Be Mine, Please.. {Part 6}

Chansung’s POV

Aku lihat mobil Appa sudah terparkir di garasi rumah. Ah ya, aku ingin membicarakan soal perjodohanku dengan Se Na.

Tok tok. Kubuka pintu ruang kerja Appa lalu masuk ke dalam. “ada apa lagi?” tanyanya dingin.

“aku mau bicara”

“soal apa?”

“perjodohanku dengan Se Na, aku tidak bisa menerimanya”

“waeyo? Bukankah kalian pernah pacaran? Lagipula kalau kau menolak perjodohan ini, akan berdampak buruk pada perusahaan kita”

Aku mendecak sebal, “perusahaan? Appa menjualku! Kau menjual anakmu sendiri!” bentakku.

BRAAK! Appa memukul meja kerjanya, “kau pikir selama ini kau hidup darimana?! Kau mau perusahaanku bangkrut dan kita jatuh miskin?!”

“lebih baik aku hidup miskin daripada hidup dengan berlimpah kekayaan tapi aku juga harus hidup dengan wanita itu” jawabku sinis lalu pergi meninggalkan ruangan Appa.

Seharusnya aku tau dari awal tujuan Appa menjodohkanku, pasti untuk perusahaannya. Appa memang akan mengorbankan semua hal termasuk aku dan Oemma untuk perusahaannya.

Aish, mungkin aku akan lebih bahagia kalau Oemma membawaku dulu. Kemana dia?

Aku putuskan untuk mandi dan pergi bersama Khun dan Taecyeon. Aku butuh hiburan.

Kami bertemu di sebuah cafe, tempat kami biasa bertemu. Saat aku datang, aku melihat Khun sudah duduk disebuah meja. Aku lalu menghampirinya.

“yaak, Hwang Chansung ada apa? Kau bilang ada yang mau kau ceritakan? Apa ini soal wanita?” sambut Nickhun sedikit menggodaku.

Aku tersenyum simpul lalu duduk di depannya, “yah begitulah, kau tau Shin Ri Jung kelas 2-A?”

Ia berpikir sejenak dan mengangguk, “ada apa dengannya?”

“haah.. dia hamil” jawabku singkat.

“lalu? Apa hubungannya denganmu?”

“apa hubungannya? Aku ayah dari anak yang dikandungnya!”

“mwo? Bukankah kau tidak menyukainya?” tanyanya lagi.

Tiba-tiba seseorang menepuk punggungku, “yak! Beraninya kalian memulai cerita tanpaku” ucap Taecyeon lalu duduk di sebelah Nickhun.

“kau datang terlambat, itu resikomu Taec..” ledek Nickhun.

Setelah aku memesan secangkir capuccino hangat, aku memulai kembali ceritaku. Mulai dari hubunganku dengan Ri Jung, perjodohanku dengan Se Na, “tunggu.. maksudmu Lee Se Na sunbae kita dulu? Mantan kekasihmu?” potong Taecyeon tiba-tiba.

Aku mengangguk dan menatapnya heran, “wae?”

“ehm, kemarin dia menelponku, dan memintaku untuk datang ke apartemennya..”

“lalu?” tanya Nickhun penasaran.

“ia memintaku untuk tidur bersamanya”

“aku yakin kau tidak menolaknya, bukan?” goda Nickhun.

Aku lihat Taecyeon mengangguk pelan. “aish, wanita itu benar-benar brengsek!”

“Chansung-ah nianhaeyo, aku tidak tau kau..”

“aniyo, aku tidak marah denganmu. Aku tidak peduli kau tidur dengannya”

“ah ya, lanjutkan lagi ceritamu” pinta Nickhun.

Aku menarik nafas panjang, “kalian ingat Jung Jinwoon?”. Mereka mengangguk serempak.

“orang tua Ri Jung menjodohkannya dengan Jinwoon. Haah.. Apa dunia ini benar-benar sempit?”

“jeongmalyo? Apa Ri Jung menerimanya?” ucap Taecyeon tak percaya.

Aku mengangguk lemas, “Appanya sangat keras, dan lagi Jinwoon mengaku kalau dia ayah dari anakku”

“jinjja?!” ucap mereka serentak. “berani sekali dia” tambah Khun.

