Because, It’s You {Oneshot}

(Ji Hyun POV)

“Noona? Kau serius?” tanyaku tak percaya.

“Ya, aku serius. Aku mendengarnya bicara dengan Tunder oppa saat di lapangan sepak bola tadi.” Ujar Hyeri meyakinkanku.

“Tapi aku lebih muda dari Minho oppa. Bagaimana aku merebut hatinya bila ia mencintai seorang noona?” ujarku putus asa.

“Jangan menyerah Ji Hyun. Masih ada kesempatan selama ia belum memiliki seorang yeoja chingu.” Ujarnya padaku.

“Aya..!! kau ini. Kau sih enak, tak perlu menunggu, Tunder oppa sudah menyatakan perasaanya padamu.” Ujarku iri.

Wajah Hyeri pun bersemu merah. Ia mencubit kedua pipiku.

“Aigo…, kau ini. Tenang saja. Aku pasti akan menolongmu.” Ujarnya padaku.

“Benar ya! Jangan bohong.” Ujarku padanya.

“Ne, aku serius.” Ujarnya seraya menarikku keluar gerbang sekolah.

***********************************************

“Oppa..!!” ujarku sebal saat memasuki kamar Donghae oppa.

“Mwo?” jawabnya tak lepas dari komputernya.

“Mulai sekarang aku tak mau dijemput oppa atau diantar oppa.” Ujarku seraya menjatuhkan diriku diatas ranjang.

Oppa pun berbalik menghadapku. Alisnya berkerut. Ia pun menghampiriku dan menepuk punggungku.

“Hey, kau kenapa?” ujar oppa seraya merebahkan badannya disampingku.

Aku pun terduduk dan menatapnya. Kukeluarkan semua isi saku celanaku.

“Semuanya surat cinta. Dari semua wanita di sekolahku.” Ujarku sebal.

Oppa hanya menatap surat – surat itu seraya menggelengkan kepalanya dan menatapku.

“Oppa, semua ini yang selalu memenuhi lokerku setiap hari. Aku sudah bosan.” Ujarku seraya menutup wajahku dengan bantal.

Oppa mengambil surat itu satu persatu. Ia hanya membaca beberapa.

“Andai saja aku bukan adik oppa.” Ujarku dengan nada sebal.

Oppa pun menatapku. Dan menarikku ke peluknya.

“Hei, jangan bilang begitu. Oppa senang memiliki adik sepertimu.” Ujarnya seraya mengelus kepalaku.

“Tapi aku tak senang dengan semua surat untuk oppa.” Ujarku kesal.

“Aduh….. kau ini. Jangan-jangan kau iri karena tidak dapat surat sepertiku kan?” tanyanya dengan maksud bercanda.

Aku pun menatapnya dengan tatapan serius.

“Iya. Aku iri.” Ujarku ketus.

Oppa tampak kaget, seakan tak menyangka aku akan menjawab seperti itu padanya.

“Aku muak. Disekolah semua orang hanya membicarakan oppa. Semua memuja-muja oppa. Setiap aku mau mengambil baju olahragaku di loker sekolah, lokerku selalu penuh surat-surat tak penting. Disekolah aku selalu hidup sebagai bayang-bayang oppa. Aku tak mau hidup seperti itu. Aku juga mau mendapatkan surat seperti yang oppa selalu dapat. Aku ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Donghae.” Ujarku.

Belum sempat oppa bicara, dengan malas kutinggalkan ia sendiri di kamarnya.

******************************************************

“Uh, tak kusangka bahannya banyak sekali.” Ujarku kewalahan.

Aku pun berusaha berjalan secara perlahan agar tumpukan buku buku di tanganku tak jatuh berantakan. Dengan susah payah, aku berjalan mendekati meja. Tanpa sadar, tiba-tiba langkahku menjadi oleng sehingga aku pun jatuh. Tumpukan buku-buku itu mulai bergantian menjatuhi kepalaku seakan mengutukiku kenapa bisa membuat mereka terjatuh seperti itu. Kuusap kepalaku yang sakit. Dari bawah, bisa kulihat dengan jelas seseorang menghampiriku. Minho oppa. Aku terpesona menatapnya. Tak pernah aku mentap wajahnya sedekat itu. Tanpa banyak bicara, ia membantuku memunguti semua buku yang jatuh dan meletakkannya diatas meja. Ia pun menolongku berdiri.

