Protected: Be Mine, Please.. {Part 3 NC-21}

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements
0

Nothing Better {Oneshot}

Cast :

–      Kim Kibum (SHINee)

–      Choi Shin Kyu

–      Kim Jong Hyun (SHINee)

–      Victoria (F(x))

(Choi Shin Kyu POV)

Hari ini seperti biasanya aku menatapnya dari jauh. Memperhatikannya. Kim Jonghyun. Pria yang kusukai sejak lama. Sekali lagi kuarahkan kamera analogku padanya. Kupotret ia untuk yang kesekian kalinya. Memandang wajahnya tak pernah membuatku bosan. Aku sangat menyukainya. Menyukainya saat ia mengeluarkan i-podnya. Menyukainya saat ia menikmati nada demi nada yang mengalir melalui headsetnya. Menyukai ia yang memejamkan matanya sambil merasakan lembutnya hembusan angin. Hari ini pun ia melakukannya lagi. Setiap hari jam 4, ia selalu ada ditaman. Tersenyum, mengobrol dengan siapa saja yang menyapanya. Ah… dunia pasti indah sekali bila aku bisa dekat dengannya.

“Ya…” teriak seseorang yang mengagetkanku.

“Mwo? Oemona! Kibum-ah.. kau mengagetkanku tahu!” ujarku seraya mengelus dadaku.

“Ya..! Apa yang kau lakukan disini? Aku mencarimu tahu.” Ujarnya kesal.

Kibum pun celingukan. Matanya mencari sesuatu. Saat melihat Jonghyun, ia menghela nafas panjang dan mengacak rambutku.

“Aigo..!! Dasar kau stalker.” Ujarnya.

“I’m not stalker.” Ujarku gugup.

“Lalu apa? Kenapa sih, kau senang sekali mengumpulkan foto Jonghyun? Kenapa tidak mengumpulkan foto Victoria sesekali?” Ujarnya dengan wajah yang ditekuk.

“Buat apa aku mengambil foto Victoria? Kenapa tak kau ambil sendiri saja fotonya? Jangan pasang wajah itu kepadaku.” Ujarku padanya.

“Cih.. pelit sekali. Kau tahu aku tak punya bakat fotografi sepertimu. Dasar kau menyebalkan.” Ujarnya seraya melipat tangan didada.

“Mianhae. Ayo! Kau mencariku untuk pergi ke tempat bimbingan kan? Ayo pergi sekarang!” ajakku.

Ia mengikutiku beranjak dari tempatku tadi. Untuk sampai ke tempat bimbingan, dari taman hanya memerlukan waktu 10 menit berjalan. Aku dan Kibum berjalan dengan hening. Seperti biasa, bila kita habis perang mulut. Ia pasti enggan bicara denganku. Dasar pemarah.

“Aku heran padamu. Yeoja sepertimu. Yeoja yang berambut pendek berantakan, dingin seperti lemari es, berkulit sawo matang, selalu memakai pakaian kelam dan pastinya menyebalkan sepertimu bisa menyukai seorang namja.” Ujarnya memulai pembicaraan.

“Ya..!, Aku tak menyebalkan.” Belaku.

“Memang begitu kan?” ujarnya.

“Kau sendiri. Namja sepertimu. Namja yang manja, centil, bergaya seperti noona-noona, selalu memakai pakaian cerah melebihi matahari, dan yang pastinya pemarah, bisa juga menyukai seorang yeoja seperti Victoria.” Ujarku tak mau kalah.

“Aa… ani..ani..ani..aniyo! Aku tak mau dengar. Lalalalala. Lululululu.” Ujarnya seraya menutup kedua telinganya.

Aku pun menghela nafas panjang. Selalu begitu. Selalu tak mau kalah. Dasar boneka porselen. Aku dan Kibum pun segera memasuki tempat bimbingan. Tiba-tiba kibum meregut tanganku. Aku meringis kesakitan. Kulihat matanya yang tampak gugup. Aku pun mencari sesuatu yang membuatku Kibum gugup seperti ini. Biasanya yang bisa melakukan hal itu hanya Victoria. Benar saja. Ia sedang duduk menunggu bel masuk.

“Aigo… manis sekali.” Serunya lirih.

“Aya.. Lepaskan tanganku.” Ujarku padanya.

“Diamlah dulu. Aku tak mau ia melihatku dalam keadaan seperti ini.” Ujarnya.

“Sesange! Kau kan namja. Bagaimana kau mau dekat dengannya bila sifatmu seperti ini? Dasar pengecut.” Ujarku padanya.

“Sudahlah. Kau diam saja. Jangan menyebalkan begitu.” Ujarnya.

Aku pun pasrah saja. Seketika bel pun berbunyi. Anak-anak bergegas memasuki ruangan begitupun dengan Victoria. Aku pun mulai melangkah menuju kelas. Namun langkahku tertahan karena ulah Kibum. Aku pun menoleh kesal.

“Ya… kau kenapa lagi sih?” ujarku kesal.

“Entahlah. Tampaknya aku tak mau masuk kedalam.” Ujarnya gugup.

“Kau bagaimana sih? Bel kan sudah berbunyi.” Ujarku.

“Ah… kita bolos saja ya?” rayunya.

“Mwo? Ko begitu sih. Aku tak mau.” Tolakku.

“Aigo kau ini. Ayolah, kita kan teman.” Ujarnya.

“Kau ini! Selalu saja begini. Pokonya aku tak mau.” Sergahku.

“Ayolah… ayo..ayo..ayo..ayolah…” rajuknya.

Ia terus ribut seraya meregut tanganku. Aku sudah tak bisa apa-apa lagi. Akhirnya aku hanya pasrah diseret olehnya keluar dari tempat bimbingan.

**************************************************

“Ja…! Bangun!” Ujar seseorang membangunkan tidurku.

“Kibum-ah? Apa yang kau lakukan dikamarku?” ujarku yang masih setengah sadar.

“Bangunlah. Aku lapar.” Ujarnya manja.

“Aya… minta saja pada umma. Aku ngantuk. Aku mau tidur.” Ujarku.

“Ajumna tidak ada. Ayolah, kau bangun.” Rajuknya.

“Aigo.. kau masak saja sendiri! Kau tahu aku tak bisa memasak.” Ujarku seraya menenggelamkan diriku kedalam selimut.

“Baiklah. Tapi kau bangun dong. Masa aku masak sendiri. Ini kan rumahmu.” Ujarnya lagi.

“Lantas untuk apa kau kerumahku?” ujarku malas.

“Kau tahu aku tinggal sendiri. Pokoknya bangun..!” ujarnya.

Ia tak hentinya mengguncangkan badanku. Aku merasa terusik. Akhirnya untuk kesekian kalinya aku kalah. Aku pun beranjak dari ranjangku dengan Kibum yang mendorong tubuhku dari belakang. Ia membawaku kedapur. Aku pun duduk mengitari meja makan dan meraih koran pagi dan kubuka dengan perlahan. Begitu pun dengan Kibum, ia mulai mencuci sayuran. Aku pun mulai tenggelam dalam bacaanku. Topik yang kubaca mengenai perang dingin antara korea selatan dan korea utara. Gawat juga juga bila sampai terjadi perang di semenanjung korea.

“Yeobo..!! Berhenti membaca dan bantu aku.” ujarnya.

Mulai lagi. Selalu menghancurkan kesenanganku. Aku selalu muak dengan sebutan itu. Aku pun tak bergeming. Tetap pada posisiku.

“Yeobo.. Ayo bantu aku.” ujarnya.

Bertahanlah Shin Kyu. Kau bisa mengalahkannya.

“Yeobo…” bentaknya.

Kalah lagi. Selalu begitu. Aku pun beranjak kearahnya dengan kesal. Ia memberiku sayuran-sayuran yang tak jelas apa namanya ketanganku dan menyuruhku untuk mencucuinya. Aku pun mulai mencucinya.

“Aya! Mana bisa kau mencucinya seperti itu? Salah.” Ujarnya.

“Mana kutahu. Aku kan tak pernah mencuci sayuran sebelumnya.” Ujarku.

“Kau ini. Aku saja yang tinggal sendiri tahu. Masa kau yang tinggal dengan ummamu tak bisa.” Ujarnya yang membuatku jengkel.

“Ah, sudahlah.” Ujarku seraya meninggalkannya.

“Ya, jakkaman. Mian. Sini, aku ajari.” Ujarnya seraya menarik tanganku.

Aku pun berbalik dengan wajah yang ditekuk. Ia pun mulai mengajariku mencuci sayuran.

“Kalau kau mau menjadi yeojachingu-nya Jonghyun, harus pandai memasak.” Ujarnya tiba-tiba.

“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanyaku dingin.

“Aniyo. Bukankah setiap pria menginginkan yeoja yang pintar masak? Jangan dingin begitu padaku. Dasar lemari es.” Ujarnya.

“Habis, kau mengatakannya seakan aku tak pantas untuk Jonghyun.” Ujarku.

“Ah, kau ini. Selalu berprasangka buruk. Hei, nanti siang temani aku makan es krim ya.” Ajaknya.

“Aniyo. Nanti aku ada kerja sambilan.” Tolakku singkat.

“Mwo? Hari ini kan mulai memasuki liburan musim dingin!” ujarnya kaget.

“Ne. Lalu kenapa?” tanyaku polos.

“Aigo. Ayolah. Aku mau makan es krim sebelum musim dingin benar-benar datang.” Rajuknya lagi.

“Pokoknya tak bisa. Ingat, kemarin kau sudah mengajakku bolos bimbingan. Jadi, mianhae Kibum. Kau tak bisa memaksaku sekarang.” Ujarku.

Ia pun mulai menggembungkan pipinya.

“Ne. Baiklah. Maafkan aku. Kemarin aku sudah memaksamu untuk bolos ke bimbingan.” Ujarnya.

Mwo? Apa aku tak salah dengar. Ini pertama kalinya ia mau mendengar kata-kataku. Biasanya aku yang selalu mengalah.

“Tapi kau harus berjanji sepulang kau bekerja, kau harus menemaniku.” Ujarnya.

“Ne. Aku berjanji.” Ujarku seraya menepuk punggungnya.

********************************************************

Sore ini panas sekali. Padahal ini sudah mulai memasuki musim dingin. Mungkin ini  yang namanya pancaroba. Apa sih yang dilakukan orang-orang jaman sekarang. Membuat bumiku menjadi panas minta ampun seperti ini. Untuk kesekian kalinya aku menyeka keringatku. Pintu pun terbuka. Aku tak dapat melihat siapa yang masuk. Aku sibuk sekali menyusun kaset-kaset di tanganku. Aku pun menyusun berdasarkan namanya. Seseorang pun berdiri disampingku. Aku pun melirik. Aku tak percaya dengan apa yang sudah aku lihat. Sosok pria yang selama ini selalu kubayang-bayangi. Kim Jonghyun. Matanya sibuk mencari CD di depannya. Aku merasa tubuhku kaku sekali. Aku pun berjalan mundur menjauhinya dengan perlahan.

“Ah, anneyong haseo.” Ujarnya yang langsung membuat sekujur tubuhku melemas.

Aku tersenyum kecil kearahnya.

“Apa albumnya 4MEN yang ADANTE masih ada disini?” tanyanya.

Ya tuhan… suaranya indah sekali.

“Mm… Biar aku lihat dulu.” Ujarku.

Ia mengikutiku menuju rak dimana aku menaruh albumnya 4MEN 4 hari yang lalu. Aku pun sibuk mencari album itu. Ia terus menungguku dan berdiri dibelakangku. Dekat sekali. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya ditengkukku. Saat aku menemukannya, segera kuberikan padanya. Wajahnya tampak berbinar menerimanya.

