(Twoshot) Love Waltz- It’s chapter 2

(Kim Jonghyun POV)

Waktu sudah menunjukan pukul 5 lebih 15. Sekarang Yoojin pasti ada di taman dekat apartemen. Aigo..!! aku ingin sekali melihatnya, memotretnya, tapi aku tak bisa. Ia pasti membenciku karena hal bodoh yang kulakukan tadi di cassette center. Aya..!! aku tak mau. Aku pun tersandar disofa. Kutatap foto Yoojin yang kucetak sebelum pulang ke Dorm tadi. Manis sekali. Apa aku masih bisa melihatnya lagi? Kuambil Yoojin’s Picsbook Story yang kubuat khusus untuknya. Kutempelkan foto itu disalah satu halamannya. Aya… aku ingin memilikinya! Kuraih bantal dan kututup wajahku dengan bantal tersebut. Aku berteriak dan memaki diriku sendiri. Aku kesal sekali. Aku tahu, Taemin, key, dan Onew hyung yang baru pulang pasti bingung melihatku. Mereka pasti bertanya pada Minho dan Minho menjawab tak tahu, karena tadi aku bisa mendengar dengan jelas, ia berkata:

“Mollaimnida. Tiba-tiba ia sudah pulang dengan tampang kusut dan wajah ditekuk. Mulutnya juga tak hentinya mengoceh sesuatu yang tak kuketahui.” Ujarnya polos seraya menirukan ekspresiku.

Ah… sebodoh lah! Yang kupikirkan hanya Yoojin. Tapi aku sudah tahu ia membenciku. Ia pasti tak mau menemuiku. Aroma masakan key pun mulai tercium. Entah mengapa aku tak bisa meresponnya. Padahal biasanya, aku selalu membabi buta menyerbu ruang makan. Ah… ini semua gara-gara Yoojin! Ia sudah membuatku gila!

“Hyung, kau baik-baik saja?” Tanya maknae kesayanganku.

“Mwo? Ah, gwaencanayo. Whaeyo?” Ujarku serya menyembunyikan Yoojin’s Picsbook story dibelakangku.

“Gojitmal. Wajah hyung tampak kusut.” Ujarnya manja padaku.

“Nan Gwaencana Taemin-ah. Mworago?” ujarku.

“Aniyo. Hanya saja hyung tak tampak seperti biasanya.” Ujarnya.

“Jinca? Hahaha. I’m alright.” Ujarku mencoba tertawa.

“Anak konyol. Kau kenapa?” Tanya onew hyung menghampiri kami.

“Aniyo hyung.” jawabku.

“Haha, gojitmalhaji maseyo. Marebwa!” ujarnya seraya duduk disampingku.

“Aniyo.” Jawabku singkat.

“Hyung, siapa gadis ini? Banyak sekali fotonya.” Ujar Minho seraya menghampiri kami.

Mwo? Kameraku. Bagaimana bisa ada padanya. Minho pun memperlihatkan foto-foto itu pada Onew hyung. Aku berusaha meraihnya, namun Taemin menahan kedua tanganku. Dasar Maknae bandel.

“Yoojin? Ini bukankah Yoojin?” Tanya onew hyung.

Aku mengangguk lemas. Sudah tak ada celah untuk berkilah.

“Oemona!! Banyak sekali fotonya. Niat sekali hyung mengumpulkan fotonya sebanyak ini. Hyung, mengikutinya kemana saja?” Tanya Minho.

“Yah, tadi ke daerah Cheongdam-dong.” Ujarku.

“Aigo… gadis yang cantik. Aku suka fotonya yang ini hyung. Ia terlihat sempurna.” ujarnya seraya menunjukkan foto saat Yoojin di Flower market.

Gadis itu memang sangat cantik disana.

“Apa yang telah terjadi?” Tanya onew hyung padaku lagi.

“Molla.” Jawabku singkat.

“Apa terjadi sesuatu hal yang buruk?” tanyanya.

Aku hanya menelan ludah. Bingung harus bicara apa.

“Aigo… pantas saja. Biasanya kan jam segini kamu sudah stand by dengan kameramu didepan jendela. Ternyata memang ada masalah.” Ujarnya lagi.

“Entahlah hyung. Aku bingung. Ia sudah mengataiku penguntit. Ia memergokiku yang tengah menjadi stalkernya. Apa aku salah tergila-gila padanya? Walau aku artis, aku tetap manusia biasa. Manusia biasa yang bisa gugup juga saat menghadapi cinta. Aku gila dibuatnya. Aku ingin bisa mencintainya dengan sederhana. Namun, kurasa ia salah mengartikan perasaanku. Aku… merasa konyol.” Ujarku lemas.

