The Actor [One Shot]

Title     : The Actor

Author            : Choi Kae Rim ( http://www.twitter.com/mayagaul/ )

Genre : Romance

Cast    : Kim Kibum (SHINee), Choi Minho (SHINee), Shin Eun Jin

Word Count  : 3.445 words

Disclaimer : I don’t own anybody. SHINee belong to SME.

Enjoy!

“Eun Jin” panggilku pada gadis di sebelahku.

“Ne Key oppa?” jawabnya.

“itu idolamu datang” ucapku saat kulihat Minho, penyanyi idolanya lewat.

“kyaaaaaaaaaaa Minho oppa!” ujarnya manja saat melihat lelaki idolanya.

“hhhhhh kenapa kau tidak pernah melihatku yang selalu berada di sampingmu En Jin?” ucapku tak kalah manja akan aksinya, tapi ia hanya berlalu mengejar Minho yang berjalan dengan banyak penggemarnya mengikutinya dari belakang, termasuk perempuan yang telah mencuri hatiku, Shin Eun Jin.

Eun Jin adalah sahabatku dari kecil, dia anaknya supel, supel sekali. Dia selalu ceria. Aku lebih tua setahun darinya. Saat ia smp dan aku masuk sma ini, dia berjuang juga masuk sekolah ini bukan hanya untuk bersama ku, tapi karena ia juga tau penyanyi favoritnya, Minho yang sombong itu berada di sekolah yang sama dan kelas yang sama denganku.

TIIIIIIIIING TING TING

Sesaat kemudian bel sekolah berbunyi, aku beranjak dari kelas Eun Jin menuju kelasku. Saat aku sampai ke kelas, aku melihat si Minho sedang duduk bersebelahan dengan Eun Jin sambil merangkulnya. Hhhh inilah alasan aku tidak menyukai sifat Eun Jin yang super super supel. Baru tiga hari dia mengenal Minho, ia sudah menjadi sedekat ini padanya. Ia bisa membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Yaaahh mungkin juga itu alasan kenapa aku tidak bisa jauh darinya.

“cepat sana kembali ke kelasmu!” suruhku padanya yang sedang tertawa bersama Minho.

“heeehhh iya iya oppaku” ujarnya seperti ia merasa terganggu karena ku ganggu kebersamaannya dengan Minho, kulihat wajah Minho sama terganggunya seperti Eun Jin.

“ya sana, sebelum Hwang seongsaengnim menghukummu karena kau telat!” kata Minho yang tersenyum pada Eun Jin.

“baik oppa! Dadah Minho oppa!” katanya semangat lalu meninggalkan kelasku.

“kau suka padanya?” tanya Minho padaku.

“aku sayang padanya, kenapa?” jawabku

Minho hanya membalasku dengan senyuman yang sok ramah—menurutku.

Saat pelajaran usai, aku langsung menghampiri Eun Jin di kelasnya karena kami selalu pulang bersama-sama.

“Eun Jin!” panggilku.

“oppa! Ayo kita pulang!” jawabnya semangat seperti biasa.

“Eun Jin, ayo kita beli eskrim dulu, aku kepanasan” ajakku

“hmm baiklah oppa, tapi oppa yang traktir, oke?” jawabnya lagi.

“oke! Ayo kita berangkat!” ajakku lagi.

Kami berjalan ke tempat parkir untuk mengambil motorku.

“Eun Jin, kau tunggulah di gerbang seperti biasa, tempat parkir penuh” suruhku.

“ne oppa” jawabnya lalu ia berjalan menuju gerbang sekolah.

Selesai aku mengambil motorku lalu menjemputnya digerbang, aku melihatnya sedang ngobrol dengan seseorang, hhhh, Minho lagi.

“Eun Jin, cepat naik!” ajakku tanpa menghiraukan Minho yang sedang ngobrol dengan Eun Jin.

“ah oppa sudah datang, aku duluan ya Minho oppa!” ucapnya kepada Minho sambil naik ke boncenganku.

“oh ya, minggu depan ingat ya Eun Jin, hati-hati” kata Minho padanya.

Tanpa menunggu jawaban Eun Jin aku langsung menancap gas motorku.

“ya! Oppa mau membuatku jantungan? Oppa tidak sopan! Aku kan sedang berbicara dengan Minho oppa!” marahnya padaku.

“aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya, aku cemburu” sengaja ku kecilkan suaraku saat aku mengucapkan kata ‘cemburu’.

“kenapa?”jawabnya ketus. Benar, dia tidak mendengarnya.

Aku tidak menjawabnya dan hanya konsenterasi dengan motorku. Tidak ku dengar satu kata pun dari mulutnya. Hhhh dia marah.

Sesampainya di tempat eskrim, aku langsung bertanya padanya

“stroberi kan?” tanyaku padanya.

“kau kan sudah tau” jawabnya masih ketus.

“eskrim stroberi dan coklat ajjuhsi” pesanku pada ajjuhsi penjual eskrim.

“baik tuan, di cup atau di cone, tuan?” tanyanya.

“keduanya di cup ajjuhsi” jawabku. “baik tuan” jawabnya lagi.

Saat memakan eskrim, sudah beberapa menit berlalu tapi Eun Jin masih diam dan tidak mengajakku berbicara.

“hey, kau marah karena aku melarangmu dekat dengan si Minho itu?” tanyaku.

“oppa pikir saja sendiri” jawabnya dengan tidak menatapku.

“baiklah, aku minta maaf. Aku tau Minho itu orang tidak baik, Eun Jin. Aku melarangmu dekat dengannya karena aku menyayangimu, mencintaimu.” Kataku nekat. Nekat saat aku mengatakan aku cinta padanya, dan nekat karena aku mengatakan bahwa Minho orang yang tidak baik, karena aku tidak tahu apa-apa tentang si Minho itu.

“aku juga mencintaimu oppa, santai sajalah, aku tidak akan meninggalkanmu.” Jawabnya.

“hhhhh aku tidak mau jawaban itu Eun Jin, aku tau kau menganggapku mencintaimu sebagai adik, tapi tidak, aku ingin memilikimu seutuhnya” batinku.

“kau takkan pernah mengerti perasaanku, ayo sudahlah pulang!” kataku padanya, kasar.

“cih, kenapa jadi oppa yang marah hah? Sudahlah, aku pulang sendiri” bentaknya padaku.

“pasangan anak muda jaman sekarang memang begitu” dengarku dari ajjuhsi pedagang eskrim yang sedang menggosip dengan pelanggannya.

“ikut aku pulang!” bentakku lagi padanya.

“lepaskan aku Kim Kibum!” marahnya padaku. Aku tau kalau dia marah, dia tidak memanggilku dengan sebutan oppa.

“Eun Jin!” seseorang memanggilnya dari seberang jalan. Apa? Apa si Minho itu mengikutiku dan Eun Jin? Hh, yang benar saja! Sementara banyak ahjumma dari toko eskrim menyadari keberadaan Minho dan mulai memujanya ketampanannya dan mengaguminya secara langsung.

“oppa!” jawab Eun Jin pada si Minho itu.

Dengan cepat kutarik tangan Eun Jin agar tidak menghampiri penyanyi itu.

“oh ternyata agasshi itu sepertinya sudah tidak tahan dengan namja itu” kudengar gosip ajjushi itu berlanjut.

“ayo pulang, Shin Eun Jin!” bentakku, sangat keras padanya.

Dapat kulihat ada genangan air di matanya. Oh tidak, dia menangis karena ku.

“hey kau! Choi Minho! Pergi saja! Jangan mengikuti aku dan Eun Jin lagi!” teriakku pada artis itu.

“naik!” paksaku pada Eun Jin, tapi ia tetap terdiam di tempatnya sambil melihat Minho.

“naik!” paksaku lagi lebih keras, dan ia menurut. Saat ia naik ke boncengan motorku, dapat kulihat pipinya sudah basah akan air matanya.

Kulajukan motorku dengan kecepatan penuh. Saat lampu merah, kulihat Eun Jin menutup matanya dengan kedua tangannya di spion. Dia masih menangis.

======================

Saat sampai di depan rumahnya, dia langsung turun. Sebelum dia masuk ke rumahnya, aku menarik tangannya.

“jangan menangis lagi, kau akan tampak buruk besok di sekolah” ucapku lembut padanya.

“…..”  tidak ada jawaban darinya, masih terisak sambil menundukkan wajahnya.

“hey! Jawab aku, setidaknya jangan buat aku merasa bersalah!” ucapku lagi.