“Ah, gomawo. Aku memang sedang mencari CD ini.” Ujarnya senang.

Aku hanya tersenyum kearahnya. Senang sekali aku mendengar suaranya.

“Apa aku harus ke kasir untuk membayarnya?” tanyanya.

“Ah, eh. Padaku saja tak apa-apa.” Ujarku gugup.

Ia pun memberiku 2 lembar uang won. Aku menerimanya dengan gugup. Ia pun membukukkan badannya tanda terima kasih padaku. Aku pun mengangguk membalasnya. Saat ia pergi, kurasakan tubuhku sangat lemas. Aku jatuh tersungkur ke lantai. Kucium uang pemberian Jonghyun tadi. Aroma tubuhnya menempel pada uang itu. Aku senang bukan main.

“Apa yang kau lakukan pabonica?” Tanya Kibum tiba-tiba.

“A..a.. apa yang kau lakukan disini?” tanyaku kaget.

“Aku menyusulmu. Kau kutunggu dari tadi lama sekali. Ini kan sudah jam 7. kau kenapa sih?” tanyanya bingung.

“Aniyo.” Ujarku seraya pergi ke meja kasir.

Kutaruh uang pemberian jonghyun ke dompetku dan menggantinya dengan uangku yang lain.

“Ya, kau tahu tidak. Tadi dijalan aku bertemu dengan Jonghyun.” Ujarnya.

Aku tersenyum kecil mendengarnya.

“Kau enak ya. Bisa menyukai Jonghyun.” Ujarnya.

“Kau yang enak. Kau dan Victoria di tepat bimbingan yang sama. Tidak sepertiku. Jika ingin bertemu dengannya kau harus menunggu hingga pukul 4 sore. Singkat sekali.” Ujarku.

“Ya! Setidaknya kau tak pernah gugup saat bertemu dengannya.” Ujarnya.

“Kata siapa? Kita kan sama.” Ujarku.

“Tapi tak sesering aku bukan? Kau juga tak perlu berpapasan dengannya kan? Kau cukup memperhatikannya dari jauh dan memotretnya. Lalu kau bisa dengan puas memandangi fotonya. Tidak ada yang lebih enak dari itu. Sedangkan aku?” ujarnya seraya menggembungkan pipinya.

“Sudahlah. Dasar boneka porselen. Mau makan es krim tidak?” ujarku padanya seraya memakai mantelku.

“Baik tuan lemari es.” Ujarnya seraya membukakanku pintu.

“Tapi pulangnya temani aku membeli developer dan fixer ya! Punyaku habis.” Ujarku seraya merangkulnya.

“Ne, lemari es.” Ujarnya seraya menggembungkan pipinya lagi.

*******************************************

“Ya..!! Choi Shin Kyu. Lihat ini.” Ujarnya seraya memasuki toko.

Aku kaget melihatnya. Tanpa sadar aku menyemburkan cola yang kuminum.

“Mwo? Apa yang kau lakukan dengan rambutmu?” ujarku kaget.

“Hehehe. Coklat pirang. Bagus tidak?” tanyanya senang.

“Dan bajumu? Apa yang kau pikirkan Kim Kibum?” tanyaku histeris.

“Tak perlu histeris seperti itu. Aku hanya mencoba seragam milik sepupuku saja.” Ujarnya seraya menggembungkan pipinya seperti biasa.

“Ya ampun! Kau tampak seperti yeoja. Asli! Semakin mirip dengan boneka porselen.” Ujarku.

Ia hanya tersenyum puas. Dengan rambut gondrong ikal berwarna coklat pirang, seragam berwarna pink muda, ia tampak cantik sekali. Diantara yeoja pun tak ada yang secantik ia. Ia tampak seperti gadis JHS yang menjemput abangnya yang urakan untuk pulang.

“Ya ampun, Kibum. Kalau kau ada yang menjahili bagaimana?” tanyaku.

“Aya! Aku kan namja. Tak mungkin.” Sergahnya.

“Ne, tapi dengan penampilan seperti ini, siapa yang menyangka kau ini adalah namja.” Ujarku.

“Tenang saja.” Ujarnya santai.

Tiba-tiba pintu terbuka. Dari luar masuklah sosok Victoria, dengan panik Kibum bersembunyi di kolong kasirku. Victoria pun menghampiriku.

“Kau bekerja disini Shin Kyu?” tanyanya.

“Darimana kau tahu namaku?” tanyaku heran.

“Yeoja mana yang tak tahu namamu?” tanyanya padaku.

Aku hanya tersenyum gugup. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Aku memandangnya dengan bingung. Sebuah kotak berpita biru ia letakkan dimeja kasir.

“Didalamnya ada surat. Aku sangat berharap padamu.” Ujarnya seraya berlalu pergi.

Aku memegang kotak itu dengan heran. Kibum pun keluar dari persembunyiannya dan menatapku tak kalah bingung.

“Apa yang ia lakukan disini?” tanyanya padaku.

“Molla. Ia memberiku ini.” Ujarku seraya memberi kotak itu pada Kibum.

Kibum pun membukanya. Didalamnya ada sekotak coklat dan sepucuk surat. Kumakan coklat itu tanpa basa-basi. Bukankah itu untukku? Lagipula aku sedang dalam keadaan lapar. Kibum pun membuka surat itu dan kaget membacanya. Aku pun meraih surat itu dan membacanya.

Dear Choi Shin Kyu

Sesungguhnya sudah lama aku memperhatikanmu. Aku sangat menyukaimu.

Maukah kau menjadi namjachingu-ku. Aku berharap sekali padamu Choi Shin Kyu.

Kutunggu jawabanmu ditaman, besok pukul 7 malam. Kuharap kau datang

Karena kuartikan kau menerimaku.

Aku melongo membacanya. Kulirik Kibum dengan hati-hati. Wajahnya tampak shock sekali.

“Kibum-ah..” panggilku pelan.

“Jangan bicara padaku.” Perintahnya.

“Mianhae, kibum-ah.” Ujarku takut.

Awalnya, kupikir ia akan memukulku. Ternyata tidak. Ia memelukku. Ia menangis. Baru sekarang aku melihatnya menangis. Seumur hidupku, aku tak pernah melihatnya menangis.

“Kenapa? Aku kan menyukainya…” ujarnya terisak.

“Sudahlah Kibum.” Ujarku.

“Ini semua salahmu.”  Ujarnya seraya melepaskan pelukannya.

“Mwo?” ujarku kaget.

“Bila kau tidak berpenampilan seperti ini. Berantakan, berpakaian kelam, bersifat cool seperti itu, tentu ia tak akan menyukaimu.” Ujarnya.

“Ya! jika sebelumnya kau sudah menyatakan perasaanmu padanya dan tidak bersifat seperti boneka porselen, tentu sekarang ia sudah menjadi milikmu.” Ujarku kesal.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyanya putus asa.

“Sudahlah. Besok aku akan menolaknya.” Ujarku.

“Andwe..” teriaknya.

“Whaeyo?’ tanyaku kaget.

“Aku tak mau melihatnya sedih dan kecewa.” Ujarnya.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku sebal.

“Kau berpura-pura saja jadi namjachingu-nya.” Ujarnya.

“Aigo, kau sadar dengan yang kau katakan? Sampai kapan aku akan berpura-pura. Dasar gila!” Ujarku mulai marah.

“Sampai kau putus dengannya.” Ujarnya.

“Aya.., bagaimana jika ia tak mau memutuskanku. Kau mikir tidak sih?” tanyaku kesal.

“Pokoknya aku tak mau tahu. Kau harus bertanggung jawab.” Ujarnya.

Ya, aku memang merasa tak enak padanya. Akhirnya aku mengangguk mengiyakan. Kuajak kibum pulang agar ia merasa lebih tenang. Aku dan Kibum berjalan dengan penuh keheningan. Tak ada yang mau berbicara setelah kejadian tadi berlangsung. Tiba-tiba dari pengkolan, muncul sosok Jonghyun. Aku merasa gugup melihatnya. Ia tampak kaget melihat kami. Ia merogoh sesuatu dari saku mantelnya. Setangkai mawar. Ia berjalan pelan menghampiri kami. Aku girang bukan main. Akankah mimpiku terjawab? Tapi tunggu! Mengapa matanya menatap Kibum? Mengapa ia memberikan bunga itu pada Kibum?

******************************************************

(Kim Kibum POV)

“Kutunggu kau ditaman pukul 4.” Ujarnya dan berlalu pergi.

Dengan hati-hati kulirik Shin Kyu. Matanya merah. Benar saja. Saat melihat wajahku ia menangis. Aku kaget melihatnya menangis. Ia yeoja yang kuat. Biasanya ia menangis hanya jika ia merasa sakit hati. Itu pun hanya menitikkan air mata saja. Tentunya ia sekarang merasakan sakit yang teramat sangat sehingga ia menangis seperti itu. Aku pun menenangkannya. Ia memukul dadaku berkali-kali.

“Ya! Mianhae. Aku akan bertanggung jawab.” Ujarku padanya.

Ia terus menangis. Aku membelai rambutnya.

“Sudah. Anggap saja kita impas.” Ujarku lembut.

Ia pun menangkis tanganku.

“Impas? Neomu paboya.” Ujarnya kesal.

“Lalu aku harus apa?” ujarku bingung.

“Molla. Aku mau pulang.” Tangisnya.

“Baiklah. Ayo kita pulang.” Rangkulku menuntunnya pulang.

****************************************************

Sudah seminggu lebih aku berpura-pura menjadi yeojachingu bagi Jonghyun, pria yang disukai Shin Kyu. Begitupun dengan Shin Kyu, ia berpura-pura juga menjadi namjachingu untuk Victoria. Aku sudah muak. Harus berpura-pura bersuara lembut didepan Jonghyun. Rambutku pun ingin rasanya kupotong, bagiku sepundak itu sudah terlalu panjang. Aku pun menghempaskan badanku diatas ranjang Shin kyu sebelum aku pergi menemui Jonghyun ditaman jam 4 sore ini. Shin kyu pun merebahkan badannya disampingku.

“Sudah siap.” Tanyanya padaku.

Aku meregut mendengarnya.

“Aniyo. Ani..ani..ani..ani..ani..ani..ani…!!” rajukku kesal.

“Ya..! tenanglah. Kau pikir aku mau melakukan ini semua? Kalau bukan demimu, tak akan aku lakukan.” Ujarnya.

Kulempar kumpulan foto Jonghyun yang menempel di Styrofoam pada dinding dengan bantal yang kupeluk dari tadi.

“Aya..!! Sampai kapan?” tanyaku histeris.

“Sampai kau putus dengannya.” Ujarnya santai mengulang perkataanku saat itu.

“Aigo…..” pekikku.

“Ah, sudahlah. Jangan jadi pengecut begitu.” Ujarnya seraya beranjak pergi ke kamar gelapnya.

Aku pun menyusulnya kedalam kamar gelap. Ia sedang mencuci beberapa foto. Seperti biasa. Pasti mencuci foto Kim Jonghyun.

“Lemari es.” Panggilku.

“Mwo?” tanyanya tanpa melihatku.

“Kau masih menyukai Jonghyun?” tanyaku.

Ia hanya mengibas-ibaskan foto ditangannya.

“Menurutmu?” sambungnya.

“Kau tak ilfil? Aku saja jadi sedikit ilfil dengan Victoria.” Ujarku.

Ia hanya tersenyum. Jujur, sekarang aku sudah tak bisa memikirkan Victoria lagi. Bahkan sekarang aku sangat mengagumi Shin kyu. Jiwanya begitu kuat. Ia benar-benar tegar dengan semua yang telah terjadi. Aku saja masih sering mengeluh. Dari dulu, bila ia muak, ia hanya tersenyum kecut atau meregut saja. Tak seperti aku, marah-marah tak jelas.

