Hate You, Love You {Oneshot}

(Kim young woon POV)

“Ja, bangun!” ujar seseorang yang suaranya sangat kukenal.

Aku berusaha tidak mendengarnya. Kututup telingaku dengan kedua tanganku. Sinar matahari pun menerembes masuk kedalam kamarku saat ia membuka jendela kamar tidurku.

“Jangan begitu…! Ayo bangun dan segeralah sarapan.” Perintahnya lagi.

Aku tetap pada posisiku. Mengacuhkannya.

“Kangin! Bangun atau semua bir yang ada didalam kulkas aku buang.” Ujarnya gusar.

Mau apa lagi. Bisa apa aku tanpa bir-birku itu. Aku pun langsung terduduk pada tempat tidurku. Kupandangi dongsaengku itu.

“Ja. Tak sopan sekali kau memanggilku seperti itu, key!” ujarku kesal.

“Orang sepertimu tak pantas kupanggil hyung. Bangun dan segeralah sarapan.” Ujarnya sambil berlalu kearah dapur.

Dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah akur dengannya. Apalagi saat orang tua kami tiada. Bicara dengannya bisa dihitung dengan jari tangan setiap minggunya. Kugaruk rambutku yang tak gatal. Aku pun beranjak dan bergegas ke dapur. Dari jauh, bisa kuhirup wangi masakan key. Aku selalu suka masakan buatannya. Mungkin, key itu seperti ibu bagiku. Walau ia adikku, aku menopangkan hidupku padanya. Aku sadar. Karena aku memang tak berguna. Sesekali kulirik key yang duduk di depanku. Ia makan dengan perlahan. Pakaiannya sudah rapi dan bersih. Kupandangi bibimbab milikku.

“Kau kenapa?” tanyanya padaku.

“Aniyo.” Ujarku pelan dan mulai makan.

Dengan cepat kuhabiskan sarapanku dan memberikannya pada key untuk dicuci. Seperti biasa, kumulai hari-hariku dengan sarapan lalu menonton acara televisi.

“Aku berangkat. Aku akan pulang lebih cepat.” Ujarnya.

Aku tak menjawabnya. Aku tetap konsentrasi pada acara yang kutonton. Tak terasa aku sudah menonton selama 8 jam. Mataku mulai terasa perih sekali. Kuambil mantelku dan beranjak pergi dari rumahku. Seperti biasa, tujuanku hanya 1. Bar milik teman lamaku. Hanya disana aku menghabiskan hari-hariku. Aku pun memasuki bar yang masih sepi itu. Kupesan minuman yang biasa kupesan. Memang, setiap hari hanya kuhabiskan waktuku dengan minum. Apa boleh buat? Bisa apa aku? aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya seorang pengangguran. Waktu pun terus berjalan. Semakin lama semakin panjang dan aku masih tetap minum-minum. Bagiku, hanya inilah yang bisa kulakukan.

“Hei, hyung. Apa kabar?” Ujar seseorang seraya menepuk pundakku dari belakang.

Aku pun menoleh. Teryata Go.

“Aku bukan hyung-mu.” Ujarku seraya menepis tangannya yang merangkul pundakku.

“Hahaha. Ternyata hyung masih galak seperti dulu. Kalau kau tak mau kupanggil hyung, kau ingin dipanggil apa?” tanyanya seraya duduk disebelahku.

“Kurasa kau tahu harus memanggilku apa.” Ujarku singkat.

“Hahaha. Baiklah Kangin. Kau galak sekali.” Candanya.

Aku tidak menghiraukannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku padanya seraya meneguk minumanku.

“Menunggu Yoo Ma.” Ujarnya.

“Kau mengajak Yoo Ma kemari? Gadis sekecil itu?” ujarku tak percaya.

“Dia yang mau. Aku tak pernah memaksanya.” Ujarnya cuek.

“Kenapa kau tak melarangnya?” tanyaku padanya.

“Hidup itu sekarang sulit. Penuh kelicikan, ia harus tahu segala sesuatu disekitarnya agar ia dapat menentukan pilihan.” Ujarnya padaku.

Aku tak percaya mendengar kata-katanya. Go pasti sudah gila. Aku pun langsung meminum bir-ku. Kuusap setiap tetes bir yang menetes membasahi leherku.

“Hyung, kau sudah memiliki pekerjaan?” tanyanya tiba-tiba.

“Apa arti dari kata-katamu itu?” ujarku kesal.

“Aku mau menawarkanmu pekerjaan.” Ujarnya.

“Pekerjaan apa?” tanyaku malas.

Ia pun mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu di telingaku. Aku tersentak kaget.

“Mwo? Kau gila.” Ujarku seraya bangkit dari dudukku.

“Kau butuh uang kan?” ujarnya santai.

“Aku tak sudi melakukan hal itu.” Ujarku seraya memukul meja bar.

Semua orang menatapku. Tapi aku tak peduli. Aku sudah muak dengan Go.

“Ya..!, aku kan hanya ingin membantumu. Bukankah kau ini hanya seorang pengangguran? Lagipula kau pantas melakukannya.” Ujarnya seraya memesan minuan.

Saat itu juga, aku langsung mendorong badan Go yang jauh lebih kecil dariku ke lantai. Aku benar–benar gusar padanya. Aku memukulinya berkali-kali. Ia pun berusaha membela diri. Ia menendang perutku dan mulai memukulku secara bertubi-tubi juga. Tak kusangka badan sekecil itu memiliki tenaga yang besar. Beberapa orang mencoba memisahkan kami. Tapi aku sudah benar-benar gusar padanya. Aku tetap memukuli dongsaeng-ku itu. Maksudku agar ia menarik semua perkataanya padaku tadi. Tapi sayang, mereka berhasil memisahkan aku dan Go.

