Because of You {Oneshot}

(Lee Jinki POV)

Sebenarnya aku sudah tak tahan lagi sekolah disini. Sekolah yang hanya memikirkan status. Aku sudah muak. Sekolah yang tidak mengerti apa maksud ‘sekolah’ yang sebenarnya. Tapi karena ada dia, aku merasa harus menahan ini semua. Jika bukan karena dia, aku akan pergi meninggalkan sekolah ini selamanya.

Beberapa Bulan Yang Lalu

“Sudah mau berangkat Jinki?” Tanya appa saat melihatku turun dari tangga.

“Ne, appa.” Ujarku seraya meraih roti tawar yang ada diatas meja.

“Pagi sekali? Tidak sarapan dahulu?” ujar umma seraya melihat jam dinding.

“Aniyo, umma. Masih ada tugas yang harus aku kerjakan.” Ujarku lagi seraya memakai ranselku.

“Baiklah. Hwaiting.” Ujar appa seraya meraih korannya.

“Ne, appa. Aku pergi dulu.” Ujarku seraya keluar dari rumah.

Aku pun bergegas mengambil sepedaku yang ada digarasi. Aku pun menaiki sepedaku dan bergegas pergi keluar dari komplek tempat aku tinggal. Kukayuh sepedaku dengan perlahan. Aku selalu suka aroma ini. Aroma embun pagi yang menyegarkan pikiranku. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuatku terlena. Udara yang bersih, bebas polusi karena masih pagi. Aku selalu menikmati saat-saat dmana aku menaiki sepeda ini. Rasanya hidup ini begitu sempurna. Tak lama kemudian aku sampai ke sekolah. Aku pun turun dari atas sepedaku. Kutuntun sepedaku menuju tempat parkir sepeda. Beberapa saat kemudian dari belakangku, lewatlah sebuah mobil. Mobil itu melaju dengan cepat. Celana seragamku terkena cipratan air saat mobil itu melewati genangan air yang ada didekatku. Aku pun memberdirikan sepedaku dengan standarnya. Kuusap celanaku yang kotor. Kupandang mobil itu dengan kesal. Lalu muncullah sesorang, yang seharusnya aku sudah tahu siapa pemilik mobil itu. Park Junsu, kepala sekolahku.

“Sial sekali aku hari ini.” Ujarku lirih pada diriku sendiri.

“Pakailah sapu tanganku.” Ujar seseorang.

Aku pun mendongakkan kepalaku. Didepanku berdiri sesosok gadis. Mungil sekali, diantara siswi di sekolahku. Aku diam menatapnya. Ia pun meraih tanganku dan menjejalkan sapu tangannya di telapak tanganku. Aku hanya diam dibuatnya. Ia pun berbalik dan meninggalkan aku. Ia pergi menghampiri seseorang yang sudah membuat celanaku kotor. Kepala sekolahku. Apa hubungannya dengan gadis itu? Aku tak peduli. Apa urusanku. Kujejalkan sapu tangan itu ke sakuku dan membiarkan celanaku yang kotor. Kuparkirkan sepedaku dan bergegas pergi menuju kelasku.

*********************************************************

Aku berjalan pelan melewati rak didepanku. Kuperhatikan dengan seksama. Mencari buku yang kucari – cari sejak tadi.

Kemana buku itu?” batinku dalam hati.

Aku pun berbalik kearah rak lain. Begitu seterusnya, namun buku yang kumaksud tidak aku temukan. Aku mulai putus asa, padahal aku butuh buku itu untuk melengkapi makalahku. Aku pun menatap sekelilingku dengan bingung. Tiba-tiba di ujung lorong rak 5, aku melihat gadis yang kutemui pagi ini. Gadis yang memberikanku sapu tangannya. Namun, mataku menarik sesuatu yang dari tadi kucari. Buku itu. Buku yang dari tadi kucari ada di tangan gadis itu. Ia membacanya dengan tenang. Aku benar-benar butuh buku itu, namun bagaimana aku memintanya? Aku menghampirinya dengan ragu. Ia pun menyadari keberadaanku. Ia melirik kearahku. Aku diam mematung saat ia menatapku. Merasa canggung. Ia hanya tersenyum kecil padaku lalu memberiku buku yang ada ditangannya. Aku hanya bisa menatap buku yang sekarang ada ditanganku. Gadis aneh. Ia pun berbalik meninggalkanku, namun aku teringat sesuatu.

“Tunggu.” Ujarku pelan.

