Hankyung’s Story [Part 3-The Answer]

Heechul POV

“Apa? Hankyung dan Siwon masuk rumah sakit? Bagaimana bisa?” ujarku tak percaya.

“Mentalnya lemah sehingga kesehatan mereka menurun.” Ujar Leeteuk hyung padaku.

“Mental lemah? Apa maksudnya?” ujarku semakin panik mengengarnya.

“Iya. Aduh, bagaimana menjelaskannya ya? Tenang dululah kau ini.” Ujar Leeteuk hyung yang tampak bingung.

“Mereka Cuma banyak pikiran saja kok. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ujar Eunhyuk mencoba menenangkanku.

“Tak perlu khawatir kau bilang? Dua sahabatku masuk rumah sakit dan aku tak perlu khawatir? Lucu sekali?” ujarku sebal mendengar jawaban Eunhyuk.

“Memang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tenang sajalah.” Ujar Leeteuk hyung padaku.

“Aku tak mengerti dengan jalan fikir kalian. Sudah berapa lama mereka dirawat?” tanyaku.

“Hm… aku tak tahu pasti. 1 atau 2 bulan kurang lebih.” Ujar Leeteuk hyung mencoba santai.

Aku kaget bukan main dibuatnya.

“Selama itu? Selama itu mereka dirawat dan aku baru tau sekarang?” ujarku sedikit histeris.

“Ah, jangan histeris begitu. Kau harus tetap tenang.” Ujarnya sambil menyodorkan secangkir kopi padaku.

Aku pun tertunduk. Kaget sekali aku dibuatnya. Selama itu mereka dirawat dan aku baru tahu sekarang. Yang benar saja.

“Aku harus menjenguk mereka.” Ujarku seraya bangkit dari bangkuku.

“Jangan.” Ujar Leeteuk hyung mencoba menghalangiku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Jangan. Nanti pikiran mereka jadi bertambah banyak.” Cegah Leeteuk hyung.

“Kenapa? Kalian tetap boleh menjenguknya, lalu kenapa aku tidak? Aku sahabat mereka. Kenapa hanya kalian saja? Kenapa kalian menghalangi kami agar tidak bertemu? Lagipula, 1 bulan lagi aku kembali ke Seoul. Kita kan tak akan bisa terus menerus tinggal di Dorm SJ-M.” Ujarku sebal.

“Kami juga sahabat mereka hyung. Tak ada maksud kami untuk menghalangi hyung bertemu dengan mereka. Tenang sajalah.” Ujar Eunhyuk mencoba menenangkanku.

“Kalau bukan itu apa? Memutuskan persahabatan kami?” ujarku marah.

“Tidak. Aduh…. Bagaimana bisa hyung berfikir begitu? Pokoknya hyung tenang saja. Cepat atau lambat kami akan mempertemukan hyung dengan nya.” ujar Eunhyuk lagi yang sudah kehabisan kata-kata.

“Ah, sudahlah aku sudah muak. Tinggalkan aku sendiri. Sekarang juga.” Ujarku marah.

“Tapi, hyung belum makan.” Ujar Eunhyuk yang tampak takut padaku.

“Kubilang tinggalkan aku sendiri.” Ujarku seraya membentak mereka.

Mereka pun bergegas keluar dari dalam kamarku. Kamar Hankyung dan Siwon maksudku. Kubanting pintu kamarku. Tiba-tiba kurasakan pipiku begitu hangat. Aku menangis. Aku heran sekali dengan alasan mereka. Bukankah yang mereka butuhkan sekarang adalah aku. Pikiranku semakin buyar. Aku semakin cemas memikirkan mereka. Kupikirkan suatu taktik agar aku bisa bertemu dengan mereka. Dan akhirnya aku putuskan akan pergi dari dorm tepat tengah malam saat yang lain telah terlelap dan kembali saat dini hari. Aku pun mengambil ransel kecilku. Kumasukkan segala sesuatu yang kubutuhkan. Seperti dompet, obat pribadi, dan syal serta sarung tanganku. Sengaja aku tidak membawa ponsel agar mereka tidak menghubungiku. Kutidurkan Heebum dan kucing-kucing lainnya agar saat aku pergi mereka tidak berisik. Saat waktu menunjukan tengah malam. Aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Kulihat Sungmin tidur di sofa. Aku jadi merasa sedikit bersalah, gara-gara ulahku ia jadi tidur disofa. Aku pun membuka pintu secara perlahan dan menutupnya sepelan mungkin. Aku bergegas menaiki lift dan segera keluar dari apartemen ini. Aku mengeluarkan syal dan sarung tangannku dari dalam tasku. Kukenakan segera karena cuaca ternyata sangat dingin. Aku berjalan menjauhi dorm secepat mungkin. Kupegang pipiku yang dingin.

Tampaknya aku melupakan sesuatu.” Ujarku dalam hati.

Benar saja. Aku lupa menanyakan dimana mereka dirawat.

BABO..!!” batinku dalam hati.

Sekarang aku melangkah dengan arah yang tidak menentu. Bingung harus kemana dan bingung juga karena perut belum diisi. Tiba-tiba kurasakan kepalaku pening sekali. Kupegang kepalaku agar aku tidak merasakan rasa sakit. Namun yang kulakukan tidak memberi efek tertentu padaku. Tiba-tiba kurasakan pundakku menabrak pundak seseorang. Aku pun menoleh. Ternyata aku telah menabrak pundak salah seorang pria dari segerombolan pria yang sedang berjalan berlainan arah denganku. Pria itu tampak marah padaku.

“Apa-apaan kamu?” ujarnya marah padaku.

“Ah.. maaf.” Ujarku seraya memegang kepalaku yang pening.

“Kau berani sekali.” Ujar salah seorang teman pria yang kutabrak.

“Maaf, aku tak sengaja.” Ujarku memohon.

“Sudah! Hajar saja.” Ujar Salah satu pria.

Apa? Yang benar saja.” Ujarku dari dalam hati.

Aku pun mencoba kabur. Namun kerah belakang bajuku ditarik.

