Be Mine, Please.. {Part 5}

Chansung’s POV

Malam ini Appa mengajakku bicara. Apa ini masalah pertunanganku dengan Ri Jung nanti?

Aku memberhentikan motorku didepan pagar rumahku. “mobil siapa ini?” gumamku heran. Setelah memarkirkan motorku di garasi, aku masuk lewat pintu belakang.

Keherananku bertambah saat aku melihat semua pelayan sedang sibuk memasak di dapur. Aku menghampiri Jun Ah, salah satu pelayan “ada acara apa? Kenapa kalian semua sibuk sekali?”

“apa tuan muda belum tau? Tuan besar bilang, malam ini ada tamu istimewa” jawabnya lalu kembali mengupas kentang yang ada di tangannya. “Tamu istimewa? Apa kau tau siapa tamu itu Jun Ah?” tanyaku lagi. Ia hanya menggeleng sembari tersenyum ramah.

Akupun meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamarku.

“Chansungie~!” suara ini? Sepertinya aku kenal.

Aku menoleh kearah suara tersebut, “Se Na-ya? Sedang apa kau disini?”

“aku? Appamu yang mengundangku dan orangtuaku makan malam disini, apa kau belum tau tentang perjodohan kita?” jawabnya seraya memelukku.

Aku melepas pelukkannya dan menatapnya tak percaya. Perjodohan? Aku dan Se Na? Seakan bisa membaca pikiranku Se Na mengangguk dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Aku segera naik ke kamarku dan mengunci pintu rapat-rapat. Ada apa ini? Bukannya Appa mau aku bertunangan dengan Ri Jung? Tapi kenapa sekarang aku mau dijodohkan dengan Se Na?

Baru saja kemarin aku tau kalau Ri Jung dijodohkan oleh Appanya, sekarang aku. Apa sekarang seorang Appa yang menjodohkan putra-putrinya sedang jadi trend?

TOK TOK

Aku membuka pintu kamarku, “tuan muda, makan malam sudah siap dan tuan besar ingin anda turun untuk makan malam bersama tamu”

Aku mengangguk mengerti dan menutup pintu kamarku kembali. Untuk sekarang aku ikuti saja kemauan Appa, tapi setelah ini aku harus tau alasan Appa menjodohkanku dengan perempuan itu.

Makan malam berjalan dengan lancar walau aku hanya bicara seperlunya, dan Se Na sangat pandai berakting disepan orangtuanya dan Appaku. Benar-benar bermuka dua. Dan yang aku takutkan Appa menyukainya.

“Appa, aku ingin bicara” kataku setelah kami mengantar Se Na dan keluarganya ke depan rumah. Appa menggelengkan kepalanya, “aku tau apa yang mau kau bicarakan. Pasti tentang Shin Ri Jung, bukan?”

“kenapa Appa bisa tau namanya?” tanyaku heran. Appa menatapku kecewa, “aku bukan saja tau namanya. Tapi aku juga tau siapa orangtuanya”

Aku membulatkan mataku. “aku kecewa padamu, kau tau aku punya masalah dengan Shin Sam Gun, tapi kenapa kau malah berpacaran dengan putrinya?” lanjut Appa.

“aku menyukainya, dan seperti yang Appa mau, kali ini aku serius dengannya. Aku tau kalau Appanya juga membenciku. Tapi aku dan Ri Jung sama-sama ingin bersama tanpa ada urusan pribadi kalian diantara kami” jelasku.

“ah sikap egois Ibumu memang sangat terlihat didirimu” ucap Appa lalu berjalan masuk meninggalkanku.

Sebenarnya siapa yang egois disini? Appalah yang egois sampai dulu meninggalkan Oemma demi bisnisnya yang sedang melunjak. Karena ke egoisan Appa jugalah Oemma menggugat cerai Appa dan pergi entah kemana. Jujur saja, walaupun Oemma meninggalkanku disini tanpa sekalipun menanyakan kabarku, aku sangat merindukannya.

