Panettone – 1st Plate

Panettone, sebenernya nama kue yang bentuknya dome, sejenis sponge cake yang ringan2 gitu, trus di dalemnya ada buah-buahan yang udah dikeringin *kismis dkk*

ga ada maksud lain namain ni ff pake nama kue itu selain nunjukin ff ini ceritanya ringan2 aja, tapi mdh2an bisa dinikmatin😀

okeh, ga usah banyak bacot.

please enjoy the fanfict ~😀

Si prega di godere il fanfict~!

“The sky above the meadow”

il cielo sopra il prato

1st Plate : ~ E ‘Inizia in Inverno ~

(It’s Begin in Winter)

“Hari ini masak apa ya?” pikir seorang laki-laki di depan rak sayur sebuah supermarket. Saat sedang memilih tomat,  tiba-tiba pandangannya tertuju pada perempuan berambut ikal panjang yang sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki, tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Perempuan itu mirip Yongra… Tapi ga mungkin dia jalan-jalan…dia kan lagi sakit…” batin laki-laki bernama Doojoon itu.

Matanya terus memperhatikan perempuan yang mirip yeojachingunya. Makin lama sosoknya semakin dekat.

Semakin dekat sampai tepat di depannya, langkah perempuan itu mendadak terhenti. Matanya terbuka lebar. Wajahnya nampak kebingungan.

Wajah Doojoon berubah bingung sekaligus marah.

“Sembuhnya cepet banget.” Ujar Doojoon sinis dengan tomat dalam genggaman tangan kanannya

“Yoon Doojoon…? Ah…i..itu…” tanya perempuan itu pelan.

Doojoon terus menatap sinis perempuan yang ternyata yeojachingunya

“Kenalanmu, jagiya??” tanya laki-laki yang digandengnya

“…….” Perempuan itu hanya terdiam

“Jagiya, kenalanmu bukan…?” tanya laki-laki itu lagi

“…I..iya, teman sesekolah…..” jawab Yongra terbata-bata

“Oh… Choneun Yong Junhyung imnida.. Namjachingunya Yongra..” ujarnya sambil mengulurkan tangan

Doojoon menarik nafas panjang sambil memikirkan serangkaian kata yang berserakan di otaknya.

Perasaan marah dan kecewa membuat hatinya perih.

Tomat merah di tangan kanannya menangis karena tidak kuat menahan tekanan yang diberi Doojoon padanya *baca : bucat*

Doojoon menatap wajah Yongra yang gelisah.

Sementara ia juga gelisah, tomat ini gimana? Dibayar ga ya??? Tapi ga ada plang “membucatkan berarti membeli”

Doojoon hanya terdiam menatap tangan Yongra yang tak juga lepas dari tangan kiri Junhyung.

“Ne.. Arasseo.. Annyeong, Yongra..” ucapnya sinis tanpa menyambut tangan Junhyung dan beranjak pergi dari situ.

“Doojoon! Tunggu!” pinta Yongra sambil merarik tangan Doojoon.

“Apa lagi?” tanyanya datar.

“itu…. NGUEEEEOOOOK!!! NGEEEOOOOOKK!!! RRRRRRR!!!!!” Yongra mulai menggeram seperti kucing yang bertemu musuhnya.

Hapah?? Apa-apaan? Ni FF mulai ga beres, ngapain si Yongra ngeong-ngeong di suasana sedramatis *???* ini?

Doojoon berbalik untuk melihat Yongra,

tapi yang dilihatnya sekarang adalah langit-langit kamarnya.

“Cih…mimpi???  Padahal udah satu tahun yang lalu… kalo diinget-inget sial juga. Besoknya aku malah diputusin…” batinnya mengingat peristiwa itu.

“Ngomong-ngomong diputusin, tiga tahun yang lalu juga aku diputusin Jeong Haneul….ah, kenapa peruntunganku tentang cewe selalu ga bagus??” lamunnya lagi sambil menghela nafas panjang

“RRRR….RRREEEEEOOOWWW!!!” rupanya suara kucing-kucing di mimpi tadi berasal dari luar apartemen.

Suara-suara yang memaksanya membuka mata di hari Minggu yang dingin ini.

“Jam 7 pagi.” Batinnya lagi sambil melihat jam digital berbingkai hitam yang berdiri di meja kecil samping tempat tidurnya.

