Camera of Love

Sudah seminggu ini aku masuk salah satu organisasi di sekolahku, yaitu organisasi photography. Bukan karena aku tertarik dengan foto-memfoto, yah tertarik sedikit lah, tapi tujuan utamaku masuk organisasi ini karena ada seseorang yang bernama Cho Kyuhyun.

Dia sunbaeku, aku jatuh cinta padanya saat aku menjadi siswi baru di sma ini, dia sedang mendokumentasikan acara penerimaan siswa siswi baru di sma ini. Saat itu ia sedang hendak memotretku dan aku menyadarinya, lalu dia berkata “ah, terima kasih telah menjadi modelku.” Dia mengatakan hal itu sambil tersenyum. Sejak ia mengatakan hal itu, mataku selalu mencari sosoknya dan aku ingin mendekatinya. Yah, walaupun dia aktif di organisasi photography, tapi ia juga bintang basket yang sibuk. Seminggu menjadi member disini aku belum pernah berbicara dengannya. Aku tidak mau masuk organisasi basket, aku benci berkeringat!

CEKREK

“hey Jinki hentikan! Kau mengambil fotoku tanpa izin lagi!” kataku pada Jinki, ketua organisasi ini. Dia sunbaeku, tapi dia tidak pantas kupanggil sunbae apalagi oppa.

“sudahlah diam! Lebih baik aku yang memotretmu secara diam diam dari pada kau yang tidak pernah memotret apapun, punya kamera saja tidak! Dan panggil aku sunbae kalau kau tidak mau memanggilku oppa! Aku lebih tua darimu. Hormati aku!” omelnya panjang lebar. Aku hanya membalasnya dengan tatapan sinis yang merendahkan. Dia berbeda sekali dengan Kyuhyun sunbaeku.

“ah, Kyuhyun sunbae, silakan duduk.” Kata Eun Jin, temanku yang terobsesi dengan photography.

Omo! Kyuhyun sunbae? Aku membenarkan poniku dan menyisir jari rambut panjangku.

“Annyeong sunbae.” Sapaku.

“Ah annyeong. Kau?”

“Park Jisoo imnida.”

Setelah perkenalan singkat itu aku mulai mendekatinya. Aku mengejarnya terus menerus tapi ia hanya berkata “kau manis Jisoo, tapi kau bukan tipeku.” aku tidak pernah menyerah. Sampai suatu saat..

“Jisoo, perkenalkan ini yeojachinguku, namanya Tae Rin. Tae Rin, ini Jisoo, dia temanku. Tapi kami sudah seperti adik kakak.”

“Jisoo? Aku Tae Rin. Salam kenal.” Katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Perlu waktu lama untuk mencerna kata kata Kyuhyun sunbae sampai aku merespon tangan Tae Rin. Kakak adik?

“Jisoo imnida.”

………………………………

“dia memperkenalkan yeojachingunya padaku. Mungkin itu maksudnya menyuruhku menyerah secara halus ya haha.” Curhatku pada Eun Jin sambil tertawa garing.

“kau menyerah Jisoo?” respon Eun Jin sambil mengelus bahuku lembut.

“entahlah.” Kataku lemas dan menunduk.

CEKREK CEKREK CEKREK

Cih, si ketua satu itu.

“Dia sedang bad mood sunbae, tolong jangan mengganggunya.” Bela Eun Jin.

“dia tidak terlihat lemas di layar kameraku.” Balasnya. Eun Jin menghampirinya.

“waaah kau cantik juga disini Jisoo, coba lihat!”

Aku beranjak malas menuju mereka. Aku terkejut saat melihat hasil fotonya. “ini aku?” tanyaku tak percaya.

“Ne, Jisoo.” Kata Eun Jin.

“coba aku yang seperti itu yang dilihat Kyuhyun sunbae.” Kataku kembali lemas.

“Jangan lemas gitu, ayo kita pergi belanja!” ajak Eun Jin sambil menarikku.

……………………………..

“Eun Jin, kau mau belanja apa lagi? Aku lelah.”

“jangan lemas begitu. Emm, acaranya diubah! Kita tidak akan belanja, aku akan mendandanimu. Ah hmm, aku akan mengajak Jinki sunbae.” Kata Eun Jin excited.

“untuk apa kita mengajak Jinki?” tanyaku sewot.

“setidaknya kita butuh pendapat laki laki, ayo!”

Sesampainya di rumah Eun Jin, selagi menunggu Jinki, dia membuka lemari pakaiannya dan memakaikan ku segala pakaiannya.

“Omo!” tiba-tiba Jinki sudah berada di belakangku dan terkaget melihatku dipakaikan baju yang super ribet punya Jisoo.

“Wae?” kataku tersinggung.

