Hankyung’s Story [Part 1]

“Ya, saudara – saudara! Sidang hari ini kita tutup.” Ujar hakim seraya memukulkan palunya.

“Ah…. Akhirnya.” Ucapku lirih.

Akhirnya aku bisa terbebas juga dari dalam ruang ini. Ruang yang pengap dan suasana yang tidak aku suka. Kurentangkan tubuhku karena tubuhku terasa sangat kaku. Kupandang ruang disekelilingku. Begitu penuh dengan orang-orang. Entah apa yang mereka lakukan disini. Namun tiba-tiba pengacaraku menghampiriku sambil mengulurkan tangannya.

“Gamsahamnida Hankyung.” Ujar Mr. Park sambil menjabat tanganku.

“Ye. Cheonmaneyo.” Ujarku sambil menerima jabat tangannya dan berlalu pergi karena aku sudah benar-benar malas disini.

Sementara pengacaraku sibuk dengan urusannya sendiri. Aku pun berusaha membuat diriku sibuk dengan berbagai hal. Tapi, saat mataku tertuju pada satu titik, kulihat pria itu tersenyum miris penuh kemenangan.

“Kau paham sekarang Hankyung.” Ujar Lee So Man dengan senyum yang penuh dengan kemenangan.

“Disini aku belum kalah.” Ujarku dingin dan berlalu keluar dari ruang itu melalui pintu belakang karena aku tahu, dipintu utama sudah menunggu banyak pers. Aku sudah muak.

Kuhirup udara sebanyak yang aku mampu. Mencoba bernapas lega sampai akhirnya ponselku berdering.

“Yeoboseyo?” ujarku.

“Hankyung hyung? Ini siwonshii.” Balas orang diseberang sana.

“Siwonshii? Ah, apa kabar? Kenapa kau bisa menghubungiku?” tanyaku antusias sekali.

“Aish… tenanglah hyung. Sekarang aku ada kedai minum xxxxx. , bisa kau kesini sekarang? Waktuku tak banyak.” Ujar siwon buru-buru.

“Tentu saja. Tunggu aku.” Ujarku sambil menutup ponselku dan bergegas pergi.

************************************

“Siwonshii..!!!” ujarku setengah berteriak setelah melihat Siwon. Dongsaengku.

Entah mengapa aku bisa tahu itu Siwon, padahal ia memakai jaket tebal, syal, kacamata, dan topi hangat. Orang biasa tentu tak akan tahu itu siwon karena itu adalah penyamaran sempurna yang biasa aku dan member lain lakukan. Mungkin karena ikatan kami begitu kuat. Aku bisa merasakan ia Siwon. Dongsaengku. Dan setelah kupanggil, tampak Siwon sedikit panik dan memberi isyarat untuk tenang. Aku pun menutup mulutku dan duduk di sebelahnya.

“Siwonshii, bagaimana kau bisa disini?” ujarku sedikit bersemangat.

“Itu tidak penting. Bagaimana sidangnya?” Tanya Siwon sambil meneguk minumannya.

“Entahlah, aku tak tahu.” Ujarku sambil memesan minuman yang sama dengan Siwon.

Siwon tampak kaget.

“Maksudmu apa hyung?” Tanya Siwon sambil mengerjitkan keningnya.

“Entahlah. Aku tidak memperhatikan. Aku sudah terlalu malas.” Ujarku malas-malasan.

“Kau gila hyung. Ini sidang penting.” Ujar Siwon serius.

“Ah… sudahlah. Semua akan berjalan baik-baik saja.” Ujarku sambil meneguk minumanku dengan santainya.

“Bagaimana bisa hyung bicara seperti ini? Semua tidak akan berjalan baik-baik saja. Bagaimana dengan suju? Masa depan suju? Apakah hyung masih bisa bilang kalau semua akan baik-baik saja? Berhentilah bersifat bahwa segalanya akan berjalan baik-baik saja. Kau seakan-akan tak peduli dengan Suju.” ujar Siwon sedikit membentakku.

Aku tersentak kaget. Seakan–akan ada kilat besar yang menyambarku. Aku tertunduk. Mencoba berfikir keras.

“Bagaimana kabar personil lain?” ujarku pelan.

“Jangan alihkan pertanyaan hyung.” Ujar Siwon.

Aku tertunduk lagi.

“Bukan begitu. Aku… cuma sudah lelah dengan semua ini. Begitu banyak masalah dan aku rasa aku tak sanggup untuk menopangnya lagi. Aku sudah muak. Dan aku tak mau memikirkan sidang ini bukan karena aku tak peduli lagi pada suju. Jika kau berfikir begitu, maka kau salah. Aku hanya sudah letih, terlalu banyak tekanan yang masuk dalam hidupku. Kesehatanku menurun. Kadang aku sering berhalusinasi. Dengankan aku Siwon, Suju itu seakan sudah membatin dalam ragaku. Setiap malam aku tidak tenang. Bayang-bayang kalian selalu ada. Jujur itu menggangguku. Tapi itu bukan berarti aku tidak sayang pada kalian. Tiap kali kalian konser, aku hanya bisa menonton dari bangku belakang. Jujur itu menyiksa. Ditambah dengan sidang ini. Jika aku memikirkan sidang ini, aku bisa gila. Lagipula siapa yang bilang aku tidak memikirkan sidang ini? Aku kan cuma bilang tidak memperhatikan. Tapi aku tetap mendengarkan.” Ujarku miris namun tetap berusaha tenang.

Siwon pun terdiam dan meneguk minumannya sekaligus.

“Kenapa kau menuntutnya?” Tanya Siwon sambil menerawang gelasnya.

“Entahlah. Mungkin saat itu aku kalap. Lagi pula harus ada yang mengingatkan orang itu. Kuharap orang itu sadar.” Ujarku pelan.