“Cih. Padahal hari ini niatnya mau bangun siang…” ujarnya sambil membuka selimut dan duduk di pinggir tempat tidur sambil mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran.

Sudah 2 bulan Doojoon menetap sendirian di apartemen berukuran sedang ini karena ada beberapa masalah di rumahnya.

Kamarnya biasa saja, temboknya berwarna putih, barang-barangnya didominasi oleh warna hitam dan putih.

Dari pintu masuk bisa langsung terlihat dapur di pojok kiri belakang,

pintu kaca menuju balkon tepat diseberang pintu masuk,

tempat tidur di ujung kanan ruangan,

pintu wc di sebelah kanan depan.

Di tengah-tengah ruangan ada meja makan pendek berwarna hitam.

Di belakangnya ada sofa hitam yang menghadap ke TV.

Lemari baju, rak buku, dan meja belajar menempel di dinding dekat wc.

“Haaah… tinggal sendirian itu enak….” Batinnya lagi sambil menghela nafas

“NGEEOOOK!!!” suara kucing itu membuyarkan lamunannya.

Doojoon pun langsung berjalan ke arah wc dan mengambil segayung air dengan penuh emosi.

“RRREEEOOOWW!! NGEEEOOOOK!!! HEEEEESSSSHHHH!!!” suara kucing itu makin terdengar keras.

Sepertinya naik ke balkon kamar kosong di sebelah kiri.

Doojoon mempercepat langkahnya dan segera membuka tirai putih yang menutupi pintu kaca menuju balkon.

Dengan cepat ia membuka pintu yang ternyata lupa dikunci dan langsung mengguyur balkon kamar sebelah.

“BERISIK!!!” teriaknya.

“UGYAAAA!!!! DINGIIIN!!!”  teriak si kucing

“Sukurin kedinginan! Suruh siapa berantem pagi-pagi gini!” gerutunya sambil berbalik dan membuka pintu kaca.

“……………”

Bentar….kucing bilang dingin??

Bentar….ini kan lantai 3…gimana caranya kucing naik kesini?

“Hacchiiiieh!!”

Bentar…. Bersinnya juga kaya orang..

Perlahan Doojoon menoleh ke arah balkon sebelah.

“WHOAA!!”

Terlihat seorang cewek berambut hitam yang lumayan panjang, memakai kaos hijau tosca gombrang, basah kuyup dan menggigil. Jelas aja menggigil, ini lagi pertengahan musim dingin dan dia dibanjur air dingin. -____-

“Hantu kah?? Tapi aku ga ngebuka mata batin aku hari ini…” pikir Doojoon yang memang punya sixth sense

“Hacciiieh!!” cewe itu bersin lagi

“Itu orang!!” pikirnya

“Aahh!! Mianheeee!!!” teriak Doojoon panik

“….g..g…ga..pa..paa.. HACHIIIH!! Salah a…ku jug..HACHI!! yang…niruin..su..aaa..ra ku..cing..bee…rantem… mianhe u..udah bikin rrr..ribut…” ujar cewe itu sambil menggigil dan masuk ke dalam kamarnya.

“BLAM” pintu tertutup

Syuu~~ *efek angin musim dingin ngegeber*

*ada keresek ngelayang*

“OMO….gimana ini?!!” batinnya

Doojoon buru-buru masuk dan menutup pintu kaca.

“Kayanya aku harus minta maaf. Tapi gimana caranya….?

AHA! *nganga selebay iklan modem*

Cuma itu caranya!!” pikirnya sambil menjentikkan jari.

******

15 menit kemudian~

“Kamar no. 13….” Gumam Doojoon di depan pintu kamar sebelah

Apa benar yang tadi itu orang?

Kenapa papan namanya kosong?

Kenapa hawa kamar ini ga enak??

“Ah, pencet aja belnya.”

“Ting tong ting ting ting ting ting”

“Sebentaaar…..” jawab orang dari dalam. “Ah, syukurlah beneran orang.” Ujar Doojoon sambil menghela nafas

Ceklek… pintu terbuka.

“Ah, siapa ya?” tanya cewe yang tadi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk hijau muda.