Mereka pun terdiam. Onew hyung pun mengelus pundakku.

“Kau tak salah sama sekali. Semua hal itu wajar. Aku pun pernah mengalaminya. Dan kurasa itu sah-sah saja. Selagi kau bisa mengatur emosimu, itu semua sudah menjadi konsekuensinya.” Jawabnya bijak.

“Apa dulu kau stalker, hyung?” tanyaku.

“Aniyo. Aku kan tidak segila kau.” Ujarnya yang membuatku lemas.

“Tapi sekarang tak ada artinya lagi. Ia sudah membenciku. Jika kalian melihat matanya saat ia mengatakan hal itu, kalian pasti bisa melihat pikirannya yang tersirat dimatanya. Itu semua menggangguku.” Ujarku kesal.

“Apa ia bilang secara terang terangan bahwa ia membenci hyung?” Tanya Minho.

“Aniyo. Ia memang tak bilang begitu.” Ujarku.

“Lalu? Apa yang hyung takutkan?” tanyaku.

Aku pun menelan ludah. Kuhela nafas dalam-dalam. Aku bisu dibuatnya. Ia memang tak mengatakannya secara terang-terangan. Namun matanya mewakili semuanya dengan jelas. Habislah aku!

“Coba kulihat fotonya.” Ujar Key yang muncul dari dapur.

Tampaknya ia mendengar semua pembicaraan kami. Aku pun menyerahkan kamera digitalku. Ia pun memperhatikannya.

“She’s pretty. Ajak ia kemari, ajak ia makan malam disini.” Ujar key yang membuatku melotot.

“Mwo? Kau gila.” Ujarku seraya menatapnya.

“Aniyo. Aku hanya ingin menilainya saja.” Ujar key.

“Tapi akan ada masalah bila Manager hyung tahu ada ‘tamu’ di dorm kita.” Ujar Taemin seakan tahu kondisiku yang didesak.

“Manager hyung tak akan tahu. Karena kita tak akan memberitahukannya. Cukup menjadi rahasia kecil keluarga kita.” Ujar key mantap.

“Tapi, bagaimana aku mengajaknya kemari? Ia kan sedang marah padaku.” Ujarku putus asa.

“Langsung seret saja kemari. Jelaskan saat ia sudah disini.” Celetuk Minho.

Benar juga. Tanpa pikir panjang, aku pun segera mengambil mantelku.Segera aku keluar dari pintu dorm. Samar-samar kudengar Minho berteriak memanggilku. Disusul dengan yang lainnya. Tapi aku tak mengubrisnya. Aku terus berlari keluar gedung apartemen. Sekarang dipikiranku hanya ada Yoojin. Yoojin seorang. Kurasa ini satu-satunya cara membuat ia bisa menjadi milikku.

******************************************************

“Hyung serius langsung menariknya kemari?” Tanya Minho seraya membisikanku.

Aku pun mengangguk mantap. Bukankah itu idenya?

“Aigo. Paboya Kim Jonghyun. Masa kau benar-benar melakukannya hyung?” ujarnya.

“Whaeyo? Bukankah ini saranmu?” ujarku polos.

“Kau tak bisa membedakan mana yang namanya celetukan konyol dengan perkataan serius?” tanyanya kesal.

“Jika itu hanya celetukan konyol, kenapa kau katakan? Kau tak lihat kondisinya tadi? Aku sedang serius.” Jawabku tak kalah kesal.

“Tapi kau bisa mendiskusikannya dulu kan hyung? Hyung selalu saja ceroboh.” Ujarnya.

“Aya, mianhaeyo. Yang penting ia sekarang ada disini kan?” ujarku.

“Cuek sekali. Kau tidak lihat suasananya canggung begini?” tanyanya.

Aku pun memandang sekeliling. Benar juga. Kupandang Yoojin yang duduk manis didepanku. Ia memang tampak gugup. Aigo, paboya Kim Jonghyun. Apa yang telah kau lakukan?

“Ung… silahkan dicicipi. Semuanya masakanku loh.” Ujar key mencairkan suasana.

“Gomawo.” Ujarnya seraya mengambil sendok.

Ia pun mulai mencicipi masakan Key. Aku pun gugup dan menelan ludah.

“Hmmm. It’s good. I like it.” Ujarnya.

“Jeongmal? Syukurlah bila kau suka.” Ujar key antusias.

“Cream dan susunya tercampur dengan mentega. Membuat rasanya gurih. Aku harus punya resepnya.” Ujar Yoojin.

“Aku pasti memberikannya padamu. Siapa tahu, suatu saat kita akan bisa memasak bersama.” Ujar key lagi.