“kalau kau merasa bersalah, seharusnya kau tidak menyuruhku menjawabmu, seharusnya aku yang memintamu meminta maaf padaku!” jawabnya dengan suara parau, tapi sedikit membentak.

“mianhae” jawabku sangaaaaat lembut sambil mencium keningnya dan melepas genggaman tanganku di tangannya.

Tanpa menjawab ia berlari masuk rumah dan membanting pintunya. Ah, dia masih marah.

Perjalanan pulang, aku merasa ada yang mengikuti ku dari belakang. Saat ku lihat lewat spion, hah? Motor itu? Motor Minho! Kulihat ia tidak sendiri, melainkan segerombolan motor. Oh tidak, ini sudah hampir sampai rumahku! Merepotkan! Kuhentikan motorku, begitupun mereka.

“apa lagi maumu?” tantangku pada si artis, Minho.

“membentakku di depan umum, mengambil gadisku seenaknya, dan yang paling fatal kau menantangku sekarang” jawabnya.

“gadismu? Yang kau maksud Shin Eun Jin? Percaya diri sekali kau!” bentakku.

“kenapa? Memang ku tahu ia menyukaiku, bukan menyukaimu. Bahkan setelah kejadian di toko eskrim tadi, kuyakin ia pasti sangat membencimu.”

BUUUUUUGGGH

Aku memukulnya, di muka. Aku sudah muak melihat wajahnya yang menjijikkan menghinaku. Ia membalas pukulanku, tepat di perut. Lalu aku merasakan pukulan lain di sekujur tubuhku. Dugaan burukku tentang dia benar. Ohya, aku lupa dia membawa pasukan. Daaaah, semoga kita masih bisa bertemu esok hari, Eun Jin.

Aku bangun dengan tubuh sakit, penuh lebam dan luka. Aku langsung memeriksa gigiku. Huuuhh untung saja, mereka masih menyisakan gigiku. Aku langsung berjalan sambil membopoh sepeda motorku dengan lemas.

“Kibum! Kenapa kau bisa seperti ini? Siapa yang memukulimu malam malam begini? Coba buka mulutmu, oemma mau melihat gigimu, apakah masih utuh atau tidak” tanya oemma dengan wajah cemasnya saat aku sampai rumah.

“preman” jawabku tenang dengan senyuman walaupun sakit.

“apa?! Di sekitar sini ada preman? Baiklah, kau bersihkan dirimu dan lukamu, lalu tunggu di kamar, oemma akan mengobati lukamu! Kau tidak boleh sekolah besok! Oemma akan menelepon polisi untuk memastikan keamanan komplek” kata oemma panjang lebar.

Aku langsung pergi ke kamar ku dan membersihkan lukaku, lalu oemma datang dengan tergesa-gesa dan mengobati lukaku. Lalu aku tertidur.

=======================

“Ahjumma, apakah Key oppa baik-baik saja?” ah, itu suara Eun Jin.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, pasti dia baru pulang sekolah.

“Oh ya, kau langsung naik saja ke kamarnya Eun Jin-ah, dia sepertinya belum bangun” jawab oemmaku.

“baik ahjumma, terima kasih” lalu aku mendengar derap kaki yang terburu-buru menuju kamarku. Aku pura-pura tidur saja ah.

“oppa?” panggilnya lembut padaku.

“…..” orang tidur tidak perlu berbicara kan?

“huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

Eh! Aku sedikit kaget, tapi untung saja aku masih memejamkan mataku.

“mian oppa! Kalau aku tau akan begini kejadiannya, aku tidak akan marah padamu. Untung saja kau masih hidup! Kalau tidak, aku akan menyesal seumur hidupku” katanya, keras sekali. Hey Eun Jin, kau tak takut aku yang terluka ini terbangun karena teriakanmu? Ah, tapi biarlah, dia menyesali kemarahannya padaku tadi malam. Hahaha eh, atau itu hanya kalau aku meninggal?

“Eun Jin-ah! Tolong bawakan makanan untuk Kibum ke kamarnya” panggil oemmaku. Ah oemma, seperti tidak tahu saja sedang ada kejadian mellow antara aku dan Eun Jin di kamarku. Hhhh, mengganggu!