Ia menoleh. Kurogoh saku bajuku dan mengeluarkan sapu tangannya.

“Milikmu.” Ujarku seraya menyodorkannya padanya.

Ia hanya memandang sapu tangannya sesaat kemudian berganti menatap celanaku yang masih kotor.

“kutitipkan padamu.” Ujarnya seraya berlalu pergi.

Aku menatap gadis itu dengan aneh. Kugelengkan kepalaku. Aku pun beranjak dari tempat itu dan berlalu ke pojok kesukaanku di perpustakaan ini. Di salah satu kursi yang berada di pojok ruangan sebelah jendela. Sejuk sekali disitu. Aku pun duduk di kursi itu dan mulai membaca buku itu. Di cover buku tertera nama gadis itu. Park Ji Soo. Jadi buku ini bukan milik perputakaan? Apa aku harus mengembalikannya? Bagaimana caranya? Tiba-tiba, dari sampingku, sesuatu yang berat menubrukku. Aku menoleh. Ternyata Hyomun.

“Aya..!! Hyomun,  Apa yang kau lakukan?” tanyaku seraya mengusap punggungku yang ngilu.

“Aigo, Jinki-ah. Lemah sekali.” Ujarnya seraya duduk disampingku.

“Mworago?” tanyaku.

“Aniyo.” Ujarnya seraya membuka majalah yang ada ditangannya.

Aku pun melanjutkan membaca buku ditanganku. Mulanya kubaca dengan serius hingga konsentrasiku buyar dibuat orang disampingku ini.

“Ah…….!!!” Ujarnya hingga memekakkan telingaku.

“Apa yang kau lakukan sih? Ini di perpustakaan.” Ujarku seraya mengusap telingaku.

“Jinki..!! Lihat gadis ini..!” ujarnya seraya menyodorkan majalah itu kedepanku.

Aku menatap majalah yang ada didepanku. Tertera foto gadis yang memberiku saputangan dan bukunya padaku.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

“Aigo. Babonica Jinki. Inikan putri kepala sekolah kita, Park Ji Soo. Aya, dia manis sekali.” Ujarnya.

“Biasa saja.” Ujarku seraya kembali membaca bukuku.

“Ya…,  kau ini. Dingin sekali sifatmu! Bagaimana kau akan memiliki yeoja suatu saat nanti?” ujarnya padaku.

“Hei, dengarkan aku. Tak perlu kucari pun, yeoja pasti akan menghampiriku.” Ujarku.

“Ha? Hahaha. Percaya diri sekali kamu, Jinki. Mentang-mentang parasmu yang tampan.” Ujarnya sera memukul kepalaku dengan majalahnya.

“Hahahaha. Sudahlah. Aku mau kembali ke kelas.” Ujarku seraya beranjak dari dudukku.

****************************************************

“Jinki-ah….” Panggil appa dari luar kamarku.

“Ne, appa. Masuk saja.” Ujarku sambil sibuk terus menulis pada catatanku.

Appa pun membuka pintu kamarku dan duduk diatas ranjangku.

“Sedang apa jinki?” Tanya appa.

“Aniyo. Hanya mencatat apa yang perlu kucatat saja.” Ujarku.

“Hm…. Rajinlah belajar. Mungkin kelak kau bisa mendapatkan profesi yang lebih baik daripada yang appa dapatkan sekarang.” Ujar appa.

“Ne, aku tahu appa. Lagipula aku tak tertarik dengan dunia hukum, pengacara, dan sebagainya.” Ujarku maih sibuk dengan catatanku.

“Baguslah, mungkin kelak kau bisa menjadi seorang ilmuan.” Ujar appa.

“Ne, aku tahu itu. Sebetulnya appa ada perlu apa denganku?” tanyaku.

“Aniyo. Appa hanya ingin mengobrol denganmu saja.” Ujar appa.

Aku pun menganggukkan kepalaku. Appa pun merebahkan tubuhnya di ranjangku. Kulirik appa yang memandang langit-langit kamarku.

“Sebenarnya ada masalah apa, appa?” tanyaku.

“Aigo… kau memang selalu tahu kondisi appa.” Ujar appa pelan.

Aku hanya diam. Terus konsentrasi pada catatanku.

“Kau kenal Park Junsu?” Tanya appa.

Aku berhenti menulis. Aku pun menoleh kearah appa yang masih menatap langit-langit kamarku. Aku pun menghampiri appa dan duduk disebelahnya.

“Appa, akan segera memiliki kasus dengannya.” Sambung appa lagi.

