Hankyung’s Story [Part 2]

Siwon POV

Kubuka pintu kamar 13. Tampak didalamnya Hankyung sedang menatap kosong kearah luar jendela. Kusimpan bubur ayam yang kubawa keatas meja. Kuperhatikan, tampaknya ia tak sadar akan kehadiranku.

“Hyung, aku datang.” Ujarku sambil menyentuh pundaknya.

“Ah, Siwonshii! Apa kabar.” Ujarnya sambil tersenyum tipis kearahku.

“Baik hyung. Aku selalu baik. Kurasa.” Ujarku pelan sambil mengajaknya berbaring lagi diatas tempat tidur.

“Apa maksudmu dengan kata ‘Kurasa’?” Tanya hyung tampak bingung.

“Ah, sudahlah hyung. Lupakan saja.” Ujarku sambil mengeluarkan bubur ayam dari dalam kantong plastik.

“Ah, kau ini. Selalu saja begitu. Selalu saja kau membuatku khawatir.” Ujarnya pelan sambil menggelengkan kepalanya.

Aku pun tersenyum.

“Hyung tak perlu khawatir padaku. Aku selalu baik-baik saja. Nah, sekarang hyung lihat apa yang kubawa. Bubur ayam spesial, sekarang hyung makan ya.” Ujarku sedikit bersemangat dengan maksud ia bersemangat juga.

“Aku tak berselera.” Ujarnya datar sambil memalingkan wajah dariku.

“Aduh, kalau hyung tidak makan nanti hyung sakit.” Ujarku sedikit kecewa.

“Aku tidak mau. Lagipula aku sudah sakit.” Ujarnya dingin sambil terus berpaling dariku.

“Ayolah hyung. Kata umma’nya hyung, hyung sudah tidak makan tiga hari ini. Bahkan diasuapi oleh umma’nya hyung pun tak mau, padahal hal yang paling hyung inginkan kan disuapi umma’nya hyung. Ayolah hyung, aku jauh-jauh kemari karena khawatir pada hyung.” ujarku sedih.

“Tapi aku tidak mau disuapi. Aku juga tak mau makan. Buat apa aku makan kalau aku tidak berselera?” ujarnya datar sehingga membuatku tak habis pikir.

“Tapi kalau hyung tak makan, bagaimana hyung bisa sembuh? Apa hyung mau mati?” ujarku kesal namun kucoba untuk menahannya.

“Mungkin.” Ujarnya dingin seraya menutup wajahnya dengan selimut.

Aku pun menghela nafas panjang. Tak mengerti dengan jalan fikir hyung’ku yang satu ini. Aku tahu ia banyak masalah, tapi bukan berarti ia tidak makan sama sekali. Kutarik selimutnya secara perlahan.

“Hyung, tatap aku.” ujarku tegas.

Hankyung hyung pun menatapku dengan malas.

“Tampaknya ada sesuatu yang hyung pikirkan. Coba ceritakan padaku. Siapa tahu aku bisa membantu.” Ujarku berusaha bernada bersahabat

Hankyung hyung menatapku lekat-lekat. Aku menunggunya sampai ia mulai bicara. Ia pun menarik nafas panjang.

“Eunlan.” Ujarnya lirih sekali.

“Maaf? Hyung bilang apa tadi?” ujarku tanpa maksud untuk menyindir hyung, tapi memang suara hyung tak terdengar.

“Aku mau bertemu Eunlan.” Ujarnya dengan tatapan kosong.

Aku kaget bukan main. Kutatap hyung dengan tatapan tak mengerti.

“Ya ampun hyung. kurasa kita sudah selesai dengan masalah ini.” Ujarku sedikit kesal.

“Tapi aku tak bisa berhenti memikirkannya. Aku sudah terlanjur jatuh hati padanya. Jangan paksa aku melupakannya karena aku tak bisa.” Ujarnya sambil memelas seakan mau menangis dan kurasa ia sudah menangis.

“Tapi kita sudah setuju kalau Eunlan itu tak ada. Kau sendiri juga bilang kalau Eunlan tak ada. Bukan begitu?” ujarku yang tampaknya dibuat stress oleh Hankyung hyung.

“Iya, aku tahu. Tapi bayang-bayangnya selau ada. Ingatan bersamanya saat itu begitu melekat didalam benakku. Dia begitu nyata.” Ujarnya bersikeras.

“Tapi Eunlan tak ada.” Ujarku.

“Ada. Eunlan ada.” Ujarnya marah.

“Dia tak pernah ada.” Ujarku marah juga.

Hankyung hyung pun menatapku. Tampak sekali ia marah padaku. Ia pun menarik nafas panjang.

“Kau tak mengerti. Dan kurasa kau tidak akan mengerti. Kau tidak merasakan perasaanku saat itu. Saat dimana aku menghabiskan waktu dengannya. Memang bukti tentang kehadirannya tak ada, namun saat ia menyentuhku, memainkan piano, saat tanganku menyentuh pinggangnya, bahkan saat aku megalungkan kalung itu dan membisikan kata saranghae di telinganya, itu semua begitu nyata. Sangat nyata. Dan kau tak akan pernah tau rasanya itu.” Ujarnya mencoba tenang.

“Iya, aku tidak akan pernah tahu rasanya karena aku ini bukan hyung. kau tahu? Aku sudah lelah untuk meyakinkanmu bahwa Eunlan itu tak ada. Tapi hyung selalu…. Ah, sudahlah! Sebaiknya hyung makan.” Ujarku sambil mengambil kotak berisi bubur ayam yang tampaknya sudah dingin.

“Aku tidak mau.” Ujarnya sambil memalingkan wajahnya dariku.

