Be Mine, Please? {Part 2 NC-17}

-Part 2-

“Appa?!” ucapku terkejut waktu aku membalikkan badanku, aku juga melihat Oemma.

“siapa laki-laki ini?” tanya Appa melihat Chansung oppa.

“annyeonghaseyo, choneun Hwang Chansung imnida, aku sunbae Ri Jung di sekolah” jawab Chansung oppa memperkenalkan diri.

“Ri Jung, masuk ke rumah, dan kau cepat pergi dari sini” perintah Appaku.

“Appa waeyo?” tanyaku tidak terima.

“cepat!” aku hanya menunduk dan segera masuk ke rumah dengan Appa dibelakangku. Aku tau Chansung oppa masih disitu.

“Oemma, sebenarnya Appa kenapa?” tanyaku pada Oemma saat sedang menyiapkan makan malam.

“Ri Jung ah~ nanti akan Oemma ceritakan, yang penting sekarang kau menurut saja dengan Appamu” jawab Oemma, aku hanya diam.

Makan malam sangat sunyi, hanya terdengar suara sendok dan sumpit yang beradu dengan mangkok. Aku sendiri belum berani membahas hal barusan.

Selesai makan malam Appa langsung meninggalkan meja makan dan pergi kekamar, tidak biasanya Appa seperti ini.

“Oemma, jebal ceritakan ada apa dengan Appa..” pintaku saat hanya tinggal kami berdua di meja makan.

“begini, saat masih di Busan,  Appa dulu mempunyai rekan kerja bernama Hwang Yo Jin mereka sangatlah akrab, mungkin hampir seperti saudara. Appa yang sudah  sangat percaya padanya pun menanamkan 50% sahamnya di perusahaan Yo Jin, setelah beberapa tahun perusahaan itu berkembang sangat pesat. Sampai suatu saat Yo Jin menjatuhkan Appa dan mengambil semua saham yang dimiliki Appa. Oemma tidak terlalu mengerti masalah apa yang telah membuat Yo Jin menjatuhkan Appa, setelah masalah itu Appa memutuskan untuk pindah ke Seoul dan tidak mau berhubungan lagi dengan Yo Jin. Hwang Chansung sunbaemu tadi adalah anak dari Hwang Yo Jin..” jelas Oemma panjang lebar.

“mwo? Tapi dari mana kalian tau kalau sunbaeku adalah anak Yo Jin? Mengenalnya saja belum” tanyaku heran.

“kau ingat Ji Yeon onnie yang menikah bulan lalu?” aku menganggukkan kepalaku.

“kami bertemu dengannya disana, Yo Jin memperkenalkan anak itu sebagai penerus perusahaannya nanti” jelasnya.

“haah, Oemma, aku yakin sunbaeku beda dengan ayahnya” ucapku yang masih tidak percaya dengan cerita Oemma barusan.

“asal kau tidak berhubungan lebih dari sunbae dan hoobae, Appa mungkin tidak akan mempermasalahkannya” jawab Oemma meyakinkanku.

“ne..” jawabku lemas dan langsung beranjak pergi ke kamarku.

To: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:15 pm

Oppa, selamat malam?

Maafkan atas sikap Appa tadi (>/\<)

From: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:20 pm

Selamat malam agassi.

Ne, aku memang sudah menduga reaksi Appamu akan seperti itu jika melihatku.

To: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:24 pm

Maksudmu? Kau sudah tau masalah orang tua kita?!

Kenapa kau tidak memberitahuku? Dasar babo~ (>.<)

From: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:30 pm

Hey, panggil aku OPPA arasseo?! Siapa yang kau panggil babo?!

Mianhae, aku sengaja tidak memberitahumu, aku takut kau makin menjauhiku. Aku memang egois, jeongmal mianhae..

To: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:32 pm

Ye, oppa~

Aku mengerti, toh aku juga tidak bisa lagi menjauhimu (^w^). Masalah ini mau kita apakan?

From: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:37 pm

Terpaksa, kita juga harus menyembunyikan hubungan kita di depan orang tuamu.