DRRT DRRT DRRT DRRT

yeojachingu ♥ calling..

“yeoboseyo jagiya?”

“oppa..” suaranya terdengar lirih.

“ne? Gwaenchanayo?”

“aku.. ini tidak masuk akal”

“mwo? Apa yang tidak masuk akal jagi?”

“apa oppa percaya kalau aku, hamil?”

“mworago? Kau apa?” tanyaku tak percaya.

“aku hamil! Menurutku ini tidak masuk akal seingatku kau mengeluarkannya di luar, apa mungkin alat ini rusak?”

Aku terdiam sejenak, mau mengelakpun tidak bisa. Aku yang melakukan hal itu padanya untuk pertama kali, dan tanpa pengaman. Apa yang ia bilang bisa saja terjadi.

“oppa?”

“ah ne jagi?”

“bagaimana ini??” tanyanya mulai terdengar panik.

“Ri Jung-ah, jangan panik. Besok kita ke dokter saja untu memastikannya, sebaiknya sekarang kau tidur saja, arachi?”

“arasseo..”

“ne, jaljayo.. saranghae”

Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan pikiranku yang seakan-akan bertambah bebannya setelah menerima telpon barusan.

Aku berjalan ke kamarku dan mencoba tidur. Beberapa jam kemudian mataku tetap saja tidak meu tertutup. Mungkin ini semua memang akibat dari kelakuan burukku selama ini. Tapi kenapa harus Ri Jung yang menanggungnya?

~~~
Ri Jung’s POV

Perasaanku memang sedikit lega setelah memberitahu Chansung oppa barusan. Tapi tetap saja kalau aku memang hamil, bagaimana dengan orangtuaku, sekolahku dan masa depanku dengan anakku nanti?

Semoga Chansung oppa mempunyai solusi terbaik untuk masalah ini. Tak terasa akupun terlelap..

Keesokan harinya sepulang sekolah aku meminta Jinwoon untuk tidak menjemputku disekolah melainkan di tempat lain. Sesuai rencana kemarin Chansung oppa akan mengantarku ke dokter.

“oppa, bukankah kita mau ke dokter?” tanyaku heran saat Chansung memberhentikan motornya didepan sebuah toko pakaian.

“sebaiknya kau tidak memakai seragam saat berkunjung ke dokter kandungan” jawab Chansung oppa seraya menggenggam tanganku dan berjalan memasukki toko.

Setelah berganti pakaian, kami langsung melanjutkan perjalanan ke dokter kandungan.

“Shin Ri Jung” panggil seorang perawat pertanda sekarang sudah giliranku untuk masuk ke ruang dokter.

Aku menggenggam tangan Chansung oppa dengan erat, “aku takut..”

“aku ada disini..” jawabnya berusaha menenangkanku.

Setelah melakukan pemeriksaan, dokter meminta kami untuk menunggu hasilnya di ruang tunggu.

Aku duduk dengan rasa cemas yang tak hilang-hilang sedari tadi. Chansung oppa pun tak henti-hentinya berusaha membuatku tenang.

“Nyonya Shin Ri Jung..” ah inilah saatnya. Aku langsung menghampiri meja perawat itu dan mengambil amplop yang ia berikan.

Chansung oppa menghampiriku dan menggiringku keluar klinik. “coba buka” pintanya dan aku dengan gugup langsung membuka amplop itu dan membaca hasilnya.

‘POSITIF HAMIL’

Itulah yang aku baca. Dan aku harap aku salah baca.

Chansung oppa mengusap pundakku lembut, “aku akan bertanggung jawab”. Ternyata aku tak salah baca.

Aku memeluknya erat dan tangisanku pecah di pelukkannya. “aku masih belum percaya, bagaimana bisa aku hamil kalau kau saja tidak pernah mengeluarkannya di dalam?”

“Ri Jung-ah, aku sama sekali tidak menggunakan pengaman saat itu. Dan hal ini bisa saja terjadi, mianhae” jawabnya kembali memelukku.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang aku bingungkan sekarang bagaimana aku memberitahu orangtuaku, terutama Appa.

“aku yang akan mengatakannya kepada orangtuamu, jadi tenangkanlah dirimu” ucapnya tiba-tiba.

Aku mengangguk pelan dan mengeluarkan ponselku, “aku akan meminta jemput Jinwoon sekarang”

“sebaiknya aku saja yang mengantarmu pulang, hal ini harus segera diberitahukan” aku menyimpan kembali ponselku dan mengikutinya berjalan ke parkiran.