“A…aku.. Yoon Doojoon dari kamar no.12…” jawabnya setengah takut dimarahin. -_-;

“OH! KAMUU!!! Yang tadi ngebanjur ya?? Maaf ya pagi-pagi bikin ribut…” ucapnya dengan wajah memelas.

“Justru aku yang mau minta maaf udah banjur kamu. Ah, ini sebagai tanda maaf dari aku..” kata Doojoon sambil menyerahkan semangkuk Cheese Fondue beserta rotinya yang masih panas.

“Jinjaaa??? Buatku??” ujar cewe itu dengan mata berbinar-binar.

Doojoon hanya mengangguk dan tersenyum.

“Udah lama aku ga masak buat orang lain” batinnya

“Whoaaa!! Kamsahamnidaaa!!😄 Senangnyaa~~ sering-sering dibanjur juga ga apa-apa deh kalo gini jadinya~” ujarnya sambil mengambil mangkuk itu dari tangan Doojoon.

Cewe aneh… -_-a

“Aah!! Ayo masuk dulu!” ajaknya

“Ngga…ga usah..” tolak Doojoon

“Hee.. ayolaah… aku punya buah-buahan :D” ajaknya lagi sambil menarik tangan Doojoon. Tenaganya besar juga.

Kamarnya ga beda jauh dari kamar Doojoon. Hanya saja di kamarnya masih banyak kardus yang bergelimpangan.

“Maaf ya masih berantakan, aku baru pindahan kemarin sore. Silahkan duduk~” ujarnya sambil menaruh mangkuk di meja pendek yang terletak di depan TV.

“Ne..gwaenchana…” kata Doojoon sambil duduk di atas bantal biru empuk yang mengelilingi meja kayu berwarna coklat hitam itu.

“Maaf ya aku cuma punya buah dukuh…” ucapnya sambil menaruh senampan dukuh

*doojoon anaknya dookoon disuruh makan dookooh*

“Gwaenchana.. Oiya, aku belum tahu nama kamu..” ujar Doojoon sambil mengambil sebutir dukuh

“Oh, aku lupaaa~ choneun Park Haneul imnidaaa~” jawabnya riang.

“Ne? Haneul??!!” tanya Doojoon setengah kaget

“Iya~~Haneul. Fuuuh… Kenapa?” tanyanya heran sambil meniup roti yang ujungnya tercelup cheese fondue

“Ngga.. Nama kamu sama kaya temen SMA aku.. cuma beda marga…” jawab Doojoon sambil menunduk.

Haneul hanya mengangguk dan meneruskan makannya.

“Fuwaa!! Enaknyaaaa~~!!!” teriak Haneul

“Eh? Jinjja?? Itu resep pertama yang aku kuasain di semester 1 ini” ujarnya bangga

“He? Kamu kuliah jurusan tata boga??” tanyanya sambil terus melahap cheese fondue sambil sesekali meniupnya

“Bukaaan..T^T aku kuliah di Nanana *???* University.. fakultas European Cuisine.. bukan tataboga banget” tepis Doojoon.

“Waaah!! Deket sama universitas aku dong😀. aku di Piiiip-piiiip *???* University~” katanya lagi

“Oooh…yang di atas itu??? Nee, lumayan deket.  Semester berapa?” tanya Doojoon sambil terus mengupas kulit dukuh

“Sama, semester satu juga. Jurusan Psikologi :D” jawabnya. Doojoon hanya mengangguk dan memakan dukuh yang sudah dikupasnya sambil mengingat Jeong Haneul yang sekarang kuliah di jurusan arsitektur di sebuah institut ternama sambil melahap dukuh yang sudah terkupas. (Author nangis gugulutukan *dadah ‘Un-Ordinary College Days’ * T^T)

“…” Doojoon mengernyitkan dahinya.

” ASEM BANGET NI BUAH!!” teriaknya dalam hati

“Ahem hya? *asem ya?*” tanya Haneul dengan sendok yang diemutnya.

“Ne…tapi seger ko… Gomawo…” ucapnya mencoba senyum. “Ko rasanya hawa kamar ini mulai ga enak lagi ya?” pikirnya

“Eh.. Aku cuci dulu ya mangkoknya :D” kata Haneul sambil beranjak ke wastafel.

Doojoon berusaha berkonsentrasi untuk membuka mata batinnya.

Benar saja, di ruangan itu ada sesosok arwah perempuan yang berniat iseng mengikuti Haneul ke arah dapur.

