Be Mine, Please? {Part 1}

Ri Jung’s POV

Kyaaaaa… teriakku dan para siswi lainnya saat melihat bintang sekolah kami yaitu Hwang Chansung memasuki gerbang sekolah. Entah sejak kapan, berdiri bersama segerombolan siswi didepan gerbang sekolah setiap pagi menjadi kebiasaanku.

“Yak! Ri Jung ah~ apa kau tidak lelah selalu berdiri di tempat itu setiap pagi?” tanya Chan Ji saat kami berjalan menuju kelas.

“Mwo? Lelah? Tidak ada kata lelah untuk memuja seorang Hwang Chansung” jawabku dengan mata berbinar-binar.

Aku adalah siswi kelas 2 di Seoul American High School. Hwang Chansung adalah sunbaeku, dengan susah payah aku belajar dengan giat dan akhirnya aku berhasil masuk sekolah ini (T.T) selain untuk memenuhi permintaan orang tuaku, juga untuk mengejar Chansung oppa.

Bel istirahat berbunyi, aku dan teman-temanku langsung menuju kantin untuk mengisi perut kami yang sudah sangat kosong. Pelajaran fisika barusan sangat menguras tenaga ==’

“Ah!” seseorang menabrakku dan aku jatuh ke lantai.

“Agassi, gwaenchana?” tanya orang yang menabrakku sambil mengulurkan tangannya.

“Kalau jalan lihat-lihat dong!” jawabku marah tanpa melihat orang itu.

“Ah, mianhaeyo agassi..” aku mengangkat kepalaku dan menyadari siapa yang sedang berbicara padaku. Hwang Chansung.

Aku langsung berdiri dan refleks memeluknya.

“Hei, ada apa dengan gadis ini?” tanya seorang laki-laki yang sedari tadi berdiri disebelah Chansung, Taecyeon teman dekat Chansung.

“Molla..” jawab Chansung.

“Ri Jung ah~ sudahlah, ayo kita pergi ke kantin” ucap Seo Chan menarik tanganku.

“Oppa~ saranghaeyooo~~” kataku yang sudah melepaskan pelukanku.

“Naddo saranghaeyo agassi..” jawabnya berlalu pergi.

~~~

“Kalian dengar barusan? Chansung oppa membalas perasaanku!” ucapku antusias saat berada di kantin.

Teman-temanku hanya diam memperhatikanku.

“Kau tau, ia selalu berkata seperti itu ke setiap perempuan” jawab Min Young yang membuyarkan kesenanganku.

“Yak! Min Young, kau tidak bisa melihatku senang sedikit?” protesku. Tapi apa yang dikatakan Min Young benar, Chansung oppa memang terkenal playboy disekolah ini.

“Yak! Cepat habiskan makanan kalian! Nanti keburu bel” perintah Ri Ra yang sudah muak dengan perdebatan kami.

“Aku akan bertekad untuk membuat Chansung oppa menyukaiku! Mulai besok aku akan membuatkannya bekal” ucapku bersemangat.

Keesokkan harinya..

“Kau mau kemana Ri Jung?” tanya Chan Ji saat melihatku terburu-buru keluar kelas saat bel istirahat.

Aku mengangkat kotak bekal yang ada di tanganku. “Tentu saja memberikan ini”

Jantungku berdebar sangat kencang, aku tau kalau perbuatanku ini sangatlah nekat. Terlihat banyak tatapan yang memandangku tidak suka saat aku memasuki kelas Chansung oppa, tepatnya tatapan membunuh.

“Oppa..” aku memberanikan diri untuk memanggilnya yang sedang berkumpul dengan Taecyeon dan Nickhun oppa.

“Ah, ada apa agassi?” jawabnya dengan santai.

“A..aku hanya ingin memberikan ini..” ucapku terbata-bata karena pasti wajahku sudah sangat memerah (*//////*)

“Untukku? Gomawoyo agassi~” ucapnya. Aku hanya mengangguk dan berbalik lalu pergi.

~~~

Aku senang sekali karena Chansung oppa mau menerima bekal pemberianku. Aku bangun pagi sekali untuk membuat bekal lagi.

Entah karena terlalu bersemangat atau apa aku sampai di sekolah sangat pagi, sekolahpun masih sangat sepi.