“Mau kemana kau?” ujar salah seorang pria sambil memukul perutku yang kosong.

Kurasakan perutku mual sekali. Aku pun jatuh tersungkur. Mereka pun mulai menghajarku secara bertubi-tubi. Mereka memukul, menendang, dan menginjakku seakan aku ini sampah. Aku sudah tidak bisa melawan. Selain aku tak punya kekuatan, aku juga kalah dalam jumlah. Kepalaku semakin pening. Aku mencoba bertahan, namun salah seorang diantara mereka memukul kepalaku dengan sesuatu. Aku sudah tidak tahan. Sedikit demi sedikit namun pasti, kesadaranku menghilang.

***********************************************

“Dimana ini?” tanyaku dalam hati.

Kurasakan badanku diseret seseorang. Aku tak tahu siapa yang menyeretku. Aku tak dapat melihat. Yang kulihat hanyalah sekumpulan cahaya. Kudengar samar-samar seseorang berkata. Awalnya tidak jelas, namun sedikit demi sedikit suaranya terdengar jelas.

“Bertahanlah. Aku akan membawamu ke tempat yang aman.” Ujar suara itu.

Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tenggorokanku serasa dipaku. Aku hanya pasrah saja dengan segala sesuatu yang akan terjadi padaku. Aku mencoba bertahan. Namun aku benar-benar sudah tidak kuat.

****************************************

Aku pun membuka mataku. Aku pun mencoba untuk memegang kepalaku, namun tanganku ngilu sekali. Kulirik tanganku. Ternyata tanganku diperban. Aku pun mencoba menggoyangkan kepalaku. Perih. Aku pun memegang kepalaku dengan tangan yang lainnya. Diperban juga. Aku pun memandang langit-langit yang tak kukenal.

“Dimana ini?” pikirku dalam hati.

Aku pun mencoba untu terduduk. Walau sulit karena perutku sangat keram, aku berhasil juga duduk di tepi tempat tidur yang kutiduri. Kulihat sekeliling. Mencari jam. Ternyata waktu menunjukan pukul 7 pagi. Aku pun mencoba konsentrasi pada pandanganku. Tiba-tiba kudengar suara orang memasak dari luar ruang yang kutiduri. Aku pun mencoba bangkit walau sulit. Aku ingin tahu siapa yang membawaku ke tempat ini. Aku ingin berterimakasih karena sudah menyelamatkanku. Aku pun mencoba melangkah ke pintu dengan langkah yang diseret-seret. Aku pun membuka pintu. Kucoba bergerak ke dapur walau sulit. Kulihat disana ada seseorang yang sedang memasak. Seorang gadis. Wangi masakannya membuat perutku lapar tak karuan.

“Anneyong.” Ucapku pelan seraya memegang tenggorokanku yang terasa sangat kering.

Gadis itu tampak kaget. Ia pun menoleh. Cantik. Gadis berkebangsaan korea yang cantik.

“Ah, ya ampun!” ujarnya seraya mematikan kompor dan menghampiriku.

“Kenapa kau turun dari tempat tidur?” ujarnya seraya menuntunku kembali ke kamar.

Aku menurut saja.

“Kesehatanmu belum pulih. Tunggulah. Aku akan kembali dengan sarapan dan obat untukmu.” Ujarnya lembut seraya menidurkan aku kembali di tempat tidur.

“Gasahamnida.” Ujarku.

Ia menjawab dengan senyuman dan bergegas ke dapur lagi. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan bubur ayam, susu, dan obat di atas tempayan.

“Makanlah. Kau terlihat menyedihkan.” Ujarnya seraya meletakkannya di pangkuanku.

Aku tersenyum. Aku pun menatap makanan itu dengan ragu. Ia duduk disebelahku. Ia pun mengambil mangkuk itu dan menyuapiku seakan tahu apa arti pandanganku ke makanan itu. Ia pun mulai menyuapiku. Aku sangat kelaparan. Namun makanan itu tak dapat kutelan. Setiap suap yang melalui tenggorokanku, tenggorokanku serasa tercabik-cabik. Perih.

“Pasti perih ya? Tahan ya sakitnya. Setelah makan, minum obatnya.” Ujarnya dengan wajah iba padaku.

Aku menjawabnya dengan senyuman. Setelah sekian lama, akhirnya makanan itu habis. Ia pun memberikanku obat lalu menidurkanku kembali. Ia pun membereskan makanan itu dari pangkuanku lalu pergi dan kembali lagi seraya berkata padaku.

“Istirahatlah disini. Aku pergi dahulu untuk mencarikanmu pakaian.” Ujarnya padaku dan menutup pintu kamar.

Kulihat sekeliling mencari tas ku. Tak ada. Aku pun berbaring kembali. Orang yang baik, pikirku. Apa ia tidak mengenaliku, pikirku lagi. Tapi kurasa itu bagus. Aku harap ia benar-benar tidak megetahui identitasku. Kalau sampai ia tahu dan kelepasan bicara pada media, bisa kacau. Tiba-tiba kurasakan perasaan yang nyaman. Begitu nyaman hingga aku terlelap.

********************************************

kudengar suara seseorang sedang bersenandung dan pintu yang dibuka. Aku pun membuka mataku. Kulihat gadis itu masuk sambil membawa baskom berisi air hangat.

“Ah, suaraku membangunkanmu ya?” ujarnya saat sadar aku terbangun.

Aku tersenyum menjawabnya. Ia pun mendudukanku di tempat tidur. Ia pun membuka bajuku. Aku diam saja. Ia pun memeras sebuah lap hangat yang ia ambil dari dalam baskom yang berisi air hangat itu dan mengusapkannya pada dadaku. Nyaman.

“Kau harus kubersihkan. Agar lukamu tidak infeksi. Kau belum boleh bergerak jadi tidak bisa membersihkan dirimu sendiri. Kesehatanmu belum pulih. Untuk sementara aku yang akan membersihkanmu sampai kau pulih total. Aku juga sudah membelikanmu baju ganti.” Ujarnya tersenyum padaku.

