Oemona..!! [One Shot]

Cast :

-Krystal ‘F(x)’

-Jessica ‘SNSD’

-Choi Seung Yun

(Krystal’s POV)

Aku melangkahkan kakiku dengan sebal. Dimalam sedingin ini, bisa-bisanya Jessica unnie menyuruhku membeli sabun cuci piring. Apa tidak bisa besok saja? Aku kan banyak tugas. Aku pun berjalan lemas kearah minimarket dengan mulut yang tak hentinya menggerutu. Kubuka pintu minimarket dan bergegas mencari apa yang kucari. Sekalian mencari camilan untuk menemaniku belajar. Saat semua bahan kudapatkan, aku pun bergegas kearah kasir. Kukeluarkan belanjaanku dari dalam keranjang.

“Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?” ujar seseorang.

“Ne.” ujarku seraya mendongakkan kepalaku kepadanya.

Saat-saat indah mulai menjalar dalam tubuhku. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Wajahnya manis. Dari belakang, sorot cahaya lampu menyinarinya dengan terang. Seakan – akan tuhan menunjukan padaku, ‘Hai umatku! Inilah orang tampan’. Aku tak dapat mengedipkan mataku. Aku sangat menikmati saat-saat indah seperti ini hingga ia membuyarkan lamunanku.

“Hai, kau masih disana.” Candanya.

“Eh, ne. Mian.” Ujarku gelagapan.

“Ini saja?” tanyanya mulai mengambil belanjaanku.

“Aniyo. Eh…., maksudku Ne. Maksudku cukup ini saja.” Ujarku gugup.

Ia hanya tertawa kecil melihat tingkahku. Aku menunduk malu.

“Mian, bukankah ada ajumna disini? Eh, maksudku ajumna penjaga atau pemilik atau siapa..” ujarku semakin gugup.

“Ajumna pemilik minimarket ini?” tanyanya terus tersenyum.

Aku mengangguk kecil. Kutundukkan kepalaku karena takut ia melihat wajahku yang merah merona karenanya.

“Mulai sekarang aku kerja sambilan disini.” Jelasnya.

Aku girang sekali. Berarti sekarang aku akan sering bertemu dengannya.

“Oh, begitu.” Ujarku dengan senang yang ditahan.

Ia tersenyum padaku seraya memasukan belanjaanku kedalam kantung.

“Hm… kalau aku boleh tahu, namamu siapa?” tanyaku malu-malu.

Ia tersenyum padaku. Aku menatapnya dengan tatapan, ‘Ya tuhan…! Jangan tatap aku dengan tatapan itu!’.

“Choi Seung Yun.” Ujarnya.

Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Whaeyo?” tanyanya.

“Aniyo. Cuma saja, seperti nama seorang yeoja.” Ujarku.

“Lalu kau pikir aku ini apa?” Ujarnya ramah seraya memberikan belanjaanku.

“Ah, Mian. Namaku Krystal. Tampaknya aku harus segera pulang. Unnieku pasti menungguku.” Ujarku hangat.

“Ne. silakan kembali lagi kesini.” Ujarnya ramah.

“Ne. Gasahamnida.” Ujarku sopan.

Aku pun bergegas keluar dari minimarket. Rasa dingin yang tadi kurasa hilang sudah terbawa rasa bahagia yang menjalar didalam tubuh ini. Ia tampan sekali. Dari semua namja yang pernah kulihat, kukenal, bahkan yang menyatakan perasaannya padaku, tak ada yang setampan ia. Paras seperti itu sangat jarang sekali kulihat. Wajah yang lonjong, kulit yang kuning, alis yang tajam, bibir yang tebal namun berkesan seksi, badan yang sigap. Sungguh ia idaman semua wanita. Aku pun melangkah dengan girang memasuki apartemenku. Kubuka pintu tempatku tinggal. Didalam sudah ada wajah Jessica unnie yang menatapku dengan jengkel. Tapi aku tak peduli. Perasaan di dadaku seakan sudah memutuskan urat takutku.

“Ya..!! darimana saja kau? Disuruh ke minimarket saja lama. Pergi kemana dulu kau?” Ujarnya seraya berdecak pinggang.

