Nothing Better {Oneshot}

Cast :

–      Kim Kibum (SHINee)

–      Choi Shin Kyu

–      Kim Jong Hyun (SHINee)

–      Victoria (F(x))

(Choi Shin Kyu POV)

Hari ini seperti biasanya aku menatapnya dari jauh. Memperhatikannya. Kim Jonghyun. Pria yang kusukai sejak lama. Sekali lagi kuarahkan kamera analogku padanya. Kupotret ia untuk yang kesekian kalinya. Memandang wajahnya tak pernah membuatku bosan. Aku sangat menyukainya. Menyukainya saat ia mengeluarkan i-podnya. Menyukainya saat ia menikmati nada demi nada yang mengalir melalui headsetnya. Menyukai ia yang memejamkan matanya sambil merasakan lembutnya hembusan angin. Hari ini pun ia melakukannya lagi. Setiap hari jam 4, ia selalu ada ditaman. Tersenyum, mengobrol dengan siapa saja yang menyapanya. Ah… dunia pasti indah sekali bila aku bisa dekat dengannya.

“Ya…” teriak seseorang yang mengagetkanku.

“Mwo? Oemona! Kibum-ah.. kau mengagetkanku tahu!” ujarku seraya mengelus dadaku.

“Ya..! Apa yang kau lakukan disini? Aku mencarimu tahu.” Ujarnya kesal.

Kibum pun celingukan. Matanya mencari sesuatu. Saat melihat Jonghyun, ia menghela nafas panjang dan mengacak rambutku.

“Aigo..!! Dasar kau stalker.” Ujarnya.

“I’m not stalker.” Ujarku gugup.

“Lalu apa? Kenapa sih, kau senang sekali mengumpulkan foto Jonghyun? Kenapa tidak mengumpulkan foto Victoria sesekali?” Ujarnya dengan wajah yang ditekuk.

“Buat apa aku mengambil foto Victoria? Kenapa tak kau ambil sendiri saja fotonya? Jangan pasang wajah itu kepadaku.” Ujarku padanya.

“Cih.. pelit sekali. Kau tahu aku tak punya bakat fotografi sepertimu. Dasar kau menyebalkan.” Ujarnya seraya melipat tangan didada.

“Mianhae. Ayo! Kau mencariku untuk pergi ke tempat bimbingan kan? Ayo pergi sekarang!” ajakku.

Ia mengikutiku beranjak dari tempatku tadi. Untuk sampai ke tempat bimbingan, dari taman hanya memerlukan waktu 10 menit berjalan. Aku dan Kibum berjalan dengan hening. Seperti biasa, bila kita habis perang mulut. Ia pasti enggan bicara denganku. Dasar pemarah.

“Aku heran padamu. Yeoja sepertimu. Yeoja yang berambut pendek berantakan, dingin seperti lemari es, berkulit sawo matang, selalu memakai pakaian kelam dan pastinya menyebalkan sepertimu bisa menyukai seorang namja.” Ujarnya memulai pembicaraan.

“Ya..!, Aku tak menyebalkan.” Belaku.

“Memang begitu kan?” ujarnya.

“Kau sendiri. Namja sepertimu. Namja yang manja, centil, bergaya seperti noona-noona, selalu memakai pakaian cerah melebihi matahari, dan yang pastinya pemarah, bisa juga menyukai seorang yeoja seperti Victoria.” Ujarku tak mau kalah.

“Aa… ani..ani..ani..aniyo! Aku tak mau dengar. Lalalalala. Lululululu.” Ujarnya seraya menutup kedua telinganya.

Aku pun menghela nafas panjang. Selalu begitu. Selalu tak mau kalah. Dasar boneka porselen. Aku dan Kibum pun segera memasuki tempat bimbingan. Tiba-tiba kibum meregut tanganku. Aku meringis kesakitan. Kulihat matanya yang tampak gugup. Aku pun mencari sesuatu yang membuatku Kibum gugup seperti ini. Biasanya yang bisa melakukan hal itu hanya Victoria. Benar saja. Ia sedang duduk menunggu bel masuk.

“Aigo… manis sekali.” Serunya lirih.

“Aya.. Lepaskan tanganku.” Ujarku padanya.

“Diamlah dulu. Aku tak mau ia melihatku dalam keadaan seperti ini.” Ujarnya.