“Hah… mustahil! Orang itu berhati batu. Hyung ingat dengan apa yang dilakukannya pada DBSK?” ujar Siwon kesal.

“Ingat. Justru itu yang menjadi motivasiku.” Ujarku berusaha setenang mungkin.

“Aku tak mengerti padamu hyung.” Ujar Siwon datar.

“Aku pun begitu.” Ujarku sambil menegak minumanku langsung.

“Suju tak berarti lagi tanpamu. Suju M tak akan pernah ada tanpa hadirnya kau hyung.” Ujar Siwon sambil memandangiku.

“Jangan begitu. Selama ini tak ada Kibum pun suju tetap ada kan? Begitu pula dengan aku.” Ujarku sampil menepuk punggung Siwon.

“Tapi Kibum tidak keluar dari Suju. Ia tetap bagian dari Suju.” Ujar siwon sedikit emosi.

Aku menarik nafas panjang.

“Dulu, sewaktu di dorm, aku selau menangis diam-diam. Rindu pada ibuku. Saat sakit, hatiku selalu pedih jika harus menerima keadaan bahwa ibuku jauh dariku. Saat aku dirawat di rumah sakit, aku selalu iri melihat seorang anak kecil berobat ditemani ibunya. Begitu besar rasa ini untuk memeluk ibuku. Saat ibuku ulang tahun, aku selalu prihatin karena tak bisa bertemu ibuku. Bahkan untuk mengucapkan selamat pun tak bisa. Selalu sehari setelah beliau ulang tahun. Itupun ditelepon. Singkat sekali. Itu semua karena padatnya jadwal yang ada. Tapi sekarang aku begitu puas, aku bebas memeluk dan mengecup kening ibuku. Menyiapkan sarapan untuk beliau. Sekarang aku bisa membalas kasih sayang secara langsung seperti yang dulu ia lakukan padaku. Walau tetap ada bagian yang hilang dihatiku.” Ujarku sambil berusaha menahan air mata ini agar tak keluar.

Kulihat siwon tertunduk. Aku tak tahu kenapa. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Hyung, aku selalu mendukungmu.” Ujarnya.

Aku tersenyum padanya.

“Maaf, aku harus pulang sekarang.” Ujar siwon sambil bangkit berdiri.

“Ah.. Siwonshii. Kita baru saja bertemu. Ada apa?” Ujarku sedikit kecewa.

“Maaf. Ada yang harus kupeluk dan kukecup keningnya dirumah.” Ujar Siwon. Datar.

**********************

“Aku pulang.” Ujarku sambil menaruh mantelku didalam lemari.

“Ah.. hyung sudah pulang. Mau makan apa?” ujar adikku.

“Tidak usah. Umma mana? Tanyaku.

“Sedang jaga toko.” Ujar adikku sambil merapikan mantelku.

Aku pun mengangguk dan berlalu meninggalkan rumah. Ke taman didekat rumahku. Sudah lama aku tidak kesini. Bertahun – tahun tidak kupijakkan kakiku disini. Ditempat ini. Tempat aku menghabiskan sepanjang sore sambil menunggu ibuku menyiapkan makan malam. Kurasakan angin yang berhembus dengan begitu sejuk. Tidak ada yang seperti ini saat aku di Seoul waktu itu. Segalanya terasa baru padahal aku pernah menempati tempat ini bertahun-tahun. Kumanjakan mataku dengan pemandangan disini. Namun, saat sedang asyik, mataku menangkap hadirnya seseorang sesorang. Seseorang yang begitu kukenal dengan baik.

Ino..?” ujarku dalam hati setelah yakin bahwa itu itu adalah teman masa kecilku. Cinta sejatiku.

Saat itu juga muncul rasa bahagia dan harapan. Walau aku sudah tidak menemuinya selama bertahun lamanya, ia tetap cinta pertamaku. Apalagi sampai saat ini aku masih tetap mencintainya. Dan perasaanku sama besarnya seperti dulu, tak pernah padam, selalu sama untuknya. Hatiku begitu berbunga-bunga. Muncul rasa percaya diri dan harapan – harapan yang sempat hilang dalam jiwaku. Aku pun bergegas mendekatinya dan menyapanya. Namun, langkahku terhenti saat melihat ada orang lain yang menghampirinya dan mengecup bibirnya. Hatiku miris sekali melihatnya. Seakan jantungku ada yang menusuk-nusuk. Aku pun mencoba bernafas panjang namun tak bisa.

Aneh… padahal aku sudah lama tidak melihatnya tapi mengapa dadaku begitu sakit?” ujarku dalam hati seraya memegang dadaku sendiri.

Aku hanya bisa menahan rasa sakit ini. Aku berlari kembali ke rumah. Masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu serta menguncinya.

******************************

Aku menjerit. Aku memukul dan menendang segala sesuatu yang ada disekitarku. Mencaci maki. Berusaha melepas segala penat yang aku rasakan. Aku merasa semakin terbebani. Begitu banyak masalah hari ini. Perih. Aku pun berusaha melupakan Ino dari dalam benakku tapi tak bisa. Aku terlalu mencintainya. Aku pun terduduk lemas dilantai. Aku berusaha terbangun apabila ini semua mimpi. Tapi ternyata semua ini nyata. Tanpa sadar air mata mengalir di pipiku. Aku pun menyekanya dan pindah ke kasurku dan langsung memeluk gulingku. Aku pun memejamkan mataku. Mencoba untuk berkhayal. Melupakan segala hal yang baru saja terjadi padaku tadi. Samuanya. Aku mengkhayalkan hal yang terjadi hari ini tak pernah terjadi padaku dan mengkhayalkan tak pernah mengenal Ino seumur hidupku. Kubayangkan semua hal seakan nyata. Kukhayalkan wanita dambaanku. Wanita yang baik, cerdas, menerimaku apa adanya dan tentu saja tidak akan pernah melupakanku. Selau ada untukku. Bisa memainkan piano dan bernyanyi untukku disaat aku lelah. Wanita yang dimana bisa kupegang pinggangnya dan kuajak berdansa. Wanita yang selalu menjadikanku sebagai sandarannya dan akan tersenyum malu apabila aku berkata saranghae. Wanita yang yang bersinar seperti bulan. Aku terus berkhayal. Membiarkan semua rasa ini hilang bersama khayalanku. Sampai tak sadar aku memejamkan mataku.