“Sebaiknya kau pergi sekarang. Kasihan Jonghyun menunggumu.” Ujarnya.

Aku hanya bisa menekuk wajahku dan berlalu dari kamar gelap kesayangan Shin kyu.

**************************************************

(Choi Shin Kyu POV)

Kuat juga aku. Hampir 1 bulan lebih aku berpura-pura menjadi namjachingu Victoria. Aku pun merebahkan tubuhku dikursi taman. Kuhirup aroma cappuccino di tanganku. Aku disini menunggu Victoria. Tiba-tiba ia ingin bertemu denganku.

“Shi kyu…!!!” teriak seseorang manis.

Aku pun menoleh. Kibum? Kim Jonghyun? Apa yang ia lakukan disini?

“Anneyong haseo.” Ujarku seraya bangkit dari dudukku.

Bisa kulihat dengan jelas tangan Jonghyun menggenggam tangan Kibum. Hebat sekali anak ini berakting. Entah mengapa aku cemburu padanya. Bukan pada Kibum, melainkan pada Jonghyun.

“Anneyong. Menunggu Victoria?” Tanya jonghyun.

“Ne.” ujarku.

Mereka pun duduk disampingku. Kuminum cappuccino milikku.

“Kalian bersahabat sejak kapan?” Tanya Jonghyun.

“Sejak SD. Kami ini pasangan tangguh loh.” Ujar Kibum ceria.

“Begitu. Hahaha. Aku iri melihatnya.” Ujarnya.

Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Andai Kibum bisa semanis ini padaku. Tiba-tiba dari jauh muncul sosok Victoria. Ia datang dengan ekspresi yang aneh. Aku pun bangkit dari dudukku. Ia bergegas menghampiriku dan melemparku dengan sesuatu. Kumpulan foto Victoria yang kuambil. Ia pun menyiramku dengan soda. Semua orang yang ada disana memandang kami dengan heran. Termasuk Kibum dan Jonghyun. Aku mematapnya dengan heran. Ia membalas menatapku dengan penuh kebencian.

“Jangan dekati aku. Dasar yeoja sinting.” Ujarnya marah.

Aku kaget mendengarnya. Darimana ia tahu?

“How bastard you are.”ujarnya padaku seraya menyiramku dengan soda lagi beserta kalengnya.

Kurasakan tubuhku melemas. Aku berlari dari taman. Entah apa yang aku pikirkan, aku berlari ke cassette center tempat aku bekerja.

*************************************************

(Kim Kibum POV)

“How bastard you are.” Ujar Victoria seraya menyiram Shin kyu dengan soda beserta kalengnya.

Victoria pun pergi. Disusul dengan Shin kyu yang berlari menahan tangis. Aku shock melihatnya. Traitor. Aku mati-matian menjaga rahasia ini. Ia malah memberitahu Victoria. Aku kesal bukan main.

“Apa Shin kyu seorang yeoja?” Tanya Jonghyun padaku.

Aku mendiamkannya.

“Jagiya….” Panggilnya lagi.

Cukup. Aku sudah muak.

“Ya..!! berhenti memanggilku Jagiya.” Ujarku seraya mendorongnya.

“Mwo?” ujarnya kaget.

“Nan Namjaro. Namjaro. Berhenti memanggilku jagiya atau akan kubuat kau menyesal.” Ujarku seraya meninggalkannya.

Aku pun bergegas mencari Shin kyu. Tak butuh waktu lama. Ia sedang meringkuk didepan cassette center. Aku menghampirinya. Ia memandangku dengan takut.

“Kibum-ah…” ujarnya.

“Ya.. apa yang kau lakukan?” tanyaku marah.

“Molla. Aku tak melakukan apa-apa.” Sergahnya.

“Gotjimal.” Bentakku.

Ia memandangku. Aku balas menatapnya dengan marah.

“Aniyo. Tiba-tiba ia menelfonku dan hal itu tiba-tiba terjadi.” Belanya lagi.

“Gojitmal. Dasar traitor. Aku mati-matian menyembunyikan rahasia kita. Kau malah memberitahunya.” Ujarku seraya membalikkan badanku membelakanginya.

“Tapi aku tak memberitahukannya.” Ujarnya lagi.

“Cukup! Aku sudah muak. Andai aku tak pernah mengenalmu. Andai aku tak pernah berteman dengan traitor sepertimu. Menyebalkan. Dasar yeoja tak berguna.” Bentakku padanya.

Aku tahu, kalau aku sudah kelewatan. Tapi ada sesuatu dibibirku yang tak dapat kutahan. Aku pun membalikkan badanku menatapnya. Ia menangis menatap tanah. Aku sedikit bersalah. Tapi egoku menahanku. Ia berlari pulang. Neomu paboya.  Paboya Kim Kibum. Apa yang telah kau lakukan Kibum?

*****************************************************

Aku menatap bayanganku di cermin. Kupotong rambutku secara asal dengan gunting ditanganku. Sekarang, aku tak hanya kehilangan orang yang kusuka. Aku sekarang kehilangan orang yang paling kukagumi di dunia. Ada sedikit rasa menyesal di benakku. Tiba-tiba ponselku berdering. Dari Shin kyu. Aku enggan mengangkatnya, namun sekan ada sesuatu yang membuatku ingin mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” ujarku datar.

“Ah, Kibum-ssi.” Ujar seseorang panik.

“Ajumna? Ada apa? Mana Shin kyu?” tanyaku bingung.

“Dia kecelakaan. Dia koma. Ajumna tak tahu harus melakukan apa. Kami ada di Jeungdong hospital.” Ujarnya.

Mwo? Mustahil. Baru sejam yang lalu aku bertemu dengannya. Mana mungkin.

“Ajumna hanya ingin membertahumu saja. Terima kasih jika kau mau datang.” Ujarnya lagi lalu menutup ponselnya.

Aku jatuh tersungkur ke lantai kamar mandi. Tuhan.. mengapa jadi begini? Paboya! Apa yang telah aku lakukan Kibum?

****************************************************

Sekarang aku hanya bisa memandangnya dari luar ruangan. Sudah seminggu sejak kecelakaan itu, ia tak kunjung sadar. Sekarang tak ada lagi teman berkeluh kesah. Teman tertawa bersama. Ajumna pun menghampiriku. Ia membelai pundakku.

“Doakan saja agar Shin kyu cepat pulih.” Ujarnya.

Aku tersenyum padanya.

“Kibum-ssi. Bisakah kau mampir ke rumah dan mengambilkan baju untuk Shin kyu? Ajumna harus menemui Yool Baksanim.” Pintanya.

Aku pun mengangguk. Segera aku bergegas menuju rumah Shin kyu. Tak butuh waktu lama. Hanya 15 menit perjalanan karena jalan sedang tidak macet. Aku pun bergegas memasuki kamar Shin kyu dan mengambilkan baju untuknya. Kutatap foto Jonghyun yang masih tertata rapi diatas Styrofoam. Kulempar dengan benda yang ada disekitarku dan bergegas pergi. Namun, sebelum aku sempat keluar dari kamar Shin kyu, tampaknya Styrofoam itu jatuh. Aku pun berbalik untuk memastikan. Benar saja, namun aku tak percaya dengan apa tang kulihat. Foto-fotoku, foto aku dan Shin kyu, lebih banyak dari foto Jonghyun, tersusun rapi membentuk kata saranghae di dinding. Aku menghampiri dinding itu. Aku menangis melihatnya. Terharu sekaligus menyesal. Akibat ulahku ia jadi begini. Kuambil fotoku dan Shin kyu dari dinding. Saat itu sedang tahun baru dan kami sedang bermain kembang api. Aku rindu akan masa itu. Sekarang aku sadar. Dari dulu yang kusukai bukan Victoria. Aku hanya senag melihat senyumnya. Namun aku lebih bahagia berada disamping Shin kyu. Aku pun memasukkan foto itu ke saku celanaku dan bergegas kerumah sakit. Saat sampai, ajumna tidak ada dikamar. Aku pun duduk disamping ranjang Shin kyu. Kugenggam tangannya dengan erat dan kukeluarkan foto kami berdua.

“Mianhae. Mianhaeyo. Aku ini hanya seorang namja bodoh. Aku tak sadar selama ini. Sesungguhnya yang aku sukai adalah kau. Aku menyukaimu lebih dari orang yang kusukai. Aku menyukaimu sebagai orang yang aku kagumi dengan teramat sangat. Kau selalu melindungiku. Walau kau yeoja, kaulebih kuat dibandingkan aku. Mianhae. Kumohon dengan sangat sekarang. Sadarlah! Aku rindu tawamu. Yeobo! Kau dengar aku kan? Kumohon bangunlah. Kumohon bangun, lemari es.” Tangisku.

Tiba-tiba, kurasakan tangannya bergerak. Aku terkejut melihatnya. Kupanggil Yool Baksanim berkali-kali, namun tak kunjung juga datang. Shin kyu pun membukakan matanya. Ia tersenyum saat melihatku.

“Gomawo.” Ujarnya lirih.

*****************************************************

KLik….

Aku pun menoleh kearah Shin kyu.

“Kebiasaan! Mau menjadi stalkerku ya?” tanyaku seraya membelai lembut kepalanya.

Ia hanya terkekeh menatapku. Ia pun kembali asyik dengan kameranya. Begitupun aku, kembali asyik dengan buku harianku. Suasana taman hari itu sedang bagus. Sejuk sekali. Sekarang aku dan Shin kyu sudah lulus sekolah. Mulai sekarang kami resmi menjadi mahasiswa. Banyak anak sekolah yang berhalu lalang membuatku rindu ingin mengenakan seragam SHS-ku kembali. Shin kyu pun duduk disampingku dan meminum cappuccino miliknya.

“Sejuk sekali.” Ujarnya.

Aku mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba, yeoja adik kelasku saat masih sekolah dulu datang menghampiri kami. Ada apa mereka? Mengapa menatap yeojachingu-ku dengan tatapan seperti itu. Ia menghampiri Shin kyu dan mengulurkan sebuah kotak berpita biru padanya. Aku menatapnya heran.

“Sunbae, aku menyukaimu. Maukah sunbae menjadi namjachinguku.” Tanyanya polos.

Aku kaget mendengarnya. Shin kyu pun menatapku dengan tatapan mustahil. Oh, tuhan….! Jangan lagi.

The End

By: Retno Wulandhari

0

Hate You, Love You {Oneshot}

(Kim young woon POV)

“Ja, bangun!” ujar seseorang yang suaranya sangat kukenal.

Aku berusaha tidak mendengarnya. Kututup telingaku dengan kedua tanganku. Sinar matahari pun menerembes masuk kedalam kamarku saat ia membuka jendela kamar tidurku.

“Jangan begitu…! Ayo bangun dan segeralah sarapan.” Perintahnya lagi.

Aku tetap pada posisiku. Mengacuhkannya.

“Kangin! Bangun atau semua bir yang ada didalam kulkas aku buang.” Ujarnya gusar.

Mau apa lagi. Bisa apa aku tanpa bir-birku itu. Aku pun langsung terduduk pada tempat tidurku. Kupandangi dongsaengku itu.

“Ja. Tak sopan sekali kau memanggilku seperti itu, key!” ujarku kesal.

“Orang sepertimu tak pantas kupanggil hyung. Bangun dan segeralah sarapan.” Ujarnya sambil berlalu kearah dapur.

Dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah akur dengannya. Apalagi saat orang tua kami tiada. Bicara dengannya bisa dihitung dengan jari tangan setiap minggunya. Kugaruk rambutku yang tak gatal. Aku pun beranjak dan bergegas ke dapur. Dari jauh, bisa kuhirup wangi masakan key. Aku selalu suka masakan buatannya. Mungkin, key itu seperti ibu bagiku. Walau ia adikku, aku menopangkan hidupku padanya. Aku sadar. Karena aku memang tak berguna. Sesekali kulirik key yang duduk di depanku. Ia makan dengan perlahan. Pakaiannya sudah rapi dan bersih. Kupandangi bibimbab milikku.

“Kau kenapa?” tanyanya padaku.

“Aniyo.” Ujarku pelan dan mulai makan.

Dengan cepat kuhabiskan sarapanku dan memberikannya pada key untuk dicuci. Seperti biasa, kumulai hari-hariku dengan sarapan lalu menonton acara televisi.

“Aku berangkat. Aku akan pulang lebih cepat.” Ujarnya.

Aku tak menjawabnya. Aku tetap konsentrasi pada acara yang kutonton. Tak terasa aku sudah menonton selama 8 jam. Mataku mulai terasa perih sekali. Kuambil mantelku dan beranjak pergi dari rumahku. Seperti biasa, tujuanku hanya 1. Bar milik teman lamaku. Hanya disana aku menghabiskan hari-hariku. Aku pun memasuki bar yang masih sepi itu. Kupesan minuman yang biasa kupesan. Memang, setiap hari hanya kuhabiskan waktuku dengan minum. Apa boleh buat? Bisa apa aku? aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya seorang pengangguran. Waktu pun terus berjalan. Semakin lama semakin panjang dan aku masih tetap minum-minum. Bagiku, hanya inilah yang bisa kulakukan.

“Hei, hyung. Apa kabar?” Ujar seseorang seraya menepuk pundakku dari belakang.

Aku pun menoleh. Teryata Go.

“Aku bukan hyung-mu.” Ujarku seraya menepis tangannya yang merangkul pundakku.

“Hahaha. Ternyata hyung masih galak seperti dulu. Kalau kau tak mau kupanggil hyung, kau ingin dipanggil apa?” tanyanya seraya duduk disebelahku.

“Kurasa kau tahu harus memanggilku apa.” Ujarku singkat.

“Hahaha. Baiklah Kangin. Kau galak sekali.” Candanya.

Aku tidak menghiraukannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku padanya seraya meneguk minumanku.

“Menunggu Yoo Ma.” Ujarnya.

“Kau mengajak Yoo Ma kemari? Gadis sekecil itu?” ujarku tak percaya.

“Dia yang mau. Aku tak pernah memaksanya.” Ujarnya cuek.

“Kenapa kau tak melarangnya?” tanyaku padanya.

“Hidup itu sekarang sulit. Penuh kelicikan, ia harus tahu segala sesuatu disekitarnya agar ia dapat menentukan pilihan.” Ujarnya padaku.

Aku tak percaya mendengar kata-katanya. Go pasti sudah gila. Aku pun langsung meminum bir-ku. Kuusap setiap tetes bir yang menetes membasahi leherku.

“Hyung, kau sudah memiliki pekerjaan?” tanyanya tiba-tiba.

“Apa arti dari kata-katamu itu?” ujarku kesal.

“Aku mau menawarkanmu pekerjaan.” Ujarnya.

“Pekerjaan apa?” tanyaku malas.

Ia pun mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu di telingaku. Aku tersentak kaget.

“Mwo? Kau gila.” Ujarku seraya bangkit dari dudukku.

“Kau butuh uang kan?” ujarnya santai.

“Aku tak sudi melakukan hal itu.” Ujarku seraya memukul meja bar.

Semua orang menatapku. Tapi aku tak peduli. Aku sudah muak dengan Go.

“Ya..!, aku kan hanya ingin membantumu. Bukankah kau ini hanya seorang pengangguran? Lagipula kau pantas melakukannya.” Ujarnya seraya memesan minuan.

Saat itu juga, aku langsung mendorong badan Go yang jauh lebih kecil dariku ke lantai. Aku benar–benar gusar padanya. Aku memukulinya berkali-kali. Ia pun berusaha membela diri. Ia menendang perutku dan mulai memukulku secara bertubi-tubi juga. Tak kusangka badan sekecil itu memiliki tenaga yang besar. Beberapa orang mencoba memisahkan kami. Tapi aku sudah benar-benar gusar padanya. Aku tetap memukuli dongsaeng-ku itu. Maksudku agar ia menarik semua perkataanya padaku tadi. Tapi sayang, mereka berhasil memisahkan aku dan Go.

“Lepaskan aku. Aku bisa jalan sediri.” Ujarku menangkis tangan mereka.

Aku pun beranjak kearah pintu bar.

“Pergi saja. Dasar pecundang.” Teriaknya.

Aku tak peduli. Aku pun keluar dari bar yang ternyata diluar, hari sudah gelap. Aku pun berjalan dengan penuh kemarahan. Aku pun melamun sepanjang jalan. Apa aku sehina itu sampai Go bilang bahwa pekerjaan itu pantas untukku? Ah, aku memang pecundang. Dari jauh, kulihat seorang gadis duduk halte bis seraya menatap jalan dengan kosong. Kurasa ia sedang dalam kondisi yang sulit sepertiku. Aku pun menghampirinya dan duduk di sampingnya. Kuharap bis segera datang. Tiba-tiba gadis di sebelahku bangkit dan berjalan lurus kearah jalan raya. Dari arah kanan, terdengar klakson truk menggema. Dengan sigap, kutarik tangan gadis itu keluar dari jalan raya. Aku kaget sekali dengan tindakannya.

“Apa kau sudah gila? Ada beribu arwah yang ingin bisa hidup sepertimu.” Ujarku.

Ia tak mengubrisku. Tatapannya tetap kosong, ia tampak kebingungan. Aku pun melepasnya dari genggamanku. Saat bis datang, aku pun segera bangkit dari dudukku. Kulihat gadis itu  masih tetap duduk diam. Aku tak mengerti. Ini adalah bis terakhir jalur ini. Tanpa pikir panjang, kutarik tangannya memasuki bis. Ia duduk di sebelahku. Ia tampak sangat tidak wajar. Ia tak bisa diam. Ia mengganggu supir dan naik keatas kursi. Aku sangat kewalahan menghadapinya. Saat aku turun, ia memainkan pintu otomatis bis. Supir bis itu terlihat marah. Akhirnya, gadis itu kutarik turun bersamaku.

“Hei, siapa namamu?’ ujarku padanya.

Tak ada respon.

“kau tinggal dimana?” tanyaku tapi ia malah berlari menuju taman.

Ia mulai memanjat pohon yang ada di taman. Aku benar-benar kewalahan. Karena rumahku sudah dekat, kubawak ia ke rumahku. Kubuka pintu rumahku secara perlahan.

“Kemana saja kau? Malam sekali.” Ujar Key tiba-tiba dari dalam kamarnya.

Belum sempat menjawab, ia sudah menunjukan ekspresi tak senang. Mungkin karena aku mengajak gadis ini ke rumah selarut ini.

“Siapa dia?” tanyanya sinis.

“Tak tahu.” Ujarku datar.

“Aku serius hyung. Siapa dia?” tanyanya lagi.

“Kau pikir aku bercanda? Aku tak kenal padanya!” ujarku lagi.

“Apa ia gadis malam? Muda sekali.” Ujarnya lagi.

“Aku tak tahu Key. Aku bertemu dengannya di bis.” Ujarku singkat.

“Jadi kau mengajaknya kemari? Apa maksudmu? Kau pikir rumah ini penitipan?” tanyanya lagi.

“Entahlah. Ia tak menjawab setiap pertanyaanku. Jangan buat aku semakin bingung.” Jelasku padanya.

Key menggelengkan kepala. Ia menghampiri gadis itu dan menanyakan namanya. Tapi sama saja, gadis itu tak menjawab sama sekali. Key pun berbalik dan menarikku ke sudut ruangan.

“Sekarang kita harus bagaimana?” ujar Key padaku.

“Mana kutahu?” ujarku bingung.

“Hei, sadarkah kau kalau keluarga anak ini pasti mencarinya? Apabila kita dituduh menculiknya, apa yang akan kita lakukan?” ujarnya gusar.

“Aku tak tahu. Kenapa tak kita biarkan saja ia tinggal disini?” ujarku asal.

“Apa kau sadar dengan semua perkataanmu, hyung? pendek sekali jalan pikirmu!” ujarnya sinis.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku ikut kesal.

Tiba-tiba, kurasakan ada yang menarik belakang bajuku. Kutolehkan kepalaku.

“Appa, aku lapar.” Ujar gadis itu polos.

Aku kaget sekali. Begitupun Key.

“Appa..?” ulang Key bingung.

Aku pun tak kalah bingung. Key kembali menggelengkan kepalanya.

“Oemona…!!!!” ujar Key seraya memegangi kepalanya dan berlalu ke dapur.

Kupandang wajah anak itu. Anak aneh. Sejak awal kuajak bicara, ia tak menjawab pertanyaanku. Tapi sekarang, tiba-tiba ia bicara dan memanggilku appa. Apa aku tampak setua itu? Aku pun duduk di sofa dengan wajah bingung. Anak itu mengikuti gerakku dan duduk disampingku.

“Anak aneh.” Ujarku lirih padanya.

Ia tak merespon ucapanku. Beberapa saat kemudian, key kembali dengan sepiring gimbab. Ia menaruhnya diatas meja dan langsung dilahap oleh gadis itu. Aku dan Key hanya memperhatikan ia melahap habis semua gimbab itu.

“Ada yang aneh pada anak ini.” Ujar Key saat gadis itu menghabiskan semua gimbab yang ada.

“Kau benar.” Ujarku setuju.

Kuhampiri gadis itu.

“Hei, namamu siapa.” Ujarku.

“Hei, jangan kasar begitu. Pantas ia tak mau menjawab pertanyaan. Biar aku yang tanya.” Ujar key seraya mendorongku untuk menjauh.

Aku pun menjauh beberapa langkah darinya dengan diam.

“hei, anneyong haseo.” Ujar adikku ramah padanya.

Aku tak pernah mendengarnya seramah itu semenjak beberapa tahun silam. “Ne.” ujarnya singkat.

Ada kemajuan. Ia menjawab pertanyaannya walau sangat singkat. Setelah kuperhatikan, ternyata matanya tak pernah menatap satu arah.

“Siapa namamu?” Tanya key lembut.

“Eun Jin.” Ujarnya lagi singkat.

Aku dan key pun menghela nafas panjang. Sekarang kita sudah maju satu langkah.

“Eun Jin, kau tinggal dimana?” tanyanya lagi.

“Gimbab enak. Eun Jin suka.” Ujarnya.

Mundur satu langkah. Key pun berdiri dari duduknya dan mendekatiku.

“Sudah kuduga. Memang ada yang salah.” Ujarnya.

“Kau benar. Kita harus segera memeriksakannya ke dokter.” Ujarku padanya.

Seakan-akan ada petir menyambar. Tatapan key padaku berubah total.

“Ada yang salah?” Ujarku bingung.

“’Ada yang salah?’? Ya, memang ada yang salah. Kau lah yang salah.” Ujarnya padaku.

“Hei, apa salahku? Memang apa salahnya kita memeriksakannya ke dokter?” tanyaku.

“Tentu saja salah. Kau pikir aku ini gudang uang? Menghidupi hidupmu yang konyol saja aku harus memberikan privat sehari 6 kali. Dan sekarang kau seenaknya bicara begitu seakan-akan kau yang menafkahiku selama ini.” Ujarnya kesal.