“Ah!!!” Haneul tiba-tiba berteriak

“Kenapa??” tanya Doojoon

“Airnya tadi berubah jadi merah, kaget deh. Tapi pas ngedip jadi bening lagi..” jelasnya kalem. Doojoon yakin tadi itu ulah si arwah.

“Sreeek….” Arwah itu berulah lagi, ia menggeser gelas di samping Haneul.

“Eh? Gempa ya?? Gelasnya tadi gerak loh” tanyanya lagi sambil menunjuk gelas di sampingnya

“Mungkin…” jawab Doojoon singkat. “Ni anak kayanya bebal banget” pikirnya

Arwah tadi mulai cape. Tapi dia pantang menyerah.

Dia membuat lampu kamar nyala-mati-nyala-mati.

“Uwooh… listriknya gini lagi… Pantesan aja harga kamar ini murah banget…” gerutunya. “Di kamar kamu pasti air sama listriknya ga bermasalah deh..” ujarnya. Doojoon hanya tersenyum.

“Bukan air ama listriknya dudul…tapi penunggu kamar ini yang bermasalah.. tapi dengan kebebalan yang kaya gitu, aku yakin ga akan ada apa-apa” pikir Doojoon

Setelah menghabiskan tenaga yang lumayan besar dan ga ada hasilnya, arwah itu menyerah dan menyembunyikan sosoknya.

“Ini mangkoknya.. Kamsahamnidaa Doojoon-sshi~Enak bangeet Cheese fonduenya!!” ucapnya lagi sambil mengacungkan jempol kanannya dan kembali duduk.

“Syukurlah kalo kamu suka…” ujar Doojoon

“Kamu pasti bisa jadi chef yang hebat!” kata Haneul lagi

“Jinjja?” tanya Doojoon setengah senang

“Nee!! Pasti bisa..! Hmm.. kalo udah makan yang enak banget gini jadi semangat beberes! XD” ujarnya penuh semangat

“Haha..gomawoo.. Ngg.. Kayanya banyak yang belum diberesin, mau aku bantu?” tawar Doojoon tanpa sadar terbawa suasana. *atau terkena trik psikologisnya Haneul?*

“Gwaenchana??” tanyanya penuh harap.

“Nee.. yang mana dulu yang diberesin?” tanya Doojoon penuh semangat

“Kardus itu dulu.. isinya alat dapur :D” tunjuknya ke satu kardus besar diantara belasan tumpukan kardus yang bergelimpangan.

“Okey!! Kaja!!!” ujar Doojoon semangat

*********

@Piiiiip-piiiiip University

“Hwah, kita kepagian nih datengnya..” ujar Haneul pada temen sejurusannya yang lumayan ‘boyish’, Choi Haerim

“Iya, Neul. Tapi gapapa,, aku jadi bisa baca komik dulu.. ahahaha!!” kata Haerim sambil memperlihatkan belasan komik-komik sewaan yang tersimpan dalam tas besarnya. *ni anak mau kuliah ato apa?*

“Hwaaa..banyak bangeet!! Nanti pinjem ya” pinta Haneul

“Sip siip!! Ambil aja yang kamu mau pinjem” ujarnya sambil mulai membaca salah satu komik serial cantik

Love ya love ya love yaa~~

Belum sempat Haneul memilih komik, hempon Haneul berdering.

“Oh, Jungmin oppa.. Yoboseo??” sapanya

“Haneul! Gimana apartemen barunya?” tanya Jungmin ramah

“Bagus oppa, cuma air sama listriknya kadang-kadang bermasalah…” jawabnya

“Ooh, tapi ga parah kan? Kamu udah beberes?” tanya Jungmin lagi

“Ngga ko,, Udah oppa. Kemarin dibantu sama cowo dari kamar sebelah. Baik deh orangnya, pinter masak lagi~” celoteh Haneul

“HAH??!! YAAH! Kamu ini gimana sih?!! Kamu kan pindah dari situ biar ga kelacak si orang aneh itu!! Gimana kalo dia orang suruhannya?! Gimana kalo dalem makanannya ada alat pelacak?!! GIMANA? GIMANA? GIMANAAA???” bentak Jungmin, galaknya mulai keluar

“OMOO!! Mianhee…  Aku ga inget! Tapi kayanya dia bukan orang suruhan..” ujar Haneul

“HAH! Yaudah, nanti kamu ceritain ke tetangga kamu tentang cowo aneh itu, oke? Hati-hati ya..” kata Jungmin

“Ne… “

“tututututututtt………..” telepon terputus.