~~~

Jinwoon’s POV

Tuut tuut tuut~

Kenapa telponku sama sekali tidak dijawabnya. Aish pasti ia sedang bersama Chansung, seharusnya tadi aku jemput saja dia disekolahnya.

Setelah hampir 2 jam aku menunggunya ditempat kami janjian, aku memutuskan untuk kerumahnya. Mungkin dia sudah pulang.

Ting Tong~

“Jinwoon-ssi, silahkan masuk” sambut Oemma Ri Jung saat membuka pintu rumahnya. Aku mengangguk dan masuk kerumahnya.

“apa kau tidak bersama Ri Jung?” tanyanya heran melihatku datang sendiri. Aku berpikir sejenak, “ye, dia bilang ada pelajaran tambahan. Aku kesini untuk memberitahumu saja”

Ny. Shin mengangguk mengerti. “ah ya, apa aku boleh ke toilet?” tanyaku yang memang sedari tadi ingin buang air. “tentu saja, toilet disini sedang dalam perbaikan, jadi pakai toilet yang di kamar Ri Jung saja” jawabnya mempersilahkan aku naik.

Aku mengangguk dan berjalan menaikki tangga. Langkahku terhenti saat melihat pintu yang bertuliskan, ‘~knock, before you in~’. Pasti ini kamar Ri Jung, aku buka pintunya. Cat hijau limun yang menghiasi dinding kamarnya menyambut mataku. Kamar yang sangat rapih.

Aku yang melihat pintu toilet langsung ingat tujuanku berada disini, aku bergegas masuk dan melaksanakan kegiatan buang airku. Setelah selesai merapihkan pakaianku, mataku tertuju pada sebuah bungkusan kecil di dekat wastafel.

“alat ini?” gumamku pelan. Aku rogoh bungkus itu dan aku keluarkan isinya, positif? Apa mungkin Ri Jung..? ani, dia bilang alat ini untuk Oemmanya, jadi belum tentu ini miliknya. Akhirnya aku letakkan kembali bngkusan itu dan turun ke lantai bawah.

Sudah berkali-kali aku meyakinkan diriku bahwa tanda positif itu bukan milik Ri Jung, tapi ia berpacaran dengan Chansung, dan aku tau persis bagaimana seorang Hwang Chansung.

Aku beranikan diriku untuk bertanya kepada Ny. Shin. “Nyo—“

“Jinwoon-ssi, panggil saja aku Oemma, aku sudah menganggapmu seperi anakku sendiri” potongnya yang sedang duduk bersamaku di ruang tv.

“ah ne, Oemma maaf kalau peranyaanku mungkin kurang sopan. Tapi apa kau berencana memberi adik untuk Ri Jung?”

Ia terkekeh pelan, “bicara apa kau Jinwoon, aku yang sudah berkepala 3 ini sudah cukup kelelahan mengurus Ri Jung dan keluargaku”

Aku mengangguk sembari tersenyum simpul. Ternyata testpack itu memang milik Ri Jung, aku tidak tau apa yang dipikirkan oleh Chansung, beraninya dia melakukan hubungan itu tanpa menggunakan pengaman. Apa ia tidak tau apa resiko yang akan di tanggung oleh Ri Jung sekarang?