“Lepaskan aku. Aku bisa jalan sediri.” Ujarku menangkis tangan mereka.

Aku pun beranjak kearah pintu bar.

“Pergi saja. Dasar pecundang.” Teriaknya.

Aku tak peduli. Aku pun keluar dari bar yang ternyata diluar, hari sudah gelap. Aku pun berjalan dengan penuh kemarahan. Aku pun melamun sepanjang jalan. Apa aku sehina itu sampai Go bilang bahwa pekerjaan itu pantas untukku? Ah, aku memang pecundang. Dari jauh, kulihat seorang gadis duduk halte bis seraya menatap jalan dengan kosong. Kurasa ia sedang dalam kondisi yang sulit sepertiku. Aku pun menghampirinya dan duduk di sampingnya. Kuharap bis segera datang. Tiba-tiba gadis di sebelahku bangkit dan berjalan lurus kearah jalan raya. Dari arah kanan, terdengar klakson truk menggema. Dengan sigap, kutarik tangan gadis itu keluar dari jalan raya. Aku kaget sekali dengan tindakannya.

“Apa kau sudah gila? Ada beribu arwah yang ingin bisa hidup sepertimu.” Ujarku.

Ia tak mengubrisku. Tatapannya tetap kosong, ia tampak kebingungan. Aku pun melepasnya dari genggamanku. Saat bis datang, aku pun segera bangkit dari dudukku. Kulihat gadis itu  masih tetap duduk diam. Aku tak mengerti. Ini adalah bis terakhir jalur ini. Tanpa pikir panjang, kutarik tangannya memasuki bis. Ia duduk di sebelahku. Ia tampak sangat tidak wajar. Ia tak bisa diam. Ia mengganggu supir dan naik keatas kursi. Aku sangat kewalahan menghadapinya. Saat aku turun, ia memainkan pintu otomatis bis. Supir bis itu terlihat marah. Akhirnya, gadis itu kutarik turun bersamaku.

“Hei, siapa namamu?’ ujarku padanya.

Tak ada respon.

“kau tinggal dimana?” tanyaku tapi ia malah berlari menuju taman.

Ia mulai memanjat pohon yang ada di taman. Aku benar-benar kewalahan. Karena rumahku sudah dekat, kubawak ia ke rumahku. Kubuka pintu rumahku secara perlahan.

“Kemana saja kau? Malam sekali.” Ujar Key tiba-tiba dari dalam kamarnya.

Belum sempat menjawab, ia sudah menunjukan ekspresi tak senang. Mungkin karena aku mengajak gadis ini ke rumah selarut ini.

“Siapa dia?” tanyanya sinis.

“Tak tahu.” Ujarku datar.

“Aku serius hyung. Siapa dia?” tanyanya lagi.

“Kau pikir aku bercanda? Aku tak kenal padanya!” ujarku lagi.

“Apa ia gadis malam? Muda sekali.” Ujarnya lagi.

“Aku tak tahu Key. Aku bertemu dengannya di bis.” Ujarku singkat.

“Jadi kau mengajaknya kemari? Apa maksudmu? Kau pikir rumah ini penitipan?” tanyanya lagi.

“Entahlah. Ia tak menjawab setiap pertanyaanku. Jangan buat aku semakin bingung.” Jelasku padanya.

Key menggelengkan kepala. Ia menghampiri gadis itu dan menanyakan namanya. Tapi sama saja, gadis itu tak menjawab sama sekali. Key pun berbalik dan menarikku ke sudut ruangan.

“Sekarang kita harus bagaimana?” ujar Key padaku.

“Mana kutahu?” ujarku bingung.

“Hei, sadarkah kau kalau keluarga anak ini pasti mencarinya? Apabila kita dituduh menculiknya, apa yang akan kita lakukan?” ujarnya gusar.

“Aku tak tahu. Kenapa tak kita biarkan saja ia tinggal disini?” ujarku asal.

“Apa kau sadar dengan semua perkataanmu, hyung? pendek sekali jalan pikirmu!” ujarnya sinis.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku ikut kesal.

Tiba-tiba, kurasakan ada yang menarik belakang bajuku. Kutolehkan kepalaku.

“Appa, aku lapar.” Ujar gadis itu polos.

Aku kaget sekali. Begitupun Key.

“Appa..?” ulang Key bingung.

Aku pun tak kalah bingung. Key kembali menggelengkan kepalanya.

“Oemona…!!!!” ujar Key seraya memegangi kepalanya dan berlalu ke dapur.

Kupandang wajah anak itu. Anak aneh. Sejak awal kuajak bicara, ia tak menjawab pertanyaanku. Tapi sekarang, tiba-tiba ia bicara dan memanggilku appa. Apa aku tampak setua itu? Aku pun duduk di sofa dengan wajah bingung. Anak itu mengikuti gerakku dan duduk disampingku.

“Anak aneh.” Ujarku lirih padanya.

Ia tak merespon ucapanku. Beberapa saat kemudian, key kembali dengan sepiring gimbab. Ia menaruhnya diatas meja dan langsung dilahap oleh gadis itu. Aku dan Key hanya memperhatikan ia melahap habis semua gimbab itu.

“Ada yang aneh pada anak ini.” Ujar Key saat gadis itu menghabiskan semua gimbab yang ada.

“Kau benar.” Ujarku setuju.

Kuhampiri gadis itu.

“Hei, namamu siapa.” Ujarku.

“Hei, jangan kasar begitu. Pantas ia tak mau menjawab pertanyaan. Biar aku yang tanya.” Ujar key seraya mendorongku untuk menjauh.