“Kuharap bisa. Kalau begitu aku akan memberikanmu resep andalanku juga.” Ujar Yoojin girang.

“Jeongmal? Aigo, gasahamnida.” Ujar key tak kalah girang.

“Ne.” ujarnya ramah.

“Kamera itu. Apa itu milikmu?” Tanya Onew hyung seraya menatap kamera Yoojin.

“Ah, ne. Ini kamera kesayanganku.” Ujarnya.

“Dimana kau dapatkan roll film? Bukankah benda itu sudah jarang di Seoul?” Tanya Onew hyung lagi.

“Pamanku memiliki camera’s studio. Ia menjualnya. Aku selalu diberi harga khusus disana.” Jelasnya.

“Oh, kau harus memberiku alamatnya. Sudah lama aku mencarinya.” Ujar Onew hyung.

“Kau memakai analog? Jarang sekali dijaman sekarang.” Ujarnya antusias.

“Hahaha. Aku ini jadul. Aku kadang susah paham dengan perkembangan teknologi yang pesat seperti sekarang. Jiwa fotografiku hanya pada analog. Tapi bukan berarti aku tak bisa memakai digital ya!” ujar Onew hyung.

“Bisa kulihat itu.” Ujarnya.

“Mungkin suatu saat kita bisa jalan bersama dan sharing mengenai analog kita.” Ujar Onew hyung yang kusambut dengan tatapan sinis.

“Hm… kuharap bisa. Boleh aku melihat analogmu?” tanyanya.

“Boleh. Nanti akan kuperlihatkan padamu. Kau percaya kan aku punya analog?” Tanya Onew hyung polos.

“Hahaha. Aku percaya itu. Kau menyenangkan.” Ujarnya senang.

Ia tertawa! Tertawa! Manis sekali. Ya ampun! Bisa-bisa aku mengompol dibuatnya. Aku senang ia bisa akrab dengan keluargaku yang lain. Dengan begini, amarahnya padaku sedikit teredam.

“Hm… bagaimana kalau kita main game? Jonghyun hyung dan Yoojin disini saja. Selesaikan makan malam kalian.” Ujar Minho seraya mengedipkan matanya padaku.

“Kurasa itu ide yang sempurna.” Ujar Taemin seraya menyeret Onew hyung yang mengerutkan dahinya.

“Aku kan sedang mengobrol dengan Yoojin.” Ujarnya polos.

Kurasa hyungku ini menyukai Yoojin.

“Nanti saja Hyung. masih banyak waktu. Biarkan mereka berdua.” Ujar Taemin membisikannya.

Dengan Cemberut, Onew hyung pun menurut. Sekarang aku berdua dengan yoojin didapur. Setelah ini aku harus berterima kasih sekali pada Minho. Ia memang maknae terbaik. Seketika suasana pun hening. Kulirik Yoojin yang menundukan kepalanya.

“Mianhae. Tadi aku langsung menyeretku langsung kemari.” Ujarku gugup.

“Tenanglah. Tak apa-apa.” Jawabnya.

“Hm… maafkan aku juga atas kejadian tadi sore.” Ujarku lagi.

“Tak apa. Aku juga salah sudah membentakmu didepan umum.” Balasnya.

“Aniyo. Aku yang salah. Mianhamnida.” Ujarku.

“Ne, Cheonmaneyo.” Balasnya lagi.

“Kupikir tadi kau tak akan ke taman.” Ujarku.

“Mulanya kupikir begitu. Namun aku tak mau kehilangan satu hari menatap gedung apartemen ini. Aku tak bisa.” Ujarnya lembut.

“Masih memikirkan Yong hwa?” tanyaku cemburu.

Ups… kelepasan. Aku pun memandang panik Yoojin. Ia pun tersenyum.

“Entahlah aku tak bisa menjelaskannya.” Ujarnya singkat.

“Kau bisa bicara padaku.” Ujarku.

Ia pun tersenyum padaku. Aku tak tahu apa maksudnya. Aku hanya diam saja menunggunya melanjutkan bicara.

“Aku bahkan tak tahu harus memanggilmu apa?” ujarnya.

“Kau bisa memanggilku Jonghyun.” Ujarku.

“Jonghyunnie. Baiklah.” Ulangnya.

“Sekarang kau bisa bicara padaku kan?” sambungku.

“Mengapa aku harus?” tanyanya balik.

“Karena aku menyukaimu. Ingin bicara apa saja denganmu.” Ujarku.

Wah, nekat sekali aku. Tapi setidaknya bebanku berkurang.

“Seserius itukah kau padaku?” tanyanya.

