Be Mine, Please.. {Part 7}

Ri Jung’s POV

Sinar matahari yang masuk lewat jendela menyambut mataku. Aku regangkan tubuhku lalu mengerjapkan mataku. Aku dudukkan tubuhku memandang sekeliling ruangan mencari seseorang yang seharusnya ada disini bersamaku, Chansung.

“kemana dia?” gumamku pelan sambil melihat jam digital yang berada diatas meja kecil disamping tempat tidur. Pukul 7.46.

Aku langkahkan kakiku ke penjuru kamar untuk mencari Chansung oppa, tapi hasilnya nihil. Aku raih ponselku, menekan beberapa digit nomor lalu menelpon nomor tersebut. Tidak ada jawaban. “kemana dia?!” keluhku yang mulai tak tenang.

Apa dia marah atas ucapanku semalam tentang anak ini? “Aigoo~ bagaimana ini??” ucapku sambil mondar mandir dikamar.

Atau jangan-jangan ia marah lalu meninggalkan aku sendiri disini?! Eottokhe??

Tak terasa mataku sudah mulai berair, apa Chansung oppa setega itu padaku? Aku berjalan kearah tempat tidur lalu meringkuk diatasnya memeluk erat sebuah bantal.

Cklek. Aku dengar pintu terbuka, ‘ah mungkin itu bellboy suruhannya untuk membersihkan kamar ini’ gumamku dalam hati.

Tunggu, aku merasa ada tangan yang meraba lenganku, “Ri Jung-ah, gwaenchana?”

Suara ini.. aku langsung berbalik lalu memeluk Chansung oppa yang heran melihat sikapku. “oppa mianhaeyo..” ucapku sedikit terisak.

“mianhae? Kenapa? Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada kandunganmu?” tanyanya panik.

Aku memanyunkan bibirku, “sudahlah, aku pikir kau mencemaskanku, ternyata hanya anak ini yang kau khawatirkan”

“aigo, lalu kenapa kau meminta maaf, jagi?”

“ani, aku sudah lupa. Harusnya kau yang meminta maaf padaku” kataku masih cemberut.

“mwo? Apan salahku sehingga harus meminta maaf padamu?”

Aku menatapnya jengah, “kau meninggalkanku, kau tidak menjawab teleponku, kau membuatku panik!”

Ia tertawa, “yak! Kenapa tertawa?!” protesku tak terima di tertawakan.

“jagi, kau sangat lucu! Aku turun hanya untuk memesan sarapan, jelas saja aku tidak menjawab teleponmu, ponselku saja tidak aku bawa” jelasnya sambil mengambil ponselnya yang ada di bawah bantalnya.

“jangan tertawa! Aku benar-benar takut kau meninggalkanku..” ujarku lirih.

Ia menghampiriku sambil menahan tawanya, “sebutkan alasan yang bisa membuatku meninggalkanmu”

“aku pikir kau marah karena ucapanku semalam..”

“ne? Ucapan yang mana?” tanyanya pura-pura tak mengerti. Aku tau ia menggodaku. Aku beranjak dari tempat tidur dan langsung ke dalam kamar mandi, “aigoo~ laparnya perutku~”

“yaak~ Shin Ri Jung jawab pertanyaanku” sahutnya yang tak aku hiraukan.

~~~

Setelah sarapan kami langsung check out dari hotel. “mau kemana kita sekarang?” tanyanya sambil menggenggam tanganku erat.

“hm, aku ingin kita ke taman ria!” jawabku lalu mengeluarkan sebuah kamera polaroid dari tasku.

“aku ingin membuat banyak kenangan sebelum aku pergi besok” sambungku menundukkan kepalaku.

Chansung meraih daguku untuk menatapnya, “aku pikir kenangan itu tidak akan berarti kalau hanya berisi kesedihan”

Aku mengangguk lalu tersenyum sebisaku. Aku benar-benar tak ingin pergi darinya, tak ingin kehilangan setiap senyumnya, suaranya dan pelukannya yang hangat.

Seharian ini kami habiskan untuk mencoba semua permainan yang ada di taman ria. Aku memotret semua ekspresi yang ia keluarkan, gembira, takut, sampai mengantuk! Haha, seharusnya hal ini aku lakukan sejak lama.

“sudah sore, pasti Jinwoon sudah menunggumu. Sebaiknya kita pulang sekarang” kata Chansung saat aku selesai memakan es krimku.

“shireo..”

Ia menatapku terkejut, “Ri Jung-ah, aku mohon jangan buat masalah baru. Orangtuamu pasti akan marah jika tau kalau kau bersamaku selama dua hari ini”

“shireo~ shireo~ shireo~!” aku menutup kedua telingaku, mencoba untuk tidak menghiraukan ucapan Chansung barusan.

Aku dengar ia menghela nafasnya, “aku berjanji, aku akan sering mengunjungimu ke Daegu. Aku berjanji, akan sering menghubungimu. Aku berjanji.. akan setia menunggumu”