“Sesange! Kau kan namja. Bagaimana kau mau dekat dengannya bila sifatmu seperti ini? Dasar pengecut.” Ujarku padanya.

“Sudahlah. Kau diam saja. Jangan menyebalkan begitu.” Ujarnya.

Aku pun pasrah saja. Seketika bel pun berbunyi. Anak-anak bergegas memasuki ruangan begitupun dengan Victoria. Aku pun mulai melangkah menuju kelas. Namun langkahku tertahan karena ulah Kibum. Aku pun menoleh kesal.

“Ya… kau kenapa lagi sih?” ujarku kesal.

“Entahlah. Tampaknya aku tak mau masuk kedalam.” Ujarnya gugup.

“Kau bagaimana sih? Bel kan sudah berbunyi.” Ujarku.

“Ah… kita bolos saja ya?” rayunya.

“Mwo? Ko begitu sih. Aku tak mau.” Tolakku.

“Aigo kau ini. Ayolah, kita kan teman.” Ujarnya.

“Kau ini! Selalu saja begini. Pokonya aku tak mau.” Sergahku.

“Ayolah… ayo..ayo..ayo..ayolah…” rajuknya.

Ia terus ribut seraya meregut tanganku. Aku sudah tak bisa apa-apa lagi. Akhirnya aku hanya pasrah diseret olehnya keluar dari tempat bimbingan.

**************************************************

“Ja…! Bangun!” Ujar seseorang membangunkan tidurku.

“Kibum-ah? Apa yang kau lakukan dikamarku?” ujarku yang masih setengah sadar.

“Bangunlah. Aku lapar.” Ujarnya manja.

“Aya… minta saja pada umma. Aku ngantuk. Aku mau tidur.” Ujarku.

“Ajumna tidak ada. Ayolah, kau bangun.” Rajuknya.

“Aigo.. kau masak saja sendiri! Kau tahu aku tak bisa memasak.” Ujarku seraya menenggelamkan diriku kedalam selimut.

“Baiklah. Tapi kau bangun dong. Masa aku masak sendiri. Ini kan rumahmu.” Ujarnya lagi.

“Lantas untuk apa kau kerumahku?” ujarku malas.

“Kau tahu aku tinggal sendiri. Pokoknya bangun..!” ujarnya.

Ia tak hentinya mengguncangkan badanku. Aku merasa terusik. Akhirnya untuk kesekian kalinya aku kalah. Aku pun beranjak dari ranjangku dengan Kibum yang mendorong tubuhku dari belakang. Ia membawaku kedapur. Aku pun duduk mengitari meja makan dan meraih koran pagi dan kubuka dengan perlahan. Begitu pun dengan Kibum, ia mulai mencuci sayuran. Aku pun mulai tenggelam dalam bacaanku. Topik yang kubaca mengenai perang dingin antara korea selatan dan korea utara. Gawat juga juga bila sampai terjadi perang di semenanjung korea.

“Yeobo..!! Berhenti membaca dan bantu aku.” ujarnya.

Mulai lagi. Selalu menghancurkan kesenanganku. Aku selalu muak dengan sebutan itu. Aku pun tak bergeming. Tetap pada posisiku.

“Yeobo.. Ayo bantu aku.” ujarnya.

Bertahanlah Shin Kyu. Kau bisa mengalahkannya.

“Yeobo…” bentaknya.

Kalah lagi. Selalu begitu. Aku pun beranjak kearahnya dengan kesal. Ia memberiku sayuran-sayuran yang tak jelas apa namanya ketanganku dan menyuruhku untuk mencucuinya. Aku pun mulai mencucinya.

“Aya! Mana bisa kau mencucinya seperti itu? Salah.” Ujarnya.

“Mana kutahu. Aku kan tak pernah mencuci sayuran sebelumnya.” Ujarku.

“Kau ini. Aku saja yang tinggal sendiri tahu. Masa kau yang tinggal dengan ummamu tak bisa.” Ujarnya yang membuatku jengkel.

“Ah, sudahlah.” Ujarku seraya meninggalkannya.

“Ya, jakkaman. Mian. Sini, aku ajari.” Ujarnya seraya menarik tanganku.

Aku pun berbalik dengan wajah yang ditekuk. Ia pun mulai mengajariku mencuci sayuran.