“ia tau masalah keluargaku dengan keluarga Ri Jung, ia menggunakan kesempatan itu” jawabku.

“jadi, apa rencanamu sekarang?” tanya Taecyeon. Aku menggeleng, “sampai saat ini aku masih belum tau apa yang harus aku lakukan”

~~~

Ri Jung’s POV

Pagi ini sesampainya di sekolah aku langsung menuju kelas Chansung oppa, karena kejadian kemarin perasaanku tidak kunjung tenang. Apa yang ia bicarakan dengan Jinwoon? Bagaimana keadaannya?

Aish, mata-mata ini kembali menatapku tajam seperti beberapa bulan yang lalu. Tapi kali ini aku tidak takut ataupun merasa trauma, karena aku yakin Chansung oppa pasti akan melindungiku.

“oppa!” panggilku pada Chansung oppa yang sedang membaca buku pelajarannya.

Chansung oppa langsung menghampiriku dan membawaku keluar kelas, “ada apa? Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu lagi, Ri Jung-ah”

Aku tidak menjawab pertanyaannya melainkan langsung memeluknya erat, “syukurlah kau baik-baik saja”

Chansung melepas pelukanku dan menatapku heran, “waeyo? Memangnya kau pikir aku kenapa?”

“aish, kau tau, perasaanku tidak tenang karena kejadian kemarin!” aku memukul bahunya pelan.

Ia tersenyum kecil, “aigo, aku pikir ada apa. Kau meragukanku? Aku tidak akan kalah dengan Jinwoon”

Aku kembali memeluknya sampai bel masuk berbunyi, “aku tunggu di tempat biasa ya, ada yang ingin aku bicarakan” ucapku lalu berjalan meninggalkannya. Entah kenapa aku merasa aneh saat ia melepaskan pelukanku barusan.

TEEEEEEEEEEEEET~

Bel istirahat berbunyi, semua murid langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin yang hanya dalam hitungan detik menjadi penuh.

Seperti yang sudah dijanjikan, aku pergi mengendap-endap ke atap sekolah untuk makan siang bersama namjachinguku.

Sesampainya diatap aku melihatnya sedang duduk termenung entah memikirkan apa. “oppa~!” panggilku.

Ia menoleh dan menghampiriku, “apa menu hari ini?” tanyanya dengan senyum yang menurutku terlihat dipaksakan.

“mianhae, aku bangun telat, jadi hanya bisa masak telur gulung” jawabku sambil menyiapkan makanan kami.

Tak biasanya kami makan dalam hening. Tak ada yang memulai berbicara sampai selesai makan. Aku ingin bicara padanya.

“oppa”

“hm?”

“aku ingin, menggugurkan kandungan ini..” ucapku pelan.

Ia menatapku, “mwo?! Jangan bercanda jagiya..”

“ani, aku serius”

Lagi-lagi ia menatapku, tapi kali ini tatapannya memancarkan kesedihan dan ketidak relaan, “aku tidak ingin kau membunuh anakku”

Aku balik memendangnya heran, “membunuh? Yak! Tega sekali..”

“sebenarnya siapa yang tega? Kalau kau berniat menggugurkan kandunganmu, itu sama saja kau membunuh anakmu, anak kita!”

Aku sedikit tersentuh saat ia mengatakan ‘anak kita’. Aku menunduk, “karena anak ini kita jadi susah..”

Ia menarikku kedalam pelukannya, “bukan karena dia, ini semua salah kita sendiri. Kalau dari awal kita bisa menahan diri masing-masing hal seperi ini tidak akan terjadi”

“tapi, Appa bilang, sesudah ujian kenaikan kelas nanti Jinwoon akan membawaku pergi dari Seoul”

“mwoya?! Aish, laki-laki itu memang brengsek!”

“niatku sudah bulat untuk menggugurkan kandunganku” ucapku mencoba kembali ke topik awal.

Ia menoleh, “andwae, apa kau tidak mau membiarkan anak kita melihat dunia?”

Aku menggeleng, “percuma saja kalau yang akan menjadi ayahnya bukan kau, tapi malah Jinwoon yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak ini”

Aku dengar Chansung menghela nafas, “tapi aku tetap ayah biologisnya, bukan Jinwoon!”

“ne, lalu apakah orang tuaku mengetahuinya? Apa orang tuaku akan menerimanya?”

“pokoknya, aku tidak akan memaafkan diriku kalau kau sampai menggugurkan kandungan itu”

“aish, jadi kau lebih memilih anak ini daripada aku?!” tanyaku kesal.

“yak, sikap macam apa itu, cemburu pada anaknya sendiri” ucapnya seraya berdiri sesaat setelah mendengar bel masuk berbunyi.

Aku menatapnya sejenak lalu dengan tergesa-gesa mengikutinya, tiba-tiba kakiku meleset dari anak tangga yang aku pijak, dan “ah!”

“baru saja aku bilang! Apa kau sengaja? Apa kau ingin membuatku merasa bersalah seumur hidupku?” sahutnya sedikit marah saat menangkapku yang hampir saja jatuh dari tangga.

Aku hanya tersenyum dan menggeleng pelan di dalam pelukannya.