“Gomawo.” Ujarku dengan wajah yang masih terpesona.

“Ne.” ujarnya dengan sunggingan senyum kecil dan berjalan keluar dari dalam perpustakaan.

Aku masih terkesima memandangnya. Aku selalu tahu kalau ia memiliki hati yang sangat lembut. Aku pun terduduk diatas bangku. Tanpa sadar aku menangis. Bukan tangis sedih, melainkan tangis bahagia. Saat itu aku sadar kalau aku begitu menyukainya. aku menyukai semua yang ada dalam dirinya. Walau semua orang membicarakan hal yang buruk mengenainya, aku tetap menyukainya karena aku tahu kalau ia orang yang sangat baik. Ia selalu menolong siapa saja tanpa harus menunggu perintah seperti yang tadi ia lakukan padaku.

“Ji Hyun? Kau kenapa?” Tanya seseorang dengan suara yang sangat kukenal.

“Hyeri.” Ujarku seraya memeluknya.

“Kau kenapa? Ada yang menjahilimu?” tanyanya saat melihat wajahku yang berair.

“Aku bahagia.” Ujarku senang.

Ia pun menatapku dan mengajakku duduk. Kuceritakan semua yang terjadi padaku tadi. Aku senang bukan main. Terlebih lagi wajah Hyeri yang berbinar sehingga membuatku semangat.

“Ya, ampun..!! kau pasti sangat bahagia.” Ujarnya senang.

“Iya. Itu pertama kalinya aku bicara padanya.” Ujarku girang.

“Aigo. Aku iri sekali. Aku ingin ada kisah manis antara aku dan Tunder oppa.” Ujarnya padaku.

“Hahaha. Aku benar-benar mati gaya tadi.” Ujarku padanya.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara ribut. Aku dan Hyeri pun melirik keluar begitupun dengan semua orang yang ada di perpustakaan. Lalu seseorang menghampiriku.

“Ji Hyun, ada yang mencarimu.” Ujar Jang Geun.

“siapa?” tanyaku bingung.

“Tak tahu, aku mau ke lapangan. Ia cantik sekali.” Ujarnya bergegas pergi.

Cantik? Aku tak mengerti. Aku menatap Hyeri yang tampak bingung juga. Aku dan hyeri pun bergegas ke lapangan. Disana sudah banyak orang berkerumun. Aku dan hyeri pun measuki kerumunan itu. Disana berdiri seorang wanita. Cantik sekali. Aku mendekatinya.

“Maaf?” ujarku.

Ia pun menoleh dan menatapku. Aku kenal orang ini namun tak yakin.

“Ji Hyun, kau lupa bekalmu.” Ujarnya seraya mendekatiku.

“Op..” belum sempat aku bicara, ia sudah menutup mulutku.

“Ah, mulutmu ada saus.” Ujar orang yang ternyata dia adalah Donghae oppa.

“Apa yang kau lakukan?” ujarku kaget.

Ia tersenyum padaku dan mengisyaratkanku agar diam. Aku tak tahu harus bagaimana. Mau marah, tapi aku tak marah. Mau sedih, apa yang harus kusedihkan? Mau tertawa, apa harus ditertawakan? Kutatap oppa dari ujung rambut hingga kaki.

“Maaf ya, oppa mu tak bisa mengantar bekalmu jadi aku yang mengantar.” Ujarnya seraya memeriku bekal.

Kutatap bekal pemberiaanya. Oppa bicara apa sih?

“Noona, apa benar kau pacar Donghae Hyung?’ Tanya seseorang.

