You’re Everything {Oneshot}

Cast :

–      Shin Eun Jin

–      Lee JInki (Shinee)

–      Kim Kibum (Shinee)

–      Cho Kyuhyun (Super Junior)

(Shin Eun Jin POV)

From : Kyuhyun oppa

Tunggu oppa di persimpangan Hongdae area.

Oppa akan tiba dalam 10 menit.

Aku pun menghela nafas panjang membaca pesan yang kuterima beberapa saat lalu. Kututup flip ponselku dengan perlahan. Seperti biasa, aku menunggu Kyuhyun oppa di persimpangan Hongdae area. Sebenarnya aku tak suka menunggu disini. Ramai sekali oleh kendaraan ataupun orang yang berlalu lalang. Tapi apa boleh buat. Hanya persimpangan ini yang menghubungkan Hongik University dengan Youngdae high school. Maksudnya, agar kami bisa pulang bersama saat Kyuhyun oppa pulang dari Hongik university dan aku pulang dari sekolahku. Padahal, aku selalu bilang pada oppa kalau aku bisa pulang sendiri. Namun oppa selalu melarangku. Wajar saja, aku di Seoul hanya tinggal berdua dengan Kyuhyun oppa. Tak heran jika ia selalu merasa khawatir padaku. Sejak dulu, aku tak pernah tahu keberadaan orang tuaku. Kyuhyun oppa selalu bungkam bila kutanya mengenai appa dan umma. Aku sih, menurut saja. Selama masih ada kyuhyun oppa disampingku. Tak pernah ada yang aku khawatirkan. Walau marga kami berbeda.

“Oppa lama sekali.” Keluhku lirih.

“Eun Jin…!” teriak seseorang.

Aku menoleh. Rupanya Jinki oppa. Sunbae-ku.

“Tumben oppa belum pulang. Sedang apa oppa disini?” Tanyaku ramah.

“Kau sendiri kenapa belum pulang? Selarut ini masih berkeliaran dikawasan seperti ini.” Ujarnya padaku.

“Ne, aku menunggu Kyuhyun oppa.” Jelasku padanya.

“Kenapa tidak pulang denganku saja? Rumah kita kan satu daerah.” Ujarnya.

“kalau aku bisa. Kyuhyun oppa selalu melarangku pulang sendiri.” jelasku.

Ia hanya mengangguk seraya membetulkan letak kacamatanya. Tampan sekali. Aku selalu suka sorot mata Jinki oppa yang bersinar dibalik bingkai kacamatanya. Matanya yang mungil selalu memancarkan kehangatan untuk siapa saja yang menatap matanya. Membuat siapa saja nyaman disampingnya. Aku memalingkan wajahku dari wajah Jinki oppa. Wajahku pasti tidak karuan. Aku pun kembali menunggu Kyuhyun oppa. Jinki oppa tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia tetap berdiri disampingku.

“Oppa kenapa tidak pulang?” tanyaku.

“Aku pulang malam, bukan masalah. Kamu pulang malam, bahaya. Ya! Itu oppa-mu bukan?” Tanya Jinki oppa padaku.

Aku pun menoleh. Benar. Disebrang jalan sudah ada Kyuhyun oppa dengan tangan yang penuh dengan kertas–kertas dan barang-barang lainnya. Aku pun melangkahkan kakiku untuk menyebrang. Namun Kyuhyun oppa melarangku.

“Diam. Biar aku yang menyebrang.” Perintahnya.

Aku mengangguk. Jinki oppa pun menarik tanganku untuk mundur.

“Jangan menyebrang. Jalanan seramai ini.” Ujar Jinki oppa padaku.

Aku pun menurut saja. Aku menunggu Kyuhyun oppa menyebrang. Sesungguhnya aku tak tega melihat oppa menyebrang. Selain bawaannya yang banyak, ketajaman pendengaran oppa pun mulai berkurang. Tapi aku tak pernah berani melawan perintah oppa. Aku pun diam menunggu oppa. Kulirik tangan kananku. Jinki oppa terus menggenggam tanganku. Ini pertama kalinya ada yang menggenggam tanganku selain Kyuhyun oppa. Sesungguhnya aku juga tak nyaman dengan genggaman Jinki oppa, namun entah mengapa aku  terus membiarkannya menggenggam tanganku.

“Hyung, awas..!!” seru Jinki oppa membuyarkan lamunanku.

Aku kaget. Aku pun menatap heran wajah Jinki oppa yang tampak tegang. Suara klakson menderu keras. Kutolehkan wajahku kearah Kyuhyun oppa. Saat itu juga, seakan tak memberiku kesempatan untuk bicara, sebuah mobil melaju dengan kencang kearah Kyuhyun oppa. Seketika tubuh Kyuhyun oppa sudah tergeletak ditanah. Kertas-kertas yang oppa bawa berterbangan dengan noda merah yang menghiasi warna putihnya. Aku kaget bukan main dibuatnya. Aku ingin sekali memeluk Kyuhyun oppa. Aku pun bergegas menghampiri Kyuhyun oppa dengan langkah yang tertahan. Aku langsung menangis melihatnya. Jinki oppa terus menggenggam tanganku. Aku pun melepas genggaman Jinki oppa dan segera memeluk Kyuhyun oppa. Jantungnya masih berdetak. Wajah kyuhyun oppa tampak lemah dan kesakitan sekali. Darah mulai mengalir deras dari pelipisnya. Kulirik Jinki oppa, memohon bantuan. Namun ia sedang sibuk bertengkar dengan penabrak Kyuhyun oppa.

“Oppa bertahanlah.” Ujarku lirih.

Ia hanya tersenyum miris.