“Kalau kau mau menjadi yeojachingu-nya Jonghyun, harus pandai memasak.” Ujarnya tiba-tiba.

“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanyaku dingin.

“Aniyo. Bukankah setiap pria menginginkan yeoja yang pintar masak? Jangan dingin begitu padaku. Dasar lemari es.” Ujarnya.

“Habis, kau mengatakannya seakan aku tak pantas untuk Jonghyun.” Ujarku.

“Ah, kau ini. Selalu berprasangka buruk. Hei, nanti siang temani aku makan es krim ya.” Ajaknya.

“Aniyo. Nanti aku ada kerja sambilan.” Tolakku singkat.

“Mwo? Hari ini kan mulai memasuki liburan musim dingin!” ujarnya kaget.

“Ne. Lalu kenapa?” tanyaku polos.

“Aigo. Ayolah. Aku mau makan es krim sebelum musim dingin benar-benar datang.” Rajuknya lagi.

“Pokoknya tak bisa. Ingat, kemarin kau sudah mengajakku bolos bimbingan. Jadi, mianhae Kibum. Kau tak bisa memaksaku sekarang.” Ujarku.

Ia pun mulai menggembungkan pipinya.

“Ne. Baiklah. Maafkan aku. Kemarin aku sudah memaksamu untuk bolos ke bimbingan.” Ujarnya.

Mwo? Apa aku tak salah dengar. Ini pertama kalinya ia mau mendengar kata-kataku. Biasanya aku yang selalu mengalah.

“Tapi kau harus berjanji sepulang kau bekerja, kau harus menemaniku.” Ujarnya.

“Ne. Aku berjanji.” Ujarku seraya menepuk punggungnya.

********************************************************

Sore ini panas sekali. Padahal ini sudah mulai memasuki musim dingin. Mungkin ini  yang namanya pancaroba. Apa sih yang dilakukan orang-orang jaman sekarang. Membuat bumiku menjadi panas minta ampun seperti ini. Untuk kesekian kalinya aku menyeka keringatku. Pintu pun terbuka. Aku tak dapat melihat siapa yang masuk. Aku sibuk sekali menyusun kaset-kaset di tanganku. Aku pun menyusun berdasarkan namanya. Seseorang pun berdiri disampingku. Aku pun melirik. Aku tak percaya dengan apa yang sudah aku lihat. Sosok pria yang selama ini selalu kubayang-bayangi. Kim Jonghyun. Matanya sibuk mencari CD di depannya. Aku merasa tubuhku kaku sekali. Aku pun berjalan mundur menjauhinya dengan perlahan.

“Ah, anneyong haseo.” Ujarnya yang langsung membuat sekujur tubuhku melemas.

Aku tersenyum kecil kearahnya.

“Apa albumnya 4MEN yang ADANTE masih ada disini?” tanyanya.

Ya tuhan… suaranya indah sekali.

“Mm… Biar aku lihat dulu.” Ujarku.

Ia mengikutiku menuju rak dimana aku menaruh albumnya 4MEN 4 hari yang lalu. Aku pun sibuk mencari album itu. Ia terus menungguku dan berdiri dibelakangku. Dekat sekali. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya ditengkukku. Saat aku menemukannya, segera kuberikan padanya. Wajahnya tampak berbinar menerimanya.

“Ah, gomawo. Aku memang sedang mencari CD ini.” Ujarnya senang.

Aku hanya tersenyum kearahnya. Senang sekali aku mendengar suaranya.

“Apa aku harus ke kasir untuk membayarnya?” tanyanya.

“Ah, eh. Padaku saja tak apa-apa.” Ujarku gugup.

Ia pun memberiku 2 lembar uang won. Aku menerimanya dengan gugup. Ia pun membukukkan badannya tanda terima kasih padaku. Aku pun mengangguk membalasnya. Saat ia pergi, kurasakan tubuhku sangat lemas. Aku jatuh tersungkur ke lantai. Kucium uang pemberian Jonghyun tadi. Aroma tubuhnya menempel pada uang itu. Aku senang bukan main.

“Apa yang kau lakukan pabonica?” Tanya Kibum tiba-tiba.

“A..a.. apa yang kau lakukan disini?” tanyaku kaget.

“Aku menyusulmu. Kau kutunggu dari tadi lama sekali. Ini kan sudah jam 7. kau kenapa sih?” tanyanya bingung.