~~~

Chansung’s POV

Haah, benar-benar sulit untuk mengucapkan janji terakhirku barusan. Aku memang tidak yakin akan menepati janji itu.

“janji?” ujarnya seraya mengaitkan jari kelingkingnya di kelingkingku. Aku hanya bisa tersenyum untuk menjawabnya.

Ia berdiri dari bangkunya lalu mulai berjalan, “khajja! Calon suamiku pasti sudah menungguku”

“yak! Candaanmu sama sekali tidak lucu Ri Jung-ah!” seruku mengejarnya.

Aku memberhentikan motorku di tempat kemarin aku menjemput Ri Jung. Aku lihat mobil Jinwoon sudah stand by disana.

“jaga dirimu baik-baik, aku yakin kau bisa menjaga anak kita dengan baik. Saranghae..” ucapku lalu mengecup keningnya lembut.

Ia memelukku erat, “naddo saranghae, oppa”

Setelah perpisahan singkat kami selesai, Jinwoon keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobilnya untuk Ri Jung. Ia menatapku, tatapan yang kurang bisa aku artikan tapi yang pasti bukan sesuatu yang baik untukku.

Aku mengendarai motorku kembali ke rumah sesaat setelah mobil Jinwoon pergi. Sesampainya dirumah, aku sesali niatku untuk kembali secepat ini. Wanita itu, sedang ada dirumahku.

“jagiya~ kau pulang juga akhirnya..” kata Se Na saat melihatku memasuki ruang tengah.

Aku hanya mendengus kesal lalu menlanjutkan langkahku menuju kamarku. “Chansung, tunggu” langkahku terhenti saat melewati kamar Appa.

“ada apa?” tanyaku dingin.

“kemana saja kau semalaman? Kau tau, Se Na sudah menunggumu sejak kemarin”

“cih, apa aku harus peduli?” jawabku singkat.

Plaak! Appa menamparku.

“ia sudah menunggumu, hormatilah dia sedikit!” marahnya. Aku tersenyum sinis, “untuk menghormatimu saja sudah sulit untukku, apalagi untuk menghormati wanita jalang itu!”

“beraninya kau!”

“Aboeji cukup!” teriak Se Na tiba-tiba membuat Appa menghentikan tangannya yang akan menamparku lagi.

“Se Na-ya, maafkan atas ucapan Chansung barusan, aku yakin ia..”

“sudahlah Aboeji, aku pulang saja. Toh aku sudah tenang melihat Chansung baik-baik saja” potong Se Na lalu pergi dari tempat ini.