“Bertahan oppa. Hanya kau yang kumiliki di dunia ini.” Ujarku lagi.

Sekali lagi kyuhyun oppa hanya tersenyum kearahku. Beberapa saat kemudian, mobil ambulans pun datang. Mereka pun memasukkan kyuhyun oppa kedalam mobil. Beserta aku yang terus disamping oppa, tak lupa dengan Jinki oppa yang terus menggenggam tanganku dengan hangat.

*********************************************************

Akhirnya setelah 1 bulan dirawat di Seoul National Hospital, Kyuhyun oppa menutup matanya untuk selamanya.  Setelah 1 bulan menderita karena efek obat yang diberikan dokter, ia akan beristirahat dengan tenang tanpa berada disisiku lagi. Aku sangat sayang pada oppa-ku. Ia satu-satunya yang kumiliki didunia ini. Tapi sekarang, aku hanya bisa menatap nisannya yang berwarna kelabu. Sejak oppa masuk rumah sakit sebulan yang lalu, aku tak pernah berhenti menangis. Melihatnya, mendengar namanya, membaca namanya, itu semua hanya membuatku terluka dan mengingat kejadian itu. Aku pun menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ini semua tak mungkin terjadi. Tuhan…. Apakah ini hanya mimpi? Jika benar, aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.

“Eun Jin….” panggil seseorang pelan seraya menarik kedua tanganku.

Aku pun menatap sosok yang berdiri tegap didepanku. Sejak tragedi itu, Jinki oppa selalu menemaniku. Selalu membantuku menemani Kyuhyun oppa saat aku harus sekolah atau bekerja. Sampai sekarang pun, sampai Kyuhyun oppa dikebumikan, ia tak pernah absent disampingku.

“Ayo kita pulang.” Ajaknya seraya menggenggam tanganku hangat.

Aku tak bicara apapun padanya. Aku hanya menangis saja didepannya. Ia hanya tersenyum padaku.

“Kalau kau menangis seperti ini, oppa-mu pasti sedih.” Ujarnya seraya menyeka air mataku.

Aku hanya mengangguk. Kurasa ia benar. Tak ada gunanya aku menangis. Mungkin kyuhyun oppa akan sedih disana bila aku menangis seperti ini. Ia pun menarik tanganku untuk menjauhi makam tempat Kyuhyun oppa beristirahat untuk selamanya. Aku berjalan mengikutinya dibelakang. Kami pun mulai menjauhi makam oppaku. Untuk terakhir kalinya aku menoleh kearah makam oppa-ku. Kulambaikan tanganku. Seakan-akan oppaku ada disana. Tersenyum dan membalas lambaian tanganku.

*********************************************

Sudah 5 bulan oppa-ku meninggal. Sekarang aku pun sudah pindah ke apartemen baru. Yang dekat dengan tempatku bekerja. Agar jika aku pulang malam, tak terlalu jauh dengan rumahku yang dulu. Sudah 1 minggu aku tinggal disini. Lagipula rumah itu hanya menyisakan pahit bagiku. Selain itu, kurang lebih 2 bulan, aku dan Jinki oppa sudah menjalin hubungan. Tempat tinggalku pun dengan Jinki oppa semakin jauh. Tapi aku tak khawatir untuk tidak bertemu dengannya, karena kami tetap sekolah disatu tempat. Kadang ia suka menjemputku untuk pergi atau pulang sekolah bersama. Walau aku sering menolaknya, ia selalu saja menjemputku tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Kurebahkan tubuhku diatas sofa. Sudah 5 jam aku berkutat didepan netbook-ku. Lelah sekali menjadi seorang penerjemah diusia sedini ini. Tiba-tiba pintu apartemenku diketuk. Aku pun membuka pintu. Ternyata Jinki oppa. Ia datang seraya membawakanku es krim strawberry. Kesukaanku.

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya seraya memasuki apartemenku.

Aku hanya tersenyum membalasnya. Kubereskan ruang tengahku yang penuh akan pekerjaanku. Kupersilahkan ia duduk disofa.

“Es krim pasti bisa menenangkan pikiranmu.” Ujarnya seraya menyodorkanku es krim strawberry yang dibawanya.

“Gomawo.” Ujarku singkat.

Ia tersenyum padaku. Kami pun mulai memakan es krim masing-masing. Kami makan dengan diam. Sesungguhnya aku tak suka suasana ini, tapi aku harus bagaimana? Meski dua bulan yang lalu ia resmi menjadi namjachingu-ku, entah mengapa aku masih segan berbicara padanya layaknya sepasang kekasih pada umumnya.

“Ya..!” ujar Jinki oppa tiba-tiba.

Aku pun menoleh padanya.

“Kita sudah jadian kurang lebih 2 bulan, tapi aku heran padamu. Kau jarang sekali bicara padaku. Bahkan, mungkin bisa kuhitung dengan jariku.” Ujarnya.

Aku pun menundukan kepalaku. Memang benar, aku memang jarang sekali bicara padanya. Bahkan sangat. Ia pun membelai lembut kepalaku.

“Aku tahu kau sedih dengan kematian oppa-mu. Tapi kau tak bisa begini terus. Kau harus mulai menerima kematian oppa-mu. Kau harus mulai menerima kehadiran orang lain disampingmu. Aku mencintaimu Eun Jin-ah. Aku ingin bicara apa saja denganmu. Kumohon, bicaralah denganku.” Ujarnya.

Aku tersenyum padanya. Ia benar. Ia selalu benar. Wajar saja dulu aku selalu mendengar kata-katanya. Aku pun menggenggam tangannya.

“Ayo cari udara segar.” ajakku.