*********************************************

Suara siapa ini?” pikirku dalam hati sambil membuka mataku secara perlahan setelah mendengar senandung yang begitu merdu namun samar.

Aish… mataku perih sekali. Pasti karena semalam aku menangis.Tapi mengapa semalam aku menangis ya? Tak penting juga.” Ujarku lagi dalam hati.

Kuusapkan mataku dengan punggung tanganku. Memang mataku perih sekali. Aku pun terduduk di tepi kasurku. Kuperhatikan sekitarku. Suara senandung itu semakin jelas. Awalnya kupikir itu suara ibuku, tapi saat kulihat jam itu tak mungkin. Biasanya jam segini ibuku berada di toko. Kalau itu adikku, jelas tidak mungkin. Adikku suaranya begitu sumbang. Bagaimana bisa ia bersenandung seindah ini? Aku pun beranjak dari tempat tidurku. Dan keluar dari kamarku.

Saat kubuka pintu kamarku, suara senandung itu semakin jelas dan suara itu berasal dari ruang dapur. Aku pun segera beranjak kearah dapur. Rasa penasaranku semakin besar. Dan saat aku berada di dapur, ternyata aku tidak sendir. Disana ada seorang wanita. Membelakangiku. Sambil menyiram tanaman yang ada di jendela dapur. Aku tidak tahu siapa wanita itu. Aku belum pernah melihatnya.

“Siapa kamu?” tanyaku sambil diam mematung di pintu dapur.

“Ah.. oppa sudah bangun. Suaraku membangunkanmu ya?” ujarnya lembut dan tampak kaget sambil menaruh penyiram bunga itu di tempat cuci piring.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kamu?” ujarku sedikit takut sambil mengerjitkan jidatku.

“Ah, oppa bicara apa sih? Ini kan aku, Eunlan.” Ujarnya tampak bingung.

Aku pun semakin bingung.

“Eunlan siapa?” ujarku tak kalah bingung.

“Aduh. Oppa kenapa sih? Oppa demam? Sebaiknya oppa berbaring di tempat tidur. Mau kubuatkan sup ayam?” ujar wanita itu yang ternyata bernama Eunlan.

“Tidak, tak usah.” Ujarku bingung sambil duduk di kursi meja makan.

“Sedang apa kau disini? Apa yang kaulakukan dirumahku. Dan siapa sih kau ini sebenarnya?” ujarku lagi sambil memberinya pertanyaan lagi karena aku memang bingung.

“Apa yang oppa bicarakan? Ini aku Eunlan, teman lamamu. Dan aku memang sering kesini. Bantu-bantu. Sekedar memasak atau membereskan rumah untuk membantu umma. Dulu pun aku sering menginap disini. Kita kan sudah kenal akrab.” Ujar Eunlan sambil ikut duduk disampingku.

Jujur, aku tidak tahu. Apa ini mimpi? Sebab seingatku aku tidak pernah mengenalnya, namun wajah polos Eunlan begitu meyakinkanku. Apa karena begitu banyak yang kupikirkan, aku jadi melupakannya?

“Oppa, sebenarnya ada apa sih? Kau begitu aneh.” Ujarnya sambil memegang tangan kananku.

“Lepaskan aku.” Ujarku sambil menepis tangannya.

Eunlan pun tampak kaget. Tatapan matanya padaku begitu lembut tapi menyimpan seribu pertanyaan.

“Ah… maafkan aku. Aku bingung.” Ujarku sambil sambil menatap keluar rumah.

Eunlan pun tertunduk. Ia sempat menatapku namun ia beranjak dan kembali lagi sambil membawa secangkir teh. Ia pun menyodorkan teh itu padaku. Namun entah mengapa aku tak mau menerimanya.

“Aku harus pergi.” Ujarku sambil berdiri saat Eunlan menaruh cangkir itu didepanku.

“Oppa mau kemana?” ujarnya sambil menarik tanganku.

Sekali lagi tangannya kutepis.

“Ada seseorang yang harus aku temui.” Ujarku sambil mengambil mantelku.

“Kutemani ya oppa. Aku takut terjadi sesuatu.” Ujarnya sambil mengambil mantelnya.

“Tidak usah.” Ujarku sambil berlalu keluar rumah.

Aku pun berlari menjauhi rumah. Kuhentikan taksi yang lewat didepanku. Kuminta supir taksi itu mengantarku ke kedai minum yang biasa kukunjungi saat akhir pekan. Walau hari ini bukan akhir pekan. Saat sampai, aku pun segera menuju ke kursi favoritku. Kupesan minuman dan kutekan nomor pada ponselku. Aku menghubungi siwon.

“Yeoboseyo?” ujar orang didepan sana.

“Siwon? Ini aku Hankyung.” Ujarku sambil meneguk minumanku sekaligus.

“Ah, Hankyung hyung? Apa yang hyung lakukan? Hyung tau kan apa akibatnya kalau sampai ada yang tau hyung menghubungiku.” Ujar Siwon tampak panik.

“Oh, sudahlah. Bisakah kau kesini sekarang?” ujarku lagi.

“Ada apa? Apa ada masalah?” ujarnya terdengar sedikit panik.

“Entahlah. Aku Cuma sedang bingung saja. Bisakah kau menemaniku? Aku butuh teman bicara.” Ujarku sambil memainkan gelasku.

