(Twoshot) Love Waltz – It’s chapter 1

(Kim Jonghyun POV)

Kurapatkan syalku dengan leherku. Udara malam ini dingin sekali. Hujan saat sore tadi telah sukses membuat jalan trotoar ini menjadi licin. Kuperhatikan langkahku dengan seksama. Takut jika nanti aku bisa jatuh terpeleset sewaktu waktu. Mulutku pun tak hentinya mengeluh. Aku kesal dengan semua orang yang ada didalam Dorm. Kesal pada Key dengan mulutnya yang tidak bisa berhenti mengoceh. Kesal dengan Taemin yang manja. Kesal dengan Onew hyung yang tidak mau mengalah padaku. Dan lebih kesal lagi pada Minho yang meminta tolong padaku dengan mata yang tak hentinya lepas dari game Winning Eleven. Kupercepat langkahku menuju gedung apartemenku. Selain udara malam yang dingin mulai menusuk tengkukku, bila aku terlambat memberikan pesanan anak-anak manja itu, bisa-bisa aku tidak dibukakan pintu. Ini nih menderitanya seapartemen dengan orang-orang yang moodnya mudah berubah. Aku pun berusaha berjalan dengan benar. Namun, dengan bawaan yang bervariasi ditangan dan trotoar yang licin, aku tak dapat mengontrol berat badanku sendiri. Perlu perjuangan keras untuk bisa berjalan dengan cepat dan hati-hati di trotoar seperti ini. Fuh… Berjuanglah Kim Jonghyun! Gedung apartemen sudah didepan mata. Hanya beberapa langkah lagi dan….

BRUK…..

Ha? Kok belanjaanku enteng? Bunyi apa barusan? Aku pun menoleh. Sial… kantung belanjaanku robek. Isinya tumpah semua.

“ARGHH$%&^%*..!!” ujarku tak jelas.

Dengan sebal, aku pun berbalik menuju tempat belanjaanku yang berserakan. Coba aku tadi berhati-hati. Niatnya mau cepat, malah menjadi semakin lama. Aku pun terjongkok hendak merapikan belanjaanku. Kugunakan semua akalku, agar aku bisa membawa belanjaan itu kembali ke Dorm dengan selamat. Aku pun mulai menjejalkan belanjaanku dengan asal kedalam saku mantelku. Saat semua berhasil kujejalkan, aku pun segera beranjak dari tempat itu. Namun, mataku menarik sesusatu. Tiba-tiba didepan gedung apartemenku ada seorang gadis yang berdiri mematung. Rambut hitamnya yang panjang tertiup angin dengan lembut hingga menutupi wajahnya. Tangannya memeluk sebuah kamera dan buku. Darimana asalnya gadis itu? Seingatku tadi tak ada orang didepan gedung apartemenku. Aku pun memandang gadis itu dengan heran. Entah apa yang ia pikirkan, namun pandangannya tampak kosong. Ia menatap gedung apartemenku dengan pandangan yang sangat kosong. Gadis aneh. Aku pun berjalan pelan melewatinya. Tanpa sengaja bahuku menubruk bahunya. Ia pun meringis pelan.

“Ah… Mianhae.” Ujarku panik.

“Ne. Cheonmaneyo.” Jawabnya pelan.

“Jeongmal?” Tanyaku tak yakin.

“Ne.” ujarnya lagi.

Aku pun mengelus dadaku. Untung saja ia tak apa-apa. Ia pun menatap buku ditangannya. Seperti Diary. Ia pun menyodorkannya padaku. Apa maksudnya? Aku pun menatapnya dengan bingung.

“Untukmu.” Ujarnya singkat.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Aku sudah tak mau memilikinya. Untukmu saja.” Ujarnya.