“Kenapa, Neul?” tanya Haerim

“Ng..biasa si oppa takut si cowo aneh nemuin aku..hehe. ga ada yang nanyain tentang aku kan ke kamu??” tanya Haneul cemas

“Ngga ada ko. Tenang aja, Neul. Aku ga akan kasih tau alamat kamu ke siapa-siapa” jawab Haerim tenang.

“Gomawo~”

******

@Nanana University

Doojoon terdiam di bangku taman dekat gedung jurusannya.

“Doojoon-ah.. kenapa hey? Lemes banget.. masih pagi nih!” tanya Dongwoon, teman sefakultas Doojoon.

“Kemarin dari pagi sampai malem ngebantuin tetangga yang baru pindahan… masangin  figura, rak buku, gagang shower, gantungan baju, lukisan, masakin makan malem juga.. aah! Banyak banget deh… barangnya juga serba biru muda” keluhnya sambil memijat bahu kanannya yang terasa sangat pegal.

“Kenapa juga mau?” tanya Dongwoon

“……..Entahlah, aku kebawa suasana…” jawabnya dengan senyuman tipis

“Ahaha.. Arasseo..” tawa Dongwoon

“Hah??”

“Bukan apa-apa.. ah, hari ini kamu ujian praktek lagi kan? Semangat ya!! Aku duluan ya~” pamitnya sambil dadah-dadah ala miss universe

“Ne..gomawo” ucap Doojoon. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7.45 ia pun langsung melangkah ke ruang praktikum di lantai 2.

Ini ke-6 kalinya Doojoon mengikuti ujian perbaikan masakan perancis. Padahal dari segi rasa dan tampilan, masakannya ga ada masalah.

“Cih. Kenapa aku masih harus mengulang dengan orang-orang yang masakannya gosong, keasinan, hambar, mentah, kaya mereka?!” gerutunya dalam hati

“Entah apa yang bikin ni dosen kumis tebel sialan ga mau ngelulusin aku.”  Gerutunya lagi sambil mulai menyiapkan alat-alat untuk membuat Ratatouille.

“Pokoknya hari ini aku harus bisa! *on fayer*”

***********

@Doojoon’s apartment

“Sialaaan!!!” gerutunya sambil membuka pintu kaca dan memukul pagar balkon yang setinggi perutnya.

“Anda belum lulus, besok kesempatan terakhir.” Kata-kata si dosen kumis tebel sialan itu masih terngiang di kepalanya.

“AIIISSSH!! APA YANG SALAH DARI MASAKAN AKU?!!” gerutunya sambil merebahkan diri di bangku balkon. Di meja sebelahnya ada sebungkus rokok yang sudah terbuka. “Punya siapa ini?” pikirnya sambil memegang bungkus rokok itu

“Kamu ngerokok?” suara Haneul yang sedang berdiri di balkon sebelah kiri membuyarkan niat Doojoon yang hampir saja mau merokok *saking setresnya.*

“Ani…. Ini bukan punyaku..Aku ga ngerokok… “ bantah Doojoon sambil melempar rokok itu ke tempat sampah

“Baguslah… Rokok itu ga baik buat chef, bisa ngerusak indra perasa” jelasnya sambil menyapu balkonnya

“Oya? Berarti dosen aku perokok berat…” gerutu Doojoon lagi

“Ne? Kenapa emangnya?” tanya Haneul sambil terus menyapu

“Aku udah enam kali remedial praktek masak, padahal rasa masakan aku ga kenapa-kenapa..” ujarnya

“Jinjja? Kenapa ya??” tanya Haneul sambil berhenti menyapu

“Entahlah… Besok kesempatan terakhir aku, kalau besok ga lulus, aku harus ngulang sama yang tahun depan” jelasnya

“Kalo gitu manfaatin hari ini buat latihan, mumpung masih sore..” ujar Haneul

“……*ada lampu muncul diatas kepala Doojoon* Haneul-sshi.. Hari ini kamu makan malem pake apa?” tanya Doojoon

“Ne? Aku belum sempet belanja,jadi kayanya makan mi rebus pake nasi aja..” jawabnya sambil tersenyum bangga *???*

“APA??? Hari ini makan malem di apartemenku aja.. Sekalian bantu aku latihan buat besok..” ajak Doojoon

“MWOO?? Ga usah.. kemaren kan kamu udah masakin..” tolaknya

“Yaa…Kamu ga mau bantu?” pinta Doojoon dengan tatapan kamu-mau-mati-dilempar-dari-balkon-hah?!