“Dimana hyung sekarang?” tanyanya.

“Aku di kedai xxxxx. Cepatlah.” Ujarku datar.

“Baiklah. Aku akan segera kesana. Secepat yang aku bisa.” Ujar Siwon sambil menutup ponselnya.

***************************************

“Eunlan?” Tanya Siwon bingung.

“Iya. Kau pernah mendengar namanya.” Ujarku dengan sedikit harap.

“Entahlah. Hyung tak pernah menceritakannya padaku.” Ujar Siwon sambil meneguk minumannya.

“Ah, sayang sekali. Aku benar-benar bingung pada anak itu.” Ujarku sambil tertunduk lesu.

“Apa hyung tidak sedang berkhayal?” ujar Siwon.

“Apa maksudmu?” tanyaku sambil menatap matanya dengan aneh.

“Yah… siapa tahu hyung sedang berkhayal. Apalagi hyung sedang banyak masalah.” Ujar Siwon sambil menegak lagi minumannya.

“Tidak mungkin. Aku yakin anak itu ada. Tatapannya, suaranya, bahkan saat tangannya menyentuh tanganku. Anak itu nyata. Jelas-jelas dia ada.” Ujarku sedikit kesal pada Siwon.

“Baiklah. Anak itu ada. Aku tahu. Maafkan aku hyung.” Ujar Siwon sambil menepuk pundakku.

“Sebaiknya jangan dipikirkan. Cobalah hyung tenang. Ingat-ingat anak itu dengan pikiran jernih. Pasti cepat atau lambat hyung akan mengingatnya.” Ujar Siwon sambil memesan minuman lagi.

Aku pun terdunduk. Berusaha tenang.

“Bagaimana kabar Member lain?” Tanyaku.

“Hm… mereka baik. Kurasa.” Ujar Siwon kurang yakin.

“Apa maksudmu dengan kata ‘kurasa’?” tanyaku.

“Yah… entahlah. Mereka memang baik-baik saja. Namun sifat mereka sedikit demi sedikit mulai berubah.” Ujar siwon.

Aku tetap diam. Menunggu sampai siwon melanjutkan ceritanya lagi.

“Sekarang mereka mulai sibuk dengan dunia mereka sendiri. Leeteuk hyung dan Eunhyuk hyung. Semakin jarang dirumah. Mereka sibuk siaran dan mengisi acara. Wookie lebih banyak mengisi waktu dengan Yesung hyung. Mereka juga jarang dirumah entah kemana. Shindong hyung juga menghabiskan waktunya dengan wisata kuliner. Donghae hyung juga jadi semakin tertutup. Ia hanya terbuka pada Leeteuk hyung dan Eunhyuk hyung. Sungmin hyung sibuk siaran di radionya Sunny. Kibum masih sibuk syuting. Kangin hyung jadi pendiam semenjak keluar dari penjara. Heechul hyung kembali jadi netizen dan sering bicara dengan kucing. Si Kyumong semakin gila game, sekarian dari pagi sampai malam main game terus. Aku sendiri pun jarang bertemu mereka. Kita biasanya bertemu lagi kalau ada jadwal manggung lagi.” Ujar Siwon tampak murung.

Aku pun menegak minumanku pelan-pelan.

“Wah..wah… banyak sekali perubahan selama aku tak ada.” Ujarku berusaha menyunggingkan senyum.

Siwon menatapku sebentar. Ia pun menegak minumannya kembali dan menepuk punggungku.

“Mereka mendukungmu hyung. Mereka selalu mendoakanmu.” Ujar Siwon pelan.

Aku tersenyum. Kurangkul pundak Siwon.

“Aku kangen sekali pada kalian semua. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian seperti dulu lagi.” Ujarku lirih.

“Satu bulan lagi kita ada konser disini. Maukah hyung menonton kami.” Ujar siwon penuh harap.

“Tentu saja. Aku pasti menonton kalian.” Ujarku pelan.

********************************

Entah mengapa waktu terasa cepat sekali berlalu. Tanpa kusadari sendiri pun aku sudah ada didepan pagar rumahku. Entah mengapa sedikit berat memasuki rumahku. Aku pun dengan perlahan memasuki pekarangan rumahku. Namun tiba-tiba, kudengar suara samar-samar dentingan piano ibuku dari dalam rumah. Kulihat jam tanganku. Aku pun yakin itu bukan ibuku karena ibuku sekarang pasti masih ada ditoko. Sedangkan adikku, tidak mungkin. Meniup flute saja suaranya sudah sumbang. Apalagi memainkan piano dengan sebagus ini. Aku pun menduga-duga. Kupercepat langkahku ke dalam rumah. Aku pun segera menuju ruang keluarga. Ruang dimana piano ibuku ditaruh. Benar saja dugaanku. Itu permainan piano anak itu. Eunlan. Dibawah sorot sinar matahari yang menembus jendela, ia memainkan piano itu sambil memejamkan matanya. Seakan-akan piano yang menuntunnya bermain. Ia memainkannya seakan tak ada lagi yang akan mengganggunya jika ia sedang bermain piano. Begitu elegan. Tuts demi tuts ia mainkan. Alunan lagu it’s you mengalun merdu sampai menembus ke hatiku. Mengingatkanku pada permainan piano Sungmin. Aku pun duduk di sofa dekat piano. Perlahan-lahan kupejamkan mataku menghayati alunan demi alunan. Tanpa sadar aku menitikkan air mataku. Aku begitu rindu dengan member lain. Aku ingat masa jayaku dulu dengan member lain. Permainan yang indah.

“Oppa kenapa menangis?” Terdengar suara Eunlan.

Aku segera membuka mataku. Permainannya telah usai. Tampak ia memperhatikanku dari bangku piano. Ia masih menatapku dengan heran.

“Ah, tidak apa-apa. Lupakan saja.” Ujarku sambil menyeka air mataku.