“ne ahjumma! Oppa, aku ke bawah dulu” katanya seakan aku sudah bangun dan sudah mengobrol panjang lebar dengannya.

Ku tunggu 5 menit, 10 menit akhirnya ia datang dengan membawa bubur, lalu ia membangunkanku lembut.

“oppa makan dulu” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan anggota tubuhku yang tidak luka. Akting lagi ah.

“aduuuh” teriakku tapi berusaha memasang tampang bangun tidur.

“ah oppa mian! Apa aku mengenai lukamu?” katanya cemas

“Eun Jin? Ini lukaku yang paling parah dan pedih bila disentuh” jawabku bohong.

Sepertinya aktingku buruk. Aku tahu ia menyadari kebohonganku, dan ia mencoba mengujiku.

“mana lukanya oppa? Hah? Ini kan tidak ada lukanya?”

“lebam”

“tidak biru, lagian aku menyentuhnya lembut, masa sakit? Oppa manja! Aku tidak suka oppa yang manja!” ucapnya yang membuatku langsung mengakui kebohonganku.

“kau kesini untuk apa? Menjengukku? Kau pasti rindu padaku yaaaa? Hahahaah” godaku.

“iya, aku kangen oppa, cepat makan!” jawabnya sambil menyuapiku makanan.

“aaaaaaaam” dia bilang apa? Dia rindu padaku? Asyiiiiiik!

“oh aku lupa kalau aku ada les! Aku pulang dulu ya oppa, daaaah cepat sembuh yaaa. Muaaah” katanya sambil meng-kiss bye padaku.

Ku balas kiss bye-nya, “muaaaaah, hati hati ya Eun Jin kuuuu”

Lalu aku dengar ia pamit ke oemma ku, lalu pulang. Tenang rasanya ia sudah tak marah lagi padaku. Lalu aku tertidur, lagi. Aku kira aku akan tumbuh, besar. Gemuk. (makan-tidur)

======================

Esoknya aku bisa sekolah, aku siap-siap berangkat menuju rumah Eun Jin, seperti biasa, aku menjemputnya.

Tapi saat sampai depan rumahnya, aku lihat ada Minho sedang berdiri di depan rumahnya. Mau apa dia? Ku lambat kan  motorku lalu aku menguping pembicaraan mereka.

“Minho oppa? Ada apa oppa kesini? Key oppa akan menjemputku, oppa tidak usah repot-repot menjemputku” kata Eun Jin.

Kulihat ia tidak memakai motor busuk itu lagi, sekarang ia memakai mobil mewah. Aku yakin itu pasti hasil artisnya. Dasar tukang pamer!

“Sebelum dia datang, aku ingin mengucapkan sesuatu.” “saranghae” ucap Minho yang membuatku jantungan dan ingin muntah karena gugup. Apakah Eun Jin akan menerimanya?

“aaaaa oppa…..” Eun Jin hendak menjawab tapi ditahan oleh Minho.

“tak usah kau jawab sekarang, tapi kumohon, berangkatlah sekolah bersamaku” mohonnya pada Eun Jin.

“hmmmmm baiklah, aku akan menelepon Key oppa dulu.” Jawab Eun  Jin sambil membuka flip hpnya.

HEY! MY JOJO! YES JOJO! STAY!

“yoboseyo?” dengan cepat ku angkat telepon yang sudah pasti dari Eun Jin.

“oppa? Oppa dimana?”

“di jalan, kenapa?” jawabku berbohong.

“hehe oppa, mian, aku tidak bisa berangkat kesekolah bersamamu, aku..”

“kenapa?” potongku.

“aku sudah dijemput Minho oppa.”

“kenapa kau tak bilang? Padahal tadi tetanggaku yang cantik mau ikut bersamaku”

Godaku.

“mwo?” hahahahah sepertinya dia cemburu, padahal aku berbohong.

“yasudah, balik saja lagi ke rumah tetangga oppa dan antarkan dia! Kau kan suka dengan gadis cantik itu, gadis itu pasti yang sering kau ceritakan kan oppa? Siapa namanya? Krystal? Sekalian sajalah pulang bersamanya! Aku akan pulang bersama Minho oppa juga!” mwo? Aku tidak akan mengira dia semarah ini, tunggu aku tak mau dia semakin dekat dengan si Minho! Ah baboya! Padahal Krystal tetanggaku itu sudah mempunyai namjachingu dan selalu diantar-jemput oleh namjachingunya.