Aku pun menatapnya dengan bingung. Ia hanya tersenyum. Ia pun meraih tanganku dan meletakkan buku itu ditanganku. Aku hanya bengong melihatnya. Apa yang sedang ia lakukan? Mengapa ia memberiku buku ini? Orang aneh. Sekali lagi ia tersenyum padaku. Aku tak membalas senyumnya. Pandanganku hanya tertuju pada buku ditanganku. Ia pun berjalan pelan melewatiku. Rambutnya yang panjang, dengan lembutnya membelai pelan wajahku. Seketika badanku langsung bergidik. Aku merasakan jantungku berdegup kencang. Hawa aneh mulai merasuki tubuhku. Aku pun memandang gadis itu. Ia berjalan membelakangiku. Rambutnya yang panjang terurai tertiup angin dengan lembutnya. Kenapa ini? Ada apa denganku? Aku pun terus memandangnya. Mataku tak hentinya memandangnya sampai sosoknya benar-benar hilang ditikungan. Aku pun masih berdiri terpana. Seperti orang bodoh memang. Tapi entah mengapa, sesuatu seperti sedang menjalar kedalam ragaku. Jantungku tak hentinya berdegup kencang. Tuhan… ada apa denganku? Tiba-tiba, dari dalam apartemen munculah sesosok pria. Nafasnya tersegal-segal seperti mengejar sesuatu. Saat melihatku, ia pun segera menghampiriku.

“Hei, kau namja yang disana.” Ujarnya seraya menghampiriku.

“Ne?” tanyaku polos.

“Kau tadi melihat Yeoja disekitar sini? Tingginya kurang lebih 160 cm. Rambutnya sepunggung tergerai. Membawa kamera. Kau lihat?” tanyanya panik.

Apa maksudnya gadis yang tadi?

“Buku itu. Apa ia yang memberikannya kepadamu? Kemana ia pergi?” tanyanya saat melihat buku yang kupegang.

“Ah, ne. Ia pergi kearah sana.” Ujarku seraya menunjuk kearah tikungan.

“Ah. Ne. Gasahamnida.” Ujarnya seraya berlari kearah tikungan.

Aku pun memandang pria itu. Ada apa ini? Aku tak mau masuk kedalam realita hidup orang lain. Namun entah mengapa, dengan bodohnya aku terus berdiri diam ditempatku. Menunggu pria itu kembali. Beberapa saat kemudian pria itu pun kembali. Wajahnya tampak kesal. Tampaknya ia tak bertemu dengan gadis yang ia cari tadi.

“Ah, sial.” Dengusnya.

“Eng… ini. Kurasa buku ini milikmu.” Ujarku terbata seraya menyodorkan buku itu.

Ia pun memandangku dengan putus asa. Wajahnya tampak kesal sekali. Ia pun menggelengkan kepalanya.

“Untukmu saja.” Ujarnya seraya kembali masuk kedalam gedung apartemen.

Eh? Yang benar saja. Aku pun mendengus kesal. kupandang buku ditanganku. Kenapa jadi begini. Apa yang harus aku lakukan pada buku ini? Apa harus kubuang? Yang benar saja! Bila nanti yang punya memintanya kembali bagaimana? Tapi ia bilang ini untukku? Aduh… kenapa aku seorang Kim Jonghyun bisa tertarik kedalam realita hidup orang lain seperti ini? Kupandang lagi buku ditanganku. Memandang buku itu membuatku mengingat gadis itu. Dan dalam sekejap pula aku ingat dengan belanjaan orang-orang manja di dorm. Dengan cepat, aku pun segera berlari melalui tangga darurat. Tangga darurat? Kenapa aku tidak naik lift saja? Ah, sudahlah. Aku kan sedang panik. Kubuka pintu Dormku. Didalam sudah ada 3 wajah yang menyambutku dengan tidak senang. Kecuali Onew hyung yang sudah tidur terlelap.

“Supermarketnya di hongkong ya?” Sindir Key pedas seraya mengambil belanjaanya.

Aku hanya bisa memberikan senyum kuda pada mereka. Habis, aku bisa apa?

****************************************************

Kulirik jam tanganku. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Ugh… larut sekali. Aku pun tersandar di kursi jok yang kududuki.