Sesampainya dikelas aku sangat terkejut melihat meja dan kursiku yang sudah berantakan. Ada apa ini?

Aku membalikkan mejaku, aku kembali dikejutkan oleh tulisan yang ada di mejaku.

JAUHI HWANG CHANSUNG ATAU KAMI AKAN BERTINDAK!!

Haah, ini pasti ulah siswi-siswi yang melihatku ke kelas Chansung oppa kemarin. Aku merapihkan posisi meja dan bangkuku dan bergegas ke ruang perlengkapan untuk mengambil lap dan membersihkan mejaku.

“Haah, akhirnya bersih juga..” ucapku puas melihat mejaku yang sudah kembali kinclong.

“Jangan harap dengan ulah mereka ini aku akan mengurungkan niatku untuk mendapatkan Chansung oppa!” gumamku dalam hati.

Tidak terasa bel masukpun berbunyi dan murid-mrid mulai berhamburan memasuki kelas masing-masing. Sebenarnya aku sangat tidak sabar menunggu bel istirahat.

“Ri Jung-ssi, kau terlihat sangat gelisah, ada apa?” tanya Ri Ra teman sebangkuku.

“Aku tidak sabar untuk bertemu Chansung oppa jam istirahat nanti” jawabku yang tak henti-hentinya melihat jam tanganku.

“Mwoya? Apa kau tidak kapok dengan ancaman teman-teman wanitanya?” tanyanya tidak percaya. Aku memang hanya menceritakan masalah tadi pagi dengan Ri Ra saja.

“Aniyo..” jawabku singkat dengan percaya diri penuh.

TEEEEEEEEEEEEEET~

Akhirnya bel yang tunggu datang juga \(^o^)/

“Ri Jung ah~ apa kau serius?” tanya Ri Ra memastikan.