“Aniyo.” Ujarku seraya pergi ke meja kasir.

Kutaruh uang pemberian jonghyun ke dompetku dan menggantinya dengan uangku yang lain.

“Ya, kau tahu tidak. Tadi dijalan aku bertemu dengan Jonghyun.” Ujarnya.

Aku tersenyum kecil mendengarnya.

“Kau enak ya. Bisa menyukai Jonghyun.” Ujarnya.

“Kau yang enak. Kau dan Victoria di tepat bimbingan yang sama. Tidak sepertiku. Jika ingin bertemu dengannya kau harus menunggu hingga pukul 4 sore. Singkat sekali.” Ujarku.

“Ya! Setidaknya kau tak pernah gugup saat bertemu dengannya.” Ujarnya.

“Kata siapa? Kita kan sama.” Ujarku.

“Tapi tak sesering aku bukan? Kau juga tak perlu berpapasan dengannya kan? Kau cukup memperhatikannya dari jauh dan memotretnya. Lalu kau bisa dengan puas memandangi fotonya. Tidak ada yang lebih enak dari itu. Sedangkan aku?” ujarnya seraya menggembungkan pipinya.

“Sudahlah. Dasar boneka porselen. Mau makan es krim tidak?” ujarku padanya seraya memakai mantelku.

“Baik tuan lemari es.” Ujarnya seraya membukakanku pintu.

“Tapi pulangnya temani aku membeli developer dan fixer ya! Punyaku habis.” Ujarku seraya merangkulnya.

“Ne, lemari es.” Ujarnya seraya menggembungkan pipinya lagi.

*******************************************

“Ya..!! Choi Shin Kyu. Lihat ini.” Ujarnya seraya memasuki toko.

Aku kaget melihatnya. Tanpa sadar aku menyemburkan cola yang kuminum.

“Mwo? Apa yang kau lakukan dengan rambutmu?” ujarku kaget.

“Hehehe. Coklat pirang. Bagus tidak?” tanyanya senang.

“Dan bajumu? Apa yang kau pikirkan Kim Kibum?” tanyaku histeris.

“Tak perlu histeris seperti itu. Aku hanya mencoba seragam milik sepupuku saja.” Ujarnya seraya menggembungkan pipinya seperti biasa.

“Ya ampun! Kau tampak seperti yeoja. Asli! Semakin mirip dengan boneka porselen.” Ujarku.

Ia hanya tersenyum puas. Dengan rambut gondrong ikal berwarna coklat pirang, seragam berwarna pink muda, ia tampak cantik sekali. Diantara yeoja pun tak ada yang secantik ia. Ia tampak seperti gadis JHS yang menjemput abangnya yang urakan untuk pulang.

“Ya ampun, Kibum. Kalau kau ada yang menjahili bagaimana?” tanyaku.

“Aya! Aku kan namja. Tak mungkin.” Sergahnya.

“Ne, tapi dengan penampilan seperti ini, siapa yang menyangka kau ini adalah namja.” Ujarku.

“Tenang saja.” Ujarnya santai.

Tiba-tiba pintu terbuka. Dari luar masuklah sosok Victoria, dengan panik Kibum bersembunyi di kolong kasirku. Victoria pun menghampiriku.

“Kau bekerja disini Shin Kyu?” tanyanya.

“Darimana kau tahu namaku?” tanyaku heran.

“Yeoja mana yang tak tahu namamu?” tanyanya padaku.

Aku hanya tersenyum gugup. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Aku memandangnya dengan bingung. Sebuah kotak berpita biru ia letakkan dimeja kasir.

“Didalamnya ada surat. Aku sangat berharap padamu.” Ujarnya seraya berlalu pergi.

Aku memegang kotak itu dengan heran. Kibum pun keluar dari persembunyiannya dan menatapku tak kalah bingung.

“Apa yang ia lakukan disini?” tanyanya padaku.

“Molla. Ia memberiku ini.” Ujarku seraya memberi kotak itu pada Kibum.

Kibum pun membukanya. Didalamnya ada sekotak coklat dan sepucuk surat. Kumakan coklat itu tanpa basa-basi. Bukankah itu untukku? Lagipula aku sedang dalam keadaan lapar. Kibum pun membuka surat itu dan kaget membacanya. Aku pun meraih surat itu dan membacanya.