“Pokoknya sesampainya di Dorm aku dulu yang mandi.” Pekik Key nyaring ditelingaku.

“Tapi hyung bilang aku dulu yang mandi.” Keluh Taemin manja.

“Aku berubah pikiran, aku dulu yang mandi.” Balas key ketus.

“Aku ingin ayam goreng.” Pekik Onew hyung dari kursi depan.

“Kita baru makan tadi.” Ujar Key.

“Tapi hari ini aku belum makan ayam goreng. Aku ingin ayam.” Pekik Onew hyung lagi.

“Hey, hyung. Tadi siang aku baru dapat game baru. Kita main bersama ya.” Ajak Minho pada Onew hyung.

“Game apa?” Tanya onew hyung.

“Tak tahu. Tapi sepertinya ramai sekali.” Jawab Minho antusias.

Aku pun mengusap wajahku. Berisik sekali!

“BERISIK. Kalian ini berisik sekali.” Ujarku kesal.

Seketika suasana pun menjadi hening. Semua pandangan tertuju padaku. Aku pun menelan ludahku dengan perlahan.

“Mian. Aku hanya kelelahan.” Ralatku cepat.

“Tak apa. Santai saja.” Ujar Minho tenang dari kursi belakang.

Sepertinya ia paham kondisiku. Aku pun menghela nafas panjang. Mereka pun kembali lagi dalam pembicaraan mereka. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kurogoh tasku. Kukeluarkan buku yang kudapat dari seorang gadis seminggu yang lalu.

Hwang Yoojin

Jadi itu nama gadis itu. Nama yang bagus. Kurasa. Aku pun menjejalkan kembali buku itu kedalam tasku. Kurebahkan kembali tubuhku diatas kursi. 10 menit kemudian kami pun sampai didepan gedung apartemen. Kami pun mulai bergantian turun dari mobil. Aku pun turun setelah Taemin. Namun mataku menangkap sesuatu. Gadis itu. Hwang Yoojin. Ia tampak sedang berbicara dengan pria waktu itu dan seorang gadis yang tak kutahu siapa. Wajahnya tampak pucat. Bahkan ia menangis.

“Oppa? Apa yang oppa lakukan dengan Miseul?” Tanya Yoojin.

“Yoojin? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya gadis lainnya tampak kaget.

“Oppa? Bisa kau jelaskan ini?” Tanya Yoojin.

“Hentikan Yoojin! Jangan ganggu Yong Hwa lagi.” Seru gadis yang bernama Miseul itu.

“Tapi… aku dan Yong Hwa… kami…” ujar Yoojin terbata.

“Itu masa lalumu. Tak sadarkah kau ia sekarang bersamaku?” Tanya Miseul dengan tampang yang tak kusuka.

Aku pun terus menatap mereka. Langkahku pun terhenti dibuatnya. Aku terus memperhatikan mereka dengan diam. Key tak hentinya menarik tanganku untuk pergi menjauh dari sana.

“Ayolah hyung. Ini buka urusan kita.” Ujarnya seraya menarikku.

Namun aku tak mengubrisnya. Aku terus memperhatikan mereka. Feelingku mengatakan akan terjadi sesuatu pada Yoojin.

“Aku tak percaya. Padahal kau sahabatku.” Ujar Yoojin mulai menangis.

“Butuh banyak usaha untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.” Ujar Miseul lagi.

Waw! Kata-kata yang tajam. Tanpa basa-basi lagi Yoojin pun menampar pipi Miseul. Gadis itu meringis. Cih! Padahal aku yakin itu tak sakit. Dasar drama quen. Pria itu tampak kaget dengan tindakan Yoojin. Dengan kasar ia mendorong Yoojin. Gadis itu pun terpeleset jatuh ke tanah. Tangannya terantuk pot bunga dengan kerasnya. Cukup! Aku sudah muak menjadi penonton dadakan.