Ia pun tersenyum padaku. Senyum yang manis. Kami pun memutuskan berjalan-jalan ke taman sekitar apartemenku. Kami pun duduk bersebelahan di bangku taman. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Tampaknya ia kaget, namun ia tetap membalas merangkulku. Kami sangat suka mendengarkan musik. Kupasangkan Headset sebelah kananku kepadanya. Ia pun menerimanya dan memakainya.

I know your eyes in the morning sun

I feel you touch me in the pouring rain

And the moment that you wander far from me

I wanna feel you in my arms again

And you come to me on a summer breeze

Keep me warm in your love then you softly me

And it’s me you need to show

How deep is your love

How deep is your love?

I really mean to learn

‘cause we’re living in the world of fools

breaking us down when they all should let us be

we belong to you and me

I believe in you

Kami pun menikmati indahnya sore dengan alunan lagu BeeGees. Jinki oppa membelai kepalaku pelan. Ia tersenyum padaku.

“Ayo kita pulang.” Ajaknya.

Aku pun mengangguk mengiyakan. Ia menggandeng tanganku kembali ke gedung apartemen tempatku tinggal. Saat kami sampai didepan pintu apartemen, Jinki oppa memandangku. Ia tersenyum manis padaku. Aku membalas tersenyum padanya. Ia pun mengecup keningku dan bergegas pergi meninggalkanku. Tak lupa mengucapkan hwaiting padaku.

*************************************************

Sudah 3 bulan lamanya aku menjalin hubungan dengan Jinki oppa. Tak terasa juga Jinki oppa hanya tinggal 2 minggu lagi memijakkan kakinya di Youngdae high school. Entah kenapa aku masih sungkan berbicara padanya walau aku tahu ia namjachingu-ku. Apa aku ini aneh? Selain itu aku juga merasa tak hanya dingin kepada Jinki oppa saja. Pada siapapun, bahkan pada guru, aku tak pernah bicara sepatah kata pun pada mereka. Apa aku terlalu berlebihan? Tapi mau bagaimana lagi. Aku memang tak sanggup.

“Ayolah… katakan apa saja padaku! Aku mau dengar. Kau dingin sekali. Seperti es batu.” Ujar Jonghyun oppa polos saat aku menunggu Jinki oppa yang sedang ke perpustakaan.

Aku hanya tersenyum simpul padanya. Tak tahu harus berkata apa.

“Hentikan Jonghyun. Tinggalkan ia sendiri.” Ujar Jinki oppa yang muncul dari dalam perpustakaan dan menghampiriku.

“Apa aku salah? Aku hanya ingin mendengar suaranya.” Ujar Jonghyun oppa lagi.

“Sudah! Sana pergi tinggalkan kami berdua.” Usir Jinki oppa lagi.

“Araso! Dasar lem dan prangko.” Ujar Jonghyun oppa seraya meninggalkan kami.

Jinki oppa pun duduk disampingku.

“Sudah lama?” tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Ia pun mengacak lembut rambutku.

“Ayo! Kuantar kau pulang.” Ajaknya seraya menggandeng tanganku.

Aku pun mengangguk lagi. Kami pun berjalan menuju gedung apartemenku. Saat sampai kedalam apartemenku, kupersilahkan ia masuk. Ia pun duduk di sofa. Aku pun bergegas ke kamar dan mengganti pakaianku. Lalu segera membuatkan teh untuk Jinki oppa.

“Gomawo.” Ujarnya saat kusodorkan teh buatanku padanya.

Aku pun mengangguk menjawabnya dan duduk disebelahnya. Ia pun merangkulku dengan tangan kirinya. Suasana pun hening. Aku tak tahu harus berkata apa.

“Jung songsaenim menyuruhku untuk mengambil studi ke oxford. Selama 2 bulan.” Ujarnya padaku.

Aku memandangnya. Kurasa itu layak dicoba.

“Aku tak yakin akan mengikutinya.” Ujarnya lagi.

Kenapa? Bukankah 1 : 1.000.000 bagi siswa untuk bisa studi kesana.

“Bagaimana denganmu nanti?” ujarnya ragu.

Aku tersenyum. Pemikiran konyol.

“Oppa, ini kesempatan emas. Layak dicoba. Kurasa oppa pantas mengikutinya. Aku pasti akan menjadi yeoja paling bahagia bila namjachingunya berhasil lolos audisi untuk studi itu. Lagipula hanya 2 bulan.” Ujarku.

Akhirnya aku bicara juga. Jinki oppa hanya memandangku. Ia tersenyum.

“Itu kalimat terpanjang yang keluar dari mulutmu.” Ujarnya.

Aku hanya tersenyum padanya.

“Baiklah, bila itu maumu. Aku akan berjuang.” Ujarnya bersemangat.

Aku tersenyum lagi padanya. Ya, itu memang layak dicoba.

*********************************************************

Kudengar Jinki oppa diterima studi di oxford. Rencananya ia berangkat pukul 2 siang ini. Aku heran. Mengapa aku baru tahu 2 jam yang lalu. Itupun dari Jonghyun oppa. Kupercepat langkahku menuju pekarangan rumahnya. Kuketuk pintu rumahnya dengan perlahan.

“Nuguseyo?” ujarnya seraya membuka pintu.

Kurasa ia kaget dengan kehadiranku. Ia pun mempersilahkan aku masuk. Ada yang janggal dengan ekspresinya. Ia pun beranjak ke kamarnya. Aku pun mengikutinya. Tampaknya ia sedang berkemas. Aku pun duduk di ujung tempat tidurnya.

“Kau tahu dari Jonghyun?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Hh.. dasar traitor.” Ujarnya lirih.

“Oppa tak ingin aku tahu?” tanyaku.