“Yak! Kenapa kau terus meragukanku?!” ucapku dan berlalu pergi.

~~~

Chansung’s POV

Perempuan itu datang lagi. Aaiissh sebenarnya apa maunya? Tapi aku ingin tau sampai kapan ia berhasil bertahan.

“Oppa! Aku datang lagi, aku membawakan ini..” ia datang menghampiriku dengan sekotak bekal ditangannya.

“Aigoo, ternyata agassimu datang lagi..” potong Nichkhun menggodanya.

“Haaaissh sudahlah. Gomawoyo agassi.. sepertinya aku belum tau namamu?” tanyaku menggodanya.

“Aku Shin Ri Jung” jawabnya malu, aku tau mukanya sudah memerah seperti tomat.

“Ah, Ri Jung-ssi.. apa kau menyukaiku?” godaku.

“a..a..ne! aku menyukaimu oppa..” jawabnya terbata-bata. Dengan wajah yang sangat merah.

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET~

“Ah, aku pergi dulu oppa” pamitnya dan berlari kecil menjauh.

“Kau menyukainya?” tanya Taecyeon menggodaku.

“Aniyo, aku hanya ingin tau berapa lama ia akan bertahan” jawabku.

Keesokkan harinya aku melihat orang-orang berkumpul didepan mading. Ada apa ini?

“Gadis ini? Ri Jung?” aku melihat fotonya dipajang di mading. Ia terlihat sangat buruk disana, sekujur tubuhnya basah dan penuh tepung.

Ternyata ia sudah kena serangan pertama. Aku yakin hari ini dia tidak akan datang lagi padaku.

Aku masih tidak percaya, ternyata nyali gadis ini sangatlah besar, ia masih berani mendatangiku di kantin. Dan esoknya ada berita baru lagi tentangnya di mading. Tapi ia sama sekali tidak pernah menyerah. Setiap hari ia tetap datang membawakanku bekal, yang sama sekali tidak pernah aku makan. Kadang aku membuangnya atau aku memberikannya pada orang lain.

“Hei Chansung, kemana agassimu? Tumben sekali hari ini dia tidak datang” tanya Nichkhun menggodaku.

Aku memang heran sekali mengapa ia belum mendatangiku hari ini. Hah? Ada apa denganku? Aku rasa aku merindukannya.

Pikiranku menentangku untuk mencarinya, tapi kakiku membawaku ke kelasnya.

Aku heran saat semua mata siswa di kelas melihatku dengan tatapan benci. Ada apa ini?

“Yak! Chansung sunbae! Apa yang mau kau lakukan disini? Apa kau belum puas dengan apa yang sudah menimpa Ri Jung?!” tanya seorang siswa yang setauku adalah teman dekat Ri Jung.

“Mworago? Aku sama sekali tidak tau apa yang terjadi padanya” jawabku jujur.

Siswa yang barusan meneriakiku langsung beranjak dari tempat duduknya dan menarikku keluar kelas.

“Kau bilang mworago? Apa teman-teman wanitamu tidak cerita padamu?” aku hanya menggeleng.

“Hari pertama Ri Jung memberimu bekal mereka sudah menulis ancaman di mejanya. Dan ancaman itu tidak ia hiraukan karena kau terus menggodanya dan membuat ia berharap lebih. Hari selanjutnya ia mendapatkan ‘surprise’ lemparan telur dan tepung. Apa kau tidak melihat fotonya di mading? Dengan foto itu Ri Jung menderita 2x lipat..”

“Arasseo aku melihatnya, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa ia akan terus berani menemuiku..” ucapku memotong.

“Lalu kenapa hari ini ia tidak masuk kesekolah?” tanyaku pada Kim Ri Ra, itu yang aku baca di bet nama yang ada di seragamnya.

“Saat Ri Jung selesai piket kelas, teman-teman wanitamu mencegatnya di gerbang dan entah apa yang mereka lakukan sampai Ri Jung meneleponku memintaku untuk menjemputnya dikamar mandi sekolah dengan baju yang sudah basah kuyup dan memar di sekujur bandannya. Memang aku tau Ri Jung bukanlah orang yang gampang menyerah, tapi kalau kau dari awal tidak memberinya harapan, ia tak akan seperti ini!” jelasnya dengan amarah yang jelas terlihat di wajahnya.

“Mianhae, awalnya aku memang ingin mempermainkannya, tapi belakangan ini aku baru menyadari bahwa aku membutuhkannya..” ucapku menyesal.

PLAAK

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kiriku.

“Jeongmal mianhae!” kataku lagi meyakinkannya.

“Jangan meminta maaf denganku!” jawabnya beranjak pergi.

“Baiklah, aku minta alamat rumahnya, aku akan meminta maaf padanya” ucapku menghentikan langakahnya.

“Shireo!” jawabnya menepis tanganku.

“Jebal, tolong aku, aku belum pernah merasa menyesal seperti ini selama bermain dengan wanita” pintaku lagi.

“Geurae.. tolong jangan lukai dia lagi” jawabnya menyerah dan aku hanya menjawab denga sebuah anggukan pasti.

~~~

TING TONG~

Aku menekan bel rumahnya.

“Ne..” seorang gadis berbaju piyama membukakan pintu.

“Ri Jung?” sapaku saat melihatnya.

“Oppa?! Apa yang oppa lakukan disini?” tanyanya kaget melihat kedatanganku. Ah, aku melihat memar di ujung bibirnya.

Aku menerobos masuk kerumahnya, memang sangatlah tidak sopan, tapi mungkin ini satu-satunya cara untuk berbicara dengannya.

“Ada apa oppa?” tanyanya lagi.

Aku menunduk di depannya. “Mianhae..”

“Untuk apa?” tanyanya bingung.

“Untuk semua yang telah kau terima, apa itu sakit?” tanyaku mengulurkan tanganku menyentuh ujung bibirnya.

“Gwaenchana, aku tidak apa” jawabnya menghindar.

“Tidak apa? Kau tidak masuk sekolah hari ini dan..”

“Aku hanya demam, dan memar ini aku dapatkan saat aku jatuh dari tempat tidur” potongnya, dan aku tau dia bohong.

“Hari ini aku menunggu bekalmu..” ujarku masih dalam posisi yang sama.

“Bekal? Untuk kau buang lagi?” aku sangat terkejut mendengarnya, pasti para pelacur itu yang memberitahunya.

“Aniyo, itu tidak seperti yang kau pikirkan Ri Jung ah~..”

“Lalu apa?! Sudahlah, aku sudah memaafkanmu, dan anggap saja kita tidak saling mengenal. Silahkan sunbae, banyak sekali wanita yang menunggumu” ia memanggilku sunbae? Hal itu terdengar sangat asing ditelingaku. Ia mendorongku keluar dan menutup pintu, aku melihat air mata yang mulai membasahi matanya.