“Ja! Jangan kasar terhadap yeoja. Lawan aku bila kau perlu, pengecut!” Ujarku seraya menepis tangan Key dan menghampiri mereka.

Kudengar Key terus memanggil namaku. Begitupun dengan Onew hyung. Tapi aku tak mengubrisnya. Aku sudah terlalu muak dengan apa yang kulihat.

“Siapa kau?” Tanya pria itu ketus.

“Kim Jonghyun? Whaeyo, hah? Kau mau apa?” tanyaku gusar seraya mendekatkan badanku kedepan pria itu.

Aku tahu. Seharusnya aku sadar diri. Tinggi kami teramat sangat tidak seimbang. Tubuh pria ini menjuntai keatas sedangkan aku menjuntai kebawah (?).

“Chagiya! Hentikan. Biarkan saja si cebol itu.” Ujar gadis yang bernama Miseul itu.

Pria itu hanya mengangguk dan mengikuti yeoja tadi kedalam apartemen. Tunggu? Cebol? Yeoja itu bilang aku cebol? Awas saja jika bertemu denganku lagi nanti. Aku berjanji akan membuatnya menyesal. Aku pun berbalik lalu menatap Yoojin. Ia masih duduk tersungkur. Aku berlutut disampingnya.

“Ada yang terluka?” tanyaku.

“Aniyo. Aku baik-baik saja. Gasahamnida.” Ujarnya seraya menyeka air matanya.

Aku pun segera membantunya berdiri. Dan ia menerima bantuanku. Ia pun membersihkan lututnya yang kotor. Aku pun membantunya. Kuambil kamera dan tasnya yang sempat tercecer saat ia terjatuh tadi.

“Gasahamnida.” Ujarnya lagi.

“Ne, cheonmaneyo. Anggap saja aku orang lewat.” Ujarku.

Ia pun tersenyum miris. Kuberikan tas serta kameranya kembali.

“Yoojin, dengar! Bila kau butuh bantuan, kau bisa mencariku.” Ujarku padanya.

“Yoojin? Darimana kau tahu namaku?” tanyanya heran.

“Bukumu. Kau tahu? Buku yang kau beri seminggu yang lalu.” Jawabku.

“Oh, iya. Aku ingat. Gasahamnida.” Ujarnya lagi.

Ia pun membungkukan badannya padaku. Aku pun membalasnya. Ia pun segera berlalu pergi. Aku pun memandang kepergiannya. Key dan Onew hyung pun segera menghampiriku. Disusul dengan Taemin dan Minho.

“Kau ini. Untuk apa kau urusi urusan orang lain?” omel Key.

“Kenal saja tidak. Yang ada hanya menambah masalah saja tahu.” Omel Onew hyung.

“Mianhae. Tapi aku tak bisa membiarkan mereka melakukan hal itu pada gadis itu.” Belaku.

“Ne. aku paham. Tapi aksi heroikmu itu. Terlalu mencampuri urusan orang, hyung.” jawab Minho lagi.

“Ne, mianhaeyo. Aku tak akan mengulanginya. Ayo masuk! Mulai dingin disini.” Ujarku berusaha mencairkan suasana.

Mereka pun mendengus. Aku hanya nyengir pada mereka. Mereka bertiga pun berjalan mendahuluiku. Dengan cepat mereka mengganti topik pembicaraan. Aku pun menghela nafas panjang. Taemin pun menepuk pelan pundakku.

“Aku suka sekali aksimu tadi, hyung.” ujarnya pelan di telingaku.

Aku pun tersenyum kecil pada dongsaeng kesayanganku itu.