“Ya, aku pacarnya. Kebetulan aku orang yang setia, aku pacarnya selama 2 tahun ini.” Ujarnya.

Beberapa gadis mengeluh mendengar jawaban oppa. Beberapa pria pun ikut mengeluh.

“Haerin noona!” ujar seseorang.

Haerin? Yang benar saja.

“Mungkinkah noona berpaling dari Donghae hyung?” tanyanya lagi.

“Tentu saja tidak.” Ujarnya seraya mengedipkan mata.

Terdengar suara keluhan yang riuh. Kurasakan badanku jadi lemas, namun aku tetap berdiri. Apa yang oppa pikirkan sih? Aku benar-benar tak mau disini. Aku pun mendengus nafas panjang. Kuisyaratkan agar oppa pergi dari sini.

“Sampai jumpa Ji Hyun.” Ujarnya manja.

Aku merinding dibuatnya. Aku pun menjauhi lapangan yang ternyata tak kusadari, seseorang sedang memperhatikanku dari kejauhan.

*****************************************************

“Ji Hyun-ah..!” pangil seseorang dari jauh.

Aku pun menoleh. Mustahil, ini tak mungkin terjadi.

“Ji Hyun-ah.” Ujar minho oppa seraya menghampiriku.

Aku tahu, aku pasti sedang bermimpi. Ya tuhan! Apabila ini hanya sebuah mimpi, maka aku tak ingin terbangun. Ia pun menyodorkan sepucuk surat merah muda padaku. Aku pun menerimanya.  Apa ini surat cinta? Untukku?  Aku benar-benar ingin memastikan kalau ini bukan hanya mimpi. Aku merasakan, rasa sukaku padanya sudah terjawab. Aku tersenyum kecil menatap surat itu.

“Tolong berikan pada Haerin noona.” Ujarnya.

Tunggu? Apa maksudnya?

“Apa?” ujarku berusaha memastikan.

“Tolong berikan surat ini pada Haerin noona.” Ujarnya tersenyum.

Jadi surat ini bukan untukku? Surat ditanganku yang seharusnya untukku ternyata bukan untukku melainkan Donghae oppa. Aku merasakan tubuhku melemas. Kuharap ini hanya mimpi.

“Tapi ia kan pacarnya Donghae oppa.” Ujarku.

“Aku tahu. Tapi aku tak bisa untuk tidak memikirkannya. Aku pasti akan membuatnya memilihku.” Ujarnya dengan senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya dan seharusnya senyum itu milikku, bukan milik oppa.

Ingin rasanya aku menangis, namun aku berusaha menahannya.

“Sudah ya. Aku ada urusan.” Ujarnya seraya meninggalkanku sendiri.

Saat ia pergi, aku baru bisa menangis. Aku tak mau jadi begini. Jika ada lubang disini, ingin rasanya aku masuk kedalamnya.

*************************************************************

Hari sudah gelap. Aku tahu, Donghae oppa pasti mencariku sekarang. Tapi aku tak mau bertemu dengannya. Aku tak mau bertemu dengan semuanya. Aku terduduk di kursi taman dengan masih mengenakan seragam. Aku sedih sekali. Orang yang kucintai malah menyukai oppaku yang tak jelas pria atau wanita. Ini semua gara-gara oppa. Sekarang aku harus melakukan apa? Jika aku terus terang pada Minho oppa, ia pasti akan membenciku. Tapi jika aku tidak jujur, bagaimana nasipku? Ini semua salah. Ah…. Kenapa semua ini harus menimpaku. Dari jauh, muncul sebuah motor mendekat. Sepertinya aku mengenal suaranya. Tapi aku tak peduli. Benar saja. Ia Donghae oppa.

“Ayo naik.” Ujarnya tampak marah.

Aku memalingkan wajahku darinya.

“Kau itu sudah membuat semua orang khawatir. Kubilang sekarang naik.” Ujarnya marah.

“Aku tak mau.” Ujarku ketus.

Ia pun turun dari motornya dan menarikku. Aku pun mulai menangis.