“Ri Jung ah~ jeongmal mianhae!!” teriakku dari balik pintu. Aku tidak mendengar jawabannya dan beranjak pergi.

Keesokan harinya..

Aku senang melihatnya masuk sekolah lagi, tapi tetap tidak ada bekal darinya, saat kami berpapasan ia tak memandangku sedikitpun. Aku rindu suara cemprengnya yang selalu meneriakkan namaku, aku rindu tawanya dan wajah merahnya saat ia tersipu malu.

~~~

Ri Jung’s POV

Kira-kira sudah 2 minggu aku tidak mengunjunginya. Cukup sulit bagiku untuk tidak menyapanya. Tapi aku akan berusaha menerima kenyataan bahwa aku berbeda dengannya.

“Kau Ri Jung?” sapa seseorang di belakangku.

“Ne, ada apa?” tanyaku saat aku tau Nichkhun sunbae yang memanggilku.

“Boleh aku minta waktumu sebentar?” aku berpikir sejenak sebelum mengiyakannya.

Aku mengikutinya berjalan kearah belakang gedung sekolah yang biasa sepi disaat jam istirahat.

“Ada yang ingin aku tanyakan” ujar Nichkhun sunbae membuka pembicaraan.

“Ne, apa itu?” tanyaku yang sudah tidak sabar ingin segera kembali bersama teman-temanku.

“Apa kau dan Chansung sedang bermasalah?” pertanyaannya barusan cukup membuatku kaget.

“Mwo? Masalah? Setauku kami tidak punya masalah” jawabku berbohong.

“Jinjja? Aku dan Taec sangat bingung dengan kelakuannya belakangan ini, Hye Na bilang semua tingkah anehnya karena kau” Hye Na? Setauku dia adalah mantan pacar Chansung oppa, dia juga yang mengunciku di kamar mandi sekolah.

“Ri Jung ah~?” panggil Khun sunbae menyadarkanku dari lamunanku. Refleks aku menoleh kearanhnya.

“Jujur, kami belum pernah melihat Chansung seperti ini. Kami tau ia sering mempermainkan wanita dan setelah bosan ia akan membuangnya. Tapi sepertinya kau berbeda” jelasnya.

“Hahaha, apa sunbae bercanda? Aku wanita dan ia juga mempermainkanku, lalu apa bedanya?” tanyaku.

“Tentu kau berbeda, setiap kami berpapasan denganmu, ia tiba-tiba marah dan pergi, aku rasa ia mengaharapkan sapaanmu. Setiap jam istirahat saat kami mengajaknya ke kantin ia selalu menolak dan bilang ingin menunggu bekalmu..”

“Tapi ia tidak pernah memakan bekalku!” potongku yang masih berusaha menahan emosiku.

“Memang, tapi 2 hari sebelum kau berhenti memberikannya bekal, ia selalu memakannya” jawabnya.

Aku sempat terdiam tak percaya. “Jinjja?”

“Ye, sepertinya Hwang Chansung telah berubah” jawabnya sambil beranjak pergi saat mendengar bel tanda waktu istirahat berakhir.

Aku yang masih kepikiran oleh perkataan Khun sunbae tadi tidak bisa konsentrasi pada pelajaran. Akhirnya aku meminta izin meninggalkan kelas dengan alasan tidak enak badan.

Aku berjalan dengan langkah gontai menuju ruang UKS, sebenarnya aku sangat ingin pulang, tapi berhasil meminta izin pada jam pelajaran saja sudah bersyukur rasanya.

“Permisi..” ucapku saat aku membuka pintu ruang UKS yang ternyata sedang kosong.

Syukurlah, dengan begini aku tidak akan ditanyai hal macam-macam oleh perawat disini.