Aku kesal bukan main namun tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba pintu dibuka, dari luar pun muncul Leeteuk hyung, Yesung hyung, dan Sungmin hyung. Aku lupa kalau mereka akan datang kemari. Menyusulku.

“Anneyong hasseo.” Ujar mereka bertiga serempak.

Leeteuk hyung pun menaruh bungkusan diatas meja. Yesung hyung dan Sungmin hyung pun menghampiri Hankyung hyung ke sisi tempat tidur. Aku benar-benar tak bisa bicara lagi. Aku pun terduduk di sofa dekat aku berdiri.

“Loh? Hyung mukanya merah? Habis menangis?” ujara Sungmin hyung tiba-tiba dengan kagetnya.

Mulai lagi pembicaraan yang akan berlangsung lama.” Ujarku dalam hati.

Suasana langsung sunyi seketika. Leeteuk hyung, Yesung Hyung dan Sungmin hyung menatapku. Kuisyaratkan bahwa aku tak tahu apa-apa.

“Kalian berantem lagi?” Tanya Leeteuk.

Tak ada yang menjawab dari aku ataupun Hankyung hyung.

“Oh, tuhan. Ayolah..!!! Apa yang kalian permasalahkan sekarang? Eunlan lagi?” Tanya Leeteuk hyung yang ternyata sudah tahu keadaannnya.

“Dia tak mau percaya padaku hyung.” ujar Hankyung hyung.

Aku benar-benar kaget dan malas berdebat lagi.

“Tapi dia memang tak ada.” Ujarku kesal.

“Tapi dia ada. Kalian percaya padaku kan?” Tanya Hankyung hyung begitu memelas.

“Iya. Kami percaya padamu.” Ujar Yesung hyung berusaha menenangkan.

“Oh, yang benar saja.” Ujarku kesal sambil keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya.

*******************************

Leeteuk hyung pun menyusulku dan menyuruhku untuk berhenti.

“Siwon, tunggu! Berhentilah dulu. Mari kita bicara!” ujarnya sambil setengah berlari.

“Ada apa lagi?” Tanyaku kesal sambil memberhentikan langkahku.

“Ayolah Siwonshii, pahami kondisinya. Lagipula dia kan soulmate’mu!” ujarnya.

“Tapi ia harus diingatkan. Ia tak bisa terus menerus hidup dengan bayang-bayang Eunlan. Dia harus menerima kenyataan bahwa Eunlan itu tak pernah ada.” Ujarku tegas.

“Tapi semua itu butuh proses. Ada waktunya.” Ujarnya sambil menyentuh pundakku.

“Oh, sudahlah.” Ujarku sambil menepis tangannya dan pergi meninggalkan.

Aku kesal sekali. Padahal maksudku kan baik. Aku sayang pada hyung. aku tak mau ia hidup dalam bayang-bayang Eunlan. Kulangkahkan kakiku ke basement. Kearah mobilku. Namun tiba-tiba tanganku ditarik seseorang.

“Maaf? Kau siwon.” Ujarnya.

Aku pun berbalik.

“Oh, syukurlah. Ternyata benar kau. Kau habis menjenguk Hankyung?” ujar umma Hankyung itu.

“Ah, ajumni! Anneyong hasseo.” Ujarku sesopan mungkin.

“Siapa yang menemani Hankyungshii?” Tanya ajumni.

“Ada Leeteuk hyung, Yesung Hyung dan Sungmin hyung. Sekarang aku mau pamit pulang ajumni.” ujarku.

“Tunggu dulu, bisakah kau kerumah kami sekarang? Sebentar lagi adik Hankyungshii pulang. Tak ada orang dirumah.” Ujarnya memohon padaku.

Aku kaget.

“Adik? Setahuku Hyung tak punya adik.” Ujarku heran.

“Ah, maaf. Ajumni lupa memberitahumu. Ajumni mengadopsi seorang maknae di toko kami. Ia masih SMA semester awal dan ia yatim piatu, maka dari itu ajumni mengadopsinya menjadi adiknya Hankyungshii. Namanya Shin-wu. Kau tak keberatan kan Siwon.” Ujarnya memelas.

Aku tak bisa menolak.

“Baiklah Ajumni. Saya akan segera kesana.” Ujarku seraya pamit.

“Oh iya. Ajumni ingin menitipkan ini. Ponsel dan Netbook Hangkyungshii. Selama berobat, ia tak boleh memegang alat ini demi kesehatannya. Tolong kau simpan untuk sementara ya.” Ujarnya lagi.

“Ye, ajumni. Hangsamnida.” Ujarku pamit.

“Hangsamnida Siwonshii.” Ujar ajumni dan berlalu.

**************************************

“Oh, jadi kamu yang namanya Shin-Wu?” ujarku ramah sambil menjabat tangannya.

“Iya. Salam kenal. Hankyung hyung sering menceritakan Siwon hyung padaku. Begitupun Heechul hyung. senang berkenalan dengan hyung.” ujar Shin-wu tersenyum ramah.

“Senang juga berkenalan denganmu.” Ujarku sambil tersenyum padanya.

“Ah, maaf hyung. saya harus pergi les. Saya duluan. Oh iya, jika hyung mau istirahat, hyung bisa pakai kamarku.” Ujarnya sambil memakai ranselnya.

“Ah, tidak usah. Hyung bisa istirahat di ruang tamu. Terima kasih sudah menawarkan.” Ujarku ramah.

“Baiklah. Saya pergi dulu.” Ujarnya sambil pergi keluar rumah.

Akhirnya aku sendiri dirumah ini. Aku pun menyalakan televisi. Kucari channel yang bagus.

Tak ada yang menarik.” Ujarku pelan.