Ting tong~

“sebentar ya Jinwoon..” ucap Ny. Shin seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu.

“annyeonghaseyo Nyonya Shin, aku Hwang Chansung..” aku yang mendengar suara itu langsung menoleh dan menghampiri mereka.

“kau? Beraninya kesini!” bentak Ny. Shin saat melihat siapa yang datang.

“maaf, tujuanku datang kesini ingin bicara baik-baik” jawab Chansung dengan penuh percaya diri menggenggam tangan Ri Jung.

“apa yang mau kau bicarakan hah?” tanya Ny. Shin ketus. Aku tidak menyangka bahwa Ny. Shin begitu membenci Chansung, pacar putrinya sendiri.

Tapi sepertinya aku tau apa yang akan mereka bicarakan, pasti ini tentang kehamilan Ri Jung.

“aku—“

“aku ingin menikahi Ri Jung, mianhae, aku telah menghamilinya dalam waktu sesingkat ini” potongku tiba-tiba seraya membungkukkan badanku di hadapan Ny. Shin.

Entah apa yang aku pikirkan, entah karena aku tidak ingin Ri Jung di marahi Appanya, atau aku yang tidak mau kehilangan Ri Jung.

Aku langsung menarik Ri Jung dan menciumnya. Hentakan demi hentakan mendarat di pundakku, aku melepaskan ciumanku dan memelukknya. “bagaimana kau tau tentang kehamilanku?!” bisik Ri Jung di telingaku. Bukannya menjawab, aku malah mengeratkan pelukanku padanya.

“Jinwoon-ssi, apa kita bisa bicara hanya berdua diluar?” sahut Chansung tiba-tiba. Aku melepaskan pelukanku dan mengikutinya berjalan keluar. Sedangkan Ny. Shin berlari mengejar Ri Jung ke kamarnya.

BUGH!!

Untuk kedua kalinya tinju Chansung mengenai pipi kiriku.

“apa maksudmu?!” tanyanya marah. Aku hanya tersenyum simpul dan menghapus noda darah yang keluar dari ujung bibirku.

“aku tau kalau Ri Jung sedang mengandung anakmu, tapi apa sebelumnya kau pernah berpikir bagaimana reaksi Appanya nanti?” tanyaku.

Ia menatapku benci, seakan-akan ingin membunuhku di tempat ini sekarang juga. “hey hey, kemana Hwang Chansung yang dulu? Yang tidak pernah puas dengan hanya satu gadis?” tanyaku lagi sedikit mengejeknya.

Lagi-lagi ia mau meninjuku tapi aku tahan dengan tanganku. “aku tidak akan pernah bermain-main dengan Shin Ri Jung! Dan kau telah menghancurkan rencanaku sekarang!” ucapnya marah.

“begitupun aku. Aku tidak akan semudah itu membiarkanmu memiliki Ri Jung”

“kau menyukainya?” tanyanya kaget dengan ucapanku barusan. Aku mengangguk singkat, “bahkan menyayanginya”

“akan aku tunjukkan padanya bahwa rasa sayangku melebihi rasa sayangmu padanya” lanjutku. Ia mengepal tangannya terlihat jelas amarahnya yang memuncak.

“apa kau belum puas, hah? Setelah dulu kau merebut Se Na dariku, sekarang pun kau mau merebut Ri Jung?”

“kau tau bagaimana seorang Lee Se Na, dia sama sepertimu, tidak pernah puas dengan satu lelaki”

“oh ya, aku dengar dari Se Na kalau kalian akan bertunangan? Chukkae, seharusnya kau senang mendapatkan pujaan hatimu kembali, ya kan?” smabungku.

Kemarahan semakin terlihat jelas dari wajahnya, “jangan coba-coba katakan hal itu pada Ri Jung!”