Aku pun menghampirinya dengan wajah bahagia. Aku pun menggenggam kedua tangan unnie-ku itu dan mengajaknya berputar-putar mengitari ruang tengah. Aku tak dapat menyembunyikan lagi senyum ini dari wajahku.

“Aya, kau ini kenapa sih?” ujar unnie tampak heran.

“Unnie…!!” seruku seraya mengajaknya duduk di kursi.

Unnie pun memegangi kepalanya yang tampak pusing. Tentu saja aku tak merasa pusing. Bagaimana bisa aku pusing setelah melihat wajahnya namja di minimarket tadi?

“Aigo..! kau ini kenapa sih? Kau membuatku takut. Pasti angin malam yang sudah menerbangkan semua kewarasanmu.” Ujarnya ketus.

“Unnie..!! aku jatuh cinta.” Ujarku langsung.

Unnie tampak kaget mendengarnya. Aku hanya senyum saja padanya karena aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa menyimpulkan hal itu.

“Kau demam Krystal? Seharusnya tadi aku tidak menyuruhmu ke minimarket.” Ujarnya mulai cemas seraya memegang keningku.

“Aigo, unnie! Tidak begitu. Aku serius, araso? I’m fall in love?” ujarku girang.

“Apa kau yakin? Bukankah tadi siang kau baru saja menolak seorang namja saat aku menjemputmu di sekolah?” ujar unnie tak yakin.

“Aku yakin unnie. Aku tak mungkin salah. Ia tampan sekali.” Ujarku dengan mata yang berbinar-binar.

Sekali lagi unnie menampakkan wajah kagetnya.

“Tampaknya kau serius. Siapa dia?” tanyanya mulai tertarik.

“Aku tak tahu. Tapi yang pasti ia kerja sambilan di minimarket yang ada dipersimpangan jalan. Namanya Seung Yun.” Ujarku bersemangat.

“Namja yang mandiri ya? Boleh juga. Aku harus melihatnya.” Ujarnya.

“Lihat saja unnie. Tapi awas ya kalau unnie sampai menyukainya juga.” Ujarnya.

“Aigo. Kau ini. Cepat sikat gigi lalu lekaslah tidur.” Ujarnya seraya mengacak rambutku.

“Ne, unnie. Araso.” Ujarku seraya berlalu ke kamar mandi.

***************************************

“Mwo? Unnie tadi habis dari minimarket?” tanyaku kaget.

“Iya. Ada yang harus kubeli disana.” Ujarnya padaku.

“Oemona..! Unnie ini. Sudah kubilang aku saja yang pergi kesana.” Ujarku kesal.

“Hei! Aku ini butuh pembalut. Apakah aku harus menunggumu pulang les?” ujarnya kesal.

“Aya… berarti aku kehilangan satu hari bertemu dengannya.” Ujarku sedih.

“Ya ampun. Kau kan baru kemarin dari sana. Dua hari yang lalu dan sebelumnya pun kau kesana.” Ujar unnie kesal.

“Ah, unnie ini. Seperti tak tahu saja bagaimana rasanya menjadi seorang yeoja yang jatuh cinta.” Ujarku seraya duduk disofa.

Unnie pun menggelengkan kepalanya. Ia pun duduk disampingku dan membelai pelan rambutku.

“Hei, unnie juga seorang yeoja. Aku paham perasaanmu.” Ujarnya lembut.

“Jinca?” tanyaku.

“Ne. Dan kurasa ia namja yang baik. Ia ramah sekali pada siapapun. Dan kurasa ia namja yang sensitive. Kau tahu? Ia bahkan membantuku memilih pembalut yang bagus untukku.” Ujarnya.

“Benarkan? Apa kubilang. Ia memang mampu membuat siapa saja jatuh cinta.” Ujarku.

“Ne. kau memang benar.” Jawabnya.

“Tapi unnie tidak menyukainya kan?” tanyaku.

“Aigo..!! Tentu saja tidak. Mau dikemanakan namja chingu-ku? Disimpan di laci? Yang benar saja.” Ujarnya.

“Syukurlah kalau unnie berfikir seperti itu.” Ujarku santai.