“Aku serius. Aku tak pernah main-main dengan kata-kataku. Yah… kecuali bila disaat keadaan terdesak.” Ujarku.

“Apa ini keadaan terdesak bagimu?” tanyanya.

“Uhm….” Ujarku bingung menjawab apa.

“Entahlah Jonghyunie. Aku juga masih bingung dengan perasaanku pada Yong hwa. Awal mulanya, aku memotret gedung ini karena ini tempat tinggal Yong hwa dan aku masih menyukainya. Tapi dengan alasan yang tak kuketahui, kau muncul. Saat kau menolongku waktu itu, jujur aku tak bisa melupakannya. Semenjak itu kau selalu muncul merusak setiap karyaku. Awalnya aku terganggu, namun lama-lama aku merasa nyaman. Bukankah itu artinya kau selalu memperhatikanku? Dulu tak pernah ada yang memperhatikanku seperti itu selain Yong hwa. Namun, sekarang entah mengapa aku merasa nyaman kau melakukan hal itu padaku. Kurasa kau lucu. Maka dari itu, aku menyesal telah membentakmu didepan umum. Mungkin saat itu aku kesal karena kau tak berani menghampiriku. Maafkan aku ya!” ujarnya dengan sunggingan senyum yang kusuka diwajahnya.

“Apa ini artinya kau memikirkanku juga?” tanyaku.

Blush. Seketika wajahnya memerah. Lucu sekali.

“Seperti apa kau menyukai Yong hwa?” tanyaku lagi.

Penasaran dengan hubungan mereka dulu seperti apa.

“Entahlah. Aku menyukainya dengan santai. Begitupun dia. Kurasa karena kami yakin kalau kami tak akan pernah terpisah. Walau kutahu itu salah. Ia pria yang baik. Sempurna sekali. Ia selalu membantuku. Kau tahu? Aku ini yatim piatu. Aku tak pernah melihat orang tuaku. Saat umurku menginjak 15 tahun, aku keluar dari panti asuhan dan bekerja sendiri. Dan hanya Yong hwa yang membantuku. Aku tak mengenal banyak orang. Aku menyadari itu karena latar belakangku yang tak jelas. Maka dari itu aku engan kehilangan Yong hwa. Tapi, aku merasa Yong hwa tak bisa terus menerus bersamaku. Aku rela melepasnya walau kurasa itu sulit. Aku tahu, ia memiliki banyak alasan mengapa ia mau dengan Miseul. Miseul gadis yang baik. Ia bisa membahagiakan Yong hwa. Mereka pasti bisa menjadi pasangan serasi. Dan Yong hwa tetap dihatiku selamanya.” Ujarnya.

“Selamanya?” tanyaku cemburu.

“Iya. Tentu saja.”  Paparnya tegas.

Ugh… cemburu sekali aku.

“Aku juga memiliki Nonna. Jessica noona, kau tahu? Ia baik dan kami bersahabat. Saat di studio dan sebelum tampil, kami selalu mengobrol. Banyak sekali. Ia juga cantik. Pokoknya idaman semua pria. Banyak gadis yang ingin menjadi sepertinya.” Ujarku.

Entah mengapa aku menceritakan mengenai Jessica noona. Mungkin karena aku sedang dibakar api cemburu.

“Hahaha. Sedekat itukah kalian?” tanyanya.

“Iya.” Jawabku mencoba tegas.

“Tapi Jonghyunie hanya menyukaiku kan?” tanyanya.

Uh.. mengapa kau lakukan ini padaku Yoojin? Kau mau membuatku pingsan? Tentu saja aku sangat menyukaimu. Mencintaimu malah. Saat ini kau telah membuatku malu. Apa ini artinya kau menyukaiku juga? Kuharap iya.

“Tentu saja.” Jawabku tersipu.

“Kalau begitu aku tak akan khawatir. Karena Jonghyunie hanya menyukaiku.” Ujarnya dengan senyum khasnya itu.

“Ya. Kau benar.” ujarku senang.

Ia pun tersenyum.

“Hm… aku boleh nambah tidak?” tanyanya seraya memandang piringnya yang sudah kosong.

“Lezat ya? Tentu saja kau boleh menambah. Sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluargaku.” Ujarku.

“Tapi bagaimana dengan yang lain?” tanyanya.

“Kau tak perlu memikirkan mereka. Mereka tak akan keberatan. Lagipula Key pasti senang.” Ujarku.

“Jeongmal? Gasahamnida.” Ujarnya senang.

“Yoojin, bisa kau tunggu sebentar?” tanyaku.