~~~

Waktu terasa sangat cepat berlalu, ujian kenaikkan kelas hanya tinggal dua minggu lagi. Usia kandunganku juga sudah mencapai tiga bulan. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar untukku berusaha menyembunyikan perutku yang sedikit demi sedikit sudah mulai membesar.

“aku pulaang~!” seruku saat memasuki rumah. Tentu saja Jinwoon masih tetap setia mengantarku sekolah pulang-pergi.

Aku lihat Oemma bejalan dari arah dapur, “aigoo~ bagaimana keadaanmu? Keadaan cucu Oemma?”

Aku mendengus kesal, hampir setiap hari, setiap aku pulang sekolah Oemma selalu menghampiriku dengan petanyaan yang sama. Aku pikir keadaan akan berbalik jika yang sekarang ada di sampingku adalah Chansung oppa.

“Jinwoon-ah, ayo masuk, kebetulan Oemma sedang masak untuk makan malam”

Jinwoon mengangguk dan mengikuti Oemma ke dapur. Aku berjalan ke kamarku, merebahkan tubuhku di kasurku yang nyaman. Kalau bukan paksaan dari Chansung oppa, aku tidak akan membiarkan anak ini terus tumbuh di dalam rahimku.

Tok Tok, “Ri Jung-ah, makan malam sudah siap dan Appa sudah datang” panggil Jinwoon dari luar pintu.

Aku melenguh sejenak, lalu beranjak dari kasurku untuk mandi.

Entah sejak kapan, makan malam bersama keluargaku menjadi kebiasaan Jinwoon. Bahkan Appa kadang memaksanya untuk datang hanya untuk makan malam bersama.

Aku heran dengan Appa, berita kehamilanku sama sekali tidak membuatnya marah, sikapnya padaku malah tidak sedingin dulu. Aku melirik Jinwoon yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya, “aish pasti karena bocah ini” keluhku pelan.

Tiba-tiba ia menatapku, “waeyo?” aku menggeleng lalu melanjutkan kembali makanku.

“ah ya, Appa sudah siapkan rumah untuk kalian tinggali nanti..” ucap Apa tiba-tiba yang membuatku menyemburkan semua isi mulutku.

Jinwoon dengan sigap langsung menyodorkan sebuah serbet padaku. Aku menerimanya lalu membersihkan muluku sejenak. “mwo? Kenapa secepat itu?!”

Appa menatapku heran, “itu kan janjimu, ingat? Ujian kenaikan kelas dua minggu lagi, dan itu tandanya kau harus siap”

“tapi..”

“tidak ada tapi, seminggu setelah pengumuman, kau dan Jinwoon sudah harus menempati rumah itu”

“ah ya, rumah kalian nanti letaknya di Daegu” lanjut Appa.

Aku bediri dari dudukku, “mwo? Daegu? Itu terlalu jauh! Appa ingin membuangku?!”

“disana kan ada rumah Halmeoni, jadi Appa tidak perlu khawatir” jawab Appa santai lalu meninggalkan ruang makan.