Dear Choi Shin Kyu

Sesungguhnya sudah lama aku memperhatikanmu. Aku sangat menyukaimu.

Maukah kau menjadi namjachingu-ku. Aku berharap sekali padamu Choi Shin Kyu.

Kutunggu jawabanmu ditaman, besok pukul 7 malam. Kuharap kau datang

Karena kuartikan kau menerimaku.

Aku melongo membacanya. Kulirik Kibum dengan hati-hati. Wajahnya tampak shock sekali.

“Kibum-ah..” panggilku pelan.

“Jangan bicara padaku.” Perintahnya.

“Mianhae, kibum-ah.” Ujarku takut.

Awalnya, kupikir ia akan memukulku. Ternyata tidak. Ia memelukku. Ia menangis. Baru sekarang aku melihatnya menangis. Seumur hidupku, aku tak pernah melihatnya menangis.

“Kenapa? Aku kan menyukainya…” ujarnya terisak.

“Sudahlah Kibum.” Ujarku.

“Ini semua salahmu.”  Ujarnya seraya melepaskan pelukannya.

“Mwo?” ujarku kaget.

“Bila kau tidak berpenampilan seperti ini. Berantakan, berpakaian kelam, bersifat cool seperti itu, tentu ia tak akan menyukaimu.” Ujarnya.

“Ya! jika sebelumnya kau sudah menyatakan perasaanmu padanya dan tidak bersifat seperti boneka porselen, tentu sekarang ia sudah menjadi milikmu.” Ujarku kesal.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyanya putus asa.

“Sudahlah. Besok aku akan menolaknya.” Ujarku.

“Andwe..” teriaknya.

“Whaeyo?’ tanyaku kaget.

“Aku tak mau melihatnya sedih dan kecewa.” Ujarnya.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku sebal.

“Kau berpura-pura saja jadi namjachingu-nya.” Ujarnya.

“Aigo, kau sadar dengan yang kau katakan? Sampai kapan aku akan berpura-pura. Dasar gila!” Ujarku mulai marah.

“Sampai kau putus dengannya.” Ujarnya.

“Aya.., bagaimana jika ia tak mau memutuskanku. Kau mikir tidak sih?” tanyaku kesal.

“Pokoknya aku tak mau tahu. Kau harus bertanggung jawab.” Ujarnya.

Ya, aku memang merasa tak enak padanya. Akhirnya aku mengangguk mengiyakan. Kuajak kibum pulang agar ia merasa lebih tenang. Aku dan Kibum berjalan dengan penuh keheningan. Tak ada yang mau berbicara setelah kejadian tadi berlangsung. Tiba-tiba dari pengkolan, muncul sosok Jonghyun. Aku merasa gugup melihatnya. Ia tampak kaget melihat kami. Ia merogoh sesuatu dari saku mantelnya. Setangkai mawar. Ia berjalan pelan menghampiri kami. Aku girang bukan main. Akankah mimpiku terjawab? Tapi tunggu! Mengapa matanya menatap Kibum? Mengapa ia memberikan bunga itu pada Kibum?

******************************************************

(Kim Kibum POV)

“Kutunggu kau ditaman pukul 4.” Ujarnya dan berlalu pergi.

Dengan hati-hati kulirik Shin Kyu. Matanya merah. Benar saja. Saat melihat wajahku ia menangis. Aku kaget melihatnya menangis. Ia yeoja yang kuat. Biasanya ia menangis hanya jika ia merasa sakit hati. Itu pun hanya menitikkan air mata saja. Tentunya ia sekarang merasakan sakit yang teramat sangat sehingga ia menangis seperti itu. Aku pun menenangkannya. Ia memukul dadaku berkali-kali.

“Ya! Mianhae. Aku akan bertanggung jawab.” Ujarku padanya.

Ia terus menangis. Aku membelai rambutnya.

“Sudah. Anggap saja kita impas.” Ujarku lembut.

Ia pun menangkis tanganku.

“Impas? Neomu paboya.” Ujarnya kesal.

“Lalu aku harus apa?” ujarku bingung.

“Molla. Aku mau pulang.” Tangisnya.

“Baiklah. Ayo kita pulang.” Rangkulku menuntunnya pulang.