“Oppa mau makan? Tanya Eunlan.

“Tak usah. Aku sudah makan.” Ujarku sambil berdiri.

Ia pun mengangguk pelan dan berbalik lagi menghadap piano. Aku menghampirinya. Kupencet tuts piano itu.

“Permainan yang bagus.” Ujarku sambil terus memandang piano ibuku itu.

“Lagu yang bagus.” Ujar Eunlan pelan.

Aku memandangnya. Eunlan balas menatapku.

“Aku selau suka lagu itu.” Ujarnya.

Aku tersenyum kupencet tuts itu dengan nada asal.

“Terima kasih. Aku juga suka lagu itu.” Ujarku pelan.

Aku pun terdiam sambil menatap keluar jendela.

“Ada apa?” Tanya Eunlan sambil menatapku.

“Entah mengapa aku tak bisa mengingatmu. Tidak ada sedikit pun memori tentangmu di benakku. Maaf.” Ujarku sambil menatapnya.

Ia pun memalingkan wajahnya dari wajahku.

“Tak perlu minta maaf. Aku tahu oppa sedang banyak masalah. Seharusnya aku yang minta maaf sudah masuk kedalam dunia oppa.” Ujarnya.

Sekarang giliranku yang terdiam.

“Maaf.” Ujarku sekali lagi.

“Mau kumainkan permainan yang lain?” tanyanya.

Aku pun mengangguk. Ia pun berbalik menghadap piano kembali dan memainkan lagu Dear Noona. Aku pun langsung jatuh hati dengan permainannya. Kupejamkan mataku disampingnya. Tanpa sadar, ada sunggingan senyum kecil di bibirku.

Seminggu kemudian

“Mengapa Oppa memandang wajahku seperti itu?” Tanya Eunlan malu sambil memegang pipinya.

Aku tersenyum melihatnya.

“Aku senang melihat wajahmu. Bersinar seperti bulan.” Ujarku sambil terus tersenyum.

“Oppa membuatku malu.” Ujarnya sambil mengalihkan pandangannya dariku.

Aku pun tertawa.

“Hahaha. Oh iya. Terima kasih sudah mau menemaniku untuk membeli CD ini.” Ujarku senang.

“Ah, tidak apa-apa. Aku juga berterima kasih karena oppa sudah mentraktirku makan es krim.” Ujarnya ramah.

“Ah, itu hal kecil. Kalau perlu tadi aku belikan sekotak penuh es krim.” Ujarku sesantai mungkin.

“Oppa berlebihan. Tak perlu seperti itu.” Ujarnya.

“Bagaimana kalau kita foto stiker? Mau ya?” ajakku sambil menarik tangannya.

“Apa? Ah, maaf. Tidak usah. Oppa saja.” Ujar Eunlan sambil menepis tanganku.

“Loh? Kenapa? Setelah aku pikirkan, aku tidak punya satupun foto bersamamu. Ayolah. Mau ya?” Ujarku sedikit bertanya-tanya.

“Ah, tidak. Aku tidak suka difoto. Maaf ya oppa.” Ujarnya sambil berjalan pergi.

Aku pun berlari menyusulnya.

“Kenapa?” tanyaku sedikit kecewa.

“Maafkan aku oppa. Tampaknya aku harus segera pulang.” Ujarnya.

Aku sedikit panik. Kupikirkan cara agar bisa mengulur waktu bersamanya.

“Tunggu. Aku masih mau mencari buku. Kau mau menemaniku?” ujarku setengah berteriak padanya.

Eunlan pun membalikkan badannya. Ia tampak menatapku dengan datar. Kuberikan tatapan memelas.

“Baiklah.” Ujarnya sambil menghampiriku.

Entah mengapa aku bahagia bisa mencegatnya pulang.

Seminggu kemudian

“Oppa? Mengapa tampak sedih?” Tanya Eunlan saat kami bertemu di taman dekat rumah.

“Fuih… ibuku sakit. Aku sedih sekali. Ingin rasanya aku meggantikan posisinya saat ini.” Ujarku sedih sambil terduduk di kursi taman.

“Jangan bicara begitu. Sebaiknya kita doakan agar umma oppa cepat sembuh.” Ujar Eunlan berusaha menyemangatiku.

Eunlan menatap wajahku. Ia pun duduk disampingku. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Namun, tiba-tiba Eunlan menarikku untuk berdiri. Ia menggenggam kedua tanganku.

“Bagaimana kalau kita menari sekarang? Menari terbukti bisa membuat kita kembali bersemangat.” Ujarnya sambil tersenyum riang.

“Apa?” belum sempat aku bicara, ia sudah menarikku dan menari disana.

Untung saja saat itu sedang tak ada orang, jadi aku tidak malu melakukannya. Tapi entah mengapa, aku terus menari bersamanya. Aku tak bisa melawannya. Seperti ada magnet, aku mengiringinya menari. Kupegang pinggangnya, dan kami pun menari. Seakan dunia saat itu hanya milik kita berdua. Kulihat wajah Eunlan. Ia tampak senang dan bahagia. Entah mengapa aku pun ikut bahagia. Namun, beberapa saat kemudian ponselku berdering. Aku pun mengangkat ponselku.

“Yeoboseyo?” ujarku.

“Hankyung hyung. Aku ada di café xxxx. Bisa kau kemari? Aku bosan sendirian.”

“Ah, Siwonshii. Baiklah. Aku akan kesana beberapa saat lagi.” Uajrku.

“Baiklah. Kutunggu.” Ujarnya.

Aku pun menutup ponselku. Kupandang Eunlan yang sedang menatapku seperti anak kecil. Lucu sekali.

“Kau mau menemaniku?” Ajakku padanya.

“Kemana?” tanyanya.

“Menemui seseorang sahabat.” Ajakku.