Oemma menghampiriku, “Ri Jung-ah, Appa sama sekali tidak bermaksud menusirmu. Kami pasti akan sering berkunjung kesana”

Aku hanya diam lalu pergi meninggalkan ruang makan sedangkan Jinwoon membuntutiku.

“Jinwoon-ssi, bisa tolong tinggalkan aku sendiri?” ucapku lirih berusaha menahan air mataku.

Ia mendekatiku, mengusap air mataku yang perlahan keluar. “mianhae, aku tidak bisa melihat yeoja yang aku cintai menangis”

Aku menatapnya, menatap mata cokelat gelapnya. Aku bisa merasakan ketulusan dari ucapannya barusan. Entah apa yang merasukiku, aku mengulurkan kedua tanganku lalu memeluknya, tak lama aku rasakan Jinwoon membalas pelukanku.

Aku tidak peduli apapun, yang aku butuhkan sekarang adalah seseorang yang bisa menjadi tempatku bersandar, dan untuk pertama kalinya orang itu bukanlah Hwang Chansung.

~~~

Jinwoon’s POV

Aku benar-benar terkejut saat Ri Jung memelukku, aku harap ini pertanda baik.

Ujian kenaikan kelas berlangsung sangat lancar, Ri Jung pun mendapatkan nilai yang memuaskan.

Dua hari sebelum kami pindah ke Daegu, Ri Jung meminta izin kepada orangtuanya untuk menghabiskan malam dirumah temannya. Entah kenapa aku yakin ia berbohong. Aku diminta orangtuanya untuk mengantar Ri Jung ke rumah temannya itu, dan dugaanku benar, dia bukan bertemu temannya melainkan Chansung.

“Jinwoon-ssi, jemput aku disini besok sore” ucapnya sebelum turun dari mobil.

Aku menahan tangannya, “kau tidak boleh pergi bersamanya”

“waeyo?! Apa kau akan mengancamku? Kalau kau mau, adukan saja hal ini pada Appa” jawabnya dengan nada tinggi.

Aish, bukan ini yang kumaksud, aku sama sekali tidak ada niat untuk mengatakan hal ini pada ayahnya. “Ri Jung-ssi, kumohon. Ada suatu hal yang Chansung sembunyikan darimu, aku tidak mau hal kalau hal itu bisa menganggu pikiranmu atau bahkan mengganggu kahamilanmu”

“mwo? Ah, kau mencoba menghasutku? Aku percaya dia tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku” ujarnya lalu keluar mobil dan menghampiri Chansung yang sudah menunggunya.

Haah, ya sudahlah. Lagipula aku yakin lama kelamaan Ri Jung akan tau masalah perjodohan kekasihnya itu.

~~~

Chansung’s POV

Aku melihat mobil Jinwoon datang, aku sangat ingin bertukar tempat dengannya. Bisa dengan bebas dekat dengan orang yang kita sayangi, itulah yang aku inginkan.

Kenapa Ri Jung tidak segera keluar dari mobil? Aku lihat mereka sedang berbicara, apa yang mereka bicarakan? Tak lama akhirnya Ri Jung keluar lalu menghampiriku, mobil Jinwoon pun langsung pergi dari situ.

“oppa~! Bogoshipeoyo” ucapnya seraya memelukku.

Aku balas pelukannya lalu berjongkok, “apa kabar anakku? Oemma tidak menyakitimu, kan?” ujarku pada perut Ri Jung yang sudah mulai membuncit.

“yak! Apa maksud ucapanmu barusan?” tanya Ri Jung sedikit marah. Aku bangkit lalu menggandeng tangannya, berjalan di pinggir sungai Han. Yah, ini adalah tempat kenangan kami.

“oppa, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” DEG. Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal ini?

Aku mengalihkan pandanganku, tidak berani menatapnya. “ani.. waeyo?”

“jinjja? Syukurlah kalau begitu, aku sangat mempercayaimu oppa” jawabnya ringan.

Ah, aku sangat tidak pantas untuk ia percayai. Aku telah berbohong padanya, dan sialnya hari pernikahanku sudah tidak lama lagi, dua bulan lagi.