****************************************************

Sudah seminggu lebih aku berpura-pura menjadi yeojachingu bagi Jonghyun, pria yang disukai Shin Kyu. Begitupun dengan Shin Kyu, ia berpura-pura juga menjadi namjachingu untuk Victoria. Aku sudah muak. Harus berpura-pura bersuara lembut didepan Jonghyun. Rambutku pun ingin rasanya kupotong, bagiku sepundak itu sudah terlalu panjang. Aku pun menghempaskan badanku diatas ranjang Shin kyu sebelum aku pergi menemui Jonghyun ditaman jam 4 sore ini. Shin kyu pun merebahkan badannya disampingku.

“Sudah siap.” Tanyanya padaku.

Aku meregut mendengarnya.

“Aniyo. Ani..ani..ani..ani..ani..ani..ani…!!” rajukku kesal.

“Ya..! tenanglah. Kau pikir aku mau melakukan ini semua? Kalau bukan demimu, tak akan aku lakukan.” Ujarnya.

Kulempar kumpulan foto Jonghyun yang menempel di Styrofoam pada dinding dengan bantal yang kupeluk dari tadi.

“Aya..!! Sampai kapan?” tanyaku histeris.

“Sampai kau putus dengannya.” Ujarnya santai mengulang perkataanku saat itu.

“Aigo…..” pekikku.

“Ah, sudahlah. Jangan jadi pengecut begitu.” Ujarnya seraya beranjak pergi ke kamar gelapnya.

Aku pun menyusulnya kedalam kamar gelap. Ia sedang mencuci beberapa foto. Seperti biasa. Pasti mencuci foto Kim Jonghyun.

“Lemari es.” Panggilku.

“Mwo?” tanyanya tanpa melihatku.

“Kau masih menyukai Jonghyun?” tanyaku.

Ia hanya mengibas-ibaskan foto ditangannya.

“Menurutmu?” sambungnya.

“Kau tak ilfil? Aku saja jadi sedikit ilfil dengan Victoria.” Ujarku.

Ia hanya tersenyum. Jujur, sekarang aku sudah tak bisa memikirkan Victoria lagi. Bahkan sekarang aku sangat mengagumi Shin kyu. Jiwanya begitu kuat. Ia benar-benar tegar dengan semua yang telah terjadi. Aku saja masih sering mengeluh. Dari dulu, bila ia muak, ia hanya tersenyum kecut atau meregut saja. Tak seperti aku, marah-marah tak jelas.

“Sebaiknya kau pergi sekarang. Kasihan Jonghyun menunggumu.” Ujarnya.

Aku hanya bisa menekuk wajahku dan berlalu dari kamar gelap kesayangan Shin kyu.

**************************************************

(Choi Shin Kyu POV)

Kuat juga aku. Hampir 1 bulan lebih aku berpura-pura menjadi namjachingu Victoria. Aku pun merebahkan tubuhku dikursi taman. Kuhirup aroma cappuccino di tanganku. Aku disini menunggu Victoria. Tiba-tiba ia ingin bertemu denganku.

“Shi kyu…!!!” teriak seseorang manis.

Aku pun menoleh. Kibum? Kim Jonghyun? Apa yang ia lakukan disini?

“Anneyong haseo.” Ujarku seraya bangkit dari dudukku.

Bisa kulihat dengan jelas tangan Jonghyun menggenggam tangan Kibum. Hebat sekali anak ini berakting. Entah mengapa aku cemburu padanya. Bukan pada Kibum, melainkan pada Jonghyun.

“Anneyong. Menunggu Victoria?” Tanya jonghyun.

“Ne.” ujarku.

Mereka pun duduk disampingku. Kuminum cappuccino milikku.

“Kalian bersahabat sejak kapan?” Tanya Jonghyun.

“Sejak SD. Kami ini pasangan tangguh loh.” Ujar Kibum ceria.

“Begitu. Hahaha. Aku iri melihatnya.” Ujarnya.

Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Andai Kibum bisa semanis ini padaku. Tiba-tiba dari jauh muncul sosok Victoria. Ia datang dengan ekspresi yang aneh. Aku pun bangkit dari dudukku. Ia bergegas menghampiriku dan melemparku dengan sesuatu. Kumpulan foto Victoria yang kuambil. Ia pun menyiramku dengan soda. Semua orang yang ada disana memandang kami dengan heran. Termasuk Kibum dan Jonghyun. Aku mematapnya dengan heran. Ia membalas menatapku dengan penuh kebencian.