“cih, kau meminta maaf padanya? Ternyata bukan hanya aku yang kau jual, harga dirimu juga kau jual” ucapku sinis lalu kembali berjalan ke kamarku. Harta benar-benar membutakan seorang Hwang Jin Sung, dan sayangnya orang itu adalah Ayahku.

~~~

Ri Jung’s POV

Aaah~ ini dia. Rumah baru, tempat baru, lingkungan baru, dan yang pasti hidup baru. Jinwoon dengan sigap membukakan pintu rumah yang akan kami tempati mulai hari ini dengan tangan penuh tas bawaan ditangannya.

“kau istirahatlah, aku akan menjemput Oemmanim di terminal” ucap Jinwoon setelah meletakkan tas kami dikamar. Oemma memang ikut ke Daegu, tapi hanya untuk tiga hari. Ia bilang ingin menjenguk halmeoni dan menemaniku selama Jinwoon mengurusi pekerjaannya yang juga pindah ke Daegu.

Aku hanya mengangguk lalu merebahkan tubuhku disofa. Perlahan aku pejamkan mataku, mencoba untuk mengistirahatkan tubuhku yang belakangan ini mudah sekali kelelahan, dan akhirnya aku pun terlelap.

Aku terbangun saat mencium bau masakan kesukaanku, Bulgogi! Aku buka mataku lalu beranjak bangun dari kasur. Tunggu, kasur? Sejak kapan aku tidur berjalan?

Cklek. Aku sedikit kaget saat pintu terbuka. “Ri Jung-ah, Oemmanim sudah datang dan makan malam sudah siap” ujar Jinwoon.

Aku mengangguk dan mengikutinya keluar kamar, benar saja semangkuk bulgogi sudah tersaji dimeja makan. “kau sudah bangun, ini sudah Oemma masakkan bulgogi, cepat makan sebelum dingin” ucap Oemma yang sudah menunggu kami diruang makan.

Aku tersenyum lalu menyantap bulgogi dengan lahap. “oh ya, Jinwoon apa kau yang mengisi kamar belakang?” tanya Oemma pada Jinwoon.

“ne, tidak apa kan?”

“tentu saja tidak apa, rumah ini kan sudah jadi milik kalian. Tapi Oemma heran, kenapa kau mengisinya dengan tempat tidur? Kamar itukan untuk anak kalian nanti” perhatianku pada makanan yang ada didepanku langsung teralihkan saat mendengar jawaban Oemma barusan.

Aku lihat Jinwoon menggaruk kepalanya, “lalu, dimana aku harus tidur?”

“tentu saja bersama Ri Jung” celetuk Oemma yang membuatku tersedak. “m.. mwo?!” tanyaku kaget.

“tapi Oemmanim, kami kan belum menikah” kata Jinwoon sambil memeberiku segelas air.

Aku mengangguk menyetujuinya. ‘tentu saja! Sudah menikah pun kami tidak mungkin tidur satu ranjang!’ batinku.

“ah ye, aku lupa kalau kalian belum menikah. Jinwoon-ah, cepatlah lamar anakku ini” jawab Oemma sambil tertawa kecil.

Aku langsung menatap Jinwoon, memintanya untuk kembali menjawab pertanyaan Oemma. “ne, tapi bukankah lebih baik kami menikah setelah Ri Jung melahirkan?”

“itu terlalu lama, aku harap kalian menikah secepatnya” ujar Oemma. Aku hanya bisa diam menundukkan kepalaku, tak tau harus bicara apa.

“baiklah..” Jinwoon tiba-tiba berdiri lalu berlutut disamping kursiku, “Shin Ri Jung, maukah kau menikah denganku?”

Jujur aku sangat terkejut dengan tindakan bodohnya ini. Kami sama sekali belum membicarakan tentang hal ini.

Aku lihat Oemma yang tersenyum senang dan dari senyumannya aku bisa lihat betapa Oemma menginginkanku menjadi istri seorang Jung Jinwoon. Aku benar-benar bingung tentang apa yang harus aku lakukan, mementingkan perasaanku sendiri atau mengecewakan Ibuku sendiri.

Mataku beralih menatap Jinwoon yang masih berlutut, “apa maksudmu?” bisikku padanya.

Ia kembali menatapku dalam, “aku serius” jawabnya singkat.

“Ri Jung-ah, tak baik membuat orang menunggu” ucap Oemma tiba-tiba.

“maaf, aku belum bisa menjawabnya..” kataku akhirnya.

Terlihat wajah Oemma yang kecewa atas keputusanku barusan, Ia berdiri lalu mulai membereskan piring-piring yang sudah kosong dan membawanya kedapur.

Aku yang tak tega melihatnya pun ikut berdiri dan menyusulnya kedapur, “aku ingin bicara denganmu nanti” ucapku pada Jinwoon sebelum aku meninggalkan ruang makan.

“Oemma mianhaeyo, aku benar-benar belum siap untuk menikah. Aku masih 17 tahun, dan pernikahan terlalu cepat 10 tahun untukku” bujukku pada Oemma yang sepertinya marah.

“kalau kau merasa pernikahan terlalu cepat, lalu apa kehamilanmu ini juga tidak terlalu cepat?” aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Oemma, untuk pertama kalinya Oemma menyinggung tentang kehamilanku.

“tapi ini kecelakaan, aku juga sama sekali tidak menginginkan anak ini! Aku pasti sudah menggugurkan anak ini kalau Cha.. maksudku, ayah anak ini mengijinkannya” aku harus bisa menjaga emosiku.