Aku pun mematikan televisi. Mataku memperhatikan rumah Hankyung hyung. bersih, rapi pula. Namun mataku menatap sesuatu. Piano. Aku pun mendekati piano itu. Aku pun memencet satu tuts. Berfikir sejenak. Aku pun duduk di bangku piano dan mencoba beberapa nada.

Piano ini begitu merdu.” Pikirku.

Aku pun memainkan melodi lagu marry u. Kuhayati nada demi nada. Begitu indah. Begitu beruntung hyung bisa tidur sambil mendengarkan permainan piano ibunya. Aku pun terhenti. Entah mengapa ada air mata menetes dari mataku. Aku pun meyekanya. Kumainkan permainan lain. Kumainkan lagu Bigbang yang berjudul lies. Nada demi nada mengalun dengan indahnya. Namun entah mengapa aku teringat sesuatu. Aku teringat dengan netbook dan ponsel hyung yang ajumni titipkan padaku. Aku pun menyudahi permainanku. Kubuka tasku dan kuambil netbook milik Hankyung hyung. Aku pun duduk di sofa dekat situ. Kunyalakan netbook itu. Ada passwordnya. Aku pun berfikir. Kira-kira apa passwordnya.

Ah… coba saja kata itu.” Pikirku dalam hati.

Aku pun mengetikkan kata Hanculsi dan kutekan enter. Benar saja dugaanku. Passwordnya terbuka. Pada layarnya terpasang foto kami, personil suju saat kami album kedua, U. Aku tersenyum miris. Kubuka beberapa file. Entah apa yang kucari, tetapi feelingku berkata aku akan menemukan sesuatu di netbook itu. Kubuka file pictures. Begitu banyak foto disana. Mulai sampai foto pribadi, sampai foto saat kami bersama dulu. Namun aku menemukan sesuatu yang aneh. Kulihat banyak foto hyung sendiri yang tampaknya ia ambil sendiri. Aku bingung, sebab setahuku hyung hampir tidak pernah memotret dirinya sendiri kecuali orang lain yang mengambilnya. Kulihat keterangan nama foto itu. Nan hago Eunlanshii. Aku kaget bukan main. Aku zoom gambar itu, kuperhatikan baik baik. Kuusap mataku, namun percuma saja. Karena pada foto itu hanya ada Hankyung hyung, tidak ada siapa-siapa lagi.

Apa maksudnya hago Eunlanshii? Aku tak mengerti.” Ujarku dalam hati.

Kuperhatikan gambar itu dan gambar lainnya namun sia-sia karena jelas-jelas tidak ada Eunlan disamping Hankyung hyung. Aku pun meletakkan Netbook hyung diatas meja. Kuhirup udara dalam-dalam. Mencoba berfikir jernih. Kuambil netbook hyung kembali dan kubuka file lain. Aku terus mencari sampai tak terasa 2 jam telah berlalu dan sampai akhirnya aku menemukan file bernamakan Privacy.

Tampaknya ini bisa kujadikan petunjuk. Maafkan aku hyung. kubuka file ini tanpa minta izin padamu.” Ujarku dalam hati.

Aku pun membuka file itu. Ternyata isinya adalah kumpulan note yang berisi harian hyung selama ia di Beijing. Namun, belum sempat aku membacanya satu demi satu, pintu depan terdengar terbuka.

“Anneyong hasseo.” Ujar Shin-wu sambil memasuki rumah.

Aku pun bangkit dari dudukku dan menghampiri shin-wu.

“Anneyong.” Ujarku ramah.

“Ah, hyung. Umma ingin bicara.” Ujar Shin-wu seraya memberikan ponselnya padaku.

Aku pun menerimanya dengan bingung.

“Yeoboseyo?” ujarku pelan.

“Siwonshii? Ini ajumni. Ada kabar buruk. Keadaan Hankyung memburuk.” Ujar ajumni sedih.

“Apa? Kalau begitu aku akan kesana sekarang juga.” Ujarku panik.

“Tak usah. Sebaiknnya kau dirumah saja, sekalian menjaga Shin-wu. Lagipula disini sudah ada Leeteukshii. Ajumni sedikit lega.” Ujar ajumni pelan.

Aku kecewa sekali mendengarnya.

“Bisa ya? Mohon doa akan kesehatan Hankyung.” Ujar ajumni lagi.

“Ne. Aku akan selalu mendoakannya dimanapun dan kapanpun.” Ujarku lirih.

Setelah meninggalkan pesan, ajumni pun mematikan telefonnya. Entak mengapa air mata bisa mengalir keluar dari mataku.

“Hyung menangis?” Tanya Shin-wu padaku.

Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Kukembalikan ponsel Shin-wu padanya.

**************************************

“Eunlan? Aku tak pernah mendengarnya hyung.” ujar Shin-wu saat kami sedang makan malam bersama pada suatu malam.

“Serius? Kabarnya ia sering main kesini.” Ujarku sedikit mendesaknya.

“Aku serius hyung. Aku tidak pernah mendengar namanya. Setahuku tak ada orang yang bernama Eunlan main kesini.” Ujar Shin-wu meyakinkanku juga.

Aku pun terdiam.

“Baiklah kalau begitu, terima kasih. Aku permisi dulu.” Ucapku sambil membereskan makananku dan pergi ke ruang tamu.

Kubuka Netbook Hankyung hyung. kubuka file privacy. Kubuka salah satu note yang diberi judul 1. kubuka dan kubaca isinya.