“kau tidak pantas memakai baju seperti ini, sini kupilihkan!”

“waaah seleramu bagus,  Jinki sunbae, emm kau lelaki tulen kan?” kata Eun Jin setelah aku memakai baju pilihan Jinki.

“tentu saja! Menurutmu?!” katanya tersinggung.

“A a ani, pilihkan baju yang pantas untuk Jisoo lagi!” katanya. Setelah beberapa saat dia tertidur.

“Eun Jin, Eun Jin!” panggilku membangunkannya.

“ah ya? Jisoo, sekarang kau butuh ke salon. Jinki sunbae aku membutuhkan bantuanmu. Bawa Jisoo ke salon yah?” mohonnya lalu mendorong kami berdua keluar. Pasti dia mau melanjutkan tidurnya.

Seharian ini aku menghabiskan waktuku bersama Jinki. Dia tidak seburuk yang kukira. Rambutku yang tadinya rata sekarang telah berbentuk dan lebih rapi.

“terimakasih, Jinki. Ayo ku traktir eskrim.” Ajakku sambil menggandeng tangannya. Dia hanya diam, tapi aku tidak peduli. Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana reaksi orang-orang besok setelah melihat penampilanku yang baru.

“Jinki, bagaimana menurutmu pendapat orang tentang penampilanku yang baru ini? Apa mereka akan membencinya?” tanyaku padanya sambil memakan eskrimku.

“haphuh pah pahu, phau mherrafukanphu?” jawabnya tak jelas karena dia sedang mengemut sendok eskrim.

Kutarik sendok eskrimnya keluar dari mulutnya. “coba ucapkan lagi, babo!”

“aku tidak tahu, kau meragukanku?” katanya kesal dan mengambil sendok eskrimnya kembali.

“jangan ngambek Jinki! Aku hanya meminta pendapat. Menurutmu apakah aku cantik?”

“Ani.”

“serius!”

“aku serius! Kau tak cantik.”

“jadi untuk apa aku melakukan ini semua? Kau memang tidak bisa diandalkan! Aku akan mengadukan ini semua pada Eun..-“

“kau manis.” Potong Jinki sambil mendekati telingaku seakan dia akan mencium pipiku. Tiba-tiba pipiku memanas. Aku berdebar tak karuan.

“Dah, terima kasih atas eskrimnya.” Katanya lalu pergi meninggalkanku terpaku.

………………………………..

“Jisoo, kau memotong rambutmu? Kau terlihat cantik.”

“hey! Kau Jisoo? Terlihat bagus dengan baju itu.”

“rambutmu cocok sekali denganmu, aku suka kau yang sekarang Jisoo!”

Respon respon itu sangat membuatku senang. Aku menuju ruang photography. Aku hanya melihat Jinki.

“Jinki, coba sekali saja kau mengajariku memotret agar hasil fotoku bagus sepertimu.” Kataku pada Jinki yang sedang membersihkan kameranya.

“emm, baiklah. Ini kupinjami kau kameraku.”

Dia mendekatiku dan tangannya memegang tanganku dari belakang. Mukaku memanas dan jantungku berdetak tak karuan. Ini sudah yang ke 2 kalinya aku begini dekat Jinki.

“a a aku sudah bisa!” kataku padanya, untuk melepaskan pelukannya padaku.

“Hm? Cobalah!” katanya sambil tersenyum.

Kyuhyun sunbae lewat. Tidak kusia-siakan saat-saat itu, aku memotretnya. Kataku ini sudah cukup bagus. Aku memperlihatkannya pada Jinki. Ekspresinya berubah.

“bagus.” Katanya singkat dan dingin lalu mengambil kamera langganannya dan berbalik menghadap jendela.

“respon orang-orang tentang styleku sangat bagus, Jinki-ah, gomawo. Bahkan sudah ada 2 orang yang mengajakku berkencan.”

“ne.” Katanya sibuk memotret keluar jendela, tanpa melihatku.

“hey coba foto aku! Aku akan bergaya dengan gaya baruku ini.”

“shireo.” Jawabnya dingin tetap tanpa melihatku.

“kalau begitu jangan foto aku diam-diam! Jangan pernah lagi!” kataku mulai naik darah akan sifatnya.

“memang tidak akan pernah lagi. Kau percaya diri sekali.” Katanya ketus.

“Jisoo! Kyuhyun sunbae mau makan malam denganmu. Hari ini,  jam 7 malam.” Kata Eun Jin yang tiba-tiba masuk ke ruangan photography. Aku senang sekali.

“kalau begitu aku harus pulang sekarang dan menyiapkan segalanya.” Kataku senang sambil membereskan barang barangku.

