7

Secret Story {Chapter 1}

Title : Secret Story – Chapter 1

Author : retnowulan

Length : Twoshot

Genre : Tragedy (?)

Cast : – Choi Yoo Young a.k.a. Choi Minho’s sister

–      Lee Jinshin a.k.a. Lee Jinki’s sister

–      Kim Shingo a.k.a. Kim Kibum’s brother

–      All Shinee member

–      A sligt of Go Hara

Disclaimer : I don’t own anybody. Shinee belong to SME. Go Hara belong to KARA. Choi Yoo Young, Lee Jinshin, and Kim Shingo just in imagination.

Continue reading

Advertisements
0

Love is Ouch {SongFic}

Title : Love Is Ouch

Length : Oneshot

Cast : Kim Jonghyun

Shin Seon Young

Disclaimer : I Don’t own anybody. Jonghyun belongs to Shinee. Shinee belong to SME. Shin Seon Young just in my imagination. It’s not plagiarism from another fanfic. Its my first songfic. Please enjoy my fanfic.

Oh..u..oh…

Break it down now

Oh..u..oh…

Break it down now

Break it down now

This how it’s goin’ down

(Kim Jonghyun POV)

saranghamdamnyeonseo wae

nam jakku himdeulgae hae

dodaechae mwoega bulmaninde

yojeun duleo bujjeok neuleonan ganseop

chamgyeoninal jichigae hae

“Bosan?” ujar Jinki hyung tak percaya.

“Ne.” jawabku singkat.

“Tapi…., wae? Apa kau ingat betapa sulitnya untuk mendapatkan hatinya saat sekolah dulu?” tanyanya masih tidak percaya.

“Tentu saja aku ingat, hyung. Mana mungkin aku bisa lupa. Shin Seon Young. Yeoja terindah yang pernah kulihat. Bagaimana mungkin aku lupa.” Jawabku.

“Lantas? Kenapa kau bisa bosan terhadapnya?” tanyanya masih tak percaya.

“Aku juga bingung, hyung. Aku juga heran bisa merasa seperti ini.” Ujarku bingung.

“Kasihan sekali Seon Young. Ia pasti sedih sekali mendengarnya.” Ujarnya lagi.

Ya… aku tahu sekali. Ia pasti akan sedih. Apalagi kami telah menjalaninya selama 5 tahun. Dan ini adalah tahun keenam. Tapi…. Aku juga tak mengerti mengapa. Aku juga heran dengan diriku sendiri.

******************************************************

Flashback

Aku adalah Kim Jonghyun. Siswa terbaik yang selalu menempati peringkat ketiga setelah Lee Jinki dan Kim Kibum di Namsan High School. Hari ini adalah pelajaran olahraga. Aku paling benci ini. Lebih baik aku mengerjakan soal Fisika seharian daripada harus olahraga. Aku memang payah dibidang olahraga. Apalagi hari ini materi yang diberikan adalah lari jarak jauh. Aku tak bisa melakukan ini. Lariku lamban sekali. Tuhan…. Mengapa ini harus terjadi padaku. Hwang Continue reading

3

Impulsive (drabble)

Title : Impulsive

Author : Retnowulan

Length : Drabble

Cast : –  Kwon Ji Yong (Big Bang’s member)

–      Choi Seung Hyun (Big Bang’s member)

–      Park Yoo Ri

–      Park Yoo Na

Disclaimer : I Don’t own anybody. Kwon Ji Yong and Choi Seung Hyun belong to Big Bang. Big Bang belong to YGE. Park Yoo Ri and Park Yoo Na just from my imagination. It’s a Mistakes Fanfic.  -,-

Continue reading

0

(Oneshot) Present – Next story of Love Waltz

(Hwang Yooshin POV)