Aku pun menjauh beberapa langkah darinya dengan diam.

“hei, anneyong haseo.” Ujar adikku ramah padanya.

Aku tak pernah mendengarnya seramah itu semenjak beberapa tahun silam. “Ne.” ujarnya singkat.

Ada kemajuan. Ia menjawab pertanyaannya walau sangat singkat. Setelah kuperhatikan, ternyata matanya tak pernah menatap satu arah.

“Siapa namamu?” Tanya key lembut.

“Eun Jin.” Ujarnya lagi singkat.

Aku dan key pun menghela nafas panjang. Sekarang kita sudah maju satu langkah.

“Eun Jin, kau tinggal dimana?” tanyanya lagi.

“Gimbab enak. Eun Jin suka.” Ujarnya.

Mundur satu langkah. Key pun berdiri dari duduknya dan mendekatiku.

“Sudah kuduga. Memang ada yang salah.” Ujarnya.

“Kau benar. Kita harus segera memeriksakannya ke dokter.” Ujarku padanya.

Seakan-akan ada petir menyambar. Tatapan key padaku berubah total.

“Ada yang salah?” Ujarku bingung.

“’Ada yang salah?’? Ya, memang ada yang salah. Kau lah yang salah.” Ujarnya padaku.

“Hei, apa salahku? Memang apa salahnya kita memeriksakannya ke dokter?” tanyaku.

“Tentu saja salah. Kau pikir aku ini gudang uang? Menghidupi hidupmu yang konyol saja aku harus memberikan privat sehari 6 kali. Dan sekarang kau seenaknya bicara begitu seakan-akan kau yang menafkahiku selama ini.” Ujarnya kesal.

“Kau kenapa sih? Pelit sekali.” Ujarku ketus.

“Pelit kau bilang? Cari dulu pekerjaan, baru kau bawa ia ke dokter.” Ujarnya lagi.

“Iya, aku akan segera mencari pekerjaan. Besok.” Ujarku kesal.

Key tampak mengacuhkan semua yang kukatakan padanya. Ia menghampiri Eun jin dan menyuruhnya berdiri dan lekas tidur. Eun Jin pun mengangguk. Aku kesal dengan Key. Kubanting pintu kamarku. Kurebahkan badanku diatas tempat tidur. Memang ia pikir aku suka makan dengan uang hasil kerjanya.  Tidak. Lagipula apa salahnya membawa Eun jin ke dokter memakai uangnya dahulu? Bukankah selama ini seperti itu. Kurasakan kalau semakin hari, sifatnya padaku semakin kasar. Seakan – akan aku ini bukan hyungnya. Aku benar-benar malas dibuatnya. Kupejamkan mataku agar segera pergi tidur.

**************************************************

(Kim Kibum POV)

Seperti biasa, pagi sekali aku sudah bangun. Banyak yang harus aku lakukan. Memasak, membereskan rumah dan banyak lagi. Menyuruh hyung melakukan semua tugas ini, sama dengan menyuruh patung yang melakukannya. Kubereskan sofa tempat aku tidur. Badanku terasa pegal sekali. Apa boleh buat, kamarku dipakai oleh Eun Jin. Aku tak mungkin membiarkannya tidur di sofa. Aku pun berjalan lunglai kearah dapur. Saat kulewati kamarku, kudengar suara isak tangis. Apa itu suara Eun Jin? Kenapa ia menangis? Kubuka pintu kamarku. Dari ambang pintu bisa kulihat dengan jelas, ia sedang duduk meringkuk di pojok ruangan. Menangis. Aku pun menghampirinya.

“Kau kenapa?” tanyaku.

Ia hanya diam. Tak bergeming. Aku bingung harus bagaimana. Aku pun menuntunnya keluar dari kamar dan mengajaknya ke dapur. Kuberikan ia cokelat panas.  Ia pun meminumnya dengan lahap. Wajahnya terlihat menikmati sekali. Sudah lama aku tidak melihat ekspresi seperti itu setelah beberapa tahun silam. Aku pun mulai memasak. Kumasakan menu seadanya, sesuai dengan kebutuhan yang ada didalam kulkas. Kulirik Eun Jin sesekali, ia tampak memperhatikan segala sesuatu yang aku lakukan dengan seksama. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya. Jika melihat posturnya, ia tampak berumur 16 tahun. Beda 4 tahun denganku. Tapi, bila aku melihat sifatnya, ia tampak seperti anak berumur 3 tahun. Hampir selama 2 jam ia memperhatikan tingkahku. Saat aku memasak, mencuci baju, membersihkan ruangan, ia terus memperhatikan aku. Bahkan saat aku mandi, ia menungguku diluar pintu. Aku pun kembali ke dapur uantuk menyiapkan meja makan. Beberapa saat kemudian, kangin pun bangun. Ia langsung duduk di meja makan. Aku pun mengambilkan nasi untuk mereka semua dan kami pun mulai makan. Seperti biasa, kami makan dengan hening. Aku pun memulai bicara untuk mencairkan suasana.

“Hari ini aku tak ada jadwal privat. Aku akan pulang seusai kuliah.” Ujarku pelan.

“Berarti kau tak akan dapat uang.” Ujar Kangin cablak.

Aku pun menoleh padanya. Ia menatapku dengan polos. Jika aku tak ingat ia hyungku, ingin sekali kulempar ia dengan mangkuk nasi ditanganku.

“Kita butuh uang untuk memeriksakan Eun Jin ke dokter.” Lanjutnya polos.

