Be Mine, Please.. {Part 4}

“aku ingin kau bertunangan denganya”

“mwo?”

“kenapa? Aku sudah capek melihatmu bermain wanita terus, sudah waktunya kau serius”

Tok tok

“seogsanim, mobil anda sudah siap” ucap seorang pelayan.

Appa langsung membereskan tasnya “nanti kita bicarakan lagi setelah aku pulang dari Jepang”

Aku hanya diam memandang kepergian Appa. ‘aish bagaimana kalau Appa tau siapa orang tua Ri Jung?’ keluhku dalam hati.

~~~

Ri Jung’s POV

Kenapa sedari tadi perasaanku tidak enak saja ya?

TOK TOK

“Ri Jung, makan malam sudah siap” panggil Oemma dari luar pintu. “ne, sebentar lagi aku turun..” jawabku setengah berteriak.

Sesampainya diruang makan aku celingukan mencari Appa, “kemana Appa?” tanyaku pada Oemma yang sedang duduk sendiri di meja makan. “Appa sedang bertemu dengan teman lamanya, jadi tidak makan dirumah”

Aku mengangguk mengerti dan mulai menyantap makan malamku. Makan malamku yang hanya bersama Oemma malam ini cukup terasa sunyi.

KRIIIIING~

Oemma beranjak dari duduknya dan mengangkat telpon. “Yeoboseyo?”

“ah ne, hati-hati yeobo” Oemma menutup telefonnya dan kembali duduk.

“Appa?” tanyaku pada Oemma yang mulai menyatap makanannya lagi. Oemma mengangguk singkat, “Appa tidak bisa pulang malam ini. Dan saat Appa pulang besok, ia ingin berbicara denganmu”

Entah kenapa aku mempunyai firasat yang buruk tentang hal ini. Ap yang mau Appa bicarakan?

Paginya aku berangkat sekolah seperti biasa menggunakan bis. Chansung oppa tidak aku bolehkan menjemputku karena takut ketahuan.

“Seo Chan-ah!” panggilku pada Seo Chan yang tengah berjalan di koridor. Ia menoleh dan melambai padaku, “bagaimana?”

Aku mengerutkan dahiku, “bagaimana apanya?” tanyaku heran. “kau dan Chansung sunbae?” tanyanya lagi.

“biasa saja”

“aish jinjja? Kau menginap dirumahnya, dan tak mungkin hanya jawaban ‘biasa saja’ yang aku dapatkan darimu”

“jawaban apa yang kau mau? Aku memang menginap dirumahnya dan aku tidur” jawabku singkat dan melengos jalan mendahuluinya. “yak! Ri Jung tunggu aku!”

Pada jam istirahat aku dan Chansung oppa pergi ke atap sekolah untuk makan bersama. Tapi ia terlihat aneh, “oppa waeyo?” tanyaku ang heran melihatnya.

“naega? Ani, nan gwaenchana..”

“jinjjayo? Apa bekalnya tidak enak?”

“mwo? Ani ani, bekalmu sangat enak jagiya~”

Aku hanya tersenyum simpul mendengar jawabannya. Aku tau ia menyembunyikan sesuatu dariku.

~~~

“gomawoyo oppa..” ucapku saat turun dari motornya. Ia hanya tesenyum lalu pergi begitu saja, tidak biasanya ia begini.

Sesampainya didepan rumah aku melihat mobil Appa sudah terparkir rapih. Ah ya, apa yang ingin bicarakan denganku?

“aku pulaang~!” sahutku saat memasuki rumah. Aku melihat Appa dan Oemma sedang duduk di ruang keluarga. Oemma memberiku isyarat untuk menghampirinya. Aih, pasti ini pembicaraan yang serius.

“Ri Jung, Appa ingin setelah kau lulus nanti..”

“yeobo, apa tidak sebaiknya Ri Jung mengganti pakaiannya dulu?” tiba-tiba Oemma memotong. Appa menggeleng, “lebih cepat lebih baik Rin Ye”

Aku semakin bingung. Appa menatapku, “Ri Jung, Appa akan menjodohkanmu”

“mwo?! Oemma, jeongmalyo?” tanyaku tidak percaya. Oemma mengangguk meyakinkanku.