Aku terkejut saat membuka tirai tempat tidur pertama, wajah tampannya sangat terlihat saat ia tertidur lelap. Keterkejutanku bertambah saat aku merasakan ada yang memegang tanganku.

“Ah, mianhae, apa aku membangunkanmu?” ucapku refleks menarik tanganku.

“Ri Jung? Aku senang kau datang. Bogoshipoyo” jawab Chansung oppa.

Saat itu seharusnya aku langsung pergi meningglakannya, tapi aku mengingkari janjiku untuk tidak berhubungan lagi dengannya.

“Tolong dengarkan aku” ucapnya bangun dari tidurnya.

Aku hanya diam memandangnya, menunggunya untuk bicara. Sungguh aku tidak bisa menahan ketampanannya.

“Mianhae, saranghaeyo..” aku sangat dibuat terkejut oleh apa yang ia katakan barusan.

“Oppa pasti bercandakan? Tidak mungkin oppa menyukai orang biasa seperti aku” jawabku sambil berbalik ingin meningglakan tempat itu.

Ia menarik tanganku dan memelukku, aku merasakan detak jantungnya yang sudah tidak beraturan menyamai detak jantungku.

“Aku serius Ri Jung ah~ kau beda dengan perempuan lain. Soal Hye Na dan teman-temannya, aku sudah memperingatinya agar menjauh darimu dan tidak mengganggumu lagi” jelasnya. Perasaanku melunak saat mendengarnya.

“Naddo saranghaeyo oppa, tapi..” ucapanku terhenti karena bibirnya telah mendarat dibibirku.

“Oppa..! hentikan, bagaimana nanti kalau ada yang datang?” sambungku saat berhasil melepaskan ciumannya.

“Tidak akan ada yang datang, ini masih jam pelajaran. Lagipula tadi perawatnya pulang karena ada urusan. Itu sebabnya aku leluasa membolos jam pelajaran hahaha” jawabnya dengan senyum puas.

“Aku kan belum menerimamu! Kenapa kau seenaknya mengambil ciuman pertamaku?!” kataku marah.

“Mwo? Tapikan tadi kau bilang kau juga menyukaiku?!” protesnya.

“Yak Hwang Chansung! Aku memang menyukaimu, tapi bukan berarti aku mau menjadi pacarmu! Aku harus beribu-ribu kali berpikir untuk menjadi pacarmu dengan resiko yang akan aku terima nanti!” protesku tak mau kalah dengannya.

“Apa semenderita itukah kau jagiya? Mianhae aku tidak tau” mukaku memerah saat ia memanggilku jagiya.

“Ah, bagaimana kalau kita berpacaran diam-diam. Jadi selama disekolah kita bersikap biasa, tapi setiap pulang sekolah kita bebas melakukan apapun” lanjutnya.

“Apa kau bisa menjamin keselamatanku?” tanyaku menggodanya.

“Tentu saja, karena kau adalah agassiku. Apa kau mau menerimaku agassi?” aku berpikir sejenak, “Baiklah..” ucapku akhirnya.

“Gomapta jagiya~” jawabnya kembali memelukku.

Aku membalas pelukannya.

TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET~

Tidak terasa bel pulang sekolah berbunyi.

“Aku harus kembali kekelas sebelum teman-temanku menemukanku disini” ucapku melepaskan pelukannya.

“Geurae, aku akan menunggumu di gerbang belakang sekolah, arachi?” ucapnya sembari mencium keningku. Wajahkuuuuu~ (>///////////<)

“Arasseo!” jawabku sambil berlari meninggalkannya.