Aku sudah muak. Ia sama sekali tak paham kondisiku. Selama ini aku selalu sabar menjadi alat penghasil uangnya. Ia begitu menggantungkan hidupnya padaku. Aku tak mau ia seperti itu. Aku ingin hyungku menjadi orang berguna. Tampaknya tindakankanku dan sindiranku padanya tak mempan selama ini. Kadang aku berfikir, jika aku mati, bisa jadi apa hyungku ini? Kupandang hyungku dengan tatapan muak.

“Aku berangkat.” Ujarku dingin.

Aku pun beranjak dari meja makan. Kuraih ranselku yang ada diruang tamu. Tak lupa, kubanting pintu saat aku keluar dari dalam rumah.

************************************************

(Kim young woon POV)

Apa aku salah bicara tadi? Memang apa salahku tadi? Aku tak mengerti semua maksud Key selama ini. Bagiku, Key adalah orang yang paling sulit ditebak. Moodnya mudah berubah. Aku pun menghela nafas panjang. Akhirnya aku bisa keluar rumah juga setelah melepaskan diriku dari Eun Jin. Dengan terpaksa aku menguncinya dikamar Key.  Sekarang, aku hanya bisa berjalan tanpa arah memikirkan pekerjaan. Aku bingung harus bekerja seperti apa. Tak ada yang cocok denganku. Aku pun melamun memikirkan pekerjaanku. Tanpa sadar aku sudah berjalan jauh. Sekarang aku berada di pasar ikan. Kulihat papan nama yang menuliskan mencari pekerjaan. Kuperhatikan pekerjaan yang dimaksud. Tidak sulit kurasa, tidak jauh dari keahlianku. Mungkin aku bisa. Kuhampiri, toko tersebut. Aku melamar pekerjaan disana. Hanya dengan berbekal omongan basa-basi dan… Voila…!!! Aku dapat dan bisa langsung kerja saat itu juga.

lihat key, aku dapatkan pekerjaan.” Ujarku dalam hati.

********************************************************

Ternyata begini rasanya pulang saat senja. Matahari sore yang indah. Angin yang berhembus dengan tenang. Begini pemandangan yang biasa dilihat Key saat lelah pulang dari memberi privat. Kubuka pagar rumahku. Aku pun segera memasuki rumah. Rupanya Key sudah pulang. Ia sedang memakaikan Eun Jin mantel hangat. Key menatapku dengan sebal.

“Tega sekali kau menguncinya dikamar hyung.” ujarnya padaku.

Aku pun tak mengubrisnya. Kuhampiri mereka dengan pelan.

“Mau kemana?” tanyaku.

“Ke rumah sakit. Mau memeriksa anak ini.” Ujarnya tak kalah datar.

Aku hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian pun mereka bergegas pergi dari rumah. Akhirnya aku sendiri lagi disini.

*******************************************************

(Kim Kibum POV)

Hampir 2 minggu Eun Jin tinggal disini. Ternyata ia adalah anak Autis. Kata Baksanim, ia akan sembuh apabila mengikuti teraphy. Namun, bisa apa aku? perkerjaanku yang hanya sebagai guru privat dan hyungku yang hanya sebatas kuli pasar. Tak ada yang bisa kami lakukan. Bisa memberinya makan saja aku sudah bersyukur. Semenjak saat itu pun, sifat Kangin Hyung mulai berubah. Ia jadi begitu lembut. Terutama pada Eun Jin. Lembut… sekali. Aku tak pernah melihatnya selembut itu. Kata-katanya pun tidak sekasar dulu. Jujur, aku cemburu pada anak itu. Adik kandung Kangin hyung aku, lalu kenapa Hyung memperlakukanku biasa saja? Seakan-akan Eun Jin adik kandungnya dan aku hanya orang yang menumpang dirumahnya. Aku sebal sekali pada Eun Jin. Hari ini aku bertugas menjaga Eun Jin. Sebenarnya aku tidak mau. Apa boleh buat? Ini seudah menjadi kesepakatan kami berdua antara Hyung dan aku. Kadang aku berfikir, sampai kapan anak ini akan terus mengusik kehidupanku? Aku sudah muak. Kulirik Eun Jin sesekali. Ia sedang menggambar. 30 menit lagi aku harus pergi memberikan les privat. Bagaimana ini? Hyung melarangku untuk tidak meninggalkannya sendiri. Tapi aku juga tak mungkin mengajaknya. Yang benar saja? Lama kupikirkan cara bagaimana aku bisa meninggalkan anak ini. Setelah kupikirkan, kuputuskan untuk menitipkannya pada tetanggaku. Segera kupakaikan mantel pada anak itu. Anak itu hanya diam. Aku pun segera menuju rumah Young Anjumna. Tentu saja untuk menitipkan anak menyebalkan ini. Setelah berbincang sedikit dangan Young ajumna, akhirnya ia mau menerima anak ini untuk kutitipkan. Akhirnya… kulangkahkan kakiku menjauhi rumah Young ajumna. Samar-samar terdengar suara elakan dari Eun Jin. Ia pasti tak mau tinggal. Biar sajalah. Selamat datang jam-jam bebasku…!!!

*****************************************************************

“Oppa, aku tetap tak mengerti.” Ujar Ji Hwa, murid privatku.

“Aigo… kan sudah kuajari!” seruku padanya.

“Aku tetap tak mengerti oppa.” Rajuknya.

“Oh… baiklah. Ayo buka bukumu.” Perintahku.

Wajahnya pun tampak senang. Tiba-tiba ponsel pun berdering. Aku pun meminta izin pada Ji hwa untuk mengangkat ponselku dan segera meninggalkannya.

“Yeoboseyo?” tanyaku.

“Yeoboseyo? Kibum-ssi? Ini young ajumna. Ada berita penting.” Ujarnya panik.

“Tenanglah ajumna. Ada apa?” tanyaku mencoba menenangkannya.