“tidak boleh, kau harus berangkat dan pulang bersamaku! Jangan bersama Minho!” balasku cemburu.

“kenapa lagi? Ini ke dua kalinya oppa melarangku dekat dengannya, sebenarnya ada apa?! Ini hakku, dan oppa bukan siapa-siapaku!” jawabnya, menusuk hatiku.

Ia langsung menutup telponnya dan menggandeng tangan besarnya Minho dengan mesra, aaaaaah! Key kau Babo! Dan ku yakin presentase Eun Jin akan menerima Minho memuncak.

====================

Aku kesekolah dengan hati lesu, saat masuk kelas, kulihat Minho tersenyum puas, aku yakin pasti ia puas akan kejadian tadi pagi. Sebelum bel masuk berbunyi, aku menyempatkan diri ke kelas Eun Jin. Kulihat dia sedang sibuk mengerjakan PR, hhh kebiasaan.

“Eun Jin!” panggilku. Ia melihatku tapi langsung membuang muka. Yasudah lah, mungkin dia sedang buru-buru mengerjakan PR.

“Eun Jin! Pulang sekolah tunggu aku di gerbang sekolah seperti biasa ya!” tetap, dia menghiraukan aku.

Aku kembali ke kelas, saat aku di kelas, ketua murid, Lee Jinki, menyuruhku untuk membantunya mengerjakan lomba perkelas saat pulang sekolah karena aku wakil ketua murid. Hhhh menyusahkan saja ketua murid ini.

====================

Huh, katanya sebentar! Dasar Jinki pikun, membawa properti kelas saja lupa. Omelku dalam hati sambil berlari ke kelas Eun Jin. Tapi saat sampai disana,aku hanya melihat petugas piket saja.

“Eun Jin mana?”

“dia sepertinya menunggumu di gerbang, sunbae.”

“oh yasudah, gomawo”

Aku berlari ke gerbang sekolah. Tidak ada. Aku tanya ke satpam.

“Eun Jin-ssi? Dia dari tadi seperti menunggu orang disini. Lamaaaa sekali, akhirnya Minho, tau kan? Artis ngetop itu nganter dia pulang sama mobilnya.”

Dengan segera aku mengambil motorku dan pergi ke rumah Eun Jin.

“ahjumma, Eun Jinnya ada?”

“belum pulang, dikirain sama nak Kibum.”

“tadi aku pulang ke sorean, gamsahamnida ahjumma.”

Aku kelilingi sekitar rumah Eun Jin dan sekolah. Di taman, aku menemukannya. Ahh, syukurlah. Tapi.. tidak sendiri, dia bersama Minho. Hhhhh mau apa dia?

“saranghae” dia mengucapkannya lagi? Percaya diri sekali, apa dia tidak malu jika di tolak?

“naddo saranghae oppa” jawab Eun Jin. Mati saja kau Kibum! Aku mendekati mereka dengan jalan perlahan. Kemudian mulai berlari, karena kulihat si Minho hampir menunduk untuk mencium bibir Eun Jin. Ku dorong Minho sejauh mungkin, lalu kupeluk Eun Jin.

“tenang, kau aman sekarang” kataku pada Eun Jin. Tapi yang kurasa Eun Jin ingin melepas pelukanku darinya.

“aku tidak perlu perlindunganmu, karena namjachinguku disini” katanya setelah lepas dari pelukanku. Lalu ia menghampiri Minho yang masih terduduk di tanah dan membantunya berdiri. Lalu Eun Jin menarik tangan Minho menuju ke mobil Minho. Dapat kulihat senyum kemenangan dari wajah Minho. Aku hanya diam melihat punggung mereka menjauh. Dan sekarang aku melihat mobil mereka yang menjauh.

Aku shock.

=========================

Perjalanan pulang kulalui dengan melamun. Entah mengapa aku bisa mencapai komplek dengan selamat. Sepertinya motorku ini punya nyawa dan mengantarkanku ke rumahku.. bukan, ke rumah Eun Jin. Aaah, untuk apa aku kesini. Saat aku ingin membalikkan jalan motorku, kulihat Eun Jin sedang memaksa keluar mobil dan masuk rumah dengan tergesa-gesa. Aku yakin pasti si artis itu mencoba menciumnya lagi. Haha Eun Jin kan hanya mau firstkissnya dilakukan di tempat romantis, bukan mobil. Lalu aku pulang.