Kau tidak keberatan kan jagiya?

To: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:40 pm

Ne oppa, aku akan berusaha.

Oppa, kau ingin hadiah apa untuk ulang tahunmu nanti?

From: Chansungie oppa

Feb 9, 2010 7:43 pm

Apa saja, sesuatu yang bisa membuatku hangat dan yang penting itu pemberianmu ^^~

Hangat? Ah, baiklah, aku akan membelikannya syal saja. Besok aku akan mengajak Ri Ra untuk menemaniku berbelanja.

~~~

“MWO?! Kau menerima Chansung sunbae?!” itulah reaksi yang diberikan Ri Ra saat aku menceritakan hubunganku dengan Chansung oppa.

“ssst, kecilkan suaramu. Kau ingin seluruh kelas tau?” kataku sedikit cemas.

“ye, mianhae. Tapi apa kau sudah pikirkan baik-baik?” tanyanya lagi.

“tentu saja, kami tidak akan menunjukkan hubungan kami selama disekolah” Ri Ra hanya manggut-manggut.

“Ri Ra-ssi, kau tau kan besok ulang tahunnya? Kau mau menemaniku mencarikan kado untuknya kan? Please~” aku merayunya dengan puppy eyesku.

Ia hanya menghela nafas dan mengangguk setuju.

“gomawoyo” ucapku pelan.

Untung saja aku bersama Ri Ra, ia selalu tau dimana toko yang menjual barang-barang bagus.

“MWO?! Appamu membencinya?!” lagi-lagi reaksi itu yang aku dapatkan saat aku ceritakan kejadian tadi malam.

“apa suaramu tidak bisa lebih besar lagi agar semua orang di kedai ini tau?!” kataku marah.

“mianhae..” jawabnya dengan suara yang sangat kecil.

“ada suatu masalah yang membuat Appa membencinya. Ah ya, karena kau mau menemaniku, es krimmu aku yang bayar” kataku sambil mengeluarkan dompetku.

“jinjja? Gomawoyo Ri Jung ah~” ucapnya masih dengan suara yang sangat kecil.

Keesokkan malamnya..

Aku memakai dress diatas lutut berwarna coklat muda bermotif bunga berwarna pink dan high heels berwarna coklat, senada dengan dressku dengan rambut ikalku yang aku pakaikan bondu.

“aigoo, neomu yeoppo Ri Jung ah~” ujar Ri Ra saat melihatku turun dari tangga. Aku memang meminta Ri Ra menjemputku ke rumah agar Appa dan Oemma percaya aku akan pergi ke pesta ulang tahun Seo Chan, bukan Chansung oppa.

Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. “Oemma, Appa aku berangkat dulu..” pamitku.

“ne, hati-hati ya..” jawab Oemmaku.

~~~

Chansung’s POV

Kemana anak itu? Kenapa belum datang juga. Aku menunggunya di depan gerbang rumahku. Aku tidak akan memulai pesta tanpanya.

To: yeojachingu ♥

Feb 11, 2010 5:34 pm

Ri Jung ah~ kau dimana?

Apa perlu aku jemput?

From: yeojachingu ♥

Feb 11, 2010 5:37 pm

Aniyo, tidak usah di jemput.

Aku sudah dekat, tapi disini sedikit macet. Mianhae.. ^^~

To: yeojachingu ♥

Feb 11, 2010 5:40 pm

Ppalli, aku sudah mulai kedinginan menunggumu di depan gerbang (~_~)

Aku melihat sebuah taksi berhenti di depanku.

“yak! Kenapa kau menunggu disini? Jelas saja kau kedinginan!” ucapnya saat turun dari taksi.

“sudah berapa kali aku bilang, panggil aku OP..” ucapanku terhenti saat melihatnya, yeoppoda~

“ayo masuk, apalagi yang kalian tunggu disini?” tanya seseorang disebelah Ri Jung.

“kau Ri Ra kan? Silahkan saja masuk duluan, tadi teman-temanmu yang lain sudah menunggumu” kataku mempersilahkannya masuk duluan.