********************************************************

Sudah sebulan sejak kejadian itu, aku sering sekali melihatnya. Biasanya setiap jam 5 sore ia akan ada di taman dekat apartemenku. Memperhatikan gedung ini. Aku selalu memergoki ia yang sedang memotret gedung ini dari dalam jendela apartemenku. Terlebih lagi setelah membaca buku yang ia berikan padaku. Ternyata buku itu adalah hariannya. Pria itu bernama Kim Yong Hwa. Gadis lainnya bernama Kang Miseul, sahabatnya semenjak sekolah menengah pertama. Ia tengah menjalin hubungan dengan Yong hwa. Suatu saat ia pergi keluar daerah untuk menuntut ilmu. Namun saat ia kembali, ia sudah mendapati kekasihnya tengah menjalin hunbungan dengan sahabatnya sendiri. Dan gedung ini adalah tempat tinggal Yong hwa dan ia masih mencintai Yong Hwa. Itu alasan mengapa ia suka bermain ke taman dekat apartemen ini. Aku pernah mencoba menghampirinya, namun aku tak bisa berkata apa-apa didepannya. Selalu saja diam mematung didepannya. Taemin bilang aku jatuh cinta padanya. Aku tak tahu itu. Mungkin aku memang suka padanya. Sebab aku sering bertingkah gila karenanya, seperti sekarang ini. Memotret dan mengumpulkan apa saja yang berhubungan dengan dirinya. Kurasa aku memang sudah gila. Aku sudah merasa seperti orang bodoh setiap ada didepannya. Alhasil aku hanya bisa seperti sekarang ini, memperhatikannya dari jauh dan memotretnya dengan kamera digital pribadiku.

“Kau stalker. Padahal kau artis.” Ujar Minho setiap ia melihat aksiku.

Dan setiap ia berkata begitu, aku hanya bisa tersenyum dan berkata ‘Aku bukan stalker.’. Habis bisa apa aku? Hanya itu yang bisa kulakukan.

“Menurutku Hyung keren.” Ujar Taemin berlainan setiap ia melihat tingkahku.

Setiap mendengar Taemin berkata seperti itu, aku hanya bisa tertawa garing. Dan sekarang, pada jam seperti biasanya, aku sedang memperhatikan Yoojin dari dalam pintu gedung apartemenku. Memotretnya tanpa ia ketahui.

“Orang gila.” Celetuk seseorang.

Aku pun menoleh. Onew hyung. Aku pun tersenyum kecil kearahnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya seraya menghampiriku.

“Aniyo.” Ujarku tergagap.

Onew hyung pun mulai celingukan. Mencari sesuatu yang mampu membuatku bersifat gila seperti ini. Ia pun menghela nafas panjang saat menemukan sosok Yoojin yang sedang memperhatikan gedung ini.

“Yoojin lagi?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum kepadanya. Ia pun terkekeh melihat tingkahku.

“Aneh. Pada umumnya aku mendengar Artis diikuti stalker, bukan artis beralih profesi menjadi stalker.” Kekehnya.

“Ah, hyung ini. Aku ini bukan stalker.” Ujarku sambil kembali memotret Yoojin.

“Lalu apa?” tanyanya sambil terus terkekeh.

“Aku.. aku.. aku hanya orang penyuka keindahan.” Belaku asal.

Onew hyung pun terbahak mendengarnya.

“Kau ini! Dekati dia, ajak ia kencan. Dasar norak.” Ujarnya padaku.

“Mwo? Aniyo. Aku tak bisa.” Tolakku.

“Whaeyo? Dasar, kau ini. Padahal mulutmu ini penuh gombal. Ternyata ada lemahnya juga. Seindah itukah Yoojin sehingga membuatmu seperti ini? Heran! Padahal kau artis.” Ujarnya.

“Hyung ini! Jangan membuatku gugup.” Ujarku gugup.

“Kau sendiri yang gugup, aneh. Sebegitunya sampai membuat Picsbook story tentangnya.” Ujarnya lagi.

“Hyung membuka lemariku? Tega sekali.” Ujarku kesal.

“Hehehe. Jangan begitu. Kita keluarga.” Ujarnya seraya cengengesan.

“Tapi itu kan privacy. Hyung tak berhak membuka lemariku seenaknya seperti itu.” Ujarku marah padanya.

“Tampaknya kau serius. Apa sih yang kau lihat dari Yoojin?” tanyanya heran.