Besok hari pertama. Aku tegang sekali. Aku takut akan berjalan tidak lancar seperti kasus DBSk waktu itu. Tapi ibuku selalu bilang bahwa semua akan baik-baik saja. Adikku juga bilang kalau aku akan menang dalam sidang ini. Dia malah bilang kalau aku harus percaya pada feelingnya karena feelingnya selalu benar. Tapi entah mengapa aku tidak yakin. Aku hanya bisa berdoa malam ini agar sidang besok berpihak padaku.

Pasti hyung menulis ini sehari sebelum sidang itu.” Pikirku dalam hati.

Aku pun membuka file selanjutnya yang berjudul 2.

Hari ini sidang berlangsung tapi aku tidak tahu apa hasilnya. Aku sudah tak mau lagi memikirkan sidang ini. Lalu tadi Siwonshii mengajakku bertemu. Aku senang sekali karena aku bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Dia sudah seperti saudaraku. Adik kandungku. Lukaku sedikit terobati tadi. Tadi aku juga ketaman. Senang sekali rasanya. Karena sudah lama sekali aku tidak ke taman itu. Ingat dulu aku selalu menghabiskan waktu disana. Tidur-tiduran, bermain bola, bermain layangan sampai ibuku memanggilku untuk pulang. Tapi, tadi ditaman aku lihat Ino. Dia berciuman didepanku. Tampaknya dengan pacarnya. Aku tak tahu kenapa tapi itu rasanya sakit sekali. Memang, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi ia tetap cinta pertamaku dan kurasa ia akan menjadi yang terakhir karena perasaanku padanya dari dulu sampai sekarang tidak akan berubah. Walau ia tidak memikirkanku lagi, aku akan tetap memikirkannya sampai kapanpun. Karena dia Ino. Ia tetap Ino’ku yang dulu.

Aku tak tahu mengapa, tapi tampaknya aku miris membacanya. Ternyata hari itu hyung banyak sekali masalah. Kutatap file yang berjudul 3. awalnya aku urungkan niatku untuk membukanya. Tapi aku teringat lagi dengan kondisi hyung sekarang. Aku harus mencari tahu tentang Eunlan. Aku pun membuka file itu.

Kurasa hari ini aneh sekali. Tadi muncul lagi 1 orang yang tak dapat aku ingat dalam memoriku. Namanya Eunlan. Aku yakin aku tidak pernah mengenalnya. Tapi wajahnya yang polos begitu meyakinkanku kalau aku mengenalnya dengan baik. Karena muak, tadi aku pergi begitu saja dari rumah. Aku menelfon Siwon untuk pergi ke café xxxx menemuiku. Untungnya ia mau datang. Kutanyakan saja apa aku pernah menceritakan Eunlan padanya karena dulu aku selau menceritakan masa kecilku termasuk teman mainku dulu padanya. Tapi ia bilang aku tidak pernah cerita padanya. Aku makin bingung. Lalu tadi siwon menceritakan padaku keadaan member lain. Tampaknya banyak perubahan pada mereka semua. Aku jadi sedih mendengarnya, apalagi dengar keadaan Heechul hyung, jadi aku berjanji akan menonton konser mereka nanti. Namun, saat aku kembali kerumah. Aku dengar suara permainan piano. Awalnya kupikir itu umma tapi ternyata gadis itu, Eunlan. Ia begitu pandai memainkan piano. Ia tampak bersinar dibawah sorot cahaya. Apalagi ia memainkan lagu It’s you. Lalu ia memainkan satu lagu lagi namun aku tak mengenal lagu itu. Entah mengapa aku langsung terpesona padanya. Tampaknya ia akan mendapat tempat sendiri dihatiku.

Aku pun melirik piano disebelahku. Sedikit takut memang. Tapi aku tak boleh takut. Yang benar saja. Aku pun membuka file 4, 5, 6, dan seterusnya. Hampir tak percaya aku dibuatnya. Dalam harian hyung, Eunlan begitu nyata. Mulai dari minum kopi bersama, nonton, mencari CD, membersihkan mobil bersama, menyiram tanaman, makan es krim. Segalanya tampak nyata. Aku jadi takut sendiri dibuatnya. Tiba-tiba ponsel hyung berdering. Dari Leeteuk hyung. aku pun mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” ujarku pelan.

“Siwonshii, ini Leeteuk. Mengapa saat aku menelfon ponselmu tidak diangkat?” tanyanya tampak sedikit kesal.

Aku baru ingat kalau baterai ponselku habis.

“Maaf hyung. ponselku mati. Memang ada perlu apa hyung?” tanyaku lagi dengan rasa tak enak pada Leeteuk hyung.

“Ah, dasar. Eh, aku lapar. Aku mau makan lalu menjenguk Hankyung. Temani aku ya.” Ujarnya.

“Tumben hyung? memang yang lain kemana?” tanyaku.

“Apa maksudmu dengan kata ‘Tumben’? seakan aku tidak pernah mengajakmu. Mau tidak? Yang lain sedang sibuk. Mereka akan menyusulku langsung ke tempat Hankyung.” Jelasnya.

“Baiklah. Di tempat biasa?” Tanyaku.

“Iya. Cepat ya!” ujarnya sambil menutup ponselnya.

*******************************

“Ada apa denganmu? Tumben kau mau membahas Eunlan?” ujar Leeteuk heran padaku.

“Habis, aku penasaran. Aku baca harian hyung di Netbooknya. Disana dia menulis banyak sekali tentang Eunlan. Dalam hariannya, Eunlan tampak nyata.” Ujarku mencoba meyakinkan Leeteuk hyung.

“Kau membaca hariannya? Apa kau sudah gila? Itu kan file pribadi.” Ujar hyung yang tampaknya tak percaya aku tega melakukannya.

“Tapi aku harus hyung. Aku harus tahu Eunlan itu ada apa tidak.” Ujarku lagi.