“…………Oke deh….jam berapa?” tanyanya

“Jam 7 disini ya! Aku siap-siap dulu!!” kata Doojoon semangat

“Nee.. Hwaitiiing!!”

**********

Jam 6 sore..

“Ting ting ting ting~~” bel kamar Doojoon berdeting (?) tepat saat ia selesai memotong sayuran untuk Ratatouille-nya

“Sebentar!!” jawab Doojoon sambil melangkah ke arah pintu depan, masih memakai celemek biru dan baju lengan panjang putih yang digulung sampai sikut.

“Ceklek…” pintu dibuka

“Annyeoong~” sapa Haneul

“Hee?? Kenapa dateng jam segini?? Aku belum selesai” tanya Doojoon

“Katanya jam 7??” tanyanya

“Sekarang kan baru jam 6….” Kata Doojoon sambil melihat jam

“OMO! Aku lupa jam di rumah dilebihin satu jam biar ga kesiangan…ehehe” ujar Haneul

“Ah, ya udahlah, masuk aja..” ajak Doojoon

“Sippoo~” Haneul mengikuti Doojoon ke arah dapur

“Waah! Alat masaknya banyak banget…” kata Haneul kagum. Doojoon hanya tersenyum dan mulai memanaskan minyak di atas wajan.

“Haneul-sshi, duduk aja disitu” suruh Doojoon sambil menunjuk bangku tinggi di dekat meja dapur

“Ah,nee..gomawo.. Mmm…Kamu pasti niat banget ya jadi chef…” ujar Haneul lagi

“Haha…kelihatan ya? Ini cita-cita aku dari kecil…” ujarnya sambil memasukkan bahan-bahan.

“Wah,, hebat.. diliat dari alat-alat masak yang banyak gini, kamu kayanya didukung banget ya sama orang tua…” ujar Haneul

“Ng? Sebenernya sih yang ngedukung cuma Umma. Semua biaya kuliah dia yang bayar, untungnya usaha butiknya laris banget. Kalo soal alat masak, itu aku yang nabung. Babeh aku sama sekali ga pengen anaknya jadi chef…” jelasnya

“Kamu liat jam bentuk kapal layar antik yang ngegantung di deket microwave?” tanya Doojoon lagi

“Hmm…” angguk Haneul

“Babeh aku direktur perusahaan penjual barang antik.. Dia pengen suatu hari anaknya kuliah di manajemen dan jadi penerus perusahaan itu. Kerja di kantor, bukan di dapur.” ujarnya lagi

“Mmmm… Kamu anak tunggal?” tanya Haneul pelan

“Hm… entahlah, yang pasti aku ga punya saudara kandung” jawabnya.

Haneul memutuskan untuk diam walaupun di benaknya terpintas pertanyaan ‘apa babehnya Doojoon poligami? Ato ngangkat anak?? ato membelah diri? ato memamah biak sendiri??’

“Ah, maaf ya aku banyak ngomong” ucapnya

“Gwaenchana… Aku suka denger cerita-cerita kamu” ucap Haneul singkat

“Ngg… Kamu anak tunggal?” tanya Doojoon

“He? Ngga, aku anak ke dua dari dua bersaudara. Oppa aku kuliah di luar kota..”

“Oh.. Mmm…Sebentar lagi Ratatouille nya jadi.. bisa minta tolong ambilin piring..” pinta Doojoon

“Ne.. Yang mana?” tanya Haneul

“Yang putih polos, bentuknya kotak, di rak itu…” tunjuknya

“Aah.. ini” ujar Haneul sambil menyerahkan piring itu

“Sip,, kamu tunggu aja di meja makan disana” suruhnya.

“Ooouke~” Haneul langsung duduk manis di atas bantal empuk di depan meja.