Hari itu ia datang padaku. Ia pun mengatakan akan menjagaku sesuai pesan saudariku. Hwang Yoojin. Dan ia benar melakukannya. Kupikir hanya dimulut semata. Kim Yong hwa, mantan kekasih saudariku itu pun memperbaiki hubungannya denganku. Ia pun memutuskan hubungannya dengan Miseul setelah mengetahui kematian Yoojin. Aku girang sekali mendengarnya. Aku memang tak pernah menyukai Miseul. Sejak awal mengenalnya, aku tahu ia bukan yang terbaik bagi saudariku. Dan benar saja, ia merebut Yong hwa dari tangan Yoojin. Namun, aku heran mengapa Yoojin tak pernah membenci Miseul. Yoojin memang gadis yang begitu baik. Aku tak tahu siapa yang terbaik bagi Yoojin, Yong hwa atau Jonghyun. Artis yang kudengar sedang naik daun itu. Aku tahu semua sifat Yong hwa. Tentu saja, ia sudah menjalin hubungan dengan saudariku selama 2 tahun. Yong hwa memang baik. Sedangkan Jonghyun? Aku tak pernah tahu. Yoojin memang sering menceritakannya diselang waktu kami sedang bersama. Ia menceritakan Jonghyun dengan semangatnya. Menurutku Jonghyun itu seram. Masa ia selalu menguntit Yoojin? Namun herannya, saudariku itu nyaman saja dengannya. Terlebih lagi disaat ia sedih saat mengetahui Yong hwa berhubungan dengan Miseul. Dari sana aku bisa tahu kalau Jonghyun adalah pria yang baik. Hebat malah. Karena mampu membuat saudariku tersenyum dan tertawa disaat ia merasa sedih. Jujur, aku tidak bisa melakukan hal itu. Usahaku menghiburnya selalu gagal. Dan kebaikan Jonghyun sudah terbukti sekarang. Ia benar-benar menjagaku. Ia juga selalu menjengukku. Membantuku dalam segala hal. Kadang hatiku merasa tersentuh. Apa ia selalu melakukan ini pada Yoojin? Ia pasti bahagia sekali, karena Jonghyun selalu melakukannya dengan sempurna. Lalu, sebulan setelah saudariku meninggal, ia mempromosikanku pada managemen SM. Dan dalam kurun waktu 2 bulan, aku sudah melakukan debut. Bayangkan! 2 bulan melakukan trainee. Singkat sekali. Aku jamin, tak banyak artis yang melakukan trainee sesingkat aku. Selain itu, 1 bulan sebelum aku melakukan debut, aku telah resmi menjadi Yeojachingunya Jonghyun. Aku senang sekali karena pria sebaik Jonghyun bisa menjadi namjachinguku. Aku jamin akan ada berjuta gadis yang menginginkan posisiku. Namun, ada satu hal yang sangat kusayangkan. Terkadang, Jonghyun suka melakukan hal yang membuatku sedih. Ya… membuatku pedih.

“Jonghyun oppa, kau harus berjanji menyaksikanku perform hari ini kan?” Ujarku padanya saat kami berada di backstage dan aku mampir ke Ruang Shinee.

Tak ada respon.

“Jonghyun oppa..!!” panggilku lagi dengan nada yang lebih keras.

“Oh.. mwo? Minhae. Whaeyo?” tanyanya setelah berhasil kupanggil.

“Jonghyun oppa ini, sendari tadi aku memanggilmu.” Ujarku sedikit kesal.

“Ne, mianhae. Mengapa kau tak memanggilku Jonhyunie?” tanyanya heran.

“Oppa ini bicara apa sih? Oppa akan menonton performku hari kan?” tanyaku lagi.

“Mwo? Tentu saja. Tentu saja aku akan menontonmu Yoojin.” Ujarnya.

Yoojin? Apa maksudnya.

“Yoojin? Oppa, aku ini Yooshin.” Ujarku kesal.

Ia pun tampak kaget. Semua mata didalam ruangan itu pun memandang kami. Kupandang jonhyun oppa dengan sedih. Taemin pun menghampiriku dan mengelus pundakku. Ia pun mengajakku duduk di sofa yang tak jauh dari Jonghyun oppa. Kutundukkan kepalaku. Aku tahu, bayangan Yoojin dari dulu hingga sekarang tak akan pernah hilang dari hidup Jonghyun. Jonghyun oppa tak pernah berhenti mencintai Yoojin. Setiap waktu, setiap detik, ia selalu saja melamun. Dan aku tahu apa yang ia lamunkan. Selain itu di ponsel dan dompetnya, ia menyimpan begitu banyak foto Yoojin. Tak ada satupun fotoku. Padahal aku yeojachingunya.

Continue reading

8

Be Mine, Please.. {Part 7}

Ri Jung’s POV

Sinar matahari yang masuk lewat jendela menyambut mataku. Aku regangkan tubuhku lalu mengerjapkan mataku. Aku dudukkan tubuhku memandang sekeliling ruangan mencari seseorang yang seharusnya ada disini bersamaku, Chansung.

“kemana dia?” gumamku pelan sambil melihat jam digital yang berada diatas meja kecil disamping tempat tidur. Pukul 7.46.

Aku langkahkan kakiku ke penjuru kamar untuk mencari Chansung oppa, tapi hasilnya nihil. Aku raih ponselku, menekan beberapa digit nomor lalu menelpon nomor tersebut. Tidak ada jawaban. “kemana dia?!” keluhku yang mulai tak tenang.

Apa dia marah atas ucapanku semalam tentang anak ini? “Aigoo~ bagaimana ini??” ucapku sambil mondar mandir dikamar.

Atau jangan-jangan ia marah lalu meninggalkan aku sendiri disini?! Eottokhe??

Tak terasa mataku sudah mulai berair, apa Chansung oppa setega itu padaku? Aku berjalan kearah tempat tidur lalu meringkuk diatasnya memeluk erat sebuah bantal.