“Kupikir kita sudah sepakat kalau Eunlan tidak pernah ada. Kau terlihat seperti Hankyung sekarang.” Ujarnya lagi.

“Mungkin aku akan seperti Hankyung hyung jika aku tidak bisa membuktikan sendiri Eunlan ada atau tidak. Dia menceritakannya begitu nyata. Reaksinya saat ia menceritakan saat mendengar Eunlan memainkan piano, saat Eunlan menyentuhnya, bahkan mencari Cd bersama. Semua itu nyata sekali. Apalagi aku membaca hariannya. Aku bisa ikut gila jika tidak membuktikan sendiri keberadaan Eunlan dengan mata dan kepalaku sendiri.” Ujarku kesal.

“Sepertinya kau lelah. Makan saja dan tenangkan pikiranmu.” Ujar Leeteuk hyung sambil memasukkan sushi telur ikan ke dalam mulutnya bulat-bulat.

“Aku sudah makan.” Ujarku sambil menegak minumanku.

Aku pun menghela nafas panjang. Kucoba berfikir jernih. Lalu Leeteuk hyung menepuk pundakku.

“Sudahlah Siwon. Semua akan baik-baik saja. Kau hanya harus menyelesaikannya dengan kepala dingin.” Ujarnya lembut padaku.

“Terima kasih hyung.” ujarku sambil memeluknya.

Tapi…….

“Ah… mulutmu bau mayonese. Membuatku mual.” Ujarku sambil melepaskan pelukannya.

“Tentu saja. Aku kan makan sushi. Memang bau apa yang kau harapkan? Gulali?” ujarnya tampak kesal.

“Oh, sudahlah. Lupakan. Bagaimana keadaan hyung dirumah sakit? Kudengar kabarnya memburuk.” Ujarku mencari topik lain.

“Ya, kau benar. Ia demam tinggi. Tapi sekarang demamnya sudah turun. Ajumni memberitahuku tadi pagi.” Ujanya sambil memebersihkan mulutnya.

“Hyung mau menjenguknya sekarang?” Tanyaku.

“Iya. Aku khawatir sekali padanya.” Ujarnya sambil membersihkan mulutnya lagi.

“Aku ikut ya. Aku kangen padanya.” Ujarku memohon padanya.

“Boleh.” Ujarnya sambil meneguk tehnya.

“Sungguh? Ayo kita berangkat sekarang…!” Ujarku sambil menarik tangannya.

“Apa kau ingin membunuhku? Tunggulah dulu. Aku kekenyangan.” Ujarnya sambil menepuk-nepuk perutnya.

**********************************

Aku pun menyusuri koridor itu disebelah Leeteuk hyung. Tiba-tiba kami melihat Umma sedang berbicara serius dengan dokter. Kami pun menghampirinya. Leeteuk hyung pun masuk dalam pembicaraan mereka namun aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku pun masuk kedalam ruang 13. kulihat Hankyung hyung sedang tertidur dengan pulas. Aku pun duduk ditepi tempat tidurnya. Entah mengapa aku menangis.

“Hyung, maafkan aku. Saat keadaanmu buruk waktu itu aku tak bisa hadir. Aku tak tahu apa sekarang hyung mendengarku atau tidak. Tapi, aku mau minta maaf lagi pada hyung karena saat pertemuan terakhir kita, aku marah pada hyung. Aku minta maaf sekali. Tapi aku ingin hyung tau. Aku selalu percaya pada hyung. sekarang aku sedang mencari bukti tentang keberadaan Eunlan dia ada atau tidak. Aku ingin bisa percaya pada hyung. Jadi aku minta maaf pada hyung kalau aku membuka file pribadi hyung. Maafkan aku hyung. Aku selalu sayang padamu hyung. Cepatlah kembali pulih agar kita bisa bercanda tawa seperti dulu lagi.” Ujarku sambil menyeka air mataku.

Aku pun menatap hyung dengan tatapan sedih. Andai aku dapat menggantikan posisinya.

“Aku selau disampingmu hyung.” ujarku membisikan ditelinganya.

Seminggu kemudian

Aku pun membuka mataku. Kutatap langit-langit kamar Hankyung hyung. aku pun duduk di tepi tempat tidur. Kutatap keluar jendela.

Jadi pemandangan seperti ini yang selalu hyung lihat dipagi hari.” Ujarku dalam hati.

Aku pun menatap netbook hyung yang kuletakkan diatas meja. Aku beranjak mengambilnya dan duduk di sofa yang ada dikamar hyung. Kunyalakan netbook itu dan kubuka file Privacy. Kuawali dengan file yang berjudul 13.

Hari ini, seperti biasanya. Eunlan main kerumah. Kebetulan sekali aku bosan dirumah. Ibu ke toko dan adikku sekolah. Ia memainkan piano untukku. Aku hanya bernyanyi dan menari mengiringi permainannya. Aku senang sekali. Kami berniat untuk makan siang diluar. Lalu sewaktu aku kekamar mengambil mantel, ia berlari kearahku dan mencoret pipiku dengan spidol. Tentu saja aku membalasnya. Akibatnya kita jadi bermain spidol, menurutku kita main spidol hampir seperempat jam. Wajahku penuh dengan coretan. Wajahnya juga. Lalu tiba-tiba ia menulis sesuatu di dinding kamarkuku. Dia menuliskan kata saranghae persis di dinding pojok kamar. Lalu kutulis juga kata wo ai ni yo dibawahnya beserta kata HanLan. Singkatan namaku dan namanya. Tampaknya aku jatuh hati padanya. Aku berencana membelikannya kalung. Kuharap ia suka.