“hey, kau mau kemana?!” cegahku saat Ri Jung mengikuti Ri Ra masuk.

“tentu saja ke dalam, memangnya kenapa?” jawabnya bingung dengan wajah polosnya. Sedangkan Ri Ra melanjutkan langkahnya meninggalkan kami.

“kau bersamaku saja agassi~” ucapku seraya menggandeng lengannya.

“wae? Pestanya kan harus segera dimulai, yang lain sudah menunggu” tolaknya.

“lagipula bahaya kalau Hye Na melihatku bersamamu” sambungnya lagi lalu berjalan meningglakanku. Benar juga, tapi kan aku ingin berdua saja dengannya (T.T)

Setelah memulai pesta, aku berkumpul dengan Taec dan Khun, tapi kenapa Hye Na terus saja menempel padaku?

“Chansung ah~ kenapa perempuan itu ada disini?” tanya Hye Na menunjuk kearah Ri Jung. Aku mendengar ketidaksukaan dari ucapannya barusan.

“ini pestaku” jawabku dingin. Ia hanya mengomel dan tetap mengikutiku kemana aku pergi.

“apa maumu Hye Na?!” tanyaku akhirnya.

“aku masih menyukaimu Chansung, apa itu salah?” jawabnya memeluk lenganku.

“ya, itu sebuah kesalahan besar!” aku melepaskan pelukkannya dan pergi meninggalkannya.

Ia berlari mengikutiku, tak aku hiraukan. “Chansung! Baiklah, aku akan hanya meminta sesuatu darimu. Besok aku akan pergi meninggalkan Seoul..” aku berhenti, ada sedikit rasa lega mendengarnya.

“apa yang kau mau?” tanyaku lagi.

“cium aku, cium aku untuk yang terakhir kalinya..” aku sempat ingin menolaknya, tapi aku sudah sangat muak dengan tingkah lakunya selama ini.

“baiklah..” tanpa memperhatikan keadaan sekitar aku mencium Hye Na.

Ia menahanku saat aku akan melepaskan ciumanku. Dan sialnya tepat dibelakang Hye Na, Ri Jung berdiri dengan ekspresi kosong, tapi aku tau, matanya sudah berlinang air mata.

Aku segera melepaskan ciuman Hye Na dan berlari mengejar Ri Jung.

“Ri Jung! Tunggu, aku bisa menjelaskannya” kataku saat berhasil menghentikannya berlari.

“menjelaskan apa? Aku tidak apa, ini salah satu resiko berat yang harus aku terima” tanyanya.

“tadi adalah permintaan terakhir Hye Na, besok ia akan pindah keluar Seoul, dan ia berjanji tidak akan menggangguku lagi, mianhae..” jelasku.

Ia terdiam menunduk, masih terisak. Aku menghampirinya, mengangkat wajahnya dan mencium bibirnya lembut. “Mianhae jagiya..”

Aku menghela nafas lega saat ia memelukku dan membalas ciumanku. “ne oppa..”

“hujan!” pekiknya melepaskan ciuman kami.

Aku langsung menariknya ke sebuah pondok kecil yang ada di halaman belakang rumahku, biasanya tempat ini dipakai untuk menyimpan alat berkebun.

“bajumu tidak basah kan?” tanyaku saat menutup pintu pondok.

“hanya bagian depan saja..” dia bilang ‘hanya’? aku bisa dengan jelas melihat pakaian dalamnya!

“pakai ini” ucapku menyodorkan jaketku padanya. Ia yang menyadari apa yang aku lihat langsung mengambil blazerku.

“gomawo oppa” jawabnya tersipu malu.

“apa sebaiknya oppa kembali kesana? Mungkin semua orang sedang mencarimu..” sambungnya.

“ani, tidak apa. Orang yang aku cari ada disini” jawabku menggenggam tangannya.

Aku mengajaknya duduk disebuah meja yang tidak terlalu tinggi, memang bukan meja yang besar, tapi cukup untuk kami berdua.

“oppa..”

“ne?”

“sebenarnya apa yang oppa sukai dariku?” tanyanya tiba-tiba.