“Aku tak mau oppa.” Ujarku berusaha melepaskan cengkramannya yang kuat.

“kau kenapa sih? Selalu saja membuat masalah.” Ujarnya membentakku.

“Bukan aku yang membuat masalah. Melainkan oppa.” Ujarku marah.

Oppa terdiam mendengarnya. Ia terdiam menungguku berbicara.

“Ini semua gara-gara oppa! Kalau saja oppa tak datang ke sekolah siang ini.” Ujarku kesal.

“Loh, bukannya berterima kasih malah menyalahiku. Bukankah dengan begitu tak akan ada yang memasukan surat ke lokermu lagi?” ujarnya padaku dengan polos.

“Lebih dari itu! Minho oppa…!!” ujarku gusar.

“Minho? Orang yang sering kau bicarakan?” tanyanya.

“Ya! Sekarang ia menyukai oppa. Oppa membuatku menjadi bayang-bayang Haerin di mata Minho oppa. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Huh, aku benci oppa! Sekarang aku tak hanya dapat surat dari gadis di sekolah, sekarang aku akan dihujani surat-surat dari pria di sekolah termasuk Minho oppa.” Ujarku.

“Kau bicara apa sih?” ujarnya.

Aku pun melemparkan surat Minho oppa yang ada disaku bajuku. Donghae oppa pun membacanya. Ia tampak kaget. Tak menyangka ini akan terjadi.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku benci oppa.” Ujarku kesal.

Aku pun meninggalkannya dan memanggil taksi. Aku tak mau bertemu dengannya. Aku benci Donghae oppa.

*******************************************

Sudah 1 minggu aku tak bicara dengan Donghae oppa. Aku merasa ada yang kosong, ada yang hilang. Tapi aku masih marah padanya. Aku benci dengan perbuatannya saat itu. Hyeri bilang kalau maksud oppa padaku baik. Tapi akibatnya sekarang aku harus membalas setiap surat dari Minho oppa untuk Donghae oppa. Memang aku jadi dekat dengan Minho oppa, tapi aku tak mau dekat seperti ini. Lamunanku buyar saat umma memanggilku untuk makan malam. Aku pun turun dengan langkah lemas. Di dapur sudah ada Donghae oppa. Aku tahu ia mencuri pandang padaku, namun aku tak peduli. Aku masih marah padanya. Aku pun duduk di depan oppa. Umma memberiku semangkuk nasi. Kulahap makan malam itu dengan pelan dan dengan wajah yang menunduk.

“Ji Hyun…! Bisa kau ambilkan bulgogi itu untukku?” ujarnya berusaha mencairkan suasana.

Aku diam. Pura-pura tak mendengar. Ekspresi wajah umma dan appa berubah heran, namun aku masih tak peduli.

“Ji Hyun-ah…” ujar oppa berusaha mengalihkan perhatianku.

“Jangan bicara padaku.” Ujarku dingin.

Oppa pun menghela nafas panjang. Aku benar-benar tidak ingin berada di ruangan ini.

“Kalian kenapa sih? Berantem?” Tanya umma melihat tingkahku dan oppa.

Tak ada yang menjawab dariku ataupun oppa.

“Padahal dulu kalian akur sekali, kenapa sekarang jadi saling diam begini?” Tanya umma lagi.

Tak ada respon.

“Ah… sudahlah. Terserah kalian. Jika begini sifat kalian, bagaimana umma dan appa meninggalkan kalian selama 1 bulan?” ujar umma.

Aku langsung ingat. Besok appa dan umma akan pergi menemui nenek yang sedang dalam keadaan kritis.

“Aku tak tahu.” Ujar oppa lirih.

Aku menatap oppa secara perlahan. Aku jadi merasa tak enak pada umma dan appa.

“Aku sudah selesai.” Ujarku seraya meletakkan sumpitku dan berdiri dari bangkuku.

Aku pun melangkah lunglai menuju kamarku. Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidurku. Saat kulihat ponselku, ada pesan dari Minho oppa.