“Jangan dekati aku. Dasar yeoja sinting.” Ujarnya marah.

Aku kaget mendengarnya. Darimana ia tahu?

“How bastard you are.”ujarnya padaku seraya menyiramku dengan soda lagi beserta kalengnya.

Kurasakan tubuhku melemas. Aku berlari dari taman. Entah apa yang aku pikirkan, aku berlari ke cassette center tempat aku bekerja.

*************************************************

(Kim Kibum POV)

“How bastard you are.” Ujar Victoria seraya menyiram Shin kyu dengan soda beserta kalengnya.

Victoria pun pergi. Disusul dengan Shin kyu yang berlari menahan tangis. Aku shock melihatnya. Traitor. Aku mati-matian menjaga rahasia ini. Ia malah memberitahu Victoria. Aku kesal bukan main.

“Apa Shin kyu seorang yeoja?” Tanya Jonghyun padaku.

Aku mendiamkannya.

“Jagiya….” Panggilnya lagi.

Cukup. Aku sudah muak.

“Ya..!! berhenti memanggilku Jagiya.” Ujarku seraya mendorongnya.

“Mwo?” ujarnya kaget.

“Nan Namjaro. Namjaro. Berhenti memanggilku jagiya atau akan kubuat kau menyesal.” Ujarku seraya meninggalkannya.

Aku pun bergegas mencari Shin kyu. Tak butuh waktu lama. Ia sedang meringkuk didepan cassette center. Aku menghampirinya. Ia memandangku dengan takut.

“Kibum-ah…” ujarnya.

“Ya.. apa yang kau lakukan?” tanyaku marah.

“Molla. Aku tak melakukan apa-apa.” Sergahnya.

“Gotjimal.” Bentakku.

Ia memandangku. Aku balas menatapnya dengan marah.

“Aniyo. Tiba-tiba ia menelfonku dan hal itu tiba-tiba terjadi.” Belanya lagi.

“Gojitmal. Dasar traitor. Aku mati-matian menyembunyikan rahasia kita. Kau malah memberitahunya.” Ujarku seraya membalikkan badanku membelakanginya.

“Tapi aku tak memberitahukannya.” Ujarnya lagi.

“Cukup! Aku sudah muak. Andai aku tak pernah mengenalmu. Andai aku tak pernah berteman dengan traitor sepertimu. Menyebalkan. Dasar yeoja tak berguna.” Bentakku padanya.

Aku tahu, kalau aku sudah kelewatan. Tapi ada sesuatu dibibirku yang tak dapat kutahan. Aku pun membalikkan badanku menatapnya. Ia menangis menatap tanah. Aku sedikit bersalah. Tapi egoku menahanku. Ia berlari pulang. Neomu paboya.  Paboya Kim Kibum. Apa yang telah kau lakukan Kibum?

*****************************************************

Aku menatap bayanganku di cermin. Kupotong rambutku secara asal dengan gunting ditanganku. Sekarang, aku tak hanya kehilangan orang yang kusuka. Aku sekarang kehilangan orang yang paling kukagumi di dunia. Ada sedikit rasa menyesal di benakku. Tiba-tiba ponselku berdering. Dari Shin kyu. Aku enggan mengangkatnya, namun sekan ada sesuatu yang membuatku ingin mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” ujarku datar.

“Ah, Kibum-ssi.” Ujar seseorang panik.

“Ajumna? Ada apa? Mana Shin kyu?” tanyaku bingung.

“Dia kecelakaan. Dia koma. Ajumna tak tahu harus melakukan apa. Kami ada di Jeungdong hospital.” Ujarnya.

Mwo? Mustahil. Baru sejam yang lalu aku bertemu dengannya. Mana mungkin.

“Ajumna hanya ingin membertahumu saja. Terima kasih jika kau mau datang.” Ujarnya lagi lalu menutup ponselnya.

Aku jatuh tersungkur ke lantai kamar mandi. Tuhan.. mengapa jadi begini? Paboya! Apa yang telah aku lakukan Kibum?

****************************************************

Sekarang aku hanya bisa memandangnya dari luar ruangan. Sudah seminggu sejak kecelakaan itu, ia tak kunjung sadar. Sekarang tak ada lagi teman berkeluh kesah. Teman tertawa bersama. Ajumna pun menghampiriku. Ia membelai pundakku.