“Gasahamnida.” Ujarku dengan suara yang serak.

Ia hanya tersenyum padaku.

“Bagaimana aku bisa ada disini? Ini dimana?” tanyaku pada gadis itu.

“Ini rumahku. Aku menemukanmu dipinggir jalan. Kondisimu sangat mengkhawatirkan. Wajahmu dipenuhi memar dan darah. Aku menggotongmu kerumahku. Dan mengobatimu.” Ujarnya sambil membersihkan punggungku.

Aku pun mengangguk dan teringat dengan kejadian tadi malam. Menyedihkan. Aku pun melirik keluar kamar. Kulihat disana ada sebuah piano.

“Pianomu?” tanyaku padanya.

“Ah? Oh iya. Piano mendiang ayahku. Ia seorang musisi.” Ujarnya hangat.

Aku kaget.

“Kalau boleh tahu, siapa?” tanyaku.

“kenapa kau ingin tahu?” tanyanya yang membuatku kaget.

“Ah, a.. aku.. aku.. aku bekerja di SME. Siapa tahu aku kenal.” Ujarku gelagapan.

“Oh. Park Jong Bae. Itu nama ayahku.” Ujarnya.

Aku ingat dengan nama itu. Aku ingat pernah dibuatkan lagu oleh Jong Bae Ajusshi.

“Memang kau bekerja sebagai apa di SME?” tanyanya tiba-tiba.

“Uhm… aku staff disana.” Ujarku gugup.

“Oh, siapa namamu?” tanyanya.

“Heechul.” Ujarku.

ups… kelepasan.” Ujarku dalam hati.

“Oh, nama yang bagus.” Ujarnya seraya mengagantikanku dengan baju yang baru.

Hah? Apa dia tidak tahu dengan Super Junior. Salah satu Boyband terbesar. Aku heran pada gadis ini. Ia pura-pura tidak mengenaliku atau memang tidak kenal.

“Namaku Park Eunlan.” Ujarnya singkat.

Aku pun mengangguk.

“Kau suka menonton televisi?” ujarku kelepasan.

“Uhm.. tidak. Aku tidak punya. Ayahku membiasakan aku untuk tidak menonton televisi. Katanya televisi bisa membuat orang bodoh. Aku dan mendiang ayahku menghabiskan waktu dengan memainkan piano bersama.” Ujarnya seraya melirik piano yang tepat berada diluar kamar ini.

Oh, pantas saja. Aku pun melirik piano itu.

“Mau kumainkan permainan yang bagus?” tanyanya.

Aku pun mengangguk. Ia pun keluar dari kamar dan membiarkan pintunya terbuka. Dari dalam kamar bisa kulihat ia duduk di bangku piano itu. Beberapa saat kemudian ia pun memainkan lagu, yang kalau tidak salah lagu ini berjudul haru haru. Aku pun menidurkan badanku dan terus memandang Eunlan yang memainkan piano itu dengan jari-jari yang lincah. Aku suka dengan permainannya. Kunikmati nada demi nada. Begitu harmonis. Aku terbuai oleh permainannya hingga tanpa sadar aku terlelap.

************************************

Dua minggu kemudian

“Oppa mau makan apa malam ini?” Tanya Eunlan saat aku menghampirinya ke dapur.

“Terserah.” Ujraku singkat seraya duduk di kursi makan secara perlahan.

“Aigo… jangan begitu! Ayo dong, mau makan apa?” tanyanya lagi padaku.

Uhm….

“Sudahlah, apa saja! Kurasa semua masakanmu lezat.” Ujarku seraya meneguk susu yang ia berikan padaku.

Kulirik Eunlan. Ia pun mengangguk. Aku pun menghampirinya dengan langkah yang terseret-seret dan membantu me-lap piring yang telah ia cuci.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi bekerja dulu. Aku akan pulang secepat mungkin.” Ujarnya tiba-tiba.

Aku kaget. Aku tidak tahu kalau ia bekerja.

“Kenapa?” tanyanya saat melihat wajahku yang tampak bingung.

“Ah, tidak. Aku heran saja. Aku tidak tahu kalau kau bekerja.” Ujarku padanya.

Ia tertawa.

“Kalau aku tidak bekerja, darimana aku dapatkan semua pakaian dan obat untukmu?” ujarnya padaku.

Aku pun menunduk. Ku-lap piring itu secara perlahan dan meletakkannya disampingku.

“Berarti selama itu kau tidak bekerja hanya untuk menungguiku?” tanyaku padanya dengan perasaan yang tidak enak.

“Ah, sudahlah.” Ujarnya singkat seraya memakai baju hangatnya.

“Maaf, aku sudah merepotkanmu.” Ujarku lagi.

“Sudahlah oppa, tidak perlu dipikirkan. Lagipula sudah lama aku tidak ambil cuti semenjak ayahku meninggal. Dan aku juga senang bisa menemanimu dirumah.” Ujarnya tersenyum padaku dan berlalu keluar rumah.

Akhirnya aku sendiri juga didalam rumah ini. Rumah yang mungil. Aku pun bingung harus melakukan apa. Aku pun mendekati piano milik Eunlan. Aku pun memencet tuts demi tuts dengan hati-hati. Entah mengapa, tempat yang paling aku sukai di rumah ini adalah bagian ini. Piano ini terletak persis menghadap jendela. Saat siang hari, piano ini akan tampak berkilau terkena sorot cahaya matahari. Dan dari dalam jendela, bisa kulihat dengan jelas gunung-gunung yang membatasi kota Beijing. Dan bila malam hari, piano ini akan tampak berkilau karena kilauan cahaya lampu kota beijing. Aku pun membetulkan posisi dudukku dan memainkan lagu koe wo kikasete. Aku tidak begitu tahu lagu ini, namun Sungmin pernah memainkan dan mengajariku lagu ini. Dan aku menyukainya. Sedikit demi sedikit, iramanya membuatku tenang. Entah mengapa aku rindu sekali dengan Leeteuk hyung dan Eunhyuk. Aku menyesal karena pertemuan terakhirku dengan mereka dihiasi dengan amarahku. Aku yakin mereka sekarang bingung mencariku.