Aku kaget membacanya. Aku pun menatap sudut kamar yang dimaksud hyung. Aku menghampiri sudut itu. Kucari kalimat yang dikatakan hyung dalam hariannya. Kucari dengan teliti. Lalu akhirnya kutemukan juga. Tiga deret kalimat dengan spidol yang sudah pudar. Deret pertama bertulis kata saranghae. Deret kedua bertuliskan kata wo ai ni yo. Dan deret tiga bertuliskan kata HanLan. Deret kedua dan ketiga, aku tahu itu tulisan hyung. Aku tahu persis. Namun pada deret pertama, aku tidak yakin itu tulisannya hyung. tulisan ini begitu lembut. Berbeda dengan hyung. aku kaget bukan main. Timbul rasa penasaran yang besar dan sedikit rasa takut. Aku pun mematikan netbook hyung dan memasukkannya kedalam tas. Kuambil mantelku dan bergegas pergi.

***********************************

“Setahuku Hankyung oppa tak pernah membawa wanita kemari.” Ujar Yun Shi sambil memberiku minum.

“Serius? Kau kan kerja disini, kau pasti tahu dengan siapa Hankyung hyung datang kemari.” Ujarku mendesaknya.

“Aku serius. Kalau pun Hankyung oppa datang kemari, kalau tidak dengan Siwon oppa, pasti sendiri. Lalu duduk dipojok.” Ujar Yun Shi lagi.

“Baiklah kalau begitu. Tapi aku mau menanyakan sesuatu. Apa Kamu pernah mendengar nama Eunlan? Atau pernah mendengar Hyung mengucapakan nama itu.” Tanyaku lagi padanya.

“Tidak. Setahuku tidak. Atau mungkin aku lupa ya?” ujarnya lagi.

“Ayolah ingat-ingat lagi.” Desakku.

“Entahlah oppa. Aku lupa. Memang ada apa sih? Kudengar Hankyung oppa sakit?” ujarnya padaku.

Aku menghela nafas panjang. Kuteguk minumanku sekaligus.

“Iya. Dia sedang tidak sehat.” Ujarku lemas.

Putus asa.

“Apa pikirannya terganggu? Sebab Hankyung oppa sering bertingkah aneh.” Ujarnya tiba-tiba.

Aku kaget. Sedikit bersemangat aku dibuatnya. Kupandang wajah Yun Shi dengan serius.

“Bertingkah aneh bagaimana?” tanyaku padanya.

“Iya. Hankyung oppa sering memesan menu dobel namun hanya memakan satu. Begitu juga minuman. Dia hanya meminum satu. Sedikit aneh pikirku. Ia juga sering tersenyum sendiri.” Ujarnya polos.

Sedikit titik cerah ada didepanku.

“Serius kamu?” tanyaku padanya.

“Kapan aku main-main dengan oppa? Tentu saja aku serius.” Ujarnya tampak serius.

Aku pun terdiam.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Kau bisa kembali bekerja.” Ujarku padanya.

“Terima kasih oppa.” Ujarnya sambil berlalu pergi.

Aku pun berusaha tenang. Kukeluarkan netbook Hankyung hyung. Aku pun membuka file privacy. Lalu kubuka file berjudul 14.

Aku tak percaya kalau suaranya ternyata indah. Dia menyanyikan lagu you & me. Walau aku hanya bisa mendengarnya secara sembunyi-sembunyi dari balik pintu dapur, tapi aku bahagia sekali. Selain itu dia juga pandai bermain layangan saat kita sedang main di taman. Dia wanita yang hebat. Di juga pandai menyair. Saat kami beristirahat ditepi kolam. Sambil menyemplungkan kaki kami kedalamnya, dia bersyair untukku. Kurasa aku makin menyukainya.

Aku pun terdiam. Kubuka file selanjutnya yang berjudul 15.

Hari ini dia datang lagi kerumah. Kuharap kali ini ia tidak tahu, karena aku akan merekamnya. Seperti biasa ia bermain piano. Kali ini ia memainkan lagu Iu yang berjudul Mia. Aku suka sekali dengan jentikan jari-jarinya. Begitu indah. Aku hanya bisa merekamnya dari balik ruang lain. Walau hasil rekamanku jelek. Karena Eunlan tidak terlihat. Hanya suaranya saja. Tapi itu sudah membuat hatiku damai. Entah mengapa semakin hari aku semakin menyukainya. Kuabadikan video ini didalam file khusus.

Aku kaget dibuatnya. Segera kucari file yang dimaksud. Tampaknya hyung sangat melindungi file itu karena aku tidak menemukan file itu sama sekali. Awalnya aku putus asa. Tapi, aku menemukan file yang berjudul 1031315213. kuharap didalamnya terdapat video itu. kubuka file itu. Dan benar saja didalamnya ada sebuah video. Kulihat video itu. Awalnya tidak terdengar apa-apa. Akhirnya aku menggunakan earphone. Akhirnya terdengar sesuatu. Diawali dengan hyung berbicara sesuatu.

“Hari ini misiku harus berhasil.Hwaiting        …!!!” ujar Hankyung hyung.

Lalu tiba tiba kamera itu terfokus pada satu titik. Tampaknya hyung sangat berhati-hati. Ia sangat takut ketahuan. Jadi video itu hanya terfokus pada setengah pianonya saja. Orang yang memainkannya tak tertangkap kamera. Lalu terdengar suara Hankyung hyung.

“Dengar.” Ujarnya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara dentingan piano begitu syahdu. Jernih dan merdu. Permainan Lagu Iu yang berjudul Mia begitu harmonis. Entah mengapa jantungku ikut berdetak kencang. Lalu beberapa saat kemudian lagunya berhenti. Dan terdengarlah suara hyung.