“Appa waeyo? Apa Appa pikir aku tidak bisa mencari pendamping hidupku sendiri?! Lagipula aku masih ingin meneruskan sekolahku!” aku beranjak dari dudukku dan dengan segera meninggalkan ruangan itu.

Aku tidak percaya, setelah Appa melarangku untuk berhubungan dengan Chansung oppa, sekarang Appa mau menjodohkanku dengan namja yang bahkan belum pernah aku temui sama sekali.

TOK TOK

“Ri Jung, bolehkah Oemma masuk?”

“ne”

Cklek. Oemma menghampiriku. “Oemma, kenapa Appa sangat egois seperti ini?” tangisku mulai pecah.

Oemma memelukku, “Ri Jung-ah, Oemma sendiri tidak tau kenapa semendadak ini. Maafkan Oemma, kau tau Appamu seperti apa”

“keundae, aku mempunyai pilihanku sendiri. Dan yang pasti aku berhak menentukannya”

“mianhae, turuti saja Appamu, mungkin nanti kau akan menyukainya” ucap Oemma lalu berdiri dan meninggalkan kamarku.

DRRT DRRT DRRT DRRT

Aku meraih ponselku. Chansungie oppa calling..

Aku mengabaikan panggilannya. Aku tidak tau bagaimana berbicara padanya. Besokpun aku tidak tau bagaimana kalu aku bertemu dengannya. Aku merasa telah mengkhianatinya.

~~~

Chansung’s POV

“kemana dia? Tidak biasanya ia datang terlambat. Bel istirahat sebentar lagi berbunyi” gumamku kesal karena terlalu lama menunggunya di atap tempat kami biasa makan bekal.

Kruuuuk~

Lagipula perutku sudah berisik ingin diisi oleh bekalnya. Aku mengeluarkan ponselku dan menekan tombol hijau di contact Ri Jung.

Tuut~ Tuut~ Tuut~

Aish kenapa nomornya juga tidak bisa dihubungi? Akhirnya aku yang sudah bingung dengan hilangnya pacarku mencarinya ke kelasnya.

“Seo Chan-ssi” panggilku pada seorang yeoja yang ku kenal dari Nickkhun. “ne?” ia berputar arah dan menghampiriku, “ada apa sunbae?”

“apa kau tau kemana Ri Jung?” tanyaku sedikit memelankan suaraku.

“Ri Jung? Setauku ia pergi ke kantin bersama Min Young” jawabnya singkat.

“geurae? Gomawo Seo Chan-ssi” ucapku lalu meninggalkannya ke kantin.

Sesampainya di kantin pandanganku langsung mengelilingi setiap pelosok kantin, tapi hasilnya nihil. Sebenarnya kemana dia? Apa dia menghindariku? Teleponku tadi malam saja tidak di jawabnya.

TEEEET~

Aku kembali memasuki kelas. Dari jendela aku melihat Ri Jung  berjalan keluar gerbang dan menghampiri sebuah Audi hitam. Mobil siapa itu? Setauku itu bukan mobil Appa atau Oemmanya. Dan mau kemana dia? Ini belum jam pulang tapi kenapa ia sudah meninggalkan sekolah?

Tunggu, sepertinya aku tau siapa namja yang membukakan pintu mobil untuknya. Aku berdiri, berniat ingin mengejarnya. “Chansung-ssi, apa ada masalah? Aku sedang menerangkan, harap pusatkan perhatianmu kedepan” tegur Kim seonsaengnim yang merasa jam pelajarannya terganggu.

Aku sedang malas mencari masalah, jadi aku hanya diam dan kembali duduk di bangkuku. Apa Ri Jung selingkuh? Aniyo, itu tidak mungkin, tapi ada urusan apa Ri Jung dengannya?

~~~

Ri Jung’s POV

Appa memang bilang bahwa calon tunanganku akan menjemputku di sekolah, tapi Appa tidak bilang kalau ia menjemputku sebelum bel pulang sekolah berbunyi! Aish aku memang sangat mendambakan pulang sebelum jam pulang, tapi bukan ini yang aku maksud.

“Ri Jung-ssi, apa kau sudah makan?” tanya namja yang katanya adalah calon tunanganku. Aku memang belum tau namanya, atau bisa aku sebut tidak mau tau namanya atau semua tentang dirinya.