“Kau kenapa sih? Pelit sekali.” Ujarku ketus.

“Pelit kau bilang? Cari dulu pekerjaan, baru kau bawa ia ke dokter.” Ujarnya lagi.

“Iya, aku akan segera mencari pekerjaan. Besok.” Ujarku kesal.

Key tampak mengacuhkan semua yang kukatakan padanya. Ia menghampiri Eun jin dan menyuruhnya berdiri dan lekas tidur. Eun Jin pun mengangguk. Aku kesal dengan Key. Kubanting pintu kamarku. Kurebahkan badanku diatas tempat tidur. Memang ia pikir aku suka makan dengan uang hasil kerjanya.  Tidak. Lagipula apa salahnya membawa Eun jin ke dokter memakai uangnya dahulu? Bukankah selama ini seperti itu. Kurasakan kalau semakin hari, sifatnya padaku semakin kasar. Seakan – akan aku ini bukan hyungnya. Aku benar-benar malas dibuatnya. Kupejamkan mataku agar segera pergi tidur.

**************************************************

(Kim Kibum POV)

Seperti biasa, pagi sekali aku sudah bangun. Banyak yang harus aku lakukan. Memasak, membereskan rumah dan banyak lagi. Menyuruh hyung melakukan semua tugas ini, sama dengan menyuruh patung yang melakukannya. Kubereskan sofa tempat aku tidur. Badanku terasa pegal sekali. Apa boleh buat, kamarku dipakai oleh Eun Jin. Aku tak mungkin membiarkannya tidur di sofa. Aku pun berjalan lunglai kearah dapur. Saat kulewati kamarku, kudengar suara isak tangis. Apa itu suara Eun Jin? Kenapa ia menangis? Kubuka pintu kamarku. Dari ambang pintu bisa kulihat dengan jelas, ia sedang duduk meringkuk di pojok ruangan. Menangis. Aku pun menghampirinya.

“Kau kenapa?” tanyaku.

Ia hanya diam. Tak bergeming. Aku bingung harus bagaimana. Aku pun menuntunnya keluar dari kamar dan mengajaknya ke dapur. Kuberikan ia cokelat panas.  Ia pun meminumnya dengan lahap. Wajahnya terlihat menikmati sekali. Sudah lama aku tidak melihat ekspresi seperti itu setelah beberapa tahun silam. Aku pun mulai memasak. Kumasakan menu seadanya, sesuai dengan kebutuhan yang ada didalam kulkas. Kulirik Eun Jin sesekali, ia tampak memperhatikan segala sesuatu yang aku lakukan dengan seksama. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya. Jika melihat posturnya, ia tampak berumur 16 tahun. Beda 4 tahun denganku. Tapi, bila aku melihat sifatnya, ia tampak seperti anak berumur 3 tahun. Hampir selama 2 jam ia memperhatikan tingkahku. Saat aku memasak, mencuci baju, membersihkan ruangan, ia terus memperhatikan aku. Bahkan saat aku mandi, ia menungguku diluar pintu. Aku pun kembali ke dapur uantuk menyiapkan meja makan. Beberapa saat kemudian, kangin pun bangun. Ia langsung duduk di meja makan. Aku pun mengambilkan nasi untuk mereka semua dan kami pun mulai makan. Seperti biasa, kami makan dengan hening. Aku pun memulai bicara untuk mencairkan suasana.

“Hari ini aku tak ada jadwal privat. Aku akan pulang seusai kuliah.” Ujarku pelan.

“Berarti kau tak akan dapat uang.” Ujar Kangin cablak.

Aku pun menoleh padanya. Ia menatapku dengan polos. Jika aku tak ingat ia hyungku, ingin sekali kulempar ia dengan mangkuk nasi ditanganku.

“Kita butuh uang untuk memeriksakan Eun Jin ke dokter.” Lanjutnya polos.

Aku sudah muak. Ia sama sekali tak paham kondisiku. Selama ini aku selalu sabar menjadi alat penghasil uangnya. Ia begitu menggantungkan hidupnya padaku. Aku tak mau ia seperti itu. Aku ingin hyungku menjadi orang berguna. Tampaknya tindakankanku dan sindiranku padanya tak mempan selama ini. Kadang aku berfikir, jika aku mati, bisa jadi apa hyungku ini? Kupandang hyungku dengan tatapan muak.

“Aku berangkat.” Ujarku dingin.

Aku pun beranjak dari meja makan. Kuraih ranselku yang ada diruang tamu. Tak lupa, kubanting pintu saat aku keluar dari dalam rumah.

************************************************

(Kim young woon POV)

Apa aku salah bicara tadi? Memang apa salahku tadi? Aku tak mengerti semua maksud Key selama ini. Bagiku, Key adalah orang yang paling sulit ditebak. Moodnya mudah berubah. Aku pun menghela nafas panjang. Akhirnya aku bisa keluar rumah juga setelah melepaskan diriku dari Eun Jin. Dengan terpaksa aku menguncinya dikamar Key.  Sekarang, aku hanya bisa berjalan tanpa arah memikirkan pekerjaan. Aku bingung harus bekerja seperti apa. Tak ada yang cocok denganku. Aku pun melamun memikirkan pekerjaanku. Tanpa sadar aku sudah berjalan jauh. Sekarang aku berada di pasar ikan. Kulihat papan nama yang menuliskan mencari pekerjaan. Kuperhatikan pekerjaan yang dimaksud. Tidak sulit kurasa, tidak jauh dari keahlianku. Mungkin aku bisa. Kuhampiri, toko tersebut. Aku melamar pekerjaan disana. Hanya dengan berbekal omongan basa-basi dan… Voila…!!! Aku dapat dan bisa langsung kerja saat itu juga.

lihat key, aku dapatkan pekerjaan.” Ujarku dalam hati.

********************************************************

Ternyata begini rasanya pulang saat senja. Matahari sore yang indah. Angin yang berhembus dengan tenang. Begini pemandangan yang biasa dilihat Key saat lelah pulang dari memberi privat. Kubuka pagar rumahku. Aku pun segera memasuki rumah. Rupanya Key sudah pulang. Ia sedang memakaikan Eun Jin mantel hangat. Key menatapku dengan sebal.

“Tega sekali kau menguncinya dikamar hyung.” ujarnya padaku.

Aku pun tak mengubrisnya. Kuhampiri mereka dengan pelan.

“Mau kemana?” tanyaku.

“Ke rumah sakit. Mau memeriksa anak ini.” Ujarnya tak kalah datar.

Aku hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian pun mereka bergegas pergi dari rumah. Akhirnya aku sendiri lagi disini.

*******************************************************

(Kim Kibum POV)

Hampir 2 minggu Eun Jin tinggal disini. Ternyata ia adalah anak Autis. Kata Baksanim, ia akan sembuh apabila mengikuti teraphy. Namun, bisa apa aku? perkerjaanku yang hanya sebagai guru privat dan hyungku yang hanya sebatas kuli pasar. Tak ada yang bisa kami lakukan. Bisa memberinya makan saja aku sudah bersyukur. Semenjak saat itu pun, sifat Kangin Hyung mulai berubah. Ia jadi begitu lembut. Terutama pada Eun Jin. Lembut… sekali. Aku tak pernah melihatnya selembut itu. Kata-katanya pun tidak sekasar dulu. Jujur, aku cemburu pada anak itu. Adik kandung Kangin hyung aku, lalu kenapa Hyung memperlakukanku biasa saja? Seakan-akan Eun Jin adik kandungnya dan aku hanya orang yang menumpang dirumahnya. Aku sebal sekali pada Eun Jin. Hari ini aku bertugas menjaga Eun Jin. Sebenarnya aku tidak mau. Apa boleh buat? Ini seudah menjadi kesepakatan kami berdua antara Hyung dan aku. Kadang aku berfikir, sampai kapan anak ini akan terus mengusik kehidupanku? Aku sudah muak. Kulirik Eun Jin sesekali. Ia sedang menggambar. 30 menit lagi aku harus pergi memberikan les privat. Bagaimana ini? Hyung melarangku untuk tidak meninggalkannya sendiri. Tapi aku juga tak mungkin mengajaknya. Yang benar saja? Lama kupikirkan cara bagaimana aku bisa meninggalkan anak ini. Setelah kupikirkan, kuputuskan untuk menitipkannya pada tetanggaku. Segera kupakaikan mantel pada anak itu. Anak itu hanya diam. Aku pun segera menuju rumah Young Anjumna. Tentu saja untuk menitipkan anak menyebalkan ini. Setelah berbincang sedikit dangan Young ajumna, akhirnya ia mau menerima anak ini untuk kutitipkan. Akhirnya… kulangkahkan kakiku menjauhi rumah Young ajumna. Samar-samar terdengar suara elakan dari Eun Jin. Ia pasti tak mau tinggal. Biar sajalah. Selamat datang jam-jam bebasku…!!!

*****************************************************************

“Oppa, aku tetap tak mengerti.” Ujar Ji Hwa, murid privatku.

“Aigo… kan sudah kuajari!” seruku padanya.

“Aku tetap tak mengerti oppa.” Rajuknya.

“Oh… baiklah. Ayo buka bukumu.” Perintahku.

Wajahnya pun tampak senang. Tiba-tiba ponsel pun berdering. Aku pun meminta izin pada Ji hwa untuk mengangkat ponselku dan segera meninggalkannya.

“Yeoboseyo?” tanyaku.

“Yeoboseyo? Kibum-ssi? Ini young ajumna. Ada berita penting.” Ujarnya panik.

“Tenanglah ajumna. Ada apa?” tanyaku mencoba menenangkannya.

“Eun Jin-ah. Dia kabur. Dia kabur saat aku sedang menerima tamu.” Ujarnya lebih panik lagi.

“Mwo? Jeongmal?” tanyaku tak percaya.

“Ne. Aku sudah menghubungi kakakmu. ia akan segera mencarinya.” Ujarnya lagi.

“Ne, ajumna. Araso. Aku juga akan segera mencarinya.” Jawabku dan segera menutup ponselku.

Kabur? Yang benar saja. Hyung pasti marah besar. Seharusnya aku tidak meninggalkannya tadi. Neomu paboya. Aku pun segera menghampiri Ji Hwa. Kukatakan padanya kalau aku harus pulang sekarang. Untung aja Ji Hwa mau mengerti. Aku pun segera memakai mantelku dan meninggalkan pekarangan rumah Ji Hwa. Kira-kira kemana aku harus mencari anak itu? Duh… sial sekali aku. Akhirnya kuputuskan untuk mencari Eun Jin di daerah rumahku. Ia kan belum tahu daerah ini, pasti ia tak akan jauh. Tapi ia kan autis? Memang ia peduli? Bisa pergi sejauh ini dan ditemukan oleh hyung-ku saja sudah bagus. Kira-kira, apa ia akan pergi jauh lagi ya? Yang kutakutkan ia pergi keluar batas kota Seoul. Lebih sulit bagiku mencarinya. Aduh… kemana lagi aku harus mencari anak itu?

“Ja! Key!” panggil seseorang.

“Hyung?” tanyaku gugup.

“Kau sedang mencarinya juga? Baguslah. Ayo kita cari bersama.” Ajaknya.

Duh.. kenapa aku harus mencari Eun Jin dengan hyung-ku ini. Ia pasti akan memarahiku. Akhirnya aku pun mengangguk saja dan berjalan mengikutinya. Kami pun mulai berteriak memanggil Eun jin. Kami juga bertanya pada orang yang kami temui. Sayang, tak ada yang tahu. Kulirik jam tanganku. Waktu menunjukan pukul 7 malam. Aduh…. Dimana ia akan tidur? Seoul itu jahat. Kalau ada yang macam-macam padanya bagaimana.