“Ah, maaf aku ada urusan.” Katanya sambil berlalu pergi.

Anak aneh.” Pikirku dalam hati.

Aku pun segera mencari taksi dan pergi ke café yang dimaksud Siwon di telefon. Saat sampai aku pun langsung duduk disebelahnya. Tampak ia sedang makan dengan lahapnya seakan tidak makan berhari-hari.

“Siwonshii. Apa kabar? Wah, lahap sekali kau makan.” Ujarku ramah.

“Ah, hyung. Apa kabar. Iya, aku lapar sekali, sudah seminggu ini kami latihan terus tanpa henti. Dan hari ini kami semua kabur untuk makan saat break. Kami sudah tak tahan.” Ujar siwon.

Aku pun kasihan melihatnya.

“Kalau begitu kenapa kau sendirian?” tanyaku lagi padanya.

“Kami harus berpencar. Kalu kita rombongan, akan semakin mudah mereka menemukan kami. Ini strategi kita sekarang untuk makan.” Ujar Siwon sambil terus makan.

“Kasihan sekali kamu Siwon.” Ujarku ikut sedih.

Siwon hanya menjawabnya dengan senyum seadanya. Aku pun akhirnya ikut memesan makanan juga. Lalu, beberapa saat kemudian ponsel Siwon berdering. Ia pun segera mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” ujar Siwon pelan.

Aku diam hanya memperhatikannya bicara.

“Ah, hyung…. Iya, aku sedang makan…. Hyung dimana? Dengan siapa?…. Hah?…. Apa maksudmu hyung?…. Oh, begitu. Nanti saja kita pulang sambil membawakan mereka makanan…. Aku? makan mie china. Hyung makan apa?…. Takoyaki? Apa hyung sudah gila?…. Datanglah kemari…. Tidak, tapi tadi aku memang sendiri. Tapi sekarang aku bersama Hankyung hyung…. Iya, aku yang memintanya datang kemari. Lagipula aku tak mau makan malam sendirian…. Aku tak takut pada orang itu…. Baiklah, aku tunggu….” Ujar Siwon sambil menutup ponselnya.

“Siapa?” tanyaku.

“Oh, barusan? Leeteuk hyung, dia bersama Yesung hyung, Eunhyuk hyung dan Donghae hyung.” ujarnya sambil menyimpan Ponselnya.

“Apa mereka akan kemari?” tanyaku penuh harap.

“Tentu saja. Disinikan ada hyung. mereka pasti kemari.” Ujar Siwon tampak senang.

“sungguh? Ya ampun, aku kangen sekali pada mereka.” Ujarku girang layaknya anak kecil.

“Hahahaha. Mereka juga kangen sekali padamu.” Ujar Siwon sambil menepuk pundakku.

Aku pun tersenyum senang mendengarnya. Tapi, entah mengapa aku tiba-tiba teringat pada Eunlan.

“Hei, Siwon. Kau ingat pada Eunlan?” tanyaku pelan.

“Hm… gadis yang waktu itu hyung ceritakan?” ujar siwon balik bertanya Siwon.

“Iya. Hm… sekarang aku sedang dekat dengannya. Dia… gadis yang hebat.” Ujarku sedikit berseri-seri.

“Oh… berarti hyung sudah ingat padanya?” Tanya Siwon sambil tertawa kecil melihat tingkahku.

“Tidak. Aku tidak bisa ingat dia dalam memoriku.” Ujarku masih tersenyum.

Siwon pun tersedak. Tampaknya ia kaget dengan ucapanku.

“Bagaimana bisa hyung dekat dengannya?” Tanya Siwon tampak bingung.

“Entahlah. Wajah polosnya mengatakan seakan-akan dia benar-benar teman masa kecilku. Dan entah mengapa aku benar-benar percaya padanya.” Ujarku masih tersenyum seperti tadi.

“Hahahaha. Wah wah wah… kau terpesona ya pada gadis itu?” Tanya Siwon geli.

“Hah..? apa? Tidak. Apa sih yang kau bicarakan.” Ujarku membela diri. Entah mengapa jantungku berdetak kencang.

“Hahahaha. Ya ampun. Aku harus bertemu gadis itu. Gadis yang sudah membuat hyung kelabakan seperti ini.” Ujar Siwon sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Bicara apa kau ini. Ngawur sekali.” Ujarku sambil merapikan meja karena pesananku sudah datang.

“Hei hyung. Bagaimana kalau nanti gadis yang sudah bikin hyung menjadi aneh seperti ini untuk datang ke konser kami nanti, gimana?” ujar Siwon.

Aku terdiam.

“Nanti aku kirimkan tiketnya untuk hyung.” ujar Siwon lagi sambil melahap makanannya.

“Entahlah. Bagaimana jika ia tidak mau?” Tanyaku sambil memakan makananku sedikit demi sedikit.

“Pokoknya hyung harus mengajak gadis itu. Aku ingin melihatnya. Setuju.” Ujarnya sambil mengajakku bersulang.

Aku tak tau harus menjawab apa. Aku hanya mengangguk seadanya. Beberapa saat kemudian, Leeteuk, Yesung, Eunhyuk, dan Donghae pun muncul. Mereka begitu antusias sekali bertemu denganku. Leeteuk pun memelukku. Dan saat aku menatap wajahnya, ia menangis.

“Hyung mengapa menangis?” tanyaku heran.

“Aku khawatir sekali padamu. Bukan hanya aku. kami semua sangat khawatir padamu. Terutama Heechulshii. Ia selalu mencari kabarmu lewat internet. Kami semua cemas padamu.” Ujarnya sambil menghapus air matanya.

“Heechul? Bagaimana kabarnya?” tanyaku.

“Baik. Tapi ia jadi jarang makan. Kasihan dia. Walau ia sering jahil padaku. Tapi aku tak suka melihatnya sekarang. Seperti orang gila. Tadi aku sudah mengajaknya, tapi dia bilang tidak berselera.” Ujar Eunhyuk.