Cklek. Aku dengar pintu terbuka, ‘ah mungkin itu bellboy suruhannya untuk membersihkan kamar ini’ gumamku dalam hati.

Tunggu, aku merasa ada tangan yang meraba lenganku, “Ri Jung-ah, gwaenchana?”

Suara ini.. aku langsung berbalik lalu memeluk Chansung oppa yang heran melihat sikapku. “oppa mianhaeyo..” ucapku sedikit terisak.

“mianhae? Kenapa? Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada kandunganmu?” tanyanya panik.

Aku memanyunkan bibirku, “sudahlah, aku pikir kau mencemaskanku, ternyata hanya anak ini yang kau khawatirkan”

“aigo, lalu kenapa kau meminta maaf, jagi?”

“ani, aku sudah lupa. Harusnya kau yang meminta maaf padaku” kataku masih cemberut.

“mwo? Apan salahku sehingga harus meminta maaf padamu?”

Aku menatapnya jengah, “kau meninggalkanku, kau tidak menjawab teleponku, kau membuatku panik!”

Ia tertawa, “yak! Kenapa tertawa?!” protesku tak terima di tertawakan.

“jagi, kau sangat lucu! Aku turun hanya untuk memesan sarapan, jelas saja aku tidak menjawab teleponmu, ponselku saja tidak aku bawa” jelasnya sambil mengambil ponselnya yang ada di bawah bantalnya.

“jangan tertawa! Aku benar-benar takut kau meninggalkanku..” ujarku lirih.

Continue reading

4

Be Mine, Please.. {Part 6}

Chansung’s POV

Aku lihat mobil Appa sudah terparkir di garasi rumah. Ah ya, aku ingin membicarakan soal perjodohanku dengan Se Na.

Tok tok. Kubuka pintu ruang kerja Appa lalu masuk ke dalam. “ada apa lagi?” tanyanya dingin.

“aku mau bicara”

“soal apa?”

“perjodohanku dengan Se Na, aku tidak bisa menerimanya”

“waeyo? Bukankah kalian pernah pacaran? Lagipula kalau kau menolak perjodohan ini, akan berdampak buruk pada perusahaan kita”

Aku mendecak sebal, “perusahaan? Appa menjualku! Kau menjual anakmu sendiri!” bentakku.

BRAAK! Appa memukul meja kerjanya, “kau pikir selama ini kau hidup darimana?! Kau mau perusahaanku bangkrut dan kita jatuh miskin?!”

“lebih baik aku hidup miskin daripada hidup dengan berlimpah kekayaan tapi aku juga harus hidup dengan wanita itu” jawabku sinis lalu pergi meninggalkan ruangan Appa.

Seharusnya aku tau dari awal tujuan Appa menjodohkanku, pasti untuk perusahaannya. Appa memang akan mengorbankan semua hal termasuk aku dan Oemma untuk perusahaannya.

Aish, mungkin aku akan lebih bahagia kalau Oemma membawaku dulu. Kemana dia?

Aku putuskan untuk mandi dan pergi bersama Khun dan Taecyeon. Aku butuh hiburan.

Kami bertemu di sebuah cafe, tempat kami biasa bertemu. Saat aku datang, aku melihat Khun sudah duduk disebuah meja. Aku lalu menghampirinya.

“yaak, Hwang Chansung ada apa? Kau bilang ada yang mau kau ceritakan? Apa ini soal wanita?” sambut Nickhun sedikit menggodaku.

Aku tersenyum simpul lalu duduk di depannya, “yah begitulah, kau tau Shin Ri Jung kelas 2-A?”

Ia berpikir sejenak dan mengangguk, “ada apa dengannya?”

“haah.. dia hamil” jawabku singkat.

“lalu? Apa hubungannya denganmu?”

“apa hubungannya? Aku ayah dari anak yang dikandungnya!”

“mwo? Bukankah kau tidak menyukainya?” tanyanya lagi.

Tiba-tiba seseorang menepuk punggungku, “yak! Beraninya kalian memulai cerita tanpaku” ucap Taecyeon lalu duduk di sebelah Nickhun.

“kau datang terlambat, itu resikomu Taec..” ledek Nickhun.

Setelah aku memesan secangkir capuccino hangat, aku memulai kembali ceritaku. Mulai dari hubunganku dengan Ri Jung, perjodohanku dengan Se Na, “tunggu.. maksudmu Lee Se Na sunbae kita dulu? Mantan kekasihmu?” potong Taecyeon tiba-tiba.

Aku mengangguk dan menatapnya heran, “wae?”

“ehm, kemarin dia menelponku, dan memintaku untuk datang ke apartemennya..”

“lalu?” tanya Nickhun penasaran.

“ia memintaku untuk tidur bersamanya”

“aku yakin kau tidak menolaknya, bukan?” goda Nickhun.