Ia pun diam. Ia menatapku cukup lama. Aku tak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi? Ia pun duduk disampingku lalu mengacak pelan rambutku.

“Aku lolos dalam audisi itu. Aku akan berangkat 3 jam lagi.” Ujarnya.

“Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?” tanyaku.

“Molla. Aku juga tak tahu kenapa? Aku tak mau pergi darimu.” Ujarnya.

“Whaeyo? Ini hanya selama 2 bulan saja.” Ujarku berusaha tenang.

“Mianhaeyo, Eun Jin-ah. Ini salahku. Ini tidak akan berlangsung sesingkat itu. Aku akan studi selama 2 semester. Mianhae, Eun Jin. Jeongmal mianhae.” Ujarnya padaku.

Aku sudah tak tahu harus berkata apa. Entah mengapa sakit yang kurasakan saat tragedi itu mulai terasa lagi. Haruskah aku kehilangan lagi? Kehilangan orang yang kusayang 2 kali berturut-turut. Aku pun menghela nafas panjang. Jinki oppa pun kembali mengemas barang nya. Aku hanya memperhatikan. Sejujurnya aku ingin menangis. Tapi untuk apa? Beberapa saat kemudian taxi pun tiba. Supir taxi pun mulai memasukan barang – barang Jinki oppa kedalam bagasi taxi. Aku mengikuti jinki oppa kearah taxi. Ia pun membalikkan badannya dan mengucapkan selamat tinggal padaku. Untuk kesekian kalinya aku hanya bisa tersenyum.

“Mianhae.” Ujarnya padaku seraya memelukku.

Aku tak membalas pelukannya. Aku sudah tak tahan kehilangan lagi. Ia pun segera mesasuki taxi. Seketika taxi pun berangkat. Kupandangi taxi itu hingga hilang dari pandanganku. Aku sudah muak. Aku sudah tidak peduli lagi. Sekarang, untuk kesekian kalinya aku sendiri. Tak ada lagi yang kumiliki sekarang. Tuhan… kenapa tidak sekalian saja kau cabut nyawaku?

**********************************************************

Sudah 1 tahun kepergian Jinki oppa. Aku masih sangat merindukannya. Walau aku tak banyak berbicara dengannya, aku tetap sangat sayang padanya. Wajahnya yang sabar menghadapi sifatku yang seperti ini tak pernah lepas diingatanku. Aku menyukai segala yang dimiliki Jinki oppa. Sebenarnya pun rasa sayangku padanya melebihi rasa cintaku pada Kyuhyun oppa. Aku pun mengusap wajahku dengan kedua tanganku. Kulirik kearah luar jendela. Sore yang cerah. Sebaiknya aku jalan-jalan. Aku pun memakai mantelku. Kulangkahkan kakiku menjauhi apartemenku. Sungguh hari yang indah. Biasanya aku dan Jinki oppa akan berjalan-jalan disini sambil mendengarkan lagu kesukaan kami. Didekat apartemenku ada sebuah kafe kecil. Kurasa tak ada salahnya menikmati sore yang indah dengan se-cup latte. Aku pun duduk santai didepan kursi bar dan kupesan latte hangat. Setelah kudapatkan latte-ku, segera kubayar dan bergegas pergi dari sana. Namun, saat aku berbalik pundakku menubruk pundak seseorang. Latte yang kupegang terciprat ke mantelku. Panasnya menembus dan mengenai kulitku. Aku pun meringis.

“Aigo… mianhae.” Ujarnya.

Aku pun mendongakkan kepalaku. Seorang namja menundukan badannya seraya mengeluarkan tissue dari sakunya.

“Ah.. gwaencanayo.” Ujarku seraya tersenyum padanya.

Ia pun memandangku. Aku tak suka caranya memandangku. Pandangannya begitu aneh. Aku pun segera meninggalkan namja itu. Namun kurasa namja itu mengikutiku. Aku pun berhenti untuk memastikan ia mengikutiku atau tidak. Ia pun ikut berhenti. Kupercepat jalanku, namun ia juga melakukan hal yang sama. Aku pun menoleh, ia langsung berpura-pura membaca papan reklame didepannya. Akhirnya aku pun berlari. Sialnya pria itu ikut berlari. Ia mengejarku sampai depan pintu apartemenku. Aku pun masuk dan segera kukunci pintu apartemenku. Kuatur nafasku yang tak teratur. Kuintip ia dan ternyata ia masih menunggu didepan pintu apartemenku. Tuhan… apa yang harus kulakukan? Jinki oppa, kau dimana?

*************************************************************

Akhirnya sampai juga aku di gedung apartemenku. Memang paling malas berbelanja di siang hari menjelang musim panas. Kupercepat langkahku menuju pintu apartemenku. Namun tunggu! Mengapa dari dalam ada suara orang? Apakah itu maling? Apa yang harus kulakukan? Kubuka pintuku dan masuk dengan perlahan. Seseorang sedang sujud meringkuk dibawah meja makan. Dengan cepat kuambil sapu disampingku dan memukul namja itu. Namja itu tampak kaget. Ia pun panik dan berusaha menghindari pukulanku. Ternyata ia adalah namja yang tempo hari kutemui di café sebelah. Kudorong ia keluar lalu kututup pintu rapat-rapat. Kusandarkan badanku pada pintu. Bagaimana ia bisa masuk? Apa mungkin dari jendela dapur? Aigo… Paboya Eun Jin. Seharusnya kau tutup jendela sebelum pergi. Tiba-tiba pintu pun diketuk. Aku kaget bukan main.

“Nuguseyo?” tanyaku.

“Ya! Anneyong haseo.” Sapanya dari balik pintu.