Aku mengangguk, “aku berjanji, aku tidak akan mengatakan apapun padanya. Tapi aku akan membiarkan dia tau yang sebenarnya, atau bahkan aku akan membantunya untuk mengetahuinya?”

“cukup. Terserah saja apa yang akan kau lakukan, aku akan tetap menjaga Ri Jung dan tidak akan aku biarkan kau mengambilnya” sahutnya lalu berjalan menjauh dari rumah Ri Jung.

~~~

Ri Jung’s POV

Aku berlari ke kamarku dan mengunci pintunya. Tak aku hiraukan Oemma mengetuk pintuku beratus kali. Aku benar-benar butuh waktu sendiri.

Kenapa pintu kamar mandiku terbuka? Aku mendapati bungkusan testpack yang aku pakai kemarin ada di dekat wastafel, aish apa Jinwoon melihat ini?

“Ri Jung-ssi, buka pintunya” seru Jinwoon dari luar kamarku. Aku tak menghiraukannya dan mengunci diri di dalam kamar mandi.

Kenapa semuanya menjadi serumit ini? Oemma dan Appa pasti sangat kecewa padaku. Aku benci orang tuaku yang seenaknya saja menjodohkanku, aku benci Jinwoon yang seenaknya mengakui bahwa anak ini adalah anaknya, dan yang pasti, aku benci anak ini.

Satu-satnya yang ada dipikiranku sekarang adalah, bagaimana caranya melenyapkan anak ini, anak yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya di dunia ini.

Berkali-kali aku pukulkan tinju-tinju kecil di perutku, dan menangis sejadi-jadinya.

~~~

Jinwoon’s POV

Aku membujuk Oemma Ri Jung untuk turun, “Ri Jung pasti membutuhkan waktu sendiri”

Dibawah aku ditanyai banyak hal oleh Ny. Shin, kebenaran tentang akulah ayah dari anak yang di kandung Ri Jung, keseriusan omonganku untuk menikahi Ri Jung.

Soal keseriusan niatku untuk menikahi Ri Jung tentu saja aku jawab dengan mantap. Aku sudah terlanjur menyayanginya, dan aku juga akan berusaha untuk menyanyangi anak mereka setulus yang aku bisa.

“Oemma..” panggil sebuah suara dari arah tangga, kami melihat Ri Jung dengan lemas menuruni tangga.

“Ri Jung-ah, Oemma tidak akan marah, Oemma tidak akan memintamu untuk menggugurkan kandunganmu, Jinwoon sudah bersedia untuk bertanggung jawab. Oemma yakin, Appa juga tidak akan menyuruhmu menggugurkan cucunya sendiri” jelas Ny. Shin seraya memeluk Ri Jung.

“Jinwoon pun sudah mau menikahimu, dia mau bertanggung jawab” lanjutnya.

“tapi ini bu—“

“ya pasti, tentu saja aku akan menikahinya” ucapku memotong ucapan Ri Jung. Aku tidak mau Oemma dan Appanya sampai tau kalau anak itu adalah anak Chansung.

Ri Jung menatapku tak suka, aku langsung menariknya ke dapur untuk bicara. “yak! Lepaskan tanganku!” serunya menarik tangannya kembali.

“mianhaeyo, aku tau aku sudah seenaknya. Tapi aku hanya ingin kau tidak kena marah Appamu”

“aku tak peduli jika Appa memarahiku karena ini anak Chansung oppa, yang penting Chansung oppa mau mengakui anak ini” jawabnya seraya pergi meninggalkan dapur.

Aku menarik kembali tangannya, “kau tau? Aku mencintaimu, menyanyangimu. Niatku untuk menikahimu sangat tulus, tidak ada maksud lain” ucapku menatapnya dalam, aku benar-benar ingin memilikinya.

Ia menghela nafas berat dan melepaskan genggamanku perlahan. “tapi ini bukan anakmu, apa kau masih bisa menerimanya?”