From : Minho

Ji Hyun..

Kau sedang apa?

To : Minho

Sedang tidak melakukan

apa-apa.

Oppa sendiri?

From : Minho

Tidak. Lupakan saja.

Apa kau sendirian?

To : Minho

Tidak, aku bersama Haerin unnie.

 

Entah mengapa aku menulis pesan seperti itu padanya.

From : Minho

Apa ia cantik sekali?

To : Minho

Cantik sekali oppa.

Lebih cantik dari yang waktu itu

Oppa lihat di sekolah.

From : Minho

Andai aku disana.

Apa ia membaca pesan ini?

To : Minho

Tidak,

Ia sedang menonton televisi.

Memang ada apa oppa?

From : Minho

Ah… syukurlah.

Aku ingin bicara langsung padanya.

Aku ingin menyatakan perasaanku

Langsung pada noona.

To : Minho

Oh, begitu.

From : Minho

Kau kenapa?

To : Minho

Tidak, hanya sedikit

Lelah saja.

From : Minho

Oh, begitu.

Kalau begitu lekaslah tidur.

Sampai jumpa esok pagi

Di sekolah.

Tidur nyenyak Ji Hyun-ah..

 

Rasanya aku ingin menangis membalasnya. Apa jadinya kisah cintaku ini. Harus terus berpura-pura seperti ini. Menyedihkan sekali. Aku pun melempar ponselku kesampingku. Aku benci semua ini. Sampai kapan akan terus begini?

**********************************

Untuk sekian kalinya aku sendiri duduk di kantin ini. Semenjak Hyeri memacari tunder oppa. Ia lebih suka menemaninya di lapangan sepak bola. Kuaduk makanan di depanku dengan asal.

“Kenapa kau sendiri? Mana temanmu?” Tanya Minho oppa tiba-tiba dari depanku.

“Ah, tidak. Ia sedang ada urusan.” Ujarku padanya.

“Oh, begitu.” Ujarnya seraya menyeka keringatnya.

Aku senang melihat tubuh oppa yang penuh keringat. Memberi kesan bahwa ia pria yang sangat aktif. Apabila dibawah sorot cahaya, akan terlihat seperti bulir-bulir permata.

“Boleh aku minta minummu?” ujarnya.

Kusodorkan botol minumanku padanya. Kutatap ia yang sedang minum. Andai aku kekasihnya, aku akan selalu disampingnya untuk memberikannya minuman yang segar setiap ia butuh.

“Apa semalam tidurmu nyenyak?” tanyanya.

“Cukup oppa. Aku sudah cukup segar sekarang.” Ujarku walau sebenarnya semalaman penuh aku tak bisa tidur karena memikirkan minho oppa.

“Syukurlah. Anak kecil sepertimu tak pantas tidur larut.” Ujarnya seraya menyunggingkan senyumnya padaku.

Aku membalas senyumnya.

“Bagaimana hubungan Haerin noona dan Donghae hyung?” tanyanya padaku.

Membuatku kehilangan semua moodku.

“Ah, hubungan mereka baik-baik saja.” Ujarku.

“Sudah kau berikan pemberianku yang kubelikan untuknya?” tanyanya.

“Sudah oppa.” Ujarku seraya melirik tasku sesekali.

“Apa ia menyukainya?” tanyanya.

“Sangat oppa. Ia langsung memakainya.” Ujarku.

“Oh begitu. Kalau begitu aku harus lebih sering mengiriminya puisi.” Ujarnya bersemangat.

“Untuk apa?’ ujarku dengan rasa cemas yang ditahan.

“Agar ia bisa merasakan perasaanku dan meninggalkan hyungmu itu.” Ujarnya polos.

Aku tersenyum simpul padanya.

“Hwaiting oppa.” Ujarku dengan nada semangat yang dipaksakan.

“Ne, aku akan berjuang.” Ujarnya semangat.