“Ya! Pergi!” teriakku.

“Ah.. mianhamnida. Anjingku ada didalam rumahmu. Ia melompat melalui jendela dapurmu. Aku mau mengambilnya.” Ujarnya.

Mwo? Anjing? Aku paling takut anjing. Dulu aku pernah dikejar anjing saat menunggu Kyuhyun oppa di persimpangan Hongdae area.

“Gojitmalhaji maseyo.” Teriakku.

Sesaat kemudian dari arah dapur keluar seekor anjing. Berwarna hitam dan besar. Aku kaget bukan main. Aku pun langsung membuka pintu. Namja itu masih ada. Aku pun langsung bersembunyi dibalik tubuhnya yang lebih besar. Ia pun langsung meraih anjingnya dan membelai kepalanya pelan.

“Gasahamnida.” Ujarnya.

Aku tak mau tahu. Aku pun langsung masuk ke apartemenku dan mengunci pintunya rapat-rapat. Aku tak suka orang itu.

********************************************************

“Ya! Anneyong haseo.” Sapa seseorang.

Aku yang sedang menunggu bis pun menoleh. Namja tempo hari. Mau apa ia?

“Ya. Anneyong.” Sapanya lagi.

Aku pun mengacuhkannya. Aku masih kesal padanya. Ia hanya tersenyum lalu berdiri disampingku. Saat bis datang, aku pun langsung memasuki bis. Ternyata bis sudah penuh. Tak ada tempat duduk. Apa boleh buat, berdiri saja. Namja tadi pun ikut naik. Ia berdiri disampingku. Wajahnya masih tersenyum. Siapa dia?

“Anneyong.” Sapanya lagi.

Keras kepala sekali dia.

“Kenapa tak membalas sapaanku? Kita kan tetangga. Aku tinggal dua rumah dari apartemenmu.” Ujarnya.

Mwo? Tetangga. Pantas anjingnya bisa masuk kedalam apartemenku. Kenapa aku harus memiliki tetangga seperti ia. Aku pun memandangnya. Wajahnya menunjukan tatapan penuh harap.

“Anneyong.” Jawabku pelan.

“Siapa namamu?” tanyanya lagi.

Mau tahu sekali.

“Ayolah. Kalau aku tak tahu namamu. Bagaimana aku memanggilmu nanti?’ tanyanya lagi.

Aku tetap mengacuhkannya. Ia pun mengulurkan tangannya padaku.

“Kibum imnida.” Ujarnya senang.

Entah mengapa aku mau menerima uluran tangannya.

“Eun Jin Imnida.” Jawabku pelan.

“Kau kelas dua ya?” tanyanya.

Bagaimana ia tahu?

“Aku sunbae-mu. Aku kelas tiga.” Ujarnya seraya membuka jaketnya dan menunjukan logo Youngdae high school.

Ternyata ia sunbaeku. Huh, sebal sekali aku harus satu sekolah juga dengannya. Perlahan-lahan penumpang pun berkurang. Ada 1 bangku kosong. Kibum pun mempersilahkan aku untuk duduk, namun aku menolaknya. Sebenarnya aku gengsi padanya. Beberapa saat kemudian bis pun kembali penuh. Sesak sekali. Aku pun terdorong kesana dan kemari. Tiba-tiba tanganku tertarik. Kibum. Apa yang ia lakukan? Ia pun memberikan kursinya padaku. Lalu ia berdiri didepanku. Melindungiku dari desakan orang-orang. Ya tuhan? Ia melindungiku? Mengapa ia mau melakukan itu? Hampir 20 menit ia melindungiku. Setiap kulirik wajahnya. Ia hanya tersenyum padaku. Aku tak bisa membalas senyumnya. Ada rasa bersalah padanya. Saat tiba, aku pun bergegas turun. Sulit sekali. Tapi tunggu! Seseorang menggenggam tanganku. Kibum? Ia pun menarikku keluar.

“Akhirnya kita bisa keluar.” Ujarnya.

“Gomawo.” Ujarku pelan dan berusaha meninggalkannya.

Namun, untuk kesekian kalinya, ia hanya tersenyum padaku. Senyum yang hangat. Senyum yang sudah lamanya tak kulihat. Aku pun berjalan menuju sekolah. Tentu saja dengan ia yang berjalan disampingku.

************************************************************

Sudah 2 bulan sejak kejadian itu. Kibum oppa terus mengikutiku. Saat di perpustakaan, taman, bahkan saat di kantin pun begitu. Awalnya aku merasa terganggu, tapi entah mengapa sekarang aku bisa menerimanya. Kurasa ia orang yang lucu. Apalagi, aku tak memiliki teman. Banyak orang yang segan terhadapku. Alasannya seperti biasa. Mereka pikir aku angkuh pada siapa saja, bahkan ke guru. Menyedihkan sekali. Untung ada Kibum oppa yang selalu menemaniku. Walau sulit mengakuinya, namun aku harus mengakui bahwa aku senang berada disampingnya. Ia selalu bisa membuatku tertawa. Ia juga yang selalu menghiburku bila aku dijahili yeoja disekolahku karena sifatku yang dibilang kurang menyenangkan. Bahkan sangat. Lagipula, entah mengapa, bersamanya aku bisa lepas bicara. Hari ini, aku menunggu tukang sofa. Ia akan mengambil sofaku dan menggantinya dengan yang baru. Kurasa sofa ini sudah seharusnya kubuang.

“Anneyong haseo.” Ujar seseorang dari balik pintu.

“Ne.” jawabku seraya membuka pintuku.

Sudah datang.

“Anneyong. Saya datang untuk mengambil sofa dan mengantarkan sofa.” Jawabnya.