“Ah… maafkan aku.” ujarku lirih.

Aku pun menghentikan permainanku dan bergegas kembali kekamarku. Namun, saat aku melewati kamar Eunlan, tanpa sengaja aku melihat ada sebuah netbook diatas meja riasnya. Iseng. Aku pun masuk dan menyalakan netbooknya. Kubuka salah satu filenya yang ternyata berisi foto-foto. Namun ada satu file yang menarik perhatianku. Nama file itu anonymous dan file itu berkode sehingga tidak dapat dibuka. Aku pun menatap langit-langit kamar. Berfikir. Namun aku teringat sesuatu. Aku pun mengetikkan nama Park Jong Bae dan.. Banzai….!!! File itu terbuka. Namun…

“Hah..? apa-apaan ini?” ujarku kaget.

Didalam file itu banyak sekali foto Hankyung. Entah dia yang sedang tidur, makan, menari, memainkan piano, dan lain sebagainya.

“Apa dia Fans Hankyung? Tapi tidak mungkin, kalau iya dia pasti mengenaliku.” Ujarku lirih.

Aku pun membuka foto demi foto. Namun mataku tertarik dengan satu foto. Disana ada Eunlan dan Hankyung. Mereka tampak bahagia satu sama lain. Sejak kapan mereka saling mengenal? Biasanya Hankyung selalu menceritakan teman wanitanya padaku. Tapi…. Ini aneh! Aku juga tak pernah melihat Hankyung sebahagia itu seumur hidupku. Aku jadi sedih. Namun aku juga bingung. Apa selama ini Eunlan mempermainkan aku?

“Ah… sulit dipercaya.” Ujarku bingung.

*****************************************

“Eunlan, aku ingin mengakui sesuatu padamu.” Ujarku hati-hati.

“Mengakui apa Oppa?” Tanyanya seraya memberiku sepiring penuh nasi goreng Beijing.

“Hem… aku tadi membuka netbookmu.” Ujarku lagi.

“Ah… tidak apa-apa oppa. Aku tahu, kau pasti bosan.” Ujarnya seraya mencuci wajan.

“Lalu… aku juga membuka file pribadimu. Kodenya nama ayahmu.” Ujarku hati-hati sekali

Aku meliriknya. Ia pun tampak kaget dan menghentikan mencuci wajan itu. Ia pun melirikku dan tersenyum miris.

“Tak apa-apa oppa.” Ujarnya tampak menyedihkan.

“Sejak kapan ku mengenalnya?” tanyaku padanya.

“Siapa?” tanyanya kepadaku.

“Pria itu.” Ujarku dan tak menyebutkan nama Hankyung.

Ia pun menghela nafas panjang lalu menghampiriku serta duduk disampingku. Ia memandangku.

“Ia cinta pertamaku.” Ujarnya lirih.

Aku diam. Menunggunya melanjutkan ceritanya.

“Sejak kecil kami sudah berteman baik. Kami tumbuh bersama sehingga menjadikan kami sahabat sepanjang masa. Aku menyukainya dengan teramat sangat, namun aku hanya sahabat saja dimatanya. Aku tidaklah lebih dari itu. Seakan mustahil bagiku untuk menjadi pacarnya. Aku hanya menangis dalam hati saat ia menceritakan ciuman pertamanya didepanku. Aku juga hanya bisa menjerit setiap kali ia menceritakan betapa cantiknya Ino, teman sebangkuku saat sekolah menengah pertama. Namun aku selalu tegar dan selalu ada disampingnya untuk menerima curhatannya. Namun beberapa hari saat umurnya menginjak 19 tahun, ia pergi meninggalkanku. Ia pergi ke seoul untuk mengejar cita-citanya. Membanggakan orang tuanya. Ia pergi bertahun-tahun lamanya. Aku sangat merindukannya. Saat kudengar dari ibunya bahwa ia akan kembali ke Beijing, aku senang sekali. Aku sampai menginap dirumahnya karena ingin jadi orang pertama yang menyambutnya. Namun karena aku sedang sibuk, aku tidak bisa menyambutnya. Esoknya, saat aku membuat sarapan untuknya, ia memergokiku didapur. Aku senang karena akhirnya aku bertemu dengannya. Tapi, ia tidak mengenaliku. Sifatnya ketus terhadapku. Aku sakit hati sekali. Dan ia meninggalkanku dirumah sendirian. Saat ia pergi, aku menangis sejadi-jadinya. Aku pun memainkan piano ibunya untuk menghibur diriku sendiri. Namun saat aku selesai, kulihat ia sudah ada disofa. Ia terduduk dan menitikkan air matanya. Saat aku tanya kenapa, ia tak memberikan jawaban yang kuinginkan. Saat ia menghampiriku, wajahnya terlihat begitu jelas. Sudah lama aku tak melihat wajahnya sedekat itu. Lalu ia berkata padaku kalau ia tak bisa mengingatku dan meminta maaf padaku. Tentu saja aku memaafkannya. Lalu selanjutnya, sifatnya terhadapku baik sekali. Ia begitu lembut padaku. Aku tidak pernah melihatnya selembut itu seumur hidupku. Aku merasa bahwa aku sudah mendapatkan tempat sendiri dihatinya. Suatu malam, ia mengajakku ke suatu bukit. Dari sana Lampu kota Beijing terlihat indah sekali. Lalu ia memberikanku sebuah kalung. Entah mengapa aku merasa aneh. Aku tahu kalau seharusnya aku merasa senang, tapi…. Aku merasa aku tak pantas menerimanya. Mengingat dulu aku hanya sebatas teman dimatanya. Akhirnya malam itu juga aku meninggalkannya dan mengembalikan kalungnya. Semenjak saat itu aku tak bertemu lagi dengannya. Ada sedikit rasa menyesal. Lalu kabar terakhir yang kudengar, ia dirawat di rumah sakit. Namun aku tak punya kekuatan untuk menjenguknya.” Ujarnya seraya menyeka air matanya.