“Eun Jin-ah. Dia kabur. Dia kabur saat aku sedang menerima tamu.” Ujarnya lebih panik lagi.

“Mwo? Jeongmal?” tanyaku tak percaya.

“Ne. Aku sudah menghubungi kakakmu. ia akan segera mencarinya.” Ujarnya lagi.

“Ne, ajumna. Araso. Aku juga akan segera mencarinya.” Jawabku dan segera menutup ponselku.

Kabur? Yang benar saja. Hyung pasti marah besar. Seharusnya aku tidak meninggalkannya tadi. Neomu paboya. Aku pun segera menghampiri Ji Hwa. Kukatakan padanya kalau aku harus pulang sekarang. Untung aja Ji Hwa mau mengerti. Aku pun segera memakai mantelku dan meninggalkan pekarangan rumah Ji Hwa. Kira-kira kemana aku harus mencari anak itu? Duh… sial sekali aku. Akhirnya kuputuskan untuk mencari Eun Jin di daerah rumahku. Ia kan belum tahu daerah ini, pasti ia tak akan jauh. Tapi ia kan autis? Memang ia peduli? Bisa pergi sejauh ini dan ditemukan oleh hyung-ku saja sudah bagus. Kira-kira, apa ia akan pergi jauh lagi ya? Yang kutakutkan ia pergi keluar batas kota Seoul. Lebih sulit bagiku mencarinya. Aduh… kemana lagi aku harus mencari anak itu?

“Ja! Key!” panggil seseorang.

“Hyung?” tanyaku gugup.

“Kau sedang mencarinya juga? Baguslah. Ayo kita cari bersama.” Ajaknya.

Duh.. kenapa aku harus mencari Eun Jin dengan hyung-ku ini. Ia pasti akan memarahiku. Akhirnya aku pun mengangguk saja dan berjalan mengikutinya. Kami pun mulai berteriak memanggil Eun jin. Kami juga bertanya pada orang yang kami temui. Sayang, tak ada yang tahu. Kulirik jam tanganku. Waktu menunjukan pukul 7 malam. Aduh…. Dimana ia akan tidur? Seoul itu jahat. Kalau ada yang macam-macam padanya bagaimana.

“Key! Itu Eun jin.” Teriak hyungku itu.

Aku pun bergegas menghampirinya. Benar. Ia sedang bermain ayunan di salah satu taman. Mulutnya sedang menyenandungkan sesuatu. Aku dan hyung pun menatapnya. Kami pun segera menghampirinya. Hyung pun menyentuh pundaknya.

“Eun jin. Ayo kita pulang.” Ajaknya.

Eun jin pun mengangguk. Ia pun menggenggam tangan kiri hyung. Huh… sebal.

“Eun Jin bosan. Eun jin mau main.” Ujar anak itu.

“Iya. Maafkan oppa ya. Oppa janji akan main bersama Eun jin nanti.” Ujar hyung.

Bikin cemburu saja. Tapi aku masih bingung pada hyung-ku ini. Apa ia tak marah padaku?

“Hyung? kau tak marah padaku?” tanyaku takut-takut.

Tapi ia hanya tersenyum. Senyum yang tak pernah kudapat darinya selama ini.

“Sudahlah. Yang penting Eun jin sudah kita temukan.” Ujarnya santai.

Mwo? Serius hyung-ku bicara seperti ini? Ia memang berubah. Sangat berubah. Berbeda dengan hyung yang selama ini kukenal. Kurasa aku juga harus mulai berubah. Kurasakan tangan kanan-ku digenggam. Eun jin menggeggam erat tanganku. Kurasa mulai sekarang aku harus mulai sabar. Terutama membagi hyungku padanya.

***************************************************************

“Wajib militer? Hyung serius?” tanyaku tak percaya.

“Ne. Aku serius.” Jawabnya mantap.

“Wah… angin macam apa yang membuat hyung daftar wajib militer? Kenapa hyung baru sadar sekarang?” tanyaku.

“Hahahaha. Kau ini! Yah… kurasa ini sudah saatnya aku mengabdi pada Negara. Mengingat sifatku dulu. Kurasa aku harus menebusnya.” Ujarnya santai.

“Yah… bila itu keputusan hyung, aku ikut saja.” Jawabku.

“Baiklah kalau begitu.” Jawabnya kembali.

“Tapi bagaimana aku menyampaikannya pada Eun jin? Kau tahu ia sangat menyayangimu.” Tanyaku bingung.

“Tenang. Masih ada 2 minggu sebelum kepergianku. Kita bicara saja pelan-pelan. Aku akan mulai bicara padanya esok pagi. Sekarang biarkan saja ia tidur pulas.” Ujarnya.

“Baiklah. Tapi mulai kepergianmu, ia tidur dikamarmu ya. Aku mulai rindu kamarku. Lagipula aku sudah muak tidur disofa ini.” Ujarku.

“Hahaha. Sekarang saja kau tidur dikamarku.” Jawbnya.

“Mwo? Aniyo! Bau alkohol.” Tolakku.

“Ya! Kan sudah kubersihkan.” Belanya.

“Tetap saja. Baunya masih menempel. Besok kau harus membereskannya lagi sebelum Eun jin memakai kamarmu.” Ujarku.

“Baiklah bawel. Sekarang aku mau tidur. Kau juga tidur.” Ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

“Ne. Araso.” Jawabku seraya memakai selimutku.