Oemma menatapku, “inilah yang membuat Oemma ingin kau segera menikah dengan Jinwoon, ia bersedia bertanggung jawab, bukan malah menyuruhmu menggugurkan kandunganmu”

Ingin sekali aku katakan kalau Jinwoon bukanlah ayah yang aku maksud melainkan Chansung.

“ya aku mengerti, dia memang laki-laki yang baik” kali ini yang aku maksud benar-benar Jinwoon. Bagaimana tidak? Walaupun ia sering melakukan hal bodoh seperti mengaku sebagai ayah dari anak ini dan melamarku barusan, tapi ia selalu ada disaat aku membutuhkan seseorang untuk berbagi. Ia selalu mau mendengarkan keluhanku tentang semua hal.

Oemma menghampiriku lalu mengusap perutku pelan, “kalian pasti bahagia”

Aku tersenyum mendengar ucapan Oemma barusan yang bagaikan doa untukku. “gomawoyo Oemma”

“sudah malam, Oemma pulang dulu kerumah halmeoni, besok pagi Oemma kesini lagi, arachi? Baik-baiklah dengan Jinwoon”

Aku mengangguk lalu mengantar Oemma kepintu depan. Setelah itu aku langsung menuju kamar Jinwoon untuk membicarakan hal lamaran barusan.

Cklek. “Jinwoo..” ucapanku terhenti saat melihat Jinwoon tengah tertidur diatas meja kerjanya. Ia pasti lelah sekali. Aku selimuti tubuhnya agar tidak kedinginan, tapi tiba-tiba ia bergerak dan menahan tanganku.

“kau belum tidur?” tanyaku sedikit kaget.

Ia menggeleng, “kau membangunkanku”

“mianhae, tadinya aku..”

“aku tau, pasti kau mau membicarakan soal lamaranku barusan, kan?” potongnya sambil membenarkan posisi duduknya.

“ne, tapi kau sepertinya sangat kelelahan, besok saja kita bicarakan” jawabku.

“aku serius Ri Jung-ah, aku benar-benar menyukaimu bahkan bukan hanya menyukaimu, aku juga menyayangimu”

‘apa dia masih tertidur? Kenapa dia mengatakan hal semacam itu padaku?’ pikirku.

“ye, bukankah kau juga tau, siapa orang yang aku sayangi?”

Ia membenarkan posisi duduknya lalu mengacak rambutku, “aku memang bukan Chansung, tapi aku akan berusaha membuatmu mencintaiku seperti mencintainya”

Entah kenapa aku merasa wajahku memanas, “tapi, bukankah kau ada hubungan dengan Se Na?”

Jinwoon sedikit terkejut saat mendengar pertanyaanku. “kau mengenal Se Na?”

“ani, aku tidak mengenalnya, tapi kami pernah bertemu sekali”

“wanita itu, haah.. dia hanya masa lalu. Apa Chansung menceritakannya padamu?”

Aku mengangguk, “dia sangat membencimu”

Ia tertawa kecil, “aku tau, bahkan sekarang ia pasti semakin membenciku”

“wanita seperti apa Se Na sampai bisa mebuat Chansung oppa menyukainya?” tanyaku penasaran.

“dia cantik, berbakat dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sayangnya hal itu juga yang merubahnya menjadi wanita yang buruk” jelasnya.

Aku mengangguk mengerti, “apa dia seburuk itu?” tanyaku lagi yang semakin penasaran.

“haha, Chansung seharusnya bersyukur ia hanya kecewa dua kali. Kau tau, setelah setahun berpacaran dengannya aku pikir aku adalah laki-laki yang paling bahagia, tapi lambat laun aku merasa banyak yang berubah dari dirinya dan jadilah Se Na yang sekarang” ceritanya panjang lebar.

Aku mengerutkan keningku, “lalu apa maksudmu dengan ‘Chansung hanya kecewa dua kali’? apa ia mengecewakanmu lebih dari itu?”

“aku tau ia berselingkuh dibelakangku, termasuk berpacaran dengan Chansung. Aku juga tau apa saja yang ia lakukan dengan banyak pria”

“tapi kenapa kau masih mau menjadi kekasihnya?”

“cintaku padanya membutakanku, tapi sampai suatu saat Chansung memergoki Se Na yang mabuk sedang bercinta denganku. Ia memohon pada Chansung untuk tidak meninggalkannya, hal yang belum pernah ia minta dariku. Saat itu aku baru menyadari kalau Se Na sudah sama sekali tidak membutuhkanku lagi, jadi aku akhiri saja hubunganku dengannya” jelasnya.

“oh ya, awal mula aku mau menerima perjodohan ini bukan karena aku menyukaimu, tapi karena perasaan dendamku pada Chansung yang dulu telah merebut Se Na dariku” lanjutnya yang membuatku sedikit tercengang.

Aku berdiri dari dudukku berniat mau meninggalkan kamarnya tapi lagi-lagi Jinwoon menahanku, “aku bisa jelaskan, dulu, beda dengan sekarang Ri Jung-ah..”

Aku menoleh dan menatapnya sinis. “aku tidak mau menjadi istri dari orang yang hanya menjadikanku alat balas dendamnya”

Aku tarik tanganku dari genggamannya lalu keluar dari kamarnya. Kenapa aku bisa termakan dengan sikap ‘baik’ yang ia tunjukkan padaku selama ini? Sudahlah, aku lelah. Untuk apa aku memikirkan hal ini? Toh apapun yang akan dia lakukan tidak akan merubah hatiku yang hanya menyayangi Chansung.