Ia pun tersenyum dan mengangguk. Aku pun bergegas menuju kamarku dan mengambil mawar yang kubeli sore tadi, lalu bergegas kearah ruang keluarga. Taemin, Minho, key, dan Onew hyung pun menatapku bingung.

“Whaeyo? Need some help?” Tanya Key.

“Aniyo.” Jawabku singkat.

Aku pun segera mendorong Taemin dan Onew hyung yang sedang duduk disofa ke samping. Kucari Yoojing’s Picsbook story yang kubuat khusus untuk Yoojin.

“Mencari apa sih kamu?” Tanya Onew hyung yang kesal karena kuusik.

“Buku.” Jawabku.

“Yoojin’s Picsbook Story?” Tanya minho tak lepas dari televisi.

“Tak usah disebut.” Ujarku malu dan terus mencari.

“Diatas TV.” Ujar Key.

Hah? Bagaimana bisa disitu? Apa mereka memindahkannya? Apa mereka membacanya juga? Tak sopan.

“Apa kalian membacanya?” tanyaku.

Mereka semua terdiam dan menatapku. Kulihat Taemin berusaha menahan tawa. Mereka pasti membacanya.

“Sorry.” Ujar Taemin polos.

“Huh… Traitors!” ujarku seraya beranjak ke ruang makan.

Aku pun segera menghampiri Yoojin dan duduk didepannya. Kuletakkan Yoojin’s Picsbook Story yang kubuat sendiri dan bunga mawar itu diatas meja. Ia menatapku heran.

“Untukmu.” Ujarku seraya tersenyum padanya.

Ia pun memandangku dan meletakkan sendoknya. Ia pun meraih buku itu dan membaca judulnya. Aku pun tersipu malu. Ia pun kembali memandangku.

“Untukku?” tanyanya.

“Ne.” jawabku meyakinkan.

Ia pun membuka buku itu. Ia pun melihat halaman demi halaman. Kulihat sunggingan senyum diwajahnya. Apa itu artinya ia menyukainya? kuharap iya. Melihat senyumnya membuatku ikut tersenyum dan tertawa.

“Kau suka?” tanyaku senang.

“Entahlah. Aku tak bisa mengutarakannya. Kau membuatnya sendiri?” tanyanya.

“Tentu saja. Hanya untukmu.” Ujarku.

“Baik sekali. Gasahamnida. Ini adalah hadiah terbaik sepanjang masa.” Jawabnya.

“Gasahamnida.” Balasku lagi.

“Apa ini foto tadi sore?” tanyanya seraya menunjuk sebuah foto.

“Iya. Aku langsung mencetaknya sepulang dari cassette center.” Jelasku.

“Baik sekali. Kau.. kau… ah… aku tak tahu harus bicara apa lagi.” Ujarnya senang.

“Cukup menjadi pacarku. Itu sudah cukup.” Ujarku nekat.

Ia memandangku kaget. Aku pun heran melihatnya. Ia pun memasukan buku dan mawar itu kedalam tasnya

“Whaeyo?” tanyaku.

“Jonghyunie. Ini alasan mengapa aku mau melepas Yong hwa.” Ujarnya pelan.

“Mwo? Mworago?” tanyaku bingung.

“Ini hanya akan berakhir seperti hubunganku dengan Yong hwa. Lebih singkat malah. Aku tak mau itu terjadi. Lebih baik begini saja.” Jelasnya.

“Mengapa begitu? Kau menyukaiku juga kan?” tanyaku.

“Ya. Dan kau tahu itu. Tapi aku tak bisa hidup lebih lama.” Jelasnya.

“Hah?” tanyaku bingung.

“Aku sakit. Penyakit sederhana yang bisa meregut nyawaku kapan saja. Mungkin juga sering kau dengar.” Ujarnya.

“Hah? Mengapa kau tak pernah mengatakannya?” tanyaku heran.

“Dan membuatmu resah tak karuan? Aku tak mau. Lagipula kita baru bisa bicara sekarang.” Ujarnya.

Hatiku hancur. Secepat itukah ia meninggalkanku? Secepat itukah tuhan meregutnya dariku? Setelah semua mimpiku berbicara dengannya terwujud. Apa ini artinya aku tak akan pernah bisa memilikinya? Mengubur semua mimpiku dalam-dalam? Sekarang aku tahu alasan mengapa ia melepas Yong hwa pada Miseul.

“Apa yang kau derita?” tanyaku.

“Hm… kanker. Kanker payudara. Penyakit sederhana bukan? Namun mematikan.” Ujarnya santai.

“Segera operasi! Biar aku yang membiayainya.” Ujarku.