Andai aku punya keberanian untuk bilang yang sejujurnya. Pasti ini tak akan terjadi. Tapi aku ini memang pengecut. Aku tak punya keberanian untuk bicara yang sesungguhnya padanya. Aku takut oppa akan membenciku.

“Ayo ikut aku ke lapangan. Daripada kau sendiri disini.” Ujarnya seraya mengulurkan tangannya padaku.

Aku menerima ulurannya. Ia menarikku kearah lapangan. Andai aku bisa terus memegangnya seperti ini. Pasti akan sangat membahagiakan. Aku pun duduk di sebelah Hyeri. Hyeri tampak semangat sekali menyemangati tuder oppa. Aku tak tahu, apa aku harus semangat juga menyemangati Minho oppa? 15 menit pun berlalu. Minho oppa dan tunder oppa menghampiri kami. Hyeri begitu mesra pada tunder oppa. Melap keringatnya, meberinya minum. Aku merasa iri. Aku juga ingin melakukannya pada Minho oppa.

“Bagaimana permainanku tadi?” Tanya oppa.

“Tak buruk.” Ujarku mengajaknya bercanda.

“Apa maksudmu anak kecil?” ujarnya seraya mengacak rambutku.

“Hahaha. Tidak oppa. Permainanmu sempurna sekali.” Ujarku padanya.

“Apa Noona akan suka permainanku?” tanyanya.

“Haerin noona?” tanyaku memastikan.

“Siapa lagi?” ujarnya seraya duduk di sebelahku.

Aku tersenyum padanya.

“Dia akan sangat menyukainya oppa.” Ujarku berusaha seriang mungkin, walau dalam hati aku ingin sekali menangis.

“Begitu ya.” Ujarnya.

“Ji Hyun, ada oppamu.” Ujar Hyeri tiba-tiba.

Aku pun menoleh. Benar.

“Biarkan saja.” Ujarku datar.

“Hei, jangan begitu. Siapa tahu ada hal penting.” Ujar hyeri seraya memandangku.

“Aku tak ingin bertemu dengannya.” Ujarku ketus.

“Kau sedang berantem dengan Donghae Hyung?” Tanya Minho oppa padaku.

Aku hanya diam menunduk. Tak sanggup memandangnya.

“Temuilah dia. Dia kan oppamu. Jika terjadi sesuatu. Aku akan melindungimu.” Ujar Minho oppa lembut.

Sebenarnya aku tidak mau. Tapi karena Minho oppa yang bilang begitu, apa boleh buat. Dengan malas aku menghampiri Donghae oppa yang berdiri di bawah pohon. Aku pun menghindari kontak mata padanya.

“Mau apa oppa kemari?” tanyaku.

“Untuk menyelesaikan semua masalahmu.” Ujarnya.

“Masalahku? Peduli apa oppa terhadapku?” tanyaku ketus.

“Hei, Ji Hyun. Tidak sadarkah kalau sekarang kita menjauh? Kau adikku satu-satunya dan aku ini kakakmu. Aku orang pertama yang akan menolongmu.” Ujarnya padaku.

“Menolongku? Cukup oppa. Aku tak mau oppa bantu aku lagi walau aku harus mengorbankan diriku. Kau tak pernah membantu.” Ujarku.

“Hei, aku tahu kau mencintai Minho. Biar aku bantu bicara padanya agar semua jelas.” Ujarnya.

“Kau tak tahu apa-apa oppa. Yang kau tahu hanya membuat masalah baru dalam hidupku.” Ujarku ketus.

“Ji Hyun, karena aku paham perasaanmu. Biarkan oppa membantumu.” Ujarnya.

“Kau tak tahu apa-apa tentang perasaaku. Perasaan sakitku maupun perasaan sedihku. Kau tak tahu perasaanku pada Minho oppa.” Ujarku mulai gusar.

Oppa menatapku. Dingin sekali. Seakan akulah yang tak mengerti kondisinya.

“Biar aku yang jelaskan padanya.” Ujarnya seraya berjalan menuju lapangan sepak bola.