“Key! Itu Eun jin.” Teriak hyungku itu.

Aku pun bergegas menghampirinya. Benar. Ia sedang bermain ayunan di salah satu taman. Mulutnya sedang menyenandungkan sesuatu. Aku dan hyung pun menatapnya. Kami pun segera menghampirinya. Hyung pun menyentuh pundaknya.

“Eun jin. Ayo kita pulang.” Ajaknya.

Eun jin pun mengangguk. Ia pun menggenggam tangan kiri hyung. Huh… sebal.

“Eun Jin bosan. Eun jin mau main.” Ujar anak itu.

“Iya. Maafkan oppa ya. Oppa janji akan main bersama Eun jin nanti.” Ujar hyung.

Bikin cemburu saja. Tapi aku masih bingung pada hyung-ku ini. Apa ia tak marah padaku?

“Hyung? kau tak marah padaku?” tanyaku takut-takut.

Tapi ia hanya tersenyum. Senyum yang tak pernah kudapat darinya selama ini.

“Sudahlah. Yang penting Eun jin sudah kita temukan.” Ujarnya santai.

Mwo? Serius hyung-ku bicara seperti ini? Ia memang berubah. Sangat berubah. Berbeda dengan hyung yang selama ini kukenal. Kurasa aku juga harus mulai berubah. Kurasakan tangan kanan-ku digenggam. Eun jin menggeggam erat tanganku. Kurasa mulai sekarang aku harus mulai sabar. Terutama membagi hyungku padanya.

***************************************************************

“Wajib militer? Hyung serius?” tanyaku tak percaya.

“Ne. Aku serius.” Jawabnya mantap.

“Wah… angin macam apa yang membuat hyung daftar wajib militer? Kenapa hyung baru sadar sekarang?” tanyaku.

“Hahahaha. Kau ini! Yah… kurasa ini sudah saatnya aku mengabdi pada Negara. Mengingat sifatku dulu. Kurasa aku harus menebusnya.” Ujarnya santai.

“Yah… bila itu keputusan hyung, aku ikut saja.” Jawabku.

“Baiklah kalau begitu.” Jawabnya kembali.

“Tapi bagaimana aku menyampaikannya pada Eun jin? Kau tahu ia sangat menyayangimu.” Tanyaku bingung.

“Tenang. Masih ada 2 minggu sebelum kepergianku. Kita bicara saja pelan-pelan. Aku akan mulai bicara padanya esok pagi. Sekarang biarkan saja ia tidur pulas.” Ujarnya.

“Baiklah. Tapi mulai kepergianmu, ia tidur dikamarmu ya. Aku mulai rindu kamarku. Lagipula aku sudah muak tidur disofa ini.” Ujarku.

“Hahaha. Sekarang saja kau tidur dikamarku.” Jawbnya.

“Mwo? Aniyo! Bau alkohol.” Tolakku.

“Ya! Kan sudah kubersihkan.” Belanya.

“Tetap saja. Baunya masih menempel. Besok kau harus membereskannya lagi sebelum Eun jin memakai kamarmu.” Ujarku.

“Baiklah bawel. Sekarang aku mau tidur. Kau juga tidur.” Ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

“Ne. Araso.” Jawabku seraya memakai selimutku.

*******************************************************

Sudah setahun sejak kepergian hyung-ku wajib militer. Sekarang aku benar-benar mengurus Eun Jin seutuhnya. Melelahkan bukan main. Minggu pertama sulit sekali bagiku. Ia memang tak pernah patuh padaku. Dari awal ia memang lebih menyukai hyung-ku dan mematuhi segala yang hyung-ku bilang. Tapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa berinteraksi dengannya. Aku sudah mulai mengaturnya walau masih sulit karena moodnya mudah berubah. Selain itu, aku pun memiliki pekerjaan baru. Aku sudah tidak lagi mengajar privat. Masih sih. Tapi hanya bagi mereka yang tinggal didaerah rumahku saja. Sekarang aku berkerja di toko kaset. Akhirnya setelah sekian lama aku memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang stabil. Senang rasanya memiliki gaji tetap.

“Key oppa. Lapar.” Rajuknya.

“Baiklah. Aku juga lapar. Kita makan diluar ya! Sudah lama aku mau makan Guksu. Ayo pakai mantelmu.” Ujarku seraya membantunya memakai mantel.

Segera kukunci pintu dan pagar rumahku. Kami pun jalan di tepi trotoar. Tangannya menggenggam tanganku. Panas juga. Apa ia demam? Gawat bila ia demam.

“Eun jin mau itu!” ujarnya tiba-tiba seraya menunjuk kedai eskrim.

“Sudah tutup Eun jin.” Ujarku bohong.

“Mau itu.” Rajuknya lebih keras.

“Aduh….. nanti oppa buatkan. Tapi sekarang kita makan guksu dulu ya.” Bujukku.

“Aniyo… Eun jin mau itu.” Teriaknya lagi.

Ini nih, susahnya punya rumah di kota. Baru keluar rumah sudah ada kedai eskrim. Bila kau bernasip sepertiku. Kedai eskrim adalah suatu petaka besar di saat-saat genting.

“Ayolah Eun jin! Malu dilihat orang.” Seruku seraya menariknya pergi.

Aku pun menyeretnya menuju salah satu rumah makan. Rumah makan ramyun tepatnya. Padahal aku ingin sekali makan guksu. Gara-gara tingkah anak menyebalkan ini, aku jadi harus menelan liurku kembali. Didalam kedai ia tetap memberontak. Mengganggu ketenangan pelanggan lain. Akhirnya aku memesankan milkshake strawberry untuknya. Dasar anak gengsi tinggi. Dikasih milkshake, baru bisa diam. Menyebalkan. Kupesan 2 ramyun. Saat ramyun tiba, segera kulahap ramyun milikku. Mengurus Eun jin memang menguras tenaga. Membuatku harus mengeluarkan tenaga 3 kali lipat. Wajar bila aku kelaparan. Baru beberapa menit kutinggal makan, saat kulirik Eun jin. Ia bukannya makan malah memainkan ramyun didepannya. Cipratannya menyiprat kemana saja. Dasar jorok.

“Eun jin apa yang kau lakukan?” tanyaku seraya me-lap tangannya dengan tissue.

Ia hanya tersenyum. Ia terus memainkan makanan dihadapannya.

“Ayo kusuapi.” Perintahku.

Akhirnya waktu makanku terhambat karena aku harus menyuapinya. Menjengkelkan sekali. Saat aku selesai menyuapinya, aku pun mulai makan. Tapi belum sempat aku makan, ia malah membuat keonaran lagi. Ia bernyanyi-nyanyi menyanyikan lagu yang tak jelas. Mengganggu sekali. Sangking mengganggunya, kami pun diusir oleh pemilik rumah makan itu. Lalu bagaimana dengan ramyun-ku?

“Kau ini! Selalu saja menyusahkan orang.” Ujarku padanya saat kami kembali pulang.

Ia hanya tersenyum. Wajahnya menunjukan innocent yang teramat sangat. Dasar menyebalkan. Kubiarkan ia berjalan didepanku. Agar aku bisa memantau kelakuannya. Terakhir, saat aku membiarkannya berjalan dibelakangku. Ia malah menaiki bis kota. Alhasil aku mengejar bis itu sejauh 3 blok. Pegal sekali.

“Oppa ngantuk.” Rengeknya.

“Tahan saja dulu. Bentar lagi sampai.” Jawabku ketus.

Ia terus saja meronta. Kugenggam tangannya. Takut ia ngamuk dan hal buruk yang tak diharapkan terjadi. Akhirnya kami pun sampai dirumah. Aku pun segera mengajaknya menuju kamar hyung. Ia pun langsung tertidur. Dasar! Anak ini. Bisa-bisanya setelah mengusik makan malamku, ia pulas tertidur. Kuselimuti ia dengan selimut. Jujur, meski ia menyebalkan, membuat masalah, selalu merepotkan, tapi aku tak bisa berbohong kalau ia manis sekali. Istilahnya, saat fajar tiba hingga tenggelam ia seperti monster. Namun saat bulan muncul, ia bagai putri tidur. Jujur, aku lebih suka saat ia tidur. Tapi entah mengapa, saat ia bangun pun aku sangat gemas padanya. Wajahnya yang innocent selalu membuatku gemas. Selain itu rasa ingin tahunya tinggi sekali. Saat aku menyapu, ia ikut menyapu. Saat aku mencuci, ia mengikutiku juga. Kadang saat aku marah, ia selalu mengikuti apa yang aku bicarakan. Sehingga sering sekali membuatku tak jadi marah padanya. Ada apa ini? Akhir-akhir ini pun aku sering merasa tidak tenang bila meninggalkannya. Tapi ia memang manis sekali. Semoga saja ini hanya perasaanku saja. Bisa gawat bila aku sampai menyukai gadis aneh ini.

************************************************************

“Aduh…. Badanmu panas sekali.” Ujarku panik.

Ia hanya mendesah. Ya, aku tahu. Pasti lemas sekali rasanya. Kuambil thermometer dari mulutnya. Kulihat panasnya. 40 derajat? Panas sekali! Dia kompor atau orang sih? Mungkin bila kurebus telur, dalam 3 menit akan langsung matang. Duh….! Mana diluar hujan lebat. Bagaimana aku membawanya ke rumah sakit?

“Oppa…” rajuknya lemas.

“Ne. Oppa disini.” Ujarku seraya mengkompresnya lagi.

Apa yang harus kulakukan? Obat sudah kuberikan. Susu hangat sudah. Bubur ayam sudah. Tapi kenapa panasnya tak kunjung reda? Aduh… kenapa aku jadi ingin menangis? Kenapa dadaku menjadi sesak melihat kondisinya? Kenapa denganku ini? Eun jin pun semakin erat menggenggam tanganku. Pasti pusing sekali. Tuhan… jika bisa, aku ikhlas menggantikan posisinya. Kenapa aku menjadi tegang seperti ini? Apa ini tandanya aku menyukainya? yang benar saja? Bagaimana bisa aku menyukai gadis seperti ini? Bisa-bisanya kau berfikir konyol disaat genting seperti ini, Key! Dari tubuhnya mulai keluar keringat dingin. Badannya mulai gemetar. Aya..!! Apa yang harus kulakukan? Bisa gila aku kalau begini caranya. Aku pun terus mengkompresnya. Kulap lehernya dengan handuk hangat. Eh, apa ini? Darah? Ya ampun, ia mimisan. Aku pun segera melap darah yang mengalir dari hidungnya. Mengapa tak mau berhenti? Kangin hyung..!! kau dimana? Tolong aku! Kenapa pipiku hangat? Aku pun menyentuh pipiku. Air? Aku menangis? Yang benar saja! Bagaimana mungkin aku menangis. Tapi memang benar. Aku menangis. Aku menangis melihatnya menderita seperti itu. Tuhan… semoga Eun jin cepat sembuh. Tak terasa hampir semalaman aku terus berada disamping Eun jin. Mengompresnya dan membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya. Lelah sekali. Tanpa sadar, aku pun tertidur. Entah berapa lama aku tertidur. Tiba-tiba aku pun terbangun. Terbagun oleh sinar pagi yang masuk melalui jendela kamar hyungku.

“Eun jin kau…”

loh? Kemana anak itu? Tempat tidurnya kosong. Tak ada Eun jin disitu. Aku pun panik. Aku pun bergegas keluar kamar. Mencari Eun jin. Saat aku melewati dapur, kuliat sosok Eun jin sedang duduk mengitari meja makan. Sedang apa ia? Saat kuhampiri, tangannya sibuk mengolesi roti dengan selai yang ada diatas meja. Berantakan sekali. Tapi wajahnya sudah cerah. Tampaknya demamnya sudah reda. Syukurlah. Kurasa ia menyadari kehadiranku. Ia pun menoleh padaku dan tersenyum padaku. Manis sekali.