“Untuk apa? Hanya membuang uangmu dengan percuma. Simpan saja uangmu. Aku baik-baik saja. Lagi pula aku sudah bisa menerima kematianku nanti.” Ujarnya mencoba tegar.

Bisa kulihat ia menahan air matanya. Aku sedih melihatnya. Aku tak mau kehilangannya. Aku sangat mencintainya. Tak bisakah tuhan memberinya waktu lebih lama? Mungkin saat aku bisa membahagiakannya. Mungkin juga sampai aku berhasil memiliki keturunan dengannya. Entah mengapa, ini semua membuatku muak. Air mataku pun mulai mengalir dengan sendirinya.

“Jangan menangis Jonghyunie! Kau membuatku sedih.” Ujarnya seraya menyeka air mataku.

“Kumohon, jangan tinggalkan aku.” ujarku sedih.

“Kita masih memiliki banyak waktu, Jonghyunie. Kumohon jangan membuatku sedih akan meninggalkanmu.” Ujarnya padaku.

“Kau hebat.” Ujarku.

“Gasahamnida. Hm… setelah Picsbook yang kau berikan, aku juga ingin memberimu sesuatu.” Ujarnya santai.

“Mwo? Memberiku sesuatu? Apa?” tanyaku.

“Entahlah.” Ujarnya bingung seraya mengobrak abrik tasnya.

Aku hanya memandangnya, lucu sekali. Ia sangat hebat. Padahal ajalnya sudah didepan mata.

“Ini saja.” Ujarnya girang seraya mengeluarkan sebuah plester.

Plester kecil berwarna hijau muda. Ia pun memasangkannya di daguku. Persis dibawah bibirku.

“Ya… selesai.” Ujarnya senang.

“Hm… Yoojin-ah. Kau tahu aku artis kan?” tanyaku ragu.

“Ya, aku tahu. Lalu?” tanyanya polos.

“kau tahu kan aku tak mungkin tampil dengan plester seperti ini.” Ujarku hati-hati.

“Fuh… kau benar.” ujarnya kecewa.

“Maaf.” Ujarku.

“Kalau begitu ini saja.” Ujarnya seraya melepas kalung dilehernya.

Ia pun memasangkan kalung itu dileherku. Kupandang kalung yang menggantung dileherku.

“Bagus kan?” tanyanya senang.

“Ya. Gasahamnida. Lalu plester ini?” Ujarku seraya menunjuk plester didaguku.

“Terserah. Mau kau lepas pun tak apa.” ujarnya.

“Tak mau ah. Biarkan saja seperti ini. Sebab Yoojin yang memasangkannya.” Ujarku.

Wajahnya pun memerah. Aku pun mengajaknya ke Ruang TV. Keluargaku yang lain pun menerimanya dengan ramah. Ia pun berbicara dengan Key. Mereka pun bertukar resep. Lalu ia pun berbicara banyak dengan Onew Hyung. Mereka tak hentinya berbicara tentang kamera analog. Setelah Onew Hyung menunjukan kameranya, ia pun mengobrol dengan Taemin. Ternyata ia memiliki adik yang suka menari juga. Ia juga bermain game dengan Minho. Tak kusangka ia bisa mengalahkan Minho bermain Winning Eleven dengan catatan waktu yang singkat. Setelah sekian lama, waktu pun menunjukan pukul 9 malam. Ia pun pamit pulang. Aku ingin mengantarnya hingga rumah. Namun ia melarangku. Ia bilang aku harus istirahat untuk esok. Akhirnya aku mengantarnya kedepan pintu dorm.

“Datanglah kapanpun kau mau.” Ujarku.

“Gasahamnida.” Ujarnya seraya memakai sepatunya.

“Kau tak perlu sungkan. Semua disini menerimamu.” Ujarku lagi.

“Ya. Neomu gasahamnida. Baiklah aku pulang dulu.” Ujarnya seraya bangkit dan berbalik kearahku.

Jantungku terus berdetak. Dekat sekali. Apa ia merasakan hal yang sama juga?

“Terima kasih atas semuanya. Aku senang sekali.” Ujarnya tampak gugup.

“Ne. cheomaneyo.” Jawabku.

Ia pun segera berbalik namun aku meraih tangannya. Menghentikan langkahnya. Ia pun berbalik dan diam menatapku.

“Aku pasti akan sangat merindukanmu. Benar-benar rindu padamu.” Ujarku.

Ia pun tersenyum padaku.

“Ya, aku juga. Akan sangat merindukanmu.” Balasnya.