“Rekan?” tanyaku seraya membetulkan letak kacamataku.

“Lawan.” Ujar appa membetulkan.

“kasus apa?” tanyaku.

“Korupsi sumbangan dana pemerintah.” Ujar appa pelan.

“Apa yang appa khawatirkan?” tanyaku.

“Appa, ingin kau pindah sekolah.” Ujar appa.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Appa memiliki perasaan tak enak. Sebaiknya kau pindah.” Sambung appa lagi.

“Aniyo appa. Kau tak perlu melakukan itu. Lagipula, bila sesuatu terjadi padaku, aku masih bisa mengatasinya.” Ujarku.

“Kau yakin?” Tanya appa.

“Yakin sekali appa.” Ujarku.

Appa pun memandangku lalu menusap lembut kepalaku. Aku tersenyum padanya. Appa pun beranjak dari ranjangku.

“Lekaslah tidur. Esok kau harus sekolah.” Ujarnya lembut seraya menutup pintu kamarku.

**********************************************

Jam istirahat ke dua selalu membuatku malas. Selain waktunya yang lebih panjang, kondisi setiap siswa pun pasti lelah. Wajar saja jika banyak siswa yang akan tertidur nantinya. Aku pun menutup buku yang kudapat dari gadis itu. Kurebahkan badanku seraya bersandar dibawah pohon rindang yang berada disamping lapangan basket yang jarang digunakan. Maklum, disekolah ini tak ada yang menyukai olahraga. Suasananya sejuk sekali. Suasana yang sepi ini selalu membuatku terlena dalam rasa kantukku. Aku pun memejamkan mataku. Entah berapa lama aku tertidur. Tiba-tiba aku terbangun mendengar suara langkah seseorang. Aku pun membuka mataku. Seseorang berjalan kedalam lapangan. Aku pun diam. Ternyata dia adalah gadis tempo hari. Ia pun meraih bola yang ada di lapangan dan memainkannya sendiri. Ia melempar bola itu kedalam ring. Tembakannya selalu gagal. Tampaknya ia sedang kesal. Tak pernah aku melihat permainan bola seburuk itu.

“Ja! Lemparkan bola itu padaku.” Ujarku seraya memasuki lapangan basket.

Gadis tampak kaget melihatku. Ia pun melemparkan bolanya padaku yang langsung kuterima dan kushoot kedalam ring, masuk.

“Apa yang dilakukan gadis sepertimu disini?” tanyaku seraya meraih bola itu kembali.

“Aniyo. Kau sendiri?” ujarnya balik bertanya.

“Aku hanya tidur seperti biasa disana.” Ujarku seraya menunjuk kearah pohon tempat aku tidur tadi.

“Jadi aku membangunkanmu?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum padanya. Aku pun berjalan kearah pohon dan duduk dibawahnya. Ia pun mendekatiku dan duduk disebelahku.

“Sejuk sekali disini.” Ujarnya.

“Aku selalu suka tempat ini.” Ujarku.

Ia pun memandang sekeliling. Tatapannya menunjukan kalau tempat ini memang indah.

“Jinki imnida.” Ujarku.

“nanneun..”

“Park Ji Soo?” ujarku.

Ia menatapku heran. Aku pun menyodorkan bukunya kepadanya.

“Tertera di cover bukumu. Terima kasih telah meminjamkannya padaku.” Ujarku seraya mengembalikan buku miliknya.

“Ne. Gwaenchansemnida.” Ujarnya sopan seraya menerima buku itu.

“Ada apa?” tanyaku setelah melihat ekspresinya yang pucat.

“Aniyo. Hanya saja…” ujarnya ragu.

“Tak apa. Katakan saja bila itu membuat kau tenang.” Ujarku.

Ia diam. Tampak memikirkan sesuatu. Ia pun menghela nafas panjang.

“Kau kenal appaku? Park Junsu.” tanyanya.

“Siapa tak mengenal kepala sekolah kita?” ujarku padanya.

“Ia terkena kasus korupsi.” Ujarnya pelan.

Seketika aku langsung ingat kata-kata appa semalam.

“Aku tak yakin appa melakukan hal itu. Aku tau, appa memang sedikit galak, tak mau kalah, dan sedikit pendendam. Tapi aku tak yakin apabila appa melakukan hal seperti itu.” Ujarnya.

“Menurutmu seperti itu?” ujarku.

“Ne, maka dari itu, maukah kau meminta appamu untuk tak menuntut appaku?” tanyanya.

Aku tersentak kaget.