Aku lihat Taecyeon mengangguk pelan. “aish, wanita itu benar-benar brengsek!”

“Chansung-ah nianhaeyo, aku tidak tau kau..”

“aniyo, aku tidak marah denganmu. Aku tidak peduli kau tidur dengannya”

“ah ya, lanjutkan lagi ceritamu” pinta Nickhun.

Aku menarik nafas panjang, “kalian ingat Jung Jinwoon?”. Mereka mengangguk serempak.

“orang tua Ri Jung menjodohkannya dengan Jinwoon. Haah.. Apa dunia ini benar-benar sempit?”

“jeongmalyo? Apa Ri Jung menerimanya?” ucap Taecyeon tak percaya.

Aku mengangguk lemas, “Appanya sangat keras, dan lagi Jinwoon mengaku kalau dia ayah dari anakku”

Continue reading

7

I Love Him, Not You.. {Part 7}

“aku memilihmu..”

Aku tujukan pandanganku pada Kyu oppa. Ia menghampiriku sembari tersenyum lalu memelukku, “gomawo Min Young-ah..”

Siwon oppa menatapku kecewa, tapi lalu ia tersenyum dan meninggalkan dorm. Bukan tanpa alasan aku tidak memilihnya, jujur aku kecewa dengan sikapnya yang terkesan terburu-buru dan itu membuatku tertekan, sedangkan Kyu, ia cukup sabar menghadapiku, aku yang sangat tidak tegas. Mulai sekarang, aku akan mencoba menyayanginya seperti dia menyanyangiku, dan seperti aku menyanyangi Siwon.

+++

Kyuhyun’s POV

Ia memilihku, ini hal yang kurang bisa aku percaya, sungguh. Kami berjalan ke ruang tengah dan aku tidak menemukan Siwon hyung disana.

“aku rasa ada dua perayaan yang harus kita laksanakan malam ini” celetuk Yesung hyung tiba-tiba.

Aku mengerutkan keningku, “dua?”

Ia mengangguk dan menarik Ri Jung noona ke sampingnya, “kami akan menikah!” jawabnya dengan penuh semangat.

“jinjja? Chukkae hyung, noona!” sahutku.

“kalian, cepatlah menyusul” lanjut Yesung hyung. Aku menatap Min Young dan tersenyum padanya. Min Young hanya tersenyum simpul dan sedikit mengangguk.

Aku benar-benar merasa bahagia beberapa hari ini, aku kira Min Young yang sekarang adalah benar-benar kekasihku, beda dengan Min Young yang dulu. Aku rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk meminta hal ini padanya.

Sebenarnya aku masih sering berpikiran yang tidak-tidak saat melihat Min Young dan Siwon hyung bertemu, aku takut kehilangan Min Young lagi.

Malam Sabtu ini semua member menghabiskan malamnya di dorm kecuali Siwon hyung yang sedang sibuk dengan dramanya yang baru. Ri Jung noona dan Min Young juga datang karena ajakan Yesung dan Donghae hyung.

Saat semua member sedang asik menonton tv aku menghampiri Min Young yang sedang mencuci piring di dapur. “jagiya..”

“ne?”

“apa besok kau ada acara?”

Ia menggeleng, “tidak ada, waeyo?”

“orangtuaku mengundang kita untuk makan malam bersama”

PRAANG!

Tiba-tiba Min Young menjatuhkan piring yang sedang ia lap. Aku langsung menghampirinya dan memunguti pecahan belingnya.

“oppa sudah biarkan saja, biar aku yang membersihkannya” ucapnya lalu ikut memungutinya.

“ada apa?” tanya Ri Jung noona dari pintu dapur. Min Young berdiri, “aniyo, tadi tidak sengaja aku menjatuhkan piringnya”

“aigoo, gwaenchana? Apa perlu aku bantu Min Young-ah?”

“gwaenchana, pekerjaanku sudah selesai” jawab Min Young.

Aku yang telah selesai membersihkan lantai, kembali menghampiri Min Young yang sedang meminum air dari gelasnya.

“Min Young-ah, bagaimana besok?” tanyaku lagi.

Ia menghela nafas lalu mengangguk, entah kenapa aku merasa ia tidak senang dengan ajakanku barusan. Ah, mungkin ia hanya gugup.

Aku mengusap rambutnya, “gomawo jagiya..”

“ah sudah jam 8, sepertinya aku harus pulang” katanya sembari berjalan keluar dapur. “biar aku antar” aku menahannya.

Ia menggeleng, “gomawo oppa, tapi besok pagi-pagi sekali kau ada jadwal, aku tidak mau kau bangun terlambat karena aku”

“gwaenchanayo, aku siapkan mobil ya”

“tidak usah, jam segini masih ada bis. Aku bisa pakai bis atau mungkin taksi”

Continue reading