“Aku juga tak tahu hyung. Aku juga tak tau sejak kapan. Hanya saja aku tak bisa menghilangkannya dari bayanganku. Setiap saat, setiap waktu, ia bisa saja muncul sewaktu-waktu dalam benakku. Bayangannya saat awal aku bertemu dengannya selalu muncul. Lembut rambutnya saat itu selalu membuatku perasaanku nyaman. Aku menyukainya. Terlebih lagi saat ia menatap gedung ini. Semua perasaannya terpancar melalui matanya. Mungkin itu yang membuatku tak tahan untuk tidak memotretnya.” Ujarku polos.

Aku pun menatap Onew hyung yang menatapku dengan takjub.

“Be anything for her, huh?” ujarnya seraya berdecak kagum.

“Yeah. Maybe.” Jawabku asal.

Ia pun menggelengkan kepalanya dan melemparkan dua botol kopi kearahku. Aku pun menangkapnya.

“Berikan kopi itu padanya. Minum bersamanya.” Ujarnya.

“Mwo? Shiroi.” Tolakku.

“Aniyo. Pokoknya sekarang juga kau harus bertindak. Ayo cepat temui ia.” Ujarnya seraya mendorongku keluar gedung.

Mau tak mau, aku pun berjalan lunglai kearah taman. Dari jauh bisa kulihat dengan jelas Yoojin sedang memotret gedung apartemenku. Aku pun menghampirinya dengan pelan. Kulirik Onew hyung yang sedang memperhatikanku dari gedung apartemen. Tangannya mengacungkan jempol kearahku. Aku pun menelan ludah pelan sebelum berbicara dengannya.

“Hai. Anneyong.” Sapaku terbata.

Ia pun menurunkan kamera dari wajahnya dan menatapku. Kuhela nafas panjang. Kusodorkan kopi kepadanya. Ia pun menerimanya dengan ragu dan duduk disalah satu bangku taman. Aku pun duduk disebelahnya. Kami pun meminum kopi itu dengan diam. Tak ada yang berbicara.

“Terima kasih kopinya.” Ujarnya memecah keheningan.

“Ne.” jawabku gugup.

“Kau suka memperhatikanku dari gedung itu ya?” tanyanya padaku.

“Hah?” tanyaku bingung.

“Blitz-mu. Kau setting mode on. Terpantul ke kameraku.” Ujarnya.

Aku kaget mendengarnya. Ya tuhan! Bila aku hidup dalam dunia kartun, mungkin aku sudah meleleh sekarang saking gugupnya.

“Mianhe.” Ujarku takut-takut.

“Tak apa. Jika kau mau kita bisa mengambil foto bersama. Mungkin kita bisa sharing angle yang bagus.” Ujarnya.

Aku merasa merinding. Tak tahu harus melakukan apa.

“Kamera yang bagus.” Ujarku.

“Ah, kamera ini. Ya, ini memang kamera kesayanganku.” Ujarnya.

Nah! Sekarang aku harus bicara apa lagi?

“Yoojin. Maukah kau tunggu sebentar?” tanyaku.

Ia pun mengangguk. Dengan cepat aku berlari kearah pintu apartemen. Onew hyung menatapku bingung.

“Mworago?” tanyanya.

“Aku harus bicara apa lagi? Hampir mati aku disana.” Jawabku panik.

“Jangan panik konyol. Katakan kau senang bertemu dengannya.” Ujar Onew hyung menenangkanku.

“Begitu ya? Baiklah.” Ujarku.

Aku pun segera berlari kembali menuju Yoojin. Ia pun menatapku dengan heran.

“Hm… senang bertemu denganmu.” Ujarku seraya membungkukan badanku.

Ia pun menatapku heran. Dan mengangguk membalas kata-kataku.

“Sampai jumpa lagi. Dilain waktu. Secepatnya.” Ujarku.

“Ya, secepatnya.” Ujarnya seraya tersenyum.