*******************************************************

Sudah setahun sejak kepergian hyung-ku wajib militer. Sekarang aku benar-benar mengurus Eun Jin seutuhnya. Melelahkan bukan main. Minggu pertama sulit sekali bagiku. Ia memang tak pernah patuh padaku. Dari awal ia memang lebih menyukai hyung-ku dan mematuhi segala yang hyung-ku bilang. Tapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa berinteraksi dengannya. Aku sudah mulai mengaturnya walau masih sulit karena moodnya mudah berubah. Selain itu, aku pun memiliki pekerjaan baru. Aku sudah tidak lagi mengajar privat. Masih sih. Tapi hanya bagi mereka yang tinggal didaerah rumahku saja. Sekarang aku berkerja di toko kaset. Akhirnya setelah sekian lama aku memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang stabil. Senang rasanya memiliki gaji tetap.

“Key oppa. Lapar.” Rajuknya.

“Baiklah. Aku juga lapar. Kita makan diluar ya! Sudah lama aku mau makan Guksu. Ayo pakai mantelmu.” Ujarku seraya membantunya memakai mantel.

Segera kukunci pintu dan pagar rumahku. Kami pun jalan di tepi trotoar. Tangannya menggenggam tanganku. Panas juga. Apa ia demam? Gawat bila ia demam.

“Eun jin mau itu!” ujarnya tiba-tiba seraya menunjuk kedai eskrim.

“Sudah tutup Eun jin.” Ujarku bohong.

“Mau itu.” Rajuknya lebih keras.

“Aduh….. nanti oppa buatkan. Tapi sekarang kita makan guksu dulu ya.” Bujukku.

“Aniyo… Eun jin mau itu.” Teriaknya lagi.

Ini nih, susahnya punya rumah di kota. Baru keluar rumah sudah ada kedai eskrim. Bila kau bernasip sepertiku. Kedai eskrim adalah suatu petaka besar di saat-saat genting.

“Ayolah Eun jin! Malu dilihat orang.” Seruku seraya menariknya pergi.

Aku pun menyeretnya menuju salah satu rumah makan. Rumah makan ramyun tepatnya. Padahal aku ingin sekali makan guksu. Gara-gara tingkah anak menyebalkan ini, aku jadi harus menelan liurku kembali. Didalam kedai ia tetap memberontak. Mengganggu ketenangan pelanggan lain. Akhirnya aku memesankan milkshake strawberry untuknya. Dasar anak gengsi tinggi. Dikasih milkshake, baru bisa diam. Menyebalkan. Kupesan 2 ramyun. Saat ramyun tiba, segera kulahap ramyun milikku. Mengurus Eun jin memang menguras tenaga. Membuatku harus mengeluarkan tenaga 3 kali lipat. Wajar bila aku kelaparan. Baru beberapa menit kutinggal makan, saat kulirik Eun jin. Ia bukannya makan malah memainkan ramyun didepannya. Cipratannya menyiprat kemana saja. Dasar jorok.

“Eun jin apa yang kau lakukan?” tanyaku seraya me-lap tangannya dengan tissue.

Ia hanya tersenyum. Ia terus memainkan makanan dihadapannya.

“Ayo kusuapi.” Perintahku.

Akhirnya waktu makanku terhambat karena aku harus menyuapinya. Menjengkelkan sekali. Saat aku selesai menyuapinya, aku pun mulai makan. Tapi belum sempat aku makan, ia malah membuat keonaran lagi. Ia bernyanyi-nyanyi menyanyikan lagu yang tak jelas. Mengganggu sekali. Sangking mengganggunya, kami pun diusir oleh pemilik rumah makan itu. Lalu bagaimana dengan ramyun-ku?

“Kau ini! Selalu saja menyusahkan orang.” Ujarku padanya saat kami kembali pulang.

Ia hanya tersenyum. Wajahnya menunjukan innocent yang teramat sangat. Dasar menyebalkan. Kubiarkan ia berjalan didepanku. Agar aku bisa memantau kelakuannya. Terakhir, saat aku membiarkannya berjalan dibelakangku. Ia malah menaiki bis kota. Alhasil aku mengejar bis itu sejauh 3 blok. Pegal sekali.

“Oppa ngantuk.” Rengeknya.

“Tahan saja dulu. Bentar lagi sampai.” Jawabku ketus.

Ia terus saja meronta. Kugenggam tangannya. Takut ia ngamuk dan hal buruk yang tak diharapkan terjadi. Akhirnya kami pun sampai dirumah. Aku pun segera mengajaknya menuju kamar hyung. Ia pun langsung tertidur. Dasar! Anak ini. Bisa-bisanya setelah mengusik makan malamku, ia pulas tertidur. Kuselimuti ia dengan selimut. Jujur, meski ia menyebalkan, membuat masalah, selalu merepotkan, tapi aku tak bisa berbohong kalau ia manis sekali. Istilahnya, saat fajar tiba hingga tenggelam ia seperti monster. Namun saat bulan muncul, ia bagai putri tidur. Jujur, aku lebih suka saat ia tidur. Tapi entah mengapa, saat ia bangun pun aku sangat gemas padanya. Wajahnya yang innocent selalu membuatku gemas. Selain itu rasa ingin tahunya tinggi sekali. Saat aku menyapu, ia ikut menyapu. Saat aku mencuci, ia mengikutiku juga. Kadang saat aku marah, ia selalu mengikuti apa yang aku bicarakan. Sehingga sering sekali membuatku tak jadi marah padanya. Ada apa ini? Akhir-akhir ini pun aku sering merasa tidak tenang bila meninggalkannya. Tapi ia memang manis sekali. Semoga saja ini hanya perasaanku saja. Bisa gawat bila aku sampai menyukai gadis aneh ini.

************************************************************

“Aduh…. Badanmu panas sekali.” Ujarku panik.