Seperti boneka kayu. Entah apa yang merasukiku. Aku pun mengecup hangat bibirnya. Kupegang pipinya yang hangat dengan tanganku yang lainnya. Ia tak melawan. Kurasa ini akan menjadi yang terkhir bagi kami. Hangat bibirnya bisa kurasakan dengan jelas. Membuat hatiku nyaman dan tenang. Aku pasti akan sangat merindukannya. Teramat sangat. Kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh jemariku. Kurasa ia menangis. Tentu saja aku tahu mengapa ia menangis. Disaat kami tengah saling menyukai, takdir memisahkan kami. Pahit sekali. Aku pun melepaskan kecupanku. Kubisikan sesuatu di telinganya.

“Aku tak mau kehilanganmu.” Ujarku seraya beralih menatap wajahnya.

Ia hanya tersenyum padaku. Ia pun menarikku kedalam peluknya. Untuk terakhir kalinya. Bisa kurasakan detak jantungnya yang cepat. Kurasa ia merasakan rasa yang sama sepertiku.

“Maukah kau berjanji untuk tak melupakanku selamanya?” tanyanya seraya melepas pelukkannya.

“Tentu saja.” jawabku seraya menyentuh plester hijau yang ia pasang.

Ia pun tersenyum senang padaku.

“Gasahamnida.” Ujarnya tersenyum seraya beranjak pergi.

Setelah sosoknya hilang kedalam lift, aku pun kembali kedalam. Didalam bisa kulihat dengan jelas, 4 wajah konyol sedang menatapku dengan pandangan terpesona. Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku.

“So sweet.” Ujar Key.

“Hyung, buatkan aku date seperti itu.” Pinta Taemin.

“Anytime.” Jawab Onew hyung.

“Terpisah karena takdir. Cinta yang klasik.” Ujar Minho konyol.

“Aigo… menusuk hati setiap penontonnya. Kisah yang hebat.” Ujar Key lagi.

“Kalian bicara apa sih? Ngawur sekali.” Ujarku menahan malu.

“Melakukan first and last kissing didepan pintu dorm. Tak ada yang lebih klasik dari itu.  Tindakan yang paling berani.” Ujar Minho lagi.

“Kau ini bicara apa sih?” ujarku lagi.

“Pokoknya hyung harus mengajariku melakukan date seperti itu.” Ujar Taemin.

“Date apa?” Tanya Manager hyung tiba-tiba dari ambang pintu.

Sejak kapan ia muncul?

“Hyung? baru datang?” Tanya Onew hyung panik.

“Iya. Dan aku membawakan jadwal esok. Date apaan sih?” Tanya manager hyung lagi.

Untung saja ia tak melihat Yoojin. Bila ia melihatnya, mungkin aku tidak akan makan sebulan kedepan.

***************************************************

Sebulan semenjak saat itu aku tak bertemu lagi dengan Yoojin. Empat orang cerewet di dorm mulai ribut menanyakannya. Aku juga mulai rindu padanya. Apa benar ia sudah pergi? Kuharap tidak? Lagipula tak mungkin secepat itu kan? Hari ini giliranku untuk berbelanja (Lagi). Kubuka pintu Dorm dengan lemas. Merindukan Yoojin membuatku tidak niat melakukan apapun. Namun saat aku keluar, kakiku menendang sesuatu. Aku pun mendongak kebawah. Sebuah kotak silver berpita emas terpajang disana. Aku pun meraihnya. To My Jonghyunie, begitu bunyinya. Apa ini dari fans? Aku pun membuka kotak itu. Ada sepucuk surat dan sebuah buku bersampul ungu. Buku lagi? Oh, tidak! Aku pun membuka surat itu. Ternyata dari Yoojin. Dengan antusias, aku membacanya.

For Jonghyunie

 

Anneyong? Aku yakin sekarang kau pasti sangat merindukanku bukan?

Aku pun begitu. Namun aku tahu, saat kau membaca surat ini aku telah tiada.

Maaf ya, aku sudah lama tidak mengunjungimu lagi semenjak saat itu.

Ada berbagai masalah yang tak bisa kujelaskan padamu.

Lagipula kau sedang sibuk bukan?

Aku juga ingin berterima kasih padamu.

Akhir-akhir menjelang ajalku, kau mau menemaniku.

Menerima kehadiranku dalam hidupmu.

Itu manis sekali. Aku senang bukan main.

Kau berhasil menggeser Yong hwa dan menggantinya dengan namamu dihatiku.

Selain itu kau mau repot-repot membuat Picsbook story untukku.

Itu hal termanis dan terindah untukku.

Tak ada yang mau repot melakukannya untukku selain dirimu.

Maka dari itu aku mau membalasnya.

Kurasa plester dan kalung itu tak akan cukup membayarnya.

Maka dari itu aku memberimu buku ini.