“Darimana kau tahu appaku seorang pengacara?” tanyaku.

“Kudengar appa menyebut namamu semalam. Tidak bisakah kau membujuk appamu?” tanyanya.

Aku bingung dibuatnya. Apa yang harus aku lakukan.

“Entahlah. Aku tak punya wewenang seperti itu. Lagipula, seharusnya kau jangan meminta pada appaku. Appaku hanya sebagai pengacara penuntut saja. Harusnya kau katakan itu pada penuntut appamu.” Ujarku.

“Begitu ya. Ternyata memang tak bisa. Apakah kau tak takut?” tanyanya.

“Takut pada apa?” tanyaku.

“Pada appaku tentunya. Jika aku menjadi dirimu, lebih baik aku pindah dari sekolah ini.” Ujarnya datar.

“Seburuk itukah?” tanyaku santai.

“Ne. Mungkin lebih.” Ujarnya.

“Aku tak takut. Apapun yang akan terjadi padaku nanti akan kucoba untuk menyelesaikannya.” Ujarku optimis.

“Kau tak mengenal appaku.” Ujarnya.

“Aku memang tak mengenal appamu. Tapi tak ada salahnya kan untuk mencoba optimis?” Balasku penuh percaya diri.

“Ne. Mungkin kau benar. Berhati-hati sajalah.” Ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

Aku hanya memperhatikan kepergiannya. Apakah akan seburuk itu? Kuharap tidak.

**************************************************

Ternyata, apa yang ditakutkan appa dan Ji soo benar terjadi. Aku benar-benar dikucilkan di sekolah ini. Saat ulangan, walaupun jawabanku benar semua, selalu mendapat nilai nol. Saat aku mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan, tak pernah ditunjuk. Kurasa guru-guru sekolah ini sudah dimanipulasi oleh kepala sekolah itu. Aku sering tak yakin, apakah aku masih sanggup bertahan sampai kelulusanku? Tapi dilain itu, aku menjadi dekat dengan Ji soo. Ia sering mengingatkanku dengan semua rencana appanya terhadapku. Selain itu, ia baik sekali padaku. Disaat aku dijahili teman – temanku, ia selau membelaku walau ia tahu, mustahil bagi yeoja sepertinya melawan namja yang badannya kekar itu. Ia juga selalu menghiburku. Kadang aku berfikir ia manis. Aku pun melangkahkan kakiku menuju parkir sepeda. Saat aku hendak menaiki sepedaku, tampaknya ada yang aneh. Benar saja. Seseorang telah mengempeskan ban sepedaku. Aku hanya menghela nafas panjang melihatnya.

“Jinki -ah. Mworago?” Tanya seseorang di belakangku.

Aku pun berbalik dan menatap Ji soo. Kulirik ban sepedaku yang kempes. Ia hanya menghela nafas panjang.

“Dijahili lagi ya?” ujarnya.

Aku hanya mengangguk. Aku pun berjalan menenteng sepedaku. Ia berjalan disisiku. Menemaniku.

“Kau tak pulang bersama appamu?” tanyaku.

“Aniyo. Appa harus ke kantor pengadilan sekarang.” Ujarnya.

“Oh, iya. Aku hampir lupa. Tampaknya kasus ini akan berjalan lama.” Ujarku.

Ia pun berhenti. Aku menoleh padanya dengan heran. Ia menatapku dangan tatapan serius.

“Tak bisakah kau pindah dari sekolah ini?” tanyanya.

“Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu?” tanyaku.

“Aku heran padamu. Dengan semua perlakuan seperti itu, kau masih bisa bilang kenapa? Namja yang ajaib.” Ujarnya kesal.

“Lalu aku harus apa? Menyerah begitu saja. Setidaknya ini lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali.” Ujarku.

“setidaknya kau bisa pindah sekolah.” Ujarnya datar lalu berjalan disebelahku.

“Kau kenapa sih? Kau tak suka berteman denganku? Kau malu?” tanyaku mulai kesal.

“Bukan begitu. Hanya saja, aku muak dengan semua ini.” Ujarnya.

“Tenanglah, lagipula mengapa harus kau yang kesal. Aku saja yang menjalaninya biasa saja.” Ujarku santai.

“Terserakah kau sajalah. Aku tak mengerti dengan jalan fikirmu.” Ujarnya seraya meninggalkanku sendiri.

Aku mencoba memanggilnya kembali namun kurasa usahaku sia-sia. Apa mungkin lebih parah dari semua yang selama ini kupikirkan? Smoga tidak. Yah… berdoa saja. Semoga semua berjalan lancar hingga pembagian rapor tengah semester ini.