Ia hanya mendesah. Ya, aku tahu. Pasti lemas sekali rasanya. Kuambil thermometer dari mulutnya. Kulihat panasnya. 40 derajat? Panas sekali! Dia kompor atau orang sih? Mungkin bila kurebus telur, dalam 3 menit akan langsung matang. Duh….! Mana diluar hujan lebat. Bagaimana aku membawanya ke rumah sakit?

“Oppa…” rajuknya lemas.

“Ne. Oppa disini.” Ujarku seraya mengkompresnya lagi.

Apa yang harus kulakukan? Obat sudah kuberikan. Susu hangat sudah. Bubur ayam sudah. Tapi kenapa panasnya tak kunjung reda? Aduh… kenapa aku jadi ingin menangis? Kenapa dadaku menjadi sesak melihat kondisinya? Kenapa denganku ini? Eun jin pun semakin erat menggenggam tanganku. Pasti pusing sekali. Tuhan… jika bisa, aku ikhlas menggantikan posisinya. Kenapa aku menjadi tegang seperti ini? Apa ini tandanya aku menyukainya? yang benar saja? Bagaimana bisa aku menyukai gadis seperti ini? Bisa-bisanya kau berfikir konyol disaat genting seperti ini, Key! Dari tubuhnya mulai keluar keringat dingin. Badannya mulai gemetar. Aya..!! Apa yang harus kulakukan? Bisa gila aku kalau begini caranya. Aku pun terus mengkompresnya. Kulap lehernya dengan handuk hangat. Eh, apa ini? Darah? Ya ampun, ia mimisan. Aku pun segera melap darah yang mengalir dari hidungnya. Mengapa tak mau berhenti? Kangin hyung..!! kau dimana? Tolong aku! Kenapa pipiku hangat? Aku pun menyentuh pipiku. Air? Aku menangis? Yang benar saja! Bagaimana mungkin aku menangis. Tapi memang benar. Aku menangis. Aku menangis melihatnya menderita seperti itu. Tuhan… semoga Eun jin cepat sembuh. Tak terasa hampir semalaman aku terus berada disamping Eun jin. Mengompresnya dan membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya. Lelah sekali. Tanpa sadar, aku pun tertidur. Entah berapa lama aku tertidur. Tiba-tiba aku pun terbangun. Terbagun oleh sinar pagi yang masuk melalui jendela kamar hyungku.

“Eun jin kau…”

loh? Kemana anak itu? Tempat tidurnya kosong. Tak ada Eun jin disitu. Aku pun panik. Aku pun bergegas keluar kamar. Mencari Eun jin. Saat aku melewati dapur, kuliat sosok Eun jin sedang duduk mengitari meja makan. Sedang apa ia? Saat kuhampiri, tangannya sibuk mengolesi roti dengan selai yang ada diatas meja. Berantakan sekali. Tapi wajahnya sudah cerah. Tampaknya demamnya sudah reda. Syukurlah. Kurasa ia menyadari kehadiranku. Ia pun menoleh padaku dan tersenyum padaku. Manis sekali.

“Sarapan untuk oppa.” Ujarnya.

Aku pun tersenyum padanya dan duduk disampingnya.

“Oke. Mari kita makan sarapan buatan Eun jin. Mana yang buat oppa?” tanyaku ramah.

“Yang coklat.” Ujarnya riang.

********************************************************

“Key…!” panggil seseorang.

Aku yang sedang sibuk menenteng belanjaan dan tangan yang lainnya menggenggam tangan Eun jin pun menoleh. Kangin hyung? ia sudah pulang. Eun jin pun tampak antusias. Ia pun melepas genggamanku dan berlari kearah Kangin hyung.

“oppa…” teriaknya manja.

“Hai.. Eun jin. Kau sudah besar.” Ujar hyung-ku ramah.

“Hyung…!! cepat sekali kau kembali.” ujarku kaget saat melihat sosoknya.

“Ya… memang lebih cepat dari dugaanku.” Ujarnya.

“Kapan kau sampai?” tanyaku.

“Baru saja. Wah… wajahmu tampak seperti kakek tua.” Candanya.

“Hentikan. Kau tidak tahu betapa repotnya menjaga Eun jin sendiri.” Ujarku sebal.

“Hahaha. Mianhae Key. Kau sudah makan?” tanyanya.

“Aniyo. Hyung sudah?” tanyaku.

“Aniyo. Kau masak tidak? Aku mulai rindu masakanmu.” Ujarku.

“Aniyo. Ayo kita makan guksu.” Ajakku bersemangat.

“Aya… aku ingin bulgogi.” Rajuknya.

“Andwe. Pokoknya kita makan guksu. Selama kau tak ada, aku ingin sekali makan guksu, tapi ujungnya selalu saja berakhir makan ramyun atau mexicana.” Rajukku lagi.

“Waw… kau kerja keras sekali. Baiklah, ayo kita makan guksu. Selain itu ada yang mau aku kabarkan padamu.” Ujarnya.

“Berita baik?” tanyaku.

Ia hanya yersenyum. Kami pun berjalan pelan menuju rumah makan guksu. Kulirik Eun jin. Tangannya tak hentinya menggenggam tangan hyung-ku itu. Dasar manja. Aku tak suka melihatnya manja pada hyungku itu. Menyebalkan. Kami pun pun segera memasuki rumah makan itu. Kami pun memilih meja yang terletak dipojok. Aku pun segera memesan 3 porsi guksu. Saat pesanan kami datang. Tanpa menunggu mereka, aku pun langsung memakan guksuku. Aya…. Akhirnya aku makan guksu juga. Bahagianya. Sesekali kulirik Eun jin. Ia sedang memakan guksu itu dengan tenang. Menyebalkan. Dasar manja. kenapa waktu ia makan bersamaku tak bisa diam? Sedangkan saat ada hyung, ia bisa makan dengan tenang. Menyebalkan!