“datanglah ke taman akuarium di kota jam 3, aku akan memberikan foto-fotomu yang telah kuambil.” Kata Jinki tiba-tiba. Tapi tidak kupedulikan, aku sudah punya Kyuhyun sunbae, asyik! Lagian taman akuarium? Tempat wisata yang penuh akuarium itu?(bayangin aja seaworld). Itu terlalu jauh dari rumahku.

“Eun Jin, gomawoyo!” kataku sambil memeluknya sigkat.

Lalu aku pergi dari sekolahku dan mulai menyiapkan segalanya. Ternyata berdandan memerlukan waktu sangat lama, kulihat sudah jam setengah 7 malam. “ah aku harus buru-buru.” Batinku.

………………………………..

Aku melihatnya duduk di salah satu bangku. Aku menghampirinya dan duduk di bangku yang berada di seberangnya.

“sunbae.” Sapaku.

“Jisoo? Aku sampai pangling. Kau berbeda sekarang.. kau cantik.”

“yes berhasil Jinki gomawoyo! Ohya, dia menyuruhku datang. Ah sekarang sudah jam 7 lebih, dia pasti sudah pulang. Tak mungkin dia menungguku terus terusan.” Batinku.

Telepon genggam milik Kyuhyun sunbae berbunyi.

“yeoboseyo? Ya ini aku sedang bersama Jisoo. Iya, temanku. Besok? Baiklah. Jaljayo.” Lalu Kyuhyun sunbae menutup teleponnya. Pasti dari Tae Rin.

“yeojachingumu sunbae?” tanyaku.

“ne, dari Tae Rin.”

“apa aku tidak mengganggu?” seganku, walaupun aku sedikit kecewa.

“Ah ani, aniyo.”

Semalaman itu dia habiskan waktunya untuk menceritakan segalanya tentang Tae Rin. Dia begitu mencintainya. Aku kecewa, tapi hatiku tidak sakit, aneh sekali.

Aku sampai di rumah jam 9 malam, aku menyalakan TV. Aku menonton berita sambil menelepon Eun Jin dan menceritakan semuanya. Ditengah aku sedang bercerita, ada telepon masuk yang rupanya dari Jinki. Lalu kuangkat. Saat kuangkat suara Jinki terputus putus dan seperti ia sedang ada di tempat yang sangat bising.

“yeoboseyo? Jinki?”

“saat terakhir pun kau tidak menganggapku.” Kata Jinki lalu menutup teleponnya.

“hah? Tidak jelas sekali, tapi apa aku berlebihan?” batinku.

“…meledaknya bom di tengah kota Seoul pukul 8 malam sangat menggemparkan. Bom itu meledak di tengah kota tepatnya di tempat wisata taman akuarium. Terdapat banyak korban jiwa. Beberapa yang bisa di otopsi adalah..”

“bom? Astaga.. untung aku tak datang menemui Jinki ta-.”

“…Lee Jinki, 18 tahun.. dan..”

Aku shock dan dengan otomatis airmataku mengalir. Aku tercengang sebentar dan menggulung diriku di sofa dan menangis sekuat-kuatnya. “aku tau maksud teleponmu Jinki!” teriakku kencang, berharap Jinki akan meresponnya.

………………………

Saat pemakaman Jinki, aku tetap menangis di pinggir makamnya. Begitu juga dengan Eun Jin. Setelah selesai, aku menenangkan diriku dekat makamnya. Banyak yang datang, Jinki memang orang yang baik.” Batinku.

“Jisoo” panggil Eun Jin lembut sambil terisak. Dia memberikan sesuatu seperti buku, sepertinya album. Album itu sudah lecek dan sobek sana sini.

“kata Lee ahjumma, ini untuk Park Jisoo dari anaknya.” Aku mengambil album itu lalu melihatnya satu persatu. Air mataku jatuh lagi membasahi album milik Jinki itu. Melihat album itu membuatku makin bersalah padanya. Itu album kumpulan fotoku yang ia ambil secara diam diam. Itu album yang ia mau berikan padaku di taman akuarium. Disitu aku terlihat sangat cantik sekali, padahal foto foto ini ia ambil sebelum aku mengubah styleku. Dia mengambil semua fotoku dari angle yang sempurna. “mianhae Jinki..” kataku parau.

Di halaman kedua sebelum halaman terahir kulihat tulisan tangan Jinki.

‘aku lebih suka kau apa adanya.

Album ini dibuat oleh Lee Jinki, 04 Januari 2010. Untuk Park Jisoo.’

‘maafkan aku suka memotretmu secara diam diam. Ini maksud utamaku. Di hari yang romantis, kau dan aku bertemu disuatu taman yang indah. Kau melihat album ini dan tersenyum. Maaf jika aku berlebihan, tapi ini keinginanku. Lalu saat kau melihat halaman terakhir dari buku ini, ah aku tidak bisa membayangkannya.’