Aku pun membalas senyumnya dan hendak berlari kembali ke onew hyung yang sudah menungguku di pintu gedung apartemen, namun Yoojin beranjak dari duduknya dan menyentuh lembut pundakku. Aku pun merinding dibuatnya. Wajahnya terlihat sangat cantik bila dilihat dari dekat. Aku tak pernah melihatnya sedekat ini.

“Gasahamnida.” Ujarnya dengan senyumnya yang indah.

Aku hanya tersenyum membalasnya dan segera berlari kearah Onew hyung. Aku benar-benar senang sekali.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanyanya antusias saat aku menghampirinya.

“Senang bertemu dengannya.” Jawabku polos.

“Bagus. Lalu?” tanyanya lagi.

“Sampai jumpa lagi secepatnya. Ia jawab ‘ya, secepatnya’.” Jawabku lagi.

“Terus?” lanjutnya.

“Terus apa? Itu saja.” Jawabku polos.

“Mwo? Itu saja? Aigo! Dasar kau payah.” Ujar Onew hyung kecewa.

Loh? Kenapa? Apa ada yang salah?

************************************************************

Wajah Yoojin yang kulihat beberapa saat lalu terus tergiang dibenakku. Cantik sekali. Aku tak berbohong. Ya… mungkin tidak terlalu cantik. Masih banyak gadis cantik di SM seperti Krystal, Sulli, Yoona, atau siapa lah. Tapi, ada sesuatu dalam diri Yoojin yang membuatku merasa tak tahan. Dan aku menyukai itu. Minggu ini adalah minggu-minggu bebas bagiku dan Minho. Tak ada pekerjaan untukku selain pemotretan. Aku harus bersyukur dan berterima kasih pada manager hyung yang sudah mengatur jadwalku. Waktu menunjukan pukul 3 sore. Masih ada waktu sebelum jam 5. Aku pun memutuskan untuk berjalan-jalan ke daerah cheongdam-dong. Tadinya aku ingin mengajak Minho. Tapi, memang dasar ia game mania. Ia menolakku hanya gara-gara ingin mencoba game baru. Akhirnya aku jalan-jalan sendiri. Sudah lama aku tidak jalan-jalan sesantai ini. Aku pun berjalan dengan semangat. Kulewati berbagai toko. Kusinggahi pula beberapa warung makan. Tak pernah aku makan sebebas ini. Biasanya pola makanku diatur sangat ketat oleh manager hyung. Rasanya terasa lebih nikmat bila begini. Namun saat aku melewati dan melirik kedalam pet shop, mataku seperti mengenal sesuatu. Yoojin? Sedang apa ia? Ia tampak sedang asik bermain dengan salah satu anak kucing. Wajahnya tampak sangat berseri. Manis sekali. Sebaiknya kofoto dia. Kapan lagi aku bisa mendapatkan fotonya selain di taman depan apartemen? Kukeluarkan kamera digitalku dan segera kunyalakan. Kuarahkan kameraku pada Yoojin dan memotretnya. Hasilnya bagus sekali. Atau mungkin karena objeknya Yoojin? Hehehe. Apa yang kupikirkan? Setelah beberapa saat aku sibuk memperhatikan Yoojin, ia pun beranjak keluar pet shop. Aku pun mengikutinya dari jarak yang tidak begitu jauh. Wajah Yoojin terlihat begitu menikmati jalan-jalan sorenya. Andai aku bisa selalu melihat ekspresi itu setiap saat. Tiba-tiba ia pun memasuki sebuah book store. Aku pun masuk mengikutinya. Wajahnya tampak serius mencari buku. Neomu kyopta! Sekali lagi, kuarahkan kameraku padanya. Kuambil beberapa gambar. Sempurna! Hasilnya tidak mengecewakan. Aku pun terus memperhatikannya. Setelah mendapatkan yang ia cari, ia pun bergegas meninggalkan book store. Aku pun mengikutinya lagi. Kali ini ia menuju salah satu