“Nah, kalau begitu kau ingin apa untuk makan malam? Unnie tidak masak hari ini.” Tanyanya.

“Bagaimana kalau kita makan mie dingin di sebelah minimarket?” saranku.

“Aya! Bilang saja kau mau bertemu dengannya.” Ujar unnie.

Aku hanya tersenyum jahil padanya.

************************************

“Anneyong, Seung Yun.” Ujarku ramah seraya memauki minimarket mungil itu.

“Hei! Wah, kau jadi sering mampir kesini ya.” Ujarnya setelah melihatku.

“Ah, tidak juga.” Ujarku malu seraya mengambil keranjang.

“Hahaha. Aniyo, aku bercanda. Silakan berbelanja dengan tenang.” Ujarnya dengan tawa ramahnya.

Aku pun tersenyum kecil. Segera kutinggalkan ia dimeja kasir karena aku sudah benar-benar dibuat merona olehnya. Hari ini aku hanya membeli susu strawberry. Apa boleh buat. Uang jajanku habis digunakan untuk berbelanja disini selama 2 minggu berturut-turut hanya untuk bertemu dengan namja satu ini. Tampaknya aku sudah dibuat tergila-gila olehnya. Aku pun menghela nafas panjang sebelum ke meja kasir.

“Ini saja?” tanyanya.

“Ne. Ini saja.” Ujarku.

“Baiklah.” Ujarnya.

Walau aku hanya membeli 1 item. Ia tetap membungkuskan untukku dan memberiku bon plus senyuman manis darinya. Aigo..!! aku benar-benar terpesona olehnya.

“Kau sekolah dimana kalau aku boleh tahu?” tanyaku.

“Kalau kau tak boleh tahu bagaimana?” tanyanya menggodaku.

Aigo… sudah ramah, baik, humoris lagi. Neomu kyeopta..!!

“Aya..! kau ini.” Ujarku padanya.

“Aku sekolah di Dongyoung high school. Kau sendiri?” tanyanya.

“Aku di Chundong High school.” Ujarku.

“Oh, begitu. Kalau tak salah sekolahmu minggu ini sedang pekan ujian kan? Sebaiknya kau pulang dan belajar.” Ujarnya.

Sesange!! Perhatian sekali orang ini. Aku benar-benar bisa gila dibuatnya.

“Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Monjo silyehagessemnida.” Ujarku.

“Ne, anneyong gaseyo.” Ujarnya ramah.

Aku pun segera pergi keluar dari minimarket. Aku berjalan dengan penuh rasa bahagia. Aku masih ingin terus bersamanya.

“Krystal..!!” panggil seseorang.

Aku pun menoleh. Bisa kulihat denga jelas Seung yun berdiri menatapku diambang pintu minimarket. Ia melemparkan sesuatu padaku. Aku pun segera menangkapnya. Tepat sasaran. Sebotol coklat panas hinggap ke tanganku.

“Bonus untukmu. Hwaiting.” Ujarnya dengan senyum manisnya.

Aku pun membalas senyumnya dengan hangat. Ia melambai padaku, aku pun membalas lambaiannya. Kurasakan semakin hari, rasa sukaku semakin besar padanya. Aku pun berbalik meninggalkannya. Kubuka coklat panas di tanganku. Andai hari ini tak pernah berakhir.

*********************************************

“Kau serius?” tanya Seung yun tak yakin.

“Ne. aku serius.” Ujarku meyakinkan.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Jalan-jalan saja. Kau tahukan kalau aku baru selesai ujian.” Ujarku seraya terus mengingat nasihat unnie untuk mengajaknya jalan-jalan.

“Aku tahu. Tapi apa harus?” tanyanya tak yakin.

“Ne. Ayolah. Temani aku. Mau ya? Kumohon.” Rayuku lagi.

Ia pun mengusap kepalanya. Aku terus menatapnya dan memohon.

“Baiklah. Kali ini saja ya.” Ujarnya menyerah.

Aku girang bukan main. Ia pun megenakan mantelnya. Setelah meminta izin pada ajumna pun kami berangkat. Aku berjalan disampingnya.

