanya unnie seraya memegang pipiku dengan kedua tangannya.

Aku pun menyentuh pipiku. Benar. Aku menangis juga akhirnya setelah sekian lama kutahan.

“Ah, tidak. Ini pasti efek dari rasa kantukku. Sebaiknya aku pergi membeli latte.” Ujarku seraya bergegas memakai mantelku dan keluar rumah.

Aku pun berjalan secepat mungkin menjauhi rumah. Aku tak ingin berada dirumah saat ini.

“Yoo Ri. Berhenti!” ujar Ji Yong seraya berlari menghampiriku.

“Wae? Kenapa kau menyusulku?” tanyaku padanya.

“Tidak, kurasa yang kau butuhkan sekarang adalah teman.” Ujarnya padaku.

Aku pun menghentikan langkahku. Kutatap Ji Yong yang memandangku dengan senyuman diwajahnya. Aku pun menepuk pipinya.

“Tidak. Aku ingin sendiri. Aku tak ingin diganggu. Sebaiknya kau pulang saja.” Ujarku padanya.

“Kau yakin?” Tanya Ji Yong yang tampak ragu.

“Aku yakin. Sekarang pulanglah.” Ujarku seraya mendorongnya kearah rumahnya.

“Beristirahatlah.” Ujarku lagi seraya bergegas pergi.

*****************************************

Mungkin aku ini pengecut. Setiap ada masalah selau kabur ke taman dan menyendiri. Langit sudah gelap. Tapi aku tak peduli, aku sudah merasa nyaman berada disini. Taman ini sudah seperti rumah kedua bagiku. Aku pun duduk dan berayun di salah satu ayunan yang ada disana. Aku pun menendang batu didekatku. Kubayangkan batu itu aku. aku memang bodoh seperti batu itu. Tidak pernah melawan walau sering ditendang.

Ah… bodoh sekali aku.” ujarku dalam hati.

“Jangan luapkan perasaanmu pada batu.” Ujar seseorang tiba-tiba.

Seung Hyun oppa.

“Ah….” Aku pun menghela nafas panjang.

Mau apa ia kemari? Aku malas bertemu dengannya. Kulihat bayangan badannya. Begitu besar. Aku ingat pernah dipeluk oleh badan itu. Hangat. Seung Hyun oppa pun menghampiriku. Ia duduk di ayunan yang ada disampingku.

“Hahaha.” Tawanya tiba-tiba.

Aku pun menatapnya.

“Aku tak tahu kalau kau saudaranya Yoo Na.” ujarnya dengan senyum yang tak kutahu apa artinya.

“Kalau oppa tahu ia unnieku, apa oppa akan berhubungan dengannya?” tanyaku seraya bangkit dari ayunan.

Ia hanya bisa terdiam.

“Oppa tak bisa menjawab kan? Karena oppa selalu begitu.” Ujarku kesal seraya membelakanginya.

Ia pun bangkit dari duduknya. Kurasakan ia menyentuh pundakku.

“Kau menyalahkanku?” tanyanya padaku.

“Apa yang oppa harapkan? Aku menyalahkan unnieku? Ia tak tahu apa-apa tentang kita.” Ujarku seraya menangis.

Kurasakan tangan oppa menggulung di pundakku. Hangat yang sangat kurindukan.

“Kenapa?” ujarku lirih.

“Kenapa oppa kembali seperti ini? Oppa hanya membawa luka.” Ujarku lagi padanya.

“Mianhae.” Ujar Seung Hyun Singkat.

Aku kesal dibuatnya. Aku pun membalikan badanku menghadapnya.

“Lalu bagaimana denagn hubungan kita?” tanyaku padanya.

Ia hanya terdiam.

“Mengapa oppa menerimanya?” ujarku lagi padanya.

Sekali lagi ia diam.

“Oppa jahat.” Ujarku padanya.

“Kita akhiri saja.” Ujarnya tiba-tiba.

“mwo?” tanyaku kaget padanya.

“Kita akhiri semuanya sampai disini.” Ujarnya.

Aku kaget dengan semua ucapannya. Aku pun memukul tubuhnya yang besar dengan kedua tanganku. Aku benci sekali padanya.