*************************************************

sesungguhnya aku takut sekali menerima rapor semester ini. Entah kenapa, setelah menerima perlakuan dari guru-guru sekolah ini, aku menjadi tidak yakin dengan nilai-nilaiku. Dan hari ini semua keresahanku akan terjawab. Sekarang sudah pembagian rapor semester tengah. Kutatap rapor ditanganku dengan tegang. Kuhela nafas panjang sebelum membukanya. Mulutku tak henti-hentinya berkomat-kamit. Kubuka raporku dengan perlahan. Seketika badanku melemas, bagaimana mungkin aku lulus dengan rapor seperti ini. Kosong. Benar-benar kosong. Tak ada angka yang menghiasi selain bulata merah yang banyak sekali. Jadi apa aku dengan nilai seperti ini. Fuih…. Ini sudah sangat keterlaluan. Seharusnya sejak awal aku pindah dari sekolah ini. Tapi aku bisa apa? Ada hati kecilku yang terus berkata aku harus bertahan. Selain itu, entah mengapa memikirkan aku akan berpisah dengan Ji soo membuat dadaku sesak. Mungkin ini yang namanya cinta. ARGh….!! Ini gila. Apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa terus sekolah disini. Tinggal 1 semester lagi menuju kelulusanku. Tapi aku tak anggup untuk berfikir meninggalkan Ji soo. Ah… tuhan! Bunuh saja aku.

“Ya..!!” ujar seseorang didepanku.

Aku kaget. Seketika rapor ditanganku sudah hilang. Kemana rapor itu? Yang benar saja? Masa rapor sebesar itu bisa hilang dalam 1 kedipan?

“Kejar aku bila ingin rapormu kembali!” ujar seseorang dengan wajah berseri.

Ji soo? Ha? Mau menantangku? Nekat sekali ia. Aku pun berdiri dan bergegas mengejarnya. Tak kusangka badan sekecil itu larinya seperti kijang. Cepat sekali. Aku pun berhenti berlari. Aku pun bersandar dibawah pohon. Mencoba mengatur nafasku.

“Dasar lemah..!!” ujarnya riang.

“Awas kau ya!” ujarku padanya.

Ia hanya tertawa. Matanya pun teralih dari diriku menuju raporku. Semoga ia tak berfikir untuk membacanya. Benar saja. Ia membuka rapor itu. Halaman demi halama. Seketika air mukanya berubah. Ia pasti melihat nilai=nilaiku. Aku pun menghampirinya dengan perlahan. Ia memandangku dengan kaget.

“Tak kusangka badan sekecil ini bisa berlari seperti kijang.” Ujarku mencoba santai.

Ia hanya memandangku. Aku hanya tersenyum simpul padanya.

“Ya! Berikan rapor itu padaku.” Ujarku pelan.

“Apa ini ulah appaku?” tanyanya.

Aku hanya mengulurkan tanganku padanya.

“Jawab aku! Apa ini ulah appaku?” tanyanya lagi.

Aku hanya mengambil rapor itu dari tangannya dan menutupnya.

“Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?” tanyanya kesal.

“Sudahlah. Ini hanya masalah sepele.” Ujarku mencoba tenang.

Ia pun membalikan badannya dari hadapanku. Aku kaget dengan reaksinya. Aku pun mengikutinya di belakang. Langkahnya begitu cepat. Tergambar kalau ia sedang marah. Aku tetap saja mengikutinya sampai ia menuju ruang dengan tulisan ‘kepala sekolah’.

“Ya? Apa yang kau lakukan.” Tanyaku seraya meraih tangannya.

Ia hanya melepas genggamanku dan mengambil raporku. Ia pun memasuki kantor Park Songsaenim. Aku hanya melihat dari luar ruangan. Kulihat Ji soo melempar raporku ke meja didepan appa-nya. Jujur, aku kaget dengan tindakannya.

“Mwo? Mworago?” tanyanya.

“Ya! Itu ulah appa kan?” Tanya Ji soo.

“Mwo? Kau bicara apa?” tanyanya bingung seraya melihat ketus kearahku.

“Nilai dirapor itu. Itu ulah appa kan?” tanyanya Ji soo lagi.

“Sudahlah. Sebaiknya kau tunggu appa dimobil. Kita pulang.” Ujarnya seraya merapikan kopernya.