Aku tertunduk mendengarnya. Romantis sekali. Baru sekarang aku mendengar kisah seperti ini. Aku jadi kasihan dengannya. Aku ingin mempertemukannya dengan Hankyung. Bagaimanapun caranya.

“Bisakah kau mengantarkanku ke tempat Hankyung dirawat?” tanyaku padanya.

Ia menatapku heran.

“Darimana oppa mengetahui namanya? Oppa mengenalnya?” tanyanya.

“Aku kan kerja satu Entertaiment dengannya. Tentu aku mengenalnya. Aku berteman baik dengannya.” ujarku.

Ia pun memandangku. Aku tak tahu apa arti tatapannya.

“Bagaimana dia?” tanyanya padaku.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Bagaimana sifatnya?” tanyanya lagi.

Aku pun tersenyum padanya.

“Ia baik. Ia adalah pria teramah yang pernah kukenal. Ia selalu saja menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.” Ujarku bersemangat.

Entah mengapa aku jadi mengingat Hankyung. Aku begitu merindukannya. Teramat sangat.

“Ia selalu sopan tak hanya pada yang lebih tua, yang lebih muda pun dia sopan. Ia selalu memberikan semangat pada siapa saja. Ia juga tak kenal lelah. Jika ia merasa masih sanggup melakukannya, maka akan ia lakukan. Ia pun selalu membantuku. Ia juga selalu membuatku sarapan untukku dipagi hari. Ia selalu mengingatkanku. Ia sangat menjagaku sehingga ia lupa dengan kondisinya sendiri. Ia orang yang sangat baik. Aku… aku merindukannya.” Ujarku yang tanpa sadar menangis.

Eunlan pun menyeka air mataku. Ia tersenyum padaku.

“Oppa pasti sangat dekat dengannya. Oppa pasti sahabat yang baik baginya sehingga ia begitu menyayangimu.” Ujarnya seraya mengelus punggung tanganku.

Ia pun memberikan tisu padaku. Aku pun membersihkan wajahku dengan tisu yang ia berikan.

“Eunlan, maukah kau mengantarkanku padanya?” tanyaku padanya.

Ia tersenyum padaku.

“Dengan senang hati oppa. Tapi kau harus menunggu. Mungkin beberapa hari lagi aku baru bisa mengantarkan oppa. Aku sangat sibuk.” Ujarnya padaku.

“Memang kau kerja dimana?” tanyaku padanya.

“Aku bekerja di Flower Jumbo. Pekerjaan kecil tapi aku sangat menyukainya.” ujarnya padaku.

“Iya… aku bisa lihat itu.” Ujarku padanya.

Sekali lagi ia tersenyum padaku.

“Sebaiknya sekarang oppa habiskan makan malam oppa. Aku mau mandi dahulu.” Ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

Namun, aku pun menarik tangannya. Ia pun menoleh padaku.

“Eunlan, terima kasih” ujarku.

Lagi-lagi ia tersenyum padaku.

****************************************

Oppa, aku berangkat dulu.

Aku sibuk sekali,

jadi harus berangkat pagi sekali.

Sarapan oppa kusimpan didalam kulkas.

Hati-hati ya oppa.

Jangan bermain api.  >_<

Aku pun tersenyum membaca pesan darinya. Kuletakkan pesan itu kembali diatas meja makan. Aku pun pergi ke halaman belakang dan menjemurkan handukku. Saat aku kembali, aku melihat sebuah bungkusan diatas kulkas. Kubuka bungkusan itu.

Kurasa ini bekal Eunlan.” Ujarku dalam hati.

Benar saja. Di tempat makannya tertera nama Park Eunlan. Kulirik jam di dinding. Waktu menunjukan pukul 1 siang. Jam makan siang.

“Dasar ceroboh.” Ujarku lirih seraya memakai mantelku.

Aku pun mengambil masker dan syalku. Lalu bergegas mengantarkan bekal Eunlan yang tertinggal.

Ia pasti kelaparan.” Ujarku dalam hati.

Aku pun mempercepat langkahku. Untuk saja letaknya tak terlalu jauh. Aku pun berdiri di halte. Menunggu bis. Saat bis tiba, aku bergegas menaikinya. Karena tak ada tempat, aku pun berdiri. Kulirik orang-orang yang ada didalam bis. Mereka semua tampak memperhatikanku dengan penuh curiga. Aku pun menaikkan maskerku. Saat halte tujuanku sudah sampai, aku pun segera turun. Kupercepat langkahku agar segera sampai di tempat Eunlan bekerja. Namun entah mengapa, aku merasakan kepalaku pening. Persis seperti kejadian malam itu. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan saja. Saat aku melewati kios majalah, tanpa sengaja aku menangkap wajahku pada berbagai majalah yang ada di kios itu. Aku pun berhenti dan membaca judul-judulnya.

Heechul kawin lari dengan gadis Beijing, Heechul diculik teroris Iran, Heechul meninggal tertabrak kereta, Heechul diculik alien, ………………….

Apa-apan ini?” pikirku dalam hati.

Bisa-bisanya mereka membuat gosip seperti itu. Yang benar saja aku tertabrak kereta. Jangan sampai.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya pedagang itu seraya memegang pundakku.

Aku kaget.

“Ah, tidak. Terima kasih.” Ujarku.

Aku pun memutuskan berlari ke tempat kerja Eunlan. Untung saja jaraknya dekat. Aku pun berdiri didepan toko itu dan memperhatikannya. Kuturunkan maskerku ke leherku. Dari luar, bisa kulihat ia sedang bertopang dagu dengan kedua tanganya. Wajahnya terlihat kesal.

Pasti dia kelaparan. Dasar ceroboh.” Ujarku dari dalam hati.

Aku pun memasuki toko itu.

Klining………

“Selamat da.. eh, oppa? Bagaimana bisa?” ujarnya tampak kaget.

“Aku kemari untuk mengantarkan bekalmu yang tertinggal. Dasar ceroboh.” Ujarku seraya meletakkan bekalnya di meja kasir.

Ia tampak tak percaya.