“Nah, udah jadi~” ujar Doojoon sambil berjalan ke arah meja makan

“HEEUP!! Berhenti disitu!” suruh Haneul

“Hee??”

“Sekarang bayangin kamu ada di tempat ujian, bayangin aku dosennya. Anggep ini ujian beneran” suruh Haneul lagi

“Oke…” ucap Doojoon sambil memejamkan mata dan menarik nafas panjang.

Perlahan ia membuka matanya, sekarang ia seolah berada di ruang ujian yang hening, Haneul yang ada di depannya sekarang berubah menjadi dosen kumis tebel sialan itu.

“Silahkan dinikmati hidangannya…” ucap Doojoon sambil menaruh piring di depan dosen kumis tebel.

Dosen kumis tebel itu pun mulai mencicipi Ratatouille buatan Doojoon.

Doojoon menatap satu sendok Ratatouille yang mulai masuk ke dalam mulut dosen kumis tebel. Ia memperhatikan setiap gerakan rahang dosen kumis tebel yang naik turun seirama dengan kumisnya.

“Yoon Doojoon….” Dosen kumis tebel itu mulai berbicara dengan suara Haneul. Biasanya kata-kata yang selanjutnya keluar itu : ‘Anda belum lulus’

“Ya?” tanya Doojoon

“Ratatouille ini enak…. Tapi…. Apa muka kamu selalu kaya gitu setiap ujian?” tanya dosen kumis tebel yang lama kelamaan sosoknya terlihat menjadi Haneul lagi

“Hah? Muka aku kenapa?” tanya Doojoon

“Muka kamu keliatannya kesel banget….. aku jadi takut makannya…” kata Haneul

“Hee??? Jinjja??? Mianhe.. aku ga sadar muka aku kaya gitu…” ucapnya

“Gwaenchana… Mmmm.. gimana kalo kita ulangin lagi cara penyajiannya? Tapi pake senyum oke?” ajak Haneul

“Oke”

*********

@nanana University

“Silahkan dinikmati hidangannya…” ucap Doojoon sambil menaruh sepiring Ratatouille di depan dosen kumis tebel yang kata-Haneul-jangan-panggil-dia-sialan dengan senyum yang meyakinkan.

Ga kaya senyum pembunuh

Ga kaya senyum om-om mesum

Ga kaya senyum kebelet

“Senyum yang ikhlas~~ ikhlaaas~ ikhlaaas~ *goyang-goyang kaya kake2 dumbledore di iklan ax-s* , Yoon Doojoon… matanya ikut senyum dong~ bikin orang yang makan ini ngerasa nyaman..” kata-kata Haneul terngiang di otaknya

As usual *it’s mine~ eo eo eo~~ *joget lupin**

Doojoon menatap satu sendok Ratatouille yang mulai masuk ke dalam mulut dosen kumis tebel.

Ia memperhatikan setiap gerakan rahang dosen kumis tebel yang naik turun seirama dengan kumisnya.

“Yoon Doojoon….” Panggil dosen itu

“Ya?”

“Sepertinya kamu udah belajar banyak, hari ini saya bisa menikmati masakanmu dengan baik” kata si dosen.

Doojoon terdiam menunggu keputusan dosen kumis.

“………………..”

“Kamu lulus.” Ucap dosen kumis dengan senyuman yang ga pernah Doojoon bayangkan bisa menempel di wajah dosen serem itu.

“Kamsahamnida…” Doojoon membungkuk dan dengan perlahan meninggalkan ruang ujian.

“Yoon Doojoon.” panggil dosen kumis tebel sambil mengelap mulut dan kumisnya dengan serbet.

“Ya?” Doojoon menghentikan langkahnya

“Berterimakasihlah pada orang yang sudah membantumu” ujar dosen itu sambil tersenyum. Doojoon membalas tersenyum dan melanjutkan langkahnya keluar ruangan.

Diluar…..