“Ah.., ne. silahkan.” Jawabku.

Aku pun memperhatikan mereka bekerja. Sesungguhnya aku sayang pada sofa itu. Namun terlalu banyak kenangan manis disofa itu. Membuatku merasa sakit.

“Ada apa ini?” Tanya Kibum oppa yang baru muncul.

“Oppa, anneyong.” Sapaku.

“Kau ganti sofa?” tanyanya.

“Ne.” jawabku singkat.

“Whaeyo? Padahal aku suka sofa itu.” Jawabnya manja.

“Aigo, oppa. Terlalu banyak kenangan di sofa itu.” Jawabku.

“Araso. Kalau begitu mari buat kenangan manis baru disofa baru ini.” Jawabnya lagi dengan manja.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ia pun terduduk disofa baru itu. Begitu pun denganku.

“Ja, ayo makan es krim!” ajaknya.

“Mwo?”.

“Ne. Ayo!” ujarnya seraya menarik tanganku keluar dari apartemenku.

Ia menggenggam tanganku keluar apartemen. Jantungku berdetak. Entah mengapa, aku merasa Jinki oppa kembali berada disampingku. Namun sosok yang kulihat hanyalah Kibum oppa. Ia pun mempererat genggamannya. Rasa hangat yang dulu hilang pun kembali muncul. Perasaan yang sangat kurindukan pun kembali. Apa ini artinya aku menyukainya? Tuhan… apakah benar aku menyukainya?

***********************************************************

Sebulan sejak saat itu, ia menyatakan perasaannya padaku. Tak percaya rasanya bahwa aku telah resmi menjadi Yeojachingunya. Banyak yang tak percaya bahwa Kibum menyukaiku. Tapi itulah kenyataanya. Mungkin inilah yang namanya kekuatan cinta.

Jeongmal saranghae. Neomu saranghamnida.” Ujarnya.

Ucapannya yang lembut masih tergiang hingga sekarang. Ternyata aku benar menyukainya. Walau aku belum bisa melupakan Jinki oppa, namun bayangnya perlahan-lahan hilang. Sekarang kami akan merayakan sebulan jadian kami. Ia berjanji akan menjemputku distasiun bawah tanah. Sepulang ia bekerja sambilan. Aku menunggunya. 5 menit. 10. menit. 30 menit. 1 jam. Kemana oppa? Lama sekali. Berapa lama lagi aku harus menunggu?

“Chagiya..!!” panggil seseorang.

Aku menoleh. Ia sudah datang. Wajahnya tampak letih. Ia pasti berlari kemari.

“Sudah lama?” tanyanya menyesal.

“Aniyo oppa.” Ujarku.

Bohong.

“Jinca?” tanyanya memastikan.

“Ne, oppa.” Jawabku lagi.

“Begitu ya. Maafkan aku ya. Membuatmu menunggu selama 1 jam.” Ujarnya.

Kurasa ia tahu aku menunggu lama.

“Ne, oppa. Cheonmaneyo.” Jawabku lagi.

Ia pun tersenyum padaku lalu menggenggam tanganku.

“Baiklah. Ayo kita makan jeongol.” Ajaknya.

“Jeongmal?” tanyaku.

“Ne. Whaeyo?” tanyanya.

“Maeun eumsig-eul joahajianhayeo.” Ujarku lirih.

“Jinca? Mianhae. Ayo kita makan shinseollo saja.” Ralatnya.

Aku pun mengangguk mengiyakan. Apa boleh buat? Aku tak suka makanan pedas. Aku pun berjalan dibelakangnya dengan tangan kanan yang tak lepas dari genggamannya. Kami pun memasuki salah satu restoran. Ia pun memesan 2 porsi shinseollo. Saat makanan tiba, kami pun mulai memakan makanan masing-masing. Kami bercerita panjang lebar. Sudah lama aku tidak bicara sebanyak ini. Hanya pada kyuhyun oppa aku mampu bicara sebanyak ini. Berada disamping Kibum oppa membuatku tak khawatir akan apapun. Aura yang terpancar darinya benar-benar membuatku nyaman. Tak pernah aku merasa bahagia seperti ini semenjak Kyuhyun oppa meninggal. Aku menjadi teringat dengan Jinki oppa. Bagaimana dengan kabarnya ya? Menurutku, Jinki oppa dan Kibum oppa begitu sama. Bisa membuatku nyaman dekat mereka. Namun aura mereka begitu berbeda. Jinki oppa begitu lembut. Ia selalu sabar menghadapiku. Menghadapi sifatku yang dingin. Kibum oppa begitu ramah. Ia begitu percaya diri dan tak pantang menyerah. Walau aku begitu dingin padanya, ia tak pernah jera mendekatiku. Benar saja sekarang aku menjadi Yeojachingunya. Tapi, Jinki oppa hanya masa lalu. Sekarang aku memiliki Kibum oppa. Yang akan selalu ada disampingku sampai kapanpun. Yang akan selalu membuatku bisa tertawa lepas.

“Ya! Nanti sebelum pulang, temani aku ke stasiun bawah tanah ya.” Ajaknya.

“Mwo? Kupikir kita pulang naik bis. Oppa mau kemana naik kereta? Ke tempat yang jauh?” tanyaku khawatir.

Takut ditinggal untuk ketiga kalinya.

“Aniyo. Aku mau menjemput seseorang.” Jawabnya.

“Yeoja?” tanyaku.

Cemburu. Sangat cemburu. Ia hanya tertawa dan mencubit pipiku setelah melihat tingkahku.

“Aigo… neomu kyopta! Tenang saja chagiya. Dia namja.” Ujarnya manja.

“Oh…” jawabku tenang.