Aku yakin, kau pasti berpikir ‘ah… buku lagi.’

Tapi percayalah, kau tak akan menyesal menerimanya.

Dan pria yang kau lihat di cassette center, ia sahabatku saat di panti asuhan.

Ia memergokimu yang sedang menjadi stalkerku. Ia rasa kau lucu dan memotretmu.

Foto itu lucu sekali. Kau tengah membungkuk memotretku.

Wajah seriusku yang konyol pun tertangkap kamera.

Selain itu, aku menyematkan fotoku yang kau ambil dan kau taruh di Picsbookmu.

Aku suka sekali foto itu. Kurasa lebih baik kau yang menyimpannya.

Agar kau bisa terus mengingatmu tanpa harus menyalakan kamera digitalmu itu.

Oh ya, maukah kau menjaga adikku?

Saat ini dia tengah ada di halte apartemenmu dihari ia menganta kotak inir.

Ia adalah kembaranku. Aku hanya berbeda satu jam dengannya.

Selain identik, sifat kami sama loh! Hanya hobi kami saja yang berbeda.

Ia lebih menyukai dunia tari. Namanya Hwang Yooshin.

Kau tak akan sulit menjaganya. Ia mandiri kok.

Gasahamnida, Jonghyunie.

Telah membawaku kedalam duniamu yang indah.

 

Hwang Yoojin.

 

Yoojin… kau tega sekali tidak memberitahukanku hari terakhirmu. Jadi hari dimana aku mengecupmu itu benar-benar hari terakhir bagi kita. Aku pun meraih buku itu. Ada judul diatasnya. Jonghyunie Photo’s Bucket. Manis sekali. Aku pun membuka buku itu. Hahaha. Lucu sekali. Banyak sekali foto dibuku itu. Ternyata aku benar-benar merusak karyanya. Banyak sekali foto gedung apartemen karyanya yang yang menangkap blits kameraku. Ada juga fotonya yang focus kepadaku yang sedang memotretnya dari jendela dorm, pintu gedung, dan lain sebagainya. Ia juga banyak menyematkan foto konyolku. Saat aku terpeleset, makan hotdog saat menunggunya, saat kesal membuka kopi yang tutupnya tak dapat kubuka. Ternyata ia juga amat memperhatikanmu. Aku juga melihat foto saat di cassette center. Konyol sekali. Apakah aku menungging seperti itu saat di cassette center? Memalukan sekali. Saat dihalaman terakhir. Terpajang foto Yoojin yang kuambil. Ternyata itu foto saat di flower market. Ternyata seleraku benar. Foto ini memang yang terbaik. Namun tiba-tiba mataku menarik sesuatu. Tulisan tangan Yoojin yang ditulis kecil-kecil.

N.B. Jonghyunie always be my inspiration.

The second great people after my sister. Please, love me with a simple love.

Don’t make me weird in the second life.

Love you anywhere.

Oh…. Aku pasti akan sangat merindukannya. Seketika aku langsung teringat dengan Hwang Yooshin. Adik Yoojin. Aku pun segera berlari kearah halte. Ia pasti lama menungguku. Beberapa saat kemudian aku pun tiba di halte. Kuatur nafasku yang tak karuan. Letih sekali. Sosok Yooshin tak sulit dicari. Ia begitu mirip dengan Yoojin. Yah.. mungkin rambutnya lebih pendek dari Yoojin dan tak seindah milik Yoojin. Ia sedang duduk di halte menunggu sesuatu yang kuyakin itu aku. Aku pun  segera menghampirinya. Seakan mengetahui langkahku, ia pun menoleh dan memandangku.

“Anneyong.” Sapaku.

Ia pun bangkit dan menunduk sopan padaku.

“Apa kau yang mengantar ini?” tanyaku.

Ia pun tersenyum. Senyum yang begitu mirip dengan milik Yoojin. Seakan Yoojin bangkit kembali dan berdiri didepanku. Melepas rindu.

“Gasahamnida.” Ujarku.

“Cheonmaneyo.” Jawabnya.

Suaranya cukup indah. Cukup menjual. Terlebih lagi ia pandai menari menurut kisah Yoojin padaku dan keluargaku waktu itu.

“Mulai sekarang aku yang menjagamu. Sesuai pesan Yoojin. Kau tak perlu sungkan padaku.” Ujarku.

“Ne. Gasahamnida.” Jawabnya sopan.

Hm… kira-kira, apa management SM mau merekrut gadis seperti Yooshin? Kurasa mempromosikannya adalah ide yang bagus. Layak dicoba. Karena ia terlihat hebat. Hebat seperti kekasihku. Hwang Yoojin.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s