~~~

Jinwoon’s POV

Ri Jung marah padaku, terbukti dengan hari ini. Dari pagi ia sama sekali tidak mau berbicara denganku, menjawab pertanyaanku saja tidak. Mau beberapa kali aku mencoba untuk menjelaskan perasaanku juga ia sama sekali tidak mau mendengarkannya.

Sudah tiga hari ia mendiamkan aku, kami hidup dalam satu rumah tapi sama sekali tak ada komunikasi diantara kami. Setelah mengantar Oemmanim ke terminal bis untuk pulang ke Seoul aku putuskan menulis sebuah surat untukknya.

‘Ri Jung-ah, jeongmal mianhae. Tujuan awalku memang untuk balas dendam, tapi niat itu hilang saat aku bertemu denganmu, aku menyukaimu. Sikap dinginmu membuatku semakin ingin mengetahui semua tentang dirimu. Aku selalu iri saat melihatmu bisa tertawa lepas saat bersama Chansung, aku ingin kau juga bahagia saat bersamaku.

Belakangan ini aku rasakan sikapmu padaku sedikit berubah, kau peduli padaku, hal itu membuatku senang. Aku tidak bermaksud membuatmu marah apalagi sampai membenciku, soal perasaanku yang aku katakan tiga hari lalu dan juga tentang lamaranku, aku sama sekali tidak bercanda dengan hal itu. Aku benar-benar serius.

Mianhaeyo, aku harap kau mau memaafkanku.’

Aku lipat kertasnya lalu aku letakkan diatas bantalnya saat ia sedang dikamar mandi. Aku hanya berharap ia tidak membuang surat itu.

Aku pikir surat permintaan maafku di terima. Pagi ini Ri Jung membuatkan aku sarapan, aku memang belum berani mengajaknya berbicara, tapi akan kucoba nanti.

“aku berangkat kerja dulu, kau baik-baiklah dirumah” ucapku setelah menghabiskan kopi dicangkirku.