flower market di daerah itu. Dibawah sorot matahari sore, wajahnya terlihat sangat berkilau. Terlebih lagi dikelilingi beragam bunga. Rambutnya yang hitam terhembus angin dengan lembutnya. Memandangnya hanya membuat sekujur tubuhku melemas. Kuusap wajahku dengan kedua tanganku. Tuhan…. Cantik sekali ia! Kapan aku bisa memilikinya? Kuarahkan kameraku padanya. Kuambil berbagai pose. Seperti malaikat. Ia pun membeli beberapa tangkai bunga. Begitu pun denganku. Entah untuk apa, aku pun tak mengerti. Seakan ada sesuatu yang membuatku merogoh dompetku yang hampir kosong. Siapa bilang artis selalu memiliki uang? Beberapa saat kemudian, ia pun meninggalkan flower market. Aku pun kembali mengikutinya dari jauh. Setelah lama berjalan, Yoojin pun memasuki cassette center. Ternyata ia gadis yang memiliki selera musik. Mari kita lihat seleranya. Apa album Shinee masuk hitungannya? Hahahaha. Just kidding. Ia pun mulai mencari Cd. Aku pun mengikutinya dari balik rak Cd lainnya. Rak Cd yang menjulang tinggi cukup menutupi diriku. Ah… ada untungnya memiliki badan yang tak cukup tinggi. Hehehe. Ia pun mulai serius mencari Cd. Jujur, sendari tadi wajah seriusnya membuatku gemas. Ingin rasanya kucubit pipinya sanking gemasnya. Namun lebih baik kupotret saja. Setelah cukup lama memilih, ia pun mendapatkan beberapa Cd. Ia pun beranjak untuk mendengarkan Cd pilihannya. Tuhan… aku sudah tak tahan. Aku benar-benar suka padanya. Wajahnya yang begitu menikmati alunan lagu melalui earphone benar-benar membuatku terpesona. Wajahnya menunjukkan suatu ekspresi yang nyaman. Terpancar sekali ia sangat menyukai musik. Dan aku sangat menyukainya. Apa bisa suatu saat ia menikmati lagu yang kunyanyikan untuknya? Aku ingin menyanyikan satu lagu khusus untuknya. Ditemani ekspresi seperti itu. Hidupku pasti sempurna. Setelah sekian lama mendengarkan lagu, dan tentu saja denganku yang terus mempotretnya dari jauh, ia pun kembali menuju deretan rak Cd. Ia pun mengembalikan beberpa Cd yang ia pilih. Namun, tiba-tiba seorang namja menghampirinya. Aku tak tahu siapa. Aku tak mengenalnya. Namun yang pasti aku cemburu melihatnya. Tampaknya Yoojin dan namja itu dekat. Ugh..!! sebal. Aku pun mengarahkan kameraku pada mereka. Berniat untuk memotret mereka. Tapi…. Layarnya kenapa gelap? Kenapa tidak berfungsi? Apa kamera ini rusak? Aku pun sibuk mengutak-atik kamera digitalku itu. Setelah sekian lama, kameraku pun kembali berfungsi. Kembali kuarahkan kameraku pada mereka. Loh? Dimana mereka? Secepat itukah mereka menghilang? Ya! Ini semua gara-gara kamera bodoh ini.

“Ya! Kau mengikutiku ya?” ujar seseorang mengagetkanku.

Omo! Yoojin? Bagaimana ia bisa menemukanku disini?

“Kau menguntitku ya?” tuduhnya langsung.

“Mwo? Aniyo.” Belaku.

“Gojitmal. Kau stalker ya?” ujarnya lagi.

“Aniyo. Jeongmal aniyo!” ujarku lagi.

Duh.. ingin menangis aku rasanya.

“Aku tak suka kau mengikutiku seperti itu. Kumohon, berhenti mengikutiku.” Ujarnya yang membuat hatiku hancur.

Ia pun segera berbalik dan meninggalkanku yang masih panik. Tuhan… tak bisakah kau berhenti mengujiku.

To Be Continued…

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s