Appa memajukan pernikahanku karena Se Na akan melanjutkan studinya di Amerika, Ri Jung tidak boleh tau tentang hal ini. Aku takut masalah ini akan mengganggu kehamilannya.

“oppa, malam ini kita mau kemana?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

Aku berpikir sejenak, “hm, bagaimana kalau kita ke Namsang tower?”

Ia mengangguk setuju. Kami langsung menuju Namsang tower, disana banyak sekali pasangan yang menghabiskan waktu bersama seperti aku dan Ri Jung. Setelah itu kami pergi ke sebuah restoran untuk makan malam, jujur saja, aku pasti akan sangat merindukan bekal buatannya.

Aku sedikit heran saat melihat Ri Jung merogoh tasnya mencari sesuatu, “waeyo? Apa ada yang hilang?”

“ani.. ah, ini dia” ia menyodorkan sebuah kertas kecil yang bertuliskan sebuah alamat. Aku menatap kertas itu heran, “alamat siapa ini, jagi?”

“ini alamat rumah yang akan aku tempati nanti di Daegu, aku harap oppa bisa datang berkunjung” ucapnya sedikit sedih. Aku tak tega melihatnya sedih. Aku raih tangannya lalu aku genggam erat. “pasti, aku akan datang sesering yang aku bisa”

Ia tersenyum simpul, aku pun merasa sedih. Sebenarnya aku sama sekali tidak merelakannya pergi.

“Ri Jung-ah”

“ne?”

Aku menatapnya sungguh, “maukah kau berjanji untukku?” ia mengangguk.

“aku mau, apapun yang terjadi, kau harus tetap menjaga anak kita dengan sungguh”

“apapun yang terjadi? Apa maksud oppa?” tanyanya heran.

“ne, jika nanti terjadi sesuatu pada hubungan kita. Aku harap kau tetap menjaga anak itu untukku”

“tentu saja, aku akan menjaga anak ini sebisaku, dan Jinwoon pun juga akan menjaga kami dengan baik” jawabnya cuek.

Aku membulatkan mataku, “mwo?! Aku tidak suka dengan ucapanmu barusan”

Tiba-tiba ia tertawa, “haha.. aku hanya bercanda, oppa. Tenang sajalah, kalau bukan kau yang meminta, aku pasti sudah menggugurkan kandungan ini sejak lama”

“dan aku juga tidak suka kalau kau mengungkit soal menggugurkan kandunganmu” jawabku tegas.

“nee, arasseo oppa!” ucapnya lalu mulai terkekeh lagi. Aku pasti akan merindukan tawanya ini. Aku harap kami tidak akan berpisah lama.

Seselesainya kami makan, kami menuju sebuah hotel untuk bermalam.

“tolong satu kamar dengan dua single bed” ucapku pada seorang resepsionist.

Ia mengecek komputernya lalu kembali menatapku, “maaf, baru saja kamar terakhir sudah terisi. Kamar yang masih kosong hanya tinggal double bed, bagaimana?”