“Sepertinya dia sudah selesai. Indah kan. Ah, sebaiknya aku kembali ke kamar.” Ujar hyung dan video itu pun usai.

Aku mematung menatap layar netbook. Masih tidak percaya. Aku begitu terkesima. Kuusap wajahku dengan kedua tanganku. Kuhabiskan minumanku dengan satu tegukan. Aku pun beranjak dari kursiku dan pergi  ke toilet. Kubasuh wajahku berkali-kali dengan air dingin. Kutatap wajahku yang basah.

“Mustahil.” Ujarku menghela nafas panjang.

******************************

“Kau pucat sekali.” Ujar Leeteuk hyung sambil menyodorkanku segelas kopi.

“Kau banyak pikiran ya?” ujarnya lagi sambil duduk disebelahku.

Tentu saja. Bagaimana bisa aku tidak memikirkan itu? Hampir dua minggu aku tak bisa tidur dibuatnya. Ini beban yang berat bagiku. Aku mengambil nafas panjang. Kuteguk kopi yang dibuatkan Leeteuk hyung. kulihat Leeteuk hyung masih menunggu jawaban dariku.

“Tidak. Biasa saja.” Ujarku.

“Ayolah. Aku tinggal bersamamu tidak satu atau dua minggu. Sudah bertahun lamanya kita tinggal bersama. Makan bersama. Aku tahu persis jika kau ada masalah.” Ujarnya sambil menopang punggungku.

“Dari mana hyung tahu? Aku tak ada masalah.” Ujarku bersikeras.

“Hah… kau menantangku ya? Aku selalu tahu. Kelebihanmu kan matamu. Setiap suasana hatimu akan terpancar melalui matamu. Jika kau ada masalah, tatapan matamu akan sayu.” Ujarnya lagi.

Aku tersenyum lirih.

“Hyung memang selalu tahu.” Ujarku tersenyum padanya.

“Jangankan kau Siwon. Dia saja bisa tahu dimana aku menyembunyikan uang. Waktu itu dia menemukan uangku di sepatuku. Dengan hanya melihat tingkah lakuku saja. Semenjak itu, aku paling tidak mau membicarakan uang dengan Leeteuk hyung.” ujar Eunhyuk hyung sambil duduk disampingku.

“Ah, jangan begitu. Aku jadi malu.” Ujar Leeteuk hyung dengan gaya tersipunya.

“Ah, sudahlah. Jangan mulai lagi.” Balas Eunhyuk hyung.

Aku tertawa.

“Yup, tampaknya kau sudah bisa tertawa. Coba bilang padaku apa yang kau pikirkan?” Tanya Leeteuk hyung padaku.

Aku terdiam.

“Katakan saja. Jangan dipendam.” Ujar Eunhyuk hyung sambil merangkulku.

Aku menghela nafas panjang. Kutatap wajah mereka yang sedang merangkulku secara bergantian.

“Aku memikirkan Eunlan.” Ujarku datar.

“Aigo…!!!” ujar mereka serempak sambil melepas rangkulannya dariku.

“Ada apa?” tanyaku pada mereka.

“Ada apa lagi? Masih musim memikirkan Eunlan? Sudahlah.” Ujar Eunhyuk hyung padaku.

“Tapi hyung. Kau belum lihat netbook hankyung hyung, kau akan berfikir seakan-akan Eunlan ada.” Ujarku bersikeras.

“Cukup. Mulai sekarang berhenti memikirkan Eunlan.” Ujarnya seraya mengambil netbook itu.

Kutatap secara bergantian wajah mereka. Tampaknya mereka tak paham maksudku. Aku pun menjadi malas menatap mereka. Aku pun akhirnya pergi meninggalkan mereka didalam rumah Hankyung hyung. Mencari udara segar.

*****************************

Jadi ini, taman yang jadi tempat main hyung saat kecil dulu.” Pikirku sambil duduk dikursi taman.

Aku menatap sekeliling. Andai dulu aku bisa bermain ditaman ini, pasti menyenangkan. Aku tertunduk. Melamun. Kucoba untuk melupakan semua. Tapi tiba tiba aku teringat sesuatu. Kurogoh saku mantelku. Kucari suatu benda. Dan untungnya benda itu kutemukan. Ponsel Hankyung hyung. kupandang ponsel Hankyung hyung. Sedikit aneh mungkin. Aku berusaha untuk tidak ikut campur dengan semua ini, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan hal ini. Aku terus penasaran. Dan semakin ingin membuktikan keberadaan Eunlan. Aku pun mengaktifkan ponsel itu. seingatku dalam harian hyung, ditulis kalau ia sempat menelfon Eunlan. Kucari nomor dengan nama Eunlan. Cukup lama aku mencarinya. Dan akhirnya ketemu. Dengan tegang aku menatap ponsel itu. Ragu-ragu aku untuk menelfon nomor itu. Namun aku harus punya keputusan penting dalam hal ini. Akhirnya kutekan tombol memanggil. Sedikit lama mungkin, namun akhirnya tersambung juga. Tapi, tiba-tiba kudengar dering ponsel berbunyi. Kukeluarkan ponselku, takut jika ada yang menelfonku. Namun ternyata bukan ponselku. Aku semakin penasaran. Kuikuti suara itu. Karena suaranya samar-samar, sulit bagiku untuk menemukannya. Cukup lama aku mencari, tapi suara itu makin jelas. Dan tertuju pada suatu pohon. Jelas sekali suara deringnya. Tiba-tiba kakiku seperti menyenggol sesuatu. Saat kulihat, ada sebuah ponsel disana. Kuambil ponsel itu. Dalam layarnya tertulis Hankyung Oppa memanggil…. Aku kaget bukan main. Yang benar saja. Aku jadi gemetar dibuatnya. Kugenggam kedua ponsel itu dengan gemetar. Tapi aku menjadi ingat suatu hal, aku ingat kalau hankyung berkata bahwa ia datang ke konser kami bersama Eunlan. Aku pun segera berlari kearah mobilku dan Bergegas pergi.