“ne, kau hati-hatilah dijalan” antara terkejut dan senang ia menjawab ucapanku. Sepanjang perjalanan ke kantor, aku sama sekali tidak bisa menghilangkan senyum ini dari wajahku.

~~~

Ri Jung’s POV

Aku memaafkannya, bukan berarti aku menerima perasaannya. Aku hanya tidak suka lama-lama mendiamkan orang, apalagi orang itu tinggal satu atap denganku.

Hari ini aku hanya sendiri dirumah, Oemma sudah kembali ke Seoul dan Jinwoon pergi bekerja sampai nanti sore.

Aku putuskan untuk keluar dan belanja bahan makanan, tapi sebelum berangkat aku sempatkan untuk melihat ponselku untuk memastikan kalau ada telepon atau sms dari Chansung oppa, “haah.. ia belum juga menghubungiku. Smsku saja belum ia balas satupun” keluhku pelan.

Saat berjalan melewati rumah halmeoni aku melihat sebuah mobil terparkir didepan rumah. Penasaran, aku masuk untuk melihat siapa yang datang.

Aku lihat halmeonie sedang berbincang dengan seorang wanita yang kira-kira seumuran dengan Oemma, “ahjumma, siapa wanita itu?” tanyaku pada Haneul ahjumma, adik Oemma.

“dia Park Hyu Chan, kau lupa? Dia teman dekat Ibumu dulu. Ia baru kembali dari Jepang, datang kesini untuk berkunjung” jawab ahjumma yang lalu masuk kedalam untuk mengantarkan minum.

Aku masih diam, mencoba mengingat nama Park Hyu Chan. “hey Ri Jung, masuk saja. Beri salam” sahut ahjumma tiba-tiba dari pintu.

Aku mengangguk lalu masuk, “annyeong haseyo” sapaku sedikit membungkukkan  tubuhku.

“aigo, kau Shin Ri Jung? Kau sudah besar rupanya, kau mirip sekali dengan Ibumu” ucapnya seraya berdiri. Aku mengangguk sambil tersenyum seramah yang kubisa, melihat wanita ini entah kenapa mengingatkanku pada Chansung oppa.

Setelah perkenalan singkat itu aku akhirnya duduk bersama mereka, berbincang berbagai macam hal, sampai halmeoni menanyakan suatu hal padanya.

“bagaimana kabar anakmu?” tanya halmeoni yang membuat ruangan itu hening seketika.

Aku lihat ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan halmeoni, “molla, sampai sekarang aku tidak tau keadaannya”

“jeongmal? Kenapa dulu kau meninggalkannya?” tanya halmeoni lagi. Aish, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?

Tiba-tiba mata Hyu Chan ahjumma berair, “aku.. aku tidak tau. Aku memang sangat menyesali perbuatanku dulu, tapi kalaupun aku kembali sekarang mungkin ia tidak akan menerimaku lagi”

“aigoo.. jangan menyerah sebelum mencobanya, kalau kau memang membenci ayahnya, jangan sampai hal itu merusak hubunganmu dengan anakmu” jawab halmeoni yang menghampirinya, mencoba menenangkannya.

“ahjumma, sebenarnya siapa yang sedang kita bicarakan?” tanyaku pada Haneul ahjumma yang duduk disebelahku.

“Hyu Chan onnie mempunyai seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur setahun diatasmu. Saat anak itu berumur tiga tahun, Hyu Chan bertengkar hebat dengan suaminya lalu pergi meninggalkan rumah sendirian tanpa membawa anaknya. Sekarang anaknya tinggal bersama ayahnya di Seoul” jelas Haneul ahjumma.

Aku manggut-manggut mengerti lalu kembali memperhatikan Hyu Chan ahjumma yang sepertinya sedang curhat dengan halmeoni.

“apa Jin Sung sama sekali tidak pernah menghubungimu atau mencarimu?” tanya halmeoni. Tunggu, Jin Sung?

“mianhae mengganggu, apa yang halmeoni maksud Hwang Jin Sung?” tanyaku pada halmeoni. Ia mengangguk menatapku heran. “ahjumma mengenalnya?” tanyaku lagi pada Hyu Chan ahjumma.

“dia.. dia suamiku” jawabnya. Aku terkejut dibuatnya, kalau Hyu Chan ahjumma adalah istri dari Hwang Jin Sung, berarti.. “apa nama anak anda Hwang Chansung?” tanyaku ragu.

“ne, dia anakku. Apa kau mengenalnya Ri Jung-ah?”

~TBC~

By: tyasung

Thanks for reading. Leave comment yaa~! ^^~

8 thoughts on “Be Mine, Please.. {Part 7}

  1. ayo dong msuk ..
    Nih cment gga mw msuk jga..
    aigo..
    Akhrna klwar jga..
    Qrend eonni..
    D tnggu lnjtan na.. Eonni pling bsa bwd pnsran..
    Ckckck….

  2. ayo dong msuk ..
    Nih cment gga mw msuk jga..
    aigo..
    Akhrna klwar jga..
    Qrend eonni..
    D tnggu lnjtan na.. Eonni pling bsa bwd pnsran..
    Ckckckckck….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s