“Sarapan untuk oppa.” Ujarnya.

Aku pun tersenyum padanya dan duduk disampingnya.

“Oke. Mari kita makan sarapan buatan Eun jin. Mana yang buat oppa?” tanyaku ramah.

“Yang coklat.” Ujarnya riang.

********************************************************

“Key…!” panggil seseorang.

Aku yang sedang sibuk menenteng belanjaan dan tangan yang lainnya menggenggam tangan Eun jin pun menoleh. Kangin hyung? ia sudah pulang. Eun jin pun tampak antusias. Ia pun melepas genggamanku dan berlari kearah Kangin hyung.

“oppa…” teriaknya manja.

“Hai.. Eun jin. Kau sudah besar.” Ujar hyung-ku ramah.

“Hyung…!! cepat sekali kau kembali.” ujarku kaget saat melihat sosoknya.

“Ya… memang lebih cepat dari dugaanku.” Ujarnya.

“Kapan kau sampai?” tanyaku.

“Baru saja. Wah… wajahmu tampak seperti kakek tua.” Candanya.

“Hentikan. Kau tidak tahu betapa repotnya menjaga Eun jin sendiri.” Ujarku sebal.

“Hahaha. Mianhae Key. Kau sudah makan?” tanyanya.

“Aniyo. Hyung sudah?” tanyaku.

“Aniyo. Kau masak tidak? Aku mulai rindu masakanmu.” Ujarku.

“Aniyo. Ayo kita makan guksu.” Ajakku bersemangat.

“Aya… aku ingin bulgogi.” Rajuknya.

“Andwe. Pokoknya kita makan guksu. Selama kau tak ada, aku ingin sekali makan guksu, tapi ujungnya selalu saja berakhir makan ramyun atau mexicana.” Rajukku lagi.

“Waw… kau kerja keras sekali. Baiklah, ayo kita makan guksu. Selain itu ada yang mau aku kabarkan padamu.” Ujarnya.

“Berita baik?” tanyaku.

Ia hanya yersenyum. Kami pun berjalan pelan menuju rumah makan guksu. Kulirik Eun jin. Tangannya tak hentinya menggenggam tangan hyung-ku itu. Dasar manja. Aku tak suka melihatnya manja pada hyungku itu. Menyebalkan. Kami pun pun segera memasuki rumah makan itu. Kami pun memilih meja yang terletak dipojok. Aku pun segera memesan 3 porsi guksu. Saat pesanan kami datang. Tanpa menunggu mereka, aku pun langsung memakan guksuku. Aya…. Akhirnya aku makan guksu juga. Bahagianya. Sesekali kulirik Eun jin. Ia sedang memakan guksu itu dengan tenang. Menyebalkan. Dasar manja. kenapa waktu ia makan bersamaku tak bisa diam? Sedangkan saat ada hyung, ia bisa makan dengan tenang. Menyebalkan!

“Ya.. ada yang mau kusampaikan padamu.” Ujar hyung memulai pembicaraan.

“Kabar baik atau buruk?” tanyaku malas.

“Aya… mana kutahu? Hanya kau yang bisa menilainya.” Ujarnya.

“Ok. Cepat katakan.” Ujarku.

Ia pun tersenyum. Ia pun meraih ranselnya dan merogoh sesuatu. Beberapa saat kemudian ia mengeluarkan secarik Koran lusuh. Idih… Koran itu pasti bekas gorengan, ingus, kotoran, atau semacamnya. Ia pun menyodorkan kertas itu padaku.

“Mwo?” tanyaku.

“Baca saja sendiri!” perintahnya.

Kertas kaya gitu? Yang benar saja. Kulirik hyung-ku sekali lagi. Matanya mengisyaratkan aku untuk menerimanya. Dengan ogah-ogahan yang teramat sangat, aku pun mengambil kertas Koran itu itu.

Dicari anak hilang.

Nama : Shin Eun Jin

Umur : 15 tahun

Tinggi : 160 cm

Bagi anda yang menemukannya, harap hubungi xxx-xxx-xxxx.

Mataku terbelalak tak percaya saat membacanya. Kutatap hyung-ku.

“Itu Koran 2 tahun yang lalu.” Ujarnya santai.

“Mwo? Berarti ia sudah 1 tahun hilang sesaat sebelum hyung menemukannya?” ujarku.

“Begitulah.” Ujarnya.

“Berarti kita harus menghubungi keluarga anak ini?” tanyaku konyol.

“Tentu saja. Bukankah dulu kau yang bilang agar anak ini cepat keluar dari rumah kita?” ujar hyung-ku kesal.

Benar juga. Memang dulu aku yang bilang begitu. Entah mengapa aku ingin menarik kata-kataku dulu.

********************************************************

Ternyata anak ini berdarah kelahiran China. Ummanyalah yang berkebangsaan China. Tak kusangka gadis sekecil ini bisa tersasar dari Tsingtao hingga Seoul. Bagaimana caranya? Naik kereta? Mau berapa puluh tiket? Lagipula bagaimana caranya ia membeli tiket? Menyebrang laut kuning? Naik apa? Berenang? Aih…. Yang benar saja. Sekarang, aku, hyung, dan Eun jin tentunya sedang dalam perjalan menuju inchon. Appanya akan menjemputnya di pelabuhan inchon. Entah mengapa, sedari tadi ada yang mengganjal hatiku. Sesungguhnya aku tak mau Eun jin pergi. Apalagi setelah apa yang terjadi pada kami 1 tahun terakhir ini. Aku pun sudah memendam perasaan lebih. Memang konyol bila aku memendam perasaan lebih pada anak autis seperti ini. Tapi itulah kenyataan. Beberapa saat kemudian kami pun tiba. Kami pun segera menemui appa Eun jin. Appanya pun tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada kami. Pluit kapal pun berbunyi. Menandakan kapal akan segera berangkat. Mereka pun pamit dan segera menaiki kapal. Kami pun melambaikan tangan dan seketika kapal pun mulai bergerak dengan pelan. Aku dan hyung pun berbalik. Kami pun berjalan pelan meninggalkan pelabuhan. Apa ini? Ada sesuatu yang mengganjal dadaku. Tidak bisa! Aku tak bisa membiarkannya. Aku pun berbalik dan mulai berlari menuju tepi pelabuhan. Kuatur nafasku yang tak karuan. Hyung pun berteriak memanggilku namun aku tak mengubrisnya. Kutatap sosok Eun jin yang masih menatapku dari atas kapal.

“Saranghaeyo Eun jin-ah…” teriakku.

Akhirnya kata itu keluar juga. Meski aku yakin ia tak akan paham dengan semua perkataanku, namun… setidaknya aku sudah mengutarakan perasaanku.

****************************************************

Sekali lagi kupengang pundakku. Pegal sekali. 5 tahun semenjak kepulangan Eun jin ke Tsingtao, rutinitasku dan hyungku pun kembali seperti biasa. Tentu saja hyungku tak kembali mabuk. Ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Ia menjadi seorang manager di salah satu supermarket. Sedangkan aku, masih tetap bekerja di toko kaset. Aku pun berjalan lunglai menuju rumahku. Kutundukan kepalaku. Pokoknya begitu sampai rumah, aku ingin mandi air hangat. Saat kudongakkan kepalaku, seorang yeoja berdiri didepanku. Hampir saja aku lari terbirit-birit, karena kehadirannya seperti hantu. Aku pun berjalan pelan melewatinya. Ia pun tersenyum padaku. Yeoja aneh.

“Anneyong haseo.”  Sapanya.

Aku pun tak mengubrisnya. Siapa ia? Sok kenal.

“Masih ingat padaku key oppa?” ujarnya mengagetkanku.

Aku pun menoleh. Ia pun tersenyum lagi padaku. Senyuman yang lebih manis. Kudekati ia dengan perlahan. Kuperhatikan wajahnya. Ini tidak mungkin.

“Eun jin?” tanyaku kaget.

“Syukurlah oppa masih mengingatku.” Ujarnya.

“Tapi.. bagaimana? Kau?” ujarku terbata.

“Hahaha. Tampaknya oppa masih bingung. Bagaimana kalau kita makan ramyun? Aku janji tak akan membuatmu terpaksa menyuapiku lagi.” Ujarnya ramah.

Aku pun tersenyum. Ternyata ia memang Eun Jin. Eun jinku yang dulu. Kurasa akan ada kisah manis baru lagi antara aku dan Eun Jin.

The End

By: Retno Wulandhari

6

I Love Him, Not You.. {Part 2}

Ah sial! Kenapa harus hujan? Aku lupa membawa payungku (T.T). Padahal aku sudah senang hari ini bisa pulang cepat.

“Min Young-ssi~!” panggil seseorang diseberang jalan melambaikan tangannya padaku.

Aku tidak tau itu siapa, hujan deras menghalangi penglihatanku. Aku hanya diam di tempat, lalu beberapa saat kemudian orang itu berlari kecil menghampiriku.

“Siwon oppa?” tanyaku heran.

“ne, kau mengharapkan siapa?” Continue reading

2

You’re Everything {Oneshot}

Cast :

–      Shin Eun Jin

–      Lee JInki (Shinee)

–      Kim Kibum (Shinee)

–      Cho Kyuhyun (Super Junior)

(Shin Eun Jin POV)

From : Kyuhyun oppa

Tunggu oppa di persimpangan Hongdae area.

Oppa akan tiba dalam 10 menit.

Aku pun menghela nafas panjang membaca pesan yang kuterima beberapa saat lalu. Kututup flip ponselku dengan perlahan. Seperti biasa, aku menunggu Kyuhyun oppa di persimpangan Hongdae area. Sebenarnya aku tak suka menunggu disini. Ramai sekali oleh kendaraan ataupun orang yang berlalu lalang. Tapi apa boleh buat. Hanya persimpangan ini yang menghubungkan Hongik University dengan Youngdae high school. Maksudnya, agar kami bisa pulang bersama saat Kyuhyun oppa pulang dari Hongik university dan aku pulang dari sekolahku. Padahal, aku selalu bilang pada oppa kalau aku bisa pulang sendiri. Namun oppa selalu melarangku. Wajar saja, aku di Seoul hanya tinggal berdua dengan Kyuhyun oppa. Tak heran jika ia selalu merasa khawatir padaku. Sejak dulu, aku tak pernah tahu keberadaan orang tuaku. Kyuhyun oppa selalu bungkam bila kutanya mengenai appa dan umma. Aku sih, menurut saja. Selama masih ada kyuhyun oppa disampingku. Tak pernah ada yang aku khawatirkan. Walau marga kami berbeda.

“Oppa lama sekali.” Keluhku lirih.

“Eun Jin…!” teriak seseorang.

Aku menoleh. Rupanya Jinki oppa. Sunbae-ku.

“Tumben oppa belum pulang. Sedang apa oppa disini?” Tanyaku ramah.

“Kau sendiri kenapa belum pulang? Selarut ini masih berkeliaran dikawasan seperti ini.” Ujarnya padaku.

“Ne, aku menunggu Kyuhyun oppa.” Jelasku padanya.

“Kenapa tidak pulang denganku saja? Rumah kita kan satu daerah.” Ujarnya.

“kalau aku bisa. Kyuhyun oppa selalu melarangku pulang sendiri.” jelasku.