Aku menggeleng singkat tanpa menatapnya. “geurae, Ri Jung-ssi, kau ingin makan dimana?” tanyanya lagi.

Aku berpikir sejenak, tuan muda kaya seperti dia pasti tidak akan suka makan di rumah makan pinggiran. Aku akan berusaha sebisa mungkin agar dia tidak menyukaiku. “hm, aku ingin makan kimbap di kedai itu!” tunjukku pada sebuah kedai yang berdiri di sisi jalan.

“jinjja? Kau benar-benar ingin makan di tempat ini?” tanyanya tidak percaya. Cih, apa aku bilang, pasti lelaki sepertimu tidak suka makan disini.

Aku mengangguk dan tersenyum menang. “kenapa kita bisa berpikiran hal yang sama! Haha sepertinya kita memang jodoh” aku membulatkan mataku terkejut dengan apa yang ia katakan barusan.

“kau, mau makan disini?” tanyaku ragu. Ia mengangguk singkat dan langsung memarkirkan mobilnya.

Ia mempersilahkan aku duduk. “Ahjumma, kami pesan dua porsi kimbap ya” pria ini terlihat sudah sering kesini.

“selamat makan” ucap ahjumma sambil meletakkan 2 porsi kimbap di meja kami. “kamsahamnida” jawab lelaki ini.

“Ri Jung-ssi, sepertinya kita belum berkenalan” ujar pria ini tiba-tiba. “berkenalan? Barusan kau memanggil namaku” jawabku cuek dan tetap melahap kimbapku. “tapi kau belum pernah memanggil namaku” ucapnya lagi.

Aku tetap cuek tidak menghiraukan ucapannya barusan. Tiba-tiba ia menjulurkan tangannya padaku, “perkenalkan, aku Jung Jinwoon. Aku 19 tahun, terserah kau mau memanggilku apa saja, yang penting kau nyaman” jelasnya. Aku menyambut uluran tangannya dan mengangguk kecil.

Dia Jinwoon? Apa Jinwoon yang pernah Chansung oppa ceritakan? Menurutku dia pria yang cukup baik.

“Ri Jung-ssi” panggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. “ah, ne?” jawabku menatap wajahnya yang kebingungan. “gwaenchanyo?”

Aku mengangguk, “aku selesai” kataku lalu berdiri dari dudukku. “ahjumma, jadi berapa?” lanjutku.

“mwo, tunggu. Aku saja yang bayar” cegahnya saat aku mengeluarkan beberapa lembar uang. “tidak usah, Appa hanya bilang kalau kau akan menjemputku, bukan mentraktirku makan” jawabku berjalan meninggalkannya.

“Ri Jung-ssi, biar aku antar kau pulang” ucapnya menghentikan langkahku. Sebenarnya aku lebih memilih pulang sendiri menggunakan bis. Tapi kalau nanti Appa melihatku pulang sendirian, bisa-bisa aku dimarahi lagi.

Aku berbalik dan berjalan menghampirinya. “kalau saja bukan karena Appa yang menyuruhku, aku tidak akan ikut denganmu” ucapku ketus dan masuk kedalam mobilnya.

“Jinwoon-ssi, berhenti!” titahku tiba-tiba yang membuat Jinwoon mengerem mendadak. “waeyo?” tanyanya heran. Aku langsung turun dari mobil dan menghampiri seorang namja yang sedang berdiri di sebelah motor Ninja hitamnya.

“oppa?” panggilku. Ia menoleh dan memelukku. “kemana saja kau?” tanyanya cemas.

“mianhae oppa, aku tadi..”

“Chansung?” panggil sebuah suara di belakangku. Aku melepaskan pelukannya, berpikir keras, bagaimana cara untuk menjelaskan masalah ini padanya.

Chansung oppa langsung meraih kerah baju Jinwoon dan mengepalkan tangannya. “mau apa kau dengan Ri Jung?!” tanyanya marah.

“hey, santai saja. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik” jawab Jinwoon mencoba menenangkan Chansung oppa.

Chansung oppa melepaskannya perlahan, aku melingkarkan tanganku di lengannya, menariknya sedikit menjauh dari Jinwoon. “apa yang mau dibicarakan?”