“Appa jahat! Appa kejam! Awalnya aku tak yakin bahwa kasus itu benar appa yang melakukan, tapi sekarang, setelah melihat kelakuan appa, aku menjadi yakin kalau appa bukanlah orang baik.” Ujar Ji soo.

Tanpa basa-basi. Park Songsaenim menampar pipi Ji soo. Aku kaget melihatnya. Ia pun menarik tangan Ji soo dengan kasar. Saat melewatiku, ia sengaja menubruk pundakku. Aku pun meringis. Dari belakang bisa kulihat dengan jelas Ji soo menangis. Menagis karena telah membelaku.

******************************************************

“Sudah kuduga ini semua akan terjadi.” Ujar appa saat kami berkumpul di ruang perapian.

“Appa tak marah?” tanyaku.

“Untuk apa appa marah? Ini bukan salahmu. Lagipula kau tak sebodoh itu kan hingga nilai dirapormu lingkaran semua?” jawab appa seraya membelai rambutku.

“Hah… umma tak akan memaafkanmu bila nilai ini benar dan nyata.” Ujar umma seraya duduk disampinku.

“Ya.. tapi kau hebat Jinki. Kau memang anak appa yang hebat. Kau bisa bertahan sejauh ini.” Ujarnya padaku.

“Tapi appa, tidak bisakah kasus ini segera selesai?” tanyaku.

“Bersabarlah Jinki. Mungkin ini akan berlangsung selama 4 bulan lagi.” Ujar appa.

Aku hanya bisa menghela nafas mendengarnya.

***********************************************

Akhirnya semua penantianku terbayar sudah. Kasus itu telah selesai. Park Junsu dinyatakan bersalah. Bukti-bukti yang nyata telah ditemukan. Nilaiku pun kembali seperti semula. Walau kasus ini baru berjalan setelah 5 bulan, tapi bagiku itu bukan masalah. Sekarang aku bisa bernafas lega. Dan selama 5 bulan pula aku tak bertemu dengan Ji soo. Semenjak kejadian di kantor kepala sekolah. Aku tak pernah melihatnya lagi. Mendengar ataupun merasakan suaranya. Jujur, aku rindu suara tawanya yang unik. Hari ini rencana aku akan mengunjungi rumahnya sepulang sekolah. Saat sekolah usai aku bergegas menuju rumahnya. Ketika aku tiba dirumahnya. Sebuah taksi sudah menunggu didepan rumahnya.

“Ji soo… ayo, nanti kita terlambat.” Ujar seseorang yang muncul dari dalam rumah mewah itu.

“Ne, umma.” Jawab seseorang dari dalam yang kuyakin ia adalah Ji soo.

Ku pun menunggu Ji soo keluar. Beberapa saat kemudian Ji soo pun keluar. Ia tampak kaget melihatku.

“Jinki? Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya kaget melihat kehadiranku.

“Kau mau pergi?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Ji soo terlebih dahulu.

“Ah, ne.” ujarnya.

“Apakah akan lama? Kapan kau akan kembali?” tanyaaku.

Ia hanya tersenyum padaku.

“Mungkin aku tak akan kembali.” Ujarnya.

“Apa yang kau katakan?” tanyaku.

“Aku akan pindah. Aku akan tinggal dirumah nenekku mulai sekarang. Mungkin aku tak akan kembali.” Ujarnya.

Aku kaget mendengar penjelasannya.

“Mwo? Whaeyo?’ tanyaku.

“Rumah ini bukanlah menjadi milikku lagi. Memang banyak kenangan manis di rumah ini. Aku pasti akan mengingat rumah ini.” Ujarnya pelan.

Sesungguhnya aku sedih mengetahui ia akan pergi. Aku tak boleh menangis didepannya. Aku kan namja. Yang benar saja menangis. Ia pun segera memasuki taxi itu. Sesaat kemudian mesin mobil pun menyala. Ji soo pun membuka jendela dan melambaikan tangan padaku. Ia mengeluarkan kepalanya dan berteriak padaku.

“Sarangheyo…” ujarnya padaku.

Kurasakan perasaan hangat disekujur tubuhku. Kuperhatikan taxi itu hingga hilang dari pandanganku. Aku pun berbalik dan melangkah pulang. Kumasukkan tanganku kedalam saku celana seragamku. Kurasakan sesuatu yang lembut didalam sakuku. Kukeluarkan benda itu. Sebuah sapu tangan dengan bordir nama Park ji Soo. Aroma parfumnya masih menempel pada sapu tangan itu. Kukecup sapu tangan itu dengan lembut.

“Nado saranghae.” Ujarku lirih.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s