“Ya.. ada yang mau kusampaikan padamu.” Ujar hyung memulai pembicaraan.

“Kabar baik atau buruk?” tanyaku malas.

“Aya… mana kutahu? Hanya kau yang bisa menilainya.” Ujarnya.

“Ok. Cepat katakan.” Ujarku.

Ia pun tersenyum. Ia pun meraih ranselnya dan merogoh sesuatu. Beberapa saat kemudian ia mengeluarkan secarik Koran lusuh. Idih… Koran itu pasti bekas gorengan, ingus, kotoran, atau semacamnya. Ia pun menyodorkan kertas itu padaku.

“Mwo?” tanyaku.

“Baca saja sendiri!” perintahnya.

Kertas kaya gitu? Yang benar saja. Kulirik hyung-ku sekali lagi. Matanya mengisyaratkan aku untuk menerimanya. Dengan ogah-ogahan yang teramat sangat, aku pun mengambil kertas Koran itu itu.

Dicari anak hilang.

Nama : Shin Eun Jin

Umur : 15 tahun

Tinggi : 160 cm

Bagi anda yang menemukannya, harap hubungi xxx-xxx-xxxx.

Mataku terbelalak tak percaya saat membacanya. Kutatap hyung-ku.

“Itu Koran 2 tahun yang lalu.” Ujarnya santai.

“Mwo? Berarti ia sudah 1 tahun hilang sesaat sebelum hyung menemukannya?” ujarku.

“Begitulah.” Ujarnya.

“Berarti kita harus menghubungi keluarga anak ini?” tanyaku konyol.

“Tentu saja. Bukankah dulu kau yang bilang agar anak ini cepat keluar dari rumah kita?” ujar hyung-ku kesal.

Benar juga. Memang dulu aku yang bilang begitu. Entah mengapa aku ingin menarik kata-kataku dulu.

********************************************************

Ternyata anak ini berdarah kelahiran China. Ummanyalah yang berkebangsaan China. Tak kusangka gadis sekecil ini bisa tersasar dari Tsingtao hingga Seoul. Bagaimana caranya? Naik kereta? Mau berapa puluh tiket? Lagipula bagaimana caranya ia membeli tiket? Menyebrang laut kuning? Naik apa? Berenang? Aih…. Yang benar saja. Sekarang, aku, hyung, dan Eun jin tentunya sedang dalam perjalan menuju inchon. Appanya akan menjemputnya di pelabuhan inchon. Entah mengapa, sedari tadi ada yang mengganjal hatiku. Sesungguhnya aku tak mau Eun jin pergi. Apalagi setelah apa yang terjadi pada kami 1 tahun terakhir ini. Aku pun sudah memendam perasaan lebih. Memang konyol bila aku memendam perasaan lebih pada anak autis seperti ini. Tapi itulah kenyataan. Beberapa saat kemudian kami pun tiba. Kami pun segera menemui appa Eun jin. Appanya pun tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada kami. Pluit kapal pun berbunyi. Menandakan kapal akan segera berangkat. Mereka pun pamit dan segera menaiki kapal. Kami pun melambaikan tangan dan seketika kapal pun mulai bergerak dengan pelan. Aku dan hyung pun berbalik. Kami pun berjalan pelan meninggalkan pelabuhan. Apa ini? Ada sesuatu yang mengganjal dadaku. Tidak bisa! Aku tak bisa membiarkannya. Aku pun berbalik dan mulai berlari menuju tepi pelabuhan. Kuatur nafasku yang tak karuan. Hyung pun berteriak memanggilku namun aku tak mengubrisnya. Kutatap sosok Eun jin yang masih menatapku dari atas kapal.

“Saranghaeyo Eun jin-ah…” teriakku.

Akhirnya kata itu keluar juga. Meski aku yakin ia tak akan paham dengan semua perkataanku, namun… setidaknya aku sudah mengutarakan perasaanku.

****************************************************

Sekali lagi kupengang pundakku. Pegal sekali. 5 tahun semenjak kepulangan Eun jin ke Tsingtao, rutinitasku dan hyungku pun kembali seperti biasa. Tentu saja hyungku tak kembali mabuk. Ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Ia menjadi seorang manager di salah satu supermarket. Sedangkan aku, masih tetap bekerja di toko kaset. Aku pun berjalan lunglai menuju rumahku. Kutundukan kepalaku. Pokoknya begitu sampai rumah, aku ingin mandi air hangat. Saat kudongakkan kepalaku, seorang yeoja berdiri didepanku. Hampir saja aku lari terbirit-birit, karena kehadirannya seperti hantu. Aku pun berjalan pelan melewatinya. Ia pun tersenyum padaku. Yeoja aneh.

“Anneyong haseo.”  Sapanya.

Aku pun tak mengubrisnya. Siapa ia? Sok kenal.

“Masih ingat padaku key oppa?” ujarnya mengagetkanku.

Aku pun menoleh. Ia pun tersenyum lagi padaku. Senyuman yang lebih manis. Kudekati ia dengan perlahan. Kuperhatikan wajahnya. Ini tidak mungkin.

“Eun jin?” tanyaku kaget.

“Syukurlah oppa masih mengingatku.” Ujarnya.

“Tapi.. bagaimana? Kau?” ujarku terbata.

“Hahaha. Tampaknya oppa masih bingung. Bagaimana kalau kita makan ramyun? Aku janji tak akan membuatmu terpaksa menyuapiku lagi.” Ujarnya ramah.

Aku pun tersenyum. Ternyata ia memang Eun Jin. Eun jinku yang dulu. Kurasa akan ada kisah manis baru lagi antara aku dan Eun Jin.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s