“setelah Ri Jung lulus, kami akan bertunangan” jawab Jinwoon santai. Aku merasakan lengan Chansung oppa mulai menegang. “benarkah itu?” tanyanya padaku yang tak berani menatapnya. Aku hanya mengangguk pelan.

Chansung oppa melepaskan pegangan tanganku, dan BUUGH..

“oppa! apa yang kau lakukan?!” ucapku menghampiri Jinwoon yang meringis kesakitan setelah mendapat pukulan dari Chansung. “gwaenchanayo?” tanyaku pada Jinwoon.

“kau membelanya?” tanya Chansung tidak percaya. “aku bukan membelanya, tapi aku hanya ingin kita membicarakan ini baik-baik. Apa itu salah?”

Chansung oppa menarikku dan menaikkanku keatas motornya. “bukan kita, tapi aku dan kau” ucap Chansung oppa yang mulai menjalankan motornya dengan kecepatan penuh meninggalkan Jinwoon.

Kami sampai di sungai Han, ini mengingatkanku pada hari pertama kami menjadi sepasang kekasih.

“kenapa kau bisa bersamanya?” Chansung oppa memulai pembicaraan.

“kemarin Appa bilang kalau aku akan di jodohkan, awalnya memang aku tidak tau dengan siapa aku akan dijodohkan. Appa menyuruhnya untuk menjemputku hari ini. Dan aku juga sama sekali belum tau namanya sampai tadi diperjalanan ia memperkenalkan dirinya. Aku juga tidak menyangkanya” jelasku panjang lebar.

“kenapa kau tidak bilang padaku?” tanyanya lagi.

“aku takut kau marah, karena aku pikir aku sudah berselingkuh dengannya”

Tiba-tiba ia tertawa, aku menatapnya heran, “wae?”

“ani. Kalau kau menerima perjodohan itu dan berpacaran dengannya tanpa sepengetahuanku, itu yang dinamakan selingkuh”

Aku menghela nafasku, “justru itu masalahnya, kau tau Appaku seperti apa, mau tak mau aku.. menerimanya”

Chansung oppa menatapku tidak percaya. “kau serius?”

Aku mengangguk ringan, “mianhae..”

“jadi ini alasanmu menghindariku seharian di sekolah tadi? Aku tidak akan marah, aku mengerti kondisimu, aku hanya ingin kau lebih jujur” jawabnya seraya mengelus rambutku.

Aku memeluknya, sangat erat seakan-akan tidak ingin melepaskannya. “saranghae oppa..”

~~~

“aku pulang..” ucapku sedikit pelan karena sekarang sudah menunjukkan jam 7 malam, Appa dan Oemma pasti sudah pulang dan aku tidak mau dimarahi karena pulang jam segini.

“selamat datang” sambut Appa yang tengah membaca koran dengan senyum diwajahnya. “kenapa Appa senyum-senyum seperti itu?” tanyaku heran.

“selamat malam tuan Shin..” ah ya aku lupa. Jinwoon menjemputku di sungai Han tadi. Bukan karena Chansung oppa meninggalkanku, tapi aku memang menyuruhnya untuk pulang duluan.

“Jinwoon-ssi, silahkan masuk untuk makan malam” tawar Oemma dari dapur.

Aku menatapnya lalu menggeleng, tapi ia mengecewakanku. “tentu saja, dengan senang hati” ucapnya seraya melangkah memasuki rumahku. Haah, aku membencinya.

~~~

“hoeeek.. hoeek” sudah beberapa hari ini aku selalu mual-mual. Apa aku salah makan?

“kau tidak usah kesekolah hari ini, istirahat saja dirumah” ucap Oemma cemas. Aku menggeleng, “mungkin aku hanya masuk angin saja. Aku berangkaat~!”

Aish, aku lupa. Harusnya tadi aku lewat pintu belakang saja. “good morning jagiyaa~”

“Jinwoon-ssi, sejak kapan aku memperbolehkanmu memanggilku dengan panggilan itu?!” tanyaku kesal. Ia hanya tersenyum dan membukakanku pintu mobilnya.

Aku tidak menggubrisnya dan berjalan ke arah halte bis. “Ri Jung-ssi, kau mau kemana?” tanyanya lalu menarik tanganku.