Ia hanya mengangguk seraya membetulkan letak kacamatanya. Tampan sekali. Aku selalu suka sorot mata Jinki oppa yang bersinar dibalik bingkai kacamatanya. Matanya yang mungil selalu memancarkan kehangatan untuk siapa saja yang menatap matanya. Membuat siapa saja nyaman disampingnya. Aku memalingkan wajahku dari wajah Jinki oppa. Wajahku pasti tidak karuan. Aku pun kembali menunggu Kyuhyun oppa. Jinki oppa tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia tetap berdiri disampingku.

“Oppa kenapa tidak pulang?” tanyaku.

“Aku pulang malam, bukan masalah. Kamu pulang malam, bahaya. Ya! Itu oppa-mu bukan?” Tanya Jinki oppa padaku.

Aku pun menoleh. Benar. Disebrang jalan sudah ada Kyuhyun oppa dengan tangan yang penuh dengan kertas–kertas dan barang-barang lainnya. Aku pun melangkahkan kakiku untuk menyebrang. Namun Kyuhyun oppa melarangku.

“Diam. Biar aku yang menyebrang.” Perintahnya.

Aku mengangguk. Jinki oppa pun menarik tanganku untuk mundur.

“Jangan menyebrang. Jalanan seramai ini.” Ujar Jinki oppa padaku.

Aku pun menurut saja. Aku menunggu Kyuhyun oppa menyebrang. Sesungguhnya aku tak tega melihat oppa menyebrang. Selain bawaannya yang banyak, ketajaman pendengaran oppa pun mulai berkurang. Tapi aku tak pernah berani melawan perintah oppa. Aku pun diam menunggu oppa. Kulirik tangan kananku. Jinki oppa terus menggenggam tanganku. Ini pertama kalinya ada yang menggenggam tanganku selain Kyuhyun oppa. Sesungguhnya aku juga tak nyaman dengan genggaman Jinki oppa, namun entah mengapa aku  terus membiarkannya menggenggam tanganku.

“Hyung, awas..!!” seru Jinki oppa membuyarkan lamunanku.

Aku kaget. Aku pun menatap heran wajah Jinki oppa yang tampak tegang. Suara klakson menderu keras. Kutolehkan wajahku kearah Kyuhyun oppa. Saat itu juga, seakan tak memberiku kesempatan untuk bicara, sebuah mobil melaju dengan kencang kearah Kyuhyun oppa. Seketika tubuh Kyuhyun oppa sudah tergeletak ditanah. Kertas-kertas yang oppa bawa berterbangan dengan noda merah yang menghiasi warna putihnya. Aku kaget bukan main dibuatnya. Aku ingin sekali memeluk Kyuhyun oppa. Aku pun bergegas menghampiri Kyuhyun oppa dengan langkah yang tertahan. Aku langsung menangis melihatnya. Jinki oppa terus menggenggam tanganku. Aku pun melepas genggaman Jinki oppa dan segera memeluk Kyuhyun oppa. Jantungnya masih berdetak. Wajah kyuhyun oppa tampak lemah dan kesakitan sekali. Darah mulai mengalir deras dari pelipisnya. Kulirik Jinki oppa, memohon bantuan. Namun ia sedang sibuk bertengkar dengan penabrak Kyuhyun oppa.

“Oppa bertahanlah.” Ujarku lirih.

Ia hanya tersenyum miris.

“Bertahan oppa. Hanya kau yang kumiliki di dunia ini.” Ujarku lagi.

Sekali lagi kyuhyun oppa hanya tersenyum kearahku. Beberapa saat kemudian, mobil ambulans pun datang. Mereka pun memasukkan kyuhyun oppa kedalam mobil. Beserta aku yang terus disamping oppa, tak lupa dengan Jinki oppa yang terus menggenggam tanganku dengan hangat.

*********************************************************

Akhirnya setelah 1 bulan dirawat di Seoul National Hospital, Kyuhyun oppa menutup matanya untuk selamanya.  Setelah 1 bulan menderita karena efek obat yang diberikan dokter, ia akan beristirahat dengan tenang tanpa berada disisiku lagi. Aku sangat sayang pada oppa-ku. Ia satu-satunya yang kumiliki didunia ini. Tapi sekarang, aku hanya bisa menatap nisannya yang berwarna kelabu. Sejak oppa masuk rumah sakit sebulan yang lalu, aku tak pernah berhenti menangis. Melihatnya, mendengar namanya, membaca namanya, itu semua hanya membuatku terluka dan mengingat kejadian itu. Aku pun menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ini semua tak mungkin terjadi. Tuhan…. Apakah ini hanya mimpi? Jika benar, aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.

“Eun Jin….” panggil seseorang pelan seraya menarik kedua tanganku.

Aku pun menatap sosok yang berdiri tegap didepanku. Sejak tragedi itu, Jinki oppa selalu menemaniku. Selalu membantuku menemani Kyuhyun oppa saat aku harus sekolah atau bekerja. Sampai sekarang pun, sampai Kyuhyun oppa dikebumikan, ia tak pernah absent disampingku.

“Ayo kita pulang.” Ajaknya seraya menggenggam tanganku hangat.

Aku tak bicara apapun padanya. Aku hanya menangis saja didepannya. Ia hanya tersenyum padaku.

“Kalau kau menangis seperti ini, oppa-mu pasti sedih.” Ujarnya seraya menyeka air mataku.

Aku hanya mengangguk. Kurasa ia benar. Tak ada gunanya aku menangis. Mungkin kyuhyun oppa akan sedih disana bila aku menangis seperti ini. Ia pun menarik tanganku untuk menjauhi makam tempat Kyuhyun oppa beristirahat untuk selamanya. Aku berjalan mengikutinya dibelakang. Kami pun mulai menjauhi makam oppaku. Untuk terakhir kalinya aku menoleh kearah makam oppa-ku. Kulambaikan tanganku. Seakan-akan oppaku ada disana. Tersenyum dan membalas lambaian tanganku.

*********************************************

Sudah 5 bulan oppa-ku meninggal. Sekarang aku pun sudah pindah ke apartemen baru. Yang dekat dengan tempatku bekerja. Agar jika aku pulang malam, tak terlalu jauh dengan rumahku yang dulu. Sudah 1 minggu aku tinggal disini. Lagipula rumah itu hanya menyisakan pahit bagiku. Selain itu, kurang lebih 2 bulan, aku dan Jinki oppa sudah menjalin hubungan. Tempat tinggalku pun dengan Jinki oppa semakin jauh. Tapi aku tak khawatir untuk tidak bertemu dengannya, karena kami tetap sekolah disatu tempat. Kadang ia suka menjemputku untuk pergi atau pulang sekolah bersama. Walau aku sering menolaknya, ia selalu saja menjemputku tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Kurebahkan tubuhku diatas sofa. Sudah 5 jam aku berkutat didepan netbook-ku. Lelah sekali menjadi seorang penerjemah diusia sedini ini. Tiba-tiba pintu apartemenku diketuk. Aku pun membuka pintu. Ternyata Jinki oppa. Ia datang seraya membawakanku es krim strawberry. Kesukaanku.

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya seraya memasuki apartemenku.

Aku hanya tersenyum membalasnya. Kubereskan ruang tengahku yang penuh akan pekerjaanku. Kupersilahkan ia duduk disofa.

“Es krim pasti bisa menenangkan pikiranmu.” Ujarnya seraya menyodorkanku es krim strawberry yang dibawanya.

“Gomawo.” Ujarku singkat.

Ia tersenyum padaku. Kami pun mulai memakan es krim masing-masing. Kami makan dengan diam. Sesungguhnya aku tak suka suasana ini, tapi aku harus bagaimana? Meski dua bulan yang lalu ia resmi menjadi namjachingu-ku, entah mengapa aku masih segan berbicara padanya layaknya sepasang kekasih pada umumnya.

“Ya..!” ujar Jinki oppa tiba-tiba.

Aku pun menoleh padanya.

“Kita sudah jadian kurang lebih 2 bulan, tapi aku heran padamu. Kau jarang sekali bicara padaku. Bahkan, mungkin bisa kuhitung dengan jariku.” Ujarnya.

Aku pun menundukan kepalaku. Memang benar, aku memang jarang sekali bicara padanya. Bahkan sangat. Ia pun membelai lembut kepalaku.

“Aku tahu kau sedih dengan kematian oppa-mu. Tapi kau tak bisa begini terus. Kau harus mulai menerima kematian oppa-mu. Kau harus mulai menerima kehadiran orang lain disampingmu. Aku mencintaimu Eun Jin-ah. Aku ingin bicara apa saja denganmu. Kumohon, bicaralah denganku.” Ujarnya.

Aku tersenyum padanya. Ia benar. Ia selalu benar. Wajar saja dulu aku selalu mendengar kata-katanya. Aku pun menggenggam tangannya.

“Ayo cari udara segar.” ajakku.

Ia pun tersenyum padaku. Senyum yang manis. Kami pun memutuskan berjalan-jalan ke taman sekitar apartemenku. Kami pun duduk bersebelahan di bangku taman. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Tampaknya ia kaget, namun ia tetap membalas merangkulku. Kami sangat suka mendengarkan musik. Kupasangkan Headset sebelah kananku kepadanya. Ia pun menerimanya dan memakainya.

I know your eyes in the morning sun

I feel you touch me in the pouring rain

And the moment that you wander far from me

I wanna feel you in my arms again

And you come to me on a summer breeze

Keep me warm in your love then you softly me

And it’s me you need to show

How deep is your love

How deep is your love?

I really mean to learn

‘cause we’re living in the world of fools

breaking us down when they all should let us be

we belong to you and me

I believe in you

Kami pun menikmati indahnya sore dengan alunan lagu BeeGees. Jinki oppa membelai kepalaku pelan. Ia tersenyum padaku.

“Ayo kita pulang.” Ajaknya.

Aku pun mengangguk mengiyakan. Ia menggandeng tanganku kembali ke gedung apartemen tempatku tinggal. Saat kami sampai didepan pintu apartemen, Jinki oppa memandangku. Ia tersenyum manis padaku. Aku membalas tersenyum padanya. Ia pun mengecup keningku dan bergegas pergi meninggalkanku. Tak lupa mengucapkan hwaiting padaku.

*************************************************

Sudah 3 bulan lamanya aku menjalin hubungan dengan Jinki oppa. Tak terasa juga Jinki oppa hanya tinggal 2 minggu lagi memijakkan kakinya di Youngdae high school. Entah kenapa aku masih sungkan berbicara padanya walau aku tahu ia namjachingu-ku. Apa aku ini aneh? Selain itu aku juga merasa tak hanya dingin kepada Jinki oppa saja. Pada siapapun, bahkan pada guru, aku tak pernah bicara sepatah kata pun pada mereka. Apa aku terlalu berlebihan? Tapi mau bagaimana lagi. Aku memang tak sanggup.

“Ayolah… katakan apa saja padaku! Aku mau dengar. Kau dingin sekali. Seperti es batu.” Ujar Jonghyun oppa polos saat aku menunggu Jinki oppa yang sedang ke perpustakaan.

Aku hanya tersenyum simpul padanya. Tak tahu harus berkata apa.

“Hentikan Jonghyun. Tinggalkan ia sendiri.” Ujar Jinki oppa yang muncul dari dalam perpustakaan dan menghampiriku.

“Apa aku salah? Aku hanya ingin mendengar suaranya.” Ujar Jonghyun oppa lagi.

“Sudah! Sana pergi tinggalkan kami berdua.” Usir Jinki oppa lagi.

“Araso! Dasar lem dan prangko.” Ujar Jonghyun oppa seraya meninggalkan kami.

Jinki oppa pun duduk disampingku.

“Sudah lama?” tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Ia pun mengacak lembut rambutku.

“Ayo! Kuantar kau pulang.” Ajaknya seraya menggandeng tanganku.

Continue reading