“kau gadis yang manis, tidak mudah menyerah, pandai membuat bekal dan yang paling penting kau menerimaku apa adanya” jawabku.

“mulai besok, buatkan aku bekal lagi ya jagi~” pintaku manja.

“ne oppa, tapi harus kau makan!”

“ye.. cerewet sekali agassiku ini..”

Beberapa menit kami hanya saing diam. Hening, tak ada bahan pembicaraan. Hujan belum juga reda.

“apa kau kedinginan?” tanyaku akhirnya.

“aniyo, gwaenchana..” jawabnya. Aku melihat wajahnya yang sudah pucat.

“ah, bajumu kan basah. Kau bisa masuk angin, buka bajumu..” perintahku yang membuatnya membulatkan matanya.

“MWO?! Andwae! Apa oppa gila?!” tolaknya.

“cepat buka bajumu dan pakai ini..” aku membuka kemejaku dan melemparkannya padanya.

~~~

Ri Jung’s POV

Aku sangat terkejut saat ia melepaskan kemejanya. Omo~ tubuhnya tanpa tertutup pakaian benar-benar sangat bagus, dada bidangnya, perutnya yang sixpack dan otot yang ada di kedua lengannya terlihat sangat jelas sekarang. Aku ingin menyentuhnya..

“hey, apa kau benar-benar ingin masuk angin? Cepat pakai bajuku!” ucapnya membuyarkan lamunanku.

“ah, ne oppa..” ia langsung membalikkan badannya dan aku segera mengganti bajuku dengan bajunya.

“sudah selesai?” tanyanya yang masih berbalik menungguku. Kemejanya cukup besar sehingga bisa menutupi sampai 15cm diatas lututku.

“ne, sudah..” jawabku. Ia berbalik dan menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan.

“wae oppa?” tanyaku heran.

Ia tak menjawab dan berjalan kearahku masih dengan pandangan yang sama. Tiba-tiba ia menciumku, sangat beda dengan ciuman kami yang biasanya.

Ia mendorongku ketembok dan merapatkan tubuhnya pada tubuhku, sehingga aku bisa merasakan dada bidangnya menempel ke dadaku. Aku berusaha mendorongnya, menghentikan ciuman panasnya, tapi semua itu sia-sia, tenaganya terlalu kuat menahanku ditembok.

Ia menghentikan ciumannya sesaat, membiarkanku bernafas. “saranghaeyo..” ucapnya sebelum menciumku kembali.

“oppa hentikan..” pintaku berontak saat ia menggengdongku dan menidurkanku diatas blazernya yang tadi ia pinjamkan padaku. Ia mulai menciumi leherku sambil tangannya melepaskan kancing kemeja yang aku pakai satu per satu. “Ah” desahku pelan saat bibirnya mulai menciumi dadaku.

Aku hanya bisa diam, tidak kuat melawan tenaganya yang sangat besar. Tiba-tiba air mataku mengalir, dan Chansung menghentikan permainannya didadaku.

“mianhae, aku tidak bisa menahan nafsuku..” ucapnya bangkit dari posisinya dan membantuku mengancingkan kemejaku.

Aku mendengar dengan jelas penyesalan dari ucapannya barusan.

“kau tak apa?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk lemas, ia menghapus air mataku dan memakaikan blazernya di pundakku.

“sepertinya hujan sudah reda, kau ingin pulang?” tanyanya lagi.

“shireo, aku masih ingin disini..” jawabku menahan tangannya.

Ia hanya menurut dan duduk disampingku tanpa berbicara apapun.

“oppa, mianhae, aku belum siap” ucapku memecah keheningan.

“ah, gwaenchana, aku akan menunggumu sampai kau siap Ri Jung ah~” jawabnya mengelus rambutku pelan.

Lagi-lagi sunyi, tak ada yang mulai bicara.

“Ri Jung!! Kau dimanaaaaa!!” tiba-tiba terdengar teriakan Seo Chan dari luar pondok.

“temanmu mencarimu, sebaiknya kau keluar sekarang..” ujar Chansung yang sudah berdiri dari duduknya.

“shireo..” jawabku yang masih duduk.

“waeyo? Kau harus pulang Ri Jung ah~” tanyanya heran.

“apa malam ini aku boleh menginap?” kataku tiba-tiba membuatnya terkejut.

“mwo? Menginap? Apa nanti kata orang tuamu? Mereka pasti akan mencarimu” jawabnya tidak percaya.

“aku akan meminta bantuan Ri Ra dan Seo Chan.. boleh aku pinjam ponselmu?” ia menyodorkan hpnya dan aku langsung menelpon Ri Ra, memintanya untuk berbohong kepada Oemmaku. Sedangkan Chansung hanya bisa menghela nafas, tidak mengerti apa maksud permintaanku.

“ah, gomawoyo Ri Ra-ssi..” ucapku sebelum memutuskan teleponnya.

“baiklah, kau tidak mungkin masuk kerumah dengan pakaian seperti ini, masuklah lewat pintu belakang, disana ada Mi Nam Ahjumma, minta ia mengantarmu kekamarku. Aku akan menyusul setelah pesta selesai, kau istirahatlah disana” jelasnya.

Aku hanya mengangguk mengerti dan langsung keluar dari pondok itu.