“aku mau naik bis. Kalau kau disuruh Appa untuk mengantarku ke sekolah, ikut saja denganku naik bis” jawabku ketus dan melanjutkan langkahku. Aku mendengar langkahnya menjauh. Aku yakin pasti sekarang ia akan menolakku.

“baiklah, mobil sudah kukunci. Ayo kita jalaan~!” ucapnya bersemangat dan tiba-tiba sudah disebelahku. “mwoya? Kau masih mau mengantarku ke sekolah?!” tanyaku tak percaya.

Ia mengangguk dan tersenyum manis. “jalan kaki di pagi hari sangat bagus kan untuk kesehatan”

“yak! Apa kau mau Chansung marah lagi seperti kemarin?”

Ia menggeleng, “aku tidak takut padanya. Aku hanya takut kalau kau meninggalkanku jagiyaa~!” jawabnya manja lalu merangkulku.

“aish, aku tidak akan termakan omongan gombalmu!” ucapku sebal dan menjauhkan tangannya dari bahuku.

Sesampainya di bis, kami kehabisan bangku. Akhirnya kami terpaksa berdiri. Pegalnyaa~

Ckiiit!

Tiba-tiba bis berhanti mendadak. Aku yang tidak bisa menjaga keseimbanganku terlepas dari pegangan.

“ups, untung saja ada aku” sahut Jinwoon yang menahanku. Aku sempat malu dibuatnya, tapi saat aku tersadar dimana tangannya berada, rasa malu itu hilang menjadi rasa marah.

“yak! Apa yang kau sentuh!” pekikku yang membuat semua mata penumpang melihat kearah kami. Aku langsung menjauhkan tangannya yang sedari tadi menempel di bokongku.

“mi.. mianhae, aku hanya ingin menolongmu” jawabnya dengan wajah memerah.aih, manis juga dia ternyata.. Mwoya? Kenapa aku menganggap dia manis?!

Aku tidak berbicara dengannya sampai turun dari bis. “Ri Jung-ssi, jeongmal mianhae, tadi aku benar-benar tidak sengaja” ia terus merengek padaku. Aku yang sudah lelah dengan rengekannya itu hanya berbalik dan tersenyum seramah mungkin padanya dan berlari meninggalkannya.

~~~

Chansung’s POV

Bel istirahat sudah berbunyi, aku harap aku bisa makan bekal buatan Ri Jung hari ini.

“oppa~!” panggil sebuah suara yang sangat tidak asing di telingaku, tapi aku sengaja tidak membalikkan badanku dan terus berjalan kearah atap sekolah. Aku dengar langkahnya mengikutiku di belakang.

Sesampainya di atap sekolah ia menarik tanganku. “apa kau tidak mendengarku?” tanyanya sedikit ketus.

“jagiya, kau tau apa resikonya kalau aku menjawabmu tadi. Mana bekal untukku?”

Ia memanyunkan bibirnya sebal, “kau hanya ingin bekal?”

Aku menggeleng dan menariknya kedalam pelukanku. “tentu saja tidak, aku lebih menginginkanmu, Shin Ri Jung”

“ayo makan keburu bel” lanjutku meraih kantong yang ia bawa.

Aku heran, ia tidak memakan bekalnya. “jagiya, kenapa kau tidak memakan bekalmu?”

Ia menggeleng dan menutup kotak bekalnya, “aku sedang tidak bernafsu makan”

“jinjja? Tumben sekali” ledekku.

“hooek.. ugh”

“kau kenapa?” tanyaku panik. “gwaenchanayo, aku hanya sedikit masuk angin—hoeek..”

Aku mengusap pundaknya, berharap ia merasa lebih baik. “kau yakin? Tidak ingin pulang?” tanyaku memastikannya.

“aku harus ke wc” katanya yang langsung berlari meninggalkanku. Sebenarnya kenapa dia? Aku tidak percaya kalau ia hanya masuk angin biasa.

~~~

Ri Jung’s POV

“merasa baikan?” tanya Chansung oppa yang menungguku diluar kamar mandi.

“aigoo.. kau mengagetkanku. Aku bilang aku hanya masuk angin biasa oppa, jangan berlebihan” jawabku sambil berlalu didepannya.