“Ia itu sahabatku sejak SMP. Kami dekat sekali. Kemana pun selalu bersama. Kami juga senang berbagi dalam hal apa saja. Dan percayakah kau? Ia itu sunbae-ku. Aku juga masih tak percaya bisa dekat dengannya. Tapi sekarang kemanapun kau pergi, aku akan selalu bersamamu dan tak akan membagimu padanya walau ia menangis darah padaku.” Jawabnya manja.

Aku pun tertawa mendengarnya. Aigo… aegyo Kibum. Aku suka sekali melihat ekspresinya yang seperti itu. Menyenangkan. Waktu pun menunjukan pukul 7 malam. Kibum oppa mengisyaratkan kalau ini waktunya kita pergi. Aku pun mengangguk dan menunggunya di pintu masuk sementara ia membayar makanan yang kami pesan. Kami pun segera menuju stasiun bawah tanah. Kami menunggu cukup lama. Kuberikan headset sebelah kiriku padanya.

The loneliness of nights alone

The search for strength to carry on

My every hope has seemed to die

My eyes had no more tears to cry

Then like the sun shine from up above

You surrounded me with your endless love

And all the things I couldn’t see

Are now so clear to me

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be

My everything

Now all my hopes and all my dreams

Are suddenly reality

You’ve opened up my heart to feel

A kind of love that’s truly real

A guiding light that’ll never fade

There’s not a thing in life that I would ever trade

For the love you give it won’t let go

I hope you’ll always know

You’re the breath of life in me

The only one that sets me free

And you have made my soul complete for all time

For all time

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

down on bended knees

That you will always be

My everything, oh my everything

Beberapa saat kemudian, kereta yang ditunggu pun datang. Oppa pun pamit untuk menjemput temannya dan mengisyaratkanku untuk menunggu disini. Aku pun mengangguk. Kutunggu oppa ditempat. Kupakai terus headset-ku. Tak tahan dengan namja-namja yang menggodaku saat mereka melewatiku. Sudah 10 menit oppa tak kembali. Lama sekali. Beberpa saat kemudian kurasakan ada yang menyentuh bahuku. Ternyata Kibum oppa.

“Ya, kenalkan ini temanku.” Serunya padaku tampak senang.

Aku pun berbalik untuk memberinya sambutan. Tapi…. Aku tak yakin dengan apa yang kulihat. Semua terasa familiar. Perlahan-lahan kenangan itu muncul. Kenangan tentang Jinki oppa. Ya, Jinki oppa. Sekarang ia tengah berdiri didepanku. Wajahnya tampak terkejut sepertiku. Kami hanya saling pandang. Tak ada yang bisa kami katakan. Sampai Kibum oppa membuyarkan lamunan kami.

“Ya? Kalian saling kenal?” tanyanya.

“Aniyo.” Jawabku pelan.

“Nah, kalau begitu chagiya, kenalkan ini Jinki, sahabatku. Dan Jinki, kenalkan ia yeojaku, Eun jin.” Jelasnya.

Aku dan Jinki hanya tersenyum kecut. Kami pun segera meninggalkan stasiun bawah tanah. Agar waktu terasa lama, Kibum oppa memutuskan agar kami berjalan kaki saja. Tentu saja setelah meminta ijin padaku. Sebenarnya aku ingin cepat pulang. Aku tak mau melihat wajah Jinki oppa terlalu lama. Saat kami melewati persimpangan Hongdae. Ingatan itu kembali. Saat Kyuhyun oppa meninggal. Saat Jinki oppa mengenggam tanganku untuk pertama kalinya. Semua kembali. Aku pun menangis mengingatnya. Dan ternyata reaksiku mengalihkan perhatian Kibum oppa dari Jinki oppa.

“Eun Jin-ah? Mworago?” tanyanya.

“Aniyo oppa. Aku mengantuk.” Jawabku asal.

Kibum oppa hanya tersenyum padaku. Ia tahu aku berbohong. Ia pun mengusap kepalaku.

“Baiklah. Ayo kita pulang.” Ajaknya seraya menggandengku.

Beberapa saat kemudian. Kami pun sampai. Mereka pun mengantarku hingga depan pintu gedung apartemenku. Kuucapkan terimakasih. Kibum oppa pun mengecup keningku. Kulirik Jinki oppa yang tersenyum miris.

“Selamat tidur.” Ujar Kibum oppa.

Aku pun tersenyum dan melambaikan tanganku pada mereka.

******************************************************************

Hampir seminggu Jinki oppa ada disini. 5 hari lagi ia akan kembali ke oxford untuk menyelesaikan studinya. Aku ingin ia cepat pergi. Aku takut nanti aku akan kembali lagi suka padanya. Sebenarnya pun rasa itu sudah mulai muncul. Selama ia disini, Kibum oppa tak hentinya mengajak Jinki oppa bermain. Termasuk aku. Salah satunya Kibum oppa mengajak kami cheongdam-dong untuk berbelanja. Saat kami makan Es krim, Jinki oppa memesankan es krim strawberry padaku. Ia bilang pada Kibum oppa kalau itu hanya kebetulan. Ternyata Jinki oppa masih ingat kesukaanku. Lalu saat kami pergi ke toko kaset. Jinki oppa memilihkan 1 CD dan menyuruhku untuk mendengarnya. Ternyata lagu BeeGees. Kesukaan kami berdua. Terakhir, Kibum oppa mengajak kami ke Namsan Seoul Tower. Kami jalan-jalan kedalam exhibition hall dan observatory pada malam hari. Sekali lagi, Jinki oppa memakaikan jaketnya padaku. Dengan alasan kepada Kibum oppa, bahwa Kibum oppa sedang dalam kondisi kurang baik dan akan sakit bila meminjamkanku jaket. Hal-hal itu sudah mulai mengembalikan rasa sukaku perlahan-lahan. Namun, aku sudah yakin dengan pilihanku. Aku yakin Kibum oppa adalah orang yang terbaik bagiku. Telefon pun berdering. Membuyarkan lamunanku. Segera kuangkat telefon itu.