Aku menghela nafas, hari sudah malam, tidak mungkin kami mencari hotel lagi. “baiklah..”

~~~

Kami berhenti di depan sebuah kamar bernomor 11, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyentuh Ri Jung sama sekali.

“jagi, kau mandi saja dulu” ucapku pada Ri Jung. Ia mengangguk lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

Setelah beberapa menit, ia memanggilku “oppa!”

Aku menoleh kearah kamar mandi, “ne?”

“tolong ambilkan pakaianku di dalam tas, aku lupa tidak membawanya”

Dengan malas aku beranjak dari dudukku lalu mengambil beberapa lembar pakaian. “ini..” kataku dari luar kamar mandi.

Pintu kamar mandi terbuka sedikit, dan dari situlah aku bisa melihat sedikit tubuh Ri Jung yang masih sedikit basah tanpa balutan handuk. Buru-buru aku alihkan pandanganku, berusaha melenyapkan pikiran kotorku jauh-jauh.

“gomawoyo oppa” ucapnya sebelum menutup pintu. Haah.. seperti biasa, ia selalu tidak menyadari akan penampilannya.

Tak lama ia keluar dengan piyamanya. “aku selesai”

Aku berdiri, tak lupa mengambil pakaianku lalu masuk ke kamar mandi.

“oppa mau kemana?” tanyanya heran saat aku memindahkan bantal ke sofa.

“tentu saja tidur” jawabku singkat. Aku benar-benar harus menjaga jarak dengannya.

Ia mengambil lagi bantalku, lalu meletakkannya kembali di kasur. “tidurlah disini, aku tidak akan menggigit” kata Ri Jung sedikit bercanda.

“aku takut kalau aku yang malah akan menggigitmu nanti” ucapku lalu mengembalikan bantalku ke sofa.

“aigoo, mianhaeyo oppa. Tapi aku yakin kau tidak akan menggigitku” jawabnya bersikeras.

Aku membalikkan tubuhku dan menggeleng padanya. Ia memanyunkan bibirnya lalu  membaringkan tubuhnya di kasur, begitupun aku, merebahkan tubuhku yang lelah keatas sofa.

Letak sofa yang bersebrangan dengan tempat tidur membuatku bisa dengan jelas memandanginya yang sedang tidur membelakangiku. Walaupun sedang mengandung tiga bulan, lekuk tubuhnya masih saja terlihat jelas.

Aish, aku benar-benar sangat ingin menemaninya tidur disana. Tiba-tiba Ri Jung merubah posisi tidurnya menjadi terlentang, dua bukit indahnya yang menjulang membuatku ingin mengunjunginya.

Aku mendudukkan tubuhku, mencoba menenangkan diriku dari godaan nafsuku sendiri tapi tanpa sadar kakiku melangkah, lalu berhenti dipinggir kasur.

‘baiklah, hanya kecupan selamat malam’ pikirku.

Aku menundukkan badanku, memejamkan mataku dan mencium bibirnya perlahan berusaha agar tidak membangunkannya.

Aku membuka mataku saat merasa ia membalas ciumanku. Entah mungkin karena sudah terbawa nafsu aku pun larut dengan ciumannya.

Desahan-desahan tertahan mulai keluar dari bibir Ri Jung. Tanganku meraba payudaranya dari luar piyama dan hal itu membuat desahannya semakin menjadi.

Tangan Ri Jung mulai membelai rambutku, mengharapkan perlakuan lebih dariku. Aku masukkan tanganku ke dalam bajunya.

Merasakan gundukan yang ada di perutnya, kali ini dengan kesadaran penuh aku membuka mataku lalu melepaskan ciuman kami.

“oppa, waeyo?” tanyanya masih terengah-engah.

Aku tidak menjawabnya lalu pergi ke kamar mandi, membasuh mukaku dengan air dingin. ‘sadarlah Chansung, kau tidak mungkin membahayakan bayimu sendiri’  sahutku dalam hati.

Setelah merasa bisa mengendalikan nafsuku, aku keluar dari kamar mandi. Aku lihat Ri Jung masih duduk diatas kasurnya.

“tidurlah” ucapku seraya menghampirinya. Ia menggeleng, “aku tidak bisa tidur”

“baiklah, aku akan menemanimu sampai kau tidur” kataku lalu duduk di pinggir kasurnya.

Tiba-tiba ia menatapku, “apa oppa menghentikannya karena aku sedang hamil?”

“tentu saja, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu atau bayiku”

Ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, “kau tau, aku semakin membenci anak ini” ucapnya pelan tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.

“aku harap kau tidak terus menyalahkan anak ini” ujarku sambil mengusap rambutnya. Setelah itu tak ada jawaban lagi darinya, aku kembali ke sofa lalu mencoba tidur dengan masalah yang bercampur aduk di dalam otakku.

~TBC~

By: tyasung

Comment yaa~! \(^o^)/

4 thoughts on “Be Mine, Please.. {Part 6}

  1. menggigit
    awawaw ri jung~~😄
    RAME RAME RAME
    ayo cepet tamatin
    ahahahaha *plak
    ooo knpa ri jung hrus hamil disaat seperti itu?!! O.o

  2. jiakakakakaka menuju nc bok~~
    emang dah tyas onn gaisa jauh jauh dari yang namanya NC ! *evilaugh*

    onn ………
    kyak cinta pitri ya complicated gitu hihi .__.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s