~~~

Chansung’s POV

“Hey ada apa dengan teman kita yang satu ini?” tanya Taec yang bingung melihatku senyum-senyum sendiri dari tadi.

“Aigoo~ pasti ada wanita yang sudah menerimanya~” tambah Nichkhun menggodaku.

“Ha? Ah, ani, ani.. tidak ada hubungannya dengan wanita” jawabku gugup.

Mereka hanya tertawa mendengar jawabanku dan pergi keluar kelas.

“Haah, untung saja mereka percaya..” gumamku pelan.

Aku menunggunya di gerbang belakang sekolah, “aiish, lama sekali anak itu”

“oppa! Mianhaeyo, apa kau sudah lama menunggu?” sapanya yang baru datang.

Aku tidak menjawab dan langsung menariknya ke tempat aku parkirkan Ninja hitamku.

“cepat naik!” perintahku dan ia hanya menuruh. Haha lucu sekali, aku akan terus berpura-pura marah. (^o^)

“oppa, kita mau kemana? Arah rumahku kan ke kanan?” tanyanya saat aku membelokkan motorku berlawanan arah.

“kau diam saja dan peganganlah yang erat!” ia hanya diam dan mengeratkan pegangannya di pinggangku.

“sungai Han?! Kenapa oppa mengajakku kesini?” tanyanya seperti tidak suka.

“waeyo? Kau tidak suka?” tanyaku balik.

“aku suka oppa, tapi tidak dari atas sini!” protesnya karena aku memberhentikan motorku dijembatan Olympic.

“apa kita bisa turun sekarang? Aku takut ketinggian..” sambungnya dengan wajah yang mulai pucat.

“jinjja? Ppalli, aku tidak tau kau takut ketinggian Ri Jung ah mianhaeyo” ucapku menyesal.

Ia langsung menaiki motorku dan aku mengendarai motorku ke bawah jembatan.

“minum ini, apa kau sudah merasa baikan sekarang?” tanyaku memberikannya sebotol air mineral.

“gomawo oppa, nan gwaenchana..” jawabnya yang terlihat sudah mulai tenang.

Ia terus melihat jam tangannya, “ada apa? Kenapa dari tadi kau selalu melihat jammu?”

“Oemma pasti marah kalau aku pulang malam..” jawabnya.

“sekarang kan masih jam setengah enam, belum malam” ucapku heran.

“Oemma dan Appa biasa pulang kantor jam 6, dan aku sudah harus dirumah sebelum jam 6” jelasnya.

Aku mengangguk mengerti. Tapi aku sangat ingin menikmati sunset disini bersamanya.

“baiklah, aku akan mengantarmu pulang stelah melihat sunset, aku jamin kau akan sampai rumah pada pukul 5.55” kataku santai.

“apa oppa bercanda?! Jarak rumahku dari sini lumayan jauh..” jawabnya tidak percaya.

“hey, kau meragukanku? Kalau aku bisa mengantarmu sampai rumah, kau harus mengabulkan 1 permintaanku, tapi kalau aku gagal, kau bebas meminta apapun padaku, ottokhae?” aku menantangnya.

“geurae, tapi jangan permintaan yang macam-macam!” protesnya.

“ani, hanya satu macam saja” jawabku menekankan pada kata ‘satu’.

“ah, akhirnya..” ucapnya saat melihat matahari tenggelam di depan kami, sangat indah.

“oppa! Ppalliwa, sekarang sudah jam 5.43!!” sambungnya panik saat melihat jam tangannya.

“geurae agassiku yang cerewet, khajja!” jawabku beranjak dari dudukku berjalan menuju motor.

~~~

Ri Jung’s POV

“kita sampai..” ucapnya saat berhenti didepan  pagar rumahku, mobil Appa memang belum ada.

Aku menghela nafas lega, tunggu, dia berhasil mengantarku sampai rumah sebelum jam 6, berarti aku harus mengabulkan permintaannya (T.T). Eh, hanya satu permintaan..

“apa aku bilang, masih meragukanku?” tanyanya sambil nyegir-nyengir.

“ye.. sekarang apa yang oppa inginkan?” katakuku malas.

“aku ingin kau datang di pesta ulang tahunku..” jawabnya.

“jeongmal? Eonje?” tanyaku, seingatku ulang tahunnya masih lama.

“11 Febuari nanti, ajak juga teman-temanmu. Semakin ramai semakin bagus kan?” jawabnya dengan senyuman mengembang di wajahnya. Aaah Tuhan terimakasih telah menciptakan manusia sepertinya (>/\<)

“hari minggu nanti? Ye, aku akan mengajak teman-temanku nanti” jawabku berusaha setenang mungkin, padahal dalam hati aku sangat bingung belum menemukan kado apa untuknya nanti (@.@)

“baiklah, aku pulang dulu ya jagiya~” pamitnya pulang dan mendaratkan kecupan singkat pada bibirku.

“oppa!! Bagaimana kalau ada yang melihatnya!” protesku dengan muka yang sudah seperti tomat.

“Ri Jung?!” panggil sebuah suara yang sangat aku kenal.

~TBC~

By: tyasung

3 thoughts on “Be Mine, Please? {Part 1}

  1. oeeeeee bang yesuuuuung liat tuh *tunjuk2 onni ama chansung*
    cere cere cere cere /plakplak
    nyahahahahaha

    LANJUT EONNNNN ! :DDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s