“Tidak oppa. Cukup jangan tambah masalah baru lagi dalam hidupku.” Ujarku seraya menariknya kembali.

Aku tak mau Minho oppa membenciku. Jika kubiarkan Donghae oppa bicara, sama saja membuat aku bermusuhan dengan Minho oppa.

“Kau tahu bila kau bicara dengannya akan menimbulkan masalah baru dengannya. Aku tak mau Minho oppa membenciku. Aku senang dengan kedekatanku dengan Minho oppa sekarang.” Ujarku.

“Kedekatan seperti ini? Kedekatan yang membuat hatimu menjerit? Kenapa sih kau tidak jujur saja padanya dan membiarkan aku bicara padanya?” Tanya oppa.

“Karena aku tak mau Minho oppa tahu kalau kau adalah Haerin!” ujarku gusar.

“Apa Donghae hyung adalah Haerin?” ujar seseorang dari belakangku.

Aku pun menoleh dengan takut. Minho oppa. Wajahnya tampak kaget. Aku berjalan pelan mendekatinya. Aku mencoba menyentuh tangannya. Namu ia menepisnya.

“Apa benar dia haerin?” tanyanya.

Aku hanya diam. Aku mulai menangis.

“Apa dia selama ini Haerin?” Tanya Minho lagi dengan nada yang lebih tinggi.

“Mianhae, oppa.” Ujarku lirih.

Minho oppa memandangku dengan tatapan yang tak kutahu apa artinya. Semua yang kutakutkan terjadi sekarang. Ia membenciku. Minho oppa pun berbalik dan meninggalkanku sekarang. Bagus! Sekarang tak ada artinya lagi aku hidup. Aku pun berbalik menatap Donghae oppa.

“Aku benci padamu.” Ujarku seraya berlari meninggalkannya sendiri.

************************************

Sekarang tak ada lagi alasan bagiku untuk kesekolah. Semangatku ke sekolah sudah tak ada. Minho oppa sudah benar-benar membenciku. Ia benar-benar menghindariku. Ia selalu menjauh dariku. Bahkan membuang muka dariku. Aku merasa sakit hati sekali. Hyeri selalu berusaha menyemangatiku. Tapi apa dayaku? Aku sudah tak punya semangat. Dirumah pun aku tak punya teman lagi. Donghae oppa menjadi segan terhadapku. Aku bingung harus melakukan apa. Hyeri pun menghampiriku. Ia merangkulku.

“Hei, sudahlah. Jangan murung terus.” Ujarnya padaku.

Aku akhirnya menangis lagi dirangkulannya untuk yang kesekian kalinya. Aku tak bisa menahan air mata ini lagi.

“Ya ampun. Kok nangis lagi sih?” ujar Hyeri seraya membeli rambutku.

“Aku mau pulang.” Ujarku.

“Jangan begitu. Kita ke kantin ya. Kita duduk di tempat biasa.” Ujarnya.

Aku pun mengangguk pelan. Dengan mata yang sebam. Aku berjalan lunglai kearah kantin sambil terus memegang erat tangan Hyeri yang berjalan di depanku. Saat aku dan hyeri menuju tempat favorit kami di kantin. Kulihat Minho oppa sedang duduk disana. Sendiri seraya memakan makannya. Langkahku pun terhenti. Biasanya aku yang duduk disana. Menemaninya saat ia sedang kelaparan dan mendengarkan curhatannya. Aku rindu duduk bersamanya. Aku juga rindu mendengar ceritanya. Aku juga rindu belaiannya saat kuajak ia bercanda. Aku rindu semua yang ada dalam dirinya. Tiba-tiba, minho oppa menyadari keberadaanku. Ia menatapku. Aku hanya bisa menunduk. Ia pun bangkit dari duduknya dan mulai berjalan pergi. Aku tak mau ia pergi. Aku mau ia ada disini. Aku tak peduli ia benci padaku atau tidak, yang penting perasaanku padanya tak berubah. Tubuhku pun melemas. Pandangnku menjadi buram. Kurasakan tubuhku jatuh kebawah. Bisa kudengar suara Hyeri yang panik. Sesaat kemudian kurasakan tubuhku terangkat dan aku tak ingat apa-apa lagi.