“Hei, dengarkan aku! tak sadarkah kau dengan umur unnie mu? Umurnya hanya beberapa bulan lagi. Berhenti bersikap egois seperti ini.” Ujarnya seraya meninggalkanku sendiri.

Aku pun menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ia benar. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kata-katanya memang benar. Dari jauh bisa kulihat Ji Yong menghampiriku. Aku semakin tak kuasa untuk tidak menangis. Aku pun memeluknya. Ia pun membelai kepalaku dengan tangannya.

“Sudah, ada aku disini.” Ujarnya lembut padaku.

“Ji yong, ia jahat padaku..” tangisku.

“Kau ingin aku menghajarnya?” tanyanya seraya tetap membelai rambutku.

“Aniyo…” jawabku pelan.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanyanya lagi.

“molla…” jawabku singkat.

“…….”

“Ji yong-ah…” panggilku.

“Mworago, Yoo Ri-ah?” tanyanya.

“Maukah kau membuat hubungan Yoo Na unnie dan Seung Hyun oppa berakhir? Kumohon.” Pintaku.

“Fiuh…. Kau ini.” Keluh Ji Yong.

“Mwo?” tanyaku sambil terus terisak dalam peluknya.

“Tak bisakah kau berpaling darinya?” Tanyanya.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Ani, kan banyak pria lain yang lebih memperhatikanmu dibanding orang itu.” Ujarnya.

Apa maksudnya? Aku pun melepas peluknya. Kutatap ia dengan heran.

“Aku suka padamu. Ingin menghabiskan segala waktuku denganmu. Hanya ingin memikirkan dirimu. Aku tahu kau tak pernah mencintai Seung Hyun hyung dari hatimu yang dalam. Kau hanya menyukaiku. Dan akan terus seperti itu. Kau tak bisa bohongi dirimu.” Ujar Ji Yong.

“Kau bicara apa sih?” ujarku mulai kesal.

“Tapi memang begitu kan?” ujar Ji Yong menyudutkanku.

Yah… 80% ia benar. Aku menyukai Seung Hyun oppa karena ia memberiku kancing keduanya. Saat itu aku percaya kalau ini tandanya ia menyukaiku dan aku mencintainya. Walau aku tak pernah merasa berbeda bila ada disampingnya. Yang mampu membuatku bergidik hanya Ji Yong. Saat ia melakukan Aegyo-nya, saat ia bernyanyi ala rapper, dan saat ia menghabiskan waktunya bersamaku setiap hari.

Aku menyukainya. Hanya dengan sederhana. Aku memang pembohong. Aku bohong pada diriku karena aku tak sanggup….. tak sanggup menatap wajah Ji Yong yang hangat terus menerus.

“Mianhae…” ujarku dan mulai menangis lagi.

“Gwaenchanayo, Yoo Ri-ah. Uljima, minah!” ujarnya seraya mengacak rambutku.

Ia benar. Untuk kesekian kalinya ia benar.

**********************************************************

Hari ini adalah pemakaman unnieku. Penyakitnya telah sukses memisahkan kami berdua. Aku tak terima ini. Padahal aku belum meminta maaf padanya. Semenjak tragedy beberapa bulan yang lalu, aku jadi segan berbicara dengannya. Itu membuat kami berdua sering bertengkar.

“Yoo Ri-ah….” Panggil seseorang lembut.

Bayanganku yang tadi terlihat, kini tertutup oleh sesuatu yang besar. Aku pun membalikan badanku dari depan makam Unnieku.

“Mworago, oppa?” tanyaku.

“Aku turut berduka…” ujar Seung Hyun oppa.

“Ne. Gamsahamnida.” Jawabku.

“Mianhae. Mian karena kejadian saat itu. Maukah kau memaafkanku dan kembali padaku?” tanyanya yang membuatku kaget.

“Setelah yang terjadi pada unnieku?” tanyaku.

“Ne. Will you?” tanyanya.

“Mianhae oppa. Ada orang lain yang lebih penting yang akan menjemputku sekarang.” Ujarku.

“Mwo? Nugundeyo?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum. Tak menjawabnya dan segera menuju tempat parkir dimana Ji Yong akan menjemputku.

FIN

By: Retno Wulandhari

3 thoughts on “Impulsive (drabble)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s