Ia mengikutiku sampai ujung koridor kelasku. “sudah, sampai sini saja. Annyeong oppa~”

TEET TEET~

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, tapi aku malas sekali beranjak dari tempat dudukku. Kepalaku pusing, badanku lemas dan lagi pasti Jinwoon sudah stand by di depan gerbang sekolah.

Chansung oppa pun tidak bisa mengantarku pulang karena mulai minggu ini ia sudah sibuk mengikuti segala macam kursus untuk menghadapi ujian akhir sekolah.

DRRT DRRT DRRT

From: Jinwoon Jung

Feb 25, 2010  3:17 PM

Ri Jung-ssi, aku sudah di sekolahmu. Apa perlu aku jemput kedalam?

To: Jinwoon Jung

Feb 25, 2010 3:20 PM

Aniyo, tidak usah. Aku akan segera turun. Kau tunggu saja disana.

Sms sent.

Mataku berhenti saat melihat tanggal yang tertera di layar ponselku, sekarang sudah tanggal 25? Aku sudah telat kira-kira seminggu! Apa aku.. ani itu tidak mungkin. Aku segera turun dan menghampiri mobil Jinwoon.

“Jinwoon-ssi, antar aku ke apotek terdekat” pintaku, Jinwoon mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya.

Sesampainya di apotek, aku masih ragu apa aku harus membeli alat itu atau tidak. “Jinwoon-ssi, bisakah kau turun dan membelikanku ini?” ujarku seraya menyerahkan selembar kertas bertuliskan ‘testpack’.

Ia membulatkan matanya. “mworago? Untuk apa alat ini?”

“untuk Oemma, Oemma merasa sedikit mual-mual belakangan ini” aku terpaksa berbohong. Ia mengangguk mengerti dan segera turun dari mobil.

Selama menunggunya kembali, aku tidak henti-hentinya berdoa. Semoga dugaanku salah.

Tak lama kemudian Jinwoon kembali dengan sebuah kantong plasti kecil ditangannya dan menyerahkannya padaku, “gomapta Jiwoon-ssi” ucapku singkat dan memasukkan bungkusan itu kedalam tas sekolahku.

Jinwoon memarkirkan mobilnya di tempat biasa Appa parkir. “kenapa kau tidak langsung pulang saja?” tanyaku ketus.

“aigoo, apa kau masih marah padaku karena kejadian tadi pagi?”

Aku mendengus kesal, “sudahlah jangan ingatkan aku lagi tentang hal itu! Lebih baik kau pulang saja”

“andwae, sebagai calon menantu yang baik aku ingin memberi salam kepada calon mertuaku” ucapnya dengan santai berjalan memasukki rumahku.

“kami pulaang~!” sahutnya riang. ‘kami?’ pikirku heran, sejak kapan rumah ini menjadi rumahnya juga?

Aku langsung menaikki tangga menuju kamar mandi kamarku. Dengan kasar aku membuka pembungkus alat tes kehamilan itu.

Di petunjuknya aku membaca, ‘setelah digunakan tunggu beberapa menit’. Sesuai petunjuk aku menunggunya dengan perasaan cemas.

Kira-kira setelah 3 menit aku kembali ke kamar mandi dan mengambil alat itu dari atas toiletku. Ada tanda positif (+) tergambar di alat ini, apa maksudnya? Aku membaca kembali petunjuknya dan sangat terkejut dibuatnya.

‘jika satu garis berarti negatif  (tidak hamil), dan jika bertada positif (+) (hamil)’ berulang kali aku membaca kalimat itu secara seksama. Aku tidak salah baca. Aku positif hamil?!

~TBC~

By: tyasung

6 thoughts on “Be Mine, Please.. {Part 4}

  1. woooo hamil wuuu hamiiillllll O.O
    YESUNG OPPAAAAA~ ISTRIMU SELINGKUHHHH *teriak di telinga yesung*
    HAHAHAHA

    eh ada namaku nyempil disitu :”) /plak hahaha
    ayo eonn ffku lanjutannya (*.*)

  2. Jinwoo ?? Yaaaaaaaaaaa …. Ri jung .. Beruntung bgt di jodohin ma jinwoo … ( Mauuuuuuu) … (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ! Jinwoo … Knp tuh tangan ada di pantat ri jung ….. namja error ….
    Mwo … Rijung hamil? Kok bisaaaaaaaaaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s