“Doakan saja agar Shin kyu cepat pulih.” Ujarnya.

Aku tersenyum padanya.

“Kibum-ssi. Bisakah kau mampir ke rumah dan mengambilkan baju untuk Shin kyu? Ajumna harus menemui Yool Baksanim.” Pintanya.

Aku pun mengangguk. Segera aku bergegas menuju rumah Shin kyu. Tak butuh waktu lama. Hanya 15 menit perjalanan karena jalan sedang tidak macet. Aku pun bergegas memasuki kamar Shin kyu dan mengambilkan baju untuknya. Kutatap foto Jonghyun yang masih tertata rapi diatas Styrofoam. Kulempar dengan benda yang ada disekitarku dan bergegas pergi. Namun, sebelum aku sempat keluar dari kamar Shin kyu, tampaknya Styrofoam itu jatuh. Aku pun berbalik untuk memastikan. Benar saja, namun aku tak percaya dengan apa tang kulihat. Foto-fotoku, foto aku dan Shin kyu, lebih banyak dari foto Jonghyun, tersusun rapi membentuk kata saranghae di dinding. Aku menghampiri dinding itu. Aku menangis melihatnya. Terharu sekaligus menyesal. Akibat ulahku ia jadi begini. Kuambil fotoku dan Shin kyu dari dinding. Saat itu sedang tahun baru dan kami sedang bermain kembang api. Aku rindu akan masa itu. Sekarang aku sadar. Dari dulu yang kusukai bukan Victoria. Aku hanya senag melihat senyumnya. Namun aku lebih bahagia berada disamping Shin kyu. Aku pun memasukkan foto itu ke saku celanaku dan bergegas kerumah sakit. Saat sampai, ajumna tidak ada dikamar. Aku pun duduk disamping ranjang Shin kyu. Kugenggam tangannya dengan erat dan kukeluarkan foto kami berdua.

“Mianhae. Mianhaeyo. Aku ini hanya seorang namja bodoh. Aku tak sadar selama ini. Sesungguhnya yang aku sukai adalah kau. Aku menyukaimu lebih dari orang yang kusukai. Aku menyukaimu sebagai orang yang aku kagumi dengan teramat sangat. Kau selalu melindungiku. Walau kau yeoja, kaulebih kuat dibandingkan aku. Mianhae. Kumohon dengan sangat sekarang. Sadarlah! Aku rindu tawamu. Yeobo! Kau dengar aku kan? Kumohon bangunlah. Kumohon bangun, lemari es.” Tangisku.

Tiba-tiba, kurasakan tangannya bergerak. Aku terkejut melihatnya. Kupanggil Yool Baksanim berkali-kali, namun tak kunjung juga datang. Shin kyu pun membukakan matanya. Ia tersenyum saat melihatku.

“Gomawo.” Ujarnya lirih.

*****************************************************

KLik….

Aku pun menoleh kearah Shin kyu.

“Kebiasaan! Mau menjadi stalkerku ya?” tanyaku seraya membelai lembut kepalanya.

Ia hanya terkekeh menatapku. Ia pun kembali asyik dengan kameranya. Begitupun aku, kembali asyik dengan buku harianku. Suasana taman hari itu sedang bagus. Sejuk sekali. Sekarang aku dan Shin kyu sudah lulus sekolah. Mulai sekarang kami resmi menjadi mahasiswa. Banyak anak sekolah yang berhalu lalang membuatku rindu ingin mengenakan seragam SHS-ku kembali. Shin kyu pun duduk disampingku dan meminum cappuccino miliknya.

“Sejuk sekali.” Ujarnya.

Aku mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba, yeoja adik kelasku saat masih sekolah dulu datang menghampiri kami. Ada apa mereka? Mengapa menatap yeojachingu-ku dengan tatapan seperti itu. Ia menghampiri Shin kyu dan mengulurkan sebuah kotak berpita biru padanya. Aku menatapnya heran.

“Sunbae, aku menyukaimu. Maukah sunbae menjadi namjachinguku.” Tanyanya polos.

Aku kaget mendengarnya. Shin kyu pun menatapku dengan tatapan mustahil. Oh, tuhan….! Jangan lagi.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s