******************************************************

kubuka mataku dengan perlahan.

dimana aku?” tanyaku dalam hati.

Sepertinya aku ada di dalam uks. Aroma khas yang sangat kukenal. Aku pun dduk di ranjangku. Kupegang kepalaku yang pening. Saat aku menoleh ke kanan. Disana sudah adaseseorang. Seseorang yang sangat kukenal dan kurindukan keberadaannya. Minho oppa. Ia tertidur. Disampingku. Tangannya memegang kertas. Kuambil kertas itu dengan pelan. Isinya puisi. Susunan kata yang indah dan rapi. Buatan Minho oppa. Dan aku tak percaya kalau puisi itu ditujukan padaku. Ingin menangis aku rasanya. Tapi aku coba menahannya. Kugenggam puisi itu dengan erat. Aku memang benar menyukai Minho oppa.

“Kau sudah bagun.” Ujar Minho oppa tiba-tiba.

Aku hanya bisa menunduk. Tak berani menatap matanya.

“Tampaknya tak ada lagi yang harus kulakukan disini.” Ujarnya seraya berjalan pergi.

Tunggu. Aku tak mau ini terjadi lagi.

“Oppa, jamkkanman..!” ujarku padanya.

Langkahnya pun terhenti ia menoleh padaku.

“Mungkin sudah terlambat bagiku untuk mengatakannya. Tapi, aku memang harus mengatakannya. Mianhae oppa. Jeongmal mianhae. Mungkin oppa selalu bertanya kenapa aku tega berbohong pada oppa. Tapi aku ingin oppa tahu kalau aku berbohong karena aku tak ingin oppa membenciku. Aku begitu menyukai oppa saat itu. Dan sampai saat ini pun perasaanku tak berubah. Mianhae oppa. Sarangheyo.” Ujarku.

Akhirnya kata-kata itu keluar juga. Setelah sekian lama kupendam sendiri. Minho oppa pun mendekat padaku.

“Harusnya aku yang minta maaf padamu. Aku tak tahu mengapa saat itu aku marah padamu. Setiap kali aku membuat pusisi untuk Haerin, yang terbayang hanya wajahmu. Saat itu aku merasa ada yang aneh. Tapi, saat aku tak bicara lagi denganmu. Kurasa ada yang hilang dari dalam diriku. Dari situ aku menyadari kalau yang kusukai bukanlah Haerin melainkan dirimu. Akuu Cuma tak jujur saja pada diriku sendiri. Maafkan aku Ji Hyun. Jeongmal Mianhae.” Ujarnya.

Aku merasakan telah bangun dari mimpi yang panjang. Aku merasa semua keresahanku terjawab sudah.

“Maukah kau memaafkanku?” tanyanya.

“Cuma oppa, orang yang membuatku tak bisa marah. Tapi kupikir oppa menyukai seorang noona?” tanyaku padanya.

“Memang. Tipe idealku seorang noona. Tapi bukanlah dari fisik semata, melainkan hati. Aku mengidamkan gadis yang bersifat dewasa karena aku ini cukup kekanakan. Dan kurasa itu adalah kamu.” Ujarnya.

“apakah itu artinya…” ujarku tak sanggup melanjutkan lagi.

“Ya, aku mau kau menjadi Yeoja chingu untukku.” Ujarnya.

Aku senang sekali. Kupeluk badannya yang tinggi. Sekarang tak ada yang kutakutkan lagi. Aku merasa masalahku sudah hilang terbawa angin. Aku sangat senang sekali.

“Oppa maukah kau mengantarkanku pulang sekarang?” tanyaku.

“Apa ada sesuatu?” tanyanya.

“Ya. Aku mau berterima kasih pada seseorang dirumah.” Ujarku pelan.

The End

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s