“Ah, terima kasih oppa.” Ujarnya dengan senyum yang tampak bahagia.

Manis sekali.

“Padahal oppa tak perlu repot-repot.” Ujarnya lagi.

“Tidak, kau pasti lapar.” Ujarku santai.

Tiba-tiba, muncul seorang gadis. Tampaknya ia rekan Eunlan karena ia memakai seragam yang sama. Ia tampak kaget melihatku. Membuatku takut.

“Eh, siapa ini? Ya ampun tampan sekali! Pacarmu?” ujarnya tiba-tiba.

Aku kaget sekali. Aku pun langsung menaikkan maskerku lagi.

“Apa sih A Ling! Dia itu kakakku.” Ujarnya pada temannya yang bernama A Ling itu.

“Hahaha. Iya-iya. Eh, aku keluar dulu ya. Ada janji.” Ujarnya dan berlalu keluar toko.

Jantungku berdegup kencang.

Untung saja.” Ujarku dalam hati.

Tiba-tiba, perutku berbunyi keras sekali. Aku kaget sekali dengan bunyi perutku. Kulirik Eunlan yang tampak kaget juga.

“Oppa belum makan?” tanyanya padaku.

“Hm… tak apa-apa.” Ujarku padanya.

“Tidak. Sebaiknya oppa makan saja bekalku.” Ujarnya seraya menyodorkan bekalnya padaku.

“Tidak. Aku membawakannya untukmu. Aku tak akan memakannya.” Ujarku padanya.

“Ayolah oppa.” Bujuknya.

“Tidak perlu.” Ujarku lagi.

“Bagaimana kalau kita bagi dua? Mau ya oppa? Kumohon.” Ujarnya memelas.

Tak tega. Aku pun akhirnya mengangguk saja. Ia tampak senang dan menarikku ke lantai atas toko itu. Ia pun mempersilahkanku duduk di salah satu kursi disana.

“Ayo, buka mulut oppa.” Ujarnya seraya menyodorkan telur gulung ke mulutku.

Aku mengisyaratkan agar ia makan duluan.

“Aku tak mau makan sebelum oppa.” Ujarnya.

Lagi-lagi aku kalah. Aku pun menurunkan maskerku. Eunlan pun menyuapkan telur gulung itu padaku. Enak.

“Oppa mengapa pakai masker?” tanyanya padaku.

Aku tersedak. Ia memberiku air minum.

“Hm…. Aku pilek.” Ujarku singkat.

Ia mengangguk. Aku tak mengerti maksudnya.

“Seperti Hankyung oppa. Dulu saat jalan-jalan denganku penampilannya persis seperti yang dipakai oppa. Tujuannya untuk menghindari media. Persis seperti yang dilakukan oppa.” Ujarnya seraya memasukkan telur gulung ke mulutnya.

Aku bingung dengan ucapannya. Aku menatapnya dengan bingung. Ia pun tertawa melihat tingkahku.

“Tenang oppa. Aku tak akan memberitahukan identitasmu pada siapapun.” Ujarnya padaku.

Aku masih tak mengerti.

“Tadi pagi A Ling membawa majalah. Didalamnya terpajang foto Heechul oppa. Seketika aku ingat kalau dulu aku pernah menonton konser Heechul oppa bersama dengan Hangkyung oppa. Aku ingat saat itu oppa menangis saat Hangkyung oppa melambaikan tangan pada Heechul oppa.” Ujarnya santai.

Aku langsung teringat saat itu. Aku pun memandang Eunlan yang tersenyum padaku.

“Serius kau akan membantuku?” tanyaku padanya.

“Tentu saja. Sahabat Hankyung oppa berarti sahabatku juga.” Ujarnya riang.

Aku tersenyum padanya. Seketika aku langsung merasa kalau Eunlan itu begitu manis. Manis sekali. Sifatnya padaku persis seperti sifat Hankyung padaku. Beruntung sekali Hankyung. Kalau di dunia ini ada gadis seperti Eunlan yang selalu menyukainya. Menyayanginya. Muncul sedikit rasa iri pada dongsaengku itu. Aku ingin diluar sana ada orang seperti Eunlan yang menyayangiku seperti Eunlan terhadap Hankyung. Selama ini, gadis yang muncul disekitarku hanyalah gadis manja dan centil yang mencari ketenaran. Aku ingin ada gadis seperti Eunlan yang bisa menyukaiku apa adanya. Seperti Eunlan menyukai Hankyung apa adanya. Tak hanya saat ia diatas saja. Aku pun membelai punggung tangan Eunlan.

“Ada apa oppa?” tanyanya tampak kaget.

“Tidak. Tak apa-apa. Gomawo.” Ujarku padanya.

Wajahnya terlihat tak mengerti. Namun ia tetap tersenyum padaku. Ia pun bangkit dari duduknya. Aku pun menarik tangannya, ia menoleh. Aku bangkit dari dudukku dan memandang wajahnya. Ia terlihat bingung. Kuhela nafas panjang. Aku pun menepuk pipinya.

“Sana kembali bekerja.” Ujarku singkat.

******************************************

“Seberapa besar oppa mengenalnya?” tanyanya padaku.

“Bagaimana ya? Besar… sekali.” Ujarku seraya mengoleskan madu pada wajahku.

“Hm…. Begitu ya? Apa kalian dekat sekali?” tanyanya seranya mengoleskan yogurt di wajahnya.

“Dia itu soulmateku. Kami selalu mendiskusikan segala sesuatunya bersama. Dia sudah seperti keluarga bagiku.” Ujarku seraya menatap langit-langit kamar Eunlan.

“Hm…. Begitu.” Ujarnya seraya menganggukkan kepalanya.

Suasana pun menjadi hening. Aku berfikir keras untuk mencari topik pembicaraan.

“Apa madu ampuh untuk membuat pori-pori wajahku kencang?” tanyaku padanya seraya menyentuh wajahku yang lengket akibat madu.

“Tentu saja oppa. Ini adalah rahasia keluargaku secara turun-temurun. Diberi campuran rempah-rempah dan kulitmu akan awet muda.” Ujarnya riang.