“tentu saja, aku akan menerimamu apa adanya. Aku bahkan tidak peduli kalau anak ini adalah anak Chansung” jawabku mencoba meyakinkannya.

Ri Jung menggeleng, “aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Mianhae Jinwoon-ssi, ini keinginanku”

“bagaimanapun Appamu tidak akan menyetujui hubunganmu dengan Chansung”

Ia terdiam mendengar ucapanku barusan, aku kembali menggenggam tangannya dan mengecup keningnya lembut, “pikirkanlah, ucapanku tidak main-main” kataku lalu berjalan meninggalkan dapur.

Aku berpamitan kepada Ny. Shin yang sedari tadi menunggu di ruang tengah. Aku hanya memberika seulas senyum saat Ny. Shin menyanyakan keadaan Ri Jung, aku memang tidak bisa menjawabnya.

~~~
Ri Jung’s POV

Aku menghampiri Oemma dengan berbagai pemikiran yang bercampur aduk dalam kepalaku. Jinwoon benar, Appa tidak mungkin merestui hubunganku dengan Chansung oppa, tapi apa aku benar-benar harus menikah dengannya? Bagaimana dengan Chansung oppa?

“Ri Jung-ah, gwaenchana?” tanya Oemma yang melihatku hanya diam.

Aku mengangguk dan tersenyum sebisaku. Oemma mengusap rambutku lembut, “Oemma akan membantumu bicara dengan Appa”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum simpul dan memeluk Oemma.

Cklek.

“aku pulang..” aku langsung melepaskan pelukanku dan berdiri bersiap untuk menyambut kedatangan Appa dengan berita buruk ini.

Appa memandang kami berdua dengan tatapan heran. Oemma langsung menghampiri Appa sembari meraih tas dan jas yang Appa kenakan, “Ri Jung ingin bicara..”

Aku langsung mengalihkan pandanganku, tak berani menatap Appa yang berjalan kearah kamarnya.

Beberapa saat kemudian Appa keluar dari kamarnya dan duduk bersamaku dan Oema diruang tengah. Aku menatap Oemma ragu, Oemma langsung tersenyum meyakinkanku.

“kau ingin bicara apa?” tanya Appa dingin. Aku menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diriku.

“Appa mianhae.. aku sedang mengandung” ucapku akhirnya.

“mwoya?”

Aku memberanikan diriku untuk menatap Appa, “aku hamil..”

“siapa yang menghamilimu?!” terdengar suara Appa yang sangat marah.

“soal itu..”

Oemma menmotong ucapanku, “Jinwoon yang melakukannya, dan ia mau bertanggung jawab”

Aku membulatkan mataku tak percaya. “Oemma waeyo?!”

“Jung Jinwoon?” ucap Appa tiba-tiba.

Aku menoleh dan alangkah terkejutnya aku melihat air wajah Appa yang berubah menjadi, senang?

“ne, dia juga mau menikahi Ri Jung” lanjut Oemma.

“kalau begitu, kau akan Appa pindahkan dari Seoul”

“mwo? Bagaimana dengan sekolahku?” tanyaku kaget.

Appa terlihat berpikir sejenak, “kau mau kesekolah dengan perut yang membuncit?”

“aniyo, paling tidak aku ingin mengikuti ujian kenaikan kelas” jawabku meyakinkan Appa.

“geurae, tapi setelah itu aku ingin Jinwoon membawamu pergi dari Seoul” ucap Appa lalu beranjak pergi dari ruang tengah.

Aku terdiam sejenak, pergi meninggalkan Seoul? Bersama Jinwoon? Bagaimana ini?

~TBC~

6 thoughts on “Be Mine, Please.. {Part 5}

  1. muhahahaha😄
    ampun deh ini cerita ga kepikiran bgt -___-
    jinwooon!!

    mew uda komen~~ WGM jadi yaa~~😀
    muhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s