Esoknya, saat aku sarapan, aku lebih mengulur waktu karena kupikir pasti Eun Jin berangkat dengan si Minho itu.

“penyanyi dan aktor Choi Minho sekarang sudah banyak tawaran kerja, pasti sekarang sedang sibuk, karena kita saja tidak bisa mewawancarainya kan?”

“ya benar. Dia pasti sibuk membagi waktu kerja dan sekolah” obrol si pembawa acara.

“cih, sibuk?” remehku.

“kudengar Minho akan membintangi film lebar lalu drama berturut-turut ya?”

“benar, pasti akan ku tonton hahahaha” lanjut pembawa acara. Genit.

Minho sibuk? Pasti Eun Jin takkan ada yang mengantar kesekolah. Langsung saja kusambar tasku.

“oemma aku berangkat ke rumahnya Eun Jin”

“ne, hati hati”

Sesampainya disana, benar saja. Tidak ada tanda kehadiran Minho. Sesaat kemudian Eun Jin keluar rumah dan berjalan menuju halte bus.

“Eun Jin” panggilku. Ia melihatku, lalu membuang muka.

“Eun Jin! Eun Jin” panggilku berulang-ulang.

“apa?” jawabnya dingin, akhirnya.

“naik, cepat!” suruhku padanya.

“shireo!” jawabnya. Tapi aku diam sambil menggenggam tangannya.

Kutunggu dia, 5 detik diam. Kutarik tangannya kedekat jok belakangku. Akhirnya dia naik. Huhh, anak gengsian. Susah sekali.

Sesampainya di sekolah, sebelum turun, ia membisikkan sesuatu di belakang ku.

“gomawo, oppa” lalu ia turun dan berlalu.

Di kelas, aaaaah tidak ada Minho. Lagi. Tenangnya hidupku

=====================

Saat pulang sekolah, aku berlari ceria (?) kekelas Eun Jin.

“Eun Jin!” panggilku sambil melambaikan tangan padanya.

“oppa!” balasnya. Yes! Moodnya sudah normal.

“pulang bersamaku? Minho tidak sekolah” tawarku.

“tidak usah oppa, Minho oppa berjanji menjemputku sehabis ia syuting.”

“benar kah? Apakah ia sudah datang?”

“belum”

“akan kutemani kau sampai Minho datang”

====================

Aku sudah menemaninya sampai berjam-jam, sampai sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.

“kau masih akan menunggunya?”

“ne oppa, kalau oppa mau, oppa pulang duluan saja. Aku tak apa sendiri disini.”

“tidak, ayo pulang sekarang. Oemma mu pasti sudah khawatir menunggumu di rumah.”

“bagaimana dengan Minho oppa, oppa?”

“biarkan saja, salah sendiri dia lama”

“hmmm baiklah, a— aaaaaauw” kata Eun Jin terpotong karena tangannya sedang ditarik kasar seseorang, yaitu hhhh, Minho.

“hey, jangan kasar!” kataku.

“biarkan aku, dia milikku!” balasnya. Aku terdiam. Lalu Minho menarik Eun Jin menuju mobilnya.

Mobilnya melaju kencang. Aku mengikutinya dari belakang, memastikan Eun Jin selamat sampai rumah. Oh tidak, mereka ke taman, lagi. Apakah si Minho itu tidak tau tempat lebih romantis daripada taman?

Aku turun dari motorku lalu mengendap-endap ke dekat mobil Minho.

“aku lelah-lelah malam-malam ke sekolah hanya untuk menjemputmu, dan ternyata kau sedang berduaan dengan si Kibum busuk itu!” bentak Minho pada Eun Jin dalam mobil.

“jangan bilang Key oppa ku busuk!” hahaha Eun Jin membelaku.

“sempat-sempatnya kau membela dia? Sebenarnya kau pacar siapa?”

“aku pacarmu, tapi aku lebih menyayanginya karena dia lebih peduli padaku!” aku mendekat dan melihat dari kaca jendela kalau Minho akan menampar Eun Jin. Langsung saja aku membuka pintu mobil Minho yang ternyata tak terkunci. Eun Jin langsung keluar dan memelukku.