“oh… begitu.” Ujarku singkat.

Topik pun berakhir. Aku pun memejamkan mataku. Tanpa sadar, aku tertidur selama satu jam. Aku teringat akan maskerku. Kulit wajahku seakan mengeras. Aku pun berlari ke kamar mandi dan mencucinya dengan sabun muka. Kutatap wajahku yang sudah bersih di cermin.

Anak itu benar. Wajahku menjadi lebih nyaman.” Ujarku seraya mengelus wajahku.

Aku pun kembali ke kamar Eunlan. Ia tampak tertidur dengan lelap dengan wajah yang belepotan yogurt. Aku pun pergi ke dapur dan kembali lagi denagn baskom berisikan air hangat. Aku pun membersihkan wajahnya dengan lap yang sudah kuberi air hangat. Dengan hati-hati kubasuh wajahnya. Entah mengapa wajahnya menjadi begitu berkilau. Melihat wajahnya mengingatkanku dengan ibuku. Entah darimana, aku pun tak mengerti. Aku pun membetulkan posisi tidurnya. Kuselimuti tubuhnya. Kupandang wajahnya sekali lagi. Aku pun beranjak dan mematikan lampu kamarnya. Kupandangi ia dari muka pintu.

“Wo ai ni.” Ujarku sebelum kututup pintunya.

********************************************

“Oppa? Apa yang oppa lakukan disini?” tanyanya yang kaget melihatku menunggunya di depan tokonya.

“Gadis kecil oppa tidak baik pulang selarut ini sendirian.” Ujarku padanya.

Ia pun tersenyum padaku dan mengahampiriku. Ia pun menepuk pipiku yang dingin.

“Dasar oppa.” Ujarnya padaku.

Aku tersenyum.

“Ayo kita pulang.” Ujarku seraya menarik tangannya.

Aku melirik wajahnya. Tapi, senyum yang tadi kulihat di wajahnya tiba-tiba menghilang. Ia pun menarik tanganku kearah yang berlawanan.

“Ada apa?” tanyaku padanya.

“Kurasa ini waktunya.” Ujarnya.

Aku tak mengerti.

“Aku berjanji pada oppa untuk mempertemukan oppa dengan Hankyung oppa. Sekarang, janji itu akan aku tepati.” Ujarnya.

Aku tak menjawab. Aku hanya mengikuti langkahnya. Ternyata selama ini rumah sakitnya tak begitu jauh dari tempat kerjanya. Aku pun melangkahkan kakiku ke teras rumah sakit. Namun ternyata Eunlan tak ada disampingku. Aku pun berbalik dan mendapati Eunlan yang berdiri mematung seraya menundukan kepalanya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Cukup sampai disini.” Ujarnya.

“Apa maksudmu?’ tanyaku tak mengerti.

“Terima kasih karena selama ini sudah menemaniku. Kau baik sekali. Kau memperlakukanku layaknya adik kandungmu. Kau menyanyangiku layaknya keluarga. Aku bahagia sekali bisa memiliki oppa sepertimu. Dan sekarang, aku menepati janjiku pada oppa. Aku sudah mengantarkan oppa kemari. Selanjutnya terserah oppa. Aku sudah selesai sampai disini. Sekali lagi terima kasih atas semuanya. Selamat tinggal.” Ujarnya seraya membalikkan badannya dan berlalu.

Aku kaget. Aku pun mengejarnya dan memeluknya.

“Kau bicara apa? Kau adikku satu-satunya saat ini. Aku tak mau kehilangan adik lagi seperti yang dulu aku alami. Cukup itu saja yang terakhir. Aku sudah menyayangimu seperti adik kandungku. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Tetaplah bersamaku.” Ujarku padanya.

Pundakku basah oleh air matanya.

“Aku tak punya kekuatan untuk bertemu dengannya oppa.” Ujarnya.

Aku tersenyum padanya.

“Biarkan aku yang menjadi kekuatanmu.” Ujarku seraya menggandengnya memasuki rumah sakit.

Aku pun terus mengenggam tangan Eunlan dan tak melepaskannya. Aku pun mengajaknya memasuki lift.

“Oppa, aku gugup.” Ujarnya getar.

“Tidak apa-apa. Ada oppa disini.” Ujarku menyemangatinya.

Saat sudah tiba di lanta lima, lift pun terbuka. Aku pun menggandeng Eunlan keluar dari lift. Aku dan Eunlang bergegas menuju ruang 13. Aku berdiri di depan pintu. Kupandang wajah Eunlan yang tampak gugup.

“Pokoknya kau tenang saja.” Ujarku padanya.

Ia pun tersenyum. Aku membuka pintu. Didalam tampak Hankyung dan Siwon sedang berbicara satu sama lain. Wajah mereka tampak kaget sekali.

“Heechul? Apa itu kau?’ ujar Hankyung yang tampak tak percaya.

“Ya. Ini aku.” ujarku seraya terus menggenggam tangan Eunlan.

“Heechul hyung? Sesange! Aku kangen sekali!” ujar Siwon antusias.

Aku tersenyum pada mereka.

“Eunlan? Itukah kau?” ujar Hankyung tak percaya.

Seketika raut wajah Siwon berubah.

“Eunlan? Dia Eunlan? Tak mungkin!” ujarnya tak percaya.

“Ya, dia Eunlan.” Ujarku pada mereka.

“Apa kabar oppa.” Ujar Eunlan pada Hankyung.

“Mustahil..!! mustahil..!! tidak mungkin!” ujar Siwon histeris.

“Eunlan! Kemana saja kamu? Aku mencarimu.” Ujar Hankyung yang tampak senang bukan main.

“Maafkan aku oppa. Membuatmu khawatir.” Ujar Eunlan pelan.

“Tak apa-apa. Sekarang kau ada disini. Hatiku kembali tenang.” Ujar Hankyung lega.

“Mustahil! Eunlan itu tak ada.” Ujar Siwon tampak sangat histeris.

“Apaan sih kamu? Jelas-jelas Eunlan ada!” ujarku padanya.