~~~

Chansung’s POV

Aku masih belum mengerti dengan maksud permintaannya barusan, apa dia merasa tidak apa atas kejadian  di pondok tadi? Aku benar-benar takut kalau aku sampai menyerangnya lagi seperti tadi. Dan sebenarnya belum ada satu wanitapun yang pernah menginap dirumahku, entah kenapa aku sama sekali tidak bisa menolak permintaannya.

“Ahjumma, apa gadis tadi sudah kau antar ke kamarku?” tanyaku pada Mi Nam Ahjumma yang sedang beristirahat di dapur.

“ne, tuan muda, saya juga sudah memberinya handuk dan baju ganti untuk sementara” jawabnya.

“ah, kamsahamnida Ahjumma” ucapku lalu beranjak pergi ke kamarku.

Sesampainya di kamar aku melihatnya baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang menggulung tubuh putihnya.

“ah, mianhae, aku akan menunggu diluar..” ujarku seraya berbalik keluar kamar. Apa aku bisa tahan untuk tidak menyerangnya?

“oppa, aku selesai..” ucapnya membuka pintu.

Ia memakai baju terusan dibawah lutut. Mungkin ini akan membantuku..

“sudah malam, kau tidur saja, besok akan aku bangunkan..” ucapku sambil membawa bantal dan selimut ke sofa.

“kenapa oppa tidur disana?” tanyanya dengan polos. Tentu saja! Kau pikir aku kau akan aman kalau aku tidur satu ranjang denganmu?

“andwae, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi jagiya~” jawabku seraya mencium keningnya.

“ah ya, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku. Ia mengangguk.

“kenapa tiba-tiba kau ingin menginap disini?” tanyaku lagi.

“ani, aku hanya ingin lebih lama bersama oppa, besok aku ingin membolos sekolah saja..” jawabnya.

“waeyo?” tanyaku heran.

“gwaenchana, aku ingin kencan..” jawabnya lagi-lagi dengan tampang polos. Tolong jangan buat aku ingin memakanmu sekarang juga Ri Jung..

“kencan? Mendadak sekali..” gumamku pelan.

Tak terdengar lagi suaranya, ternyata ia sudah tertidur. Ia pasti lelah sekali seharian ini.

TBC

By: tyasung

8 thoughts on “Be Mine, Please? {Part 2 NC-17}

  1. Anyeongg..reader baru nih..;)
    keren!
    Lanjooott😀
    Yang part 3 nya jgn dprotected dongg..
    gue ntar gk bisa bacaa😦 *digebuk*

  2. Tepok jidat …. Baru jg happy pacaran. Eh hrs backstreet … Permasalahan ortu merembet ke anak … Aih … … YAK … Chansung … Msh sekolah … Dah yadong …. Aish … Trus ri jung malah dgn polos nya menantang chansung … Ngapain Coba nginap si rumah chansung ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s