“Baiklah. Kemana kita sekarang?” tanyanya.

“Bagaimana kalau kita makan es krim?” tanyaku.

“Es krim? Di hari sedingin ini?” tanyanya.

“Ayolah. Kumohon.” Rayuku.

Karena aku tahu, sedingin apapun bersamanya, pasti akan terasa hangat.

“Baiklah.” Ujarnya.

Kami pun segera menuju toko es krim. Aku memesan rasa coklat, sedangkan ia rasa strawberry. Sungguh namja yang unik.

“Kau suka strawberry?” tanyaku.

“Banget.” Ujarnya seraya memakan es krim itu dengan nikmatnya.

“Hehehe.” Tawaku lirih.

“Whaeyo?” tanyanya.

“Aniyo.” Ujarku.

Ternyata selama ini aku tak salah pilih. Tidak seperti namja lainnya, ia tak segan memakan es krim strawberry didepan seorang yeoja. Aku jadi semakin menyukainya.

“Selanjutnya kemana?” tanyanya setelah es krim kita habis.

“Bagaimana kalau kita ke namsan tower?” saranku.

“Boleh juga. Ayo, kita pergi sekarang.” Ujarnya seraya menggenggam tanganku.

Jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya ia menggenggam tanganku. Aku girang bukan main. Kusembunyikan senyumku dibalik syalku. Beberapa saat kemudian, kami pun sampai. Disana sudah banyak orang. Tak hanya orang pacaran, ada juga keluarga yang rekreasi dari hingar-bingarnya keramaian kota seoul. Aku tersenyum menatap Seung Yun yang ada disampingku.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“Aniyo. Aku hanya senang saja bisa ada disini bersamamu.” Ujarku.

“Kalau begitu ayo kita main! Kapan lagi kita bisa bermain seperti sekarang ini.” Ujarnya seraya mengulurkan tangannya padaku.

Aku pun menerima uluran tangannya. Ah, tuhan! Andaikan ini mimpi, aku tak ingin terbangun dari mimpi indah ini.

************************************************

“Kalau begitu nyatakan perasaanmu padanya!” ujar Jessica unnie.

“Mwo? Masa aku duluan?” tanyaku.

“Whaeyo? Memang harus namja terus yang menyatakan perasaannya pada seorang yeoja?” Tanya Jessica unnie.

“Aigo. Tapi aku malu unnie.” Ujarku.

“Kenapa harus malu? Justru disini kau harus membuktikan padanya kalau kau bukan yeoja seperti pada umumnya. Kau harus membuktikan kalau kau memilki power yang kuat. Charisma yang berbeda sengan yeoja yang lain. Buktikan padanya kalau kau adalah yeoja yang percaya diri dan tak takut ditolak. Tunjukkan juga kalau kau adalah yeoja yang bisa diandalkan olehnya.” Ujar unnie berapi-api.

“Tapi jika ia menolakku bagaimana? Mau ditaruh dimana mukaku?” tanyaku lemas.

“Aigo, kau ini. Belum bertindak saja sudah takut. Coba saja dulu. Bagaimana kita tahu kalau belum dicoba. Kau harus berani. Tunjukan siapa kau sesungguhnya.” Ujarnya lagi mencoba menyemangatiku.

“Baiklah unnie.” Ujarku sedikit ragu.

Aku pun duduk di sofa dan mengeluarkan ponselku dari dalam sakuku. Kukirimkan pesan padanya.

To : Seung Yun

Seung yun, apa kau ada

waktu sepulang kerja?

From : Seung Yun

Tumben.

Apa ada sesuatu?

To : Seung yun

Aniyo.

Hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.

Itu saja.

From : Seung Yun

Apa ini penting?

To : Seung Yun

Ne. kumohon.

Bisakah kau menemuiku?

From : Seung Yun

Baiklah. Dimana?

To : Seung Yun

Bagaimana kalau di daerah

Hongdae area.

Aku tunggu ditaman.

From : Seung Yun

Baiklah. Akan aku usahakan.

Tapi mungkin aku akan sedikit

Terlambat.

To : Seung Yun

Baiklah. Akan kutunggu.