“oppa” ucapnya sambil terisak. Minho keluar mobil.

“lepaskan pelukanmu Eun Jin!” bentaknya keras.

Eun Jin  tidak melepaskan pelukannya, ia malah mempereratnya dan menangis lebih keras.

“apa yang kau dapatkan darinya Eun Jin?” tanyanya sinis.

“mungkin ia hanya bisa mengatakan cinta padamu, tapi ia tidak bisa memberikan apa-apa lagi selain kata itu dan dirinya.” Lanjut Minho.

“tapi aku mencintainya sepenuh hati! Tidak sepertimu Choi Minho! Kau hanya terobsesi olehnya!” balasku tak kalah sengit sambil tetap memeluk Eun Jin erat.

“aku bisa memberikanmu seluruh kekayaanku bila kau mau Eun Jin.” Katanya, lebih lembut tanpa mempedulikanku.

“aku akan tetap memilih Key oppa daripada mu, kau tidak sayang padaku!” jawab Eun Jin, akhirnya.

“mwo! Kurang apa ak…”

“kau kurang segalanya dari Key oppa di mataku, kau hanya sampah yang mementingkan gengsimu.” Potong Eun Jin.

Aku hanya diam, senang, karena Eun Jin lebih memilihku. Mati kau Choi Minho!

“aaaargh! Baiklah akan ku lepaskan kau bersama lelaki brengsek itu.”

“KYAAAAA Minho oppa marah-marah di tempat umum! Ku kira sifatnya sopan karena ia selalu menampakkan sisi coolnya, kau sudah merekamnya kan?” ucap seseorang tiba-tiba yang ku kira dia anti fans atau siapa lah yang mengenal Minho.

“sudah, dan dengan jelas terekam suaranya.” Jawab temannya yang satu lagi.

“hah? Apa kalian? Aaaaaah sial sekali aku!” kata Minho dan langsung masuk ke mobilnya dan melaju kencang.

“ayo kita publish ke internet”

“ayo!” 2 orang yang merekam kejadian itu pun pergi. Lalu tinggallah aku dan Kae Rim berdua di taman ini.

“jadi.. berarti kau sudah putus dengannya kan?” tanyaku

Ia mendongakkan kepalanya, “ya, sepertinya begitu”

“kau sedih?”

“sedikit”

“waeyo? Kan sudah ada aku!”

“aku sedih karena aku hanya bisa bertahan dengannya kurang dari 1 hari” jawabnya sambil menghela nafas.

“sekarang penggantinya adalah aku, dan.. mm..aku akan bertahan dengan mu sampai kita menikah, punya anak… mm, sampai akhir hayat!” ucapku semangat.

“mwo? Kau yakin? Kenapa tak sekalian saja kuburan kita ditumpuk, hah?!” jawabnya mengira aku bercanda.

“kalau bisa, hahahaahahahah”

“shireo!” katanya lalu kutarik ia pulang.

“Eun Jin, coba dengar lagu ini” kataku sambil memasangkan headset ke telinganya.

“ada apa oppa?”

“lagu ini seperti menggambarkan peristiwa kita bertiga, dengan Minho. Haha. Dengar saja!”

He takes you out and he takes you up
’cause he can show you so much
I go to bed and tomorrow again
there’s a lot of work to be done

He gives you gold and he’ll promise you
the whole world will be yours
I just can tell you I love you so
even though my odds are low

I’m not an actor I’m not a star
and I don’t even have my own car
But I’m hoping so much you’ll stay
that you will love me anyway

The dirty games and the neonshows
this is the world he knows
Watching the stars satisfies my soul
thinking of him makes me feel so cold

The fancy cars and the restaurants
you’re just so fond of the man
Sometimes I wonder if you are blind
can’t you see, he’s got dirt on his mind
I’m not an actor I’m not a star
and I don’t even have my own car
But I’m hoping so much you’ll stay
that you will love me anyway

-the end-

My first fanfiction, jadi miaaaaaaan bgt kalau ada yang salah. Aku kurang pengalaman. Minta comment ya, tapi kalu mau ngehina jangan disini, disini aja http://www.twitter.com/mayagaul/ (promosi, lol) last word, gomawo

4 thoughts on “The Actor [One Shot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s