“Tidak! Aku yakin ia tak ada.” Ujarnya padaku histeris.

“Siwon-shii! Jaga etika mu..!!” ujar Hankyung yang tampak gusar.

“Tapi.. dia tak ada.” Ujar siwon lagi.

“Hentikan Siwon. Sudah cukup.” Ujar Hankyung lagi.

Aku benar benar bingung. Apa maksud Siwon kalau Eunlan tak ada. Bukankah ia ada? Namun tiba-tiba pintu terbuka. Dari luar muncul Leeteuk dan Kyuhyun. Mereka berdua tampak kaget bercampur rasa bingung yang teramat. Tanpa sengaja Leeteuk menjatuhkan bungkusan yang ia bawa saat melihatku. Leeteuk memandangku seakan tak percaya.

“Heechul?” ujar Leeteuk kaget.

“Kalian!” Ujarku kaget juga.

“Kalian semua? Bicara dengan siapa?” ujar Kyuhyun bingung.

The Answer

(Hankyung’s POV)

Tiba-tiba Leeteuk masuk ke dalam ruang dimana aku dan Siwon dirawat. Wajah mereka tampak bingung. Apalagi setelah melihat Heechul. Bawaan yang dibawa Leeteuk pun berceceran dilantai.

“Heechul?” ujarnya tampak kaget.

“Kalian!” ujar Heechul kaget juga.

“Kalian semua? Bicara dengan siapa?” Tanya Kyuhyun bingung.

Aku kaget bukan main dengan ucapan kyuhyun. Aku menjadi sangat bingung. Tiba-tiba kurasakan kepalaku sangat pening dan semua menjadi putih.

*******************************************

Aku pun membuka mataku. Silau. Aku pun mengusap mataku dengan kedua tanganku. Dimana ini?

“Oppa sudah bangun? Bagaimana tidurnya? Nyenyak?” Tanya gadis di sebelahku.

Aku pun menoleh. Eunlan?

“Eunlan? Apa yang…” ujarku bingung.

“Oppa tertidur. Aku tahu oppa capek. Semalaman oppa menyetir, makanya sekarang giliranku yang bawa mobil.” Ujarnya tampak santai.

“Hah? Memang kita mau kemana?” tanyaku padanya.

Ia menatapku dengan bingung.

“Kita kan mau ke rumah bibi Wu. Merayakan ulang tahun oppa. Masa oppa lupa?” ujarnya padaku.

Apa? ulang tahunku?

“Hah? Bukankah sekarang sudah bulan maret?” tanyaku semakin bingung.

“Maret? Oppa bicara apa sih? Sekarang kan 9 Febuari, ulang tahun oppa.” Ujarnya seakan akan ini lucu.

“9 Febuari?” tanyaku.

“Iya, 9 Febuari 2003. aduh, oppa pasti cape sekali sehingga lupa begitu.” Ujarnya padaku.

“Hah? Berarti sekarang umurku 19 tahun?” Tanyaku.

“Iya. Hahaha. Dasar oppa.” Ujarnya.

“Lalu mana Heechul hyung? Mana Siwon?” tanyaku bingung.

“Bicara apa oppa? Siapa pula mereka? Apa oppa mengigau?” tanyanya padaku.

“Ah, tidak. Lupakan saja.” Ujarku padanya.

Aku bingung. Lalu yang selama ini terjadi itu apa? Siapa itu Heechul? Siapa juga itu Siwon? Apa itu adalah sebuah mimpi? Apa mungkin? Kalau begitu itu adalah mimpi yang sangat panjang. Aku pun menghela nafas panjang. Bersyukur karena yang selama ini terjadi padaku hanya sebuah mimpi.

“Ah………” ujarku mengehela nafas panjang.

“Ada apa oppa? Kau tampak aneh.” Ujarnya sambil melirikku.

“Ah, tidak. Hanya saja aku habis melewati mimpi yang panjang.” Ujarku padanya.

“Mimpi yang panjang ya? Kau tidur lelap sekali.” Ujarnya.

Aku pun kembali menatap jalan di gunung itu. Sesekali kuucapkan syukur. Aku senang sekali kalau semua itu hanya mimpi. Aku senang karena aku tidak kehilangan Eunlan. Aku pun memandang keluar jendela. Namun tiba-tiba dari dalam semak semak keluar seekor rubah.

“Eunlan..!! awas..!!” ujarku kaget.

“Ah….” Ujar Eunlan panik.

*****************************************************

“Picu jantungnya.” Ujar seseorang dengan nada yang samara-samar.

Aku pun membuka mataku dengan perlahan. Begitu banyak sinar.

“Sekali lagi. Beri gel!” perintah seseorang.

Aku pun menatap ke sampingku. Begitu banyak orang.

“Clear?” ujar seseorang.

“Clear!” jawab yang lain.

Aku masih belum bisa melihat dengan jelas. Aku hanya bisa mendengar. Namun, sedikit-demi sedikit pandanganku mulai jelas. Aku bisa melihat semuanya. Kudapati badanku yang penuh dengan perban. Berselimut busana putih. Aku tak mengerti dimana aku sekarang.

TTIIITT…………

Kudengar suara bunyi yang panjang dan nyaring dari sampingku. Aku pun menoleh. Orang-orang itu sedikit demi sedikit pergi. Hingga akhirnya hanya seseorang yang terbaring disana. Dengan wajah pucat tak bernyawa.

“Eunlan?” ujarku tak percaya.

Aku masih belum percaya dengan apa yang kulihat.

“Apa-apaan ini? Apa yang terjadi. Eunlan… eunlan…!!” ujarku seraya memanggil nama Eunlan.

Kulihat seseorang menutup wajah Eunlan dengan kain. Aku kaget.

“Tidak….!! Tidak mungkin!” ujarku histeris dan mencoba bangun dari ranjangku.

Namun seseorang menarik ranjangku keluar dari ruang itu. Dengan cepat mereka membawaku keluar dan dengan cepat mereka menutup ruang itu termasuk Eunlan didalamnya.

~END~

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s