*********************************

Ada tradisi, setiap kali konser atau hanya sekedar performance kami merekam penontonnya juga. Terutama ELF. Biasanya yang menyimpan video yang seperti itu Mr. Lee. Maka tanpa pikir panjang aku segera berlari ke kantornya.

“Mr. Lee. Aku butuh bantuanmu.” Ujarku seraya membanting pintu cukup keras.

“Siwonshii? Kau membuatku kaget. ada apa? Pagi sekali kau kemari.” Ujar Mr. Lee yang tampak kaget.

“Aku butuh bantuanmu Mr. Lee.” Ujarku seraya mendekati mejanya.

“Bantuan apa? Aku akan Bantu jika aku bisa.” Ujarnya Sambil menyeruput kopinya.

“Bisa tunjukan aku rekaman penonton konser kemarin?” tanyaku padanya.

“Konser kemarin? Yang ada Hankyungshii dikursi penonton.”  Tanya MR. Lee sambil membuka laci yang berisi rekaman video.

“Ya? Aku ingin melihatnya.” Ujarku antusias.

“Baiklah. Tapi untuk apa?” tanyanya sambil meyerahkan rekaman itu padaku.

“Ah, Mr. Lee lihat saja sendiri.” Ujarku tak peduli.

“Ah, sabarlah. Hati-hati rekamannya rusak.” Ujarnya seraya duduk dibangkunya.

Aku pun memutar video itu. Kupercepat video itu. Seingatku, hyung bilang kalau ia datang bersama gadis itu. Ia berkata dengan yakinnya. Dan jika ia benar, pasti Gadis itu akan ikut terekam. Walau aku melihatnya datang sendiri. Kucari terus. Cukup lama memang, namun aku sabar. Aku tak mau kalap kali ini. Setelah sekian lama, ada juga bagian dimana. Hankyung hyung sedang berdiri seraya melambaikan tangannya pada kami. Kupencet tombol rewind, kuputar kembali ke bagian awal Hankyung hyung melambaikan tangannya. Kuperlambat. Dan disampingnya tak ada orang.

“Apa kataku, tak ada orang disana.” Ujarku spontan.

“Apa?” Tanya Mr. Lee padaku.

“Itu, disebelah Hankyung hyung tak ada orang. Apa kubilang…!!” Ujarku seakan menang.

Namun tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu. Ku rewind kembali. Kali ini kuperhatikan secara seksama. Benar saja, aku pun memencet tombol pause. Ku zoom gambar itu. Disitu tampak tangan Hankyung hyung sedang menggenggam sesuatu. Seperti lengan perempuan. Namun disebelahnya tak ada siapa-siapa. Kosong. Sesungguhnya aku tak tahu. Bangku itu kosong atau yang duduk disana terhalang oleh orang didepannya. Tapi apa mungkin Eunlan Sependek itu. Dalam cerita Hankyung hyung tingginya normal. Kuperhatikan lagi gambar itu secara seksama. Semuanya begitu tak masuk akal. Hal ini sedikit membuktikan bahwa Hankyung tak sendiri. Tapi Hankyung hyung jelas-selas datang sendiri, namun tangannya menggenggam tangan lain walau samar. Aku pun semakin bingung. Kupegang kepalaku yang terasa berat. Semua ini begitu aneh. Aku tak mengerti sama sekali. Pertanyaan Hankyung kini ada atau tidak menjadi pertanyaan yang berat dalam benakku. Aku pun bangkit dari dudukku. Aku pun berlalu dar Ruang Mr. Lee. Kudengar Mr. Lee memanggil namaku, namun aku tak peduli aku terus berlalu dan masuk kedalam mobilku.

**************************************

Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit. Bergegas ke ruang 13. kulihat Dr. Jung baru keluar dari ruang hankyung, namun ia mencegahku masuk kedalam.

“Wow, tenanglah. Jangan tergesa-gesa seperti itu. Ada apa?’ tanyanya padaku.

“Apa Hyung ada masalah dokter.” Tanyaku terengah-engah.

“Tidak dia baik-baik saja. Habis minum obat.” Ujar Dr. Jung sambil menepuk punggungku.

“Syukurlah, aku tenang.” Ujarku lagi walau masih panik.

“ Memang ada apa? Mengapa buru-buru.” Tanya Dr. Jung padaku.

“Aku harus bertemu dengan hyung, dokter. Kumohon.” Ujarku berusaha masuk.

“Maaf Siwon, ia baru minum obat. Ia perlu banyak istirahat.” Ujarnya bersikeras.

“Tapi ada yang harus kutanyakan padanya. Penting.” Ujarku memelas.

“Ada waktunya. Namun tidak sekarang.” Ujarnya sambil mendorongku mundur dengan pelan.

“Tapi…”

Tiba-tiba ponsel Hankyung hyung berbunyi. Kubuka ponsel itu. Kutatap layarnya secara seksama. Disana tertera Eunlan memanggil. Langsung kutatap ponsel yang kutemukan ditangan pada tanganku yang lain. Layarnya kosong. Aku langsung menatap Dr. Jung dengan seksama.

“Dokter, tampaknya aku perlu dirawat juga.” Ujarku dengan tatapan kosong.

~TBC~

By: Retno Wulandhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s