“Jangan begitu. Dia kan begitu karena kangen sama Hankyung Hyung.” jawab donghae.

“Bagaimana dengan Kyuhyun?” tanyaku lagi.

“Dia sedang main game bersama Ryeowook sekarang. Tadinya Kyuhyun main sendiri. Tapi Ryeowook tak tega, jadi ia minta tolong Sungmin untuk membelikan makanan untuk mereka.” Jawab yesung.

“Kalau kangin bagaimana?” tanyaku.

“ia mengurung diri dikamar.” Ujar Leeteuk.

Aku terdiam. Aku pun memanggil pelayan dan meminta dia membukuskan dua makanan khas Beijing. Dan saat makanan itu sudah diantarkan ke meja kami.

“Berikan ini pada mereka berdua. Bilang pada kangin, aku akan memberikan nomor ponsel Son eun hye jika ia menghabiskan makanan ini. Lalu katakan pada Heechul hyung, bilang dia harus makan. Bilang juga makanan ini dariku. Dan katakan juga, jika ia menangis menerimanya. Aku tak akan pernah memaafkannya.” Ujarku tersenyum kecil.

Seminggu kemudian

“Ini untukmu Eunlan.” Ujarku sambil menyodorkan seikat bunga maganet padanya.

Wajahnya menunjukan ia suka pada bunga itu.

“Terima kasih oppa. Aku senang sekali.” Ujarnya sambil mengecup bunga itu.

“Eunlan, aku dapat dua tiket free pass konser teman baikku. Kau mau menemaniku menontonnya?” tanyaku penuh harap padanya.

Ia tampak kaget. Sunggingan senyum tipisnya tampak memudar. Aku sedikit bingung melihatnya.

“Maafkan aku. Tampaknya aku tak bisa.” Ujarnya sedikit murung.

“Apa? Kenapa?” tanyaku heran.

“Entahlah. Perasaanku tak enak.” Ujar Eunlan.

“Tenang saja. Ada aku disana.” Ujarku pelan.

“Baiklah. Tapi aku tak yakin Oppa.” Ujarnya pelan.

“Banze..!!! terimakasih ya.” Ujarku senang bukan main.

Seminggu kemudian, saat konser

Aku senang sekali. Akhirnya Eunlan mau juga pergi bersamaku tadinya ia ingin membatalkan janjinya denganku tapi tidak jadi. Tapi aku lebih senang lagi karena aku akan melihat teman-temanku beraksi lagi. Saat pertunjukan dimulai, semua tampak begitu gemerlap. Fantastic. Kulihat Eunlan disebelahku, ia tak henti-hentinya tersenyum. Aku pun semakin senang. Kulihat ini bagian dimana Heechul benyanyi. Aku pun segera berdiri dan melambaikan tanganku padanya. Tampak ia kaget sekali. Saat kuperhatikan, ternyata ia menangis. Kuisyaratkan padanya agar ia menyeka air matanya. Ia pun menghapusnya dan berlalu ke belakang panggung dengan senyuman yang lebar. Aku pun duduk kembali.

“Teman oppa?’ Tanya Eunlan.

“Lebih dari itu. Ia teman sepanjang masa.” Ujarku bangga.

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Konser yang fantastik itu pun sudah berakhir. Aku pun mengajak Eunlan makan malam sebelum pulang. Ia pun mengangguk. Aku mengajaknya makan kimbab.

“Oppa pasti senang sekali hari ini.” Ujar Eunlan sambil tersenyum senang.

“Melebihi itu. Aku bahagia sekali.” Ujarku senang.

“Hahahaha. Aku senang bila oppa juga senang.” Ujar Eunlan yang tampak ikut bahagia.

“Jika kimbabmu sudah habis. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu.” Ujarku.

Ia pun tampak bengong dan segera menghabiskan Kimbabnya layaknya anak kecil yang tak sabar mendapatka hadiah natalnya.

“Aku sudah selesai.” Ujarnya sambil mengelap mulutnya yang belepotan saos.

“Hahaha. Ayo ikut aku.” ujarku sambil berjalan kearah mobilku dan membukakannya pintu.

Ia pun masuk kedalam mobil, begitupun aku. kukemudikan mobilku ke suatu tempat. Kesuatu bukit. Dari atas sana, kerlap-kerlip lampu kota Beijing begitu jelas. Indah sekali. Kuputarkan lagu it’s you.

“Indah sekali oppa.” Ujar Eunlan sambil terus menatap kelap-kelip lampu kota.

“Indah kan? Aku selalu suka pemandangan ini.” Ujarku sambil mengeluarkan sebuah kotak yang sengaja aku simpan untuknya.

“ini untukmu.” Kataku sambil menyodorkan kotak itu pada Eunlan.

“Apa ini oppa?” Tanya Eunlan heran.

“Buka saja.” Kataku santai.

Dengan perlahan Eunlan membukanya. Ia tampak tegang. Dan saat ia membukanya. Ia tampak kaget, karena sebuah kalung kecil sudah menunggunya. Ia menatapku.

“Aku sengaja membelinya untukmu.” Kataku sanatai.

Aku pun memasangkan kalung itu pada lehernya. Aku pun memandangnya. Dibawah sorot cahaya bulan, ia tampak begitu bersinar.

“Saranghae.” Ucapku lirih ditelianganya.

Wajahnya tampak merah.

“Oppa, kau membuatku malu.” Ujarnya sambil memegangi kedua pipinya.

“Hahaha. Kau lucu sekali.” Ucapku padanya.

Ia pun masih tersipu.

“Eunlan, boleh aku menyimpan foto kita berdua.” Tanyaku pelan.

Eunlan tampak terdiam. Ia menatapku.

“Kumohon.” Ujarku memelas.