Lalu aku buka halaman terakhir.

‘Park Jisoo, saranghae.’

Tangisku pecah, aku tidak peduli orang orang melihatku aneh. Aku berteriak-teriak di pemakaman. “mianhae Jinki! Mianhae!” Eun Jin datang menghampiriku dan memelukku.

“kata Lee ahjumma, Jinki sunbae pergi ke taman itu jam setengah 3. Itu pasti untuk menemuimu.” Kata Eun Jin.

Aku terisak.

“Jinki sunbae tidak pulang-pulang, padahal dia berjanji pada oemmanya akan pulang sekitar jam 4.”

Aku mulai menitikkan air mata.

“oemmanya meneleponnya, Jinki mengangkatnya. Saat oemmanya menanyakan kenapa ia tidak pulang-pulang, ia berkata ‘aku sedang menunggu seseorang yang aku cintai, oemma. Akan kubawa pulang calon menantumu.’ Ia sangat yakin kau akan menerimanya ya hahaha.” Kata Eun Jin tertawa miris.

Aku menangis.

“kau tau? Dia menunggumu sampai bom itu meledak, jam 8 malam.” Lanjut Eun Jin sambil menitikkan air mata.

“aku menemui Kyuhyun sunbae jam setengah 7 Eun Jin, aku lupa dia menyuruhku untuk datang kesana, kukira ia tidak akan menungguku.” Teriakku sambil menangis.

“aku jahat Eun Jin! Aku jahat!” lanjutku histeris. Eun Jin hanya merangkulku untuk menenangkanku.

…………………………….

Seminggu kemudian aku keluar dari organisasi photography karena aku tidak mau terbayang Jinki. Organisasi tanpa Jinki? Yang benar saja. Sekarang semua member sibuk pada urusannya. Organisasi yang pernah Jinki pimpin ini menjadi seperti sudah tidak ada dan tidak dianggap.

Setelah aku kelas 3, banyak yang berubah. Organisasi photography sudah dibangun kembali oleh Eun Jin, dia sekarang ketuanya. Banyak junior yang tertarik pada organisasi ini. Kyuhyun sunbae sudah lulus, aku tidak tahu apa-apa lagi tentangnya. Aku serius menekuni pelajaran, karena saat aku naik kelas ke kelas 3 ini nilaiku sangat turun karena kepergian Jinki. Sampai saatnya kelulusan, aku dan Eun Jin lulus dengan nilai yang memuaskan.

“Jisoo, antar aku menyampaikan kata-kata terakhir pada junior kita di organisasi photography.” Rengeknya. Aku terhenyak. Sudah berapa lama aku sudah tidak memasuki ruangan yang penuh kenangan akan Jinki.

“ke ruangan organisasi?” tanyaku.

“iya, babo! Ayo.” Eun Jin menarik tanganku.

Saat masuk, junior-junior Eun Jin sudah kumpul.

“annyeong sunbae.” Sapa mereka. Aku hanya tersenyum.

Ruangan ini tidak banyak berubah.  Hanya ditambah pajangan dinding, indah sekali.. ini karya Jinki. Saat Eun Jin memberikan kata-kata terakhir di organisasinya, aku hanya melamun memandang keluar jendela.

“panggil aku sunbae kalau kau tidak mau memanggilku oppa!”

Kenangan tentang Jinki mulai terputar kembali di otakku. “Jinki oppa? Haha.” Ucapku pelan.

“Dia tidak terlihat lemas di layar kameraku.”

“kau manis.”

“ini kupinjami kau kameraku.”

“memang tidak akan pernah lagi. Kau percaya diri sekali.”

Aku tertawa pelan. Dia memang tidak akan pernah lagi memotretku. Air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku.

“Jisoo? Bisa kau bantu aku membereskan ini? Tolong aku yaaah.” Rengek Eun Jin tiba-tiba.

Aku menyingkirkan air mata yang sudah menggenang. “ne, baiklah.”

“aku mau pergi memanggil wakilku dulu, mau memberinya tugas terakhir dariku, hehe. Sebentar ya Jisoo!” katanya lalu menghilang di balik pintu.

“dasar.” Kataku pelan sambil membereskan barang-barang di meja Eun Jin.

CEKREK CEKREK

“jangan foto aku lagi Jinki-ah!”

By: mayagaul

9 thoughts on “Camera of Love

  1. weitsah si mayagaul bikin epep bahaha
    knp gak bikin ff lo ama temin may ? ckakakak

    keren keren d^^b
    itu si jinki nape muncul lagi ?
    kan dia gue kunciin di kamar (?) *digampar minho*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s