From : Seung Yun

Ne. Josimae!

Aku pun menghela nafas panjang.

“Bagaimana?” Tanya unnie padaku.

“Ia akan datang katanya.” Ujarku seraya menelan ludah.

“Kau gugup?” Tanya unnie.

“Menurut unnie? Apa sekarang aku terlihat baik-baik saja?” tanyaku kesal.

Unnie hanya tertawa.

“Dasar anak kecil. Sudah sana pergi. Jangan sampai ia yang menunggumu.” Ujar unnie.

“Ne. unnie.” Ujarku seraya memakai mantelku dan bergegas pergi.

******************************************

Aku sudah menunggunya hampir selama 20 menit. Tapi itu semua terasa 5 menit bagiku. Karena jantungku terus saja saja berdegup dengan kencang. Dan sekarang aku benar – benar dibuat gila olehnya. Bagaimana tidak. Segera aku akan menyatakan perasaanku padanya. Aku terus menunggunnya. Mobil masih banyak yang berlalu lalang. Seakan ingin tahu ekspresiku saat menyatakan perasaanku pada Seung yun. Beberapa saat kemudian, ia datang dengan dua botol coklat panas ditangannya.

“Krystal! Mianhae. Nejoso jweisonghamnida.” Ujarnya.

“Gwaenchansemnida.” Ujarku.

“jinca?” tanyanya khawatir.

“Ne. mulloimnida.” Ujarku meyakinkan.

Ia pun duduk disebelahku dan membukakanku coklat panas yang ia bawa lalu memberikannya padaku.

“Geraeyo. Mworago?” tanyanya.

“Ne. Ada yang harus kusampaikan padamu.” Ujarku mencoba serius.

“Tampaknya ini hal penting. Coba katakan padaku.” Ujarnya lembut.

Kuhela nafas panjang.

“Seung Yun, maukah… maukah kau menjadi namja chingu-ku?” tanyaku.

Akhirnya kata itu keluar juga dari mulutku.

“Mwo?” tanyanya kaget.

Aku tahu ini semua tak akan berhasil.

“Ne. maukah kau?” tanyaku lagi.

“Kau serius?” Ujarnya.

“Ne.” ujarku lagi.

“Aya, kau ini.” Ujarnya mulai kecewa.

“Whaeyo? Jika kau tak menyukaiku, kau tinggal bilang saja tidak. Tak perlu berekspresi berlebihan seperti itu.” Ujarku sebal setelah melihat ekspresinya.

“Hei. Sadarkah kau ini?” tanyanya seraya memandangku.

Aku tak pernah melihatnya dengan tatapan seperti itu.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Aku ini yeoja! Nan yeoja. Yeoja!” ujarnya tampak marah.

“Omo? Gojitmal.” Ujarku karena aku tahu ia bercanda.

“Aku serius araso? Aku ini yeoja. Hah… kupikir kau beda dengan yeoja lainnya. Yeoja yang mengira aku ini namja dan menyatakan perasaannya padaku.” Ujarnya kesal.

Aku masih tak percaya. Aku menatapnya yang masih menatapku dengan kesal.

“Oemona..!!” seruku kaget.

“Kurasa kita bisa menjadi sahabat baik. Tapi kurasa tidak. Kau sama saja.” Ujarnya lagi.

Saat itu, ingin rasanya aku menangis.

“Krystal, hwanaenji maseyo! Anneyong gyeseyo.” Ujarnya seraya meninggalkanku.

Aku yang ditinggal sendiri pun berjalan lunglai menuju rumah, kulangkahkan kakiku dengan cepat. Saat sampai apartemen, aku segera mencari unnie-ku. Ia sedang di kamar mandi. Menggosok giginya. Ia pun menyadari kehadiranku. Saat melihatnya, tangisku pecah. Ia mengisyaratkan ada apa.

“Unnie. Seung Yun ternyata seorang yeoja.” Ujarku.

“Mwo?” ujarnya kaget dan tak percaya.

Hingga tanpa sadar ia meminum air bekas kumur-kumurnya.

The End

By: Retno Wulandhari

3 thoughts on “Oemona..!! [One Shot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s