“Baiklah. Untuk terakhir kalinya.” Ujarnya pelan.

Senang bukan main aku mendengarnya. Aku tak tahu apa maksud dari perkataanya, tapi aku senang sekali. Aku pun mengeluarkan ponselku. Aku pun memposisikan kamera untuk menangkap gambar kita berdua. Klik.

Aku tersenyum padanya. Kami pun menikmati kelap-kelip lampu kota malam itu. Begitu indah. Sampai tanpa sadar kami berdua pun terlelap.

Aku pun membukakan mataku. Kuliahat keluar jendela. Sudah terang.

“Eunlan bangun, sudah pagi.” Ujarku sambil membalikkan badanku.

Namun, ternyata ia tak ada disana. Ia tak ada. Yang ada hanyalah. Kalung pemberianku itu. Aku kaget bukan main. Kemana anak itu? Ia tak tahu daerah sini? Kemana ia pergi? Mengapa ia meninggalkanku sendiri? Mengapa ia tidak pamit? Dan mengapa ia meninggalkan kalungnya disini? Begitu banyak pertanyaan dibenakku. Aku pun menghidupkan mobilku dan segera pergi dari tempat itu. Kujalankan mobilku sepelan mungkin, siapa tahu bertemu ia dijalan. Aku meyusuri tempat makan, peristirahatan, dan lain sebagainya namun hasilnya kosong. Aku pun kembali kerumah. Siapa tahu ia ada disana. Tapi ternyata tak ada siapa-siapa. Kecuali adikku. Aku segera pergi ke taman, tak ada juga. Aku sudah kehabisan akal. Aku pun akhirnya menangis putus asa. Aku pun akhirnya menelefon Siwon. Meminta bantuannya. Untungnya siwon ingin membantuku dan kami bertemu di café xxxxx.

“Siwonshii, tolong aku..!!” ujarku saat melihat siwon memasuki café.

“Tenang hyung, tenang. Jelaskan semuanya padaku.” Ujar Siwon menenangkanku.

“Aku tidak tahu. Aku kaget sekali. Saat aku membukakan mataku, ia sudah tak ada.” Ujarku panik.

“Tenang hyung, tenang. Jelaskan sekali lagi, siapa yang menghilang.” Tanya Siwon bingung.

“Ahgrh….. kau ini. Eunlan! Eunlan menghilang. Ia tak ada dimana-mana.” Ujarku kesal.

“Eunlan? Gadis yang hyung ceritakan?” Tanya Siwon lagi.

“Iya, aku menonton konser kalian dengannya.” Ujarku Semakin kesal.

“Konser kami?” Tanya Siwon semakin bingung.

“Benar. Ah….. kau membuatku semakin kesal! Oh… dimana kira-kira anak itu? Dia makan apa? Ada dimana? Ah, kenapa kau meninggalkanku dengan kalung ini?” ujarku semakin putus asa.

“Tunggu, aku lihat hyung datang ke konser kami sendirian.” Ujar siwon.

“Apa yang kau katakan. Aku datang dengan Eunlan.” Ujarku kesal bukan main.

“Tidak,aku yakin dengan yang aku lihat. Hyung datang sendiri. Dan hyung melambaikan tangan kepada aku dan lainnya. Aku lihat betul hyung datang sendiri.” Ujar Siwon yakin.

“Jadi maksudmu selama ini aku membual soal Eunlan. Kau gila.” Ucapku marah.

“Ayolah hyung. kau akhir-akhir ini aneh. Ibumu bilang hyung sering bicara sendiri, malahan katanya ada tukang kebun melihat hyung menari-nari di taman. Apa yang hyung pikirkan saat itu?” ujar Siwon bingung.

“Siwon, eunlan itu ada. Dan aku tidak menari sendiri ditaman. Aku bersama eunlan.” Ujarku marah.

Siwon menatapku dalam-dalam.

“Ikut aku hyung.” ujar Siwon sambil menggenggam tanganku dengan keras.

“Mau kemana?” tanyaku bingung.

“Ke psikiater. Kau perlu ditolong.” Ujar Siwon dingin.

Aku kaget setengah mati mendengarnya.

“Maksudmu aku gila? Lancang sekali kamu.” Ujarku marah besar.

“Ayolah hyung. Jangan membuatku harus melakukannya dengan kekerasan. Lagipula ibumu juga yang meminta padaku.” Ujar Siwon membentakku.

“Aku tidak gila.” Teriakku marah.

“Kenapa kau lakukan hal ini padaku?” ujarku marah.

“Karena Eunlan tidak pernah ada.” Ujar Siwon lantang.

“Ada..!!!! Dia ada. Aku selalu bersamanya. Kau tak percaya padaku?” tanyaku marah.

“Aku ingin percaya padamu. Tapi hyung, kenyataannya berkata tidak.” Ujar Siwon.

Aku merasa dipermainkan. Aku menunduk. Kumainkan ponselku sesuai dengan permainan tanganku. Namun, tiba-tiba aku ingat.

“Siwon, kau perlu bukti?” tanyaku pelan.

“Maaf?” ujar Siwon.

“Akan kubuktikan padamu bukti yang sangat kuat.” Kataku sambil membuka ponselku.

Aku pun membuka galeri, dan kucari foto yang tadi malam aku dan Eunlan ambil.

“Ini, ini fotonya.” Kataku.

Namun, tiba-tiba aku tersentak. Tampak digambar itu hanya ada wajahku sendiri. Tak ada Eunlan disampingku. Aku tak percaya. Kutatap siwon yang sedang menatapku dengan bingungnya.

“Siwonshii, mungkin aku memang membutuhkan psikiater.” Ujarku datar.

……………………………….

By : Retno Wulandhari

Ini ff yang baru pertama kali aku publish hehe

Gomawo reader atas comment dan waktunya untuk baca J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s