“Yeoboseyo?” ujarku.

“Ya? Kau belum tidur?” Tanya orang diseberang.

Ternyata Kibum oppa.

“Ne, oppa. Mworago?” tanyaku.

“Jinki pulang dipercepat. Ia akan pulang besok sebab ia akan pulang dulu ke rumah bibinya. Jadi aku akan mengadakan pesta barbeque di rumahku.” Jelasnya.

Secepat itukah?

“Tapi ini sudah malam oppa.” Ujarku.

Sengaja aku tak mau bertemu dengan Jinki oppa.

“Ayolah. Kita kan sedang liburan musim panas.” Rajuknya.

“Baiklah oppa. Aku akan segera kesana.” Jawabku.

Segera kuambil mantelku. Kupercepat langkahku. Saat aku keluar dari gedung apartemenku. Jinki oppa melintas dengan membawa sekantung belanjaan. Ia kaget melihat kehadiranku. Begitupun aku. Akhirnya kami jalan bersama menuju rumah Kibum oppa. Tak ada yang berbicara. Dariku ataupun dari Jinki oppa. Tiba-tiba ia terkekeh. Aku pun menoleh. Ia tersenyum padaku.

“Ah.. aigo! Kau cepat besar.” Ujarnya.

Obrolan tak penting. Aku pun tetap diam dan kembali menunduk.

“Tak kusangka aku kembali ke seoul dan mendapatimu telah berpacaran dengan sahabatku sendiri.” Ujarnya.

Apa maksud kata-katanya?

“Ah, mianhae. Aku tak bermaksud bicara begitu. Hanya saja kau dengannya adalah pasangan serasi. Tak pernah aku melihatmu selepas itu dengan orang lain.” Ujarnya dengan sunggingan senyum kecil diwajahnya.

Ya. Ia benar. Kurasa memang Kibum oppa yang terbaik untukku.

“Ah… andai saja tawa itu untukku.” Ujarnya mencoba santai.

“Kau akan pergi besok?” tanyaku.

“Ah, Ne. Seminggu memang terasa sangat cepat bila dihabiskan dengan teman-teman.” Jawabnya.

“Ini kedua kalinya oppa tak memberitahuku dengan perubahan rencana itu.” Ujarku lagi.

“Kau masih ingat ya?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk. Bagaimana mungkin aku melupakan kejadian itu? Ia pun mengusap pelan kepalaku.

“Mianhae. Mungkin aku bukan yang terbaik untukmu.” Jawabnya.

“Bagaimana oppa tahu? Oppa hanya bisa meninggalkanku. Oppa tak pernah tahu isi hatiku.” Ujarku.

“Tapi hanya Kibum yang mengerti perasaanmu. Mianhae atas semuanya. Mianhae atas meninggalkanmu begitu saja. Saat itu aku tak mau kau tahu karena aku tahu, aku hanya bisa membuatmu menunggu saja. Hanya mampu membuatmu bingung bila ada disampingku. Kau masih memiliki kesempatan. Diluar sana masih banyak namja yang baik bagimu, termasuk Kibum. Aku mencintaimu Eun jin-ah. Sangat. Namun, kurasa cintaku padamu hanyalah cinta yang kosong. Mengingat aku tak akan bisa terus disampingmu. Mengingat aku yang mencintaimu tanpa bisa memberimu kenyamanan disampingku dan membuatmu tersenyum seperti yang Kibum lakukan padamu. Cinta itu rumit, Eun Jin-ah. Cinta itu sulit. Hanya kau yang bisa memahami isi hatimu. Bukan aku.” ujarnya panjang lebar.

Ia benar. Ia memang selalu benar. Ia pun membukakan pagar rumah kibum oppa untukku. Aku pun masuk dengan diam. Didalam sudah ada Kibum oppa dengan senyum hangatnya padaku.

************************************************************

Hari ini, Jinki oppa akan pulang. Aku dan Kibum oppa pun mengantarnya hingga stasiun. Aku tak banyak bicara hari itu. Untuk apa? Beberapa saat kemudian kereta pun tiba. Jinki oppa memeluk hangat Kibum oppa.

“Kembalilah kapan pun kau mau.” Ujar Kibum oppa hangat.

“Ne, aku akan kembali kesini bila aku sempat.” Jawab Jinki oppa.

Mereka pun melepaskan pelukannya. Jinki oppa pun menatapku. Ia memelukku namun aku tak membalas pelukannya.

“Jaga agar ia tak pergi darimu.” Bisiknya.

Ia pun melepas pelukannya. Ia tersenyum padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum kecilku. Jinki oppa pun berlalu masuk kedalam kereta. Beberapa saat kemudian pintu kereta tertutup. Kereta pun berangkat. Kami melambaikan tangan kami sebagai tanda perpisahan. Kugenggam tangan Kibum oppa dengan erat.

“Mworago?” Tanya Kibum oppa.

“Aniyo.” Jawabku.

Kudekatkan bibirku pada telinganya. Kubisikan sesuatu padanya.

“Saranghae chagiya.” Bisikku.

Ia pun menatapku dan tersenyum padaku.

“Nado saranghae Eun jin-ah..” balasnya lembut.

The End

By: Retno Wulandhari

2 thoughts on “You’re Everything {Oneshot}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s