OOOYEEEEEEEEEEH!!!! *joget Oh Yeah nya MBLAQ*

*joget waka-waka*

*JOGET BIRIBOPPOP*

*digusur Dongwoon-dancer* <—request si meching

*lari-lari keliling lapangan bola sambil buka baju ..aw.. XD*

*salto*

*kayang*

*roll depan*

*roll belakang*

“Aku harus syukuran!! HUAHAHAHAHAHA ehem~”

************

Jam 18.55

@taksi remah gipah

Breath in Breath out… hhh. Hhh…

Yeonhee Calling

“Yoboseo?” sapa Haneul

“Haneul!! Aku diputusin Jinwooooon!!! Uweee!!” teriak Yeonhee di seberang. Suaranya sangat keras sampai Haneul harus menjauhkan hempon dari telinganya.

“Wae?? Kenapaaa??” tanya Haneul panik juga

“GATAU!! POKONYA BANTU CARIIN COWO!! AKU MAU NANGIS DULU! DADAH!” tutupnya tiba-tiba.

“…………..” hening.

“Neng, disini neng?” tanya mang taks memecah keheningani. Ga terasa Haneul sudah sampai di depan apartemen lagi.

“Oh, iya disini..” taksi pun berhenti dengan perlambatan 5 m/s kuadrat *aduh kangen fisika*

“Ini mang, kembaliannya ambil aja” kata Haneul sambil menyerahkan uang sebesar 15.000 rupiah *kembaliannya 1500 doang*

“Makasih, neng” taksi pun langsung melaju lagi setelah Haneul menutup pintu taksi dari luar *iyalah*

“Love ya love ya love yaa~~~”

Jungmin oppa calling~

“Aduh, ini apalagi sih?? Yoboseo, oppa~~ ada apa??” tanya Haneul

“Ga apa-apa, kamu dimana sekarang??” tanya Jungmin di seberang

“Aku udah di depan apartemen..” jawabnya

“Ooh.. eh, udah cerita ke tetangga kamu?” tanya Jungmin

“AAAAH!! Beluum!! DX lupa!!”

“Pasti deh.. -_-; Kamu tetep harus hati-hati ya sama tetangga kamu itu” ujarnya

“nee..”

“EH! Haneul! Kamu selalu bawa alat itu kan??” tanya Jungmin tiba-tiba

“Oh, alat itu? yang itu? buat itu? yang digituin itu? Ada di tas terus ko oppa..” jawab Haneul tenang

“Baguslah, yaudah, dadaah~ dosennya udah dateng”

“dadaaah~~ met belajaar~ :D”

“tutututututut~” telepon terputus lagi

Haneul melanjutkan langkahnya ke arah lobby.

“Annyeong Haneul-aah~~” sapa ajumma *???* pemilik apartemen yang masih lumayan muda. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai jatuh ke gaun hitamnya yang elegan.

“Annyeooong, Gahee ajumma… Mau keluar ya?” tanya Haneul

“Iya, mau makan malem di luar..” jawabnya tersipu, kayanya mau jalan sama cowo barunya. Haha.

“Nee.. hati-hati di jalan, ajumma :D” ucap Haneul sambil melangkah lagi ke arah lift.

“Kamu juga hati-hati yaa~ annyeong” ucap Gahee

Ting.

Lift langsung terbuka saat Haneul menekan tombol naik  ^.

Haneul masuk kedalam lift kosong itu dan segera menekan tombol angka 3.

“Wah, udah jam 7 lagi… aku belum makan apa-apa dari tadi siang..” keluhnya sambil melihat jam di tangan kirinya.

“Apa ke apartemennya Doojoon aja ya? Minta makan sekalian cerita tentang si cowo aneh itu…?” pikirnya lagi

TING.

Lift sampai di lantai 3.

“Iya deh, ke apartemen Doojoon aja nanti abis ganti baju~” ujarnya sambil melangkah keluar lift

“Park Haneul….”  Panggil seorang cowo berjaket hitam yang wajahnya terhalang oleh hoodie, tepat saat pintu lift tertutup.

Jantung Haneul berdegup kencang.

“jangan-jangan si cowo aneh itu??!!” batin Haneul sambil merogoh sesuatu dari dalam tasnya.

APAKAH ITU???

>>TO BE CONTINUED!!

comments needed😀

by: jeonghaneul

twitter: @ameliamew

3 thoughts on “Panettone – 1st Plate

  1. waa amew amew amew
    bodor beud dah ni ffnya😄
    dan apa pula itu universitas piip piip? hahahahahahahaha
    bagus bagus mew!!!
    ntar2 klo ngepost lnjutan bilang2 dong mew! hehehe ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s